Semua tulisan dari Ahmad Mursyid Amri

Termasuk penulis yang lahir dari generasi terakhir 90-an, yaitu tanggal 10-10-1999, lahir dan dibesarkan di kabupaten Bantaeng, pada tahun 2011 beliau memutuskan untuk merantau hanya sebentar, rentang waktu 2011-2014 karena alasan bersekolah di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, di sekolahnya satu cerpennya pernah dipublish oleh majalah yang sangat populer di kalangan pelajar sekolahnya, Majalah Sinar Kaum Muhammadiyah, yang berjudul Punya Maksud (2014), lanjut 2014-2017 kembali ke kampung halaman dan mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Bantaeng, pada masa putih abu-abu itulah juga lahir buku pertamanya berjudul Tacin (2015), dan 2017-sekarang ia memutuskan untuk mengenyam pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi.

Tiada Pertanyaan yang Berakhir Pada Pertanyaan Itu Sendiri

Semuanya berlalu begitu saja, tapi saya tak tahu untuk apa. “Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai? Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, “Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat? Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”, sehingga semua bisa keluar menuju ruang yang tak memiliki sekat, prasangka, perasaan, serta hubungan sebab-akibat.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian berulang kali menghinggapi kepala. Di tiap-tiap sudut sepi dan ramai. Ia menagih jawaban yang selama ini tak bisa kusiasati. Ia hadir seperti gayung kamar mandi yang dinding-dindingnya mulai timbul bercak-bercak hitam. Tubuh yang telanjang dan harap cemas terkena air dingin pagi itu, serta sikat gigi yang selalu bikin bingung. Akan ditaruh dimanakah ia?. Pasal, tak ada tempat untuk menyimpan peralatan mandi di ruang yang hanya dipisahkan dinding dua kali tinggi manusia itu. read more

Jangan Terlalu Cinta Membaca

Sewaktu hujan sedang melepas rindu dengan bumi. Saya masih sibuk bertatap muka dengan butirnya. Membasuhi separuh tubuhku di jalan. Di tengah derasnya hujan, saya masih memaksa motor tua yang tak bisa dipaksakan lagi itu, menebas rintik-rintik hujan bermata peluru – Seperti itulah kira-kira penggambaran singkatnya – ditemani tubuhku yang kecil dan kurus.

Sepuluh menit di jalan. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Sudah gentayangan di tempat berteduh. Bagian depan kemeja biru dan celana cokelat serta sepatuku jadi basah. Buatku geram. Semakin ingin cepat sampai. Sementara baju dan celana bagian belakang, untungnya hanya kena cipratan air sedikit saja. Begitupun tas hitam tipis, yang bisa dibilang tidak terlalu parah, sehingga harus membasahi seperangkat alat tulis dan laptop di dalamnya. read more

Penikmat Ekspresi

“Jadi, apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku?” tanyamu, membuka cerita.

“Ekspresi.”

“Kau gila!” ucapmu, menyambut jawaban singkatku barusan. Aku tersenyum mendengarnya, aku suka caramu menjawab ucapanku, karena itulah aku menikmatinya, menikmati ekspresimu.

“Yah, aku jatuh cinta kepadamu pada pandangan yang ke-empat,” ucapku.

“Maksudmu?” lagi-lagi kau menyambut ucapanku barusan.

“Pada dasarnya, jatuh pada pandangan pertama benar-benar tidak pernah ada, kelakukan nakal penyair itulah yang membuat paradigma kita menjadi satu, tatapan pertama adalah ketidaksengajaan yang dibuat oleh keadaan, tatapan kedua karena aku mulai penasaran dari ketidaksengajaanku sendiri, tatapan ketiga aku mulai suka, namun, bukan berarti aku jatuh cinta, jatuh cinta tidak semudah itu, ada tatapan keempat yang tidak dilukiskan dalam bilangan, ia imaji yang bersetubuh dengan waktu, menggilai rasa yang dengan cepat menyerbak ke frasa yang lain, dan aku tidak sadar dibuatnya.” read more