Semua tulisan dari Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Insan Cendekia dan Kemerdekaan

“Perjuanganku lebih mudah karena hanya mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri.” (Ir. Soekarno)

Pagi masih muda, dan puluhan anak-anak muda telah memadati sebuah lapangan. Semangat mereka tampak dari geladi resik yang berulang kali dilakukan. Tampil sempurna dalam upacara memperingati proklamasi kemerdekaan adalah tujuan yang hendak dicapai. Tapi bukan sekadar seremoni, melainkan mereka hendak memaknai momentum bersejarah ini. Mereka adalah para pelajar dari sebuah sekolah menengah atas swasta. Seragam sekolah khas kotak-kotak kecil berwarna biru navi bergaris putih membalut tubuh mereka yang polos. Tubuh sehat yang diharapkan kelak akan menorehkan tinta emas bagi bangsa dan negeri ini.

Mereka berbaris rapi seperti serdadu-serdadu terlatih. Para siswi tampil anggun nan cantik dengan balutan jilbab berwarna hitam. Mereka laksana titisan para srikandi-srikandi yang akan melanjutkan perjuangan pendahulunya. Mengangkat martabat perempuan negeri ini, lewat prestasi dan akhlak. Begitulah mereka dididik di sini. Sebab apalah gunanya negeri ini memiliki perempuan dengan deretan gelar kesarjanaan, tetapi bobrok moralitasnya. Fenomena inilah yang dimata KH. Mustafa Bishri disebut fenomena antagonis akhir zaman. Maka lahirlah tutur Gus Mus yang mahsyur, “gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah”.

Di sisi yang lain, para siswa tampil gagah dan perkasa bukan dengan topi, melainkan dengan kopiah hitam khas Indonesia. Kopiah itu bak mahkota para raja. Kopiah yang sama yang kerap menghiasi kepala Soekarno dan tokoh-tokoh bangsa Indonesia lainnya. Merekalah generasi muda yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini. Hendak dibawa berlayar ke mana kapal bangsa ini, ada di tangan mereka. Karenanya, mereka harus dididik untuk senantiasa jujur. Jujur sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Sehingga kejujuran itu mendarah daging dan menyatu dalam setiap kata dan perilaku mereka.

Kenapa kejujuran? Sebab bangsa kita dewasa ini menderita krisis kejujuran. 73 tahun kita merdeka, korupsi pun semakin merajalela. Jadi sudah selayaknya instansi-instansi pendidikan menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam setiap muatan pelajaran yang diberikan. Kejujuran, tanggung jawab, dan nilai-nilai luhur lainnya jangan sekadar menjadi penghias RPP semata, tanpa implementasi dan penghayatan. Toh, tiada guna menjadi terdidik tapi nir moralitas. Karena peradaban dan kemajuan negeri ini, hanya bisa dibangun jika putra-putrinya dididik dalam bingkai keimanan dan akhlak nan luhur.

Upacara telah memasuki momen sakral. Pengibaran bendera pusaka. Aku tidak tahu kenapa mau berdiri di sisi lapangan sejajar dengan tiang bendera yang menjulang ke atas laksana menyangga langit. Sikap hormat beserta takzim menyaksikan kain berwarna merah putih itu bergerak perlahan di tiangnya. Seratus pasang mata memandang bangga dan haru saat angin membelai pusaka negeri ini, laksana seorang ibu membelai kepala anaknya. Ia berkibar dengan gagahnya bak sayap garuda yang perkasa.

Suasana hening. Hanya terdengar kicau burung yang merdu senada dengan alunan nyanyian kelompok paduan suara. Lirik-lirik lagu yang diciptakan WR. Supratman entah kenapa, seperti mantra yang setiap dilantunkan mengundang getar di dalam jiwa. Lagu ini selalu membawa kembali rekam jejak perjuangan para pahlawan, dalam mengibarkan sang saka merah putih.

Angin berembus membawa kesejukan dan suasana 73 tahun yang lalu terlintas. Bau anyir darah. Butiran pelor yang berserakan. Mayat-mayat bergelimpangan. Jerit kesakitan. Ledakan mortir. Deru mesin pesawat yang lewat bah pesawat tempur yang lalu lalang kala itu. Semua melintas.

Terik mentari pagi ini membawa kehangatan, sehangat kabar pilu dari Hiroshima yang dibom atom oleh tentara sekutu 6 Agustus 1945 silam. Disusul kemudian duka lara dari Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Samurai biru menyerah kepada sekutu. Peluang inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pendiri bangsa untuk memproklamirkan kemerdekaan rakyat Indonesia 17 Agustus 1945. Bertempat dikediaman Soekarno di jalan Pengangsaan Timur, teks proklamasi yang diketik  Suyuti Melik dibacakan oleh Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Suara batuk-batuk seorang peserta upacara, sedikit memecah sunyi. Tapi batuk itu mengingatkan pada sosok manusia berwibawa dan tangguh yang pernah dimiliki negeri ini. Sang Jenderal Sudirman, jiwanya seolah hadir di sisi lapangan. Di sampingnya sang gerilyawan Tan Malaka berdiri dengan tegap. Berturut-turut Syahrir, Ahmad Wahib, Kahar Muzakkar, dan lainnya. Kini aku tahu mengapa mengheningkan cipta kulakukan. Aku tundukkan pandangan menatap tanah tempatku berpijak, sembari merapal doa untuk para syuhada negeri ini.

Selepas upacara ini, serangkaian kegiatan dilaksanakam oleh siswa-siswi guna menyemarakkan HUT RI ke 73. Lomba voli, lomba makan kerupuk, tadarus, dan beberapa cabang lomba yang lain. Persatuan dan silaturahmi menjadi makna yang hendak diraih. Tapi harus diingat bahwa bagi seorang pelajar, sejatinya memperingati hari kemerdekaan ini adalah dengan belajar, belajar, dan belajar!

Boleh jadi hari ini kita tidak lagi dijajah secara fisik. Imperialisme dan kolonialisme tidak lagi menjadi mode. Tetapi bukan berarti perjuangan kita telah berhenti, karena kita telah merasa sampai pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa. Sebagaimana yang dikatakan Soekarno yang ku kutip di awal tulisan, tiadanya penjajah asing menjadi penanda bahwa perjuangan kita semakin berat. Sebab yang akan kita lawan adalah saudara-saudari sebangsa kita.

Tetapi ingat, kemerdekaan adalah keniscayaan. Oleh karena itu, berjuanglah wahai siswa-siswi dengan terus belajar. “Jadilah murid segala sesuatu. Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru,” begitulah nasihat Roem Topatimasang. Raihlah predikat insan-insan cendekia yang berbudi luhur. Dirgahayu Indonesiaku. Merdeka!!

Di Balik Jemari Penulis

Pada suatu sore yang ranum, di selasar indekos, wangi semerbak kopi menari-nari bersama angin. Aromanya menggelitik syaraf penciuman, memaksa saya membauinya. Menyeruputnya, seteguk demi seteguk. Merasai bulir demi bulir mengalir ke tenggorokan bersama rasa pahit dan manis yang menyatu. Menikmati kopi telah menjadi ritual harian. Anehnya, kopi berkurang nikmatnya jika buku tidak menemani. Maka begitulah sepenggal cerita saya lakoni setiap hari.

Hari ini bersama senja yang terus bergerak menua, selaksa harapan sejatinya menghidu dalam benak tatkala menyeruput kopi. Berharap tubuh ini terbang ke dunia Inspirasi. Atau tenggelam dalam lautan gagasan-gagasan. Tapi ide-ide itu tak jua berguguran untuk dituliskan. Batok kepala menutup rapat, tidak membiarkan otak merespon syaraf-syaraf tangan untuk menuliskan kata-kata. Kredo kopi melahirkan sejuta inspirasi tampaknya tak berlaku kini.

Dilanda kekeringan ide, saya mengajak pikiran bertualang ke masa lalu. Seperti memutar waktu, memilih lembar demi lembar ingatan untuk ditulis. Karena saya harus menulis. Begitulah doktrin yang saya sugestikan untuk diri sendiri.

Saya bukan seorang penulis, walaupun hari ini mencoba menulis. Didapuk sebagai penulis pemula juga kurang tepat, meskipun pernah menulis. Sebab membuat satu  tulisan saja dalam seminggu sudah tidak bisa. Pernah, tapi itu dulu. Kini menulis terasa berat. Kata guru menulis saya yang  seorang penulis, Mauliah Mulkhin, memulai menulis setelah lama vakum, sulitnya sama seperti mendaki gunung.

Berbeda dengan Emha Ainun Nadjib, yang konon mampu membuat satu tulisan dalam kurun waktu singkat. Entah kenapa saya juga menggunakan kata “konon” dalam tulisan ini. Barangkali cerita teman yang seorang penulis masih tergiang-ngiang. Dia mengisahkan cerita tentang Paulo Coelho, yang juga seorang penulis. Katanya, pernah ia menuliskan kata konon untuk memulai cerita dalam salah satu bukunya, kemudian menceritakan kenapa ia menggunakan kata konon digunakannya. Maka begitulah saya menuliskan kenapa menggunakan kata konon dalam tulisan ini.

Sedikit kisah tentang Paulo dengan salah satu bukunya yang paling laris di dunia, Alchemist. Alfian yang seorag penulis, juga pandai bertutur ternyata. Katanya, Paulo mulai menulis di usia 8 tahun. Ia pernah menjuarai lomba menulis di negaranya, Brazil. Adiknya juga konon pernah menjuarai lomba menulis. Hanya bermodalkan tulisan Paulo yang dibuang di tempat sampah. Naskah itu yang dipungut, lalu diikutsertakan dalam lomba menulis.

Seorang penulis besar, selalu lahir dari banyak penderitaan kata Alfian. Termasuk Paulo. Dua kali ia pernah divonis gila dan dikirm ke rumah sakit jiwa. Padahal, ia tidak gila. Setrum di rumah sakit jiwalah yang membuatnya hampir gila. Singkat cerita, bukunya dilarang diterbitkan di Brazil karena ketika diterbitkan kali pertama, buku itu tidak laris. Ia pun enggan menerbitkan bukunya dan mulai berhenti menulis.

Di balik orang sukses, terdapat perempuan hebat. Begitulah kata pepatah. Tanpa memberitahu Paulo, istri keduanya (Ia bercerai dengan istri pertamanya) mendatangi seorang penulis nomor satu di Brazil. Dia membawa serta buku Paulo untuk dibaca penulis tersebut. Kemudian menyarankan kepada Paulo untuk mengirimkan kepada salah satu penerbit besar. Walhasil, buku Alchemist menjadi buku terlaris di dunia.

Begitula kisah tentang Paulo yang diceritakan Alfian kepada saya di meja makan. Memang sudah berkali-kali ia menyarankan untuk membaca karya Paulo.  Tapi jika Anda percaya konsep jodoh, saya barangkali belum berjodoh dengan novel-novel Paulo.

Masih di selasar indekos, dengan kopi yang sisa setengah gelas. Ide untuk ditulis belum juga menghampiri. Saya ingat, seorang pernah berkata bahwa banyak penulis menelurkan gagasannya dalam kondisi perasaan yang berkecamuk. Menderita. Galau. Bahkan ada yang berharap bisa jatuh cinta, lalu patah hati. Kemudian ia menuliskan kisah cintanya. Melampiaskan kegalauannya. Hingga Membunuh kekasihnya di dalam cerita. Bagi saya yang sedang berusaha belajar menulis, menempuh jalan seperti itu tidak bisa saya lakukan. Sebab saya tidak mampu membunuh orang  tercinta, walaupun dalam sebuah tulisan.

Senja benar-benar telah mati. Langit kini berselimut kegelapan. Sedangkan lembaran microsoft word di gawai masih saja kosong. Hanya terdapat seuntai kalimat tanya, “benarkah menulis hanya tentang mengaksarakan ide, melukiskan perasaan lewat bahasa?” Saya tidak tahu. Saya hanya ingin merasa bahagia setelah menulis.

Dua Sisi Mata Uang: Kebenaran atau Ketentraman

Mana yang Anda pilih, ketentraman atau kebenaran? Anda hanya boleh memilih satu di antara dua pilihan tersebut. Saya tidak mengajak bermain teka-teki, melainkan mengajukan sebuah pertanyaan untuk direnungkan dan dijawab dengan kejernihan nurani. Karena hanya dengan kebeningan jiwa, kita bisa melihat jawaban yang tidak tercemari oleh kepentingan dan keakuan.

Bertolak dari realitas kebangsaan kita dewasa ini, saya berasumsi kebanyakan dari kita memilih ketentraman sebagai jalan hidup. Ya, cinta terhadap ketentraman, ketenangan, lebih dominan daripada cinta terhadap kebenaran. Kebenaran hanya menjadi utopia. Buktinya, angka-angka korupsi di Indonesia masih enggan menukik ke bawah. Yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap miskin.

Orang-orang memilih kebenaran sebagai jalan hidup, hanya sebagian kecil saja dari manusia-manusia Indonesia. Kebenaran menjadi barang langka yang hanya dimiliki oleh mereka yang berani melawan arus materialisme dan individualisme. Mereka yang memicingkan mata di antara orang-orang yang terbuai dalam mimpi-mimpi. Kebenaran hanya menjadi milik mereka yang mampu melihat realitas secara jernih dan kritis.

Alkisah, sahabat Rasulullah, Abu Dzar Al-Ghifari, disabdakan Rasulullah SAW akan meninggal dalam pengasingan dan kesendirian. Abu Dzar diasingkan karena sangat kritis terhadap perilaku bermewah-mewah para pejabat di masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan.

Dalam novel Muhammad 4, Tasaro GK menceritakan bagaimana Abu Dzar diasingkan dari Madinah ke Damaskus sebelum akhirnya di buang ke padang pasir tak bertuan. Ketenangan dan ketentraman hidup menjauhi Abu Dzar, karena menyerukan kebenaran kepada para pejabat yang sibuk memperkaya diri, demi kenyaman dan ketenangan hidup sendiri.

Di Indonesia ada Soe Hok Gie yang berani mengatakan, “lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan.” Sebuah kredo yang menggiringnya ke dunia antah berantah. Dunia yang tidak lagi dikenalinya dan mengenalinya. Soe Hok Gie enggan mengkhianati perjuangan dan kebenaran yang dianutnya. Sedang para pemimpin-pemimpin gerakan mahasiswa – teman seperjuangan Soe Hok Gie kala itu – yang mendapatkan posisi dalam pemerintahan, memalingkan muka dari kebenaran yang diperjungkan dan memilih hidup kbermewah-mewah.

Jalan yang ditempuh Abu Dzar, Soe Hok Gie, dan mereka yang berpegangan pada tali kebenaran, secara otomatis memutuskan tali ketentraman. Sebagaimana perkataan Ralph Wardo Emerson dalam buku Menggugat Pendidikan, bahwa kepada tiap jiwa, Tuhan menawarkan dua pilihan antara kebenaran dan ketentraman. Pada dua pilihan inilah manusia berayun seperti pendulum. Manusia yang lebih didominasi cinta akan ketenangan kata Ralph, ia akan mendapatkan ketenangan, komoditas, dan reputasi, namun pintu hatinya tertutup dari kebenaran. Sedang jiwa yang didominasi cinta akan kebenaran mengapung di atas lembah, ngarai, dan melayang. Ia jauhi dogmatisme, ia teliti semua kutub pertentangan. Dijalaninya ketidaknyamanan dalam ketegangan dan pendapat yang tak jua sempurna.

Kebenaran dan ketentraman laksana dua sisi mata uang yang dilemparkan wasit sepak bola. Kecil kemungkinan koin akan berdiri, sehingga kebenaran dan ketentraman tidak saling menindih. Tetapi bukan tidak mungkin ketika kebenaran menjadi pandangan hidup setiap orang, maka ketentraman akan mengikuti.

Sejatinya nilai-nilai kebenaran senantiasa dipegang teguh manusia, apatah lagi mereka yang pada dasarnya merupakan kaum terdidik. Sebab bangsa Indonesia terlalu lama berkubang dalam krisis multidimensi (politik, ekonomi, dan moralitas). Indonesia seperti terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung, sedang setan-setannya pun terus berevolusi menjadi semakin cerdas dan licin.

Indonesia telah merdeka lebih dari 70 tahun lamanya, tapi kesejahteraan sosial belum tercapai. Keadilan pun masih menjadi milik segelintir orang. Reformasi di bidang ekonomi dan politik juga telah digulirkan sekitar 20 tahun lamanya. Tapi keadaan tidak berubah sebagaimana yang dicita-citakan. Seolah reformasi hanya meremajakan “kaum tua” yang korup.

