Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-4, Habis)

Mawathin: Pemetaan Kehidupan yang Dilalui Manusia

Untuk memahami entitas manakah yang merupakan diri manusia sejati, maka perlu disimak terlebih dahulu paparan menyeluruh ihwal tahapan kehidupan manusia sebagaimana tertuang dalam Al-Quran, yang memetakan dari minus tak hingga masa lalu sampai plus tak hingga masa depan. Pemetaan menyeluruh tersebut dirumuskan menjadi konsep tujuh mawathin (bentuk jamak mauthin) oleh Ibn ‘Arabi1 plus satu konsep mauthin tambahan dari Zamzam AJT (mendahului ketujuh mauthin lainnya yang dirumuskan Ibn ‘Arabi).2

Makna harfiah dari mauthin adalah tempat, tapi Ibn ‘Arabi mendefinisikannya sebagai “alam manusia dalam perjalanannya pada jenjang kehidupannya.” Dimulai dari mauthin awwal—dari Zamzam AJT—yaitu, suatu tempat di masa awal ketika Allah menciptakan nafs, namun belum diatributi apa pun (lihat QS Al-Insan [76]: 1). Apabila secara jasad nasab manusia itu terhubung kepada Adam, maka secara nafs terhubung kepada Nur Muhammadiyyah. Proses penciptaan tersebut apabila diilustrasikan menyerupai sumber cahaya yang memiliki radius cahaya sekian jauh, merentang dari yang paling terang dan terdekat dengan sumber cahaya hingga yang berbatasan dengan kegelapan dan terjauh dari sumber cahaya. Allah menciptakan nafs dari cahaya di segenap radius cahaya tersebut. Dari sini beralih ke tujuh mauthin yang dipaparkan Ibn ‘Arabi.

Dari mauthin awwal beralih ke mauthin syahadah. Di mauthin inilah nafs dipersaksikan ihwal Allah sebagai Rabb-nya dan mendapatkan ‘amr sebagai atribut kedirian, yaitu, misi hidup masing-masing (lihat QS Al-A‘raf [7]: 172). Penyaksian dan ‘amr ini direkam serta disimpan dalam Rûh Al-Quds sehingga harus dicari, ditemukan dan dibuka dalam mauthin dunya. Kemudian beralih ke mauthin rahim. Di mauthin ini, nafs dimasukkan ke dalam jasad beserta peniupan ruh (min rûhi). Jasad merupakan ‘ciptaan baru’—karenanya bukanlah diri manusia sejati—yang menjadi wahana (markab) untuk nafs di mauthin berikutnya, yaitu mauthin dunya. Pertemuan antara nafs dan jasad menghasilkan psikis. Psikis itu tak ubahnya pertemuan lautan (nafs) dengan pantai (jasad) yang menghasilkan bunyi deburan keras. Psikis memiliki sejarah pembentukannya melalui faktor keluarga, sosial dan budaya (psikoanalisis adalah salah satu bidang keilmuan yang menelaah arkeologi psikis ini, meski seringkali bersifat overinterpretasi). Sementara nafs lebih azali ketimbang psikis, dan bukan bentukan.

Ketika terlahir ke mauthin dunya, manusia dianugerahi pendengaran, penglihatan dan fu‘ad (lihat QS An-Nahl [16]: 78). Fu‘ad merupakan bentuk primitif dari lubb. Ketika jasad tumbuh membesar, fu‘ad membentuk pikiran (mind). Selain itu, psikis pun mulai mengkristal menjadi kepribadian. Psikis, secara sederhana, bisa disamakan dengan shadr (dada), namun konsep shadr dalam Islam lebih lengkap ketimbang konsep psikis Barat yang enggan memasukkan unsur-unsur spiritual dan keilahian dalam konsepsinya. Al-Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa shadr itu menyerupai telaga yang menampung sekian banyak mata air, dari mulai ‘air keruh’ beserta kotoran dari sensasi inderawi, pikiran, hasrat, obsesi hingga ‘air mineral’ dari nafs, qalb, atau bahkan rûh. Namun karena teramat derasnya aliran ‘air keruh’ dari mata air lainnya, maka ‘telaga’ shadr tersebut menjadi kotor, hitam, penuh sampah dan hal itulah yang termanifestasi menjadi kepribadian psikis beserta segenap tabiatnya. Namun, tegas Zamzam, bagi yang telah Allah anugrahkan furqan—pembeda antara haqq dan bathil—yang berfungsi menyerupai ‘saringan’, segenap ‘aliran air’ menuju ‘telaga’ shadr akan disaring sehingga hanya unsur haq dari segala sesuatu sajalah yang masuk.

Ketika mati, jasad tidak meneruskan perjalanan ke mauthin barzakh seperti nafs. Di mauthin barzakh ini, nafs melanjutkan ‘perjalanan’ tanpa jasad yang telah terurai menyatu kembali dengan asalnya (yaitu, tanah). Apabila nafs bisa ditimpa azab kubur karena ternodai dosa, maka ruh sudah pasti diterima di sisi-Nya karena ruh tak pernah ternodai oleh dosa dan terkenai segala kelemahan makhluk.3 ‘Perjalanan’ nafs di mauthin barzakh ini merupakan simulasi ulang kehidupan di mauthin dunya, namun dengan berbagai pemanifestasian konkrit segala elemen dalam diri dan kehidupan di mauthin dunya yang tadinya abstrak atau tidak kongkrit, seperti hawa nafsu, syahwat, dosa dan amal buruk yang bermanifestasi menjadi sosok makhluk buruk rupa, atau Al-Quran yang biasa dibaca seorang muslim bermanifestasi menjadi sosok yang rupawan dan menemani nafs dalam ‘perjalanan’ tersebut (sebagaimana disebutkan dalam hadis), dan lain sebagainya.4

Setelah itu, nafs memasuki mauthin mahsyar. Di mauthin ini, nafs dipertemukan kembali dengan jasad yang dulu telah hancur terurai ‘dipeluk bumi’, namun sekalipun bahan baku pembentukannya kembali masih dari ‘tanah’ jasad yang dahulu, kini bentuk lahiriahnya sama sekali berbeda. Apabila di mauthin dunya yang menjadi cetakan jasad adalah aspek ‘kebumian’ kedua orangtua (sehingga anak memiliki aspek keserupaan fisik dengan orangtua dan para leluhurnya), maka di mauthin mahsyar yang menjadi cetakan adalah ‘kondisi’ batin nafs. Itulah sebabnya hadis menggambarkan bahwa di mauthin mahsyar manusia dikumpulkan dalam berbagai bentuk dan keadaan, seperti, perut yang buncit besar, lidah yang panjang terurai hingga tergelar laksana tikar dan terinjak-injak yang lain, hingga jasad-jasad yang menyerupai kompilasi bentuk sekian binatang, dan sebagainya. Sementara nafs yang suci dan bercahaya, maka jasadnya pun akan menjiplak kondisi tersebut.

Kemudian beralih lagi ke mauthin akhirat, yang terbagi menjadi surga dan neraka. Di mauthin ini, nafs dan jasad mendapatkan surga dan nerakanya masing-masing. Surga bagi jasad adalah makan dan minum yang enak, tidur nyenyak, bidadari atau perhiasan mewah, dan kenikmatan material lainnya, sedang surga bagi nafs bukanlah kenikmatan material tersebut, tetapi ‘ilm tentang Allah, al-haqq, berbagai cahaya yang Allah anugerahkan, dan seterusnya. Begitu juga neraka bagi jasad dan nafs.

Terakhir adalah mauthin al-katsîb, atau ‘tempat yang dekat’, merupakan mauthin di pinggiran surga, tempat nafs suci bisa menikmati surga yang tak pernah dicerap indera dan pikiran, yang tak terlintas dalam bayangan, yaitu bertemu dan menatap Allah, sebagaimana diungkap hadis: “Sesungguhnya Allah memiliki surga yang tak ada kenikmatan di dalamnya, selain Allah menampakkan Diri tertawa di dalamnya.”

image6

Bagan Mawathin

 

Dari paparan ihwal mauthin di atas, kita bisa melihat bahwa oknum atau entitas yang selalu ada di semua tahapan mauthin tersebut adalah nafs. Dengan demikian terlihat jelas bahwa diri manusia yang sebenarnya itu adalah nafs, bukan jasad mau pun ruhnya. Namun nafs adalah entitas yang sering dikacaukan dengan pengertian psikologis yang memandangnya sebagai kualitas. Selain itu, nafs pun sering dikacaukan pengertiannya dengan hawa nafsu. Nafs adalah fokus pendidikan Ilahi dan “harus mengembara di muka bumi hingga terbuka kepadanya malakut langit, atau hakikat dari segala yang wujud (khalq) di alam syahadah, dan hakikat dari setiap khalq adalah Al-Haqq.”5 Sejak awal, nafs memang sudah memiliki potensi pengetahuan, yaitu tentang dirinya sendiri. Karena itu, aksioma Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu terbagi menjadi tiga bagian, di mana frasa ‘arafa nafsahu menunjukkan proses sang nafs ketika berusaha memahami pengetahuan yang dikandung dalam dirinya. Frasa ‘arafa Rabbahu menunjukkan proses ketika datang pengetahuan dari Tuhan yang melegalkan (membenarkan maupun menyalahkan) pengetahuan sang diri manusia tentang nafsnya. Sementara kata faqad tidak mesti bermakna serial secara waktu, namun serial secara urutan sebab akibat. Dalam hal ini, Man ‘arafa nafsahu adalah sebab dari ‘arafa Rabbahu. Tuhan berkepentingan terhadap kebenaran proses pengenalan manusia terhadap dirinya, karena manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya, dan sebagai makhluk yang paling ‘mirip’ dengan-Nya, maka diri manusia membawa pengetahuan tentang Tuhan dalam derajat akurasi dan kebenaran tertinggi di seluruh semesta alam. Ma‘rifat merupakan rahmat Tuhan terhadap hamba-Nya yang Dia kehendaki, yaitu rahmat kedua setelah kembali menjadi al-muthaharûn (tingkat kesucian bayi, yang merupakan rahmat pertama). Mengenai hal ini, Ibnu Atha‘illah mengatakannya dalam Al-Hikam:

Ketika terbuka kepadamu wajah pengenalan (ta‘aruf), maka jangan engkau hiraukan amalanmu yang sedikit itu. Sesungguhnya hal ini tidak terbuka bagimu melainkan karena Dia menghendaki pengenalan-Nya atasmu. Tidakkah kau ketahui bahwa sebuah pengenalan itu merupakan pengenalan ihwal Diri-Nya kepadamu, sedangkan amal itu sesuatu yang engkau hadiahkan kepada-Nya. Maka sepadankah antara apa yang engkau berikan kepada-Nya dengan Diri-Nya yang Dia berikan kepadamu?”

Bila dalam proses ‘arafa nafsahu subjeknya adalah jiwa (an-nafs), maka dalam proses ‘arafa Rabbahu subjeknya adalah h Al-Quds. h Al-Quds ini baru akan hadir bila nafs telah sempurna berproses, yaitu telah sampai ke derajat nafs al-muthmainnah. Hadirnya h Al-Quds yang merupakan “utusan-Nya di dalam diri, yang membawa ketetapan-ketetapan hidup (‘amr) si nafs di dunia ini (lihat QS Asy-Syûra [42]: 52, langsung dari bahasa Qur`annya yang mana terdapat kalimah rûh dan ‘amr). h Al-Quds merupakan juru nasihat si nafs dari dalam qalb, dan nafs yang telah diperkuat dengan h ini, selain disebut sebagai an-nafs an-natiqah (jiwa yang berkata-kata disebabkan adanya juru nasehat dari dalam qalbnya), juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainnah. Disebut muthmainnah karena si nafs tersebut telah stabil dalam orbit dirinya (qudrah diri/swadharma), di sini h tadi disebut pula sebagai sakinah (syekinah dalam bahasa Ibrani) yang diturunkan ke dalam qalb yang memperoleh kemenangan (al-fath) ‘amr.”6

Karena itulah kehadiran h Al-Quds sangat terkait dengan amal shalih yang membuat nafs mampu menggunakan kekuatannya (aradh), maupun membuat tubuh mampu untuk menjalankan amal shalihnya, yaitu sesuai dengan kehendak Tuhan. h Al-Quds ibarat sosok Rasul di suatu kaum, di mana kaum itu adalah diri al-mu‘min. h Al-Quds berbeda dengan nafakh rûh atau nyawa, karena h Al-Quds bukanlah wujud fisik sebagaimana nafakh ruh. Dia pun bukanlah aradh, sebab urusan (‘amr) Tuhan mustahil berupa tubuh maupun aradh. h Al-Quds ini bersifat lathifah ‘alimah, yaitu sesuatu yang lembut (tidak bertubuh), memiliki ilmu dan memberikan kepahaman pada diri (nafs) manusia. Karena itu, bila dikaitkan dengan nafs, kehadiran h Al-Quds ini adalah dalam posisi guru, pemberi pemahaman, dan yang mentransfer pengetahuan dari sisi Tuhan, dikarenakan an-nafs hanya mampu mengetahui kekuatan yang ada dalam dirinya saja. Entitas h Al-Quds ini disebut dengan h ‘Amr dalam terminologi Al-Ghazali.

 

Penjabaran Amanah Misi Hidup Menurut Para Sufi

Perkara amanah misi hidup ini sebenarnya juga sudah banyak dipaparkan oleh para sufi—sebagian contohnya akan diperlihatakan di bawah—dan bahkan sudah tertuang pula dalam pembabakan macapat yang akrab bagi orang Jawa sebagai berikut: (1) Mijil, awal kelahiran manusia ke dunia; (2) Sinom, melukiskan masa muda yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan; (3) Maskumambang, masa ketika masih belum memiliki ilmu yang mantap dan terombang ambing; (4) Kinanthi, masa pembentukan dan pencarian jati diri serta menempuh jalan pencarian jati diri tersebut; (5) Asmarandana, masa-masa di rundung asmara; (6) Gambuh, komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga; (6) Pangkur, menyingkirkan syahwat dan hawa nafsu yang melumpuhkan nafs, dan untuk itu diperlukan riyadhah atau “melatih untuk mati sebelum mati”; (7) Dhandhanggula, gambaran dari kehidupan yang serba indah; (8) Durma, ber-dharma dengan menjalankan misi hidup; (8) Megatruh, terpisahnya nyawa (nafakh ruh) dari jasad; (9) Pocung, dibungkus kain mori putih menuju liang lahat; dan (10) Wirangrong, tembang penutup, usailah masa hidup.

Pemaparan semacam itu juga bisa ditemui dalam kitab Gelaran Sasaka Kaislaman karya Haji Hasan Mustapa, sufi dari tatar Pasundan. Kitab tersebut terbagi menjadi 7 bagian, yaitu Islam, Iman, Soleh, Ihsan, Sahadah, Sidikiyah dan Kurbah, yang menggambarkan jenjang status nafs manusia dalam perjalanan menuju Allah. Lima bagian pertama dari kitab tersebut terdiri dari dua kolom berdampingan. Kolom sebelah kiri adalah ajakan atau seruan dari setan (panggoda iblis), sementara kolom sebelah kanan adalah ajakan atau seruan dari Allah SWT (pangjurung kapangeranan). Menjelang akhir bagian Sahadah, kolom sebelah kiri (panggoda iblis) berhenti dengan ucapan “perpisahan” dari setan karena telah gagal menggoda, dan kolom sebelah kanan (pangjurung kapangeranan) terus berlanjut. Pada bagian Sidiq dan Qarib, tidak ada lagi dua kolom yang berdampingan, yang ada hanyalah satu kolom besar yang semata berisi ajakan Allah.

Dalam kitab Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi menjelaskan sebagai berikut: “Dan seseorang berkata, ‘Aku telah melupakan sesuatu.’ Sesungguhnya, hanya satu hal saja di dunia ini yang tidak boleh engkau lupakan. Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi melupakan yang satu itu maka tiada sesuatu pun telah engkau capai. Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim seorang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa. Demikianlah, manusia diutus ke dunia ini untuk suatu tujuan dan sasaran khusus. Jika seseorang tidak mencapai tujuan itu, berarti ia tidak menyelesaikan apa pun… ‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada petala langit dan bumi dan gunung-gunung: dan mereka menolak untuk memikulnya dan gentar kepadanya; tetapi Al-Insan mengambilnya; dan sungguh, ia itu zalim dan bodoh’” (QS Al-Ahzab [33]: 72). Lalu dalam salah satu syair Matsnawi, Rumi kembali menegaskan: “Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.” Dan dalam Rubaiyat F#77, Rumi pun menuliskan sebagai berikut:

 

Bertahun kucoba kukenali diriku, dengan meniru orang lain.

Dari dalam diriku, aku tak tahu harus lakukan apa.

Tak kulihat siapa, kudengar namaku di seru dari luar.

Lalu jiwaku melangkah keluar dari dalam diriku.

 

Ibn ‘Arabi pun pernah menceritakan pertemuannya, ketika masih muda, dengan ‘Abd Allah Al-Khayyath atau Al-Qarraq, sebagai berikut: “Aku berjumpa dengannya di Masjid ‘Udays di Seville ketika dia baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Penampilannya sangat tidak rapi, berwajah kurus, seorang yang suka berpikir, sangat intens dalam ekstase dan kesedihannya. Tidak lama sebelum aku berjumpa dengannya, aku telah menerima inspirasi mengenai Jalan yang tak seorang pun belum mengetahuinya. Karena itu, ketika aku melihatnya di masjid itu, aku ingin tampil sebagai tandingan spiritualnya. Aku memandangnya dan dia balik memandangku serta tersenyum. Aku lalu memberikan isyarat kepadanya dan dia melakukan hal serupa. Kemudian, tiba-tiba saja, aku merasa seperti seorang penipu di hadapannya. Dia berkata kepadaku, ‘Rajin-rajin dan tekunlah, sebab terberkahilah seseorang yang mengetahui untuk apa dia diciptakan.” Pemaparan yang gamblang ihwal tujuan penciptaan manusia yang diamanahi misi hidup ini juga dituangkan oleh Nasir-I Khusrau dalam syair berikut:

 

Kenalilah dirimu

Kalau kau pahami dirimu sendiri,

Kau akan bisa memisahkan yang kotor dari yang suci

Pertama, akrablah dengan dirimu

Kemudian jadilah pembimbing lingkunganmu

Kalau kau kenal dirimu, kau akan mengetahui segalanya

Kalau kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana

Kau tak tahu nilaimu sendiri

Sebab kau tetap begini

Akan kau lihat Tuhan, kalau kau kenal dirimu sendiri

 

Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu

Namun, kasihan, kau tetap membudak pada ragamu

Jangan pusingkan kenikmatan hewani

Kalau kau pencari surgawi

Jadilah manusia sejati

Tinggalkan tidur dan pesta ria

Tempuhlah perjalanan batin seperti pertapa

Apapula tidur dan makan-makan?

Itu semua urusan binatang buas

Dengan ilmu jiwamu bertunas

Jagalah sekarang juga

Sudah berapa lama kau tidur?

 

Pandanglah dirimu sendiri

Kau sesungguhnya luhur

Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang?

Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?

Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemberani

Ada maksud kau dicipta serupa ini

Sungguh malu kalau kau telantarkan maksud penciptaanmu ini.

 

Penutup: Amanah Misi Hidup sebagai Titik Temu Agama-agama dalam Berbagai Kitab Suci

Di atas telah diperlihatkan beberapa contoh pembahasan tentang ma’rifat atau pengenalan diri dan penemuan misi hidup yang Allah amanahkan kepada manusia. Sebagaimana telah diungkap di atas oleh Ali bin Abi Thalib, awal dari Ad-Dîn adalah mengenal Allah, dan mengenal Allah itu dengan mengenal diri sendiri, seperti telah dijelaskan di atas, yang ironisnya, justru hal sepenting ini yang paling sering dilupakan oleh banyak penganut agama—termasuk umat Muslim—yang justru menjadi titik temu dan khazanah esoterik yang masih bisa ditemukan dalam berbagai kitab suci. Zamzam menjelaskan “bahwa dalam kitab-kitab ajaran langit yang dibawa para rasul, siapa pun dia, kapan pun dan di mana pun, terbukti memiliki konsep yang sama, mengisyaratkan turun dari satu sumber yang sama. Mata air (kesatuan) agama-agama dalam konsep dan aspek praktis tentang qadar-qadar langit, kelahiran spiritual, kodrat diri dan misi khalifah, empat perkara yang saling terkait erat tak terpisahkan satu sama lain. Pemahaman yang benar atas empat hal di atas adalah pokok dari pemahaman seseorang tentang arti dari saksi Allah yang benar, tentang pengabdian yang benar, tentang kehidupan sejati dan kebahagiaan hakiki.”7

Lebih jauh lagi, Zamzam menjelaskan: “Di dalam Al-Quran, kunci kebahagiaan hidup sejati dari makhluk, terselubung di belakang kata tasbih. Di balik kata tasbih ini, tersimpan makna berserah diri dan ketundukan yang sebenar-benarnya, makna Islam sejati, sebaik-baik keadaan hamba dalam beragama. Firman Allah, “Bertasbih kepada-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi.” (Al-Hasyr [59]: 24) Tanpa tasbih ini tak ada kehidupan bagi jiwa, sebab jiwa itu hanya dapat hidup dengan memakan kehendak-kehendak Allah. Bertasbihnya makhluk-makhluk Allah itu sesuai dengan bakatnya. Bakat langit dari ikan adalah berenang, bakat langit dari burung adalah terbang. Jika makhluk berjalan di luar bakatnya, berarti kesengsaraan dan kematian…Demikian pula manusia, agar dikatakan hidup, maka ia harus bertasbih menurut bakat langit masing-masing yaitu BEKERJA sesuai dengan bakat langitnya atau sesuai dengan kodratnya, sesuai kuasa yang diberikan Allah kepadanya… Kesamaan arti tasbih inilah yang (salah satunya) menunjukkan bahwa agama-agama langit itu merupakan ranting-ranting suci dari pohon agama universal. Implikasi dari ini adalah: bahwa kebahagiaan itu menjadi universal, dan kesesatan itu juga universal, dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Dosa itu ada pada kesadaran si manusia dan bukan terletak pada batu, simbol-simbol dan papan-papan nama.”8

Demikianlah, hilangnya khazanah tentang amanah misi hidup yang diemban oleh setiap manusia dalam pemahaman kebanyakan pemeluk agama-agama sebenarnya merupakan suatu kehilangan besar yang sangat disayangkan. Namun, ironisnya, sekali pun hal tersebut sangat berharga dan bisa memberi jawaban bagi tujuan penciptaan dan keberadaan manusia di muka bumi ini, tapi justru hal tersebut pula yang sering dipandang tak berharga oleh hasrat manusia (post)modern yang bersikukuh mengikuti obsesi kebebasannya untuk menjadi apa pun, sekali pun bertentangan dengan energi minimalnya, bertentangan dengan jalan yang telah Allah mudahkan baginya karena dia memang diciptakan untuk suatu tujuan khusus bagi setiap individu.[]

Selesai….

Catatan kaki

  1. Zamzam & Tri Boedi., cit., hlm. 7.
  2. Ibn ‘Arabi, Cahaya Penakluk Surga: Sisi Praktis Khalwat di Kalangan para Awliya, 2002, diterjemahkan dari Al-Anwar Fîma Yamnahu Shâhib al-Khalwat min Asrâr, Pustaka Progresif: Surabaya.
  3. Di dalam setiap mauthin terdapat maudhi‘ yang jumlahnya begitu banyak, sehingga akal manusia tidak mampu menangkap seluruhnya. Maudhi‘ itu adalah lokasi atau tempat dari tempat. Misalnya, mauthin saya adalah di Jakarta, maudhi‘ saya adalah di STFD Driyarkara.
  4. Karena itu, tidaklah tepat apabila mendoakan seseorang yang meninggal dengan kata-kata “Semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan”. Selain kata arwah itu adalah bentuk jamak dari ruh sehingga mengisyaratkan seseorang memilik banyak ruh, padahal tidak demikian, juga mengisyaratkan bahwasanya ruh itu bisa tertolak karena berlumur dosa, padahal ruh itu senantiasa suci.
  5. Alamah Quchani, seorang pemuka agama di Iran, menulis sebuah buku pengalaman fana pribadi yang menggambarkan bagaimana dia diperjalankan kembali di mauthin barzakh mulai dari penguburan hingga mengalami simulasi ulang kehidupannya dengan berbagai hal menjadi termanifestasi konkrit, seperti kebodohannya yang maujud menjadi sosok Jahal, hawa nafsu dan syahwat menjadi sosok-sosok hitam mengerikan, petunjuk yang menuntun perjalanan menjadi sosok Hadi, berbagai permasalahan diri yang menghimpit di dunia maujud menjadi penjara, dan seterusnya. Namun, karena sentimen Syiah beliau cukup kuat, maka nuansa sentimen tersebut begitu kuat ‘mewarnai’ gambarannya tentang perjalanan di mauthin barzakh. Lihat Alamah Quchani, Tamasya di Alam Barzakh, 2003, Remaja Rosdakarya: Bandung.
  6. Zamzam & Tri Boedi., cit., hlm. 7.
  7. Zamzam A. J. Tanuwijaya, Mata Air Agama-Agama, makalah presentasi di forum kajian Perhimpunan Islam Paramartha, tanpa tahun, tidak dipublikasikan, hlm. 2.
  8. Ibid.

LAMPIRAN UNTUK ARTIKEL ILMIAH “MATA AIR AGAMA-AGAMA (BAG 1-4)”

I. AL-QUR‘AN:

 Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa-apa yang ada di langit dan di bumi, juga burung-burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh! Masing-masing mengetahui (cara) shalatnya dan tasbihnya, dan Allah mengetahui apa-apa yang mereka kerjakan. (QS An-Nur [24]: 41)

Maka Kami telah berikan pengertian kepada Sulaiman, dan kepada masing-masingnya (Daud dan Sulaiman) Kami berikan hikmah dan ilmu, Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. (QS Al-Anbiya [21]: 79)

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS Al-Isra [17]: 44)

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. (QS Ar-Ra‘d [13]: 13)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS An-Nahl [16]: 68-69)

Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak kamu akan mengetahui (QS Al-Zumar [39]: 39).

Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu (QS Hud [11]: 93).

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka (QS Al-Isra [17]: 13).

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. (QS Al-Shaffat [37]: 96)

Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS Al-Isra [17]: 84).

Dan bagi tiap-tiap manusia telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. (QS Al-Isra [17]: 13)

Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut cara (bakat) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al-Isra [17]: 84)

Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu pagi dan petang. (QS Shad [38]: 17-20)

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai, manusia kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu kurnia yang nyata.” Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Dan apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai, semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”, maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya, Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang shalih.” (QS An-Naml [27]: 16-19)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” (QS An-Nahl [16]: 68-69)

II. Bhagawad Gita (Alih Bahsa dan Penjelasan oleh Prof. Dr. I.B. Mantra)

Bab XVIII no. 41 – 48

O, Arjuna, tugas-tugas itu terbagi menurut sifat dan watak kelahirannya sebagai halnya Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudra

Pembagian empat kelas ini sebenarnya bukan terdapat pada Hindu saja, tetapi bersifat universal. Klasifikasi tergantung dari tipe alam manusia, dari bakat kelahirannya. Tiap-tiap dari empat kelas ini mempunyai karakter tertentu. Ini tidak selalu ditentukan oleh keturunan. Dalam Bhagawad Gita, teori warna diluaskan dan mendalam. Kehidupan manusia di luar, mewujudkan wataknya yang di dalam. Tiap makhluk mempunyai watak kelahirannya, yaitu, swa-bhawa. Dan yang membuat efektif dalam kehidupan adalah kewajibannya, swa-dharma.

Tiap-tiap individu adalah fokus dari Yang Maha Tinggi. Kewajibannya adalah mewujudkan dalam hidupnya kemungkinan kekuatan suci ini. Selama kita melakukan pekerjaan sesuai dengan alam kelahiran kita, maka itu adalah baik dan benar, dan bila itu kita abdikan kepada Tuhan, maka pekerjaan kita menjadi alat penyempurna bagi jiwa. Problem dari kehidupan manusia ini adalah menemukan kebenaran itu dari jiwa kita, kemudian kita hidup menurut kebenaran itu sendiri.

Ada empat tipe dalam garis besarnya dan ini kemudian mengembangkan empat macam kehidupan sosial. Keempat kelas ini tidak ditentukan oleh kelahiran, tetapi berdasarkan karakter jiwa.

Ketenangan, pengendalian diri, keteguhan tapa, kesucian, kesabaran dan keadilan, kebijaksaan dan pengetahuan, dan kepercayaan pada agama, ini adalah kewajiban-kewajiban seorang Brahmana, yang lahir menurut bakatnya (alamnya).

Kepahlawanan, keteguhan, ketetapan hati, kecerdikan, tidak lari dari peperangan, kemurahan hati dan kepemimpinan, ini adalah kewajiban ksatrya yang lahir menurut bakatnya (alamnya).

Pertanian, pemeliharaan ternak dan perdagangan adalah kewajiban-kewajiban dari Waisya yang lahir menurut bakatnya. Pekerjaan yang berkarakter melayani adalah kewajiban dari Sudra yang lahir dari alamnya (bakatnya).

Ingat! berbakti menurut kewajibannya masing-masinglah seseorang bisa mencapai kesempurnaannya. Dengan berbakti pada kewajibannya masing-masing, seseorang mencapai kesempurnaan, dengarkanlah itu!

Dia sebagai asal mula dari semua makhluk dan berada di mana-mana, maka dengan menyembah Dia melalui pelaksanaan kewajiban masing-masing, orang dapat mencapai kesempurnaan.

Lebih baik swa dharma sendiri meskipun kurang sempurna pelaksanaannya, daripada dharma orang lain yang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang itu tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri.

Orang hendaknya jangan melepaskan pekerjaan yang sesuai dengan diri, O Arjuna! Meskipun mungkin ada kurangnya, karena semua usaha diselimuti oleh kekurangan-kekurangan, seperti halnya api oleh asap.

              

Bab III No. 33 – 35

Sebagai orang bijaksana, bergerak menurut alamnya sendiri, maka demikian pula makhluk bergerak mengikuti alam. Apakah gunanya menahan dari hawa nafsu itu?

Ikatan dan keengganan indra terhadap objek-objek yang bersangkutan, adalah sudah pembawaannya. Barang siapa jua pun, janganlah membiarkan jiwa ditarik oleh kedua pertentangan ini, sebab ini adalah dua musuhnya. Tiap-tiap perbuatan kita hendaknya berdasarkan budi atau pengertian dan jangan sampai dikuasai oleh getaran nafsu, yang akhirnya tidak jauh dengan binatang.

Adalah lebih baik dharma sendiri meski ada kekurangan dalam pelaksanaannya, daripada dharma orang lain walaupun baik dalam pelaksanaan. Kalaupun sampai mati, dalam melakukan dharma sendiri adalah lebih baik, sebab menjalankan bukan dharma sendiri adalah berbahaya. Keinginan kita adalah untuk mencapai kesempurnaan hidup. Kita tidak boleh setengah-setengah dalam kewajiban kita.

Haruslah benar-benar di dalam pekerjaan sendiri. Kewajiban adalah swa dharma. Pada penemuan “swa-dharma” sendiri akan terletak kebahagiaan hidup. Pengabdian yang terbesar yang dapat kita lakukan bagi masyarakat, adalah atas dasar penemuan dari swa dharma, kelahiran bakat sendiri. Iiap-tiap orang harus mengerti bakat kelahirannya. Dalam bakat yang sama, tidak semua orang mempunyai keistimewaan. Yang penting adalah, bahwa tiap-tiap orang itu harus sungguh-sungguh dapat mengerjakan tugas yang diamanahkan kepadanya dengan memuaskan. Tiap-tiap orang itu harus menjadi patriot dalam bidangnya masing-masing, baik kecil maupun besar.

 

Bab IV No. 13 – 14

Catur warna Kuciptakan menurut pembagian dari Guna dan Karma (sifat dan pekerjaan). Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah, Aku mengisi gerak dan perubahan.

Pengertian warna adalah menurut pembawaan dan fungsinya. Pembagian menjadi empat adalah berdasarkan kewajiban. Orang dapat mengabdi sebesar mungkin menurut pembawaannya. Di sini ia dapat melaksanakan tugasnya dengan rasa cinta dan keikhlasan, sesuai dengan ajaran Hindu.

Pekerjaan tidak dapat menodai Aku, pun juga Aku tidak terikat dan tidak merindukan hasil-hasil pekerjaan itu. Ia yang mengetahui Aku demikian, maka ia tidak akan terikat oleh hasil pekerjaan. Juga gerak tidak menodai Aku! Yang menggerakkan pelaksanaan semua itu adalah getaran sinar suci, oleh karena itu mengatasi pengaruh dari karma, yang membawa baik dan buruk dalam proses kosmos ini.

 

Bab V No. 25

Orang suci, yang dosanya telah dimusnahkan, kebimbangannya telah dihilangkan, pikirannya telah mencapai keadaan yang tetap dan yang suka melakukan kebaikan kepada semua makhluk, mencapai kebahagiaan dalam Tuhan.

Melakukan kebaikan kepada semua makhluk bukan berarti memberi bantuan keperluan kebutuhan materil, tetapi membantu untuk dapat menemukan alam (bakat) yang sebenarnya (swa dharma) untuk mencapai kebahagiaan abadi. Bhagawad Gita menekankan pada dua segi dari agama, yaitu: pertama, yang sifatnya perseorangan di mana kita harus menemui yang suci di dalam diri kita sendiri. Dan kedua, segi sosialnya di mana masyarakat dikendalikan dengan bayangan dari yang suci.

 

III. Injil Barnabas

Pasal 114, No. 1 – 16

Isa menjawab: “Sebenarnya kukatakan kepadamu bahwa pemilik kebun itu Allah, sedang tukang kebun itu syariatNya.

Maka di sisi Allah, di surga terdapat pokok kurma dan pokok balsan, pokok kurma adalah setan, sedang manusia pertama adalah pokok balsan.

Kemudian diusir-Nya-lah kedua-duanya, karena keduanya tidak menghasilkan buah berupa amal shalih, bahkan keduanya mengucapkan kata-kata yang tidak baik di mana menjadi hukuman atas malaikat dan banyak manusia.

Dan karena Allah telah menempatkan manusia ini di tengah-tengah makhluk-Nya (alam semesta) yang seluruhnya menyembah Dia menurut (sesuai) titah-Nya, maka jika manusia seperti yang telah kukatakan tidak membuahkan sesuatu, maka Allah akan memotongnya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Karena itu Dia tidak memaafkan kepada si Malaikat dan manusia pertama itu, Ia mengutuk si Malaikat untuk selamanya, tetapi kepada si manusia hanya untuk sementara!

Maka berkatalah syariat Allah, bahwa bagi si manusia tersedia bermacam-macam rizki lebih dari semestinya di dalam kehidupan ini.

Dari itu, maka ia harus tahan menerima penderitaan dan menjauhkan diri dari kelezatan duniawi agar ia berbuat amal yang shalih.

Maka atas dasar itulah Allah memberikan kepada manusia ini kesempatan untuk bertaubat.”

Sebenarnya kukatakan kepadamu, “Bahwa Tuhan kita mewajibkan atas manusia untuk bekerja, untuk suatu tujuan seperti yang pernah dikatakan Ayub, Nabi dan kekasih Allah, “Sesungguhnya burung itu dilahirkan untuk terbang, ikan untuk berenang, demikian juga manusia itu dilahirkan untuk bekerja!”

Dan begitu pula Bapak kita Nabi Allah Daud berkata: “Karena apabila kita memakan dari hasil kerja tangan kita sendiri, akan diberkahilah dan menjadi baik bagi kita”

Dari itu kukatakan, bahwa setiap orang itu harus bekerja sesuai dengan bakat masing-masing.

Ketahuilah, bahwa untuk menjadi lebih shalih, maka seorang shalih itu harus dapat membebaskan diri dari kebutuhan.

Karena itu, matahari dan bintang-bintang yang lain itu menjadi kuat dengan perintah-perintah Allah, sehingga mereka tidak dapat berbuat selain perintah itu, maka tiadalah bagi mereka itu suatu kelebihan.

 

Pasal 114, No. 116

Seperti Ayub berkata: “Bahwa manusia itu dilahirkan untuk bekerja”

Dan atas dasar itulah, maka yang bukan tergolong dari jenis manusialah yang bebas dari seruan itu.

Maka andaikata mereka itu mau bekerja, sebagian bertani, sebagian memancing ikan di air, niscaya dunia ini berada dalam kelebihan yang besar.

Maka kekurangan-kekurangan itu akan diperhitungkan di hari pembalasan yang dahsyat kelak!

 

Pasal 59, No. 7 – 15

Ketika itu Petrus berkata kepada Isa as: “Ya, guru, sungguh keadilan Allah itu besar dan engkau pada hari ini telah menjadi iba hati karena uraian-uraian itu…

dari sebab itu, kami memohon kepadamu untuk beristirahat, dan besok beritahulah kami tentang benda apa yang menyerupai neraka”

Isa menjawab: “Ya, Petrus, engkau mengatakan kepadaku untuk beristirahat, sedang engkau ya, Petrus tidak mengetahui apa yang kau katakan, jika engkau paham niscaya engkau tidak bicara yang demikian itu.

Sesungguhnya kukatakan kepadamu, bahwa istirahat di alam ini adalah racunnya takwa dan api yang membakar segala kebaikan.

Lupakah kamu bahwa betapa Nabi Allah Sulaiman dan seluruh Nabi-nabi telah mengecam kemalasan.

Benar seperti apa yang dikatakan bahwa “Si pemalas itu tidak bercocok tanam (di musim dingin) karena takut dingin, sehingga ia mengemis di musim panas”

Dari itu ia berkata: “apa yang bisa dikerjakan dengan tangan, maka kerjakanlah tanpa istirahat”

Dan apa yang diucapkan Ayub sebakti-bakti khalil Allah itu: “Sebagaimana burung itu dilahirkan untuk terbang, begitu juga manusia dilahirkan untuk beramal”

“Sebenarnya kukatakan kepadamu, bahwa aku membenci istirahat itu, lebih dari segala sesuatu”

 

Pasal 83, No. 9 – 12

Di saat itu berkata Isa: “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui bahwa makanan yang hakiki itu adalah mengamalkan kehendak Allah.

Karena bukanlah roti yang memberi makan manusia dan memberinya hidup, tetapi sebenarnya kalimat Allah dan kehendakNya.

Oleh karena itu, para Malaikat yang suci itu tidak makan, tetapi mereka hidup dengan cara memakan kehendak-Nya.

Dan begitu pula Kami, Musa, Ilyas dan seorang lagi, pernah tinggal selama 40 hari 40 malam tanpa satu makanan pun!”

 

IV. PERJANJIAN LAMA

Ulangan 8: 2 – 6

Ingatlah, 40 tahun Allah Tuhanmu memimpinmu (Musa as) dalam perjalanan yang amat jauh, melintasi padang gurun. Tujuan perjalanan itu merupakan ujian bagimu, agar Allah dapat melihat apa-apa yang terkandung dalam hatimu dan apakah kamu mentaati perintah-perintah-Nya. Ia membiarkanmu kelaparan, lalu kamu diberi-Nya manna sebagai makanan, sedang kamu dan leluhurmu tak pernah memakan makanan itu sebelumnya.

Tuhan berbuat begitu untuk mengajar kamu, bahwa manusia itu sebenarnya tidak hidup dari makanan, melainkan dari segala sesuatu yang dikatakan Tuhan.

Selama 40 tahun ini pakaianmu tidak menjadi usang dan kakimu tidak menjadi bengkak.

Ingatlah Allah Tuhanmu mengajari kamu seperti seorang ayah mengajari anaknya.

Jadi, lakukanlah segala yang diperintahkan Allah kepadamu. Hiduplah menurut hukum-hukumNya dan hormatilah Dia.

 

Mazmur 128: 2

Berbahagialah orang yang takwa dan hidup sesuai perintah (kehendak) Allah. Engkau makan dari hasil kerjamu dan hidup makmur sejahtera.

 

Yehezkiel 36: 26

Aku akan karuniakan kepadamu hati yang baru, dan ruh yang baru pun akan Kukaruniakan ke dalam batinmu, dan hati batu itu akan Kukeluarkan dari dalam tubuhmu dan hati daging pun akan Kukaruniakan kepadamu.

 

Kejadian 41: 16 – 46

Oleh Ruhul Kudus ia (Yusuf as) dapat menafsirkan mimpi Raja dengan tepat dan karena Ruhul Kudus ia menjadi wazir Negeri Mesir.

 

Keluaran 31: 1 – 6

Dari Ruhul Kudus mereka (Bezaliel dan Aholiab) menerima hikmat dan kepandaian dalam segala pekerjaan tangan untuk mengerjakan segala alat Tabernakel sesuai dengan kehendak Allah.

 

Bilangan 11: 16 – 17, 25

Musa as dapat memimpin bangsa Israil dengan luar biasa karena Ruhul Kudus ada di dalam dia.

 

Bilangan 27: 18 – 23

Yusa terpilih untuk menggantikan Musa karena Ruh Kudus ada di dalam diri Yusha. Atas perintah Allah Musa menumpangkan tangannya di atas dia dan melantik dia sebagai penggantinya di hadapan Imam besar Eliazar.

 

Hakim-hakim 6: 34; 8: 28; 7: 1 – 25

Ruh Kudus datang di atas Gideon, sehingga ia dapat melepaskan bangsa Israil dari serangan tentara Midian dan membawa perdamaian 40 tahun.

Dengan hanya 300 serdadu ia dapat mengalahkan seluruh tentara Midian dan Amalek.

 

Hakim-hakim 3: 9 – 10

Otniel dapat melepaskan bangsa Israil dari musuh mereka dan memerintah 40 tahun lamanya dengan damai karena Ruh Kudus ada di atasnya.

 

Samuel I 10: 1, 6; K.R. 13: 21

Ruh Kudus datang di atas Thalut sehingga ia diubah menjadi orang lain. Dengan ketetapan Allah ia dilantik (oleh Samuel as; ref.: QS 2: 246-251) menjadi raja bangsa Israil yang pertama dan memerintah 40 tahun lamanya.

 

Samuel I 16: 13; Mazmur 51: 13 – 14

Daud diurapi oleh Samuel untuk menjadi Raja atas bangsa Israil menggantikan Thalut. Mulai hari itu Ruh Kudus ada di dalam hidupnya, dan dengan kuasa dan hikmat Allah ia memimpin bangsanya selama 40 tahun dalam kemajuan.

 

Keluaran 18: 21 – 22; Bilangan 11: 17, 25 – 29

Tujuh puluh orang Israil (ref.: QS 7: 154-155) dipilih untuk membantu Musa, harus menerima Ruh Kudus terlebih dahulu, sebelum mereka menjalankan tugasnya.

 

Bilangan 11: 25; K.R. 19: 6

Ketika Ruh Kudus turun di atas mereka, maka mereka bernubuwah. Itulah tanda bagi mereka akan kehadiran Ruh Kudus di dalam diri mereka. Dengan Ruh Kudus mereka berani melayani sebagai pembantu Musa.

 

Kejadian 39: 2, 21, 23

Ruhul Kudus menyertai dia (Yusuf as), sehingga ia sabar dalam segala ujian dan penderitaan. Dan dengan Ruh Kudus ia dapat menerangkan mimpi penghulu penjawat minuman Istana Fir’aun itu.

 

Keluaran 3: 12 – 14; 4: 1 – 12, 21

Ia seorang nabi yang luar biasa, karena Ruh Kudus menyertai dia (Musa as) sepanjang hidup dan pelayanannya. Ia meninggal pada usia 120 tahun sesudah ia melayani selama 40 tahun. Dikatakan bahwa pada hari ia meletakkan hidupnya “matanya belum kabur dan kuatnya pun belum hilang” ia Nabi terbesar karena “Allah mengenal dia wajah dengan wajah”. Dengan kuasa Ruh Kudus ia berbuat perkara-perkara yang hebat dan besar-besar di hadapan segenap bangsa Israil.

 

Daniel 4: 8, 18; 6: 4

Ia (Beltsazar) dapat menafsirkan mimpi raja Nebukanedzar, karena Ruhul Kudus ada di dalam dia.

 

V.  PERJANJIAN BARU

Lukas 1: 35; Matius 1: 18, 20

Ruh Kudus turun di atasnya, menaungi dia (Maryam binti Imran) sehingga ia hamil karena Ruh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus.

 

Lukas 1: 41

Ketika Maryam memberi salam kepadanya (Elizabeth isteri Zakaria as), maka bayi (Yahya as) yang ada di dalam kandungan Elizabeth meronta dari Allah suka citanya, dan ia (Yahya as) pun penuh dengan Ruh Kudus.

 

Lukas 1: 13, 67 – 69

Sesudah Yahya si Pembaptis lahir dan diberi nama sesuai petunjuk Malaikat Tuhan (ref.: QS 3: 39; 19: 7; 19: 12), maka ia penuh dengan Ruh Kudus dan bernubuwah.

 

Lukas 1: 15 -17

Ia (Yahya as) akan menjadi seorang yang besar dalam pandangan Tuhan, ia tidak akan minum anggur dan minuman keras. Sejak lahir akan dikuasai Ruh Allah (Ruh Kudus). Banyak orang Israil akan dibimbingnya kembali (bertaubat) kepada Allah, Tuhan mereka. Ia (Yahya as) akan menjadi utusan Allah yang kuat dan berkuasa seperti Elia (Ilyas as).

 

Lukas 1: 67

Zakariya, ayah dari anak itu (Yahya) dikuasai oleh Roh Allah sehingga ia dapat menyampaikan pesan Allah.

 

Yohanes 3: 3

Yesus (Isa as) menjawab: “Percayalah, tak seorang pun dapat menjadi anggota umat Allah, kalau ia tidak dilahirkan kembali.

 

Yohanes 3: 5 – 7

Yesus (Isa as) menjawab: “Sungguh benar ucapanku ini, kalau orang tidak dilahirkan dari air dan dari Ruh Allah (Ruhul Kudus), orang itu tidak dapat menjadi anggota umat Allah. Manusia secara jasmani dilahirkan oleh orang tua, tetapi secara ruhani dilahirkan oleh Roh Allah (Ruh Kudus). Jangan heran kalau aku katakan kepadamu sekalian, bahwa kalian semua harus dilahirkan kembali.

 

Yohanes 3: 34

Sebab (kata Isa as) orang yang diutus Allah menyampaikan kata-kata (firman) Allah, karena Ruh Allah (Ruh Kudus) sudah diberikan kepadanya sepenuhnya.

 

Yohanes 14: 15 – 17

Kalau kalian mengasihi aku (Isa as), kalian akan melaksanakan perintah-perintahku. Aku akan minta kepada Allah, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong lain, yang akan tinggal bersama kalian selamanya. Dia itu Roh Allah (Kuasa Allah, Ruh Kudus) yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah. Dunia tak dapat menerima dia, karena tidak dapat melihat atau mengenalnya. Tetapi kalian mengenal dia (Ruh Allah), karena ia tinggal bersama kalian dan akan bersatu dengan kalian.

 

Yohanes 14: 24 – 26

Orang yang tidak mencintai aku (Isa as), tidak akan melaksanakan ajaranku. Ajaran-ajaran yang kalian dengar itu bukan dari aku melainkan dari Allah yang mengutus aku. Semua (ajaran) itu, aku sampaikan kepadamu selama aku masih bersama kalian. Tetapi Roh Allah, penolong yang akan diutus Allah atas namaku, dialah yang akan mengajar kalian tentang segala sesuatu, dan mengingatkan kalian akan semua yang sudah kuberitakan kepadamu.

 

Yohanes 16: 13 – 14

Kalau Roh Allah (Ruh Kudus) itu datang, yaitu dia yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbingnya untuk mengenal seluruh kebenaran. Ia (Ruh Kudus) tidak akan berbicara dari dirimu sendiri tetapi mengatakan apa-apa yang sudah didengarnya dariNya, dan ia akan memberitahukan kepadamu apa-apa yang akan terjadi di kelak kemudian hari.

 

2 Timotius 1: 7

Allah mengaruniai kita bukannya dengan suatu ruh yang penakut, melainkan ruh kuasa dan kasih dan memerintahkan diri.

 

1 Korintus 6: 19

Tidakkah kamu tahu bahwa tubuhmu itu rumah Ruhul Kudus yang diam di dalam dirimu itu, yang telah kamu peroleh dari Allah, dan bukan milikmu sendiri ?

 

Yohanes 15: 1 – 13

Yesus (Isa as) berkata: “Aku adalah pohon anggur sejati dan Tuhanku tukang kebunnya, dan setiap cabang yang berbuah dikurangi daunnya dan dibersihkan olehNya supaya lebih banyak lagi buahnya. Kalian sudah bersih ! karena ajaran yang kuberikan kepadamu. Tetaplah bersatu denganku dan aku pun akan tetap bersatu dengan kalian. Cabang itu sendiri tak dapat berbuah kecuali jika tetap bersatu dengan pohonnya. Demikian juga kalian, hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan aku. Akulah pohon anggur dan kalian adalah cabang-cabangnya. Orang yang tetap bersatu dengan aku dan aku dengan dia, akan berbuah banyak ! sebab tanpa aku, kalian tak dapat berbuat apa-apa. Orang yang tidak tetap bersatu dengan aku, akan dipotong dan dibuang seperti cabang, lalu menjadi kering. Cabang-cabang yang seperti itu akan dikumpulkan dan dibuang ke dalam api, lalu dibakar. Apabila kalian tetap bersatu dengan aku dan ajaran-ajaranku tetap tinggal dalam hatimu, mintalah kepada Tuhan apa saja yang kalian mau, niscaya permintaanmu akan dipenuhiNya. Kalau kalian berbuah banyak, maka Tuhanku akan diAgungkan dan dengan demikian kalian betul-betul menjadi pengikutku. Seperti Tuhan mengasihi aku, demikianlah aku mengasihi kalian. Hendaklah kalian senantiasa menjadi orang yang kukasihi. Kalau kalian mentaatiku berarti kalian tetap setia kepada kasihku, sama seperti aku tetap setia kepada kasih Tuhanku, karena aku mentaati-Nya.

The following two tabs change content below.

Alfathri Adlin

Lahir di Padang Panjang, 4 Oktober 1973. Sekarang bekerja sebagai Manajer Redaksi Pustaka Matahari. Pernah menjadi Editor Pelaksana Penerbit Jalasutra. Telah menerbitkan beberapa buku di antaranya: Antologi FSK ITB “Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multiperspektif”, penerbit Jalasutra 2006. Antologi FSK “Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas”, penerbit Jalasutra, 2007. Antologi FSK “Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer”, penerbit Jalasutra, 2007.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *