Semua tulisan dari Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Meniti dengan Sabar dan Cerita Lainnya

Meniti dengan Sabar

Sore ini tak ditemani senja merona saga, sebab kabut hitam pekat tak hentinya mengerubuti cerlangnya. Aku tertatih menapaki jalan-jalan setapak menuju puncak kebajikan yang masih jauh di pucuk angan-angan, terhalau ego membatu. Padahal, pelbagai cara telah kurajut menuju cahaya di balik kabut pekat itu. Namun langkahku masihlah tertatih terhalau berupa-rupa ranjau yang kerap kubuat sendiri, sengaja ataupun tak.

Kala malam tiba aku tak sua bintang-bintang yang cerlangnya kerap menunjuki jalan para pejalan. Tapi, entah kenapa malam ini ia seolah enggan menyapa. Padahal kabut hitam telah menepi di pojok-pojok semesta. Badai pun telah pergi menjauh bersama senja, kala waktunya telah usai semayam. Setelah kutengok lebih seksama, rupanya cahaya hanya samar, sebab kunang-kunang pun meringkuk tak sudi menerangi jalan di hampir gulita itu. read more

Bunda Maemuna

Hari minggu, umumnya kota-kota di Sulawesi Utara sepi nyaris senyap. Demikianlah, suatu pagi sekira matahari sudah mulai menanjak ke perempat depah. Lambungku mulai minta dijamah penganan untuk melanjutkan kehidupan. Jalan-jalan kususuri di kota mungil tempatku bermukim secara tidak menetap. Setelah berkeliling beberapa saat dalam sepi, aku menemukan sebuah warung yang berukuran relatif mungil pula. Kendaraan kutepikan tak jauh dari warung yang hendak kutuju.

Ruang kecil berukuran sekira tiga kali dua setengah meter. Hanya dimuati tiga buah meja plus bangku kayu yang masing-masing hanya memuat dua orang pengunjung. Jadi, paling banter hanya bisa memuat pelanggan atawa pengunjung sebanyak enam orang. Seorang ibu berusia senja menyambutku dengan senyum super ramah. Rona wajahnya menampakkan kebajikan dan bening matanya mengundang kasih. read more