Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Cinta Tanpa Pertemuan

Cinta tak cukup menyatukan dua manusia. Tatkala jalan berbeda, tak mungkin mereka saling bersama. Namun, cahaya keimanan akan mempertemukan kembali dari berabad jarak yang memisahkan.

Perlu diketahui bahwa, pandangan sekilas pada orang yang dianggap cantik, hampir dipastikan tidak akan merangsang tumbuhnya perasaan cinta. Sebab, cinta tumbuh karena pandangan yang berulang-ulang. Kemudian semakin membara, karena dipicu oleh faktor usia muda, hawa nafsu, dan perasaan ingin memiliki yang begitu kuat. Tetapi, sering terjadi pandangan berakhir dengan penderitaan. Karena hanya mampu memiliki nomor ponselnya, tidak dengan cintanya. Sabar yah. Dia sang pemilik cinta masih memiliki banyak orang, Dia akan menjodohkanmu dengan pilihannya.

Lantas bagaimana dengan cinta tanpa pertemuan? Apakah cinta dapat tumbuh tanpa pandangan berulang-ulang? Sementara ada rindu pada kekasih-Nya. Sedang rindu juga adalah efek cinta.

Cinta itu tumbuh tanpa pertemuan, ramah sikapnya tertanam dalam jiwa. Suri tauladan memberi tuntunan. Setiap kali, mengucapkan kalimat lailahaillalah mesti ada muhammadarrasulullah.

Entah cinta ini aneh atau tidak, jika berdasarkan dengan pandangan yang berulang-ulang. Mencintai Rasulullah, lahir dari ibu bernama Aminah dan ayah bernama Abdullah. Menurut riwayat, Nabi Muhammad lahir di Makkah pada hari senin, 12 Rabiul Awal pada tahun pertama sejak peristiwa tentara bergajah atau tahun 571 kalender Romawi. Hal ini sesuai dengan riwayat Muslim.

Bulan lalu, adalah bulan Rabiul Awal peringatan maulid nabi. Di mana aku sering kali menghadiri hajatan perayaan maulid nabi, sebagai peserta pembaca kitab Barazanji. Barazanji atau doa-doa, puji-pujian yang dilafalkan dengan suatu nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan, naik haji, dan peringatan maulid nabi. Tentunya, bukan hanya peserta pembaca kitab Barazanji saja yang hadir. Namun, juga mengajak kaum muslim dari berbagai kalangan baik kaya, miskin, tua muda untuk berkumpul memperingati maulid nabi dengan hidangan makanan tradisional dan modern, salah satunya songkolo. Sebagai bentuk sedekah kepada saudara-saudaranya, serta tanda cinta pada nabi akhir zaman, pembawa jalan kebaikan bagi umatnya.

Menghadiri setiap hajatan perayaan maulid nabi bukan berarti aku akan menemuinya. Tetapi ini adalah salah satu bentuk atau semakna pandangan yang berulang-ulang, tiap tahunnya, sebagai tanda cinta. Cinta yang terjaga dalam salawat atas namamu, ya Rasulullah.

“Allahumma sholli’ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.”

Ya Rasulullah. Sabdamu adalah puisi cinta. Cinta yang tulus pada umatmu. Sifat menyombongkan diri, luluh karena syair-syair cintamu. Jalan yang gelap, kau terangi dengan cahaya cintamu. Engkau cintanya sang cinta, yang mencintai umatmu dengan cinta muliamu. Semoga dengan keimanan kita saling cinta, dan kelak dipertemukan oleh sang cinta.

Tuhan. Kutitip salam cinta pada kekasih-Mu, melalui doa yang mengalir di setiap sujudku. Kekasih-Mu pembawa jalan cinta, menuju cinta-Mu. Rasulullah menyuruh kita untuk saling cinta. Mencintai apa yang di cintai Rasulullah adalah alamat cinta, untuk sebuah pertemuan. Sebagaimana mengutip puisi di halaman Indozone, karya Taufik Ismail:

Rasulullah Menyuruh Kita

Rasul menyuruh kita mencintai yatim piatu

Rasul sendiri waktu kecil tanpa ayah, tiada ibunda

Mencintai anak yatim piatu adalah mencintai Rasul kita

Rasul menyuruh kita mencintai orang miskin

Rasul sendiri tanpa harta, dia lelaki yang sungguh miskin

Mencintai orang miskin adalah mencintai Rasul kita

Rasul menyuruh kita mencintai orang lapar

Rasul sendiri ketat ikat pinggangnya, tak pernah longgar

Mencintai orang lapar adalah mencintai Rasul kita

Rasul menyuruh kita mencintai orang-orang tergilas

Rasul sendiri teladan ketegaran ketika ditindas

Mencintai orang tertindas adalah mencintai Rasul kita

Rasul menyuruh kita mencintai hewan, pohon dan lingkungan

Rasul sendiri lemah lembut pada kucing kesayangan

Mencintai satwa dan alam lingkungan adalah mencintai Rasul kita

Rasul menyuruh kita santun dalam beda pendapat

Rasul sendiri tidak marah bila beliau didebat

Santun dalam beda pendapat adalah mencintai Rasul kita

Kita cintai orang-orang lapar dan berkekurangan

Kita cintai orang-orang tertindas, dimanapun mereka

Kita cintai anak yatim dan piatu

Pada Rasulullah kita bersangatan cinta

Gemetar kami dalam zikir

Gagap kami menyanyikan shalawat

Tiada cukup butir tasbih

Tiada memada kosa kata

Dalam membalas cintanya

Secara sederhana.

Perayaan maulid nabi atau biasa disebut maudu di kampungku, yang dilaksanakan tiap bulan kelahiran manusia mulia. Sebagai tanda kesyukuran dan cara sederhana membalas cinta Rasulullah. Meski kita tahu, cinta Rasulullah tak sebanding dengan cinta kita kepadanya. Misalnya, ketika kehilangan barang favorit atau apalah, kadang kita masih sering lupa cara mengikhlaskannya. Lantas bagaimana dengan anak yatim piatu?

Bagaimana dengan Rasulullah? Sebagaimana yang dimaksud puisi di atas.

Apakah kita sanggup menghadapinya dengan cinta, seperti cinta Rasulullah pada umatnya? Cukup dengan pertanyaan-pertanyaan, membuat kita jatuh cinta tanpa pertemuan. Pada sang pejuang keselamatan umatnya kejalan yang benar. Umat yang baik adalah membalas cintanya, meski hanya dengan hal sederhana. Maudu juga salah satu tanda cinta yang tulus, menyedekahkan sedikit hartanya  untuk sebuah perayaan kelahiran sang pembawa cahaya kebaikan.

Meski kita tahu, mencintainya bisa kita ibaratkan seperti banjir. Sebab, pecinta dan pembencinya masih berselisih paham. Maka jadikan agama (ajarannya) sebagai jembatan untuk melaluinya. Dengan jiwa tenang dan sabar, untuk memperkuat pondasi. Agar, temu abadi di alamat cinta-Nya.

The following two tabs change content below.

Suhardi Eon Fattah

Lahir di Bantaeng, 10 Juli 1997. Peserta suluk ekonomi, Rumah Suluk Arta Tantra dan peserta kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung.

Latest posts by Suhardi Eon Fattah (see all)