Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Kebangkrutan Scientific Attitude Bukan Filsafat

Jika ada seseorang yang berhasil membuat saya resah, untuk tidak mengatakannya tidak nyaman belakangan ini, sampai tergelitik menuliskannya, itu adalah Lutfhi Assyaukanie: Salah satu pelopor jaringan Islam liberal yang sampai sekarang masih mengkampanyekan paradigma liberal, untuk mengubah dekadensi umat muslim Indonesia agar menyerupai kemajuan peradaban bangsa-bangsa Barat.

Status-status sinikal di dinding Fb biangnya, seolah-olah ia sedang membakar sekam di siang bolong dari ranting kering yang telah lama menunggu dinyalakan. Ia menulis status yang bukan main-main, memframing wacana antara sains dan agama menjadi dua kubu yang sampai hari ini masih sulit dipertemukan.

Di pertemuan-pertemuaan komunitas terbatas, saya kerap jadi bahan candaan menyangkut sikap saya yang rada gemas dalam menanggapi status-statusnya. Seringkali memang saya secara deklaratif menyatakan ketidaksetujuan atas ungkapan-ungkapan statusnya yang menurut saya kerap sangat tendensius menyudutkan Islam. Islam di mata Lutfhi, sama dengan pandangan ilmuwan atau pemikir Barat secara apriori melihatnya sebagai keyakinan yang tidak kompatibel untuk masa kini. Sangat khas menganggap Islam sebagai batu halang kemajuan manusia dalam melahirkan peradabannya.

Di media sosial, banyak hal termasuk di dalamnya status netizen yang bisa membuat seseorang terpancing amarahnya, disentil sisi emosionalnya dikarenakan kontennya bernada sinikal apalagi provokatif, berkaitan dengan kesukaan seseorang atas sesuatu. Untuk ini tidak perlu saya sembunyikan rasa fanatisme saya, yang dengan sendirinya tidak serta merta dapat dikatakan bahwa saya hanya sekadar mampu meresponnya secara emosional belaka, tapi juga menemukan kejanggalan-kejanggalan argumentasi dalam status-statusnya itu. Dengan kata lain, melalui takaran yang pas, fanatik itu terkadang diperlukan jika itu menyangkut hal-hal prinsipil. Sama prinsipilnya jika seseorang berusaha mempertahankan keyakinannya berdasarkan argumen yang kuat, ketimbang membela keyakinan tanpa dasar ilmu sama sekali.

Karena itu perlu saya garisbawahi di mana kesalahan Lutfhi, yang menurut saya, ia sebenarnya lebih paham menyangkut Islam seperti apa yang sering ia tuduhkan selama ini, yakni Islam yang anti rasio, anti kebebasan, dan anti perubahan, yang kerap ia generalisir untuk menyapubersih menggunakan gugatan-gugatannya kepada Islam itu sendiri.

Tidak bisa disembunyikan dalam realitas sejarah, bahwa Islam berkembang melalui berbagai macam mazhab, aliran, dan firkah-firkah pemikiran dengan tendensi berbeda-beda menyangkut sejauh apa agama mesti mendudukkan akal dalam beragama. Di samping wahyu sebagai sumber tertinggi kebenaran Islam, akal bagi sebagian aliran teologi juga memiliki peran signifikan sebagai sumber epistemologi, meski dalam era dinasti kekhalifahan, aliran-aliran semacam ini mendapatkan respon negatif dari kekuasaan saat itu. Tidak sedikit dari mereka malah diberangus baik ajaran maupun pengikutnya, dikarenakan keduanya dapat berimplikasi mengganggu sistem teologi dan pemerintahan yang  telah ada dan lebih dulu mapan.

Sejak berabad-abad lalu, setelah era empat khalifah, bahkan sebelum Rasulullah wafat, Islam awal telah menunjukkan tanda-tanda bakal berkembang berdasarkan kelompok dan masalah-masalah yang dihadapi umat saat itu. Setiap orang selain Rasulullah, di saat itu berpotensi memiliki pengikutnya masing-masing. Jangankan sahabat-sahabat nabi, musuh-musuh umat Islam pun tidak menunjukkan realitas tunggal, selain mereka terbagi dan terpecah-pecah berdasarkan pemimpin sukunya masing-masing.

Sampai hari ini secara umum, Islam terbelah menjadi dua mazhab besar, yakni Ahlussunnah Waljamaah, dan Syiah 12 Imam dengan masing-masing derivat, yang terbagi-bagi berdasarkan aliran ushuluddin dan cabang-cabangnya. Belakangan di semesta Arab, setelah keruntuhan Kesultanan Ustmani dan pasca Perang Dunia Pertama, berkembang gerakan revivalisme dalam rangka pemurnian ajaran Islam bernama Wahabisme yang disokong Dinasti Al Saud, cikal bakal negara Arab Saudi sekarang ini. Tidak terkecuali teologi Wahabisme, semua mazhab yang sampai hari ini masih eksis membentuk sistem keyakinan umat muslim sedunia, memiliki karakteristik dan ciri khas dalam memahami dan menjalankan Islam, termasuk di dalamnya respon mereka terhadap sejauh apa akal bisa dipakai dalam menyusun keimanan seseorang.

Dalam tilikan lain, perkembangan dan dinamika kelompok-kelompok dari dunia pemikiran Islam, spektrumnya juga berkembang berdasarkan respon mereka atas ilmu-ilmu modern. Sebagian aliran mengekslusi ilmu-ilmu rasional dan lebih memusatkan perhatiannya kepada ilmu-ilmu agama, yang belakangan ini dideviasi menuju dan berdasarkan orentasi fiqh belaka, sementara beragam lainnya juga mempertimbangkan pentingnya ilmu-ilmu rasional dan juga sains, dikarenakan desakan kebutuhan-kebutuhan praktis manusia.

Jadi, jika menimbang keanekaragaman pemikiran dan mazhab dalam Islam, entah kepada Islam yang mana Luthfi mengarahkan gugatannya. Tapi, jika berusaha menangkap indikator Islam seperti apa yang ia maksudkan, kemungkinan besar adalah jenis Islam yang ia sebut anti sains, anti kebebasan, dan anti demokrasi.

Sejak kemunculan Sapiens 250.000 tahun lalu, ilmu pengetahuan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Betapa pun tekhnik berburu di zaman ini tidak lagi dipraktikkan setiap orang, di masa lalu setiap manusia purba memiliki tugas yang berbeda-beda, dan salah satu subkelompok memiliki peran sentral yang berkaitan dengan urusan logistik. Perempuan bagi kelompok kehidupan primitif tidak begitu signifikan dalam menyediakan kalori untuk kebutuhan sukunya hanya karena bertugas mengumpul biji-bijian, dan bertugas menumbuknya membuatnya menjadi tepung bahan makanan. Sementara pihak laki-laki memiliki tugas lebih baik dengan cara berburu hewan-hewan besar meski mereka tidak selamanya berhasil membawa pulang daging-daging yang telah dipotong sebelumnya.

Sains di era masyarakat pengumpul-pemburu bukan jenis pengetahuan yang diciptakan melalui penelitian para ilmuwan. Tapi di masa itu, teknologi sudah mulai diciptakan melalui pembuktian temuan arkeologis bahwa di masa itu alat-alat berburu bukan ditemukan, tapi diciptakan melalui satu bentuk pengetahuan tentang alat potong dan tusuk. Betapa pun itu pengetahuan sederhana, semua cikal bakal kebudayaan manusia saat ini berkembang dari teknologi-teknologi yang lahir dari bentuk-bentuk pengetahuan masyarakat primitif semacam ini.

Kebudayaan, seperti dikemukakan para scholar, dimulai dan tumbuh dari fase peralihan saat masyarakat mulai memiliki kesadaran mendiami satu wilayah dalam waktu yang lama. Di masa ini kehidupan nomaden mulai ditinggalkan karena pengetahuan mengenai alam mulai berkembang. Culture (kultur) yang berasal dari kata colere (latin), mengacu dari zaman ini ketika tanah mulai dikelola untuk berkebun menanam bahan-bahan makanan, tidak seperti di masa sebelumnya yang hanya mengandalkan pemberian alam (food gathering).  Di masa ini pula kali pertama manusia melakukan domestifikasi hewan-hewan sebagai peliharan ternak dan memanfaatkan tenaganya untuk mengelola perkebunan. Di waktu lain, ketika perayaan suku membutuhkan makanan lebih banyak, binatang-binatang ternak sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan persembahan upacara. Tanpa disadari pola peralihan ini juga menjadi peralihan penyakit dari hewan ke manusia. Virus berkembang, dan penyakit-penyakit yang belum pernah ditemukan sebelumnya merebak dan merajalela.

Di abad klasik, penyakit direspon melalui pengetahuan agama, dan saat itu para rohaniawan sewaktu-waktu bisa bertindak seperti seorang dokter yang meresepkan obat khusus. Ketika wabah maut hitam melanda Eropa di pertengahan abad 14, teknologi medis belum berkembang sama seperti sekarang ini, dan para dokter akan nampak seperti jelmaan malaikat maut berkostum serba hitam dengan masker menyerupai moncong burung gagak. Di masa ini, sains masih dianggap sebagai jenis pengetahuan yang mengancam otoritas kekuasaan agama saat itu, terutama di Eropa, sains akan direspons negatif karena tidak sesuai dengan iklim masyarakat yang masih disokong metafisika dan teologi.

Kelak, di akhir abad 19, setelah melihat evolusi masyarakat selama berabad-abad, Auguste Comte, peletak awal ilmu Sosiologi, mendeklarasikan akan berakhirnya zaman ruhaniawan dan para metafisikus, yang diambil alih secara berangsur-angsur jika kesadaran masyarakat dibimbing langsung melalui kepemimpinan para ilmuwan.

Setiap masa dengan cara tertentu menciptakan dan menggunakan cara berpikirnya masing-masing. Di zaman purba, ketika api merupakan temuan paling menakjubkan saat itu, membuat malam-malam kelompok suku memiliki banyak waktu berlindung dari kehangatan api unggun. Manusia seketika, yang sebelumnya adalah kelompok pinggiran, memiliki kekuatan kendali karena berhasil memanfaatkan api dapat setara dengan binatang-binatang buas yang lebih banyak menjadi ancaman. Karena itu mereka sudah dapat menggunakan api untuk menghindarkan serangan binatang buas, menggunakannya untuk memperluas lahan, dan memasak makanan yang sebelumnya masih keras jika dikunyah mentah-mentah. Sambil berkumpul itulah pikiran kelompok terbentuk dan menciptakan sistem-sistem gagasan berupa kepercayaan terhadap dunia antara, satu dasar keyakinan yang ditemukan dalam animisme, dinamisme, dan monoteisme.

Comte meramalkan di zaman ini beragam sesembahan semisal dewa-dewa akan mengkerucut kepada satu tujuan, yang disebut sebagai  Tuhan tertinggi, atau yang paling berdaya, sementara evolusi kesadaran masih juga terjadi, menghasilkan sistem pemikiran metafisika yang lebih dapat dijangkau manusia oleh karena jenis pengetahuan ini telah menggunakan konsep-konsep akal budi. Zaman metafisika merupakan keadaan peralihan, dan kelak, masa ini akan dengan sendirinya hilang juga setelah kemunculan, apa yang disebut Comte sebagai nabi-nabi baru, yang membawa sistem pemikiran lebih mutakhir berdasarkan asas-asas empiris, objektif, dan rasional. Nabi-nabi baru ini, yang tiada lain adalah para ilmuwan, akan mempersiapkan jalan lapang kelahiran suatu agama baru di masa depan. Comte menyebut agama itu sebagai positivisme.

Kini keyakinan yang sama juga diyakini Luthfi walaupun ia tidak pernah menyatakannya secara langsung, bahwa ia pengikut setia Auguste Comte, dan menaruh kepercayaan penuh kepada sains oleh karena sistem pengetahuan itulah yang paling menjamin kemajuan peradaban. Karena sains, masyarakat, seperti keyakinan Auguste Comte, akan berangsur-angsur meninggalkan sistem metafisika lebih-lebih lagi agama, karena kedua sistem ini tidak memberikan efek-efek apa-apa kepada pengetahuan manusia selain memberikan jawaban-jawaban tidak masuk akal atas kejadian sesuatu. Teori evolusi kesadaran Comte ini, di masa kini, banyak diyakini orang-orang, dengan suatu pengertian implisit bahwa agama dan filsafat akan secara otomatis ditinggalkan jika paradigma sains menjadi sistem pengetahuannya.

Sains dan agama bukan dua entitas yang apple to apple dapat dibandingkan, apalagi mengharapkan jika keduanya sejenis dan lahir dari satu lingkungan yang sama sehingga ibarat dua orang petinju akan sangat layak untuk dipertandingkan. Agama, tidak seperti sains, yang diarahkan kepada cara kerja tertentu untuk memecahkan kebutuhan-kebutuhan praktis manusia sehingga melahirkan temuan-temuan mutakhir berupa alat teknologi canggih untuk mempermudah cara hidup manusia. Jika dikatakan ia juga mesti menjadi sistem pengetahuan yang ditopang melalui kerja empiris-ilmiah di laboratorium-laboratorium, maka agama bukan saja tidak masuk ke dalam jenis pengetahuan ilmiah, melainkan ia sama sekali salah kaprah jika ingin mengambil peran kerja sains yang sangat partikulir dan tentatif.

Sains, seperti sering dinyatakan, merupakan jenis pengetahuan yang paling revolusioner dikarenakan sifatnya yang praksis empiris. Kebenarannya tidak mutlak dan akan terus berubah seiring perkembangan studi dan temuan-temuan di lapangan (karena itu akan berisiko jika agama mendasarkan kebenarannya kepada temuan-temuan sains seperti dalam istilah-istilah sains Islam, atau islamisasi sains, dan sejenisnya, yang itu berarti akan membuat agama menjadi semakin kehilangan relevansinya sebagai ajaran yang memiliki kebenaran-kebenaran absolut. Sifat sains yang temporer-tentatif akan membuat kebenaran dalam agama akan seperti menjadi tambal sulam karena sewaktu-waktu kebenaran itu dapat berganti sesuai temuan-temuan mutakhir dari riset tertentu). Sementara agama, dikarenakan tidak memiliki kecenderungan seperti sains yang empirisistis, tidak mengarahkan perhatiannya untuk menjawab kebutuhan material praktis manusia. Karena itu bukan tujuan sesungguhnya dari agama, melainkan sebagai jalan hidup yang membuat pemeluknya memahami dengan baik posisi sesungguhnya dalam alam semesta.

Dari sisi epistemologi, hakikat agama sesungguhnya juga bukan jenis pengetahuan dalam pengertian kognisi dan ilmiah seperti yang selama ini mendasari aspek-aspek sains, melainkan masih memiliki suatu jenis basis epistemologi berupa intuisi, yang memiliki cara dan pendekatan yang sama sekali lain dari pendekatan ilmu-ilmu berbasis pengamatan dan kognitif pada umumnya.

Wahyu, yang selama ini dituduhkan merupakan hasil rekayasa imajinasi atau akal-akalan para nabi, adalah puncak dari pendekatan keilmuan yang menggunakan intuisi sebagai sumber pengetahuannya. Tentu yang dimaksudkan intuisi di sini bukan sekadar perasaan melalui hati atau semacam insting yang berkelabat dalam diri seseorang, melainkan suatu proses penajaman kalbu yang melibatkan banyak proses untuk mencapai suatu titik, sehingga pengetahuan tidak lagi diketahui melalui perantaraan konsep-konsep mental untuk mewakili suatu objek keberadaan, tapi keberadaan itu sendiri yang hadir dalam pengalaman berpengetahuan seseorang (knowledge by presence). Wujud atas keberadaan sesuatu inilah yang sangat penting dalam pendekatan intuisi sebagai suatu modus pencarian ilmu pengetahuan, sesuatu yang berbeda jauh dari sains yang mengartikulasikan wujud berdasarkan asas-asas empiris.

Islam oleh karena itu sangat tidak layak disepadankan dengan sains termasuk ilmu-ilmu empiris lainnya, tapi bukan karena itu Islam sama sekali tidak dapat menjadi mitra bagi sains. Islam sejauh yang saya ketahui sangat terbuka dengan iklim yang sangat dibutuhkan oleh sains agar ia dapat dengan mudah tumbuh (dalam Al-Qur’an ditemukan kata ‘ilm (ilmu) dan kata jadiannya diulang sampai 800 kali). Bahkan, dalam teks suci yang digunakan kaum muslim, banyak ditemukan imbauan dengan kata-kata ”berpikir”, ”lihatlah”, ”memperhatikan”, ”mengamati’,”renungkanlah”, dan ”bacalah”, untuk mendorong manusia tidak menyia-nyiakan pemberian berupa akal budi dan kelima indranya untuk mencari tahu objek-objek pengamatan, mulai dari realitas sederhana hingga alam semesta.

Sampai di sini, Islam memberikan tugas kepada manusia untuk melahirkan metode dan disiplin keilmuan sesuai motivasi moral dan modal epistemologi melalui imbauan kata-kata di atas, yang sesuai konteks zaman dan kebutuhan masyarakat. Islam, dengan kata lain, justru mendorong dan memberikan peluang bagi manusia untuk mengembangkan ilmu-ilmu empiris selama itu dalam rangka meneliti secara mendalam suatu permasalah demi menjawab tantangan zamannya. Bahkan, tanpa mengenyampingkan agama lain, Islam malah memberikan penghargaan tinggi kepada aktivitas ilmiah, dan menyebutnya bagian dari ibadah kepada penciptanya. Tidak berlebihan dari sisi ini bahwa Islam secara diam-diam mendorong umatnya untuk menjadi seperti seorang ilmuwan, dan semua nilai ini adalah apa yang mesti kita usahakan untuk hari ini: scientific attitude.

Scientific Attitude (atau Scientific Temper dalam istilah Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri pertama India), dalam sejarah kemajuan ilmu pengetahuan, adalah motivasi sekaligus sikap yang menggerakkan  seseorang untuk mengembangkan dan menggali rasa ingin tahunya ke dalam suatu cara kerja keilmuan tertentu (Scientific methode). Dalam sains, motivasi sekaligus menjadi etika keilmuan bagi seseorang jika terdorong mencari jawaban suatu problem, mesti ditopang oleh sikap rasional, objektif, terbuka, sistematis, dan transparan, agar kebenaran tidak saja dapat ditemukan tapi juga terjamin nilai objektifnya.

Sampai di sini, secara motivasi, Islam dan sains diimbau dengan semangat yang sama untuk mencapai suatu tujuan menyangkut perolehan suatu informasi atau pengetahuan. Bahkan dalam Islam, prinsip-prinsip yang mengindikasikan suatu sikap keilmuan dinyatakan dengan gamblang dengan kata-kata yang lugas dan jelas: berpikir, lihatlah, renungkanlah, bacalah…

Beberapa waktu lalu, melalui suatu postingan Lutfhi kembali memancing respon bagi sebagian orang menyangkut kebangkrutan filsafat, dengan mengajukan argumen yang belakangan merupakan generalisasi dari pengalaman pribadinya. Dalam kaidah sains sekalipun, kesalahan mengambil kesimpulan dengan hanya menggunakan pendapat pribadi untuk menilai keseluruhan fenomena merupakan hal yang mesti dihindari oleh siapa pun. Dan, tidak lucu jika pengambilan suatu kesimpulan tidak didasarkan kepada data-data riset untuk menilai suatu fenomena, seperti yang dianjurkan dalam sains itu sendiri.

Tapi, apakah filsafat sebagai suatu disiplin seperti dikatakan Lutfhi telah bangkrut—dengan bukti-bukti pengalaman pribadinya—yang bertolak dari institusi filsafat sebagai fakultas pendidikan yang peminatnya disebutnya bukanlah orang-orang pilihan, dan dianggap tidak memiliki sumbangsih pengetahuan apa-apa dikarenakan tidak banyak filosof lahir dari pola pendidikan filsafat di perguruan tinggi.

Bagi saya suatu kesimpulan yang aneh karena menarik kesimpulan dari kesalahan peletakan antara filsafat sebagai suatu studi dan filsafat sebagai suatu kegiatan berpikir, yang disebutnya akan tetap subur, dan kemudian menarik kesimpulan dari itu. Kegiatan menarik kesimpulan semacam ini merupakan fallacy of misplaced concretness, yakni kegagalan mengenal karakter dan salah menempatkan hubungan antara suatu konsep dengan kekonkretan sesuatu yang sedang dibahasnya.

Dalam kasus kebangkrutan filsafat ini, Lutfhi salah mengambil kesimpulan karena menyamakan filsafat dan institusi jurusan filsafat sebagai hal yang sama. Ia menarik kesimpulan dari peristiwa konkret untuk menarik keputusan kepada filsafat sebagai suatu konsep atau kegiatan berpikir. Artinya, boleh jadi saat ini jurusan filsafat mengalami berbagai masalah, dan itu bisa berarti apa saja termasuk di antara sepi peminat dan lain sebagainya, tapi itu tidak berarti dan tidak bisa dijadikan ukuran kepada filsafat dan menyebutnya sedang bangkrut.

”Sebagian orang mengatakan bahwa filsafat telah mati. Yang dimaksud dengan pernyataan ini tentu filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu. Filsafat sebagai cara manusia bertanya dan mencari ”kebenaran” akan terus hidup. Pertanyaan-pertanyaan filosofis tak akan pernah mati sampai kapanpun.”

Paragraf ini merupakan pembuka tulisan Lutfhi, yang memperlihatkan dikotomi antara filsafat sebagai kegiatan berpikir dengan filsafat sebagai suatu disiplin ilmu, yang dengan sendirinya menunjukkan kesalahannya yang paling fundamental karena menilai kebangkrutan filsafat hanya dari ”implikasi” ketimbang mempertimbangkan ”sebabnya”. Jika menyatakan kegiatan berfilsafat dalam bertanya dan mencari kebenaran akan tetap subur dan terus hidup, lalu bukankah itu adalah filsafat yang sebenarnya, dibandingkan dengan pemikiran para filsuf yang merupakan produk refleksi zamannya yang memang sifatnya bisa berubah dan berganti seiring masalah-masalah filosofis yang lebih menantang.

Dari sisi ini, Luthfi kembali ke dalam kesalahan yang sama sebelumnya, mengangap produk pemikiran filsafat beserta institusi penopangnya sebagai filsafat itu sendiri, dan tidak memahami bahwa inti sesungguhnya dari filsafat adalah aktivitas akal budi atau kegiatan berpikir mendalam dan sistematis berdasarkan kaidah logis yang dapat dilakukan semua orang, meski tanpa harus mendaftarkan diri ke dalam jurusan filsafat. Artinya berfilsafat sesungguhnya bukan kegiatan ekslusif yang hanya dapat dilakukan segelintir orang, melainkan suatu metode pencarian kebenaran yang dapat ditempuh oleh setiap orang selama ia mendayagunakan akal budinya.

Alasan lain mengapa filsafat telah bangkrut, karena Lutfhi menuduh secara serampangan bahwa pegiat filsafat dan pengajar filsafat tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, yang tentu apa yang dimaksudkan Lutfhi sebagai ilmu pengetahuan adalah ilmu-ilmu empiris berupa natural sains yang memang paling pesat perkembangannya di saat ini. ”Mereka berasyik-masyuk dengan buku-buku filsafat kuno tapi tak menyadari bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang begitu dahsyatnya.”

”Misalnya, dosen filsafat yang masih meyakini dan mengajarkan empat fakultas jiwa dalam diri manusia, yang diperkenalkan Aristotles dan dielaborasi secara panjang-lebar oleh Ibn Sina, turut menyumbang kebangkrutan. Filsuf yang masih percaya keberadaan ruh dalam diri manusia, atau hati (qalb) sebagai salah satu sumber pengetahuan, mirip seperti katak dalam tempurung.”

Inti pernyataan Lutfhi di atas menunjukkan kegagalannya jika ia tidak berpura-pura lupa, bahwa objek pengamatan dalam filsafat dan sains adalah dua keberadaan yang berbeda dari segi wujud, jenis, dan karakternya, sehingga pernyataanya tentang biologi modern dan kedokteran yang sudah mampu membuktikan ketiadaan, semisal, ruh atau jiwa, adalah salah kaprah. Entah apakah Lutfhi lupa atau pura-pura tidak tahu, bahwa antara filsafat dan sains memiliki alat epistemologi yang berbeda sehingga menghasilkan kesimpulan  yang berbeda mengenai status ontologis sesuatu. Dunia kedokteran sudah tententu berbeda saat mempraktikkan pendekatan keilmuannya, yang hanya dapat menangkap data-data empiris, dan tidak sama dengan filsafat yang membahas sesuatu yang ada, terlepas apakah ia bersifat material atau immaterial.

Jadi kesalahan Lutfhi sangat gamblang di sini, ia ingin mengukur berbagai wujud realitas hanya dengan menggunakan kacamata sains yang berkarakter materialistis. Ia seolah-olah sedang memaksakan ukuran plus minus lensa kacamatanya kepada setiap orang yang belum tentu sama ukurannya.

Beberapa tulisan telah bermunculan untuk menanggapi kebrutalan justifikasi Lutfhi, yang demikian konservatif menganggap sains sebagai satu-satunya jenis ilmu pengetahuan yang paling layak untuk menjawab keanekaan kebutuhan manusia. Dalam hal ini, tidak bisa dibantah bahwa sains saat ini paling banyak memberikan pengaruh kepada kemanusiaan terutama di bidang-bidang empiris-praksis. Teknologi sebagai produk sains banyak memberikan bukti semacam itu, dan terlebih lagi dalam dunia biologi dan medis. Namun, dengan merendahkan ilmu-ilmu lain dibandingkan sains, bukanlah sikap ilmuwan yang sebenarnya, yang terbuka kepada keanekaan sumber-sumber pengetahuan lainnya, melainkan kebangkrutan scientific attitude, berupa sikap rendah hati, keterbukaan, dan objektif, satu hal yang paling penting bagi seorang ilmuwan.

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).