Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Surat Qadri untuk Lailatul

Angin cinta berembus lagi dan hanyut dalam kegelapan. Bagiku kau cahaya ibarat hujan lebat, keluar dari awan tergelap. Hadirmu, menjadi persinggahan bagi pejalan sunyi.

Surat ini kutulis untukmu, menjadi tanda bahwa aku menemukan cinta dalam ikhlas. Izinkan aku memelihara dan merawatnya. Sebab, terang matahari dan cahaya rembulan purnama tak mampu menghilangkan rasa ini. Rasa yang selalu menuntun mencari diriku pada dirimu.

Rasa ini bagiku, seperti cinta laut pada nelayan, ia tak pernah berharap imbalan. Karena aku tahu semakin tinggi harapanku semakin aku tenggelam dalam hawa nafsu menguasai cinta. Cinta ini seperti kerbau kepada petani, ia setia mengabdi meskipun dicambuk seribu kali. Cinta itu jalan, sebagaimana Tuhan selalu membentangkan seribu jalan kepada mereka yang kehilangan harapan. Dan kali ini aku memilih jalan cinta.

Cinta adalah ikhlas. Diam-diam mencintai. Diam-diam mendoakan. Diam-diam mengikhlaskan. Yakinlah sang cinta tahu segala niat baik, tapi bukan berarti niat itu tak akan diuji oleh sang cinta. Mungkin saja mencintaimu adalah dosa. Cinta mengendalikan karena keinginan. Sementara kau adalah keinginan yang dinantikan lelaki semesta.

Engkau laksana malam yang dinanti-nantikan di sepuluh malam terakhir Ramadan. Satu malam yang terdapat kemuliannya lebih baik dari seribu bulan. Seolah hanya karena kemulian, cinta dikuasai oleh hawa nafsu yang telah menggerakkan hanya untuk satu malam. Memfokuskan diri beribadah karena kemulian. Berniat, bertakbir, membaca surah Fatihah karena Pahalanya terhitung seribu bulan, mungkin. Rukuk sambil memuji pada sang cinta. Mensujudkan hawa nafsu hanya karena keinginan. Berzikir dan berdoa meminta keselamatan dan rahmat pada sang cinta.

Ketahuilah surat ini kutulis di sepertiga malam itu. Jika aku memfokuskan mencintaimu. Berniat memilikimu. Memujimu. Sengaja bersujud lama, karena namamu bagian dari pelengkap doaku. Berdoa pada sang cinta untuk mendapatkan cintamu. Jika, semuanya karena hawa nafsu menguasai cinta. Itulah yang kumaksud, mencintaimu adalah dosa.

Aku lebih memilih mencintaimu dalam diam. Memerhatikanmu dalam diam. Meminjam namamu dalam perpanjangan sujudku, sebab engkau masih semogaku. Aku yakin bahwa setiap cinta adalah cinta-Nya. Oleh sebab itu, aku takut membuat-Nya cemburu. Mencintai-Nya adalah caraku meminta restu mencintaimu.

Banyak orang mengatakan, “Mencintai wanita itu sangat menyiksa. Tapi, sebenarnya yang sangat menyiksa itu mencintai orang yang tidak mencintaimu.” Namun, jika aku berdasarkan apa yang dikatakan banyak orang, maka niscaya aku tidak akan tahu kebenarannya. Mengapa? Pantaskan cinta disiksa sementara cinta bukanlah suatu yang dialami oleh dua insan yang mencintai. Cinta bukanlah sepasang suami-istri. Cinta bukanlah menanam lalu menuai. Cinta adalah tunggal.

Melalui tulisan ini, kubahasakan rasa ini. Rasa yang tidak pernah orang lain tahu apalagi kamu. Ini pengetahuanku, kukendalikan dengan caraku, kurasakan dengan ikhlas. Sebab cinta adalah keikhlasan. Aku yakin, jika kau ditakdirkan untukku, maka kau akan datang di waktu yang tepat. Namun, jika kau ditakdirkan bukan untukku, maka kau akan kuikhlaskan.

Aku berkata-kata seperti bayangan dari kenyataan, itulah yang kunyatakan dalam tulisan ini. Keadaan itulah membuatku sadar bahwa di hadapan cinta aku bukanlah apa-apa. Dengan cinta aku terpenjara pada dilema. Aku menginginkanmu dengan pengetahuan cintaku. Aku tidak ingin dikuasai nafsu cinta. Cinta mengajarku untuk ‘ikhlas’ bukan ‘memiliki’. Engkau adalah milik sang cinta, dihidupkan dengan nafas cinta. Mencintaimu, sama halnya aku mencintai diriku. Sebab, engkau pantas bahagia dengan pengetahuan cintamu.

Tuhan. Kau ciptakan ruh dan Kau masukkan cinta di dalamnya. Kau bentuk jiwa makhluk-Mu dengan ruh dan cinta. Kau tanamkan fitrah ke dada hamba-Mu untuk saling mencinta. Kau syariatkan agama-Mu sebagai agama yang penuh cinta. Kau terangi jiwa hamba-Mu agar hawa nafsu tak menguasai cinta. Bagaimana mungkin aku memaksakan mencintai dan dicintai olehnya? Sementara aku berpaling  dari cinta-Mu.

Sungguh, aku menginginkanmu karena senyummu seperti pelangi terbalik yang indah. Aku menginginkanmu, karena kamu laksana malam yang lebih baik dari seribu bulan itu. Aku memandangimu dengan pandangan dunia, sedang akhirat-Nya adalah kekal dan setiap hamba-Nya akan kembali ke sana. Begitu pula setiap cinta akan kembali ke cinta-Nya.

Sekiranya kau paham apa maksud tulisan ini. Aku tidak telalu suka cara lelaki, sering menyatakan cinta dengan bunga, coklat, atau bahkan dengan kondom. Aku memilih cara yang lebih mulia, menyatakan cinta padamu. Sebagaimana Tuhan menyampaikan pesannya melalui firmannya.

Karena pada akhirnya, isi doaku hanyalah meminta yang terbaik, bukan lagi ingin memilikimu. Jika kau yang terbaik untukku, segeralah balas surat ini dengan cinta sucimu.


Sumber gambar: news.detik.com/berita/d-4567078/malam-lailatul-qadar-ini-tanda-tanda-doa-dan-amalannya

The following two tabs change content below.

Suhardi Eon Fattah

Lahir di Bantaeng, 10 Juli 1997. Peserta suluk ekonomi, Rumah Suluk Arta Tantra dan peserta kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung.

Latest posts by Suhardi Eon Fattah (see all)