Anakronisme Sejarah: Bapak yang Terlupakan

Dentuman diskusi didedahkan di sebuah warung kopi, Jl. Wr Monginsidi Mamuju. Panitia menugasi mengulas referensi seputar pemikiran Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka

***

Saya memulai dengan ulasan bahwa, Tan Malaka adalah orang pertama yang  menulis secara utuh konsep Republik Indonesia. Oleh Moehammad Yamin digelari bapak Republik, sedang Sukarno, menyebutnya seorang yang mahir dalam revolusi. Tetapi ia dilupakan begitu saja. Namanya tak pernah muncul dalam sejarah arus utama, kecuali dengan embel-embel pekai, pemberontak, kominis tak bertuhan dan sederet hal-hal buruk lainnya.

Tak sekedar dilupakan, Tan Malaka, juga berakhir tragis di ujung senapan tentara angkatan darat Negara Republik yang didirikannya. Orde baru (Orba) melabur hitam perannya dalam sejarah perjuangan pergerakan rakyat Indonesia, melawan penjajah.

Namun, harus diakui di mata anak muda, terutama yang melek sejarah, Tan Malaka mempunyai daya tarik yang tak biasa. Karena itu, momentum hari Sumpah Pemuda dijadikan sebagai ajang untuk menelaah kembali pemikiran Tan Malaka dalam konteks kekinian.

Diskusi menghadirkan lima orang narasumber, empat orang di antaranya adalah aktivis KNPI yang digadang-gadang akan “berseteru” dalam kongres memerebutkan kursi ketua. Penulis seorang yang bukan dari KNPI. Dengan melihat peserta dari banyak kampus yang mayoritas bukan orang KNPI, penulis berarti wakil dari mayoritas peserta (simpulan pribadi).

Pejabat utama organisasi pemuda yang lahir dari kelompok Cipayung, 23 Juli 1973 binaan Golkar itu, juga tampak hadir dari kabupaten hingga provinsi. Penulis yang dalam undangan disebut sebagai penggerak literasi, harus memerbaiki posisi duduk. Sepertinya akan terjadi perang gagasan dan malulah sang penyuka literasi jika sampai tak bisa bertahan (pikiran sendiri).

Diskusi lebih banyak mengulas gerilya Tan Malaka dari satu tempat ke tempat lain, termasuk perannya ketika menjadi guru pada sekolah yang didirikan Sarekat Islam (SI), ketika itu dipimpin Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Seseorang menyela di tengah kerumunan peserta, “Jika diskusi terbuka ini dihelat di masa Orba, para pelaku suda pasti digiring ke jeruji besi.”

Memang, di masa Orba, menggali pemikiran dan langkah-langkah politik Tan Malaka, nyaris sama dengan membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan dalam senyap dan berbisik. Sosok mereka adalah wajah dari pekai yang merupakan musuh abadi Orba.

Sebenarnya, Tan, memang pernah menjadi ketua pekai, 1921, menggantikan Semaun. Namun, pada 1926, Tan, keluar dari pekai dan 1927 bersama kawan-kawan seperjuangannya, memproklamirkan Partai Republik Indonesia (PARI), di Bangkok.

Sejak saat itu, dalam perjalanan hidupnya, Tan berseberangan dengan pekai hingga pada 7 November 1948, Tan mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak); setahun sebelum kematiannya.

Testamen politik Soekarno kepada Tan, berupa surat wasiat yang berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan apabila Soekarno dan Hatta mati atau ditangkap. Wasiat itu berbunyi “Jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka”. Meski pada akhirnya Soekarno, sendiri yang membakar testamen tersebut.

Olehnya, patut ditelisik secara kritis bahwa setelah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada Tahun 63 oleh Soekarno, lalu kemudian pada rezin Soeharto, Tan, dihilangkan dari daftar pahlawan nasional. Itu tidak terlepas dari anggapan, Tan, sebagai pekai.

Peristiwa 26-27 dan 48-65

Dalam historiografi nasional yang resmi dan dominan sejak masa Orba, di situ diulas pemberontakan pekai pada akhir tahun 1926 sampai awal 1927 dan peristiwa Madiun 1948 serta gerakan 30 September 1965.

Dalam nalar struktur naratif historiografi resmi, hal itu bisa dipahami dengan mudah, bahwa yang dihadapi pekai pada 1948 dan 1965 adalah pemerintah Republik Indonesia, maka apa yang dilakukan pekai itu secara gampang bisa dilabeli sebagai tindakan makar sehingga layak dipandang sebagai musuh bangsa.

Tetapi, yang dilakukan pekai pada 1926-1927, itu berbeda sebab yang ditantang pekai ketika itu adalah pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam wacana sejarah resmi yang nasionalistis, atau nasionalisme anti kolonial, siapa pun yang pernah melawan atau memberontak terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda dan apa pun motifnya, akan dilabeli sebagai pahlawan.

Rumitnya, melabeli para tokoh pekai dalam pemberontakan 1926-1927 sebagai pahlawan, jelas akan mengurangi bahkan membalik gambaran tentang mereka sebagai pengkhianat.

Sebaliknya, menyamaratakan apa yang pekai lakukan pada 1926-1927 dengan apa yang mereka lakukan pada 1948 dan 1965, jelas merupakan suatu bentuk anakronisme sejarah.

Harus digarisbawahi, bahwa Tan, sama sekali tidak terlibat dalam pristiwa Madiun 1948. Lebih-lebih gerakan 30 September 1965, sebab Tan telah wafat, di tahun 1949. Bahkan partai Murba yang didirikannya dalam berbagai peristiwa selalu berseberangan dengan partai kominis.

Yang dilakukan Tan pada tahun 1948 adalah menentang diplomasi dengan penjajah Belanda. Prinsipnya begitu teguh untuk tidak berdiploasi dengan kaum penjajah, demi cita-cita utamanya yakni kemerdekaan Indonesia seratur persen.

Maka meski dengan konsekuensi diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika dan Jepang, di 11 Negara, Tan, tetap menolak perundingan dengan kaum penjajah.

Menurutnya, jika bangsa Indonesia telah merdeka seratus persen sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk itu, perundingan baru bisa dilakukan jika Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia seratus persen.

Penulis berkesimpulan, bahwa kebodohan rezim Orba-lah yang menghapus nama Tan, dari pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah dan juga kebodohan Orba yang menuduh Tan, terlibat dalam beberapa kali pemberontakan.

Seluruh referensi sejarah baik, teks sejarah keluaran pusat sejarah TNI AD dan teks sejarah terbitan lembaga sejarah pekai, menyebutkan bahwa Tan, menolak pemberontakan pekai 1926-1927 dan Tan, sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948.

Melalui diskusi pada malam yang memertautkan gagasan para aktivis pemuda dan mahasiswa dari berbagai kampus, penulis mengultuskan semangat Tan Malaka, sebagai spirit perjuangan pemuda Indonesia.

Karena itu, semangat perjuangan Tan, harus selalu dieja, jika tidak maka dua tiga generasi mendatang akan segera melupakan sosoknya yang heroik.

Walhasil, diskusi itu menyimpulkan bahwa Tan Malaka meninggalkan sesuatu yang masih sangat relevan dengan kondisi kekinian, sesuatu yang masih harus dipelajari terus menerus.

Jika Yesus wafat meninggalkan Injil dan Muhammad Rasulullah Saw wafat meninggalkan al-Quran, maka Tan Malaka wafat meninggalkan Madilog (materialisme dialektika dan logika), sebuah pisau analisis untuk mebedah persoalan kebangsaan dan kemanusiaan


sumber gambar

The following two tabs change content below.

Jasman Al Mandary

Pustakawan di Lentera Manakkara.

Latest posts by Jasman Al Mandary (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *