Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Kebebasan, Kehidupan Abadi, dan Tirani Algoritma

Setiap orang memiliki cita-cita, meski terkadang di titik tertentu ia tak tahu mengapa ia dapat memikirkan hal semacam itu, dan menjadi lebih aneh lagi karena ketika Anda berhasil memikirkannya, Anda akan tiba pada kebingungan selanjutnya, yakni bagaimana cara terbaik untuk merealisasikannya.

Manusia makhluk yang paling gampang dibentuk lingkungannya, yang karena itu, ia lah yang menempati kedudukan tertinggi dalam proses evolusi sampai saat ini. Keyakinan teoritik Charles Darwin ada benarnya, bahwa makhluk yang paling adaptatiflah yang bisa keluar dari cengkraman cangkang perubahan, dan yang saya ketahui, hanya ada satu jenis binatang yang memiliki kemampuan adaptasi selain manusia, yang paling konformis sekaligus mengherankan bagi saya: kecoa.

Kecoa adalah spesis binatang yang telah melalui proses evolusi panjang saat udara dunia masih terisi gas yang tidak cocok untuk paru-paru manusia, tiga ratus juta tahun lalu. Tapi, jangan Anda bayangkan kecoa dimaksudkan jenis kecoa yang sering Anda temukan seperti di sela-sela almari baju Anda, karena itu jenis paling modern dari nenek moyang mereka yang berhasil bertahan dari zaman karbon, suatu masa yang membunuh banyak jenis organisme saat itu.

Manusia, diukur berdasarkan kalender evolusi masih berusia lebih muda dari kecoa. Tapi, manusia selama proses perkembangan fisiologis, yang bisa kita lihat dari perubahan bentuk otak, wajah, tangan, dan ukuran panjang kaki, juga mengembangkan kemampuan sosialisasi untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan alamiah yang mereka temui. Kemampuan sosialisasi ini lah, yang sampai kiwari memperlihatkan keunggulan manusia dari makhluk yang sama sekali tidak bisa melahirkan kehidupan berkelompok bernama masyarakat.

Di masa lalu, setiap orang melakukan berbagai cara untuk melanjutkan cita-cita bersama yang juga ikut berevolusi di sepanjang rantai waktu yang saling terhubung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berbagai macam masyarakat timbul tenggelam seiring otoritas kewenangan dan tradisi yang ikut tumbuh bersamanya.

Masyarakat yang besar dari suatu masa otoriter, misalnya, mencita-citakan akan menjadi seperti  orang-orang yang mereka saksikan, yang saat itu menjadi bagian dari kelompok militer yang paling banyak mereka saksikan melalui medium-medium sosialisasi—seperti misalnya, televisi. Untuk kasus Indonesia, ada masa imajinasi profesionalitas diisi dari satu-satunya stasiun televisi, dan sudah bisa Anda duga sebelumnya, selain politisi atau birokrat, kelompok berseragam hijaulah yang seperti dijadwal untuk mengisi part-part tayangan yang terkait dengan tayangan publik, yang mengisi cita-cita anak-anak Indonesia di masa lalu.

Menjadi polisi atau tentara, di masa itu adalah suatu hasil yang tidak bisa dielakkan, yang lahir dari cara masyarakat beradaptasi dengan keadaan yang lahir dari pemerintahan Orde Baru. Jika saat itu Anda berprofesi sebagai tukang cukur, sudah cukup bukti untuk menarik kesimpulan semacam ini, banyak anak-anak mengambil model potongan rambut cepak, yang juga menjadi cermin pemahaman orangtua saat itu, yang mengkorfirmasi keinginan anak-anaknya.

Bagi masyarakat militeristik, cita-cita tidak ada perbedaan sama sekali dengan ideologi, yang dibentuk dengan suatu cara di mana pemerintah dapat mengontrol isi kepala banyak orang. Menjadi polisi atau seseorang yang dapat bekerja di tangsi-tangsi pelatihan militer, dalam rangka membela ibu pertiwi, adalah suatu kebaikan yang mencerminkan semangat cinta tanah air. Tapi, jika hampir semua orang menemukan kesamaan di antara cita-cita mereka, maka di situ ada problem inheren dalam suatu proses terjadinya identitas sosial.

1984 karya George Orwell saya kira merupakan cermin fiksi yang masih relevan berkaitan dengan kebebasan manusia, yang selama ini belum sepenuhnya menemukan jawaban finalnya. Kebebasan dari masa ke masa sering menjadi tujuan eksistensial manusia saat otoritas di sekitarnya menjadi tidak relevan dengan keberadaannya.

Di masa lalu manusia menghendaki kebebasan setelah melakukan perlawanan berkelompok kepada otoritas ilahiah dengan mengajukan sistem yang dinilai lebih manusiawi bernama demokrasi. Di saat ini otoritas metafisik ditransformasikan ke otoritas yang lebih berdaging ke tangan birokrasi berisi sekelompok manusia terpilih.

Memasuki era informasi, dengan slogan yang lebih optimistik terhadap sains dan teknologi, otoritas kekuasaan saat ini nyaris runtuh dari kekuasaan manusia ke tangan algoritma berskala besar bernama bigdata. Dalam 1984 otoritas yang senantiasa mengawasi gerak-gerik masyarakat disebut sebagai bigbrother (Bung Besar) dengan kapasitas tak terbatas dalam rangka mengontrol dan mengatur isi pikiran dan perilaku masyarakat.

Tapi, saat ini kekuasaan algoritma lebih dari sekedar kemampuan mengawasi dan mengatur seperti kualifikasi otoritas yang diceritakan Orwell dalam bukunya, melainkan mampu memprediksi dan menentukan kehendak bebas manusia dalam bertindak. Dalam hal ini, dengan artifisial inteligent (AI) bigdata dapat menggunakan data-data terkait diri Anda untuk memberikan keputusan-keputusan terbaik berkenaan dengan, semisal, pilihan belanja, hobi, keputusan politik, sekolah terbaik, atau pekerjaan yang layak bagi Anda.

Di titik ini, Anda tidak lagi menyadari bahwasannya seluruh informasi yang kita berikan untuk bigdata bukan lagi dalam kedudukan kita sebagai pelanggan, tapi, seperti dinyatakan Yuval Noah Harari, menjadi sebagai produk informasi itu sendiri.

Masyarakat kuno di masa lalu melihat kekuasaan terkait dengan tanah dan menyatakan dirinya sebagai tuan raja setelah mampu menkonsolidasikan area-area tertentu di dalam peta kerajaannya. Di era modern, politik bangsa-bangsa memanfaatkan kekuasaan untuk merebut mesin dan sistem industri yang beberapa abad lalu lebih berpengaruh dari sekadar penguasaan aset-aset tanah.

Sekarang kolonialisme telah bergerak untuk menguasai aset informasi dalam rangka mempengaruhi dan merebut perhatian sekaligus kekuasaan aliran data bangsa-bangsa. Jadi bukan lagi mesin atau perebutan area-area teritorial tertentu seperti yang pernah terjadi di antara perebutan kelas-kelas kekuasaan, sekarang dan di masa akan datang, penguasaan sirkulasi data dan aliran data-lah yang bakal menentukan besar dan dalamnya kekuasaan sesuatu itu.

Keadaan di masa depan akan seperti beribu-ribu tahun lalu saat beberapa bangsa menguasai aliran-aliran sungai atau perairan yang ikut menentukan subur, bertahan, atau tidak sama sekali suatu perabadan. Tidak jauh berbeda dengan zaman sekarang ketika beberapa bangsa sangat mengkhawatirkan pipa-pipa aliran minyak yang berisi ribuan barel direbut atau dihentikan mengalir oleh lawan politiknya. Sekarang revolusi tengah berlangsung dalam rangka perebutan aliran informasi dari jutaan pengguna internet sehingga melahirkan kolonialis baru bernama Google, Facebook, Baidu, atau Tancent.

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan, seperti yang pernah dinyatakan Francis Bacon dengan keyakinan yang kuat untuk melawan apa yang ia sebut idolatry, yakni apa yang sekarang kita kenal sebagai hoaks atau informasi yang mendeteritorialisasi rasio dan logika ke wilayah pinggiran karena lebih mengedepankan dimensi perasaan atau insting. Di masa sekarang segalanya bergerak dan dapat berubah bukan lagi karena ditentukan kekuatan-kekuatan sosial lama, melainkan oleh arus kekuatan algoritma informasi yang bekerja secara kumulatif dan signifikan menentukan arah perkembangan dari suatu masyarakat.

Di masa kecil karena senang menggambar dan mewarnai, saya pernah mencita-citakan menjadi seorang pelukis, yang uniknya waktu itu belum ada satupun pelukis yang saya ketahui. Di masa kanak-kanak, saat seorang anak telah duduk di bangku sekolah tingkat dasar, gambar dua gunung dengan bentangan sawah di hadapannya adalah ilustrasi yang jamak dilakukan anak-anak saat itu. Keseragaman sudah dianggap biasa saat itu, dan jika ada sesuatu yang berbeda justru akan dianggap bermasalah.

Yang menarik dari itu adalah setiap cita-cita yang dibayangkan oleh setiap orang, yang berbeda-beda dan beraneka macam, karena terdorong suatu momen dapat dipertemukan dan melahirkan cetusan-cetusan bersama sehingga melahirkan cita-cita kolektif. Di bawah kekuasaan algoritma, ketika globalisai informasi semakin signifikan menentukan informasi apa yang kita berikan dan konsumsi, bayangan menyangkut tentang apa yang kita harap dan cita-citakan sekarang lebih luas skala dan cakupannya.

Sekarang, setelah bangsa-bangsa berhasil menyatukan kehidupan manusia ke dalam konsep-konsep bernama ras, suku, dan agama, cita-cita selanjutnya adalah bagaimana kehidupan banyak orang dapat bertahan dari ancaman kelaparan, kemiskinan, dan kepunahan. Tiga masalah besar ini, terutama yang terakhir merupakan obsesi alam bawah sadar setiap orang yang di masa sekarang berusaha direalisasikan untuk mencari kemungkinan kehidupan abadi di masa akan datang.

Raymond Kurzweil, seorang ilmuwan dan futuris Amerika Serikat, meramalkan paling lambat 2045 kehidupan manusia akan terintegrasi dengan perangkat teknologi sampai ke tingkat biologis, dan bukan lagi seperti sekarang ini yang masih berjarak dan hanya bersifat ideologis. Keadaan ini disebutkan Kurzweil bakal melahirkan manusia hybrid yang berimplantasi dengan perangkat robotik dikendalikan melalui kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan pikiran manusia.

Sekarang Raymonf Kurzweil adalah direktur teknologi grup Google yang membawahi berbagai macam riset berkaitan dengan pembelajaran mesin dan pemrosesan bahasa yang terhubung dengan kegiatan berpikir manusia, yang ia sebut terobsesi sejak berusia 14 tahun dengan mencipatakan sebuah mesin perangkat lunak yang bisa menulis dan menciptakan lagu secara otomatis.

Dengan nada optimistik seperti diharapkan Kurzweil bahwa di masa depan otak manusia sudah akan bisa terhubung dengan internet, tidak sekadar realitas fiksi seperti dalam figur polisi transhuman Robocop—Robocop adalah figur utama bernama Edhie Murphy yakni polisi cyborg gabungan manusia dengan teknologi robotik, yang berhasil menggabungkan sel-sel otaknya dengan sistem berpikir yang dikendalikan AI.

(Figur lain penggabungan teknik robotika dan jaringan organisme adalah Cyborg dalam dunia DC Comics yang dapat disaksikan seperti dalam film Justice League (2017), diperankan Ray Fisher.  Ia memiliki salah satu kekuatan yang mampu mengelola data-data berbasis AI yang luar biasa canggih sehingga bisa mengubahnya menjadi senjata mematikan dengan cara mengontrolnya)

Di masa yang dibayangkan Kurzweil, dengan bantuan nanobot yang terbuat dari untaian DNA pikiran manusia bisa langsung terhubung ke dalam sistem penyimpanan yang tersedia di jejaring dunia virtual. Melalui teknologi semacam ini, informasi yang Anda butuhkan tidak akan lagi didapatkan melalui usaha fisik menekan atau menyentuh gawai Anda, melainkan hanya tinggal Anda kendalikan melalui pikiran Anda.

