Antara Demigod dan Yunani : Percy Jackson

Bagaimana jika ternyata kita bukan manusia biasa? Setengah dewa misalnya. Mungkin kalimat “tidak percaya” merupakan kalimat pertama yang terucap. Bagaimana mungkin ada manusia setengah dewa? Itulah yang dirasakan oleh Percy Jackson, karakter utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Percy Jackson: The Lightning Thief. Seorang anak yang kehidupannya seperti manusia biasa pada umumnya. Bahkan jauh lebih buruk. Percy selalu membuat masalah di sekolah sehingga dia masuk ke asrama Akademi Yancy, sekolah swasta untuk anak bermasalah di New York Utara. Masalahnya adalah dia tidak bermaksud untuk bermasalah. Itu bukan kesalahannya meski memang itu adalah kesalahan dari dirinya. Bertahun-tahun dia harus melewati harinya dengan menyandang status anak paling bermasalah. Bahkan terkadang dia tak dapat membaca. Hal ini dikarenakan dia menderita disleksia. Usut punya usut, ternyata semua kejadian itu berakar oleh sebuah fakta. Fakta bahwa Percy adalah Demigod, sebutan bagi manusia setengah dewa. Setelah melalui berbagai macam kejadian yang menegangkan, ia akhirnya masuk ke perkemahan musim panas yang berisi anak sepertinya. Namun bukan itu pula permasalahan utamanya. Ia telah dituduh mencuri petir asali milik Dewa Zeus. Hal ini membuat Percy dan kawan-kawannya mesti mengembalikan barang yang bahkan membayangkannya pun tak pernah. Pengalaman-pengalaman baru kian menanti Percy serta kawan-kawannya. Menegangkan mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan pengalaman Percy. Buku ini merupakan buku pertama dari lima serial Percy Jackson and The Olympians. Setiap seri bukunya akan mengantarkan kita ke puncak permasalahan yang terdapat di buku terakhir, dan setiap serinya akan menyajikan berbagai peristiwa serta fakta menarik. Pengalaman-pengalaman serta pengetahuan baru mengenai Yunani Kuno disajikan begitu apik setiap seri bukunya. Hal inilah yang membuat saya terus membaca hingga buku terakhir dari serial Percy Jackson and The Olympians. Rasa penasaran terus menerus menggerogoti tubuh saya. Satu hal saya suka dalam buku ini adalah gaya bahasa sang penulis, Rick Riordan. Gaya bahasanya sebagai sudut pandang orang pertama benar-benar membuat kita merasakan apa yang dirasakan oleh Percy. Selain itu, Rick Riordan juga mendeskripsikan segala hal secara rinci sehingga kita mesti beradu dengan imajinasi sendiri. Penggambaran dewa-dewi Yunani Kuno yang begitu deskriptif membuat saya berpikir bahwa mereka benar-benar ada. Sungguh mendetail. Bahkan watak mereka pun digambarkan dengan sangat baik olehnya. Di dalam buku ini, disediakan berbagai macam peristiwa di luar nalar kita. Selain itu, protagonis dan antagonis dalam buku ini terkadang tidak jelas, tapi kadang pula disebut secara gamblang. Sehingga alurnya begitu mengalir dan begitu nyata. Tidak dibuat-buat dan dipaksakan. Pendapat saya mengenai isi buku ini hanya dua kata. Luar biasa! Dengan membaca buku ini saya mengetahui semua hal yang berbau Yunani dan Romawi Kuno. Terkadang saat sedang membaca, saya mesti menyediakan smartphone untuk siap mencari kata-kata baru dan berbau Yunani, atau sekadar mencari gambar sesuatu. Dengan begitu saya bisa lebih menghayati buku ini dan memahami apa yang dimaksud oleh penulis. Akan tetapi hal itu dapat menjadi kekurangan buku ini. Begitu banyak kata-kata yang berbau Yunani yang tidak saya ketahui. Mungkin untuk kasus saya, akan terselesaikan dengan bantuan dari mesin pencarian. Namun bagaimana dengan orang lain, mungkin saja mereka terlalu malas untuk mencari arti kata tersebut, sehingga mereka memakai prinsip “nanti juga paham” yang membuat mereka membaca buku ini tanpa mengerti arti kata tersebut. Hal ini dapat mengurangi keapikan buku ini, karena saya merasa kita mesti memahami setiap butir kalimatnya agar dapat menghayati cerita yang disajikan oleh sang penulis. Jadi saya sangat merekomendasikan smartphone selalu siap sedia jika buku ini sedang di baca agar lebih memudahkan untuk mencari kata-kata baru. Setelah sukses besar dengan bukunya, akhirnya Percy Jackson: The Lightning Thief diangkat ke layar lebar. Awalnya saya sangat antusias. Membayangkan bagaimana keseruan filmnya. Saya pun sempat teringat oleh seri buku Harry Potter yang diangkat ke layar lebar, buku dan filmnya benar-benar membuat mind blowing (luar bisa, red). Namun sayangnya saya mesti menerima kenyataan pahit. Film yang disajikan benar-benar membuat saya kecewa. Dari editannya mungkin sudah memenuhi standar. Namun, apa yang saya imajinasikan pada bukunya begitu berbanding terbalik. Mungkin hal ini bukan kesalahan dari pembuat filmnya. Namun tetap saja saya merasa kecewa. Selain itu penggambaran tokoh Percy Jackson sebagai anak berusia 12 tahun diperankan oleh Logan Lerman. Dan jelas Logan Lerman bukan anak berusia 12 tahun, atau sekitar 12 tahun. Inilah salah satu kekecewaan terbesar saya. Penggambaran Percy Jackson sebagai seorang anak 12 tahun tidak digambarkan dengan baik. Padahal penokohan peran utama merupakan sesuatu yang sakral, dan sutradaranya tidak mengindahkan hal ini. Akan tetapi, meski filmnya tidak sesuai dengan harapan saya, saya masih tetap menyukai buku ini. Buku ini merupakan buku favorit saya. Dan saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian yang ingin mengetahui hal-hal mengenai mitologi Yunani Kuno dengan cara yang menyenangkan. Selain itu, buku ini merupakan buku wajib bagi kalian yang menyukai genre fantasy.

The following two tabs change content below.

Saffana Mustafani

Saffana Mustafani, mahasiswa Psikologi UNM.

Latest posts by Saffana Mustafani (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *