Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Menafakuri Eksistensialisme Tubuh dengan “Kawan Rebahan”

Siapa sangka, kiwari, rebahan merupakan salah satu kegiatan yang banyak digemari oleh banyak orang. Selain berguna untuk merehatkan badan disela-sela kesibukan, kini dengan rebahan anda bisa melakukan banyak hal secara bersamaan. Anda hanya butuh dua perangkat ini: kuota internet dan sebuah gawai.

Dengan dua perangkat di atas, anda bisa memesan makanan, menonton hiburan, berbagi cerita dengan kawan dunia maya, menulis sebuah larik puisi, membaca buku, mengunggah foto terkeren, mengintip keseharian artis idola, mengikuti pengajian, bahkan berkuliah. Keren bukan? Anda tak perlu susah-susah. Hanya dengan rebahan!

Apatah lagi, sejak pagebluk mendera, tidak bisa tidak, rebahan menjadi salah satu aktivitas favorit hampir setiap orang. Sebab, kehadiran makhluk bertubuh nano-mikro itu menjadi salah satu ancaman bagi kelangsungan hidup manusia. Makhluk kecil itu hanya butuh waktu kurang dari 14 hari untuk mengakhiri hidup anda. Suka tidak suka, manusia dipukul mundur sampai barak terakhir: rumah.

Alaf 2020 menjadi kisah yang akan sulit untuk dilupakan oleh manusia di seluruh penjuru dunia. Betapa tidak, hanya dalam waktu beberapa bulan, seluruh sendi-sendi kehidupan ambruk seketika. Mulai dari kisah kinasih sepasang kekasih yang harus berjarak, roda perekonomian yang hampir tiarap, pertemuan politik yang tertunda, sampai pertandingan sepak bola pun tak bisa dilangsungkan.Ya, semua karena korona.

Bermacam-macam cara yang digunakan oleh pemerintah untuk menekan angka penyebaran virus korona. Rupa-rupa nama program yang diterapkan memiliki satu fungsi yang sama: membatasi ruang spasial manusia, agar tak dihinggapi virus korona itu. Sederhananya, pembatasan ruang spasial tersebut demi menyelamatkan peradaban. Peradaban tak boleh mati hanya karena makhluk bertubuh nano-mikro tersebut.

 Pada saat yang bersamaan, ketika semua orang diharuskan bermukim di rumah masing-masing, para ilmuan berkutat di laboratorium-laboratorium untuk meneliti dan berupaya semaksimal mungkin untuk membuat vaksin. Ya, semua orang memainkan perannya masing-masing untuk menyelamatkan dunia.

Para tenaga kesehatan bekerja berpuluh-puluh kali lipat menangani pasien yang mengidap virus korona. Para cendekiawan yang tak henti-hentinya meneroka sebab-musabab terjadinya wabah. Penulis-penulis, pemula maupun yang profesional, membuat catatan harian di masa pandemi agar tak cepat mati, akibat diterungku. Ustaz-ustaz yang makin sering berwara-wiri di dunia maya untuk menyampaikan sepatah kata, untaian hikmah di balik pandemi ini. Serta para pegiat sosial media yang tak henti-hentinya memperingati untuk berdiam di rumah saja, serta melaksanakan protokol kesehatan jika terpaksa berada di ruang-ruang sosial.

Meski tak sedikit pula yang bebalnya bukan main. Bahkan, beberapa dari mereka menganggap bahwa korona hanya teori konspirasi belaka. Katanya, virus itu hanya bikin-bikinan para globalis untuk mengokupasi dan merenggut kebebasan orang-orang di dunia ini. Entahlah, saya tidak bisa menghukumi mereka benar/salah, baik/buruk. Yang jelas, tidak sedikit orang yang merenggang nyawa akibat korona.

Bagi mereka yang masih percaya pandemi ini benar-benar sunyata, dan tidak memiliki keahlian khusus dan kemampuan berlebih untuk menyelamatkan dunia seperti para ilmuan dan tenaga kesehatan, berdiam di rumah merupakan salah satu upaya yang jitu. Waima tampak sederhana, mendekam di mukim menjadi bagian penting untuk menjalankan misi mulia: mempertahan peradaban dari serangan pandemi.

Untuk mengusir kegusaran, keresahan, kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, kekalutan, rasa senewen, akibat pandemi yang tak kunjung mangkat dari muka bumi, anda bebas mengeksplorasi apa saja yang ada di rumah. Anda diberi kesempatan bermain dan bercengkrama dengan sanak famili lebih intens lagi tinimbang sebelum-sebelumnya. Anda dapat mengasah dan meningkatkan kemampuan anda memasak dan pelbagai keterampilan yang lainnya. Atau, jika anda sedang merasa mager berat, rebahan bisa jadi kegiatan yang bermanfaat.

Selain mengeksplorasi dunia maya, pada saat rebahan, anda dapat mempertanyakan kembali secara kritis makna keberadaan anda sebagai manusia di masa pandemi ini. Apakah anda masih tetap menjadi manusia ketika ruang spasial semakin dikungkung dan dibatasi? Serta apa arti tubuh bagi anda sebagai manusia yang justru, di masa pandemi ini menghindari tubuh manusia lainnya? Bukankah manusia merupakan makhluk sosial, yang membutuhkan manusia lainnya untuk mempertahankan peradaban?

Jika anda merasa terlalu berat untuk menjawab itu semua, saya ajukan sebuah buku yang dapat membantu anda. Ini judul bukunya: Kawan Rebahan: Eksistensialisme, Tubuh, dan Covid-19. Ditulis oleh seorang bapak rumah tangga, dosen partikelir, dan pegiat literasi, Bahrul Amsal.

Semesta dibalik punggung buku itu mendedahkan catatan-catatan refleksi seputar makna keberadaan dan tubuh manusia di masa pandemi. Seluruh tulisan yang ada di buku tersebut merupakan gagasan kritis dan segar. Sebab, buku itu membidik hal-hal besar yang sering dilupakan karena tampaknya yang sederhana.

Sebut saja contohnya, tulisan Pandemi dan Kepandiran. Tulisan pertama di buku itu mengulas bahwa, manusia dikalahkan oleh dua sebab: pandemi Covid-19 dan pandemi kepandiran. Keterbatasan tenaga medis dan teknologi medis yang masih sederhana membuat manusia semakin keder dengan virus. Pada saat bersamaan, pengetahuan yang kurang memadai tentang “dunia virus” membikin manusia kalah dua kali. Kira-kira sama seperti ini: sudah jatuh tertimpa tangga pula.

“Mereka seperti yakin hidup di masa Firaun dan menganggap pandemi saat ini merupakan sihir ciptaan konco-konco Firaun, dan mendaku hanya dengan iman yang kuatlah jalan keluar atas penyakit ini” (h.21). Demikianlah pandemi kepandiran yang ditabalkan oleh Bahrul Amsal,

Selanjutnya, tulisan bertajuk 4 Jalan Spiritual Menghadapi Korona dan 10 Pertanyaan Melihat Rumah dari Rumah.

Pada tulisan pertama yang disebut, keempat jalan spiritual tersebut adalah: berkhalwat selama masa physical distancing, bersiap-siap puasa selama darurat sipil, perbanyak ibadah tidak terkecuali berdoa, dan belajarlah dari pemerintah. Keempat tips tersebut memang benar-benar dibutuhkan oleh manusia beragama di masa pandemi. Ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap kondisi keberagamaan kita. Khusus yang terakhir, yang dimaksud adalah sabar. Pahit untuk diakui, pemerintah terlambat merespons dampak pandemi ini. Bahkan, “…bukannya pendekatan medis yang bakal diutamakan, tapi militer, bung!” (h.56)

Sedangkan pada tulisan lainnya, tidak bisa tidak, 10 pertanyaan tersebut membetot kesadaran kita tentang makna rumah. Tak jarang, kita hanya melihat rumah sebagai bangunan fisik, tempat bermukim dan sebagainya. Akan tetapi, rumah bukan hanya bangunan fisik yang melingkupi semesta fisik lainnya. Melainkan, rumah merupakan bangunan ruhani yang melingkupi perbendaharaan ruhani yang ada di dalamnya.

Walakhir, dan ini yang paling pamungkas. Berangkat dari penjabarannya tentang Eksistensialisme yang diperkenalkan oleh dua pemikir Eksistensialis tersohor: Martin Heidegger dan Jean Paul Sartre, Bahrul Amsal berhasil mengetuk kesadaran atas makna keberadaan manusia di masa pandemi.

Pada Heidegger, topik penting yang diuarkan oleh Bahrul adalah, bagaimana mati eksistensialis ala Heidegger: melambari ajal. Di masa pandemi, berita kematian semakin akrab ditemui. Hampir sama dengan berita-berita lainnya. Kematian, seolah-olah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi manusia yang tengah diterungku akibat korona. Akan tetapi, “Kematian, menilik pendakuan Martin Heidegger mesti dialami di bawah terang penghayatan…Manusia…memiliki piranti penghayatan untuk menemukan keautentikan dirinya melalui faktisitas yang sudah ia bawa sejak awal kehidupan: ajal” (h.103). Artinya, kematian bagi Heidegger, merupakan pilihan bebas bagi Dasein. “Anda ingin berakhir melalui ajal di masa pengabdian kemanusiaan, atau berakhir tragis di sudut gelap sel penjara” (h.106).

Setelah mengungkap makna eksistensi manusia dari Heidegger, Bahrul Amsal mengangkat tema yang sama dengan orang yang berbeda: Jean Paul Sartre. Bagi Sartre, eksistensi seorang manusia ditentukan oleh kebebasan dan kesadarannya. Karena merasa kurang lengkap atau mungkin kurang relevan (?), Bahrul Amsal mengajukan topik serupa dari seorang pemikir Iran, Ali Syariati.

Berkaitan dengan karakteristik khas manusia, selain iradat (kehendak bebas) dan berpengetahuan (kesadaran), Ali Syariati menambahkan satu lagi: daya kreasi (daya cipta). Bahrul Amsal mewedarkan pemikiran Ali Syariati tentang dua makna atau hakikat manusia berdasarkan terminologi Quran. Keduanya adalah: Basyar, dan Insan.

Bagi Syariati, Basyar merupakan dimensi fisiologis seorang manusia yang kapan saja bisa berhenti berfungsi. Selain dapat malfungsi kapan saja, dimensi fisiologis seseorang dapat dikekang, dikurung, dan diterungku. Sedangkan, Insan adalah dimensi spiritualitas dari seorang manusia yang tetap bertumbuh dan berkembang. Berbeda dengan Basyar, Insan, dimensi spritualitas seorang manusia tak bisa direpresi dan diintervensi oleh apapun. Olehnya, sepadan dengan konsep being-for-itself dari Sartre, bagi Syariati, seorang manusia dapat menjadi becoming dari being, ketika mengaktifkan dimensi Insaniyah menjadi orientasi utama.

Jika menilik makna atau gagasan Eksistensialisme Ali Syariati, setidaknya dapat menjadi salah satu alternatif dari banyak cara memandang eksistensialisme tubuh manusia di masa pandemi. Pertanggal 5 Juli 2021, Walikota Makassar menetapkan PPKM, sama seperti yang dilakukan oleh Jawa-Bali. Sejatinya, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) tak berbeda banyak dengan kebijakan PSBB di awal pandemi. Mungkin, perbedaannya hanya terletak pada nama programnya. Intinya sama saja: membatasi ruang spasial, menekan aktivitas sosial, menerungku tubuh manusia.

Sepertinya, gagasan Ali Syariati tentang Eksistensialisme yang ditikkan oleh Bahrul Amsal patut untuk diupayakan. Sebab, boleh saja tubuh kita dibatasi ruang spasialnya, dikekang aktivitas sosialnya. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak menjadi manusia seutuhnya. Selama masa pembatasan ini, sudah saatnya dimensi spiritualitas kita ditingkatkan. Semoga saja, upaya meningkatkan dimensi spritualitas tersebut, menjadi penolong kita, serta menjadi sebuah suluk untuk meraih Insan Kamil. Ya, manusia sempurna. Semoga saja.

Tubuh Buku:

Judul: Kawan Rebahan: Eksistensialisme, Tubuh dan Covid-19

Penulis: Bahrul Amsal

Penerbit: Liblitera Institute

Jumlah Halaman: 153 Halaman

Nomor ISBN: 978-602-6646-36-1

The following two tabs change content below.

Ahmad Nurfajri

Ahmad Nurfajri Syahidallah. Aktif sebagai mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Asia Barat. Selain aktif di bidang akademik, juga aktif di beberapa Lembaga kemasiswaan. Siswa di Kelas Literasi Paradigma Institute