Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Di Ruang Tunggu Bandara

“Maaf boleh duduk di sini?” tiba-tiba seseorang menyapaku, saya hanya tersenyum dan mepersilakannya.

“Zalsabila Cornelia Endy,” gadis itu menjulurkan tangan kemudian memperkenalkan dirinya

“Yardan Michael Julian,” sahutku lalu meraih ulurannya kemudian menjabat tangannya dengan erat.

“Lagi menunggu pesawat yah?” tanyanya sekadar basa-basi, tentu tanpa kujawab pun ia akan tahu dengan hanya melihat tiket pesawat yang tergeletak manja di samping secangkir cappuccino.

“Sama, saya juga sementara menunggu penerbangan, pesawat yang akan kutumpangi take-off empat jam lagi,” sahutnya kembali, tanpa mempersilakan saya menjawab pertanyaan yang ia layangkan kepadaku sebelumnya.

Gadis cantik itu kemudian mengambil sesuatu dalam tas yang berlogo L-V, kukira ia hendak mengambil ponsel, rupanya ia sedang mengambil satu bungkus sigaret. Kemudian menyulut api lewat pemantik, asap kemudian mengepul di udara. Ia menghisap sigaret tersebut sembari sesekali memejamkan mata, menikmati tiap ujung tembakau yang tersulut api.

“Ibuku pernah bilang kepadaku, dulu kalau mau bepergian, harus menunjukkan kartu vaksin dan hasil tes PCR serta hasil SWAB Antigen, tapi itu dulu, sekarang telah berbeda.”

Saya hanya mengangguk menanggapi seadanya, apa yang ia ucapkan memang benar. Ayahku pernah bercerita, bahwa dahulu bumi dilanda satu penyakit yang dinamakan COVID-19, virus yang menyerang saluran pernafasan seseorang, virus itu menyebar begitu cepat hingga statusnya menjadi pandemi.  Ayahku pun pernah berkisah, karena virus itu ia menghabiskan masa SMA nya dengan begitu hambar, belajar lewat dunia maya hingga menapaki jenjang sarjana. Pandemi itu baru benar-benar menjadi endemik ketika seluruh masyarakat telah melaksanakan vaksinasi dan tercipta kekebalan komunal.

Bahkan kata ayah, ketika pernah diadakan sekolah tatap muka terbatas, ia harus menjaga jarak dengan kawan sebayanya, selalu mencuci tangan, bukan sekali, namun berkali-kali. Pun dalam setiap aktivitasnya memakai masker. Apa yang diceritakan ayahku membawa imajinasi kepada sebuah aktivitas yang rumit.

“Ia benar, sekarang nampak normal kembali,” sahutku datar.

“Ibuku pernah bercerita, bahwa bencana itu bisa saja dicegah jika penguasa saat itu menerapkan karantina wilayah, dengan menutup semua pintu masuk baik laut dan udara. Agar mobilitas masyarakat dari wilayah terdampak virus tidak masuk ke negeri ini. Tapi penguasa kala itu memandang remeh hingga virus itu masuk dan menyebar begitu cepatnya. Perekonomian sempat terseok-seok, bahkan banyak orang-orang yang memanfaatkan peluang di tengah bencana,” gadis itu menghentikan ucapannya. Kemudian menghisap sekali lagi sigaret dan menyumbulkan asap ke udara.

“Mungkin ayah atau ibumu pernah mengisahkan ini, bahwa di masa itu seorang menteri dengan teganya berbuat korup, menyunat dana bantuan sosial. Mungkin pula beliau-beliau menceritakan bagaimana masyarakat melancarkan kritik atas ketidakcakapan dalam menangani pandemi melalui kampanye mural yang estetik.” Gadis itu menghentikan ucapannya, sigaret di jemarinya kemudian dimatikan dengan ujungnya ditekan keras pada asbak yang ada di hadapanku.

Sekali lagi, saya hanya mengangguk, karena cerita itu memang pernah dikisahkan oleh ibuku, betapa beberapa kali ironi terjadi di negeri ini. Ibu pun pernah berkisah ketika dilakukan pengetatan dan pembatasan mobilisasi, ia harus dengan rela membatalkan perjalanan menuju seberang, melayat nenek yang berpulang. Saat itu Ibu bercerita betapa hatinya tersayat ketika tidak bisa bepergian sedangkan di saat bersamaan banyak tenaga kerja asing masuk ke negeri ini.

Ada pula kisah pembungkaman kritik masyarakat melalui mural, katanya, beberapa seniman membuat mural yang tampak sarkas, lalu keesokan harinya mural itu telah lenyap. Lenyapnya mural tersebut kemudian ditanggapi dingin oleh masyarakat, bahkan sebuah organisasi non profit membuka sayembara kritik mural, juara pertama ketika mural tersebut dihapus oleh aparat setempat. Jadi secara tidak langsung membuat pemangku kebijakan menjadi juri atas lomba tersebut.

Kini gilaran saya yang mengambil sesuatu dari tas ku, mengambil sigaret lalu menyulutnya dengan api. Gadis di depanku tak mau kalah, ia pun mengambil satu batang sigaret, kami sama-sama mengembuskan asap dari tembakau yang terbakar, untungnya kedai kopi di bandara ini memiliki smoking area.

“Kamu sudah baca berita daring belum? Tentang tragedi jatuhnya pesawat pagi tadi?” gadis itu kemudian membelokkan pembicaraan, kini yang ia kisahkan hanyalah tragedi bencana yang pernah terjadi di negeri ini.

“Ayahku pernah berkisah, mengenai tragedi jatuhnya pesawat terbang di awal bulan Januari 2021, pun ayah pernah berkisah tragedi tenggelamnya kapal selam di bulan April. Kata beliau, itu adalah tragedi pertama di negeri ini, kasus pertama tenggelamnya kapal selam, hingga ia menyelam menuju keabadian, On Eternal Patrol, kata ayahku.” Dari bibir bergincu merah itu kemudian menyumbulkan asap, saya pun membalasnya dengan mengembuskan asap putih. Lantas ia pun kembali menyinggung perihal peristiwa jatuhnya pesawat terbang tadi pagi.

Ia, gadis itu, tanpa henti bercerita, tanpa kami sadari kami telah membunuh waktu begitu lama. Suara riuh kemudian menyelimuti bandara, tentunya karena kasus pagi tadi, tentang jatuhnya pesawat yang membawa penumpang. Ucapan duka cita dan simpati mengalir melalui media sosial. Bahkan layar kaca tanpa henti menampilkan berita jatuhnya pesawat terbang tersebut. Saya kemudian menatap layar kaca di atas sana, berita menayangkan jatuhnya pesawat terbang di laut lepas, di sana kulihat jelas beberapa nama.

“Itu namamu kan?!” celetuk gadis itu tiba-tiba kepadaku, pandanganku kualihkan kepadanya lalu tersenyum.

“Iya, benar itu namaku, dan ada juga namamu terpampang disana, kan?!.”

Sesaat kemudian hening, kudengar namaku dan namanya dipanggil, kami kemudian beranjak dari kedai kopi ini, lalu bergegas menyusuri ruang tunggu dan menuju aprone bandara. Pesawat yang akan kami tumpangi telah tiba, sebentar lagi take-off dan mengangkasa, membawa kami menuju keabadian di ujung sana….

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR