Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

404 Not Found: Jangan Ada Mural di Antara Kita

Mural/mu·ral/ n lukisan pada dinding: semua dindingnya tertutup oleh – binatang. Itu pengertian mural yang dimuat KBBI, tapi justru berarti lain oleh pemerintah terkait kemunculannya di beberapa kota belakangan ini, yang berisi kritik terhadap kekuasaan melalui gambar-gambar impresif sekaligus kontroversial.

”Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit”, ”404 Not Found”, atau ”Tuhan Aku Lapar”, adalah kata-kata mural yang muncul bak cendawan di musim hujan, menyuarakan aspirasi rakyat yang selama ini tidak mendapatkan tempat di baliho-baliho elite politik. Tebakan Anda tidak meleset, jika yang Anda maksudkan adalah gambar muka-muka raksasa elite politik yang digantung dan ditanam di tiang-tiang iklan pinggir jalan beberapa waktu lalu, seolah-olah hal itu menandakan pemilu presiden tidak lama lagi bakal dihelat.

Sebenarnya, yang lebih berbahaya adalah muka elite politik yang sembrono menyeruak di ruang publik, dibandingkan mural. Mereka menggadang perhatian masyarakat tidak pada waktunya dan tidak pada tempatnya, berhubung korona masih menjadi momok mematikan. Kurang empati apa coba, di saat masyarakat sedang kesusahan melawan korona, tiba-tiba ruang publik disodori muka-muka elite yang jarang berkunjung di rumah-rumah warga. Mereka mengira politik adalah harga mati. Gila.

Seolah-olah dengan sendirinya akan membangkitkan pembangkangan massal, mural-mural itu segera saja dihapus dan dicat hitam, atau putih, atau warna apa saja agar tidak ada yang tersinggung apalagi terpanggil kesadarannya untuk menyerang pemerintahan. Seakan-akan mural-mural itu akan menjelma menjadi makhluk sebenarnya, dan mulai memberontak meneriakkan jargon-jargon ”revolusi sekarang juga”, atau ”turunkan presiden sekarang juga” seperti di masa reformasi. Tapi itu tidak terjadi, sehingga tidak perlu menurunkan sekompi tentara untuk mensterilkan keadaan. Satu-satunya senjata jika keadaan betul-betul ingin disterilkan hanyalah seblek cat dan sebuah kuas. Kali ini sudah pasti bapak-bapak polisi yang melakukannya.

Saat dibangku kuliah, bersama tiga orang teman, kalimat-kalimat jargonistik semacam itu pernah saya semprotkan kuat-kuat di dinding-dinding kampus. Bukan dalam rangka pencitraan pemilu rektor atau sejenisnya, melainkan sebaliknya ”Turunkan rektor”, atau ”Turunkan SPP”, atau kalimat serupa yang kami guratkan dengan cat semprot berwarna merah. Kami melakukannya di malam hari dan mesti bermain kucing-kucingan dengan satpam kampus yang baru bertenaga jika malam makin menggigil. Saat itu almamater saya akan menggelar dies natalis, mengundang tamu-tamu penting besoknya, dan membuat kampus penuh dengan corat coret berisi kritikan akan membuat kebijakan kampus dipertanyakan banyak orang.

Saat itu kami mengira coretan di dinding kampus dapat dengan segera menyampaikan aspirasi mahasiswa, jika tidak sebelumnya coretan itu dihapus lebih awal dari dugaan kami sebelumnya. Paginya, ketika kami bangun dan berbaur dengan keramaian, beberapa titik kampus sudah dipenuhi polisi, coretan semalam sudah dilapis cat berwarna gelap, dan  dies natalis berjalan sesuai jadwal seperti tidak ada kejadian penting yang pernah terjadi sebelumnya.

Pasca kejadian itu, santer beredar dewan dekanat dan rektorat mencari tangan siapa yang berani-beraninya melakukan tindakan bejat itu. Beberapa senior aktivis dipanggil menghadap, dituduh tapi tidak ada yang tahu siapa pelakunya. ”Mana mungkin ada mahasiswa yang mau mengotori kampusnya sendiri, Pak”, begitu alasan seorang senior kepada dekanat.  Dia tidak tahu cecunguk-cecunguk kami inilah, yang saat itu baru genap dua tahun menyandang mahasiswa, yang sudah melakukan aksi gercep corat-coret bertelanjang dada itu.

Kelak, ketika sudah lulus, barulah kami membuka cerita sebenarnya kepada senior bersangkutan beberapa tahun setelahnya. Menceritakan siapa dalang intelektualnya, dan bagaimana cara kami melakukannya.

Sekarang aksi kesenian jalanan tidak bisa dilepaskan dari paradigma seni tertentu. Adik saya, semasa di STM adalah seorang bomber yang terkadang membuat repot jika ia membawa dan mengubah lemari kamar menjadi tempat penyimpanan beragam cat semprotnya. Saya selalu berharap agar ia ikut membaca buku-buku koleksi di kamar dan meninggalkan kebiasaannya yang ia pupuk sejak di pesantren itu. Hampir setiap malam di akhir pekan bersama kelompoknya berpencar di titik potensial di Makassar yang bisa mereka jadikan dinding graffiti. Anda tahu, Makassar bukan wilayah yang banyak  memiliki gedung-gedung kosong, atau bangunan di pinggiran kota yang terbengkalai dan tak terpakai, yang bisa dijadikan tembok graffiti. Justru aksi para ”bomber” kadang membuat sederet gedung pertokoan dan gedung masih aktif berubah seperti sedang mengadakan parade sirkus.

Segerombolan anak STM bukanlah sekumpulan mahasiswa seni yang bekerja dengan prinsip-prinsip kesenian atau idealisme kesenian tertentu. Melainkan suatu kelompok potensial anak-anak kota yang lebih awal melihat aksi kesenian jalanan sebagai wahana ekspresif ide dan perasaan mereka. Belum ada gagasan yang matang, terpola, dan koheren dari graffiti mereka, tapi lebih kepada tindakan seporadis dan tak terukur. Tapi apa pun itu, semua tindakan para bomber dirangsang dan dimotivasi dari sifat pemberontakan, egalitarianisme, dan pembangkangan dari apapun yang membuat mereka sulit bergerak dan berekspresi.

Adik saya itu kelak menjadikan aksi graffitinya itu sebagai tema skripsinya, dan meramunya dalam ilmu antropologi yang merupakan disiplin keilmuannya. Saya tidak pernah membaca skripsinya itu, selain daripada melihat keseruan aksinya melalui foto-foto yang banyak ia sertakan melalui tugas akhirnya.

Sebelum hari ini, seorang senior pernah menceritakan pengalaman perjalanannya selama di Eropa. Ia antusias sekaligus terpukau dengan arsitektur gedung-gedung tua di sana, yang ia katakan dibangun didasarkan dengan kecanggihan teknologi saat itu. Ia bercerita tentang latar belakang dari sebuah gereja bersejarah. Ia juga terkesima bagaimana arsitek-arsitek dari masa abad pertengahan dan renaisans dapat membangun gereja atau masjid-masjid dengan hitungan matematika yang presisi. Tentang campuran semennya, jenis batu-batunya, dan lukisan mural Bunda Maria dan bayi Yesus di atas langit kubah-kubah gereja yang ia kunjungi. Itu dilakukan dengan tangan, dan mustahil menggunakan teknologi mesin seperti saat ini, pikir saya.

Di Sulawesi, mural malah ditemukan di atas gua-gua. Bukan dilakukan di dinding, tapi di atas tebingan batu-batu kapur. Di kawasan karst terbesar kedua dunia di Kabupaten Maros-Pangkajene Kepulauan (Maros-Pangkep), adalah titik temuan mural yang digadang sebagai titik tolak kecerdasan manusia modern di Asia. Sampai saat ini banyak misteri menyangkut gambar-gambar purba itu, termasuk bagaimana cara dan dengan bahan apa mereka mengabadikannya. Tapi, mural yang kebanyakan bergambar binatang seperti babi/anoa gemuk itu, dikatakan ahli sebagai figur-figur yang menandai ”ledakan kognitif” tertua yang pernah ada di dunia. Ia bukan saja mengambarkan kecerdasan otak manusia, tapi juga mengamsalkan suatu pencapaian spiritualitas kelompok manusia di masa itu.

Menilik lukisan cadas ini, adalah suatu perspektif  menyangkut kemampuan imajinatif manusia yang telah pandai mensiasati alam material dengan menciptakan sosok-sosok gabungan berupa manusia setengah hewan. Suatu metode kecerdasan yang dilakukan demi menghormati dewa-dewa, sekaligus sebagai cara untuk mengatasi rasa takut kepada roh-roh jahat yang hidup di dunia antara. Sama seperti rasa takut masyarakat Mesir kuno kepada dewa Anubis berkepala jakal, atau makhluk Sphinx berkepala singa, tapi ini jauh lebih tua dari keduanya.

Kebudayaan adalah apa yang dibuat dan dilakukan orang. Para antropolog meskipun melihat kebudayaan sebagai hasil capaian dari kognisi manusia yang bersifat suci, juga tidak menafikan bahwa kelahiran dan keberadaannya dapat berbaur sedemikian rupa dengan hal-hal yang membuatnya menjadi banal. Dalam perspektif mutakhir, bahkan hasil-hasil budaya sudah tidak lagi dapat dipisah-pisahkan keberadaannya antara kesucian dan tidak suci, estetis atau tidak, atau budaya tinggi dengan budaya rendah.

Elemen budaya berupa bahasa tidak selamanya mampu menunjukkan pengertian yang lengkap atas suatu maksud. Dalam beberapa pengertian, bahasa ternyata tidak sesempurna makna yang dapat ia jembatani. Ia juga tidak sanggup meniru objek-objek bahasa. Bahasa ternyata mengandung keterbatasan-keterbatasan fungsioanal berupa tempat, bangsa, dan penggunaan, sehingga mendorong simbol, gambar, atau citra bentuk-bentuk jauh lebih mampu mewakili tatanan maknawi dari yang tidak sanggup dialami bahasa. Di sinilah kadang graffiti tidak lebih baik daripada mural yang mengandalkan gambar-gambar sebagai mediumnya.

Dibandingkan graffiti, mural jauh lebih gampang menyampaikan pesannya karena bersifat visual. Dalam kajian perkotaan, seni mural sebenarnya adalah cara masyarakat melihat ulang ruang kotanya, bukan sekadar mengandalkan kekhasan daya tangkap mata  dalam menangkap bentuk dan warna-warni, tapi lebih dari itu, dengan cara mural masyarakat kota disuguhi ”cara melihat”dan ”metode refleksi” serba sekilas walau hanya melalui gambar-gambar. Melalui cara itu, mural malah dapat memancing ide, gagasan, dan kesadaran baru saat mengalami ruang di kota-kota.

Di masa perjuangan baik mural atau kata-kata graffiti dipakai menjadi medium pembangkit pertisipasi warga melawan penjajahan. Sekarang, walaupun kemerdekaan telah dicapai, kesenian jalanan seperti ini yang ditemukan di kota-kota juga merupakan  bagian dari budaya urban. Ia bertujuan untuk mengambil alih sudut-sudut ruang publik yang telah lama dipakai untuk kepentingan pasar dan politik. Partisipasi publik semacam ini-lah alih-alih dilihat sebagai sampah perkotaan justru menjadi wakil aspirasi dan keresahan apa yang sedang dirasakan di tingkatan grass root.

Fenomena kemunculan mural di beberapa kota juga menunjukkan keadaan dunia kesenian yang lebih partisipatif tidak kecuali kritis. Dibanding hanya menjadi kenikmatan elite di galeri-galeri seni yang hanya bisa dirasakan kelas masyarakat tertentu, mural sebagai street art juga adalah gerakan kritik internal itu sendiri kepada gerakan kesenian yang lebih kanonik dan eksklusif. Ini juga menandai para seniman tidak melulu hanya mengurusi aspek estetis dari satu karya kesenian, tapi lebih kepada bagaimana fungsi karya seni itu sendiri sebagai wahana yang menghidupkan rasa kemanusiaan dan keadilan.

Setelah pemerintah beberapa waktu lalu menghapus daftar kematian dalam grafik perkembangan jumlah korban korona, kali ini hal yang sama dilakukan juga untuk menghapus aspirasi masyarakat, yang lahir dari kesenian jalanan semacam itu. Hapus menghapus, kalau dalam tinjuan sejarah sudah sering dilakukan dari masa Orde Baru, dan sekarang praktik itu masih dilestarikan kekuasaan atas nama stabilitas politik dan ekonomi.


Sumber gambar: https://jogja.antaranews.com/berita/349529/kritik-publik

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).