Saya tidak ragu mengatakan bahwa di luar sana ada aktivis-aktivis reformasi bernasib sama dengan Soe Hok Gie. Mereka mengasingkan diri dan diasingkan karena tetap teguh dengan kebenaran yang diperjuangkannya. Sedangkan beberapa yang lain kehilangan kemaluannya, menginjak-injak kebenaran demi menyejahterakan hidupnya sendiri.

Negara ini kembali berputar-putar pada persoalan yang sama, rakyat kecil pun jadi bingung dan linglung. Yang mereka inginkan adalah bibit-bibit berkulitas, pupuk-pupuk bersubsidi, pendidikan yang merata. Rakyat hanya butuh kesehatan yang terjangkau, harga sandang dan pangan yang murah. Tapi para pemimpin pura-pura lupa akan persoalan kebangsaan, kehilangan konsep, dan berwatak materialistis. Walhasil rakyat tetap jelata dan melata.

Saya tidak tahu, pasca reformasi, gerakan apa lagi yang akan mencoba peruntungan dalam bidang ekonomi dan politik. Transformasi ekonomi politik atau justru revolusi besar-besaran? Yudi Latif dalam Revolusi Pancasila mengemukakan sebuah solusi, bahwa yang dibutuhkan manusia-manusia Indonesia adalah revolusi mental. Selama mentalitas koruptif warisan kolonialisme belum tercerabut dari jiwa-jiwa manusia Indonesia, transformasi atau revolusi apapun tidak akan berhasil.

Oleh karena itu, segala keputusan-keputusan dalam arti politis walau bagaimana kecilnya, harus selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa kata Soe Hok Gie. Kita harus bisa mengatakan kebenaran sebagai kebenaran, salah sebagai kesalahan. Dan tidak menghalalkan kebenaran atas nama golongan atau ormas apapun. Demi terwujudnya negera Indonesia yang damai dan merdeka dalam arti yang sebenarnya.

 


sumber gambar: www.abc.net.au

Ketika Saya Seusia Dilan

Pada saat saya seusia Dilan, saya merindukan menjadi mahasiswa. Tapi kini saya tahu bukan rindu yang berat, melainkan menjadi “mahasiswa”. Pasalnya, mahasiswa didapuk sebagai kaum intelektual. Insan cendekia. Agent of change. Moral of force. Pembela kaum tertindas. Suara-suara rakyat. Parlemen jalanan. Dan mahasiswa berada pada maqam keempat dalam dunia kesiswaan karena berlabel “maha”, sedikit lebih di atas dari mahabarata. Andaikata seperti kaum sufistik, “mahasiswa” sudah tingkatan hakikat.

Keperkasaan mahasiswa menyuarakan aspirasi rakyat sering saya lihat di televisi. Walaupun sesekali diwacanakan bentrok dengan masyarakat. Tapi, dengan keyakinan penuh saya menampik realitas yang disajikan media. Karena faktanya, beberapa media pandai bermain kata demi merengkuh perhatian publik dan mendongkrak ratingnya.

Mahasiswa memang terkadang dimarginalkan dalam pemberitaan. Mahasiswa dikonstruk sebagai kelompok yang anarkis, banal, dan kriminal dalam melakukan setiap aksi demonstrasi. Proses pemberitaan yang berulang, pada akhirnya membakukan stigma buruk terhadap mahasiswa di mata masyarakat.

Saya ingat kala itu, dalam pikiran kanak-kanak dengan gaya ala mahasiswa kritis, pisau analisis sok tajam, saya menduga-duga ada perselingkuhan sistematis, rapi, apik, dan romantis antara penguasa dan pemilik media. Terdapat kongkalikong antara para pejabat-pejabat pemerintah mulai dari senayan, sentul, pasar segar, hingga kantor-kantor desa. Terus merengsek masuk di kolong-kolong rumah pak dusun dan pak RT/RW. Semua itu mungkin terjadi demi melanggengkan status quo dan memapankan diri di balik kursi parlemen. Ya, negeri ini butuh revolusi! Sebab reformasi telah gagal.

Eriyanto ternyata mengaminkan pikiran kanak-kanak saya dalam buku anggitannya, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Eriyanto mengatakan “media melalui proses yang kompleks, melalui pendefinisian dan penandaan telah berhasil membentuk kesadaran masyarakat. Sehingga ketika ada kelompok yang buruk dalam pemberitaan, itu direpresentasikan sebagai sesuatu yang wajar, alami, dan memang begitu kenyataannya”. Selain itu, media kerap menjadi alat penguasa dalam dan mengontrol dan menanamkan pengaruhnya.

***

Waktu seusia Dilan, saya fans dengan Mahbud Junaedi dan Soe Hok Gie. Bahkan puisi-puisinya saya tempel sebagai sampul buku pelajaran Bahasa Indonesia. Kekaguman terhadap mahasiswa juga dipantik oleh saudara saya.

Melihat bagaimana ia begitu getol membaca buku. Mengoleksi buku-buku. Bersuka ria dalam kegiatan diskusi dan kaderisasi. Serta mengalakkan beragam pelatihan-pelatihan. Menjadikan saya yang belum puber, ingin cepat-cepat menjadi mahasiswa.

Ketika tiba waktunya saya terdaftar disebuah perguruan tinggi. Mengikuti semester berjalan dan membayar SPP. Saya mengenakan jas almamater dengan bangganya. Apalagi mahasiswa baru tahun itu disambut dengan kata-kata heroik dari senior yang menyebut diri aktivis. Dengan toa, ia menebar kata-kata dengan semangat yang – dalam kacamata seorang maba – luar biasa. “Kalian adalah angkatan ganjil. Angkatan yang selalu melahirkan mahasiswa-mahasiswa revolusioner,” tuduhnya.

Mengapa saya mengatakan itu tuduhan? Karena hingga memasuki usia senja sebagai mahasiswa, saya hanya melihat putra putri almamater. Termasuk saya tentunya. Saya tidak bisa bergeming dan menampik realitas itu.  Sekilas terlihat dunia kemahasiswaan tersudut di lorong-lorong sunyi peradaban. Seperti daun berguguran, begitulah bayang-bayang saya tentang idealisme mahasiswa luruh menciumi tanah berlumpur.

Kebanyakan dari kita mencari aman dan nyaman saja. Enggan menyisihkan keringat. Berjubel dengan buku-buku. Malas terjun di gelanggang-gelanggang diskusi atau ikut organisasi-organisasi. Kita lebih memilih terjun bebas dalam kolam air susu yang melenakan. Kolam yang dijangkiti virus amoral, apatis, hedonis, kriminal, pragmatis, dan culas.

Degradasi kader menghantui setiap organisasi. Tak ada lagi riak-riak suara gemuruh pada malam pengaderan. Sunyi. Senyap. Sebab para putra putri almamater bergeming ketika mendapat ajakan berbau organisasi dan diskusi. Tidak banyak dalih yang bisa ditemukan. Semisal “saya ada janji diskusi disini kak”. “Saya sedang bakti sosial dipanti senior.” “Saya ikut pengaderan di organisasi yang lain daeng.” Dan alasan-alasan terhormat lain yang serupa. Hanya ada satu alasan sederhana yang banyak kita temukan, “maaf senior, saya punya banyak tugas”.

Walaupun memang tidak bisa dinafikan bahwa di ruang-ruang kelas, mulut-mulut kita disumpal dengan tugas-tugas kuliah yang menjemukan. Tidak berkualitas. Kurang mengasah potensi nalar kritis. Seperi gayung bersambut, banyak mahasiswa yang memilih bersikap sami’na wa atha’na, taat dan patuh.

Walhasil, para senior yang barangkali telah lelah, galau, memilih menyingkir dari kampus yang telah kehilangan aroma pengetahuan. Maka begitulah saya mendapati suasana kampus yang lengang dari aktivitas-aktivitas diskusi, membaca buku, dan aktivitas intelektual lainnya.

***

Ketika saya seusia Dilan, saya bertekad menjadi pendemo.  Tetapi, saya bohong ketika saya mengatakan saya tidak kecewa. Saya seperti berbulu mata melihat kenyataan merosotnya kualitas aksi demonstrasi. Banyak aksi yang hanya mempertontonkan banalitas mahasiswa.

Tetapi hal berbeda saya lihat dari aksi mahasiswa teknik Universitas Muhammadiyah  Kendari. Ratusan mahasiswa melakukan aksi solidaritas long march dan pengunduran diri sebagai mahasiswa. Aksi yang damai, tapi membuat saya terenyuh sekaligus menyulut semangat saya.

Dan baru-baru ini jagad maya juga dihebohkan dengan aksi simbolik ketua BEM UI, Zaadit, yang memberikan kartu kuning kepada presiden. Khalayak menganggap aksi ini tak ubahnya seperti nafas baru gerakan mahasiswa. Tetapi saya melihat kartu kuning presiden oleh mahasiswa UIT, juga dialamatkan kepada para mahasiswa.

Mahasiswa harus lebih kreatif dalam melakukan aksi dan advokasi. Tidak melulu menggunakan pendekatan yang konservatif dalam mengaspirasikan pendapat. Kartu kuning kepada para mahasiswa, sebab mahasiswa tidak lagi bisa melakukan manuver-manuver yang lebih berbobot dalam melancarkan kritik. Kalaupun ada hanya sebagian kecil saja.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu berbenah diri. Melakukan refleksi dan merekonstruksi gerakan-gerakan kemahasiswaan. Agar mahasiswa bisa memenuhi peranan, tanggung jawab, dan fungsinya sebagai mercusuar, bukan sebagai menara gading, apalagi menara air. Mahasiswa sejatinya harus menerangi peradaban bangsa kita. Mengawal pertumbuhan-pertumbuhan generasi-generasi bangsa di masa yang akan datang.

 


sumber gambar: sindonews.com

 

Dari Gus Dur Hingga Kebangkitan Nasional Dalam Stadion

Penghargaan Ballon d’ Or tahun 2017 menjadi jatah C. Ronaldo. Pemain berkebangsaan Portugal tersebut telah mendulang trofi pemain terbaik dunia sebanyak 5 kali. Kini Ronaldo menyamai prestasi Lionel Messi dari Barcelona. Hal ini tentu telah diketahui banyak orang, khususnya para pencinta bola. Saya tidak bermaksud menuliskan lebih jauh sepak terjang kedua seniman sepakbola itu. Selain was-was kalau-kalau penggemar berat klub lain seperti Arsenal—Guru Han misalnya—  membalas tulisan saya jika hanya mengulas Messi dan Ronaldo, juga karena dunia telah mengenal mereka. Messi dan Ronaldo boleh dikata merupakan icon sepakbola kontemporer. Beragam statment dari masyarakat atau pengamat sepakbola, hingga para politikus dan penjudi bola berserak di mana-mana. Mulai dari pujian setinggi langit –Messi disebut alien, hingga kritikan dan cemooh dari anti Messi atau anti Ronaldo.

Membincang si kulit bundar, tahun 90-an ada seorang Kiai yang dianggap memiliki prediksi akurat dan analisis yang tajam dalam sepakbola. Gus Dur! Siapa sangka seorang ulama dan umara memiliki talenta menjadi pengamat sepakbola. Walaupun Gus Dur bukan orang yang ahli dalam sepakbola. Dalam buku Gus Dur dan Sepakbola yang diterbitkan Imtiyaz, terhimpun pelbagai artikel Gus Dur tentang sepakbola sejak tahun 1982 Piala Dunia di Spanyol hingga tahun 2000, ketika ia menjadi presiden.

Buku itu juga memuat wawancara Gus Dur soal sepakbola. Misalnya pada perhelatan Piala Dunia 2006 Gus Dur ditanya, kira-kira kapan Indonesia masuk Piala Dunia? Gus Dur menjadi pesimis dan menjawab butuh waktu yang lama bagi Indonesia supaya bisa masuk Piala Dunia. Ketika ditanya kembali “kok gitu, Gus?” Spontan Gus Dur menjawab, “ya gimana lagi, lha PSSI-nya kayak gitu. Gimana persepakbolaan kita pengen maju. Gitu aja kok repot!” Tentunya ini terjadi tahun 2006 silam. Masyarakat Indonesia berharap banyak pada pengurus PSSI sekarang, agar memperbaiki kinerjanya. Jangan lagi ada kegaduhan dikubu PSSI yang berbuntut hukuman dari FIFA.

Lalu bagaimana pendapat Gus Dur tentang pemain terbaik dunia Messi dan Ronaldo? Bagaimana pendapat Gus Dur soal perhelatan piala dunia mendatang yang tidak akan menampilkan Italia dan Belanda? Negara manakah yang akan memenangkan Piala Dunia Mendatang? Pertanyaan nakal tersebut terlintas saat membaca buku Gus Dur dan Sepakbola. Walaupun saya tahu bahwa tidak akan ada jawaban dari Gus Dur, yang oleh Sindhunata dijuluki sebagai Semar. Sebab sewindu yang lalu, Gus Dur telah menuju alam keabadian. (Ilaarruhil khusus Abdurrahman Wahid syaiun lillahi ta’ala, al-Fatihah).

Ya, Gus Dur telah pergi! Dia meninggalkan negerinya yang karut marut. Tempo hari setelah 32 tahun kita bungkam dan dilarang “tertawa”, Gus Dur muncul dengan jokenya yang lucu nan bijak. Membuat rakyat tertawa bersama dengan damainya dalam keragaman, hingga membuat lupa kalau dulu kita diseragamkan. Kini, tidak ada lagi guyonan ala Gus Dur dari singgasana kekuasaan di Senayan. Yang ada hanya kelucuan-kelucuan yang ditampilkan artis parlemen dengan drama menabrak tiang listrik misalnya.

Dan semenjak ditinggalkan Gus Dur, melawak –apalagi dengan konten yang satire—tidak diperbolehkan di negeri silang sengkarut ini. Fenomena pelarangan tertawa bisa saja terjadi. Mengingat kasus komedian yang diobok-obok karena dianggap melucu dengan konten sarkas dan berbau SARA. Maka berhati-hatilah ketika hendak melucu. Anda bisa saja menjadi tidak lucu atau menjadi lucu setelah babak belur di-bully dengan meme. Karena di era milenial, mayoritas penonton tidak suka tertawa apalagi ditertawakan.

Gus Dur, ulama dan umara itu telah pergi! Dia meninggalkan negerinya yang terlunta-lunta di pesisir zaman. Kapal bangsanya hampir karam, karena layarnya terkoyak-koyak oleh awak kapal yang berebut makanan untuk perut sendiri. Walaupun negeri ini sering dilaporkan kolaps kata Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Kagum Kepada Orang Indonesia, tetap saja tertawa, tersenyum, dan dadah-dadah di sana-sini, bahkan koruptor melambaikan tangan ke kamera tivi dengan senyum cerah.

Di sudut kapal yang lain, para penghuni kapal mulai berunjuk rasa hingga berjilid-jilid. Kebenaran sedang diperjuangkan untuk dimiliki oleh mayoritas saja. Mereka menuntut agar kapal kembali berlayar di padang Sahara, bukan buang sauh di samudera Pasifik di mana khatulistiwa membentang. Walhasil, di geladak kapal kemarahan-kemarahan, kebencian-kebencian, dan ketegangan-ketegangan di antara penghuni kapal kian meruncing. Perbedaan pendapat, keragaman suku, budaya, dan agama para penghuni kapal, tidak bisa lagi diterima sebagai rahmat. Kapal negeri ini tidak lagi dilihat sebagai kapal induk tempat berlabuhnya kapal dari pelbagai suku bangsa. Tetapi dianggap kapal grab yang disewa untuk satu golongan saja.

Maka perlu bagi para penghuni kapal bangsa ini, memetik hikmah dari sepakbola. “Bukankah kita akan diperkaya dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepakbola?” kata Gus Dur. Persatuan dan kesatuan pemain keduabelas sepakbola salah satunya. Suporter tim nasional merupakan entitas kecil yang mesti kita contoh. Di dalam stadion, setiap orang menyemai doa yang sama. Yel-yel yang sama diteriakkan sembari saling merangkul pundak orang-orang di samping kiri dan kanan. Semua menari bersama dengan semangat yang membara. Seketika semua berteriak, Indonesia! Indonesia!

Atmosfer stadion menebar aura sakral yang membuat hati bergumuruh. Padahal para suporter tersebut bisa saja dari agama dan fans fanatik klub bola yang berbeda. Ada dari PSM, Persija, Barcelona, Real Madrid, Arsenal, Manchaster United, Arema, Persipura, dan sebagainya. Akan tetapi keharmonisan tersebut bisa terwujud karena di dalam dada mereka terpatri semangat nasionalisme yang sama. Garuda di dada! Semangat inilah yang menembus batas-batas perbedaan agama, suku, dan budaya. Jadi barangkali virus-virus toleransi dan kebangkitan nasional akan lahir bukan lagi dari dalam kampus atau dari majelis-majelis, tetapi dari dalam stadion, dipelopori para suporter sepakbola.

 


sumber gambar: www.imgrum.org

Gurumu bukan orangtuamu?

Tempo hari di pelataran gedung kampus peradaban, dalam bangunan yang nyentrik dengan gaya arsitektur timur, sebuah perhelatan sederhana dilangsungkan oleh segelintir manusia-manusia baru. Manusia yang terlahir dari rahim pendidikan tinggi, diasuh oleh orangtua-orangtua dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Manusia-manusia baru yang dibekali banyak pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dengan pondasi akal budi. Kelak akan memasuki dunia realitas sosial kemasyarakatan yang majemuk dan kompleks.

Di sudut belakang panggung, sembari berjaga menjajakan makanan jiwa bagi janin-janin yang dikandung kampus peradaban, rasa haru tetiba menyengat batin saya. Ada dua pasal, pertama, dalam sepatah kata ketua panitia, saya melihat betapa indah gambaran dunia kampus yang mereka rasakan. Sehingga perpisahan menjadi hal yang sulit, karena enggan melepas kenangan kebersamaan dengan teman-teman. Walaupun kampus merupakan dunia yang dipandang skeptis oleh pelbagai orang, dicap sebagai dunia dengan masalah yang kompleks dan memiliki beban moril lebih dari kebanyakan jenjang pendidikan lainnya.

Oleh karena itu, ada kelompok mahasiswa yang menamai diri sebagai aktivis, memilih berjuang memikirkan banyak persoalan di luar dirinya, mulai dari skala kampus, nasional, sampai global. Sedang di sisi yang berbeda, ada mahasiswa memilih jalur perjuangan lain. Perbaikan kualitas pribadi dengan mengasah kompetensi bidang akademik sesuai disiplin ilmu masing-masing. Mereka hidup dalam alam pikiran tentang masalah yang berbeda, soal bagaimana menjadi mahasiswa. Entahlah, mereka semua berada pada titik kebenaran subjektifnya dengan pelbagai argumentasi pembenaran. Tapi setidaknya mereka masih bisa menikmati dunia kampus, mencicipi jenjang pendidikan demi masa depan yang lebih baik, saat segelintir orang tidak dapat merasakannya karena himpitan ekonomi.

Mahasiswa aktivis terus berjuang agar penguasa negeri yang bengkok-bengkok bisa diluruskan kembali. Agar para tengkulak-tengkulak yang kini memegang kuasa, tidak nakal dan menjual negeri ini. Dan mahasiswa yang memilih konsentrasi pada jalur akademik, terus mengukir prestasi. Terus belajar guna mengasah kecerdasan emosional, kecerdasan moralitas, dan kecerdasan spiritual. Untuk mahasiswa pendidikan seperti manusia-manusia baru diperhelatan itu, tumbuh menjadi pendidik-pendidik yang berjiwa besar adalah keniscayaan. Karena di tangan para pendidiklah masa depan negeri ini ditentukan.

Kedua, sepatah kata dari ketua jurusan yang sangat menyentuh. Beliau berdiri dan menyebarkan tutur bukan sebagai dosen semata, tapi sebagai orang tua yang mengasihi anak-anaknya. Karenanya perpisahan menjadi kian berat, walaupun beliau tahu perpisahan merupakan suatu keniscayaan. Dalam sebuah puisi berjudul Untukmu Ananda, cinta kasih Andi Halimah, ketua jurusan, dosen, sekaligus ibunda mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika dituang. Waktu terus berpacu, menggiring asa menepis keraguan, akankah kuraih satu kata “”wisuda” atau “sarjana”? Ketika saatnya tiba, justru kegamangan menghampiri, euforia kegembiraan hanya sesaat, disaat toga bertengger manis di atas kepala, ucapan selamat terus berdatangan. Setelah itu apa? Mau kemana? Ananda, perjuangan baru dimulai, kesuksesan harus diraih, entah bagaimana caranya. Tapi satu hal Ananda yang penting, jadilah orang yang bermanfaat, di manapun Ananda berada.

Dari puisi yang disampaikan bunda – begitulah saya menyapa ibu Andi Halimah – saya memahami bahwa pendidikan, nasihat, dan pengajaran yang diberikan oleh para guru dan dosen, merupakan bentuk kasih sayang mereka. Guru dan dosen merupakan orang tua kedua bagi peserta didik dan mahasiswa. Di samping orangtua biologis dalam lingkungan keluarga, guru memiliki peranan penting dalam memberikan pendidikan kepada anak didik. Oleh karena itu, relasi yang semestinya terbangun dalam dunia pendidikan negeri yang carut marut ini, seorang murid dan mahasiswa harus menghormati guru dan dosen sebagaimana mereka menghormati kedua orangtuanya. Agar kita bisa meredusir fenomena antagonis akhir zaman yang digambarkan Gus Mus bahwa belajar semakin mudah, guru semakin tidak dihargai.

Apa lacur, dalam realitas pendidikan bangsa kiwari ini, guru dan orangtua menjadi elemen yang berbeda. Perbedaan itu menjadi jelas dari beragam peristiwa-peristiwa “menggelikan” yang terjadi belakangan ini. Adagium guru dan dosen adalah orangtua kedua, tampaknya tidak berlaku lagi. “Perang” antara orangtua peserta didik dan guru menyebabkan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Banyaknya kasus orangtua melaporkan guru kepihak berwajib sampai dipenjarakan, menjadi cacat tersendiri yang mesti dicatat oleh para pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini.

Sejatinya orangtua dan guru merupakan faktor-faktor pendidikan yang semestinya bekerjasama dalam mencerdaskan anak-anak didik. Karena orangtua merupakan guru kita di rumah, dan guru adalah orangtua kita di sekolah. Lalu, apa yang menyebabkan seorang guru seperti Ibu Malayanti di kabupaten Wajo dan guru-guru lain di Indonesia harus berurusan dengan pihak berwajib? Apakah sistem pendidikan yang hanya berfokus pada pengembangan kognitif dan keterampilan yang menjadikan banyak peserta didik baperan? Sehingga ketika mendapatkan pola pendidikan yang menggunakan strategi punishment dan reward mereka mengadu kepada orangtua dan orangtua – barangkali borjuis dan pejabat – mengadu kepada penegak hukum yang “adil”. Maka jadilah masyarakat negeri ini masyarakat pengadu. Kemudian diaduk-aduk lagi oleh kepentingan-kepentingan pribadi yang mencari untung sendiri. Hukum akhirnya menjatuhkan hukuman kepada mereka yang tidak punya apa-apa. Keadilan dijajakan. Moralitas dikebiri. Rasa malu digadaikan dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka bahkan malu memiliki rasa malu, tutur Yasraf Amir Piliang dalam buku anggitannya, Dunia Yang Dilipat. Malang nian nasib negeri ini.

Ataukah ironi itu disebabkan akhlak anak didik yang jauh hari sudah bobrok, sebelum mereka menjejaki sekolah formal? Jika demikian realitasnya, artinya terdapat indikasi kurangnya pendidikan akhlak di lingkungan keluarga dan masyarakat. Padahal pentingnya pendidikan keluarga dan menghormati orangtua telah dituliskan di dalam Al-Qur’an, melalui pengajaran keluarga Imran kepada anak-anaknya. Akan tetapi, kesalahan sepenuhnya dialamatkan ke lembaga formal pendidikan dan pemerintah. Bahkan seringkali lembaga pendidikan dicap sebagai instansi yang tidak lagi bertujuan melahirkan manusia-manusia nabi. Walaupun kita ketahui bersama bahwa pada tataran praksis pendidikan dewasa ini, belum sepenuhnya sempurna. Masih banyak lubang yang mesti ditambal di sana sini.

Kemajuan teknologi yang pesat juga menjadi salah satu faktor dekadensi moral peserta didik. Banyaknya informasi-informasi yang disajikan om google mempermudah akses belajar anak-anak. Hanya saja, ketika kemajuan ini tidak diimbangi pendidikan akhlak kepada anak didik, maka hanya akan melahirkan ironi antoagonis akhir zaman. Sebagaimana yang dituturkan KH. Mustafa Bisri bahwa ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap. Semua itu karena di dunia maya banyak informasi yang hanya berbau hoax, penuh ujar kebencian, dan pornografi. Oleh karena itu, orangtua, guru, dan masyarakat harus saling bekerjasama, membentuk harmoni dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak.

Samita dan Puisi-Puisi Lainnya

Samita

 

“Pada suatu ketika
Sesekali aku menguluk senyum,
Tidak ada balasan..
Kemudian sedikit tertawa..
Lalu..
Diam..
Setelahnya, aku memilih pergi..
Pulang dan berjumpa kesunyian..
Di rumah, Samita menunggu hendak menemani sepi malamku
Samita, gadis yang penuh rasa keingintahuan..
Samita sesaat menjadi penawar qalbu yang diterpa badai kerinduan..
Berdua menikam malam dengan secangkir kopi hitam..
Berbincang tentang batik hingga kedirian dan kesendirian
Syahdu kita dalam romantisme sederhana..
Larut dalam keberduaan yang tunggal..
Dan ba bi bu
Hilang dalam kenikmatan..

 

 

Siklus

 

Siklusnya berulang
Seperti lingkaran setan tak berujung
Membikin pusing
Kepala pun jadi pening

Hitam
Putih
Hitam
Putih

Putih lagi
Hitam lagi
Kembali ke putih lagi
Hitam lagi-lagi

Tidaklah ada getar ketakutan di dadamu?
Akan suatu masa dikau tidak lagi menjadi putih setelah hitam lakumu?
Lalu maut menyapa,
Tiada guna lagi sesalmu

Rindu dan Kota Cinta Habibi Ainun
Suatu malam dalam perlintasan
Di kota cinta Habibi-Ainun
Kerlap-kerlip lampu jalan
Menyingkap tabir gelap
Aku berdiri tegap
Menatap nanar senyap
Sayup-sayup
Lagu pop dari tape recorder
Bertajuk cinta terdengar
Aku melankolis
Semua menjelma si gadis
Tersenyum manis
Bak cahya rembulan nan tipis

Berdesir qalbu diterpa angin kerinduan
Kepada si gadis rupawan
Yang mengulurkan tangan
Menarikku dari lumpur kealpaan

Dia adalah karunia Ilahi
Yang melembutkan kerasnya hati
Dia menabur ayat-ayat cinta
Menjadi spirit meraih taqwa
Meniti shiratal mustaqim kepadaNya

Tapi ada masa aku bersujud syahdu
Berharap cinta dan rindu
Kepada si gadis di angkat
Takut kembali tersesat
Atau hilang nikmat
Andai boleh aku meminta
Dahsyatnya rindu dan cinta
Hanya kepada Allah dan Rasulnya
Agar tenggelam di samudera hakiki
Yang diliputi nur rahman, Nur magfirah, Nur hidayah, Nur Muhammad, dan Nur Ilahi..
Karena itulah cinta hakiki..

 

 

Bunga

 

Yudisium
Bunga
Promosi doktor
Bunga
Menikah
Bunga
Aqiqah
Bunga
Katakan cinta
Bunga
Bunga simbol suka cita kataku
Dan saat aku berjalan di sebuah lorong
Aku berjumpa bunga lagi
“Turut berduka cita atas meninggalnya fulan bin fulani”
Barangkali orang ini bersuka cita atas wafatnya fulan pikirku
Lalu aku melihat orang-orang menabur bunga di atas pusara si fulan
Disertai isak tangis..
Fulan..fulan..
Pulanglah dengan bunga..!!

 

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/408349891184237365/

Dari Qushayi, Sun Go Kong, Kungfu Panda, hingga Etnografi

Pagi-pagi buta di kota kaum urban, saya terbangun bukan karena alarm atau suara ayam, tapi bunyi-bunyian klakson. Selepas salat subuh – kira-kira pukul tujuh lewat sekian menit – saya nyambi di samping kiri rumah kos. Selain riuh jalanan, saya ditemani Si hitam manis, dari tanah Toraja dan Si Hegemoni Quraisy. Lama kami berdialog, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk bergegas menyusuri lorong sunyi peradaban. Jalan yang penuh semak belukar karena jarang orang melintas. Semua memilih jalan lain yang penuh fantasi dan hiburan yang menggoda.

Sebelum melanjutkan sekuel jalan sunyi, saya ingin sejenak bercerita tentang Qushayi, teman yang datang dari padang pasir, sebagaimana yang ada dalam buku Hegemoni Quraisy itu . Dia buah cinta dari pasangan Kilab bin Murrah dan Fatimah binti Sa’ad bin Sail. Qushayi berasal dari suku yang terbuang, tetapi mampu menjadi orang berpengaruh di kemudian hari. Qushayi bin Kilab merupakan pendiri suku Quraisy. Qushayi adalah buyut dari Muhammad bin Abdullah SAW. Turunan dari Hasyim, Abdi Manaf, ke Abdul Muthalib kakek Rasulullah SAW.

Penting diketahui dalam menanamkan pengaruhnya di Mekkah, Qushayi menggunakan beberapa strategi ekonomi dan politik. Yakni penyatuan suku-suku yang bercerai-berai di sekitar Mekkah. Qushayi pun memahami bagaimana sirkuit kebudayaan masyarakat Arab saat itu, sehingga melakukan pendekatan agama dalam melangsungkan hegemoni kekuasaannya. Melalui strategi politik buka keran, siasat politik yang memberikan kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya bagi orang-orang. Begitulah Qushayi memberikan persediaan air bagi peziarah, atau orang-orang yang melakukan ritual haji kala itu. Sekolompok orang hari ini pun mencoba melakukan hal serupa, memainkan agama sebagai jalan meraih kedudukan politik. Tetapi, pendekatan yang dilakukan Qushayi bin Kilab jauh lebih beradab, tinimbang yang dilakukan manusia now. Maniak politik kiwari ini banyak menjual ayat-ayat untuk meligitimasi kekuasaannya, atau untuk merebut simpati masyarakat.

Kembali ke era now, saya menautkan jiwa raga di kelas etnografi yang digelar LAPAR dan Jaringan Gusdurian Makassar.  Kelas-kelas seperti ini, sama saja dengan kelas-kelas lain seperti menulis, biasanya sepi peminat. Etnografi, menurut Syamsul Rijal Adhan, peneliti Litbang Makassar,  merupakan penelitian yang berkontemplasi pada bagaimana memahami kebudayaan suatu etnis, suku, atau kelompok masyarakat berdasarkan sudut pandang masyarakat tersebut atau emik. Maka menjadi penting memahami bagaimana sirkuit kebudayaan diproduksi sebagaimana Qushayi, agar kita mampu merumuskan siasat-siasat perlawanan. Sebab, hari ini suatu kelompok masyarakat marginal, bahkan kita semua banyak didefinisikan oleh the other, sesuatu yang berada di luar diri kita. Olehnya, wordview the other harus berganti menjadi the self.

Ya! Kita harus mulai membicarakan diri kita sendiri. Agar tidak terjebak dalam klasifikasi-klasifikasi yang cenderung memarginalkan. Misalnya saja, bagaimana doktrin Barat yang direpresentasikan sebagai pusat peradaban yang beradab atau modern. Sedang Timur, digambarkan sebagai tempatnya manusia-manusia terbelakang, kolot, mesum, dan sebagainya. Makanya, harus diperadabkan. Inilah yang kemudian hari ditafsirkan Barat sebagai legitimasi melakukan ekspansi dan kolonialisasi terhadap Timur.

Ada beberapa catatan penting lain terkait literasi selama mengikuti kelas etnografi. Badauni yang pernah menjadi wartawan Tempo Makassar, dan kini menjadi editor media Seputar Sulawesi, banyak membincang perbedaan essai dan opini, serta kiat-kiat menulis. “Apa yang susah dari menulis?” Kira-kira begitu pertanyaan pemateri kepada peserta kelas etnografi siang itu. “Memulai menulis”, jawab peserta berbadan gempal di sudut ruangan secara spontan. Sontak pemateri dan beberapa peserta tertawa kecil, memecah suasana kaku dan panas ruang kelas. Memang, perkara paling sulit dalam kepenulisan adalah mulai menulis. Ide dan kata-kata yang menumpuk di kepala saat hendak dituliskan, biasanya langsung menguap begitu saja.

Pikiran manusia masih memiliki keterbatasan, sehingga saat ide muncul, harus segera dituliskan atau dikerjakan. Rentannya pikiran manusia dalam menyimpan ide, sering digambarkan dalam film Tom and Jerry. Sering kita lihat di atas kepala Tom muncul lampu yang bersinar sebagai penanda bahwa Tom memiliki ide. Tapi idenya kerap hilang, karena Jerry si tikus datang mengambil lampu gagasan tersebut. Maka perlu bagi Tom menyelamatkan lampu itu sebelum hilang. Begitulah sifat ide manusia, harus segera dituliskan. Karena “sebagaimana membaca, menulis adalah kata kerja”, tutur Badauni. Jadi memahamai bahwa membaca dan menulis merupakan kata kerja, menjadi kunci jawaban persoalan susah menulis atau malas membaca.

Senada dengan Badauni, Anwar Jimpe Rahman, peneliti dari Ininawa mengatakan bahwa kegagalan orang-orang dalam menulis adalah karena menghakimi dirinya sendiri sebelum tulisannya dibaca oleh orang lain. Mengatakan “tulisanku jelek” adalah salah satu bentuk menghukumi diri sendiri, apalagi dengan menyerah dan tidak mau mempubikasikannya. Menurut Anwar Jimpe, yang harus dilakukan jika terlanjur menghukumi diri adalah membuktikan kepada orang-orang bahwa tulisan kita jelek. Biarlah orang-orang yang memberikan interpretasi bahwa tulisan kita jelek atau bagus.

Yang menarik dari pembahasan Anwar Jimpe bagi saya adalah soal metode praktik sebelum teori. Al-Quran menjadi landasan dari rumusan tersebut. Praktik langsung di lapangan dan melakukan penelitian lebih efektif, daripada berkutat pada metodologi terlebih dahulu. Keberadaan metode cenderung memenjarakan kreatifitas peneliti di lapangan. Karena dibatasi oleh ketentuan-ketentuan metodologis yang kaku dan harus. Jadi menurutnya, metode paling ampuh dalam penelitian adalah tidak ada. Kita hanya butuh alat seperti recorder, pulpen, buku, dan lisan. Saat itulah, saya cengar-cengir sendiri. “Ahh.., kamu ketawa berarti masuk di akalmu”, tuduh salah satu kakak berkumis tipis yang hadir saat itu, sembari tertawa.

Yang membuat saya cengar-cengir adalah terbersitnya kesadaran bahwa perjalanan menyusuri kelas etnografi mirip perjalan Sun Go Kong dan Kungfu Panda. Antara Saya dengan kelas etnografi, Sun  Go Kong dengan perjalanan mencari kitab suci di barat, dan Kungfu Panda dengan gulungan naganya, sama-sama menemukan kekosongan. Inilah yang coba kami urai dalam proses selanjutnya di lapangan, menyisir padang pasir yang penuh fatamorgana. Mencari makna-makna dan bagaimana sirkuit kebudayaan suatu masyarakat. Maka menjadi penting percaya pada diri sendiri. Sabar dalam menghadapi segala proses yang ada. Penghapusan ego pun sangat dibutuhkan, agar data emik yang didapatkan tidak bias oleh subjektivitas atau tercemar sudut pandang the other.

Plontosnya Ideologi Si Plontos

 

Once upon a day, dalam sebuah ruang berbentuk persegi tepat di lantai empat salah satu gedung kampus peradaban. Sekelompok kecil orang-orang yang menamai diri senior, berdiri di depan kelas. Mereka memandang ramah seisi ruangan yang berhias kepala-kepala plontos dengan wajah lugu nan polos. Pada jas almater hitam mereka, sebuah kata melekat. Tidak butuh waktu lama bagi Si Plontos dengan tubuh gempal, untuk mengenali kata tersebut. Seandainya ia belum tahu kepanjangan kata itu, pastilah akan tertawa terbahak-bahak di depan para senior. Karena sebagai orang Bantaeng, kata itu dapat bermakna lain. Bisa dibayangkan bagaimana ujungnya jika hal itu terjadi.

Tetiba Si Plontos gempal yang duduk di pojok kelas, teringat kisah-kisah berbau heroisme dan mistis dari kata itu. Konon, satu kata sederhana itu harus dimiliki setiap orang yang terdaftar dalam perguruan tinggi dan mengikuti semester berjalan. Kata yang kemudian hari diproduksi menjadi sistem kepercayaan. Kata tersebut selain sebagai doktrin, juga merupakan “arsenal”  bagi warga benteng peradaban untuk menciptakan peradaban intelektual yang berbudi luhur.

Sebagai mahasiswa yang mengemban amanat agent of change, kata itu harus menjadi jubah di balik almamater kampus. Karena kampus merupakan benteng terakhir yang diharapkan mampu menjaga peradaban suatu bangsa. Jadi sudah selayaknya kampus mampu melahirkan mahasiswa yang visioner, kreatif, dan produktif dalam pemikirian dan kebajikan. Dari kampus pula, tradisi intelektual dan literasi diharapkan tetap lestari. Dengan cara tersebut, kita bisa menciptakan revolusi yang elegan. Bukan revolusi yang mengedepankan sikap ekstrem dan radikal dalam prosesnya. Mengatasnamakan kepentingan bersama, tapi disaat bersamaan memarginalkan golongan lain.

Dengan kata yang sama, seorang mahasiswa dapat menjadi nabi-nabi sosial. Setiap insan benteng peradaban diharapkan menerjemahkan kata tersebut, dalam pelbagai praktik-praktik kebajikan di tengah kehidupan bermasyarakat. Guna menuntaskan banyak persoalan negeri. Suatu problem yang membikin galau tujuh keliling tujuh generasi presiden kita. Tapi peran sebagai social of control bisa terwujud, jika kita menjadikan kata itu sebagai spirit menularkan virus-virus kebermanfaatan. Tentu ini bukan hal yang mudah karena kita harus menampik ego pribadi. Sebagaimana pitutur KH. Sahal Mahfudh, bahwa “menjadi baik itu mudah, hanya dengan diam saja yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit itu menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan”. Akan tetapi, berjuang menjadi kata yang kumuh bagi segelintir mahasiswa era milenial. Barangkali karena keseringan makan mie instan, jadi maunya yang instan-instan saja.

Lihatlah! Banyak mahasiswa menuju dunia di mana setan-setan berpesta. Tidak sedikit mahasiswa mengalami kemorosotan moral. Lupa wasiatnya sebagai moral of force (polisi moral). Banyak yang terjebak dalam gaya hidup hedonis, pragmatis, dan culas. Mahasiswa kini lebih suka mencari yang nyaman-nyaman saja. Enggan bergelut dengan lumpur, untuk meraih emas pengetahuan yang terpendam. Tradisi baca, diskusi, menulis, dan bahkan demonstrasi kian susut. Apakah sikap ini yang akan menjadi pondasi kebangsaan yang kita cita-citakan?

Si Plontos ingat pendakuan Radhar Panca Dahana, dalam bukunya Politik dan Kebudayaan, bahwa basis kultural kita sedang diterjang oleh gelombang tsunami kebudayaan. Bencana kultural inilah yang membikin porak-poranda dunia mahasiswa. Sedikit saja yang sadar dan mencoba melawan arus. Atau sekadar menjaga diri agar tidak terseret arus.

Tapi tidak sedikit pula mahasiswa yang terbenam dalam budaya baru. Budaya neo paganism teotecnology, memuja teknologi sebagai yang segalanya. Adagium senior adalah tuhan yang trend tempo hari, berganti menjadi gawai adalah tuhan. Mahasiswa lama kelamaan mulai kehilangan rasionalitasnya. Banyak yang terjebak dalam dunia virtual dan tidak bisa lagi kembali. Kegandrungan kita bermain game hingga berjam-jam, sembari update status “tembus pagi, menyambut mentari”. Mengenaskan! Empat tahun kita habiskan bersetubuh dengan dunia maya. Kita lupa tujuan merantau, tapi selalu ingat minta kiriman bulanan. Untuk beli buku? Bukan! Untuk mengisi kuota dan memenuhi hasrat materil lainnya. Walhasil, cara berpikir kita lama-kelamaan semakin dangkal, sehingga kita bersikap antipati dan apatis terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Kegandrungan membaca status, menjadikan cara kita membaca realitas hanya secara tekstual saja. Pisau analisis kita semakin tumpul kawan. Kita kini sangat mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang lebih mengedepankan penafsiran secara tekstual. Dialog dan diskusi menjadi terabaikan. Kini yang kita sukai adalah mencoba “menjadi Tuhan”, dengan mengambil hak prerogratif-Nya. Buktinya lisan kita amat ringan mengkafirkan sesama, yang suatu saat meledak menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa tercinta.

Jadi, jangan heran kalau kita mendapati banyak koruptor tidak lagi merasa was-was. Karena mahasiswa sebagai parlemen jalanan sudah kehilangan nalar kritis. Hilang moralitasnya. Mahasiswa telah melepaskan pedangnya di tengah-tengah padang, lalu berjalan mundur menyaksikan rakyat kecil ditindas. Inilah yang terjadi jika kita hanya memakai kacamata kuda, pakai riben pula. Hanya memandang lurus ke depan, tidak lagi berpandangan secara universal dan sistematis tapi sempit lagi pragmatis.

RAKUS, tulisan itu jelas sekali. Itulah kata yang terpampang pada jas almamater senior di depan kelas dengan berhias kepala-kepala plontos. RAKUS itu bukan sekadar ideologi mahasiswa semata, tapi sebuah keyakinan yang harus mengejawantah dalam praktik-praktik sosial. Oleh karena itu, RAKUS sebagai ideologi mahasiswa, seharusnya tidak diplontoskan oleh budaya-budaya baru yang dangkal dan mematikan jiwa.

Kata RAKUS inilah yang menjadi pemantik bagi Si Plontos gempal, untuk menjelajah dalam lorong-lorong sunyi benteng peradaban. Karena ia percaya, akan terus percaya, bahwa kelak akan datang masa di mana mahasiswa kembali tersesat di jalan yang benar. Mahasiswa akan kembali mengedepankan rasionalitasnya dalam menganalisis secara kritis berbagai problema yang ada di masyarakatnya.

Si Plontos gempal tetap yakin, mahasiswa akan memasuki masa romantisme intelektualnya kembali. Masa di mana mahasiswa bersahabat dengan buku-buku. Bergumul dan tidur dengan buku-buku. Karena dengan membaca, mahasiswa akan memiliki wordview yang moderat, universal, dan sistematis. Olehnya, hari ini mahasiswa harus menjadi “rakus” ilmu pengetahuan dan berdiskusi. Serta “rakus” membaca buku dan menulis. Karena dengan kerakusan yang demikian, akan melahirkan pengatahuan-pengetahuan baru. Sebab semakin berpengetahuan seseorang, maka akan semakin toleran kata Gus Dur. Rasa toleransi ini pulalah yang akan membawa kita pada sikap mencintai kemanusiaan. Jadi seberapa RAKUS anda hari ini?

Sumber ilustrasi : aghamisme.blogspot.co.id

Surat dari Kotak Besi Gunung Ballung Loe Maros

Kawan, maukah engkau mendengar cerita kami? Kisah kotak besi di gunung Ballung Loe, tepatnya di dusun Bara desa Bonto Somba kabupaten Maros. Berada di puncak gunung menjadikan kami terisolasi nan jauh dari hingar bingar kota metropolis. Tapi kami menolak menjadi pandir dan miskin. Kami bersyukur kepada Sang Pemberi Kehidupan atas kesederhanaan hidup. Dengan bersyukur, kami merasa lebih dekat dengan-Nya.

Kawan, dengarlah! Kotak besi yang kami maksud adalah sekolah. Sekolah di kota terbuat dari batu bata, bertingkat-tingkat, nyaman, sarana prasarana lengkap, dan pastinya punya banyak buku di perpustakaannya bukan? Sedang sekolah kami hanya sebuah balok kayu dan bambu-bambu yang berbentuk kotak. Yang diselimuti seng sebagai dinding. Sekolah yang dibangun secara swadaya oleh warga dusun Bara, terdiri dari tiga ruang kelas. Sekali lagi, kami bersyukur kepada Allah SWT karena kami sudah memiliki bangunan sekolah untuk belajar, walaupun hanya sebuah kotak besi. Daripada harus belajar di kolong rumah yang juga berfungsi sebagai kandang sapi seperti dulu.

Bangku sekolah kami dari bambu dengan meja dari papan, yang penting bisa menulis dan duduk dengan nyaman sahabat. Walaupun sesekali terganggu karena memperbaiki tempat duduk yang patah karena bambunya lapuk. Atau gerimis hujan yang menerobos lewat atap.

Lantai sekolah kami beralaskan tanah sahabat. Maka kami akrab dengan tanah air, dekat dengan langit pertiwi. Di kiri kanannya hutan pinus dan belukar. Bayangkan betapa asyiknya membaca, tetapi kami hampir tidak punya buku untuk dibaca. Jangankan buku pelajaran, buku tulis pun kadang hanya satu untuk semua pelajaran. Bahkan sebagian dari kami menenteng buku dalam plastik, atau menitipkannya dalam tas teman lain. Keterbatasan tersebut bukan alasan untuk tidak tersenyum. Tapi kami tahu, keberadaan tebing curam dan bencana longsor sesekali dapat merenggut jiwa kami. Tapi kami percaya Tuhan Maha Yang Pengasih akan melindungi hambaNya yang tekun menuntut ilmu, teguh menghadapi getirnya kehidupan, bersabar menghadapi ketidakadilan, dan kelaliman penguasa.

Sahabat, kealpaan pemerintah tidak menjadikan api semangat belajar kami padam. Tapi sebaliknya, menjadi pemantik tekad belajar kami. Dengan menanam harapan di masa mendatang kami dapat membawa perubahan bagi hidup dan kehidupan masyarakat dusun Bara. Memberikan pendidikan dan sekolah yang layak bagi generasi selanjutnya.

Dengan sandal jepit walaupun beberapa memiliki sepatu jarak 3 sampai 5 kilometer ikhlas kami tempuh, mendaki gunung, lewati sungai, dan menerobos hutan pinus sembari melukis mimpi di awan. Tekad menjadi pandai menjadikan lelah, hujan, dan panas tidak terasa. Tetapi sekolah kotak besi hanya memiliki dua orang guru, dengan jumlah kami yang ratusan. Sedang di kota-kota guru dengan label PNS berlimpah ruah.

Terletak sekitar 30 kilo meter dari mukim penduduk, maukah guru berkelas dengan sertifikasi dan gaji besar datang kesini? Ada seseorang, tetapi dia bukan PNS. Sabbu’na (baca: namanya) ibu Jannah. Dialah guru pahlawan tanpa tanda jasa, sang Umar Bakri milenial. Guru yang menolak dijajah materialisme dan pragmatisme. Ibu Jannah memangkas jarak, melipat waktu, membuang semua rasa lelah, dan meninggalkan keramaian kota. Tetesan keringatnya serupa dawat hingga kami pandai menulis dan membaca. Lewat ketekunannya kami dapat berhitung, mengenali huruf, dan angka-angka. Bayangkan, andai saja guru berstatus PNS mengajar disini, kami lebih cepat pandai. Tapi, sekali lagi kami bersyukur bisa sekolah, bisa belajar walau dalam keterbatasan.

Sahabat, kami juga ingin berbaris rapi di depan sekolah seperti yang kami lihat di televisi, sembari memandangi kain berwarna merah putih berkibar dengan gagahnya. Yang belakangan kami ketahui bahwa itulah bendera. Bisa saja kami memancangkan tiang bendera dari bambu di ladang, tapi kami tidak punya bendera pusaka dengan warna merah putih itu.

Dan setelah kedatangan kakak yang menamai diri penginspirasi dari sudut negeri, kami akhirnya bisa melihat bendera pusaka. Tidak ada lagi di antara kami yang akan bertanya, apa itu?, sembari menunjuk kain dua warna. Merah putih akan berkibar di tiang bambu depan kotak besi di puncak gunung. Dan 17 Agustus 2017 adalah upacara kemerdekaan kami yang pertama.

Kepada sang merah putih, hormaaaaaat..gerak! Berkibarlah wahai sang saka merah putih. Di bawah panjimu kami sandarkan cita-cita kemerdekaan yang dijanjikan. Garudaku, terbanglah bersama ratusan cita-cita kami. Bawalah ia ke pangkuan ibu pertiwi, agar kami bisa kembali kepelukan tanah air yang kami cintai dengan bangganya. Bendera dan garudaku yang pusaka, kabarkan kepada bapak-bapak berdasi di parlemen dan gedung-gedung mewah itu, kami ada. Dan kami adalah Indonesia.

***

Di sudut negeri, masih saja terdapat rakyat yang bukan lagi seolah, tapi memang tersisihkan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya fasilitas pendidikan dan kesehatan yang sangat minim. Sebagaimana yang dialami ratusan anak kotak besi dusun Bara desa Bonto Somba kabupaten Maros. Terisolasi dari keramaian penduduk, menjadikan kelompok masyarakat tersebut seperti ‘siluman’ yang keberadaanya hanya masuk kategori lain-lain dalam data sensus penduduk.

Kalau masyarakat demikian masih ada, jauh di puncak gunung, pedalaman atau pesisir, apa yang sebenarnya ditulis dan dilaporkan pemerintah desa kepada camat, camat ke kabupaten, lantas ke provinsi, sehingga kita menjadi buta akan kondisi rakyat?