Semua tulisan dari Asran Salam

Petani yang senang menulis. Redaktur Kalaliterasi Paradigma Institute Makassar. Pegiat di Komunitas Simpul Peradaban Palopo.

Teknologi, Hoax dan Perlawanan Literasi

Kita tahu bersama, manusia telah berjalan melawati puluhan juta tahun untuk sampai di era sekarang. Sudah banyak yang pergi dan datang. Kita juga tahu bersama,bahwa pada puluhan juta tahun yang lalu, manusia pernah hidup dengan berkoloni dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Manusia kala itu, memiliki pengetahuan yang kompleks dan holistik tentang alam semesta. Literasinya tidak pada lembaran-lembaran buku. Tapi pada alam semesta yang penuh misteri. Manusia purba demikian para antropolog menamainya hidup damai bersama alam semesta. Mereka mengambil seadanya dari alam, sekadar untuk hidup. Nalar mereka adalah nalar kebutuhan bukan keserakahan.

Laju sejarah tak tertahan. Setelah ribuan tahun manusia menganut hidup seadanya dari alam dan tak bermukim pada satu tempat, sekitar 10.000 tahun yang silam, sebuah revolusi besar terjadi. Manusia mulai mencurahkan seluruh waktunya untuk memanipulasi kehidupan sepsis hewan dan tumbuhan. Mulai dari terbit hingga matahari terbenam manusia menabur biji, menyirami tanaman, mencabuti gulma dari ladang dan menggiring domba-domba ke padang subur. Pekerjaan itu, di pikir bisa menyediakan lebih banyak buah, padi-padian, dan daging. Di sinilah awal terjadi revolusi cara hidup manusia—Revolusi pertanian.[1]

Mungkin kita hampir semua berada pada pengetahuan yang sama bahwa revolusi pertanian yang ditemukan oleh manusia adalah sebuah kemajuan. Sebuah terobosan yang menghadirkan kebahagiaan pada manusia. Tapi faktanya, menurut Yuval Noah Harari, justru itu adalah kemunduran manusia. Di sana manusia mengalami ancaman gagal panen. Busung lapar menghinggapi manusia. Menjadi penyakit yang tercipta akibat perubahan itu. Tak hanya itu, manusia semakin mempersulit dirinya. Tenaga mereka keluar dua kali lipat dari pada  peradaban sebelumnya.

Waktu tak mungkin kembali, situasi alam telah berubah. Sudah banyak spesis hewan dan tumbuhan yang telah punah. Kini manusia semakin di ambang krisis. Dengan perjalanan waktu dengan segala lakon negatifnya, sepertinya pertanian tak lagi memadai hasrat manusia. Pada situasi seperti itu, manusia juga tak pernah berhenti. Tak pernah menyerah. Imajinasi tentang hidup yang simpel dan mudah menggerakanya untuk menemukan hal baru. Dan hal yang baru ditemukan selanjutnya adalah sains. Revolusi sains tercipta.

Sains bukanlah pengetahuan akan tetapi ketidaktahuan. Sains lahir dari pertanyaan-pertanyaan atas sisi misterius yang tersisa dari alam semesta. Lahir dari jawaban teks agama yang dianggap tidak memadai menjawab kosmos. Lalu berangkat dari pertanyaan-pertanyaan atas kosmos, sains modern berkembang hingga peradaban baru lahir mengubur peradaban sebelumnya. Peradaban modern—begitu kita semua menamainya. Di peradaban ini, sains menjadi agamanya. Kemajuan sains modern akhirnya memicu hadirnya teknologi. Kita semua menyambutnya secara suka cita seolah tanpa cacat.

Kehadiran teknologi telah menjadi budaya sebab ia berubah menjadi cara hidup. Secara tidak sadar menyetir cara kita merasa, berpikir dan berharap. [2] Saat ini, hampir seluruhnya teknologi menjadi pengelola hidup kita. Lewat teknologi, manusia diberi imajinasi bisa mengembangkan dirinya secara cepat dan tak terbatas secara kuantitatif. Manusia yang tenggelam dalam arus mencari yang lebih cepat, lebih canggih dan selalu lebih melimpah. Larut dalam keragaman tanpa fokus. Bukannya kita menemukan diri, arus yang serba cepat membuat kita tersesat di antara banyak hal yang melingkupi kita. Dan dalam hasrat merangkul semuanya, kita malah tak menjadi apa pun dan kehilangan diri sendiri. [3] Barangkali di sinilah kebenaran Heidegger bahwa era teknologi hanya membawa manusia pada nihilis. Teknologi diciptakan sebagai upaya untuk mengemansipasi diri justru berakibat pada kehilangan diri sendiri.

Teknologi sebagai wujud kemajuan dari peradaban justru tak hadir memberi kebahagiaan sepenuhnya. Di balik kecanggihan teknologi ternyata menyisahkan kecemasan. Dengan teknologi, eksistensi kita sebagai manusia terancam. Sebab bukan lagi kita yang mengontrol teknologi. Malah sebaliknya, teknologi yang telah mengontrol diri kita. Bukan lagi teknologi yang tergantung kepada diri kita, akan tetapi kitalah yang tergantung kepada teknologi. Kita pada akhirnya menjadi budak dari teknologi. Menjadi budak dari apa yang kita ciptakan sendiri. Dalam situasi kebudayaan teknologi saat ini, kita tidak seharusnya berdiri pada sisi menolak teknologi sebab ia sudah menjadi fakta sosial. Yang terpenting adalah menyadari kunci terdalam teknologi yakni manusia yang merdeka dan kreatif.

Budaya teknologi minus kreativitas, nihil independensi atau kemerdekaan akan berpuncak pada budaya copy paste. Tanpa kreativitas dan independensi melalui gawai (handphone) kita dengan gampangnya menyebarkan hoax. Menyebarkan berita bohong—tanpa fakta. Menyebarkan info yang direkayasa untuk tujuan tertentu secara masif guna mengubur info yang benar. Dengan menyebarkan hoax, kita akhirnya masuk dalam lingkaran kepentingan uang dan kekuasaan tanpa disadari. Kita akhirnya seperti robot-robot tanpa kesadaran dan daya kritis untuk memferivikasi kebenaran info yang hadir. Dengan wajah demikian, kita sebenarnya tak lebih baik dari manusia purba. Bisa jadi kita adalah evolusi kemunduran dari manusia-manusia sebelumnya. Manusia yang hidup puluhan juta tahun silam.

