Semua tulisan dari Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Muasal Jagung, dari Milho ke Milu

Perjalananku kali ini melintasi negeri nyiur melambai ditemani gerimis hujan sore hari. Senja hanya nampak sebagian karena sebagiannya sedang bertirai gerimis. Suasananya sedikit romantis, perpaduan gerimis hujan dan senja memerah saga. Dalam suasana seperti itu, kenangku berkelebat jauh ke masa-masa kala masih kanak di Kota Makassar. Waktu itu, kondisi negeri ini sedang tak berdaya, daya beli masyarakat sedang anjlok hingga ke titik nadir. Antrian panjang untuk mendapatkan beberapa bahan pokok seperti minyak tanah, beras, dll., itu kita dapati di mana-mana khususnya di sekitar mukimku di sebuah pasar tua di Makassar. read more

Beribu Cinta Untukmu

Menyambut maulid Nabi

 Bak kulihat cahayamu di matahari menerangi semesta. Membasuh wajah-wajah lugu bersahaja hingga melek hidup, membasuh batin-batin letih para pencari cinta ke ruang dan waktu tak berbatas. Membasuh laku kasar penduduk sahara menuai santun. Semesta mewujud cinta dari perangaimu yang indah. Engkau hadir di remah hidup kaum tak berpunya, mengasihi mereka yang memusuhimu.

Menyelimuti cinta dan kasih semesta dan paradaban. Para penyair tak habis kalimat mengukir keindahanmu. Pena-pena para cerdik pandai tak hentinya menggores kebajikan yang engkau jejakkan. Jadi, bila mencintaimu dengan beragam ekspresi budaya, merindukanmu dengan berbagai laku yang kami jejakkan, lalu kami dituduh berlaku bid’ah dhalalah, tak mengapa,  sebab semuanya hanya sezarra ekspresi cinta kami dari gundukan semesta ini. read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan makhluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more

Sedekah Ilmu

Pagi bergegas nampakkan mentari menyinari semesta. burung-burung terbang ke sana ke mari berpindah dari dahan ke dahan yang merimbuni jalan-jalan menuju sebuah kampung. Bersama beberapa rekan kerja kami beramai-ramai menuju sebuah sekolah dasar di sebuah kampung di kaki gunung. Semesta kampung di kaki gunung itu seolah menyambut kami dengan riang gembira dan suka cita. bersama tim dari perusahaan tempat kami mengais nafkah akan mengajar di sekolah tersebut dengan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang telah disepakati oleh semua unsur sekolah, dari kepala sekolah hingga para siswa, dan perangkat pemerintahan desa hingga kecamatan. Kawan-kawan membilangkannya program “sedekah ilmu”. read more

Sahabat

Seorang perempuan muda cantik dilamar oleh seorang lelaki muda untuk dijadikan istri pada sebuah momentum yang romantis. Namun perempuan itu menolak dengan alasan yang tak diduga oleh lelaki muda gagah Sang Pelamar itu. Padahal mereka berdua telah saling mengenal sudah cukup lama, walaupun pengungkapan isi hati prihal kesukaannya pada perempuan muda cantik itu baru pertama kalinya di momen yang menurutnya indah dan pas untuk menyampaikan rasa suka dan langsung melamarnya. Alasan penolakan perempuan itu cuma satu, bahwa selama beberapa tahun mereka akrab dan berteman hanya menganggapnya sebagai sahabat saja. read more

Pak Ishak, Tralala, dan Bunga-Bunga

Makassar pada suatu hari, ketika aku usai bertamasya di gerai toko buku di bilangan mall Panakukang, aku beranjak bergeser ke sebuah kedai kopi hendak membaca buku yang baru saja kubeli. Menurutku itu adalah cara terbaik menunggu isteriku yang tengah membawa dua anakku ke sebuah praktik dokter yang tak terlampau jauh dari tempat ngopi yang kupilih. Aku belum menikmati kopi di sore hari ini.

“Kopi Kalosi Toraja, pak?” ujar seorang barista yang rupanya telah mengenaliku berikut pesanananku. Saban hari bila aku mengunjungi kedai kopi ini, aku selalu kepincut dengan racikan kopi Kalosi dan Toraja. Entah berapa lama aku larut dalam “Just After Sunset”-nya Stephen King, mengalun lagu dari Aiza Segulerra. Aku berusaha mengingat judul lagunya tapi kulupa. Kuteruskan bacaanku… read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan mahluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikkan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more

Profesional

Belum cukup sebulan aku dimutasi oleh kantorku mangais nafkah dari kantor di Bolaang Mongondow ke salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo. Kabutpaen yang masih beririsan dengan garis bentang katulistiwa di Sulawesi Tengah yang sangat khas udaranya menyengat sehingga beberapa kawan sejawat menyebutnya negeri api, daerah yang memiliki matahari dua saking panas dan gerahnya. Hampir-hampir aku tak tahan gerahnya dalam proses adaptasi yang telah berlangsung hampir sebulan. Apatah lagi aku memulai puasa di bulan Ramadan tahun ini. Lambat laun ujian-ujian yang cukup berat bisa kulalui dengan sabar yang juga karena berkenaan dengan Ramadan yang salah satu pesannya adalah menghimbau kita untuk meningkatkan kesabaran. read more

Pejuang Literasi Itu Telah Pulang

In Memorian, Bapak Hernowo Hasim Bin Thoyyib.

Bulan Ramadan tahun ini beberapa orang yang kukenal mangkat meninggalkan dunia fana ini, pulang ke rumah keabadian yang niscaya. Satu diantaranya adalah seorang penulis yang gigih mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis, Hernowo Hasim bin Thoyyib. Beliau telah menulis puluhan buku yang mayoritas tentang motivasi membaca dan menulis. Buku-bukunya yang best seller di antaranya, Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, dan yang terakhir Free Writing. Dari konsep mengikat makna, beliau terinspirasi oleh kata-kata Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” read more

Bahagia dengan Puasa

Hari sudah mulai ditinggal terangnya cahaya sudah mulai meredup, senja mulai menyambangi kampung di atas bukit tempatku berdomisili dan bekerja mangais nafkah jauh dari keluarga. Ramadan tahun ini adalah Ramadan tahun ketiga aku menjalani puasa di kampung sejuk ini. di kampung ini perusahaan membangun masjid dan gereja dengan ukuran masing-masing mungil terbuat dari kayu atau bangunan khas Minahasa Sulawesi Utara yang terbuat dari kayu cempaka yang endemik Sulawesi utara. Walaupun masjid dan gerejanya tetap mengikuti desain dan arsitektur lazimnya masjid dan gereja di Indonesia. read more