Dahulu kala, di peradaban-peradaban tua, seperti Mesir misalnya, setiap raja ingin hidup abadi, dan ketika mati, sebelumnya mereka telah mempersiapkan bekal untuk melanjutkan kehidupan di alam baka. Bagi generasi berabad-abad satelahnya, dengan makam yang berisi harta melimpah semacam itu, lebih melihat pemandangan kemewahan yang dibawa mati semacam itu merupakan wujud dari materialisme versi kuno, meski tidak demikian bagi orang seperti Firaun misalnya, karena masih menganggap di balik kehidupan badaniah masih ada model kehidupan lain pasca kematian.

Dengan suatu cara, konsep kehidupan abadi yang pernah hidup dalam keyakinan-keyakinan kuno, kini lahir dengan dasar pemikiran yang lebih baru dan segar karena ditunjang oleh data-data saintifik.

Bagi masyarakat Mesir atau Tiongkok memiliki pendekatan terhadap proses pengawetan tubuh, yang sampai sekarang, masih menarik minat orang-orang menyangkut keyakinan di balik praktek pembalseman. Hal yang tidak kalah antusias dalam menarik minat bagi orang-orang yang ingin hidup dalam masa waktu yang lama, di masa sekarang, sudah bisa mengikuti program-program perusahan yang menyediakan jasa bernama cryonics.

Cryionics merupakan teknologi teranyar dalam dunia sains kedokteran yang mampu mendinginkan tubuh orang yang ”mati” menggunakan nitrogen cair agar menunda pembusukan fisik, sehingga di masa akan datang tubuh-tubuh yang berhasil diawetkan dapat dihidupkan kembali melalui prosedur sains.

Orang pertama yang dibekukan adalah Dr. James Bredford, profesor psikologi University of California yang meninggal di tahun 1967,  dan sampai saat ini tubuhnya masih membeku masih sama seperti sedia kala. Tahun 2015 lalu, Matheryn Noavaratpong, gadis berusia 2 tahun asal Bangkok atas permintaan orangtuanya, dibekukan otaknya setelah gagal melawan sel kanker otak. Ia merupakan manusia termuda yang menjalani proses pembekuan dengan harapan di hari kemudian dapat bangkit kembali sesuai harapan orangtuanya.

Teknik pembekuan ini sesungguhnya bukan hal baru dalam dunia medis mengingat pendekatan ini digunakan para ahli bedah saraf saat menemukan ”jerawat otak” untuk membekukan pembengkakan pembuluh darah dalam otak.  Pendinginan ini dilakukan agar supaya saat melakukan pembedahan tidak merusak jaringan syaraf atau pembuluh darah itu sendiri. Di bank-bank sperma seperti di temukan di beberapa negara seperti Jerman atau Inggris, atau ketika Anda ingin memprogram bayi  tabung, teknik pendinginan embrio manusia sering menjadi alternatif bagi pasangan-pasangan yang memiliki riwayat sulit mendapatkan keturuanan.

Jadi, dengan kemampuan sains yang melihat kemungkinan-kemungkinan yang sudah dicapai sebelumnya, ditambah dengan program-program kesehatan semakin maju menaikkan angka harapan hidup manusia, bukan tidak mungkin kehidupan abadi akan dialami oleh kehidupan di masa akan datang. Toh jika tidak, sebagian dari diri kita sudah lebih dulu kekal dalam jaringan algoritma bigdata, meski suatu saat nanti jaringan sel organisme kita rusak atau berhenti berfungsi yang itu adalah akhir dari hidup kita.


Sumber gambar: newyorker.com/humor/daily-shouts/1984-keeping-in-mind-that-ive-never-read-it

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).