Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Squid Game: Permainan Sabung Nyawa demi Kenikmatan Homo Festivus

Tidak ada yang saya ingat dengan baik dari masa sekolah dasar, kecuali saat kami bermain di sebuah bangsal yang di sebelahnya tumbuh pohon trambesi raksasa. Jika pengalaman buruk menyangkut hapalan perkalian dan pembagian tidak dimasukkan, saya rasa di masa inilah saya mengalami masa paripurna sebagai homo ludens. Bermain sepak bola, galasin, dan bentengan, semuanya dilakukan di atas bangsal berlantai semen halus itu. Di bawah atap bangsal inilah, pelajaran olah raga menggunakan matras—yang mengingatkan saya dengan kasur-kasur di atas kapal— juga jauh lebih mengasyikkan ketika hanya dilakukan di bawah terik matahari. Pohon trambesi raksasa, yang kulitnya coklat tua seperti sudah hidup puluhan tahun, menambah suasana menjadi lebih teduh seolah-olah sekolah kami tidak pernah merasakan sinar matahari dalam jangka waktu yang lama. Di bawah pohon ini pula, seorang kakak kelas pernah seperti terkena santet karena terserang bengkak dan gatal amat sangat, setelah ketiban ulat bulu saat kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu).

Hidup adalah permainan bukan petitih omong kosong, dan arti sebenarnya tidak akan Anda temukan selain di masa ini, karena di masa inilah hampir tiap orang betul-betul menggunakan semua energinya agar dapat menggerakkan seluruh otot-ototnya untuk bermain. Saat Anda anak-anak, makanan yang Anda telan akan berubah menjadi energi dan itu tidak sepenuhnya untuk otak, melainkan agar otot Anda menjadi kuat sehingga tumbuh dengan baik. Para ahli neurosains menyebut bahkan otak bayi belumlah sempurna saat ia kali pertama dilahirkan, sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan agar ia berkembang untuk dapat digunakan sebagai pusat kendali manusia kelak.

Sementara orang dewasa mengerahkan sebagian besar energinya untuk memutar otak agar ia bisa berpikir, kemudian memanfaatkannya untuk menjalani kehidupannya. Di saat ini, otot-ototnya yang lain tidak lagi ia fungsikan sampai ada satu dua otot yang mengkisut seperti tomat busuk. Saya rasa di sinilah perbedaan anak-anak dengan orang dewasa. Orang dewasa makan demi mengerahkan kemampuan berpikirnya, sementara anak-anak makan agar ia dapat berenergi saat menikmati kebebasannya.

Jadi, tidak usah dipikirkan apa artinya ”hidup adalah permainan” jika Anda tidak bisa mengingat kembali kapan terakhir kali Anda memainkan permainan anak-anak.

Agama menyatakan hidup hanyalah persinggahan dan itu adalah senda gurau belaka, tapi anehnya orang-orang dewasa senang memanfaatkan pikirannya untuk menciptakan sistem-sistem yang ia sendiri tidak memahaminya. Beribu-ribu tahun setelah api ditemukan, membuat manusia memiliki banyak waktu saat tengah malam untuk memikirkan langit-langit di atasnya, dan membayangkan gerangan benda apa yang dapat melayang-layang tanpa pernah jatuh jika malam tiba. Saat siang, mereka melihat matahari yang bisa membakar dedaunan dan mampu memanaskan tubuh sehingga membuat mereka menyembahnya. Sangat panjang masanya sampai orang-orang menemukan konsep baru tentang benda yang patut mereka sembah selain matahari, dan semakin panjang lagi bagi kehidupan manusia agar mereka menemukan sistem berpikir canggih sampai mampu meneliti makhluk-makhluk tak kasat mata dengan menggunakan mesin bertekhnologi canggih.

Sekarang, dengan tekhnologi  yang sama, orang-orang dewasa membuat banyak anak-anak tidak lagi dapat merasakan permainan anak seperti generasi orangtua mereka. Setiap kebudayaan menciptakan jenis permainannya sendiri, sama seperti kehidupan masa lalu menciptakan beragam permainan; galasin agar anak-anak dapat berlari lebih tangkas dan waspada; bentengan agar memiliki rasa setia kawan; kelereng untuk melatih ketepatan dan konsentrasi; congklak agar pandai menghitung…

Omong-omong soal permainan anak, saya belakangan tengah menikmati sajian serial drama Squid Game yang jadi obrolan banyak orang di Netflix saat ini. Tidak terlalu mengesankan bagi saya, jika film ini tidak menyuguhkan permainan anak-anak sebagai bagian serial ceritanya. Sama seperti The Hunger Games atau Batle Royal, drakor ini menceritakan adegan bunuh-bunuhan melalui permainan anak demi mendapatkan uang puluhan milyar.

Di dunia ini banyak orang yang pernah mengalami masa buruk sehingga berdampak traumatis di masa akan datang. Tapi, tidak ada yang pernah memiliki pengalaman buruk saat memainkan salah satu permainan di masa ia kecil dulu. Permainan masa kecil bukan demi mencari siapa kuat siapa lemah, siapa menang siapa kalah, melainkan kegembiraan berkumpul sebagai anak-anak. Letak kemenangan permainan anak-anak adalah keriangan itu sendiri dan tepat jika dilakukan oleh anak-anak.

Di Squid Game, saat Anda memainkan tarik tambang misalnya, yang kalah akan jatuh terlempar ke lantai dasar dan mati seketika. Bermain “lampu merah lampu hijau”, yang menang akan selamat dan berhak melanjutkan permainan ke babak selanjutnya, sementara yang masih bergerak saat berlakunya lampu merah akan ditembak mati. Bagaimana dengan yang tidak mampu menyelesaikan permainan? Sama saja. Didor timah panas.

Squid Game mengubah permainan anak-anak menjadi ajang tanding kekuatan demi bertahan dari kematian. Keriangan yang menjadi konsep penting dalam permainan anak hilang ketika dimainkan orang dewasa di film ini. Pemainnya adalah orang-orang kalah dalam kehidupan yang memiliki kesamaan latar belakang karena terlilit utang. Saya satu dua kali berutang, tapi tidak membutuhkan kata ”melilit” untuk menggambarkan betapa susahnya hidup Anda hanya karena ingin membeli sekaleng minuman. Di Squid Game, semua pemain terlilit hutang bukan dalam jumlah nominal ecek-ecek sehingga lamanya usia kerja tidak akan ada yang bisa menebusnya.

Dalam sains modern, Charles Darwin memperkenalkan satu temuan mengenai kemampuan organisme hidup yang menjadi hukum alam, bahwa yang memiliki kemampuan adapatasi lah yang akan bertahan dari pergolakan perubahan alam. Jadi bukan siapa yang terkuat dengan tenaga serupa dinosaurus yang mampu melewati silih bergantinya musim, sama seperti bagaimana seekor kecoak bisa bertahan dari zaman karbon yang banyak membuat punah beragam flora dan fauna.

Semakin kesini, episode Squid Game memperagakan teori Charles Darwin ini, dan memperlihatkan siapa yang bakal menjadi kecoak paling adaptatif keluar dari kengerian permainan.

Banyak film drakor, bisa ditafsirkan mendakik-dakik bahwa sebagiannya menceritakan dinamika kelas masyarakat seperti segregasi antara kelas kaya dan kelas melarat. Bahwa fim ini itu sedang mengetengahkan situasi masyarakat kontemporer yang ditipu tengkulak kapitalis, dimanfaatkan elite politisi busuk, dan dibodoh-bodohi kaum intelektualnya. Tapi, Squid Game memang sedang menyatakan itu meski itu tidak usah ditulis segamblang dalam ulasan para pengkritik film. Warna-warna pastel yang mencerminkan kegembiraan masa anak-anak adalah ironi bagi jalan cerita para pemain yang sedang di masa susah, sehingga tidak ada pilihan lain selain sukarela mengikuti permainan berbahaya ini karena menawarkan hadiah menggiurkan.

Jadi memang terdengar familiar gagasan film ini, sama seperti kebanyakan kehidupan orang-orang sekitar yang rela mengambil risiko meski ia harus bertaruh nyawa demi menyambung kehidupan melaratnya. Sementara segelintir kaum kaya dengan uang melimpah bebas melakukan apa saja asalkan menemukan kesenangan demi menutupi lubang eksistensi dalam jiwanya.

Sejak tekhnologi kian mengukuhkan manusia sebagai makhluk berpikir (homo sapiens), tiba masa tekhnologi mutakhir menyeret sebagian orang rela melakukan apa saja untuk mengekspresikan citranya sebagai makhluk yang senang hura-hura dan berpesta pora. Sebagiannya lagi malah lebih radikal menjadi homo festivus yang suka melakukan selebrasi berlebihan di muka umum memamerkan kebesarannya untuk meraih kesenangan berupa pengakuan. Kadang kala seseorang menyukai mengoleksi buku-buku dan senang memamerkan kepandaiannya di depan orang-orang dengan istilah mendakik-dakik, dan di lain waktu berubah menjadi seperti orang-orang Stoa dari Yunani antik, dengan menulis kalimat-kalimat super bijak disecarik screen diimbuhi namanya sebagai tanda kepandaian dan tidak sedang mengutip siapa-siapa.

Namun, homo festivus lebih dari sekedar pameran isi pikiran, karena tidak banyak dari Anda yang ingin diingatkan dan menjadi objek kepandaian orang-orang cerdik pandai di depan umum. Mereka lebih suka mengkhayalkan agar dapat merasakan kehidupan super melimpah dari sebagian orang yang setiap hari memamerkan harta bendanya, rumah mewahnya, dan pakaian super branded di depan umum seakan-akan hanya dengan cara itu kesenangan dunia dapat dibeli dengan uang.

Nah, di Squid Game homo festivus inilah yang asyik-asyik saja berjudi demi kesenangan melihat kelas melarat saling bunuh membunuh di arena permainan anak. Demi merekalah permainan terkutuk ini dilaksanakan. Seperti para raja dan elite bangsawan Roma menjadi penikmat para gladiator, yang dipertontonkan di arena sabung nyawa bernama koloseum. Memanipulasi ketakutan, rasa horor, kesedihan, dan kerisauan orang-orang ambyar menghadapi maut karena tidak ada jalan lain selain menghadapi permainan, yang sewaktu-waktu menjadi gerbang kematiannya.

Tapi, sadar tidak sadar kitalah para elite itu yang digiring menjadi penonton kematian, merah darah, brutalitas, dan kenaifan, yang menginginkan salah satu pemain menjadi wakil kenikmatan kita agar menjadi juara. Bedanya, salah dua di antara kita masih punya tunggakan utang sana sini demi  menyambung kehidupan. Dan itu bukan main-main, loh. Duh!


Sumber gambar: journal.sociolla.com/editors-review/review-series-squid-game

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).