Para Penggenggam Arit

Sekelompok manusia berarak menuju sebidang tanah di kaki bukit, turun dari rumah dengan sarung terikat di pinggang. Mereka menggenggam arit, separuhnya lagi berjalan sambil memikul cangkul dengan kaki ringkih telanjang.

Pagi itu cuaca cerah, petani di perbatasan Seko dan Kalumpang itu, akan memanen padi setelah tiga bulanan menunggu. Pada hamparan sawah mereka padi-padi itu tertunduk sempurna, menguning dengan bulir yang padat meski ditanam di musim tak tentu.

Demikianlah adanya padi di kaki Bukit Sandapang. Orang-orang sekitar memang tak pernah berpatokan pada musim hujan atau kemarau saat hendak menanam. Lebih-lebih tak mau terjebak dalam rumus para penyuluh pemerintah yang mereka anggap tak memahami konsep pertanian secara baik. Mereka lebih teguh memegang tradisi purba dengan berpatokan pada batu pare. Batu dalam bahasa Kalumpang berarti sebuah batu, sedangkan pare berarti padi.

Batu Pare, adalah sebuah batu besar dengan permukaan datar yang dahulu terletak di tengah kampung Kalumpang. Batu tersebut ditemukan melalui mimpi oleh Tobara (sebutan untuk kepala adat Kalumpang) bernama Kondo Biro. Konon di atas batu itu, Kondo Biro, menemukan tiga orang anak yang lalu menjelma menjadi tiga bulir padi dan saban tahun tumbuh secara misterius di atas batu pare.

Sampai saat ini, setiap tahunnya tiga bulir padi tersebut tumbuh dan menghasilkan tiga tangkai padi. Warga Kalumpang menjadikan itu sebagai penanda. Jika padi di atas batu itu subur, maka hasil pertanian mereka akan subur demikian juga jika hampa atau dimakan hama. Kini tempat itu dikenal dengan nama Desa Batu Pare, di pedalaman sungai Karama.

Dan pagi itu penduduk desa warisan Kondo Biro, tengah bersuka cita. Wajah-wajah mereka semringah menegadah ke langit, tanaman pangan mereka menghadirkan sejuk di hati. Bagaimana pun itulah benteng terakhir pertahanan keluarga untuk memenuhi asupan konsumsi rumah tangga. Sementara tanaman kakao sudah lama tak bisa diharapkan sejak tersentuh program gerakan nasional (GerNas). Seringkali memang apa yang subur di tangan masyarakat akan meranggas jika disentuh program-program pemerintah yang konyol.

Di saat-saat ketika padi menguning itulah kekerabatan tertaut rapat.  Warga desa ramai-ramai mengeroyok petak-petak sawah secara bergiliran dari satu empu ke empu yang lain. Yang memiliki sawah lebih luas, biasanya memanggil kerabat yang tinggal di kampung sebelah untuk massoppong (memanen padi sawah dengan memotong dibagian pertengahan batang, menggunakan arit).  Nanti, sang kerabat bakal kebagian beras.

Karena tradisi massoppong itulah sehingga warga sekitar berkarib dengan arit, demikian akrabnya bahkan memotong bambu yang jamak memakai parang, pun, mereka lebih sering memakai arit.

Untunglah mereka hidup di era terbuka, ketika pemerintahan menganut sistem demokrasi walaupun setengah hati. Setidaknya, mereka tak lantas diciduk, dimatikan atau setidak-tidaknya dipenjara tanpa proses pengadilan.

Di masa jauh ketika Orba masih bercokol, arit adalah penanda seseorang itu kominis atau setidak-tidaknya simpatisan pekai. Memiliki arit berarti bersiap menyusul ke lubang buaya, dimiskinkan, dibantai tanpa rasa bersalah. Sementara para pembantainya diapuk sebagai penyelamat. Singkat kata, darahnya dihalalkan dan nyawanya jadi incaran. Para pembantainya mendapat pahala karena dianggap menyelamatkan umat dari pengaruh kaum-kaum tak bertuhan.

Semua demi menyokong asumsi bahwa kominis cukup massif di tanah pertiwi dan jenderal angkatan darat yang berhasil membasminya adalah sosok yang layak menyandang sebutan founding fathers yang memiliki hak atas sebahagian atau seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia, sepanjang waktu yang dia inginkan dan bahkan boleh diwariskan pada generasinya.

Padahal dari seberang sana, ada penyaksi yang mengatakan pemerintah kala itu kerap mengirim arit, cangkul dan bibit pada petani di desa-desa yang jauh dari pusat. Sebulan kemudian, dikirimkan sepasukan tentara angkatan darat untuk menangkapi mereka dengan tuduhan pekai. Mereka dianggap berkomplot dengan kominis melalui giat yang disebut Turba (Turun Kebawah). Mereka dituduh sebagai tempat di mana pekai pernah melakukan Turba.

Dalam sebuah perbincagan ringan dengan salah seorang Tobara, ia menyebutkan, Kalumpang adalah salah dua daerah yang kerap dituding sebagai tempat persembunyian sebagian tahanan politik dan pengasingan narapidana politik yang tertuduh sebagai pekai, di gugusan Celebes, ini.

Bahwa areal persawahan di kaki bukit itu telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Hingga 73 tahun Indonesia merdeka, tak banyak yang berubah. Infrastruktur jalan masih setapak, sistem pertanian masih dengan cara-cara purba tanpa sentuhan teknologi. Sawah dibajak dengan cangkul dan dipanen dengan arit.

Padahal itu penyanggah utama kebutuhan beras warga Kalumpang. Masih terlalu sempit, sehingga antara panen, warga masih tetap membeli beras. Sebenarnya, potensi persawahan sangat luas, bisa sampai ratusan hektar. Kesuburan tanahnya juga tak diragukan. Penduduk sebanyak 1.110 jiwa juga adalah pembajak tangguh.

Tetapi begitulah, seluruh keterbelakangan itu tak kering dari tudingan-tudingan, masih kerap dikait-kaitkan dengan isu masa lampau, tentang tapol, tentang napol dan para tokoh yang dicap sebagai pembelot.


sumber gambar: youtube.com

The following two tabs change content below.

Jasman Al Mandary

Pustakawan di Lentera Manakkara.

Latest posts by Jasman Al Mandary (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *