Akankah Eksistensi Manusia Dapat Tergantikan oleh Kecerdasan Buatan?

Perkembangan zaman akan terus berubah. Begitu juga dengan kecanggihan teknologi, yang perlahan menjadi hal pokok dalam kehidupan manusia. Perkembangan ini lambat laun akan diterima oleh masyarakat. Semakin tinggi zaman maka akan semakin tinggi pula teknologi itu berkembang. Kita masuk pada tahap di mana teknologi ini sudah membumi. Robot-robot buatan manusia seakan-akan menguasai bumi. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan ini suatu tema umum yang mudah dijumpai pada buku-buku atau film-film fiksi beraliran ilmiah.

Setiap kelompok manusia mengembangkan cara-cara untuk mengamati dirinya sendiri. Dengan mencatat berbagai kegiatan ia bermaksud mengatur dirinya demi kebahagiaannya dikemudian hari. Banyak suku bangsa yang masih menyimpan sejarah nenek moyang mereka berupa silsilah. Itu dijadikan dasar baik untuk menelusuri hubungan keluarga maupun untuk menghindari terjadinya incest. Negeri Cina terkenal dengan banyak catatan tentang dinasti kaisar-kaisar di zaman kuno, termasuk di dalamnya sejarah perkembangan masyarakat. Semua itu dipakai untuk mendasari pemujaan para leluhur.

Masyarakat di negara-negara industri maju memelihara segala macam statistik, agar segala kegiatannya dapat dilakukan dengan mudah. Lagi pula dengan itu dimungkinkan pengaturan masyarakat selanjutnya akan lebih baik. Jadi melalui usaha pengamatan diri dapat diusahakan kontinuitas dipakai untuk mendasari perencanaan masa depan secara bertanggungjawab.

Pada zaman ini teknologi semakin canggih dan terdepan. Di mana orang-orang berlomba membuat suatu teknologi canggih yang akan membantu pekerjaan manusia. Akan tetapi, banyak di antara teknologi tersebut yang membuat eksistensi manusia tergantikan. Contohnya adalah robot-robot kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia. Di layar kaca kecerdasan buatan pertama kali ditayangkan pada film The Thousand One A Space Odyssey pada tahun 1968, di mana terdapat kecerasan buatan bernama haw.

Yang mendesak yang sering muncul pada film tersebut adalah kecerdasan buatan yang mencapai kesadaran diri berubah menjadi jahat yang akhirnya berusaha untuk menghancurkan umat manusia. Beberapa tahun terakhir tokoh-tokoh terbesar di bidang sains dan teknologi seperti Stephen Hawking menyampaikan kekhawatirannya tentang perkembangan kecerdasan buatan ini. Dengan perkembangan teknologi dan sains yang begitu pesat terutama pada bidang neuronsains, ilmu yang mempelajari tentang cara otak kita bekerja, mereka percaya di masa depan akan ada kecerdasan buatan yang akan mampu mencapai tingkat kemampuan yang sama atau bahkan melebihi manusia.

Lalu berbagai pertanyaan muncul. Akankah pemberontakan di film-film fiksi tentang pemberontakan robot akan terjadi di dunia nyata? Akankah kita benar-benar mampu membuat sesuatu yang lebih cerdas dari manusia sendiri? Apakah kita mampu mengembangkan sesuatu yang lebih cerdas dari kita? Lampu merah, komputer, mesin-mesin di pabrik, aplikasi yang ada di handphone kita semuanya dikendalikan oleh program komputer. Barisan-barisan kode yang merupakan perintah atau aturan kerja. Bentuk fisik kecerdasan buatan adalah barisan –barisan kode komputer, bedanya terletak pada kemampuannya untuk belajar.

Proses kecerdasan buatan mirip dengan cara kerja berfikir manusia. Bedanya pola-polanya akan disimpan di kode matematika yang sederhana seperti neuron pada otak kita. Model matematika ini disebut sebagai Artificial Neural Network belajar dengan mengamati pola-pola informasi diberikan padanya.

Pada saat ini manusia sangat bergantung pada sistem kecerdasan buatan ini di berbagi sektor kehidupan. Kecerdasan buatan satu tingkat di atas AI disebut Artificial General Intelligence atau Strong AI yaitu kecerdasan buatan kuat. Kecerdasaan buatan ini mampu berfikir dan bertindak layaknya manusia.

Lalu apakah yang akan terjadi jika ada kecerdasan buatan yang melebihi kecerdasan manusia? Tanpa disadari adanya kecerdasan buatan ini dapat mengambil alih peran manusia dalam sektor manapun. Robot-robot yang bekerja akan mengalahkan tenaga manusia. Semua pertanyaan akan muncul mengenai kecerdasan buatan ini. akankah robot-robot yang memberontak di film fiksi akan terjadi di dunia nyata. Para peneliti pun masih meneliti hal tersebut.

Kecerdasan buatan ini mampu diterima oleh sebagian orang dalam kehidupan, namun banyak juga yang berpandangan akan kehadiran kecerdasan buatan ini yang mau tidak mau akan mengaantikan eksistensi manusia. Manusia-manusia akan lebih condong ada kecerdasan buatan ini. Bisa jadi suatu saat manusia tidak lagi berguna dikarenakan tergantikan oleh robot-robot yang memiliki kecerdasan melebihi manusia itu sendiri. Kecerdasan buatan ini nantinya akan membantu pekerjaan umat manusia. hal-hal negatif tentu saja bermunculan dengan hadirnya kecerdasan buatan ini. seperti kita ketahui dalam film-film fiksi ilmiah di mana para robot akan menguasai dunia dikarenakan kecerdasan mereka.

Bisa dipahami bahwa kecerdasan buatan ini mampu berfikir layaknya manusia itu sendiri. Sehingga orang-orang yang merasa kurang dalam ilmu pengetahuan akan tersingkirkan dengan hadirnya kecerdasan tersebut. semakin tingginya zaman eksistensi manusia akan terus dipertanyakan. Akankah kecerdasan manusia itu sendiri mampu dikalahkan oleh kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia itu sendiri ataukah akan kalah dengan kecerdasan buatan yang sewaktu-waktu akan merajalela?

 

Ilustrasi: https://smallbusiness.co.uk/artificial-intelligence-talent-2538609/

The following two tabs change content below.

Farah Athifah Fardhany

Latest posts by Farah Athifah Fardhany (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *