Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Sains, Gerhana Bulan, dan Dengan Cara Apa Menjinakkan seekor Kucing

Setiap kali hujan turun, itu akan cepat menarik perhatian Banu sama seperti saat ia kegirangan melihat ayam, atau sapi, yang sering berjalan-jalan tanpa tuan, tanpa arah di sekitar perkampungan tempat kami tinggal. Dengan segera ia bakal meninggalkan apapun yang sedang ia lakukan saat itu, dan secepat mungkin berdiri memagu di balik jendela. Atau di waktu lain, jika kejadian sama terjadi, ia akan gercep menaiki besi jeruji pagar pintu, mendongakkan kepalanya seperti sedang menghayati sesuatu, yang padahal yang ia lihat adalah hujan itu sendiri.

Langit akan tetap berwarna abu-abu sampai berubah gelap, sehingga membuat dirinya tetap bergeming memandangi berlama-lama angkasa luar yang sedang hujan.

Seringkali, di saat semacam ini merupakan kesempatan bagi saya membuka percakapan untuk Banu demi mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. Kadang kala momen seperti ini akan menjadi perbincangan yang tidak jelas dilakukan demi apa selain untuk melatih dirinya, dan bagi saya terutama, agar dapat mengetahui sejauh apa ia bisa menarasikan perasaan dan pikirannya. Anak-anak dalam hal ini akan menjadi teman berbicara yang tidak akan Anda duga, tidak seperti saat berbicara dengan orang lain dengan mampu mengetahui akan kemana arah pembicaraan yang sedang terjadi.  Orang-orang dewasa, saat mengajaknya berbincang-bincang, dalam waktu yang tidak lama akan segera Anda ketahui apa maksud yang sebenarnya sedang ia utarakan.

Dengan kebiasaan selama ini, bersama orang dewasa, Anda sudah saling mengetahui arti tertentu dari kosa kata yang dipakai dalam berkomunikasi. Orang dewasa menggunakan kata-kata untuk menyampaikan satu set dunia kepada lawan bicaranya. Bahkan, walaupun itu dilakukan dalam keadaan tidak normal sekalipun, karena di balik kata-katanya ada seperangkat cara berpikir yang mengatur mengapa ia bisa berkata seperti itu. Seperti misalnya ketika Anda terlibat perbincangan dengan pasangan Anda, yang terancam ambyar hanya karena persoalan sepele, Anda akan tetap mampu menangkap maksud tertentu dari cara ia menggunakan bahasa, meski bertele-tele. Dalam hal ini, di balik pernyataan-pernyataannya yang terdengar emosional, tetap ia menggunakan aturan berbahasa di saat sedang menyampaikan perasaannya. Di waktu tertentu, miskomunikasi dapat mengancam perasaan kalian berdua, jika satu di antaranya gagal menangkap alur reasoning saat melakukan komunikasi.

Tapi, bagi seorang anak, belum memiliki cukup alasan saat ia menggunakan bahasa kepada lawan bicaranya. Banu, seperti juga anak-anak di usianya, menurut saya hanya akan berbicara berdasarkan dorongan-dorongan kesenangan, atau sebaliknya atas desakan sesuatu yang menyusahkan dirinya. Ketika ingin kencing, atau saat seorang anak mengalami lapar dengan sendirinya akan membuatnya menyatakan keinginannya. Jika ia sudah pandai berbicara, sudah pasti ia akan mengucapkan sesuatu kalimat agar mendesak orangtuanya membawanya duduk kencing di atas watercloset, misalnya.

Kali ini hujan adalah bahan perbincangan saya bersama Banu. Ia masih seperti tukang hilal yang mematung memandangi langit-langit yang sedang hujan. Seperti galibnya, salah satu yang suka ditanyakan anak saya adalah bagaimana bunyi sesuatu, dan kali ini ia sudah tentu menanyakan seperti apa bunyi hujan itu sebenarnya. Secara alamiah dengan pendengaran normal, siapa pun akan tahu bagaimana hujan itu berbunyi jika bertemu permukaan atap rumah. Semakin deras akan semakin besar bunyinya. Dan, Banu tahu itu, tapi seperti saya katakan sebelumnya, ia tidak memiliki alasan untuk tidak menanyakan itu karena ia bisa mendengarkannya sendiri. Karena kegembiraan itulah ia masih sering bertanya tentang bunyi sesuatu, termasuk bunyi hujan, sehingga dengan aura kebapakan saya menjawabnya lebih dari itu, meski ia tidak memintanya.

”Awan berwarna gelap karena penuh air, nak. Ketika sudah berat maka air hujan turun.”

Itu yang saya tahu mengapa hujan dapat terjadi. Tentu fenomena ini memiliki penjelasan ilmiahnya. Tapi, saya tidak perlu terburu-buru menjelaskan kepadanya, bagaimana proses terjadinya hujan seperti penjelasan yang sudah ditemukan para ilmuwan alam. Sudah sejak lama, di masa lalu, generasi sebelum kita menyatakan hujan sebagai bagian dari peristiwa yang berkaitan dengan gerak-gerik dewa-dewi di atas langit. Fenomena guntur, yang sebenarnya merupakan hasil dari tegangan listrik berjumlah besar, dalam pikiran orang di masa lalu dianggap sebagai kemarahan sosok dewa. Gerhana Bulan, seperti mitologi yang diyakini masyarakat selama ini, dianggap kejadian ketika seekor naga menelan seorang dewi cantik yang menyebabkan belahan bumi lainnya mengalami kegelapan. Dalam tradisi masyarakat tertentu, agar sang naga segera memuntahkan sang dewi dari perutnya, merasa perlu memukul apa saja membuat bunyi keributan untuk mengganggu sang naga. Konon dari sini lahir pentungan bambu yang dipakai masyarakat pedesaan untuk mengumpulkan sesegera mungkin warga desa ketika marabaha sedang terjadi. Kue nagasari (roko-roko unti: Bugis, nogosari: Jawa), yang sering dimakan selama ini, yang terbuat dari pisang dibaluti tepung beras merupakan peganan untuk mengenang dan merayakan keselamatan sang dewi dari cengkeraman sang naga.

Saya belum pernah menemukan kisah mitologi mengenai terjadinya hujan, tidak seperti cerita pelangi yang dipercayai sebagai cara dewi-dewi turun ke bumi dari tempat tinggalnya di atas khayangan. Tapi penjelasan saya tentang hujan di atas sudah cukup. Seorang anak, setidaknya bagi saya hanya perlu penjelasan sewajarnya agar itu mampu menumbuhkan imajinasi bebasnya. Pasti akan lebih menarik bagi saya anak-anak diberikan gambaran-gambaran imajinatif untuk menumbuhkan syaraf-syaraf halus dalam otaknya, dibandingkan memberinya jawaban pasti sehingga bisa membunuh rasa ingin tahunya. Bagi saya di situlah tugas sementara saya, dan sisanya akan ia temukan seiring perkembangan cara ia berpikir.

Itu artinya, tidak selamanya salah, jika mitos-mitos masih bertahan sampai sekarang ini, termasuk narasi legenda, atau cerita rakyat yang menjadi sistem penjelas mengenai proses terjadinya candi-candi atau gunung-gunung. Bagi anak-anak itu lebih menarik didengarkan sebelum ia diperkenankan mempelajari segala hal melalui suatu penjelasan ilmiah yang membutuhkan usaha pelan-pelan berdasarkan usia pikirannya.

Platon, dalam bukunya berjudul Theaetetus, menyatakan ilmu pengetahuan dapat muncul dari keterpukauan manusia atas gejala-gejala asing yang terjadi di luar dari dirinya. Ketinggian langit, puncak-puncak pegunungan, rasi bintang, atau semisal mengapa hujan dapat terjadi, adalah beberapa fenomena unik sekaligus menarik bagi manusia, dan bukannya letupan gunung merapi, atau suara listrik bertegangan 100-500 juta volt berupa petir, yang justru lebih sering membuat seseorang takut berpikir tidak-tidak tentang semua itu.

Tapi, mengapa fenomena-fenomena keseharian seperti itu yang justru lebih menarik dibandingkan peristiwa lainnya, yang lebih canggih, kompleks, dan rumit yang lebih banyak dapat menarik rasa ingin tahu manusia?  Kata Platon, cikal bakal ilmu pengetahuan tidak ada kaitannya dengan kejadian unik atau maha dahsyat dari sesuatu yang sedang terjadi, melainkan lebih ditentukan karena dorongan intrinsik yang ada dalam diri manusia, yang banyak berperan mendorong manusia untuk menggenapi sesegera mungkin ketidaktahuannya atas sesuatu.

Bahkan, menurut Platon, jika ditentukan berdasarkan canggih tidaknya sesuatu peristiwa, justru lebih signifikan kejadian-kejadian sederhanalah yang dapat memicu seseorang ingin menguak apa yang sedang terjadi di balik sesuatu. 

Tanpa motivasi ini, manusia akan hidup sama seperti makhluk-makhluk lainnya, yang tidak sama sekali tertarik kepada lingkungan tempatnya hidup.

Ilmu pengetahuan adalah kunci makhluk bernama manusia untuk mempertahankan kelangsungan kehidupannya. Dalam sosiologi, dikenal suatu hasrat bawaan yang membuat seseorang ingin hidup bersama orang lain, membentuk kelompok dan dari situ ia banyak mengalami proses kehidupan bersama sebagai makhluk sosial. Dorongan yang lain pula, juga berlaku bagi manusia untuk hidup bersama alam, meski ia menciptakan kebudayaan yang membuatnya berbeda dari cara makhluk lain menjalani kehidupannya.

Selama masa itu, pikiran manusia menggunakan banyak cara untuk mendapatkan penjelasan dan untuk mengetahui sesuatu: mitologi, agama, filsafat, sains…

Anak-anak, jika ia terlahir, tidak sama dengan binatang, yang seketika setelah terputus dari plasenta ibunya dapat sesegera mungkin menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Beruang kutub, yang melahirkan bayinya pasca ia mengalami hibernasi berbulan-bulan, tidak perlu repot-repot menciptakan norma-norma sosial agar bayinya dapat bersosialisasi di tengah beruang lainnya. Sudah merupakan kodrat alam, beruang akan bersikap seperti beruang jika ia tumbuh sebagai beruang dan tidak akan berubah menjadi seperti ikan salmon. Sementara bagi seorang anak manusia, beragam pengalaman dapat membuatnya berbeda sama sekali dari ekspektasi-ekspektasi ideal seperti diinginkan orangtuanya.

Dengan kata lain, anak-anak bakal terlahir membawa tubuh biologis seperti bentuk ayah dan ibunya, tapi belum tentu ketika ia dewasa bisa menjadi apa saja sesuai dengan lingkungan seperti apa yang membentuk dirinya.

Itu artinya, tidak penting bagi seekor beruang mengenai adat kebiasaan pendidikan, yang secara simultan mengarahkan alam sadar manusia untuk bekerja berdasarkan standar normatif yang telah diciptakan lingkungannya selama berabad-abad. Beruang tidak memiliki sistem berpikir seperti manusia yang menggerakkan bukan saja otot-ototnya, melainkan senantiasa berusaha menggerakkan akal budinya agar dapat hidup lebih lama. Dengan kemampuan akal budi itulah manusia mengkonseptualisasikan suatu cara hidup yang berbeda sama sekali dengan spesies lain yang ada di buka bumi. Ia menciptakan bahasa, sistem yang dipakai selama berjuta tahun lamanya untuk berkomunikasi, bertukar makna-makna, dan saling belajar atas pengalaman masing-masing dalam suatu proses panjang bernama sosialisasi.

Jadi bisa dikatakan, bahasa lah temuan paling penting di masa-masa awal transisi kehidupan manusia. Melalui medium bahasa manusia menciptakan bentuk-bentuk pengetahuan lewat mitologi, agama, filsafat, dan kini adalah sains, yang dapat ditangkap pikiran setelah ia dirumuskan dari satu isi pikiran ke isi pikiran lainnya.

Itu sebabnya, Anda tidak pernah menemukan seekor kerbau yang mengeluh kesakitan dan berusaha berbalik menuntut keadilan karena selama musim tanam diberlakukan semena-mena oleh tuannya. Manusia, jika ia tersakiti, tidak seperti kerbau yang hanya berkemampuan melenguh atau berkuak seperti bunyi suaranya yang selama ini kita tahu. Kalau Anda tersakiti, setidaknya Anda mampu mengubah rasa sakit yang dialami ke dalam sistem bahasa sehingga itu mampu Anda sampaikan kepada sahabat Anda. Anda bisa bercerita panjang lebar tentang kecemburuan Anda, atas sikap orang-orang kaya yang enteng saja bisa menghabiskan miliaran rupiah dalam waktu sekejap mata demi barang-barang yang belum tentu ada gunanya.

Sikap inilah yang membedakan Anda dengan seekor kucing, yang jika ia cemburu hanya bisa meraung-raung tidak jelas di atas atap rumah Anda. Di bawahnya, di sudut kamar, kecemburuan mendorong perasaan Anda tidak sekadar menangis, berbunyi seperti binatang, tapi mengubahnya ke dalam sistem tanda yang selama ini Anda pakai sebagai alat komunikasi sehari-hari ke dalam bilik status media sosial.

Anak manusia bukan anak alam, seperti Tarzan yang dididik semata-mata melalui hukum-hukum rimba. Ia juga tidak memiliki perangkat berupa bulu putih tebal seperti kulit anak beruang yang dengan sendirinya akan tumbuh menjadi pelindungnya dari suhu dingin di kutub utara. Anak manusia perlu banyak belajar dari sistem yang telah diciptakan oleh generasi yang datang lebih awal dari dirinya, dan menggunakan pakaian agar ia dapat selamat dari terpaan dingin jika suatu waktu musim hujan datang. Ia perlu memahami kebiasaan orangtuanya, tradisi masyarakatnya, dan segala yang sudah disediakan peradabannya sehingga mampu mengerti bahwa ia sebenarnya makhluk budaya yang hidup dalam cara berpikir tertentu.

Seekor kuda jika melahirkan keturunannya, tidak akan membutuhkan waktu yang lama agar ia bisa melihat anak yang baru saja keluar dari lubang rahimnya, dapat segera berdiri dan berjalan-jalan mengikutinya. Anak kuda tidak membutuhkan sekolah hanya untuk menemukan kemampuan itu. Sama seperti kupu-kupu baru keluar dari kepompongnya, tidak memerlukan buku berjudul ”Cara Kupu-Kupu Agar Bisa Terbang” untuk membuatnya berpikir mendalam agar bisa mengepakkan sayap tipisnya sehingga mampu berpindah terbang ke dahan pohon lainnya.

Sosialisasi merupakan proses belajar yang sangat panjang bagi seseorang agar ia tidak lagi mengalami zaman sama seperti cara hidup nenek moyangnya. Ini adalah suatu usaha agar anak manusia dapat secara berangsur-angsur belajar mengenai latar belakang masyarakatnya, nilai, norma, falsafah, serta cara berpikir orang-orang di lingkungannya. Menurut Peter L. Berger, scholar dalam bidang sosiologi, itu dilakukan agar seseorang dapat diterima menjadi anggota masyarakat.

Sosialisasi karena dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, merupakan proses yang juga ditentukan melalui pendidikan. Para ahli membagi dua tahap proses sosialisasi yang dialami hampir semua anak manusia, yakni sosialisasi primer, yang itu berarti keluarga merupakan lembaga penting di saat ini ketika anak-anak dididik dan dilatih untuk mengembangkan kualitas motorik, psikomotorik, dan kognitifnya. Berger menyebut angka 1-5 tahun bagi seseorang anak saat mengalami sosialisasi primer yang ia temukan dari lingkungan terdekatnya. Di masa-masa ini lah yang disebut masa golden age, yakni masa paling krusial bagi anak untuk menumbuhkan otak bersama pengetahuannya, otot seturut pergerakannnya, dan rasa bersama empatinya.

Ahli neurologi bersepakat, otak manusia dibandingkan binatang merupakan jaringan otot prematur, walaupun seorang anak telah dilahirkan dalam keadaan sehat sebelumnya. Butuh banyak waktu bagi otak manusia untuk tumbuh mengembangkan jaringan syarafnya di antara dua belah otot kiri dan kanannya sebelum tiba saatnya ia telah siap digunakan. Selama ia belum siap, di saat itu seorang manusia belum mampu mengkoordinasikan seluruh aktivitas pikirannya ke dalam satu gerakan terpadu. Otot otak tidak sama dengan otot manusia lainnya, yang akan tetap mampu menumbuhkan jaringan syarafnya meski otot-otot yang lain mulai aus seiring bertambahnya usia.

Otak manusia terdiri dari100 miliar neuron. Setiap neuron memiliki ribuan jaringan terhubung dengan neuron lain yang disebut sinapsis. Di miliaran jaringan sinapsis inilah ”bergerak” data kimia membuat jutaan sirkuit informasi setiap waktu. Ajaibnya, jaringan sinapsis akan terus tumbuh menyerupai serabut akar jika setiap kali manusia menemukan pengetahuan baru dari pengalaman hidupnya.

Tidak perlu diutarakan apa selanjutnya yang bakal dihadapi seorang anak setelah mengalami masa sosialisasi primer, dan bagaimana dampak kognitif dan psikomotoriknya jika ia tidak tumbuh di lingkungannya dengan baik di masa ini.

Manusia bukan kucing, tapi ini ada satu penelitian menarik dari Ingrid Johnson, aktivis International Association of Animal Behavior Consultans, yang mengemukakan temuan menariknya dari kucing-kucing yang gagal bersosialisasi. Johnson menyebutkan saat rentang 12 minggu setelah dilahirkan, seekor kucing akan belajar sebagian besar dari apa yang menjadi ”kebiasaan” dunia kucing. Di masa ini ia akan sangat ditentukan dari pengalaman ”bersosialisasi” sesama kucing. Jika di masa ini dia banyak bergaul dengan seekor kera, besar kemungkinan ia akan memilih satu dari banyak kera sebagai ibunya, dan dari situ ia akan berlagak sebagai kera  yang berusaha memanjat pohon sebagai tempat tinggalnya.  Tapi, semakin ia bersosialisasi, yang berarti ia bakal menemukan banyak pengalaman dari kucing-kucing di sekitarnya, semakin ia mengetahui dengan baik dunia kucing itu seperti apa.

Inggrid menjelaskan, jika  selama masa 12 minggu anak kucing tidak ”mendapatkan” masa sosialisasi bersama kucing lainnya, ia akan tumbuh menjadi kucing tanpa ”bahasa kucing”, yang selanjutnya akan gagal memahami bagaimana cara kucing merespon lingkungannya. Ia akan tumbuh sebagai kucing depresif, suka mendesis, gemar menyerang kucing sekitarnya, dan akan menganggap dunia seolah-olah sedang memusuhinya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kucing yang gagal bersosialisasi akan sulit diterima oleh komunitasnya.

Jadi tidak usah membayangkan diri Anda adalah kucing, cukup bayangkan saja jika anak-anak Anda gagal mengalami masa pendidikan keluarga selama lima tahun usianya.

Tidak bisa dimungkiri, walaupun umat manusia sudah mengalami empat kali revolusi besar, kiwari masih sering ditemukan sekelompok orang yang menolak hidup bersama komunitas global, hanya karena cara ia melihat dirinya masih seperti saat manusia belum mengenal ilmu pengetahuan dan segala implikasinya. Orang-orang semacam ini merupakan jenis manusia yang menolak sosialisasi yang harus ia alami. Seperti kegagalan kucing, tidak sedikit, orang yang menolak proses sosialisasi akan kesusahan mengalami proses adaptasi dan internalisasi nilai-nilai kebiasaan lingkungannya. Ia akan mengalami hambatan-hambatan hanya untuk sekadar mengekspresikan harapan-harapannya. Karena oleh sebab ia menolak belajar mengenal seluruh yang ada dalam masyarakatnya, tanpa ia sadari akan membuatnya mengalami depresi, dan dengan sendirinya teralienasi dari dinamika masyarakat di sekitarnya.

Kelak, dalam rangka membela apa yang sedang dialami, dengan cara tertentu orang-orang yang gagal bersosialisasi ini akan membentuk sendiri jenis kehidupannya. Satu persatu alam akan mempertemukan mereka dengan latar belakang serupa, kemudian berkumpul atas dorongan dengan cara pikir berbeda, keyakinan tertentu, dan teman-teman terbatas, yang membuatnya seolah-olah sedang hidup dalam dunia versi lain. Sama seperti ikan sarden di samudera lepas, dengan suatu cara mereka akan membentuk kelompok koloninya sendiri.

Dengan mudah jenis pengalaman sosial semacam ini akan Anda kenali karena berdasarkan pendakuan ahli sosiologi, kelompok ekslusif seperti ini akan sering melakukan tindakan-tindakan disasosiatif dibandingkan perilaku asosiatif. Seperti kucing yang agresif, di tengah masyarakat mereka senang mencari-cari perbedaan, menciptakan persaingan, dan melahirkan konflik atau tindakan disasosiatif lainnya, oleh sebab keyakinan sempit yang dihasilkan dari proses kegagalan sosialisasi yang mereka alami.

Ciri lain dari tindakan disasosiatif adalah sekelompok orang yang menolak temuan-temuan ilmiah karena menganggap ilmu pengetahuan bukan ekspektasi kemanusiaan yang wajib diperjuangkan setiap orang. Dan, kebanyakan gejala ini gampang ditemukan di dalam sebagian komunitas keagamaan tertentu. Melalui dalil-dalil religius, yang kerap disalahartikan berdasarkan cara mereka berpikir, senantiasa mengkampanyekan bahwa dimanapun agama datang dan diperkenalkan, maka segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan, mesti segera mengakui superioritas agama sebagai satu-satunya sistem gagasan yang melambari sebuah keyakinan.

Bagi kelompok ini, agama adalah jenis pengetahuan dengan hukum kunci inggris, yang bisa dipakai untuk memperbaiki tipe mesin apa saja. Di semua mesin itu kunci inggris bisa mengendurkan ukuran mur berbagai merek dan jenisnya. Tidak soal jenis mur apa yang sedang dihadapi, kunci inggris memang memiliki kemampuan menyetel lebar sempit ukuran capitnya.  Jika  suatu waktu kehidupan ini terbilang agak longgar, dengan segera kunci inggris akan menggunakan capit besinya mengeraskan aturan yang terkesan lepas kendali. Semakin besar ukuran murnya, semakin besar pula kunci inggris merespon masalahnya.

Agama penting bagi manusia, tapi tidak ada persoalan dalam kehidupan manusia yang bisa diselesaikan hanya melalui dalil-dalilnya. Setidak-tidaknya demi menjawab tuduhan kelompok ultrasains, ia dipakai untuk memberikan dasar pemaknaan hidup selama manusia berproses sebagai makhluk hidup. Bagi pengagum sains, apalagi kelompok yang selama ini lebih mengagungkan sains melebihi bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, memandang agama sebagai sisa-sisa masa lalu umat manusia saat masih hidup berdasarkan mitos-mitos. Tidak sedikit di antaranya menyebut agama hanya akal-akalan manusia yang diciptakannya melalui cara ia berpikir pada saat belum dewasa.

Agama bukan sains, dan sampai kapan pun tidak bisa menyamakan dirinya sebagai sains, betapa pun ada alasan orang-orang tertentu menolak sains sebagai biang kekisruhan iman umat beragama.

Tidak seperti sains yang berdasarkan epistemologi empirisisme, agama memiliki seperangkat metode untuk mengyakini bagaimana sesuatu yang ada, dalam hal ini tuhan misalnya, dapat diyakini tanpa mengorbankan akal sehatnya. Sudah sejak lama, dalam perdebatan teologi—suatu cabang keilmuan dalam Islam  yang mempersoalkan masalah ketuhanan— Islam sudah sering diramaikan dengan perdebatan antara mazhab di dalamnya. Dan, untuk soal ini cukup bagi kita bahwa dalam Islam atas masalah ini banyak melahirkan perbedaan-perbedaan pendekatan dalam menyelesaikan satu asbab persoalan. Mengikuti tesis epistemologi Abid Al Jabiri, pada kenyataannya dampak perkembangan pemikiran Islam berkembang berdasarkan tiga model cara berpikir, yakni model berpikir bayani (tekstual), burhani (argumen akal budi), irfani (penyaksian langsung).

Kelak semakin ke sini, sebagian besar umat muslim hanya mengenal satu cara berpikir untuk mengalami Islam beserta seluruh implikasinya. Tidak sedikit malah, sama halnya tindakan-tindakan persekusi di Eropa atas gerakan pencerahan, kelompok-kelompok teologi yang lebih mengapresiasi akal budi sebagai neraca pengetahuannya diberangus dengan mengandalkan kekuatan institusi kekhalifahan. Sementara yang lebih mengandalkan pendekatan sufistik dibiarkan begitu saja karena tidak memberikan dampak politis yang dapat mengganggu stabilitas kebijakan-kebijakan pemerintahan. Untuk masalah ini bukan rahasia umum sejarah teologi dalam Islam lebih banyak bisa bertahan jika satu mazhab bergandengan tangan dengan kekuasaan saat itu.  Ahmet T. Kuru, ahli sejarah Islam, menggunakan istilah untuk menyebut kelompok pemikir dan ilmuwan dari golongan ini sebagai ulama-negara.

Sementara sains, yang momen kelahirannya bersamaan dengan melemahnya zaman kebangsawanan, mulai banyak mengambil intisari dari praktik-praktik kerajaan yang secara politis mendapatkan legitimasi dari pendeta-pendeta gereja. Kekerasan, pelarangan, dan persekusi tanpa ampun memberikan pengalaman buruk bagi kemanusiaan saat itu, sehingga pada akhirnya segala hal yang dihasilkan produk pemikiran agama akan dianggap sebagai biang kemunduran umat manusia. Sejak saat itu sampai sekarang sains bergerak tanpa iming-iming konsekuensional sama seperti agama yang seluruh praktiknya akan diganjar kebaikan atau keburukan di akhirat nanti. Sains juga tidak begitu hirau dengan dinamika kekuasaan di mana pun ia bekerja, oleh sebab politiklah salah satu penghambat sains dapat berkembang tidak seperti di masa lalu.

Sekarang sains nampak bergerak di atas angin, tapi di satu sisi, sains juga tidak akan selamanya dapat melesat jauh menjadi sistem penjelas bagi setiap kejadian di alam semesta, tanpa suatu saat akan membutuhkan suatu landasan etik bagi dirinya agar tidak mendehumanisasi peradaban yang diciptakannya seperti belakangan ini.

Sama-sama diketahui bahwa selama ini agama dan sains saling berebut peran untuk mengarahkan kebutuhan-kebutuhan manusia. Sudah dari lima sampai enam abad lamanya, bahkan, sampai hari ini, termasuk saat ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan manusia berkenaan dengan eksistensinya dan alam tempatnya hidup.

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).