Aku pun Terisak Seperti Ayah Arun Gandhi

Anak adalah permata yang tak ternilai harganya. Kesadaran itu yang selamanya akan tertanam dalam batin sejak awal kehadiran mereka di muka bumi. Setiap yang berhati nurani akan membenarkan anggapan ini. Walaupun dalam kenyataannya banyak yang mengingkarinya. Kasus-kasus kekerasan terhadap mereka bercerita dengan jujur, bagaimana ulah bejat manusia-manusia yang berstatus ibu dan bapak. Seolah kekerasan adalah satu-satunya alat komunikasi yang mangkus.

Entah ada hubungannya atau tidak, antara buku-buku yang saya baca dengan tokoh pergerakan India, Mahatma Gandhi, yang masyhur dengan  ajarannya, ahimsa. Saya selalu memilih jalan-jalan damai, persuasif, tetapi tegas dalam berinteraksi dengan orang lain. Prinsip  yang saya berlakukan pula pada anak-anak. Rasanya tidak tega memarahi anak-anak, kecuali mereka kelewatan kurang ajarnya. Yang mana sesungguhnya kemarahan itu saya tujukan kepada orangtuanya. Kenapa melakukan pembiaran  terhadap perilaku anak-anaknya.

Efek dari sikap saya terhadap mereka, anak-anak di rumah mudah menangkap sinyal-sinyal kemarahan atau ketidaksetujuan saya terhadap sesuatu. Saya ingin mereka tumbuh dengan tingkat kepekaan yang tinggi terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga tidak perlu adu vokal atau adu otot untuk mempertahankan pendapat atau menggolkan keinginan masing-masing.

Hingga di suatu waktu, ada kejadian yang seolah meruntuhkan upaya yang selama ini kami lakukan dalam membesarkan mereka. Saat saya berbicara dengan anak kami yang nomor tiga, dia sementara memainkan game yang ada di ponselnya. Matanya lurus tertuju pada benda yang ada di tangannya. Tidak berhenti bermain apalagi menoleh ke arah sumber suara. Perasaan marah, kesal, kecewa bercampur jadi satu. Saya berbalik meninggalkan ruangan sambil membanting pintu kamar. Suaranya cukup keras, tetapi ia masih mengira bantingan itu karena dorongan angin yang sesekali berperan meringankan pekerjaan menutup pintu.

Selama berjam-jam saya memilih bungkam sebagai sinyal protes terhadap sikapnya barusan. Hingga kemudian saya memulai berbicara dengannya. Mempertanyakan sikapnya yang seolah tidak menghargai orangtua yang sementara berbicara. Ia membela diri mengatakan kalau sudah menjawab pertanyaan saya saat itu. Saya menukasnya, bahwa bagaimanapun anak harus menghentikan kegiatannya yang tidak terlalu penting saat  berbicara dengan orangtua. Saya kembalikan ia pada jalur peraturan yang sudah sama-sama kita sepakati selama ini. Karena bagi saya tindakan pembiaran yang remeh sekali pun dapat berdampak pada pengabaian pada skala besar nantinya.

Keesokan paginya suasana rumah yang sunyi dan tenang membawaku pada perenungan diri yang panjang. Apakah saya telah gagal mendidik mereka? Tanpa terasa air mata yang cukup lama tertahan akhirnya tumpah juga. Sebagaimana ayah Arun Gandhi yang mendapati anaknya telah berbohong, memilih menghukum dirinya dengan berjalan kaki selama lima setengah jam sebagai sebuah aksi penebusan rasa bersalahnya.

Inilah kisah lengkapnya.

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

 

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

 

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata “Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya.

 

Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!Dengan gelisah ayah menanyai saya “Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong.

 

Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

 

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

 

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin.

 

Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua “bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. “Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan “bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam “bibit” perilaku dan sikap itu.

 

Artikel ini milik sekolahSuper[dot]com. Silakan disebarkan dengan tetap mencantumkan sumbernya.

 

Arun yang bernama lengkap Dr. Arun Manilal Gandhi merupakan cucu kelima dari Mohandas K. Gandhi, atau yang biasa kita kenal dengan nama Mahatma Gandhi. Seandainya tindakan ayahnya berkebalikan dengan kisah yang terjadi, tentu kesan dan perasaan yang tertanam dalam dirinya akan berbeda. Bisa jadi ia masih mengulang kebohongan yang sama di kesempatan lain.

Sore menjelang Magrib, anak saya pulang dari sekolah. Hal pertama yang ia lakukan, mendatangi saya dan meminta maaf atas kejadian kemarin. Kami berpelukan cukup lama seperti biasa.

 

 

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *