Arisan Buku, Yuk!

 

Arisan dan motifnya

Term arisan, sudah tidak asing di telinga kita. Bahkan sudah sangat lumrah dijumpai dalam masyarakat. Mulai kalangan bawah, menengah hingga atas. Berbagai jenis arisan, yang lazim dilakukan, baik arisan uang secara langsung maupun arisan berupa barang.

Motif pembentukan kelompok arisan pun bermacam-macam. Untuk menambah keakraban dan tetap menjaga silaturahim antar keluarga, maka dibentuklah arisan keluarga. Menjaga komunikasi dan solidaritas sesama alumnus suatu sekolah, terbentuklah arisan alumnus. Alumnus sekolah ini, sekolah itu, angkatan tahun sekian dan sekian. Di kelompok-kelompok pengajian, sesama pegawai, buruh, guru, pelajar, mahasiswa dan sebagainya.

Motif lainnya adalah secara langsung maupun tidak langsung, membantu pemenuhan dan atau keinginan anggota arisan. Baik dalam skala kecil maupun besar.

Jumlah uang arisan pun bertingkat-tingkat. Mulai dari puluhan ribu, ratusan hingga jutaan. Bahkan ada yang mengawalinya dengan arisan nominal seribu, dua ribu. Hingga berlanjut dalam jumlah yang besar.

 

Buku dan masyarakat literasi

Bagi masyarakat modern, ilmu pengetahuan adalah sebuah kebutuhan primer, kebutuhan utama yang bisa disandingkan dengan sandang, pangan dan papan. Dan instrumen penyuplai ilmu pengetahuan, dapat diperoleh dengan banyak membaca buku. Sehingga tidak mengherankan, jika masyarakat modern, ciri utamanya adalah melek literasi, atau suka membaca. Membaca bagi mereka, sudah menjadi budaya yang selalu dipertahankan.

Sementara, bagi masyarakat yang masih tahap berkembang, menjadikan buku sebagai kebutuhan yang nomor kesekian. Tak jarang menjadi nomor paling buntut, diantara daftar kebutuhan dan keinginan yang musti terpenuhi. Jika tidak ingin mengatakannya, tidak ada dalam daftar kebutuhan.

Semakin tinggi pendidikan seseorang atau masyarakat, semakin tinggi pula perhatiannya pada membaca. Sebaliknya, rendahnya pendidikan masyarakat, kebutuhan akan literatur juga sangat rendah. Padahal ilmu pengetahuan tersimpul dalam buku-buku atau literatur-literatur yang tersebar.

Salah satu faktor penyebab masyarakat kita rendah minat bacanya adalah, persebaran buku/bahan bacaan yang tidak merata. Buku bertumpuk di kota. Sementara di desa nyaris tanpa buku.

Edukasi pada masyarakat tentang pentingnya membaca, membeli dan memiliki buku, juga sangat kurang. Bahkan lembaga pendidikan formal sekalipun, kegiatan belajarnya yang bersentuhan dengan buku, sebagian hanya formalitas. Hal ini bisa dilihat dari pengelolaan perpustakaan yang konvensional. Tak jarang buku di rak-rak tersusun rapi, tak pernah tersentuh. Lebih disukai oleh rayap atau anai.

Tinggi atau mahalnya harga buku, juga menjadi pemicu masyarakat, jarang membeli buku. Meskipun alasan ini, terbantahkan dengan kecenderungan masyarakat untuk lebih mengutamakan membeli pakaian, perabot rumah, assesoris dan gadget. Padahal harganya jauh lebih mahal.

Komitmen menyisihkan sebagian uang untuk dibelanjakan pada kebutuhan literatur juga masih setengah-setengah. Apalagi penghasilan memang pas-pasan, maka belanja buku tidak pernah masuk dalam daftar menu belanja.

 

Arisan buku, salah satu alternatif

Arisan uang, atau barang yang bentuknya perabot rumah tangga, sudah sangat lazim. Tetapi arisan buku masih sangat jarang dibincangkan. Sekaligus bisa jadi alternatif solusi mengatasi ketidakmampuan membeli buku atau mengunjungi perpustakaan. Yang terpenting, teman sesama kelompok arisan, juga memiliki minat akan membaca dan kecintaan pada buku.

Sebagai langkah awal, tidak perlu membentuk kelompok arisan yang beranggotakan banyak orang, cukup 10-15 orang saja. Hal ini untuk memudahkan perputaran uang arisan tidak berlangsung terlalu lama. Hanya 3-4 bulan. Pun uang arisan tidak tinggi, seperti kelompok arisan pada umumnya, puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Cukup 20.000 saja untuk undian persepuluh hari. Artinya, dalam satu hari kita cukup menyisihkan Rp.2000.

Jika anggota arisan berjumlah 10 orang, maka akan terkumpul uang sebanyak 200.000 setiap kali undian. Pun standar buku yang akan dibeli dari arisan ini, 50.000-100.000. Selebihnya, bisa digunakan untuk kebutuhan lain oleh yang undiannya naik.

Ketika masa undian arisan tiba, bisa diselipkan diskusi atau bedah buku, dari buku yang telah dibeli oleh yang naik arisannya sebelumnya.

Buku hasil pembelian arisan ini, bisa dikonsumsi/dibaca bergiliran oleh anggota arisan yang lainnya. Tetapi hak kepemilikannya tetap bagi yang undiannya muncul. Hal ini pun bisa menjadi pemantik lahirnya perpustakaan komunitas.

Dengan bergabung dalam kelompok arusan buku, bukan berarti akan membatasi seseorang untuk membeli buku selain yang dibeli pada kelompok arisannya. Tetapi bisa sekaligus membantu yang lainnya untuk juga bisa mencintai dan berkomitmen menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli buku.

Cara ini pernah diterapkan oleh sekelompok mahasiswa yang membentuk arisan buku, guna mengatasi keterbatasan buku referensi yang menjadi rujukannya saat kuliah. Langkah ini cukup efektif. Selain mendapatkan literatur yang dibutuhkan, juga bisa saling membantu sesama mahasiswa.

 

Ilustrasi: Nabila Az-Zahra

 

 

The following two tabs change content below.

Ahmad Rusaidi

Guru SMAN 9 Takalar. Pegiat literasi di Sudut Baca al Syifa Ereng-Ereng Bantaeng dan Komunitas Pena Hijau Takalar.

Latest posts by Ahmad Rusaidi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *