Semua tulisan dari Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Potret Ayah

Ayah menyambangiku di sebuah malam sepi senyap. Ia datang dengan wajah ringis selimuti rupanya yang rupawan hingga tampak kusut. Tak seperti biasanya, ayahku selalu datang menyambangiku dengan tersenyum tanpa kata hanya rona wajah dan gesture tubuhnya yang ceria dan senang.

Aku masih tercenung di beranda rumah panggung adikku di kampung moyangku jauh dari hiruk pikuk kota. Kehadiran ayah menyambangiku dengan wajah dan gesture tubuh yang kurang menyenangkan membuatku galau terbagun tengah malam dan tak bisa lelap lagi. read more

Butta Toa Butta Literasi (Memantik semangat dari Desa Labbo)

Tentu bagi sebagagian besar pegiat literasi sangat familiar dengan kisah Jhon Wood yang hidup di abad ini. kisah hidupnya yang sangat menginspirasi dan menggerakkan banyak orang di planet Bumi ini. Tersebutlah seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun dengan posisi mentereng di sebuah perusahaan yang mentereng pula. Dialah Jhon Wood, yang posisi terakhirnya di Microsof sebagai salah satu Direktur untuk wilayah Asia Pasifik yang berkantor di pusat keriuhan Kota Hongkong.

Kala suatu waktu di tahun 1998, dia mengambil cuti tahunannya dan berlibur ke sebuah desa terpencil di Himalaya yang akhirnya mengubah jalan hidupnya dengan sangat ekstrim. Dari pengembaraanya saat liburan itu, Ia menemui beberapa guru dan mengunjungi beberpa sekolah, menyaksikan sekolah-sekolah yang tidak memiliki buku. Dari situlah bermula perubahan itu. Setelah pulang dari berlibur Ia mengirim e-mail ke teman-temannya secara terbatas meminta buku-buku bekas untuk disumbangkan ke sekolah-sekolah di daerah terpencil yang telah dikunjunginya itu. read more

Tikus-tikus di Jendela Kantor

Senja nan indah telah jauh meninggalkan hamparan bumi berganti malam jelang ranum. Bulan dan bintang-bintang seolah semringah berbagi senyum pada semesta dan penghuni bumi. Di bulan jelang purnama tampak La Sakka menyusuri trotoar yang dinaungi rerimbun pohon trembessi. Dengan langkah pelan menunduk, sesekali Ia sebar pandangnya ke berbagai penjuru depan, kiri dan kanan. Di celah daun-daun pohon yang Ia lewati cahaya bulan dan lampu-lampu jalan berebut menerpa tubuhnya dan La Sakka menikmatinya sebagai sebuah keindahan yang dinikmatinya gratis. read more

Perempuan Penunggu Perahu

Kecipak air berlarian seiring deru mesin jolloro yang saling bersahutan. Burung-burung pipit berkejaran dari ranting ke ranting di pohon-pohon bakau nan hijau memadati sungai Pute. Di salah satu pojok arusnya sebuah pondok kecil berbahan kayu dan gemecah dan sepotong dermaga mungil terbuat dari kayu ulin peninggalan suaminya. Di antaranya itulah, Daeng Cinnong saban hari menghabiskan waktunya menunggu perahu-perahu yang lalu lalang berharap ada salah satu atau lebih yang mampir berbagi senyumnya dan membeli penganan yang dijajakannya, gogoso kambu dan telur asin dipagi hari dan cendol di siang harinya. read more

Jangan Bakar Rumahmu dan Puisi-puisi Lainnya

Jangan Bakar Rumahmu

Kemarin kita sua di kerumunan bangsa-bangsa
kata mereka, negeri kita dihuni bangsa penolong
tak bisa diam melihat orang-orang dalam duka lara
Kita pun semringah dan senang dengan puja puji itu
setiap terkirim berita duka cita doa dan upaya pun gegas

Tapi, ada yang aneh belakangan ini di rumah bangsa kita
di saat kita masih rajin memelihara kedermawanan
dan semakin aktif menghimpun materi pertolongan
berkembang biak pula kerumunan yang ingin membakar rumah bangsa ini
walau hanya segelintir namun gaungnya besar
sebab sebagian orang-orang gemar beralibi sembari ngantuk read more

Sepanjang Jalan, Kopi

Salah satu yang saya syukuri bekerja di rantau, khususnya di perusahaan tempatku mengais nafkah saat ini, hingga jelang usia pension, perjalanan dan mutasi dari site satu ke site lainnya. Saya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, dan khususnya penikmat dan pencinta kopi. Pernah menemui kelompok pembuat kopi goraka atawa dibilangkan juga kopi jahe sekaligus kerap menikmatinya untuk beberapa lama di sebuah kampung di Bolaang Mongondow. Kopi jenis robusta Mongondow dan jahe merah yang ditanam sendiri oleh warga. Mengolahnya secara manual tradisional dan sederhana yang telah berlangsung cukup lama. Paduan kopi dan jahenya proporsional. Terasa kopinya terasa pula jahenya ditenggorokan. Saya cukup menyukainya sebab di samping kopinya yang anti oksidannya tinggi juga jahenya konon bisa menggerus masuk angin yang kerap menyiksa. read more

Uang dan Uang

Dalam sebuah dialog kecil tapi nyaris tegang antara seorang bos dan seorang anak buahnya di sebuah kantor pertambangan kelas menengah. Seorang anak buah yang berposisi selevel menejer tersinggung oleh pernyataan bosnya yang menilai semua hubungannya dari perspektif uang an sich, padahal kedua laki-laki pekerja profesional ini di luar hubungan kerja memang bersahabat sejak di bangku kuliah puluhan tahun lampau. Sudut pandang yang begitu sulit dihindari saat ini adalah memposisikan uang sebagai segalanya mengalahkan semua alat ukur hubungan antar manusia. read more

Muasal Jagung, dari Milho ke Milu

Perjalananku kali ini melintasi negeri nyiur melambai ditemani gerimis hujan sore hari. Senja hanya nampak sebagian karena sebagiannya sedang bertirai gerimis. Suasananya sedikit romantis, perpaduan gerimis hujan dan senja memerah saga. Dalam suasana seperti itu, kenangku berkelebat jauh ke masa-masa kala masih kanak di Kota Makassar. Waktu itu, kondisi negeri ini sedang tak berdaya, daya beli masyarakat sedang anjlok hingga ke titik nadir. Antrian panjang untuk mendapatkan beberapa bahan pokok seperti minyak tanah, beras, dll., itu kita dapati di mana-mana khususnya di sekitar mukimku di sebuah pasar tua di Makassar. read more

Beribu Cinta Untukmu

Menyambut maulid Nabi

 Bak kulihat cahayamu di matahari menerangi semesta. Membasuh wajah-wajah lugu bersahaja hingga melek hidup, membasuh batin-batin letih para pencari cinta ke ruang dan waktu tak berbatas. Membasuh laku kasar penduduk sahara menuai santun. Semesta mewujud cinta dari perangaimu yang indah. Engkau hadir di remah hidup kaum tak berpunya, mengasihi mereka yang memusuhimu.

Menyelimuti cinta dan kasih semesta dan paradaban. Para penyair tak habis kalimat mengukir keindahanmu. Pena-pena para cerdik pandai tak hentinya menggores kebajikan yang engkau jejakkan. Jadi, bila mencintaimu dengan beragam ekspresi budaya, merindukanmu dengan berbagai laku yang kami jejakkan, lalu kami dituduh berlaku bid’ah dhalalah, tak mengapa,  sebab semuanya hanya sezarra ekspresi cinta kami dari gundukan semesta ini. read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan makhluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more