Akhirnya tak ada pilihan lain untuk melawan maraknya fenomena penyebaran hoax. Kita harus berdiri tegak dengan gagah berani digerakan literasi. Kita perlu bergerak bersama mendorong sebanyak mungkin orang untuk mencintai literasi. Saatnya kita bergandeng tangan—tanpa harus melihat, kita dari latar belakang mana untuk menyebarkan virus membaca dan menulis. Sebab dengan lakon literasi akal sehat dapat terjaga. Daya kritis akan tumbuh. Dengan literasi kita akan memiliki imun terhadap info-info yang tak benar. Kita akan mawas diri dari kebohongan yang sengaja disebar. Saatnya semua elemen berdiri bersama mengulurkan tangan. Menarik orang di sekitar untuk mulai membuka lembaran-lembaran papirus yang bernama buku untuk mengejanya. Kita harus mulai menghadirkan perpustakaan di rumah masing-masing dengan itu budaya literasi tumbuh dari rumah.

# Di sampaikan pada Orasi Ilmiah Palopo Festival Literasi 6 Maret 2018 di Taman Baca
[1] Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: KPG. Hlm: 93-94
[2] Setyo Wibowo. Paideia: Filsafat Pendidikan Politik Platon. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 21
[3] Ibid, Hlm: 21

# Gambar bersumber Google

MIWF Mencari Definisi

Di abad sebelum masehi, puisi dan seni pernah dianggap minor. Dipandang sesuatu yang tidak mampu mengungkapkan realitas. Ilmu yang tak cukup menyampaikan kebenaran secara bulat dan utuh. Seni dan sastra (puisi) terlalu penuh metaforis, sedangkan kebenaran dan realitas harus diungkapkan secara gamblang. Sehingga satu-satunya yang paling absah menyingkap kebenaran adalah filsafat. Satu-satunya ilmu yang menampilkan realitas dengan jernih, vulgar, dan jelas yakni filsafat. Di era sebelum masehi ini, Platon merupakan filosof yang terdepan berpendapat demikian. Platon menjadikan filsafat sebagai narasi tunggal ihwal penyingkapan dan pengungkapan realitas. Platon secara tidak langsung mencipta tragedi bagi sastra (puisi) dan seni. Meminggirkannya pada sudut yang tak berarti apa-apa bagi kebenaran. Selain hanya untuk ekspresi subyektif semata.

Dalam lintasan sejarah selanjutnya, ribuan abad setelah Platon. Pada abad yang kemudian dikenal sebagai modern, pun sastra dan seni menjadi minor. Lagi-lagi sastra dan seni tak punya metode-metode yang disebut ilmiah dan berlaku secara universal dalam mengungkapkan realitas dan kebenaran. Sastra dan seni terlalu subyektif dan hal subyektif sungguh bertentangan dengan kaidah ilmiah. Yang ilmiah tentunya obyektif—tanpa pelibatan interes personal di dalamanya. Yang ilmiah harus sesuai fakta.  Empirisme-Positivisme menjadi narasi tunggal menggatikan filsafat menghakimi sastra (puisi) dan seni. Menempatkan sastra dan seni bukanlah ilmu. Ini tragedi selanjutnya bagi sastra dan seni setelah apa yang dilakukan oleh Platon.

Ketika dunia modern didominasi narasi tunggal positivisme ini, kita beruntung punya Martin Heidegger yang “memunculkan” sastra (puisi). Baginya, sastra bisa menjadi medium ekspresi kebenaran. Barangkali Heidegger sadar betul apa-apa yang menimpa sastra. Walau dirinya bergelut dengan filsafat, tapi ia tidak menempu jalan seperti Platon mengenai sastra. Heidegger mengambil jalur lain. Ia sepertinya tak mau mengulangi kesalahan-kesalahan sebelumnya. Tak mau menciptakan tragedi selanjutnya. Heidegger sedang berjuang menempatkan disiplin ilmu yang lain secara sejajar—tanpa ada yang unggul satu dengan yang lainnya.

***

Di Makassar, 17-20 Mei 2016 telah dihelat sebuah pesta penulis bertaraf internasional. Tempat bersejarah Fort Rotterdam menjadi lokasi kemeriahan para penulis ini. Berbagai panggung diskusi disuguhkan bagi penikmat literasi. Kegiatan ini bisa menjadi penanda sebuah gairah literasi Makassar. Gairah literasi Indonesia. Ini juga mungkin upaya mengangkat keterpurukan literasi Indonesia. Kita tahu bersama, bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari buncit literasi dunia. Kehadiran Makassar International Writers Festival (MIWF) barangkali bagi penggagasnya Yulianti Farid dan mungkin bagi kita semua, ini adalah tindakan nyata untuk berbuat bagi kemajuan literasi Indonesia. Inilah upaya untuk mensejajarkan Indonesia (Makassar) dengan dunia lain.

Di pembukaan MIWF edisi ketujuh kali ini, saya dengan seksama menyimak pidato Lily Yulianti Farid. Saya mencoba menangkap subtantif tema MIWF tahun ini. Di pidato Yulianti, ia banyak berbicara kebinekaan. Katanya, Indonesia bisa bertahan hingga sekarang ini, karena kita merawat kebinekaan. Meyakini bahwa kita beragam. Kira-kira melalui literasi, kebinekaan (keragaman) akan tetap lestari. Itu pesan subtantif saya tangkap di MIWF kali ini. Sebuah pesan yang sungguh mulia dan patut diapresiasi. Patut untuk kita perjuangkan sama-sama. Tapi, pada kemeriahan dan ide-ide MIWF, tetap kita perlu menghadirkan catatan. Memberi pertanyaan sebagai cara untuk melihat MIWF dari sudut yang lain. Tanya itu, mungkin saja seperti ini. Benarkah MIWF mendorong keragaman—Khususnya keragaman bagi genre penulis? Writers yang dimaksud oleh MIWF seperti apa?

Sejumlah pertanyaan di atas tentunya tidak terlalu sulit untuk kita jawab, bila kita mengamati dengan seksama MIWF. Sejauh pengamatan saya (mungkin saja ada yang luput), MIWF umumnya hanya memberi panggung para pelakon sastra dan seni. Dengan demikian, kita akan menemukan sebuah definisi writers yang dimaksud dalam MIWF yakni penulis sastra. Lalu bagaimana para penulis di luar sastra? Sebut saja penulis filsafat, penulis reportase penelitian, opini dll? Oleh karena itu, bagi saya MIWF telah mencipta sebuah definisi sempit tentang penulis. MIWF secara tidak langsung menciptakan frame bahwa penulis itu yang hanya bergelut pada bidang sastra semata.

Saya tidak tahu persis mengapa penggagas MIWF hanya memberi panggung pada genre tertentu saja. Mudah-mudahan di alam bawah sadar para penggagasnya tak bermaksud meminorkan yang lain. Sebab jika demikian, kita akan menemukan sebuah tragedi baru yang bentuknya sama dengan apa yang lalu. Sama di zaman Platon dan Heidegger. Namun yang berbeda hanya pelakunya. Kini para lakon sastra dan seni sebagai aktornya. Kita berharap bahwa di alam bawah sadar para pegiat di MIWF, tak menjadikan sastra dan seni menjadi satu-satunya kebudayaan literasi. Menjadi satu-satunya medium mengungkap realitas dan kebenaran. Tentunya kita semua berharap, mudah-mudahan MIWF tidak menjadi pesta otoritatif khususnya di Makassar dalam hal karya sastra dan sastrawan. Bahwa yang layak disebut karya sastra dan sastrawan adalah orang-orang dan karya-karya mengambil bagian di MIWF.

