Mengeja Republik yang Sedang Oleng

Tidak banyak anak muda aktivis, begitu intens terlibat dalam menggalang demontrasi di jalanan, sekaligus punya kemampuan menulis. Biasanya, jago demontrasi, minim menulis. Sebaliknya, banyak juga rajin menulis, namun gagap dalam berdemonstrasi. Terkadang, kaum muda-mahasiswa pendemo itu, bacaannya hanya running text di televisi, plus dua-tiga ban bekas, dan toa di tangan, sudah mampu memacetkan jalan raya. Syukur kalau ada lembaran  pernyataan sikap, dengan kelogisan tuntutan.

Itulah pernyataan provokatif saya, sebagai pengantar, tatkala diminta menjadi pembincang  pada peluncuran dan sawala buku, Republik yang Sedang Oleng, anggitan Arman Syarif. Siapa Arman Syarif? Ia adalah seorang mantan mahasiswa, Jurusan PPKn, FIS-UNM. Lulus tahun 2007. Lelaki kelahiran Togo-Togo, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sederet aktivitas dibabarkan, lewat buku ini, sudah cukup memadai untuk didapuk, sebagai seorang aktivis mahasiswa dan kepemudaan. Kini, ia telah menjadi guru di SMK  Telkom Makassar.

Bertempat di Perpustakaan Universitas Negeri Makassar (UNM) lantai II, Sabtu, 25 Januari 2019, siang hingga jelang sore, helatan sawala buku itu berlangsung. Sesarinya, sependek ingatan saya, atau merujuk pada pengantar penulis, Arman Syarif, semasa jadi mahasiswa, menabalkan diri sebagai seorang demontran. Bahkan, ada penegasan Ketua Jurusan PPKn FIS UNM, Imam Suyitno, Arman adalah salah seorang mahasiswanya yang “nakal”. Jadi, Arman adalah sosok demonstran, pembaca, dan penulis buku.

Guna mempercakapkan buku ini, sebagai salah seorang pembincang, saya mengejanya dengan khusyuk. Dan, lebih dari itu, saya pun mendaras buku lainnya. setidaknya, dua buku dari Yudi Latif, Revolusi Pancasila dan Wawasan Pancasila, sebagai pelengkap perbalahan.

Republik yang Sedang Oleng, sebagai judul buku, diambil dari salah satu kumpulan esai ini. Pun, frasa  “republik yang sedang oleng’ dirujuk pada pernyataan Buya Syafii Maarif.  Bagi saya, judul ini amat metaforik. Dan, Arman pun mengamsalkannya, republik ini ibarat pesawat atau kapal yang sedang oleng.

Berlapikkan pada metafor tersebut, saya pun mendaras buku ini. Sehingga tibalah pada simpulan, Negara Republik Indonesia (NKRI), bagaikan kapal. Mesin penggeraknya bernama Pancasila sebagai dasar negara.  Pemimpin merupakan nahkodanya.

Dari hasil eja saya, sampailah pada asumsi. Kapal NKRI ini oleng disebabkan oleh tiga bentuk fundamentalisme, yakni: Pasar, Agama, dan Pancasila. Penulusuran bacaan saya atas beberapa  esai, varian fundamentalisme pasar itu menyata dalam wujud: Neoloberalisme, Kapitalisme, Individualisme, dan beberapa lagi istilah lainnya.  Arman menggunakannya secara silih berganti.

Fundamentalisme agama yang ikut mengolengkan kapal  NKRI, sunyata terlihat pada adanya keinginan untuk mendirikan negara Islam, Daulah Khilafah Islamiah, Indonesia bersyariah, dan berbagai bentuk gerakan keagamaan lainnya, berusaha mengubah negeri ini berdasarkan agama, khususnya Islam.

Sementara fundamentalisme Pancasila, teraktualisir dalam hadirnya dua rezim kekuasaan, Orde Lama dan Orde Baru. Anasir-anasir fundamentalisme Pancasila di era Orla, terlihat sejak munculnya haluan politik berupa Demokrasi Parlementer, berlanjut ke Demokrasi Terpimpin, dan berpucuk pada diangkatnya Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Adapun ketika Orba berkuasa, ketika Pancasila diindoktrinasikan  lewat  Penataran P4, jargon pelaksanaan Pancasila secara murni dan konsekuen, hingga berpuncak pada penetapan Pancasila sebagai Azas Tunggal.

Sampai pada uraian ini, ada keinginan dari Arman menawarkan kembali Pancasila, tentu dengan tafsiran baru, agar kapal NKRI keluar dari keolengannya. Meski ada keinginan itu, tapi masih sangat normatif. Karenanya, pada percakapan itu saya menawarkan buah pikir dari Yudi Latif. Menurut Yudi, Pancasila harus direvolusi. Jika jelang kemerdekaan, para pendiri bangsa ini, mem-Pancasila-kan revolusi, maka saat ini, semestinya, merevolusikan Pancasila.  Ini semacam tawaran tranformasi. Bukan sekadar reformasi, seperti pilihan pasca kejatuhan Orba.

Ada perbedaan mendasar antara reformasi dan transformasi.  Saya ajukan metafor untuk memudahkan ulasan. Jika tempuhan itu pilihannya reformasi, maka analoginya semirip ular yang berusaha mengganti kulit, hasilnya tetap ular. Cuma kulitnya saja yang terganti. Sepertinya, Orde Reformasi yang sementara berjalan ini, menguatkan permisalan ini. Pergantian kekuasaan, ganti aktor saja. Bahkan, Pancasila mengalami liberalisasi. Terjadi alergi massal terhadap dasar dan ideologi negara Pancasila.

Namun, bila jalan transformasi sebaga anutan, maka pengandainya serupa dengan ulat, menjadi kepompong, lalu mewujud kupu-kupu. Ulat bertransformasi menjadi  kepompong, lalu kepompong bertransformasi mewujud kupu-kupu. Tawaran Yudi Latif melalui bukunya, akan pentingnya  Revolusi Pancasila, sesungguhnya tawaran transformasi. Apatah lagi, setelah revolusi ini, kembali Yudi menawarkan satu gagasan tentang pembudayaan Pancasila, lewat bukunya Wawasan Pancasila.

Pantikan Arman akan perlunya tafsiran baru atas Pancasila sebagai mesin penggerak kapal NKRI, kemudian disistematisir gagasannya oleh Yudi Latif. Menurut saya, inilah semacam cara terdepan untuk merivitalisasi ideologi negara, dalam mengantar pelayaran  menuju pulau harapan.

Dan, satu lagi soal . Pentingnya nahkoda dalam pelayaran ini. Salah satu esai di buku ini, Arman bercerita tentang sosok Daeng Nape. Insan penuh dedikasi, integritas, dan berkarakter. Sosok tawaran figur ini pun saya metaforkan. Meski Daeng Nape berlatar suku Makassar, sebenarnya, hanyalah metafor dari begitu banyak nilai-nilai lokal, sebagai pembentuk manusia Indonesia. Karenanya, ketika sampai pada gugatan, seperti apa nahkoda yang dibutuhkan agar kapal NKRI tidak oleng? Jawabannya amat singkat. Daeng Nape-lah solusinya. Manusia Indonesia seutuhnya, pancasilais.

Kalau boleh saya bilang, kapal NKRI tetap akan berlayar ke pulau harapan, di cita kemerdekaan, masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila. Kapal, baru saja turun mesin, lewat orde reformasi, siap bertransformasi, melalui revolusi Pancasila.

Kini, klakson sudah bunyi, jangkar telah diangkat. Pulau demi pulau dilayari, menyatukan  keutuhan wilayah. Sisa menanti aba-aba dari nahkoda. Kapal bergerak, menempuh pelayaran lagi, bersama sekaum Daeng Nape, selaku nahkodanya.

Daeng Nape dan juga kaumnya, jika benar-benar sudah berlayar, jangan lupa, ada secarik kertas saya selipkan di kantong kekuasaanmu. Ejalah itu. “Hati-hati dengan gerombolan bajak laut: Fundamentalisme.”

 

 

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)

2 thoughts on “Mengeja Republik yang Sedang Oleng”

  1. Mantap kanda…
    Atau jangan jangan kapal itu sedang ditonda oleh kapal lain yang lebih besar, namun kita yang ikut menumpang tidak sadar akan hal itu.

  2. Buku republik yg sedang oleng di ibaratkan dengan kapal yang mempunyai masala pada kapal itu sendiri yang membuat kapal itu oleng dan menghasilka penumpang kapal mengalami oleng pula atau pusing. Yah masalah ini di ibaratkan masalah yg ada di NKRI ini termaksud kapitalis, individualis, dan Neoloberalisme. Sehingga masyarakat republik ini mengalami oleng dan bingung.

    Apakah ada faktor penyebab olengnya ini dari faktor luar atau selain dari faktor dari dalam sendiri. Krn saya kira tidak menuntut kemungkinan banyak pengaruh luar yang membuat pembuat masalah ini terikat dengan permasalahan yang di rasakan atau di dapatkan dari luar sendiri.

    Dan bagaimana solusi yang di cerahkan dalam buku ini setelah memaparkan masalah yang ada dalam republik ini sehingga oleng. Dapatkah generasi selanjutnya memperbaiki masalah yg ada sehingga republik kembali jalan dengan lancar dan baik untuk menuju pulau impian.

    Saya teringat dengan yang dikatakan suekarno bahwa ” Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Yah dan sekarang nyata dalam kapal NKRI sekarang, yang membuat oleng bukan lah bajak laut atau ombak semisal tapi karena nahkoda atau mesin yang tidak melakukan tugas dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *