Gelas Kosong Revolusi

“Sejak jauh hari Gus Yudi Latif menyerukan revolusi mental, kau menolak mentah-mentah. Kau bilang organisasi telah mengasah mentalmu. Pak Nirwan Ahmad Arsuka dan temanmu yang kau sebut kutu buku itu mengajakmu membaca. Kau acuh, membisu, lalu tersenyum receh sembari berkata, kau punya banyak tugas yang harus diselesaikan.

Tetapi kau selalu punya waktu bercumbu dengan wanitamu, orang yang kau sebut beb. Mengahabiskan waktu bercinta dengan kata-kata jorok yang kau sebut puitis. Atau sepanjang malam bersamanya dalam kamar kos berpeluk mesra macam ayah bunda, dan tak ingin pagi segera tiba.

Kau pun selalu menisbahkan dirimu bersetubuh dengan game online, nongkrong di warkop sepanjang malam mengumpulkan kesia-siaan. Cuihh.. Lalu esok, kau ingin turun ke jalan meneriakkan revolusi? Tahu apa kau soal revolusi bocah ingusan? Revolusi apa yang hendak kau bangun?” Suara Panrita menggelegar bak petir menyambar dalam kesunyian mengagetkan dua anak muda yang tengah sibuk berbincang. Langkahnya sempoyongan ke selasar masjid menunjuk-nunjuki dua bocah yang tetiba membisu dan kaget. Spontan saja mereka melempar beberapa anak busur yang di genggamnya ke semak- semak.

Tak hendak duduk, lelaki yang dipanggil Daeng oleh kedua bocah itu berkacak pinggang. Dadanya membusung dengan napas yang masih memburu. Matanya memelototi Bahlul dan Bahrun secara bergantian. Lalu sorot mata Panrita berubah sendu berkaca-kaca, tatkala menatap tajam merah putih yang berkibar sendu di pinggir lapangan yang senyap. Hanya sebuah lampu jalan yang berdiri tegap di sisi kiri tiang bendera yang setia menyinarinya dari gelap. Sunyi menyergap. Seiring dengan tarikan napas panjangnya yang mendesah, mencoba menenangkan diri dari amarah, pikiran Panrita berkelebat jauh entah ke mana. Lalu ia mulai berkisah.

***

“Teriakan ‘revolusi’ bukan kali pertama membumbung di langit negeri kita. PKI yang hingga kini dianggap pemberontak dan tabu untuk dibicarakan di negeri Pancasila ini, pernah melangitkan kata-kata itu. DI/TII yang juga tak puas pernah menggelorakan kata absurd tersebut. Kusebut absurd sebab kata ‘revolusi’ belum pernah berhasil ditegakkan di negeri yang hampir permai ini. Dan acap kali revolusi coba digaungkan dan diledakkan, maka yang tersisa hanya puing-puing kesedihan, genangan darah, dan air mata. Air mata ibu yang kehilangan anaknya.

Di mataku kata revolusi itu sendiri hanya dipetik dari atmosfer bumi pertiwi yang gelisah. Angin Barat atau Timurlah yang membawanya lewat urita dan cerita-cerita yang dibesar-besarkan. Berputar-putar tak jelas di kolong langit Nusantara.

Gambaran menjanjikan revolusi Fidel Castro dan Che Guevara di Kuba, delusi revolusi Bolshevik di Rusia. Atau manisnya ending revolusi di Iran barangkali menjadi kiblat, sehingga revolusi ingin kita coba-coba di negeri ini.

Hei.. negeri ini tidak dibangun atas dasar coba-coba. Apalagi mau dijalankan dengan sistem dari pemikiran dangkal otak-otak kosong yang melompong macam kita.

Aku juga ingat cerita-cerita heroik dan usang para senior tentang reformasi yang digulirkan sekaum muda 1998. Klimaksnya ketika mendiang Soeharto meninggalkan singgasana kekuasaan yang membesarkan nama, keluarga, dan orang-orang dekatnya. Sejenak aku kagum mendengarkan cerita yang dikisahkan dengan cara berapi-api oleh para senior yang seolah mereka ada di sana. Kusebut para pemuda itu ‘pahlawan’, sebab membawa angin segar bagi seluruh rakyat Indonesia yang 32 tahun terkungkung di ketiak penguasa.

Tapi apa lacur, sebagian besar pahlawan reformasi tak kuat menahan godaan kekuasaan yang mengangkang di depan matanya. Keserakahan akhirnya menjelma rayap mencabik-cabik almamater idealismenya. Janji-janji reformasi pelan-pelan mereka koyak sendiri setelah mereka menapakkan kaki di Senayan. Mereka lupa dan kini hanya sibuk berebut kuasa. Atau mempertahankan kuasa dan menggunakan kepintarannya untuk berpikir bagaimana menambah pundi-pundi sendiri.

Reformasi toh nyatanya hanya meremajakan para koruptor tua di masa lalu. Meninggalkan negeri ini kian terluka dan terlunta-lunta. Hutan-hutannya ditebang hingga botak. Isinya dikeruk. Lautnya dikotori. Rakyat-rakyat kecil dikibuli. Anak-anak kecil kelaparan masih bergentayangan di kolong-kolong jembatan. Pemuda-pemuda pengangguran kian berdesak-desakan di desa. Anak-anak miskin putus sekolah masih berserak.

Tahukah kalian, sebagian dari orang-orang di gedung DPR sana dulunya orang hebat, cerdas, jago berdebat, tapi masih tak mampu menyelesaikan masalah negeri ini. Lalu tumbuhlah kalian, generasi baru negeri ini. Generasi yang hidup dalam kenikmatan dan kecanggihan teknologi. Merebak ke jalan-jalan meneriakkan revolusi. Sekali ikut pengaderan langsung terjun ke jalan. Teriak lantang dengan megafon.

Awalnya aku berharap banyak pada kalian. Aku membusungkan dada dan berteriak, oh ibu petiwiku. Inilah pemuda-pemuda yang akan membawa kedamaian di atas rahimmu. Lelaki gagah dan pemberani yang siap melawan kebatilan.

Tapi harap itu pupus usai kulihat bagaimana kalian menjalani hari demi hari. Keluyuran entah kemana dengan teman wanita. Main gadged dari pagi hingga pagi, nongkrong di warkop bergibah, masuk kuliah pun malas-malasan.

Kerjamu mengeluh terus tak pernah berpikir mencari solusi. Acuh tak acuh dengan hal-hal di sekitarmu. Kau ikut aksi hanya untuk gaya-gayaan saja, untuk mengisi story agar disebut aktivis.

Tak pernah sekali pun kulihat kalian baca buku. Ikut kajian-kajian. Berdiskusi. Tak pernah kulihat kalian belajar. Lalu kalian tiba-tiba menyerbu jalan dengan batu dan meneriakkan revolusi?” Panrita diam sejenak. Mengambil napas sembari menyeruput kopi yang tergeletak di teras, meminumnya hingga tandas.

“Bahlul! Dan kau Bahrun! Lihatlah! Perhatikan gelas kopi ini. Revolusi yang ingin kalian tegakkan serupa gelas kosong ini. Kau akan isi dengan apa gelas kosong ini? Racun kah? Kopi nikmat atau susu maniskah? Revolusikan dulu dirimu. Revolusi sikapmu. Revolusi kebiasaanmu. Revolusi nalarmu. Isi tempurung kepalamu dengan pengetahuan. Seraplah segala ilmu dari seluruh dunia. Serap sebanyak yang kau mampu. Revolusikan mentalmu dari ujung kaki hingga rambut. Hingga keberanian menubuh dalam dirimu. Keadilan dan kejujuran mendarah daging. Menjelmalah manusia seutuhnya. Lalu bergeraklah!”

 

Pattallassang, 4 November 2019

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *