Semua tulisan dari Alfathri Adlin

Lahir di Padang Panjang, 4 Oktober 1973. Sekarang bekerja sebagai Manajer Redaksi Pustaka Matahari. Pernah menjadi Editor Pelaksana Penerbit Jalasutra. Telah menerbitkan beberapa buku di antaranya: Antologi FSK ITB “Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multiperspektif”, penerbit Jalasutra 2006. Antologi FSK “Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas”, penerbit Jalasutra, 2007. Antologi FSK “Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer”, penerbit Jalasutra, 2007.

Postmodernisme dan Fenomena Kebudayaannya

Charles Jencks, seorang arsitek sekaligus pemikir, mengklaim bahwa postmodernisme lahir pada tanggal 15 Juli 1972, pukul 15.32 bersamaan dengan diruntuhkannya kompleks perumahan untuk orang-orang berpenghasilan rendah, yaitu, Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang baginya merupakan lonceng kematian bagi arsitektur modern. Kompleks perumahan tersebut di desain oleh Minoru Yamasaki, yang juga mendesain gedung WTC (dan kini pun sudah ambruk). Arsitektur adalah sebuah titik awal yang cukup bagus untuk mulai membicarakan tentang postmodernisme, karena istilah modernisme pun lahir dari bidang arsitektur. Awalnya adalah Suger, seorang kepala biarawan, yang merekonstruksi basilika St. Denis pada tahun 1127, yang kebingungan untuk menyebut apa gaya arsitektur baru yang didesainnya tersebut, karena merupakan suatu “penampakan baru” untuk masa itu. Maka dia pun mencomot istilah Latin, yaitu opus modernum, yang artinya “sebuah karya modern”. Kata modern sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu modo yang artinya “barusan”.1 read more

Rene Descartes

Suatu ketika, Rene Descartes mengunjungi sahabatnya, orang Inggris, dan diajak makan malam bersama. Sahabatnya bertanya apakah sebelum makan malam dia mau mencicipi hidangan pembuka terlebih dahulu? “No, thank you”, ujar Descartes, “Aku lebih suka kita langsung makan malam saja.” Lalu sahabatnya kembali bertanya, “Apakah Anda mau minum dulu sebelum kita mulai makan malam?” Karena Descartes adalah seorang Katolik saleh yang tidak suka minuman beralkohol, dengan tegas dia berkata “I think not!”, dan WUSSSS! Descartes pun menghilang. read more

Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-4, Habis)

Mawathin: Pemetaan Kehidupan yang Dilalui Manusia

Untuk memahami entitas manakah yang merupakan diri manusia sejati, maka perlu disimak terlebih dahulu paparan menyeluruh ihwal tahapan kehidupan manusia sebagaimana tertuang dalam Al-Quran, yang memetakan dari minus tak hingga masa lalu sampai plus tak hingga masa depan. Pemetaan menyeluruh tersebut dirumuskan menjadi konsep tujuh mawathin (bentuk jamak mauthin) oleh Ibn ‘Arabi1 plus satu konsep mauthin tambahan dari Zamzam AJT (mendahului ketujuh mauthin lainnya yang dirumuskan Ibn ‘Arabi).2 read more

Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-3)

Struktur Insan: Triadik Jasad, Nafs dan Ruh Al-Quds

Konsepsi mengenai Struktur Insan serta visi penciptaannya adalah hal fundamental untuk memahami tentang misi hidup. Namun, permasalahnya, sedikit sekali yang dapat menguraikan konsepsi Struktur Insan tersebut secara rigour dan sistematik. Sebagaimana dinyatakan oleh Jane Idelman Smith & Yvonne Yazbeck Haddad bahwa “…sebagian dari ajaran-ajaran eskatologi yang lebih populer, yang dalam hal ini, para penulis—kalangan teolog tradisionis—telah gagal membedakan antara istilah nafs dan ruh, jiwa dan roh, baik dengan cara mempertukarkan kedua istilah itu maupun menggunakan yang satu untuk mengganti yang lain. Kecenderungan ini juga menjadi ciri sebagian besar analisis kontemporer. Persoalan bagaimana menamakan dan memahami fitrah kemanusiaan memang cukup njelimet sehingga banyak penulis kontemporer menegaskan bahwa mereka sangat malas membicarakan hal ini.”1 Kerancuan itu bahkan terlihat lebih luas lagi di wacana Psikologi Islam, misalnya, ketidaktelitian untuk membedakan antara nafs dengan hawa nafsu, nafs dengan psikis, lubb atau ‘aql (orang yang memilikinya di sebut ulil albab) dengan nalar (otak), dan lain sebagainya. Gejala ini sebenarnya telah diungkapkan penyebabnya oleh Al-Ghazali sepuluh abad yang lalu, dan ternyata masih terus terjadi hingga hari ini, yaitu, dikarenakan pemahaman akan istilah nafs, ruh, qalb dan ‘aql yang “…sedikitlah kalangan ulama-ulama yang terkemuka, yang mendalam pengetahuannya tentang nama-nama ini, tentang perbedaan pengertian-pengertiannya, batas-batasnya dan apa yang dinamakan dengan nama-nama tersebut. Kebanyakan kesalahan itu terjadi karena kebodohan dengan arti nama-nama ini dan persekutuannya di antara apa yang dinamakan itu yang bermacam-macam”.2 read more

Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-2)

Ma’rifatunnafs-Ma’rifatullah: Tujuan Penciptaan Manusia dan Misi Hidup

Bayangkan seseorang yang memiliki kemuliaan hati, pemurah, penolong, penyabar, pemaaf, pemberani dan banyak sifat mulia lainnya, akan tetapi dia tinggal seorang diri dalam sebuah gua besar. Tak pernah ada yang mengetahui kemuliaan orang tersebut, tak pernah ‘kekayaan’ yang dimilikinya tersebut terungkap kecuali hingga datang seseorang yang lain, dan interaksi di antara keduanya akan dapat membantu mengeluarkan segenap sifat-sifat mulia dari lelaki penghuni gua tersebut. Dan apabila semakin banyak orang yang datang kepada lelaki tersebut maka akan semakin banyak pula ‘kekayaan’-nya yang terungkapkan, yang diuraikan, yang dimanifestasikan karena kehadiran orang-orang tersebut. Begitu pula Allah, ketika pada awalnya belum ada sesuatu apa pun, hanya Dia Ta’ala sendiri yang menyimpan segenap Kekayaan-Nya, maka sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits qudsi: “Aku adalah khazanah tersembunyi (kanzun makhfiy), kemudian Aku cinta untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan Aku membuat diri-Ku dikenal oleh mereka, sehingga mereka datang untuk mengenal-Ku.” read more

Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-1)

Katakanlah: “Wahai Ahlul Kitab, marilah kita (berpegang) kepada kalimat yang sama (kalimat[in] sawa’[in]), yang tidak ada perbedaan antara kami dan kalian. Hendaknya kita tidak menyembah selain Allah dan hendaknya di antara kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah, kepada mereka, ‘Kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslimin).’” (QS ‘Ali Imran [3]: 64)

Pembicaraan tentang kalimat[in] sawa’[in], atau dalam istilah yang lebih dikenal secara populer sebagai “titik temu agama-agama”, merupakan salah satu topik yang paling panas dan sensitif. Bahkan, buku Mencari Titik Temu Agama-agama karya Fritjof Schuon yang ada di Perpustakaan ITB, dipenuhi dengan coret-coretan yang menolak dan bahkan mencaci maki isi buku tersebut oleh ‘peminjam tak bertanggung jawab’ (mungkin dengan dalih mesianistik: untuk menyelamatkan akidah umat). Namun, seperti ditegaskan oleh Huston Smith dalam kata pengantar buku tersebut: “Sudah jelas dengan sendirinya bahwa setiap hal mempunyai persamaan sekaligus perbedaan dengan hal-hal lainnya. Persamaan, paling kurang, dalam adanya hal-hal itu sendiri. Perbedaan, karena kalau tidak pasti tidak akan ada keragaman yang dapat diperbandingkan. Demikian juga halnya dengan agama-agama. Bila tidak ada persamaan pada agama-agama, kita tidak akan menyebutnya dengan nama yang sama: “agama”. Bila tidak ada perbedaan di antaranya, kita pun tidak akan menyebutnya dengan kata majemuk, “agama-agama,” dan karena itu kata benda tunggal akan lebih tepat untuk itu.”1 read more