Semua tulisan dari Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Perpustakaan yang Seperti Rumah Hantu dan Sebuah Renungan

Alkisah di suatu pagi yang cerah. Seperti biasa, mukimku diliputi nuansa alami khas pedesaan. Angin yang sejuk, burung berkicau, embun yang menetes dari dedaunan, dan para peternak bersama sapi-sapi gemuknya yang merumput. Rutinitas sama seperti pagi-pagi lainnya, menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa yang hendak berangkat sekolah. Meminta mereka bergegas mandi, memakai seragam dengan rapi, salat dhuha berjamaah, lalu sarapan pagi bersama.

Aku duduk di meja makan menikmati kebiasaan-kebiasan itu. Menjadi seperti bapak bagi anak-anak, dan terkadang menjadi seorang ibu. Kadang menjadi guru yang berceloteh, sesekali menjadi seorang murid yang sibuk mendengar keluhan mereka. Kuseruput kopiku sembari tetap bercengkrama dengan “sahabatku”. Saat itulah urita gembira datang lewat pesan WA, “Tolong hadiri kegiatan literasi di gedung Balai Keprajuritan Manunggal Makassar!” Kira-kira seperti itu inti pesannya. read more

Intelektual Muda yang Redup

Pada masa-masa awal perintisan bangsa Indonesia, pemuda menjadi bagian integral narasi perjuangan kemerdekaan. Elan vital intelektual muda yang menyala-nyala dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, menerangi Nusantara yang telah lama berkubang dalam kegelapan. Suara mereka menggema di pelosok desa dan pesisir pantai terjajah. Membangkitkan semangat juang para petani untuk mengangkat senjata merebut tanah yang telah dirampas. Membakar api semangat para nelayan mengusir perompak dari bumi pertiwi. Dan momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, merupakan wujud kristalisasi semangat kemerdekaan tersebut. Semangat yang didorong rasa senasib dan sepenanggungan, sebagai bangsa yang telah disakiti dan dikebiri hak-haknya. read more

Insan Cendekia dan Kemerdekaan

“Perjuanganku lebih mudah karena hanya mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri.” (Ir. Soekarno)

Pagi masih muda, dan puluhan anak-anak muda telah memadati sebuah lapangan. Semangat mereka tampak dari geladi resik yang berulang kali dilakukan. Tampil sempurna dalam upacara memperingati proklamasi kemerdekaan adalah tujuan yang hendak dicapai. Tapi bukan sekadar seremoni, melainkan mereka hendak memaknai momentum bersejarah ini. Mereka adalah para pelajar dari sebuah sekolah menengah atas swasta. Seragam sekolah khas kotak-kotak kecil berwarna biru navi bergaris putih membalut tubuh mereka yang polos. Tubuh sehat yang diharapkan kelak akan menorehkan tinta emas bagi bangsa dan negeri ini. read more

Di Balik Jemari Penulis

Pada suatu sore yang ranum, di selasar indekos, wangi semerbak kopi menari-nari bersama angin. Aromanya menggelitik syaraf penciuman, memaksa saya membauinya. Menyeruputnya, seteguk demi seteguk. Merasai bulir demi bulir mengalir ke tenggorokan bersama rasa pahit dan manis yang menyatu. Menikmati kopi telah menjadi ritual harian. Anehnya, kopi berkurang nikmatnya jika buku tidak menemani. Maka begitulah sepenggal cerita saya lakoni setiap hari.

Hari ini bersama senja yang terus bergerak menua, selaksa harapan sejatinya menghidu dalam benak tatkala menyeruput kopi. Berharap tubuh ini terbang ke dunia Inspirasi. Atau tenggelam dalam lautan gagasan-gagasan. Tapi ide-ide itu tak jua berguguran untuk dituliskan. Batok kepala menutup rapat, tidak membiarkan otak merespon syaraf-syaraf tangan untuk menuliskan kata-kata. Kredo kopi melahirkan sejuta inspirasi tampaknya tak berlaku kini. read more

Dua Sisi Mata Uang: Kebenaran atau Ketentraman

Mana yang Anda pilih, ketentraman atau kebenaran? Anda hanya boleh memilih satu di antara dua pilihan tersebut. Saya tidak mengajak bermain teka-teki, melainkan mengajukan sebuah pertanyaan untuk direnungkan dan dijawab dengan kejernihan nurani. Karena hanya dengan kebeningan jiwa, kita bisa melihat jawaban yang tidak tercemari oleh kepentingan dan keakuan.

Bertolak dari realitas kebangsaan kita dewasa ini, saya berasumsi kebanyakan dari kita memilih ketentraman sebagai jalan hidup. Ya, cinta terhadap ketentraman, ketenangan, lebih dominan daripada cinta terhadap kebenaran. Kebenaran hanya menjadi utopia. Buktinya, angka-angka korupsi di Indonesia masih enggan menukik ke bawah. Yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap miskin. read more

Ketika Saya Seusia Dilan

Pada saat saya seusia Dilan, saya merindukan menjadi mahasiswa. Tapi kini saya tahu bukan rindu yang berat, melainkan menjadi “mahasiswa”. Pasalnya, mahasiswa didapuk sebagai kaum intelektual. Insan cendekia. Agent of change. Moral of force. Pembela kaum tertindas. Suara-suara rakyat. Parlemen jalanan. Dan mahasiswa berada pada maqam keempat dalam dunia kesiswaan karena berlabel “maha”, sedikit lebih di atas dari mahabarata. Andaikata seperti kaum sufistik, “mahasiswa” sudah tingkatan hakikat. read more

Dari Gus Dur Hingga Kebangkitan Nasional Dalam Stadion

Penghargaan Ballon d’ Or tahun 2017 menjadi jatah C. Ronaldo. Pemain berkebangsaan Portugal tersebut telah mendulang trofi pemain terbaik dunia sebanyak 5 kali. Kini Ronaldo menyamai prestasi Lionel Messi dari Barcelona. Hal ini tentu telah diketahui banyak orang, khususnya para pencinta bola. Saya tidak bermaksud menuliskan lebih jauh sepak terjang kedua seniman sepakbola itu. Selain was-was kalau-kalau penggemar berat klub lain seperti Arsenal—Guru Han misalnya—  membalas tulisan saya jika hanya mengulas Messi dan Ronaldo, juga karena dunia telah mengenal mereka. Messi dan Ronaldo boleh dikata merupakan icon sepakbola kontemporer. Beragam statment dari masyarakat atau pengamat sepakbola, hingga para politikus dan penjudi bola berserak di mana-mana. Mulai dari pujian setinggi langit –Messi disebut alien, hingga kritikan dan cemooh dari anti Messi atau anti Ronaldo. read more

Gurumu bukan orangtuamu?

Tempo hari di pelataran gedung kampus peradaban, dalam bangunan yang nyentrik dengan gaya arsitektur timur, sebuah perhelatan sederhana dilangsungkan oleh segelintir manusia-manusia baru. Manusia yang terlahir dari rahim pendidikan tinggi, diasuh oleh orangtua-orangtua dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Manusia-manusia baru yang dibekali banyak pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dengan pondasi akal budi. Kelak akan memasuki dunia realitas sosial kemasyarakatan yang majemuk dan kompleks. read more

Samita dan Puisi-Puisi Lainnya

Samita

“Pada suatu ketika
Sesekali aku menguluk senyum,
Tidak ada balasan..
Kemudian sedikit tertawa..
Lalu..
Diam..
Setelahnya, aku memilih pergi..
Pulang dan berjumpa kesunyian..
Di rumah, Samita menunggu hendak menemani sepi malamku
Samita, gadis yang penuh rasa keingintahuan..
Samita sesaat menjadi penawar qalbu yang diterpa badai kerinduan..
Berdua menikam malam dengan secangkir kopi hitam..
Berbincang tentang batik hingga kedirian dan kesendirian
Syahdu kita dalam romantisme sederhana..
Larut dalam keberduaan yang tunggal..
Dan ba bi bu
Hilang dalam kenikmatan.. read more

Dari Qushayi, Sun Go Kong, Kungfu Panda, hingga Etnografi

Pagi-pagi buta di kota kaum urban, saya terbangun bukan karena alarm atau suara ayam, tapi bunyi-bunyian klakson. Selepas salat subuh – kira-kira pukul tujuh lewat sekian menit – saya nyambi di samping kiri rumah kos. Selain riuh jalanan, saya ditemani Si hitam manis, dari tanah Toraja dan Si Hegemoni Quraisy. Lama kami berdialog, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk bergegas menyusuri lorong sunyi peradaban. Jalan yang penuh semak belukar karena jarang orang melintas. Semua memilih jalan lain yang penuh fantasi dan hiburan yang menggoda. read more