Apa Ada Relasi antara Puasa dengan Keheningan?

Menurut Ibn Arabi, salah satu makna dari hakikat puasa adalah ‘meninggalkan’ atau ‘tidak melakukan’. Tidak melakukan makan dan tidak melakukan minum serta tidak melakukan hal-hal yang tidak diridhai oleh Ilahi saat seseorang sedang menjalani ibadah puasa. Berdasarkan hal ini, Ibn Arabi menyimpulkan, sebenarnya puasa itu bukan ‘melakukan’ (amal) namun meninggalkan atau ‘tidak melakukan’ (bukan amal).

Jadi tak heran jika Ibn Arabi menyimpulkan bahwa perbuatan ‘tidak makan’ dan ‘tidak minum’ adalah perbuatan Ilahi, bukan perbuatan hamba. Dan dari sini kita bisa memahami maksud hadits, “puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan menebusnya”.

Seseorang yang sedang berpuasa sebenarnya sedang menutup mulutnya dari makan dan minum. Namun apa sebenarnya maksud dari menutup mulut? Apakah Tuhan sedang mengajarkan pada hambanya suatu maqam keheningan? Jika demikian berarti ada hubungan antara puasa dengan keheningan.

Lalu apa makna keheningan dan bagaimana menggambarkan keheningan?

Keheningan adalah warisan kuno manusia  dan kemanusiaan kita. Amat disayangkan karena manusia moderen sudah mulai meninggalkan warisan tersebut. Manusia kini memberikan keriuhan tanpa makna. Dan hanya menawarkan keributan yang brutal tanpa akhir. Sementara pada saat yang sama, keheningan mampu memberikan faedah yang luar biasa dalam perkembangan ruhaniah seseorang.

Keheningan senantiasa mengajak manusia agar senantiasa bisa bersama dengan dirinya sendiri. Karena di saat hening manusia bisa menengok kembali eksistensi dirinya dan mampu menemukan kesejatian dirinya. Kondisi tersebut mampu memberikan makrifat dan kesadaran bagi manusia agar tidak terjebak dalam kelalaian atas dirinya.

Jika kesadaran atas kesejatian diri tidak tercipta, maka dunia luar akan mengendalikan kesadaran eksistensi kita. Ditambah lagi dunia luar telah berhasil masuk ke rumah-rumah kita melalui dunia digital. Hampir tak ditemukan lagi ruang keheningan yang paling diam kecuali di dalam keheningan batin jiwa kita sendiri.

Syarat utama agar manusia mampu mendengarkan, berpikir, dan berkontemplasi secara jernih dan mendalam agar mampu melihat ke dalam diri adalah dengan memiliki ketenangan pikiran, keheningan, dan diam.

Namun sebagaimana yang kita pahami, ada tiga jenis keheningan: keheningan dengan menutup mulut, keheningan pikiran, dan keheningan berkeinginan. Keheningan mulut bukan hal yang mudah. Keheningan pikiran lebih sulit lagi. Dan paling sulit adalah keheningan dalam berkeinginan.

Keheningan mulut di era digital tentu lebih sulit sebab kita sudah terlanjur mengkloning mulut kita di media sosial. Postingan-postingan kita adalah bentuk perpanjangan dari mulut kita. Begitu pula dengan keheningan pikiran, tentu akan terasa lebih sulit mengontrol pikiran dan imajinasi kita. Dan keheningan berkeinginan berada di tingkat kerumitan yang lebih dalam dan paling sulit. Sebab hampir dipastikan kita tak pernah lepas dari beragam bentuk keinginan.

Berdasarkan atas uraian sebelumnya, kita dapat memahami hubungan puasa dengan keheningan. Makna hakikat dan batin puasa adalah untuk sampai kepada makna yang paling sejati akan keheningan yaitu keheningan dalam beragam keinginan.

Melalui puasa kita mencoba untuk menghindar dari berbagai keinginan. Lari dari berbagai keinginan yang membuat aspek ruhaniah kita menjadi lemah. Menjauhi keinginan yang membuat ego kita semakin besar dan menjadi-jadi. Dan pada akhirnya, keheningan berkeinginan akan mendekatkan kita pada satu makna kematian yaitu ‘mati sebelum mati’.

Kata Maulana Rumi:

Dengarkanlah!

Tutup mulutmu!

dan jadilah diam seperti cangkang keras,

karena lidahmu adalah musuh bagi jiwa, temanku!

Ketika bibir tak bersuara, Hati memiliki ratusan lidah.

 

Maulana Rumi ingin menegaskan bahwa Tuhan senantiasa dan terus menerus memberikan Ilham kepada manusia. Meski demikian namun betapa sedikit yang mampu mendengarkannya.

Mungkin karena kita begitu banyak mendengar suara keindahan yang ada di lur sana sehingga kita tidak bisa mendengarkan suara Ilahi yang ada di dalam diri kita sendiri. Padahal Tuhan senantiasa berbicara kepada jiwa kita.

Orang-orang yang benar-benar berpuasa selayaknya banyak diam dan memperhatikan makanannya agar ia mampu mendengarkan ilham-ilham Ilahi.

Karena jika seseorang ingin mendengar suara yang datang dari kejauhan, tak ada jalan lain kecuali ia mesti diam dan tidak berbicara.

Seseorang perlu mendiamkan luar agar suara kebisingan di dalam hati lebih jelas terdengar. Mendiamkan luar adalah tidak mengaktifkan fakultas indrawi agar terdengarkan suara dari dalam jiwa.

Apalagi fakultas internal manusia lebih banyak daripada fakultas eksternal. Akal, nafs, hati, ruh, sir, khafi, dan akhfa adalah fakultas internal manusia. Namun kita lebih asyik diluar sehingga tak memperhatikan fakultas atau potensi di dalam diri. Jadi, ketika bibir tak bersuara, Hati memiliki ratusan lidah.

Benar kata Meister Eckhart, “sesuatu yang paling menyerupai Tuhan adalah keheningan”.

 

 

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *