Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Kisah (Membaca) Buku di Hari Literasi Sedunia

Setelah membaca Kisah Seekor Camar Dan Kucing Yang Mengajarinya Terbang, saya membatin, kelak, Banu, harus juga membaca kisah ini. Entah bagaimana caranya ia juga mesti menemukan sesuatu yang berharga dari cerita karangan Luis Sepúlveda  ini, dari kesetiaan Sorbas, dan keberanian Fortune, anak camar yang besar tanpa induknya itu. Di antara buku-buku saya, inilah salah satu buku yang saya kira akan Banu sukai setelah ia mampu mengeja sendiri kata demi kata dari buku-buku seri khusus anak-anak, nantinya.

Buku ini memang diperuntukkan bagi anak-anak, sama seperti kisah-kisah lain yang ditulis agar seseorang sejak kecil mendapatkan pengalaman cerita yang menarik dengan kualitas penulisan berkaliber.

Setiap anak, saya duga akan mencintai buku-buku jika ia langsung menyukai kisah-kisah yang ia baca pada buku pertamanya. Pengalaman pertama itu penting, untuk segala hal, termasuk dengan buku, suatu benda mudah rusak tapi digadang amat penting bagi setiap peradaban.

Di dunia ini banyak buku-buku yang mampu memukau seseorang melalui kisah-kisahnya yang hebat, yang membuat imajinasi melambung tinggi, mengubah dunia ini seolah-olah seperti bola karet yang dapat memental menjadikannya melar dan menyusut di waktu hampir bersamaan. Tapi, tidak semua orang mampu membaca kisah-kisah hebat, karena banyak faktor, termasuk akses dan lingkungan hidup yang masih seperti di masa lalu, saat dunia di sekelilingnya bergerak cepat dari satu situs  ke situs perubahan lain.

Ada anak-anak yang tinggal di kota besar, berpindah tempat hanya melalui kereta cepat, dan bisa sesekali makan sambil bermain di pusat perbelanjaan mentereng. Setiap hari ia merasa terhibur dengan deretan buku berwarna-warni di etalase berlapis kaca, yang tak satupun debu menempel di permukaannya saat ia mengunjungi toko-toko buku terkemuka. Rumahnya yang mewah tidak sama sekali nampak kekurangan dengan halaman yang teduh dan asri, sementara sekolahnya jauh lebih maju dari sekolah sejenisnya, memiliki perpustakaan lengkap berisi buku-buku berbahasa  asing dengan cerita-cerita yang hanya mereka saja yang tahu. Sementara di dunia lain, tidak sedikit anak-anak lahir dari orangtua yang kurang beruntung, dan besar jauh di pelosok desa dengan hamparan sawah dan hutan saja tempat bermainnya.

Anak-anak inilah, tanpa kehilangan akal, oleh orangtuanya mengarang cerita-cerita yang buku manapun jarang atau tidak pernah sama sekali menulisnya, untuk mereka ceritakan ke telinga-telinga yang belum banyak mendengarkan bebunyian itu, sebagai penghiburan akhir di tiap malam jelang. Jika cerita habis dan tak ada yang bisa dikarang lagi, para orangtua yang telah porot tenaganya selama bercocok tanam dari siang ini, akan mengulang-ulang cerita yang pernah mereka dapatkan dari orangtua mereka sebelumnya. Atau dari legenda, mitologi, atau kisah orang-orang di masa lalu yang mereka ketahui diambil dari kitab suci.

Dengan itulah, entah dengan suatu mukjizat yang bekerja dengan cara ganjil, anak-anak ini tidak merasakan sedang hidup dari dunia yang berbeda dari jenis keluarga-keluarga elite, melainkan mereka tetap bahagia tumbuh besar bersama rekaan dunia yang mereka sendiri ciptakan, dari cerita yang tiap malam mereka dengarkan melalui orangtuanya.

Hingga suatu saat, di waktu yang tidak diduga-duga sebelumnya, mereka menemukan buku pertamanya yang mengasyikkan, yang tidak jauh berbeda dari cerita saat mereka dengarkan setiap malam langsung dari mulut kedua orangtuanya. Entah di usia berapa mereka akhirnya akan menemukan buku yang membuat kesan mendalam di kepalanya, dan dalam situasi apa, sehingga hanya karena sebuah buku mereka rela menunda atau meninggalkan pekerjaan penting saat itu, agar segera dapat menuntaskan cerita dibacanya.

Buku mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos María Domínguez, pengarang Rumah Kertas, meskipun tidak sedikit takdirlah yang mempertemukan seorang anak kepada buku pertamanya.

Saya tidak akan lupa pengalaman membaca yang menyenangkan dimulai melalui cerita-cerita dari sebuah majalah anak di masa lalu, bernama Bobo, yang merupakan versi Indonesia dari majalah yang sama di Belanda. Seminggu sekali saya pasti akan dengan mudah dapat membaca kisah Paman Gembul, Rong-rong dan Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang, cerita Nirmala si putri yang selalu bersetelan gaun berwarna merah jambu, atau kisah-kisah lokal yang diadaptasi dari berbagai legenda rakyat. Adalah kakak saya yang memulai mengoleksi majalah berikon seekor kelinci berkulit biru ini, sehingga saya dapat juga merasakan sensasi menggembirakan jika tidak membaca, melihat-lihat gambar-gambar menarik di dalamnya. Tentu, demi itu semua, seringkali saya harus rela bersabar menunggu sampul pelindung plastik dibuka pertama kali oleh kakak saya. Ini bukan soal apa, selain daripada dialah yang membeli dari uang tabungannya sehingga paling berhak membuka pertama kali majalah itu.

Belakangan saya baru menyadari, ada suatu masa, saya juga menyukai cerita-cerita yang jarang saya temui di kehidupan nyata, tetapi itu menjadi sajian menarik ketika itu dikisahkan melalui majalah berbumbu agama. Anda tahu, di negeri ini cerita apapun akan menjadi berbeda jika dikaitkan dengan agama. Jika seseorang dikisahkan sukses, itu hal biasa dan memang seperti itulah kejadiannya, orang sukses bisa sukses karena ia punya kemampuan finansial, dilahirkan di keluarga berada, dan mendapatkan pendidikan terbaik dari sekolah termahal sehingga membuat otaknya encer dikarenakan ditunjang dengan makanan berserat dan bergizi tinggi. Itulah sebabnya ketika ia meraih kemenangan pertama di bidang biologi dalam perhelatan olimpiade ilmu-ilmu sains, ia hanya dibicarakan apa adanya, atau bahkan dicela karena dicurigai sebagai pengikut Charles Darwin dan tidak menggunakan hijab syar’i saat menerima penghargaannya.

Tapi, di majalah itu tidak ada kisah kesuksesan macam begitu, selain misalnya, cerita seseorang yang mendapatkan hidayah setelah ia bertemu seorang ustaz di suatu waktu yang tidak biasa, dan memutuskan segera masuk Islam setelah bertahun-tahun menjadi direktur di suatu bank. Atau seseorang yang seketika berubah 180 derajat menjadi semakin religius hanya karena semalaman ia bermimpi sedang berada di suatu tempat yang ia yakini adalah mulut neraka ke-7. Di majalah semacam itu, sebagian kisahnya sepertinya ditulis agar Anda makin menjadi religius dengan cerita-cerita yang sedikit menyeramkan, unik, tapi sayang untuk dilewatkan. Seolah-olah dengan kisah itulah, Anda akan cepat memahami dengan baik, jika dalam suatu waktu Anda pernah berbuat dosa besar, maka kejadian-kejadian buruk yang akan segera menimpa akhir hidup Anda.  Sepertinya aneh memang, tapi begitulah, di majalah yang sama, Anda juga dengan gampang disuguhi cerita-cerita menyangkut perjuangan matia-matian seseorang demi menegakkan Islam sebagai satu-satunya keyakinan paling layak di dunia.

Ibu saya sejak mahasiswa sudah kepincut dengan Aisyiah, satu cabang organisasi bagi perempuan Muhammadiyah ketika masih menjadi pelajar di IAIN Ujung Pandang. Sebuah foto lawas pernah saya temukan, saat ia duduk di sebuah kursi berhadapan dengan seseorang yang mirip Quraish Shihab. Keadaaan itu persis saat seorang mahasiswa sedang menghadapi ujian, atau saat sedang melalui tahap ujian akhir. Dugaan saya tepat, bahwa itulah Quraish Shihab sedang menguji saat mamak menyelesaikan tugas akhirnya, setelah saya menceritakannya menyangkut foto itu. Singkat cerita, itulah saat, yang tidak lama lagi bagi ibu saya bakal bertemu calon suaminya dan menikah di kemudian hari.

Bapak orang yang pendiam dibandingkan ibu. Kombinasi yang pas mengingat mereka berdua masih awet hingga sekarang. Tangannya lebih banyak bergerak dibandingkan mulutnya, membuatnya mampu bekerja apa pun dan nyaris bisa memperbaiki apa saja. Mungkin karena itulah bapak tidak memiliki banyak waktu sama seperti ibu saya yang suka berinteraksi dengan banyak orang. Membuatnya lebih banyak bekerja dan tidak memiliki cukup waktu untuk terlibat ke dalam urusan perserikatan seperti orang Muhammadiyah lainnya. Jadi sudah bisa ditebak, dari mana nilai-nilai kemuhammadiyaan itu dimulai, dan pelan-pelan menjadi semacam ideologi keagamaan bagi keluarga kami.

Sama seperti jika bapak Anda adalah bagian dari keluarga militer, yang tiap waktu berkala memperbarui informasinya melalui majalah Cakrawala, Yudhagama, atau Gajah Mada terbitan tentara Indonesia, bagi keluarga Muhammadiyah atau Aisyiah, kesetiaannya kepada ideologi organisasinya dibuktikan salah satunya melalui majalah Suara Aisyiah. Ibu saya mau tidak mau pasti mengoleksi majalah yang dikelola hampir semuanya perempuan ini. Tapi, entah mengapa koleksi majalah itu masih kalah banyak dengan majalah Hidayatullah, suatu majalah Islam yang saban bulan dibawa seseorang langsung kepada ibu saya. Tidak begitu penting bagaimana awal ceritanya majalah ini bisa menjadi suplemen informasi bagi keluarga saya, kecuali satu majalah kecil yang kadang saya temukan terselip di antara majalah-majalah itu, yang menyuguhkan liputan dan cerita-cerita unik dan menakutkan, yang saya ceritakan di atas.

Tapi, cerita-cerita itu juga akan saya lupakan dengan sendirinya, menyusul kisah liputan da’i-da’i dari Hidayatullah, yang mengambil satu dua halaman khusus menyangkut kiprah militansi mereka berdakwah tanpa modal apa-apa ke daerah-daerah terpencil dengan cara membangun masjid dan pesantren di sana. Saya selalu terkesima dengan keikhlasan dan keberanian perjuangan da’i-da’i ini saat kali pertama berdakwah di tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi dan ketahui sebelumnya dengan baik. Di zona konflik, atau semisal, di kawasan nun jauh di atas gunung dan di dalam hutan-hutan, yang konteks masyarakatnya berbeda jauh dari adat kebiasan masyarakat pada umumnya. Selalu ada kisah menarik dari orang-orang seperti ini, yang tidak jarang kerap membawa serta keluarga mereka keluar dari zona nyaman demi menyebarkan agamanya sampai semua orang dapat bisa mempelajarinya.

Sekarang, ketika hampir semua lini aktivitas masyarakat bersinggungan dengan literasi, keadaannya akan jauh lebih menantang tapi pasti mengasyikkan, jika saja para da’i-da’i seperti diplot Hidayatullah itu menjadi garda depan yang memprovokasi orang-orang untuk mencintai buku-buku, sama seperti saat mereka mencintai agama atau kelompoknya. Akan lain ceritanya, jika saja militansi yang membuat mereka berani merambah dan membuka lahan pesantren di tempat-tempat pelosok, dibarengi juga dengan keuletan mereka membawa buku-buku masuk jauh sampai ke daerah-daerah.

Ini seperti dilakukan oleh beberapa orang yang saya kenal, yang menghabiskan sisa hidupnya untuk menanamkan cinta buku kepada anak-anak jauh sampai di atas gunung-gunung. Ada yang seperti Don Quixote menaiki kuda mengangkut buku-buku di pelananya dan berjalan seperti seorang pengembara, ada yang menggunakan perahu menjelajahi pulau-pulau terpencil, seolah-olah menjadi pelaut ulung Sulawesi dengan kapal-kapal sandek atau pinisinya seperti di masa lalu. Satu dua orang saya tahu bahkan menggunakan rumahnya sebagai tempat menampung buku-buku sumbangan, sama bersemangatnya seperti aktivis literasi yang menggunakan sarana apa saja, bahkan becak, atau gerobak demi menyambung akses putus anak-anak dari sumber kebahagiaannya: buku.

Saya sendiri lupa buku bacaan pertama saya, yang betul-betul membuat saya terkesan sehingga mulai saat itu menyatakan niat agar terdorong dapat terus membaca. Mungkin majalah Bobo seperti saya ceritakan itu, tapi saya tidak akan melupakan waktu yang paling menyenangkan ketika mengikuti kisah seorang anak lelaki yatim piatu, yang bersekolah di sekolah sihir legendaris bersama dua orang karib sahabatnya Ron Weasley dan Hermione Granger. Ya, itulah serial novel fiksi Harry Potter dari Britania Raya, yang seketika mengubah nasib buruk J.K Rowling menjadi miliarder, yang terbit di Indonesia tidak lama setelah masa reformasi.

Saya rasa novel ini datang dan diterima dengan antusias di Indonesia karena reformasi membuat segalanya berubah. Meski bukan revolusi, reformasi juga merombak cara manusia Indonesia berpikir bahwa kekuasaan yang bercokol selama 32 tahun dapat juga runtuh jika ada segolongan masyarakat yang tidak menginginkannya. Sama seperti di belahan bumi lain, Indonesia saat itu seolah-olah menjadi bagian dari suatu gerak sejarah yang terdorong mencari satu alternatif kehidupan melalui pemerintahan yang baru. Demokrasi, yang membuat segalanya menjadi mungkin, adalah kekuatan yang mulai saat itu membuat semua orang dengan senang hati ingin memperjuangkannya.

Dengan cara yang hampir sama, secara moral dan pengetahuan reformasi ikut menentukan cara berimajinasi masyarakat melalui medium-medium yang paling cocok dengan keadaan saat itu, tidak terkecuali sastra. Di titik inilah, Hary Potter melalui fiksi dunia sihirnya datang dan mendapatkan momentum pembacanya yang saat itu baru saja terbebas dari rezim otoriter orde baru. Subtitusi imajinal semacam inilah, mengapa cerita seperti ditawarkan Harry Potter laku keras di negeri yang bukan sama sekali memilliki kesamaan dengan kebudayaan Eropa.

Bagi saya sendiri, cerita dunia sihir ala J.K Rowling adalah satu model empati untuk imajinasi manusia yang mengalami reduksi akibat sistem kekuasaan yang terlalu mengatur sistem pengetahuan manusia. Saat itu, ketika Indonesia mengalami masa transisi politik, yang membuat instabilitas di mana-mana, seolah-olah dunia remaja masyarakat Indonesia akan juga mengalami hal yang sama dengan jatuhnya Soeharto saat itu. Tidak ada lagi cerita yang mampu membangkitkan minat membaca anak remaja, kecuali Harry Potter yang bisa mengubah separuh dunia melalui tongkat sihirnya.

Dunia Sophie adalah buku dengan kesan mendalam bercerita tentang seorang anak bernama Sophie dan tokoh-tokoh filosof dunia, tapi siapa pun lebih baik bersabar jika ini akan ia masukkan ke dalam daftar buku bacaan anaknya kelak. Tidak ada ukuran pasti, kapan sebaiknya usia anak disuguhi cerita-cerita fiksional melalui kalimat yang dapat ia eja sendiri. Tapi, buku karangan  Jostein Gaarder ini tidak saja baik bagi siapa pun, melainkan buku pengantar yang tidak berlebihan menyangkut sejarah pikiran manusia dan kedewasaan cara berpikirnya untuk anak-anak yang sedang menunggu masa remajanya. Saya rasa, Sophie, selain Alice dalam kisah Alice in Wonderland adalah sahabat yang mengasyikkan bagi kebanyakan anak remaja lainnya, yang dengan senang hati bersabar membaca kisah perjalanan kesadaran perempuan filsuf cilik ini.

Belakangan ini, saya telah menambah satu judul buku lagi, untuk Banu agar dapat ia baca kelak, di usia yang tepat. Buku ini mengambil rentang pembahasan waktu hidup manusia yang sangat panjang, dimulai bahkan saat kehidupan ini belum muncul di atas permukaan tanah, kemudian hewan-hewan besar pada akhirnya punah akibat batu-batu besar berapi yang bermunculan dari langit-langit, hingga ambruknya sistem ideologi dunia bernama komunisme pada awal abad 20. Ya, buku ini adalah buku tentang sejarah manusia dan kejadian-kejadian penting yang pernah terjadi di atas muka bumi, yang menurut penulisnya, memiliki pengaruh dalam menentukan lurus berkeloknya sungai sejarah umat manusia. Buku ini berjudul Sejarah Dunia Untuk Pembaca Muda, ditulis oleh Ernst H. Gombrich, yang diberikan pengantar oleh cucunya sendiri menyangkut latar belakang kemunculan buku ini. Seperti dugaan Anda, frase pembaca muda dalam judul ini menyatakan secara tegas kepada siapa kali pertama buku ini sebenarnya ditulis.

Di masa depan, sejarah adalah satu peninggalan berharga yang pernah dimiliki umat manusia. Meskipun kelak banyak orang-orang, hewan, pepohonan, bioskop, perhiasan, kendaraan, kota-kota, serta peradaban di sekelilingnya punah satu demi satu dalam waktu, tetap umat manusia punya sesuatu cerita tentang itu semua. Sama seperti punahnya kehidupan manusia di masa lalu, yang namanya sejarah umat manusia, entah bagaimana caranya akan selalu ada orang-orang yang berminat mempelajari, dan menceritakannya kembali kepada generasi selanjutnya. Itu semua apalagi kalau bukan demi dan atas nama ilmu pengetahuan.

Salah satu temuan besar dari umat manusia adalah aksara, yang membuat isi pikiran entah benar atau sebaliknya, dapat diwakilkan ke dalam sistem penandaan untuk memulai hubungan komunikasi di antara mereka. Setiap aksara yang pernah diciptakan manusia mencerminkan suatu pengalaman tertentu menyangkut kebudayaan mereka. Meski demikian, kelak melalui  berbagai cara, bahkan dengan penguasaan atau perang, ada bangsa-bangsa tertentu di dunia ini yang berhasil mempertahankan aksaranya dan membuat semua orang berbicara atau menulis dengan cara yang sama dengan mereka.

Sekarang sistem aksara yang dibuat manusia semakin canggih dari yang pernah ada sebelumnya,  membuatnya memiliki kemampuan imajinasi, reflektif, dan komunikasi makin kompleks, sehingga tak jarang satu-sama lain mesti saling mengenal lebih dekat lagi untuk menangkap pengertian yang sama di antara perbedaan latarbelakang bangsa dan kebudayaan. Dalam keadaan itulah, bertukar kisah satu sama lain, akan dapat saling membantu agar masing-masing dapat mengembangkan sendiri sistem pengetahuan dan konsep dirinya.

Syahdan, dunia hari ini akan nampak berbeda jika saja di masa lalu, tidak ada temuan semenarik aksara manusia. Mungkin karena itu, kebanyakan manusia masih akan hidup tanpa mengenal satu sama lain, dengan cara tinggal terisolasi di gua-gua bersama kehidupan kelompok mereka.

Selamat hari Literasi Internasional, 8 September  2021.


Sumber gambar:today.line.me/id/v2/article/2Rjanz

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).