Semua tulisan dari Andi Alfian

Lahir di Bombana, 05 Agustus 1999. Adalah manusia tidak berilmu di UIN Alauddin Makassar. "Aku sangat mencintai perbedaan hingga kuterlihat berbeda"

Setelah Berliterasi Lalu Apa Lagi?

Gerakan literasi berbasis komunitas akhir-akhir ini semakin marak diperbincangkan. Bukan hanya menjadi perbincangan, namun juga telah banyak terbentuk dan mengambil ruang di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran pelbagai komunitas literasi dari berbagai penjuru dalam acara Temu Komunitas Literasi “Selagi September: Sastra di Titik Temu” pada Sabtu, 16 September 2017 (malam minggu).

Sebagaimana yang dilansir di Rakyatku.com, Temu Komunitas Literasi  itu merupakan kegiatan temu komunitas literasi yang diprakarsai oleh empat komunitas literasi sastra Makassar, yaitu Pecandu Aksara, Arakata, Pembatas Buku, dan Serat Sastra UNM yang tentu juga bekerja sama dengan La Macca Creative Corner. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk gerakan literasi kreatif di sektor selatan Makassar. Sehingga salah satu bentuk kampanye media sosialnya adalah penggunaan hastag #jamaahkreatifsektorselatan. read more

Pendidikan Ketakutan dan Akhir Semester

“Pendidikan adalah senjata ampuh bagi peradaban”.

Persoalan pendidikan kita hari ini adalah persoalan ketakutan. Pendidikan kita hari ini adalah pendidikan ketakutan. Naluri keberanian dan kehausan ilmu pengetahuan generasi penuntut ilmu dikebiri oleh mereka, pengajar-pengajar penakut. Sehingga yang tersisa hanyalah gumpalan ketakutan. Propaganda ketakutan inilah yang membuat kita lupa bahwa kita punya keberanian sehingga kita pun takut berlaku berani. Setidaknya seperti itulah hipotesa awal saya sebagai pelajar di Jurusan Aqidah Filsafat. read more

Media Sosial dan Alienasi

Hidup tanpa perenungan tak layak dijalani” -Sokrates

Pada suatu hari saya duduk di lobi fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar, bersama beberapa orang yang tidak saya kenal. Saya duduk dengan posisi sangat berdekatan disebabkan tempat duduk lobi tersebut terbatas. Dalam waktu sekitar 2 jam duduk bersama, kami tidak pernah saling menyapa. Semua sibuk dengan aktivitasnya, berselancar di media sosial, mengotak-atik gawai, menonton youtube, semuanya menikmati jaringan nirkabel gratis yang disediakan oleh fakultas. Tiba–tiba datang seorang dosen tersenyum dan berkata “siapa nama temanmu ini?” sambil menunjuk orang yang duduk di samping saya. read more

Riak Kemacetan Berpikir dan Puisi-puisi Lainnya

Riak Kemacetan Berpikir

Senja kini

Sebutir embun pun tak terlihat

Sapaan angin melangkah pergi

Mentari tenggelam ditelan kepulan asap

Menyambut bibir malam menyapa

*

Tuhan seakan merasa iba

Menyaksikan unjuk rasa mahasiswa

Seolah kebenaran seharga nasi bungkus

Menjadi sampah kala telah disantap

Ironisnya

mereka membela hak rakyat

mereka membenci penindasan

Seakan-akan haus pada harmonisasi dan keadilan

Namun anehnya

Menutup jalan adalah solusi, kata mereka.

Merampas hak pengguna jalan raya

Tak bisa maju, tak bisa mundur read more