Kemudian pengamatan saya (tentunya subyektif) selanjutnya mengenai MIWF, yakni ia tak mengangkat literasi tentang petani, buruh dan nelayan yang kita tahu di negeri ini banyak mengalami ketidakadilan. Panggung itu tidak kita jumpai. Padahal bagi saya hal tersebut perlu diwartakan kebanyak orang dan melalui MIWF bisa menjadi mediumnya. Karena demikian, kita bisa mengajukan pertanyaan, apakah MIWF punya semangat emansipatoris? Apakah MIWF punya semangat kemanusiaan? Lalu semangat kemanusiaan seperti apa? Jangan-jangan MIWF hanya pesta tiap tahunnya untuk menciptakan selebritis penulis tanpa keberpihakan yang jelas? Jangan-jangan MIWF adalah sebuah pesta penulis yang terbingkai dalam “bebas nilai”—sastra untuk sastra dan seni untuk seni? Lalu dengan riang kita menyebut telah bekerja untuk peradaban. Peradaban apa? Untuk siapa? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk diajukan. Urgen untuk memahami arah perjuangan MIWF sesungguhnya. Menyingkap yang terdalam tanpa harus terlena dengan gegap gempita pesta puisi dan nyanyian. Karena semua itu, bisa saja tak punya sumbangsih apa-apa pada kemanusiaan dan peradaban. Semoga tidak demikian.

Mahasiswa Kini

“Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya,

tanpa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar.

Terimalah dan hadapilah”

 

“Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup.

Dia batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia,

batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia.

Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran”

—Soe Hok Gie—

 

Apa definisi mahasiswa? Sebuah tanya yang tak mudah kita menemukan jawaban yang pasti tentangnya. Kecuali jika mengacu pada jawaban normatif dari undang-undang bahwa ia adalah seseorang yang terdaftar di salah satu perguruan tinggi dan mengikuti semester berjalan. Mungkin kerumitan menemukan jawaban tentang apa itu mahasiswa saat ini, tidak lepas dari fenomena mahasiswa itu sendiri. Barangkali karena kita membandingkan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa yang dulu semisal Tan Malaka, Syahrir, Hatta, dan Soekarno dll.

Kita tahu nama-nama di atas, sewaktu menjadi mahasiswa punya imajinasi tinggi tentang kemanusiaan. Mereka adalah tokoh-tokoh mahasiswa di eranya yang berani menempuh risiko panjang dalam hidup dalam memperjuangkan ide-idenya. Mahasiswa yang masih di usia belia sudah punya ide-ide besar tentang kebangsaan. Mereka punya blue print akan Indonesia yang ideal. Gagasan-gagasan yang mereka punya bukanlah given. Bukanlah sesuatu yang mereka miliki semenjak dalam rahim. Tapi mereka menemukannya dalam keakraban pada literasi. Dari pergulatan mereka dengan realitas sosial.  Memungutnya pada pertukaran gagasan di ruang diskusi. Sungguh mereka berpesta gagasan. Saling mengadu pikiran dalam praktik. Dan kita tahu, hasil dari pesta gagasan yang panjang itu, lahirlah Pancasila.

Kini, fenomena mahasiswa bisa dibilang kehilangan imajinasi ihwal hal ideal tentang tatanan masyarakat bangsa dan negara. Hilangnya imajinasi itu, sebab mahasiswa tak lagi akrab dengan literasi. Tak lagi riang dengan diskusi. Padahal aktivitas itu, mampu membangun pandangan hidup. Bisa membantu merangkai ide-ide ideal. Kebanyakan kesibukan mahasiswa yakni berburu gawai yang terbaru, pakaian yang terbaru, style yang lagi trend—intinya mengupayakan diri mereka menyerupai sedemikian rupa apa yang diiklankan oleh media. Mahasiswa banyak terbawa arus dan meyakini realitas semu yang dicipta media sebagai kenyataan sejati. Mahasiswa sebagai subyek menerima mentah-mentah yang simbolik sejatinya semu.

Mahasiswa sesarinya diharap mampu memiliki kesadaran “yang berbeda” dan mampu menjadi counter diskursus bagi wacana yang tidak memihak pada keadilan, namun kenyataannya remuk dalam lingkaran kesadaran palsu. Sehingga tidak sedikit mahasiswa menjadi bagian masalah masyarakat. Dan ironinya, yang mengaku aktivis banyak pula masuk dalam bingkai ini. Banyak yang mengaku aktivis punya cita-cita membela rakyat namun tak punya iman yang kuat. Idealismenya sangat mudah dipertukarkan dengan kepentingan sesaat. Sangat mudah remuk pada tekanan-tekanan senior yang punya kepentingan. Barangkali begitu memang bila tak dekat dengan tradisi literasi, inkonsistensi dilakukan tanpa harus merasa bersalah dan memperbaikinya.

Kita tahu, banyak mengaku aktivis dengan getol berteriak agar demokratisaasi berjalan dengan baik di tubuh pemerintahan, namun pada saat sama dalam roda organisasinya di kampus sungguh mereka mempraktikkan sikap-sikap yang tidak demokratis. Biasanya aktivis menyuarakan Indonesia harus bersih dari korupsi. Tapi tidak sedikit mengaku aktivis melakukan tindakan-tindakan koruptif dengan menggunakan dana organisasinya untuk kepentingan pribadi. Biasanya mereka dengan semangat tinggi memperjuangkan penegakkan hukum. Tapi pada waktu yang sama, mereka banyak yang melanggar aturan organisasinya. Mengabaikan konstitusi lembaganya. Mereka selalu mendorong agar politik bersih dari money politik. Tapi di sisi lain tidak sedikit mereka “membeli” suara untuk meraih kekuasaan di organisasinya. Para aktivis biasanya mendorong agar anggota DPR tidak hanya mengatasnamakan rakyat tapi tidak berbuat untuk rakyat. Namun tidak sedikit aktivis berjuang atas nama rakyat tapi pada kenyataannya mereka menjual rakyat.

Sekali lagi, mungkin begitu memang kalau tak akrab dengan literasi, sehingga tak punya jeda untuk merenung. Tak punya ruang untuk memikirkan—mereflesikan idealisme yang dijalani—bahwa kadangkala ia runtuh bukan karena angin badai. Dengan ancaman atau intimidasi. Akan tetapi, ia biasanya luruh dan hancur karena angin sepoi-sepoi. Dengan harapan-harapan masa depan. Dengan iming-iming kesejahteraan. Tak punya ruang berhenti sejenak dan merefleksikan bahwa jalan aktivis adalah jalan sunyi. Jalan sepi yang memungkinkan hanya melihat diri kita yang berdiri tegak di sana—tak ada orang lain.

KH. Ahmad Dahlan dan Semesta Akal

Seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan, sekitar seratus kilometer dari pusat kota kabupaten. Di tenggara Sulawesi, pada sebuah desa di pesisir pantai. Sekolah yang berdinding papan berlantai seadanya dengan deretan bangku serta meja yang terbuat dari kayu. Madrasah Tsanawiyah Al-Ikhlas jelas papan nama tertera di pintu sekolah. Di sanalah saya bersekolah. Saat saya menginjakkan kaki di kelas tiga, pada malam yang tak ramai, sebuah acara sedang dibuka. Acara itu adalah Training Melati tingkat satu (TM I) Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM—sekarang IPM). Di deretan bangku serta meja yang ada, duduk sekitar 40 anak remaja. Saya salah satu dari sekian anak remaja itu.

Pada acara itu, saya mendengar sosok nama yang sering disebut. Berbagai label disemai kepadanya: sang pembaharu, reformis, pelurus aqidah umat dan paling harus diingat ia adalah sang pendiri Persyaraikatan Muhammadiyah. Di situlah saya pertama mengenal KH. Ahmad Dahlan—lebih tepatnya mengenal nama. Saya belum mengerti gagasan-gagasannya. Pembaharu, reformis, purifikasi, yang sering disebut-sebut kala itu, tak saya mengerti. Namun kegiatan TM I itu, saya ikuti dengan riang. Saya merasakan ada atmosfir baru tentang model keberagamaan yang “baru”.

Jauh dari seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan, tepatnya di dua ribu tiga menjelang dua ribu empat, di kampus, saya bertemu dan berkawan dengan teman-teman mahasiswa yang juga berlatar IRM.  Saat itu, ingatan tentang IRM atau Muhammadiyah sedikit termantik kembali. Walau kala itu KH. Ahmad Dahlan belum juga menjadi bacaan serius. Belum berupaya menelusuri pokok-pokok pikirannya. Hal ini barangkali disebabkan waktu kuliah, saya tidak terlibat di ortom Muhammadiyah di level mahasiswa (IMM). Saya memilih mengembara ke organ kiri hingga tercantol di HMI MPO.

Singkat cerita, di dua ribu enam belas, di program megister sosiologi saya mengajukan judul tesis tentang Islam Berkemajuan pernyataan pikiran abad kedua Muhammadiyah. Karena itu, saya diharuskan—mengharuskan diri—untuk menelusuri gagasan KH Ahmad Dahlan. Mempelajari pokok-pokok gagasanya. Sebab Islam Berkemajuan, konon memiliki latar pada KH. Ahmad Dahlan. Mulailah saya mengumpulkan buku tentang KH. Ahmad Dahlan. Berupaya menemukan tulisan atau catatan-catatan beliau. Dari pencarian itu, akhirnya saya menemukan salah satu tulisannya yang diberi judul, Tali Pengiket Hidoep Manoesia (1923). Dan inilah yang akan saya cerita. Tulisannya ini akan saya coba ulas—khususnya terkait dengan akal.

Sesarinya pembicaraan akal, bukanlah hal yang baru. Ia diskursus klasik. Aristoteles salah salah satu filosof Yunani menempatkan akal sebagai esensi manusia. Orang-orang yang hidup jauh dari zaman Socrates memahami realitas salah satunya melalui nalar (akal) selain mytos (mistis) tentunya. Di Islam sendiri, akal banyak dibicarakan. Al-Quran sendiri dibanyak ayat, Allah Swt “mengistruksikan” untuk memikirkan semesta dengan segala isinya sebagai tanda-tanda keberadaaNya. Atau sabda Sang Nabi suci Rasulullah saw, secara gamblang menyebut bahwa, “agama adalah akal, dan tidak beragamalah bagi orang yang tidak berakal”.

Dalam tradisi pemikiran Islam, akal salah satu menjadi tema diskursus maupun digunakan. Aliran teologi Muktazilah, dalam banyak hal memahami agama (teks suci) Islam mengutamakan penggunaan akal. Sehingga mereka kadangkala dikategorikan sebagai rasionalis Islam.  Kalangan filsafat parepatetik Islam, bahkan menjadikan akal sebagai sesuatu yang urgen dalam menggapai kebenaran. Al-Farabi salah satu tokoh parepatetik Islam, mengurai akal manusia dalam berapa “tingkatan”. Tingkatan paling bawah adalah akal potensial. Sebuah bentuk akal yang masih berelasi dengan persepsi inderawi.

Lain halnya dengan akal aktual sebagai transformasi dari akal potensial. Akal aktual unsur-unsur inderawi tak lagi ada. Ia mengambil bentuk menjadi forma. Kemudian pada tingkatan akal capaian, sepenuhnya formal (forma) kontak dengan akal aktif yang juga sepenuhnya formal. Pada ruang itu akal sepuluh dalam hirarki akal mengaktualisasikan pengetahuan. Namun dari tingkatan akal Al-Farabi ini, Ibnu Sina menambahkan satu tingkatan lagi yakni akal suci. Baginya, ini adalah akal tertinggi dimiliki oleh orang-orang yang memiliki intelektual tinggi. Akal suci mengambil bentuk ilham atau wahyu. Para nabi berada pada tingkatan akal suci ini.

KH. Ahmad Dahlan dalam mengulas akal tidak seperti kaum parepatetik. Tidak dalam kerangka filsafat. Tetapi akal yang dibicarakan adalah akal yang digunakan untuk memahami realitas sosial-kultural. Dalam tulisannya, KH. Ahmad Dahlan menghadirkan pembicaraan ihwal watak akal, pendidikan akal serta kesempurnaan akal. Tentang watak akal berikut KH. Ahmad Dahlan mengulasnya dalam Tali Pengiket Hidoep Manoesia (1923), “Wataknja akal itoe, memopenjai dasar menerima segala pengetahoean dan memang pengetahoean itoelah jang mendjadi keboetuhannja akal; sebab akal itoe oempamanja sepeti bidji (widji) jang terbenam didalam boemi. Bisanja terbit dari boemi dan tambah-tambah sehingga mendjadi pohonan jang besar……..

Pada tulisan KH Ahmad Dahlan ini, nampak jelas ia gambarkan bahwa watak akal itu memiliki potensi untuk berkembang dan terbuka kepada segala traktat pengetahuan. Akal hakikat dasarnya mampu menerima segala pengetahuan baik pengetahuan agama maupun sains. Dimensi lain dari watak akal adalah memiliki peluang untuk selalu berkembang dan mencapai kesempurnaannya bila selalu disirami dengan pengetahuan. Selanjutnya, ihwal pendidikan akal, KH. Ahmad Dahlan menuliskan berikut: “Sehabis-habisnja pendidikannja akal, itoe dengan Ilmoe Manteq..”. Sebaik-baik pendidikan akal adalah dengan mantiq (logika). Kita tahu bersama, mantiq atau logika adalah pengajaran bagi akal untuk memahami aturan-aturan berpikir benar. Ia adalah ilmu alat yang menjadi landasan untuk memahami pengetahuan yang lain.

Kemudian tentang kesempurnaan akal, KH. Ahmad Dahlan memberikan parameter. Ada enam poin standar kesempurnaan akal yang ia ungkapkan. Pertama belas kasih. Bagi KH. Ahmad Dahlan, sesuatu perkara bila ditimbang tidak akan sampai pada keutamaan bila tak dilandasi dengan belas kasih. Akal menjadi tajam menentukan perkara bila beralaskan belas kasih. Kedua, mendasarkan pada komitmen dan konsistensi. Ketiga, dalam memilih harus terang benderang. Tidak boleh terjebak pada konsensus—taklid. Keempat, harus teguh pada kebenaran dan kebajikan. Kelima, berdiri secara kukuh pada pilihan yang telah dipilih. Keenam, mampu memilah dan menempatkan mana yang mesti dilakukan dan tidak dilakukan.

Semesta akal dituturkan KH. Ahmad Dahlan, sesarinya upaya untuk mengantarkan pada sikap terbuka terhadap segala dimensi pengetahuan. Akal yang mampu melahirkan individu yang punya keberanian untuk berdialog dengan kebenaran yang lain (the others). Akal yang utarakan KH. Ahmad Dahlan adalah akal yang mampu mengantarkan individu pada posisi tepat dalam realitas sosial. Akal yang membimbing kita untuk melahirkan solusi pada problem peradaban yang ada. Namun, sisi lain KH. Ahmad Dahlan, di akhir Tali Pengiket Hidoep Manoesia memberi uraian bahwa akal juga pada sisi lain, bisa terjerumus dalam perangkap syahwat dunia. Dengan itu, untuk tidak terperangkap pada syahwat dunia, maka akal harus dilengkapi dengan hati yang suci.

Pertalian antara akal dan hati suci, bagi KH. Ahmad Dahlan mampu mengantarkan kita pada derajat tertentu. KH. Ahmad Dahlan menyebut derajat itu sebagai manusia budiman. Mencapai derajat manusia budiman bisa dibilang sebagai pencapaian spiritual seseorang. Manusia budiman merupakan sosok individu yang telah mengalahkan hawa nafsunya sehingga dalam dirinya terwujud kecenderungan kepada Allah swt.

Cuap-Cuap Perihal Ideologi

Ideologi adalah konsep yang kompleks dalam artian tidak memiliki definisi yang tunggal. Jumlah definisi ideologi tergantung tokoh yang mengkajinya. Bagus Takwin dalam Akar-Akar Ideologi, mendaku bahwa ada tiga kategori dan pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat dan memahami ideologi: Pertama, pendekatan aliran yakni ideologi dicermati berdasarkan asumsi dari mana manusia mendapatkan pengetahuan. Dari pendekatan ini pula, maka ideologi dipandang dari segi positif dan negatif. Kedua, pendekatan yang dilihat aspek psikologis yang menjadi ranah (domain) ideologi. Ketiga, pendekatan kronologi yaitu melihat urutan waktu lalu membandingkanya dengan konsep ideologi yang lahir dalam waktu tertentu.

Mengacu pada pendekatan aliran sebagaimana di atas telah dijelaskan, maka dua bentuk yang muncul secara umum yakni ideologi yang dipandang positif dan negatif. Kelompok yang memandang ideologi sebagai suatu yang positif, melihatnya sebagai seperangkat nilai dan aturan tentang kebenaran.  Dari sudut pandang ini, ideologi dianggap sebagai suatu yang terberi, alamiah, dan universal dan menjadi rujukan manusia dalam bertingkah laku. Aliran ini disebut sebagai aliran rasionalisme-idealis.

Aliran atau kelompok selain rasionalisme-idealis adalah empirisme-realis. Aliran empirisme-realis mengamati ideologi sebagai studi bagaimana ide-ide manusia tentang semua hal yang diperoleh dari pengalaman. Kemudian dari pengalaman itu, tertata dalam pikiran (mental) selanjutnya menjadi kesadaran yang mendeterminasi tingkah laku. Dengan demikian, aliran ini memandang ideologi dapat bernilai positif maupun negatif. Sisi positif dan negatif sangat ditentukan oleh realitas (fakta sosial) yang dihadapi oleh manusia.

Berdasarkan pada aliran rasionalisme-idealis dan imperisme-realis, maka pengkajian ideologi pun akhirnya bisa dilacak akar-akar kemunculanya. Walaupun penggunaan kata ideologi itu sendiri baru familiar di abad 18 oleh Destutt de Tracy (1754-1836). Dari asal katanya, istilah ideologi dapat dipilah menjadi kata idea dan logos. Secara sederhana dapat diartikan sebagai aturan atau hukum tentang idea atau pikiran. Penggunaan kata idea sendiri sejatinya sudah dapat ditemukan pada abad ke- 3 SM oleh Platon.

Platon yang merupakan salah satu filosof besar Yunani mengatakan, bahwa ada alam di mana segala kebenaran sejati dan segala rujukan bagi benda-benda yang ada di dunia fisik ini, ditempati oleh manusia sekarang ini—disebut sebagai alam idea. Apa yang ada pada alam semesta ini, merupakan tiruan semata dari apa yang ada dalam alam idea. Dengan demikian alam idea bersifat abadi sedangkan alam dunia (semesta) fana dan musnah. Pengertian ideologi jika mengacu pada idea sebagai kebenaran sejati, maka di sinilah ideologi menjadi sesuatu yang positif bagi manusia. Pandangan idea Platon ini, sejatinya mewakili aliran rasionalisme-idealis. Platon dengan konsep idea-nya banyak menjadi rujukan bagi pemikir-pemikir berikutnya.

Konsep idea yang kemudian berbeda yang dimaksud oleh Platon, lahir dari muridnya sendiri yakni Aristoteles. Istilah idea bagi Platon yang berarti kebenaran sejati dari “dunia idea” kemudian digunakan oleh Aristoteles dengan pengertian yang lain. Bagi Aristoteles, idea merupakan “representasi mental (dalam benak) dari persentuhan manusia dengan suatu yang ada pada kenyataan”. Padangan Aristoteles mewakili aliran empirisme-realis.

Gagasan Aristoteles ini kemudian banyak diikuti oleh kaum empiris berikutnya seperti John Lock, Etienne Bonnot de Condillac, Antonie Destuctt de Tracy, Karl Marx dan penerusnya (Marxian). Sebagaimana di atas telah diuraikan bahwa pada aliran ini, ideologi bisa dinilai sebagai sesuatu yang positif maupun negatif. Ideologi sebagai suatu yang positif memandang bahwa realitas (kenyataan-empiris) yang membentuk kesadaran (ide) sebagai suatu kebenaran yang sesungguhnya. John Lock, Etienne Bonnot de Condillac, Antonie Destuctt de Tracy mewakili pandangan ini.

Sedangkan di lain pihak, realitas atau kenyataan empiris yang kemudian selanjutnya menjadi kesadaran (ide) tidak menunjukkan kebenaran sebagaimana adanya. Dalam artian kenyataan itu, hasil rekayasa oleh kelompok tertentu—oleh kelas borjuis—oleh sistem kapitalisme. Sehingga kesadaran yang dimiliki oleh subjek (individu atau kelompok) adalah kesadaran palsu. Pada pandangan ideologi dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Karl Marx menjadi tokoh utama dari pandangan ini kemudian dilanjutkan pengikutnya (Marxian).

Dari uraian di atas, kajian tentang ideologi benar-benar merupakan sesuatu yang kompleks. Tentunya dengan kompleksitas tersebut penarikan definisi ideologi menjadi beragam. Ali Syariati seorang pemikir asal Iran di bukunya, Ideologi Kaum Intelektual, misalnya, memberi pengertian tentang ideologi dengan melihat dari akar katanya. Ideo berarti pemikiran khayalan, konsep, keyakinan dan sebagainya. Sedang kata logi yang berarti logika, ilmu, atau pengetahuan—sehingga ideologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang keyakinan. Dalam konteks ini ideologi mengandung keyakinan-keyakinan dan gagasan-gagasan yang ditaati oleh kelompok, suatu kelas sosial, bangsa, ras tertentu.

John Storey, pemikir pop culture, melihat ada lima setidaknya pengertian ideologi. Pertama, ideologi yang dinilai sebagai seperangkat ide sistematik yang terlembagakan kemudian diartikulasikan oleh kelompok tertentu dalam masyarakat. Kedua, ideologi sebagai teks-teks atau praktik-praktik yang telah didistorsi dan diselewengkan dari kenyataan. Ketiga, ideologi adalah teks-teks budaya atau bentuk-bentuk ideologis yang mempresentasikan citra tertentu tentang dunia. Keempat, ideologi tidak hanya sebagai pelembagaan ide-ide, tetapi juga sebagai praktik material. Kelima, ideologi pada level konotasi, makna dan sekunder, makna biasanya tidak disadari yang ditampilkan oleh teks atau praktik.

Menurut Martin Suryajaya, ideologi memiliki kekuatan. Kekuatan pertama, ideologi adalah mampu mempengaruhi cara berpikir kita: mana benar, mana salah. Kedua, mengarahkan cara kita menilai mana baik, mana buruk. Ketiga mampu mengarahkan kita pada tindakan tertentu. Mana yang harus dilakukan mana tidak harus dilakukan. Lanjut Martin Suryajaya mengatakan bahwa terdapat beberapa bentuk ideologi antara lain: liberalisme, anarkisme, dan marxisme.

Liberalisme adalah idelologi yang menganggap individu harus bebas menentukan kehendak sendiri. Artinya individu bisa menentukan nasibnya sendiri. Ideologi liberalisme merupakan ideologi yang merayakan kebebasan individu. Liberalisme ini merupakan penopang dari kapitalisme. Liberalisme memiliki beberapa model. Model tersebut seiring dengan perjalanan sejarahnya—yakni kondisi sosial yang dihadapi. Liberalisme pertama disebut liberalisme klasik, kemudian modern, selanjutnya neoliberalisme. Adapun ideologi anarkisme adalah ideologi melihat bahwa sumber permasalahan politik yakni adanya negara. Terjadinya penindasan karena adanya dianggap lembaga yang berwenang sifatnya memaksa. Maka bagi anarkisme, negara harus dihapuskan dan digantikan dengan sistem komunal.

Selanjutnya, Marxisme adalah rumpun teori yang menjadi pengikut Karl Marx dan Engels. Ideologi ini melihat bahwa terjadinya penindasan karena adanya sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan kelas. Dua kelas yang dilahirkan adalah kelas borjuis dan kelas proletar. Maka cita-cita dari ideologi adalah masyarakat tanpa kelas—komunal modern. Namun sebelum sampai ke komunal modern terlebih dahulu menerapkan sosialisme demokratik. Sosialisme demokratik memiliki beberapa ciri misalnya kediktatoran proletariat, depripatisasi, negara sebagai lembaga distribusi, negara menerapkan sistem jaminan universal.

 

#Tulisan ini sebagai bahan diskusi pada Intermediate Training BEM FIP UNM bertempat di STIE Amkop Makassar, Desember 2016

 

Tindak Membaca Ali Syariati

Sebagian orang khusunya yang akrab dengan khazanah Islam (pemikiran Islam Iran) mungkin sangat jarang yang tidak mengenal Ali Syariati. Rekam jejaknya tidak diragukan lagi dalam memberikan sumbangan dalam bentuk “gagasan baru” terhadap Islam. Di Iran, Ali Syariati, sangat dominan terkenal dikalangan intelektual muda yang punya gejolak perlawanan. Namun, tidak disenangi oleh sebagian ulama terkhusus ulama yang ortodoks yaitu ulama menolak kebaruan dalam tafsir tentang Islam. Ali Syariati, dengan sejumlah tafsir Islam yang ia suguhkan pada prinsipnya merupakan upaya untuk keluar dari dogma interpretasi Islam yang statis dan apatis tanpa gerak dinamis.

Di Indonesia, Ali Syariati, mulai dikenal pada kalangan intelektual pasca meletusnya revolusi Islam Iran pada akhir 1970-an. Sebuah revolusi yang kemudian hari banyak menginspirasi gerakan Islam di penjuru dunia termasuk gerakan Islam di Indonesia. Ali Syariati, punya andil besar terhadap terciptanya revolusi tersebut—walaupun kemudian Ali Syariati sendiri tidak menyaksikan revolusi yang ia perjuangkan sebab keburu dibunuh oleh agen Syah dua tahun sebelum revolusi.

Salah satu yang dianggap sumbangsih Ali Syariati dalam revolusi Islam Iran adalah keberhasilan menebar pengaruh untuk membawa “kembali” anak muda Iran yang telah terkoptasi ideologi marxisme yang cenderung meninggalkan agama Islam. Tidak lagi mempelajari Islam sebagai alas dalam berjuang.

Ali Syariati, berhasil menafsirkan Islam menjadi revolusioner yang memang dirindukan oleh anak muda Iran kala itu. Dengan retorika yang baik, Ali Syariati benar-benar telah menjadikan Islam sebagai “alat” dalam menggugah dan menggugat anak muda untuk bangkit melawan segala bentuk penindasan yang menimpa masyarakat Iran.

Pada pengantar buku saya, Ali Syariati: Dari Revolusi Diri Ke Revolusi Sosial (2015), di situ saya, menggambarkan awal “perkenalan” saya dengan Ali Syariati. Saya mengenal gagasanya semenjak membaca kumpulan ceramahnya yang kemudian dibukukan dengan judul Tugas Cendikiawan Muslim. Berangkat dari buku itu, saya kemudian menulusuri karya-karya lain. Pada buku yang saya tulis itu, terdapat beberapa gagasan Ali Syariati yang saya coba uraikan yang bersifat pengantar sebagaimana saya telah jelaskan pula dalam pengantar buku tersebut.

Buku yang saya tulis itu, sifatnya pengantar hingga bagi orang-orang tertentu memungkinkan tidak menemukan kedalaman dalam penggalian pikiran-pikiran Ali Syariati pada buku tersebut. Karena pengantar, maka kehadirannya hanya sebagai pemantik saja untuk menjelajahi pikiran-pikiran Ali Syariati lebih dalam dan itu bisa saja dilakukan oleh siapa pun.

Pada prinsipnya, jika kita ingin mengkaji lebih dalam pikiran Ali Syariati, tentunya sama halnya kita berupaya untuk menemukan kebenaran dari gagasan-gagasannya. Sehingga, dalam upaya pencarian kebenaran pada gagasan Ali Syariati, tentunya sederet pertanyaan yang bisa saja muncul dan mewarnai pikiran kita. Misalkan: Apakah gagasan Syariati masih relevan konteks kekinian? Apakah pikiran-pikiran Ali Syariati adalah sebuah sistem berpikir yang utuh? Yaitu, sebuah sistem berpikir yang dapat menjawab segala aspek kenyataan.

Salah satu gagasan Ali Syariati yakni mengenai Tuhan. Pertanyaan yang bisa saja kita ajukan adalah apakah konsep ketuhanan Syariati dapat diterapkan atau digunakan dalam ruang dan waktu di mana saja? Sebagimana kita ketahui, dan sekilas pada buku saya tergambarkan bahwa Islam dengan Tauhid-nya, bagi Ali Syariati, adalah ketundukan secara total kepada Allah SWT. Dengan demikian, tidak ada lagi kekuatan selain kekuatan Tuhan. Yang ada hanya kekuasaan Tuhan. Maka, tidak ada toleransi perihal penguasaan manusia satu dengan manusia yang lain. Penindasan yang dilakukan dalam bentuknya apa pun sama halnya pengingkaran terhadap Tuhan. Tuhan bagi Syariati, bukan Tuhan yang perlu disusun dalam sejumlah argumentasi untuk membuktikan keberadaanya seperti yang dilakukan oleh para filosof.

Memuliakan Tuhan bukanlah menempatkan Tuhan jauh di sana atau Tuhan yang transenden. Namun, “menarik” Tuhan yang transenden itu dalam imanensi—dalam kehidupan nyata, yakni kehidupan yang penuh pergumulan. Menarik Tuhan dari langit untuk turun ke bumi menyelesaikan konflik sosial antara haq dan batil. Bentuk kesakralan Tuhan, tidak mesti menempatkan pada posisi di sana (di luar) namun, Tuhan mesti dihadirkan di sini dalam ruang dan waktu. Sebab, memang yang meyakininya berada pada ruang dan waktu yang materil. Ali Syariati, menempatkan Tuhan sebagai spirit bagi yang meyakininya. Spirit yang dimaksud adalah letupan dalam diri yang bisa membuat manusia untuk lebih peduli terhadap realitas sosial yang timpang.

Bagi saya, dalam menilai konsep kebertuhanan Ali Syariati, pada prinsipnya sebuah konsep kebertuhanan yang “fungsional-pragmatis”. Kebertuhanan fungsional-pragmatis yang saya maksud di sini, sejauh mana keyakinan kepada Tuhan tersebut memiliki fungsi dalam melakukan perubahan sosial dengan itu pula kita bisa lebih yakin akan keberadaan Tuhan. Jika dicermati, konsep ini mungkin saja tidak bebas dari problem. Misalkan, lalu bagaimana dengan seseorang meyakini Tuhan namun, tidak mampu melakukan perubahan sosial?

Jika kita menerima konsep kebertuhanan Ali Syariati sebagai sebuah kebenaran yang berlaku secara universal, maka secara tidak langsung kita mengatakan bahwa keyakinan seseorang yang disebutkan di atas tentunya tidak benar dan bisa saja diklaim sebagai tidak bertuhan—atheis. Sisi lain, bisa dibilang model atau konsep Tuhan Ali Syariati, hanya berlaku pada konteks sosial, yang mana terjadi penindasan di dalamnya. Selanjutnya, bagaimana tawaran Ali Syariati, model kebertuhanan pada konteks sosial yang damai dan harmoni—tanpa konflik? Di mana konteks sosial yang demikian, suatu yang dimungkinkan dalam realitas sosial. Masihkah konsep Tuhan Ali Syariati relevan?

Selain itu, pada konsep manusia dan kemanusiaanya, misalkan mengenai konsep empat penjara dan musuh-musuh manusia yang dihadapi manusia yang disinyalir oleh Ali Syariati sebagai penghambat kesempurnaan manusia itu, apakah juga berlaku pada konteks kekinian? Yakni pada era yang disebut pascamoderen dan postindustrial ini, di mana kenyataan telah terpragmentasi dalam bidang-bidang khusus yang kadang tak lagi mengandalkan tenaga manusia mengerjakan sesuatu. Namun, cukup menggunakan teknologi yang lebih maju (lebih canggih) yang tentunya tidak sama pada era Ali Syariati. Kompleksitas problem yang dihadapi manusia dalam era sekarang tentunya sangat jauh berbeda dengan apa yang dihadapi pada zamanya—jika kita menerima bahwa perubahan adalah suatu yang pasti. Manusia kini, tentunya jauh berbeda dengan manusia pada masa Ali Syariati, dalam hal relasinya dengan sosial.

Dalam kajian ekonomi-politik, analisis kapitalisme Ali Syariati tentunya tidak secanggih kapitalisme sekarang. Jika pada masanya, kapitalisme bisa ditunjuk pada satu personifikasi kekuasaan. Namun, sekarang kapitalisme telah merasuki hal yang elementer pada diri manusia yakni menjadi modus eksistensi yang kadang susah untuk diidentifikasi ataupun ditunjuk.

Analisis teologis Ali Syariati terhadap tidak bertuhannya kaum sosialis—komunis perlu untuk tinjau lagi pada aspek argumentasinya. Sebab, model sosialisme Abad 21 seperti apa yang terjadi di Kuba, Venezuela dan beberapa negara Amerika Latin, justru digerakkan oleh orang berasal dari Gereja. Orang-orang yang juga sangat meyakini Tuhan dalam kehidupannya.

Jadi, dengan beberapa contoh (tentunya masih banyak lagi yang lain di luar jangkauan dan pembacaan saya) problem di atas, sehingga kita dapat melakukan konstruksi baru agar tidak terjebak pada ortodoksi atau Syariatianisme buta. Jalan rekonstruksi dalam pemikiran Ali Syariati, merupakan jalan dalam menjaga pikiranya agar tidak “mati” bersama dengan kematiannya. Jalan rekonstruksi adalah arena yang sangat terbuka dalam ranah pemikiran.

Jalan tersebut, merupakan upaya untuk menangkap tanda pada pikiran/gagasan (teks) Ali Syariati. Bila kita mengkonstruksi pemikirannya, pada prinsipnya terjadi pertautan pada ruang kesadaran kita (pengonstruk) dengan Ali Syariati (teks). Teks Syariati, dalam bentuk gagasan-gagasan, tidak sepenuhnya mewakili Ali Syariati sendiri. Karena demikian, maka ini menjadi argumentasi yang tepat digunakan bahwa ruang rekonstruksi adalah sah dan wajar.

Mungkin yang patut untuk ditempuh, adalah menulusuri dan menemukan sejumlah tanda dalam pikiran Ali Syariati. Melalui sejumlah tanda tersebut, di sanalah kita bisa menciptakan makna baru. Hal ini sangat dimungkinkan, karena tanda memang tidak berdiri secara mandiri pada pikiran/gagasan/teks. Selalu saja terjadi dalam relasi dengan tanda-tanda yang lain—menjadi jejaring tanda.

Mungkin dengan metode ini, bisa menjadi peretas dalam demarkasi pemikiran Ali Syariati dengan konteks kekinian. Atau bisa menjadi penghubung antara pemikiran Ali Syariati yang lahir pada era modern dengan pikiran yang begitu berwarna-warni di era pascamodern ini. Dan yang terpenting mudah-mudahan menjadi tafsir baru terhadap kenyataan kini.

Jika itu dilakukan, maka suatu kewajaran bila akhirnya kita mengatakan telah menemukan “Ali Syariati kita”. Sebuah gagasan lama, namun memiliki ruh yang baru. Dengan ruh yang baru itu, menjadi penggerak dan jawaban yang dapat menimpali kegaduhan pemikiran kontemporer yang juga tidak sepenuhnya mampu menjawab problem sosial manusia. Sebab, yang disorot dalam realitas manusia dan kemanusiaanya pada pemikiran kontemporer hal yang aksiden semata—bukan berarti itu tidak penting—itu tetap penting. Namun tetap dibutuhkan keutuhan antara subtansi-aksiden, tunggal-jamak, universal-partikular dalam sebuh sistem pemikiran utuh yang mana dalam pemikiran kontemporer tidak lagi dipermasalahkan.

Dalam menjawab problem semesta, perlu dipandang sebagai suatu tidak terfragmentasi akan tetapi sebagai sebuah keutuhan problem yang juga perlu diselesaikan dengan sistem pemikiran yang utuh dan terbukti kebenaranya secara logis dan faktual. Dan “Ali Syariati kita” memiliki kemungkinan untuk itu yang secara historis pernah menggerakkan masyarakat Iran. Tapi bila dalam konteks kekinian, jika tenyata gagasan Ali Syariati, setelah direkonstruksi dan yang terjadi nihil kemungkinan menjawab kekinian–tak mampu ditarik relavansinya dalam menyelesaikan problem umat kekinian, maka lebih baik kita melupakannya. Hal tersebut adalah cara terbaik untuk menghormati dan menghargainya sebagai pemikir.

Islam Soekarno, Islam Progresif

Islam adalah agama yang tak mudah diringkus dalam definisi tertentu. Atau pada sebuah pengertian yang berlaku secara universal—di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh Islam tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah dan konteks di mana ia diterima. Karena Islam tak bisa dipisahkan dari tafsiran. Walau demikian, beberapa pengertian setidaknya diterima oleh pemeluk Islam. Bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam sebagai agama yang memberikan cahaya pada kegelapan. Islam adalah agama yang membela nilai-nilai kemanusiaan. Islam hadir untuk memperjuangkan keadilan. Walau dari sekian pengertian tersebut, pada akhirnya juga dimaknai berbeda oleh umat Islam. Memberikan artikulasi yang berbeda yang tidak sedikit melahirkan kebencian di atara mereka. Artikulasi yang satu mencaci artikulasi yang lain.

Islam yang lahir di tanah Arab, diserukan oleh Rasullah Saw, dalam perjalanan sejarah, akhirnya menjangkau Indonesia. Memasuki teritori Nusantara yang sebelumnya sudah memiliki keyakinan. Sudah memiliki iman yang dianut oleh masyarakatnya. Jauh sebelum kehadiran Islam, di era kuna—era pra Hindu-Budha. Inilah yang dianggap sebagai iman yang “genuin” dimiliki oleh orang Nusantara. Bentuknya seperti “kepercayaan-kepercayaan”. Animisme dan dinamisme dalam istilah yang digunakan oleh studi agama untuk menunjuk kepercayaan tersebut.

Iman masyarakat Nusantara kala itu, mempercayai segala macam arwah. Kekuatan magis pada alam dan benda-benda. Di Jawa dikenal dengan Kapitayan. Di Sulawesi Selatan, ada Tolotan dan Patuntun. Masyarakat Kalimantan melalui suku-suku dayak mempercayai Kahariangan. Tonass Walian untuk kepercayaan Sulawesi Utara—Minahasa. Naurus Pulau Seram—Maluku. Marapu, Sumba, Permalingan di Sumatra tepatnya bagian Utara. Dan masih banyak lagi tentunya kepercayaan di daerah lain di Nusantara. Sejarah berjalan, era kepercayaan berlalu, Hindu-Budha masuk menjadi iman baru pada masyarakat Nusantara. Hindu-Budha menjadi anutan pada era kerajaan. Abad ke-2 M hingga Islam menjadi wajah baru keimanan masyarakat Nusantara. Abad ke-7 M disinyalir sebagai awalnya Islam mengijakkan kaki di Nusantara. Beberapa bukti arkeologis seperti makam Islam sebagai jejak yang ditunjuk sebagai dasar argumentasi.

Adalah Agus Sunyoto, seorang sejarawan NU dalam Atlas Wali Songo, mendaku ihwal teori masuknya Islam di Nusantara. Akunya, setidaknya ada empat teori yang berkembang prihal asal muasal Islam di Nusantara. Pertama, teori India—Gujarat. Di tandai dengan artefak seperti batu nisan yang memiliki kesamaan arsitek India. Kedua, teori Arab (Mesir dan Hadramaut—Yaman). Pelacakan jejaknya adanya kesamaan pada mazhab Syafi’i. Ketiga, teori Persia—sekarang Iran. Argumentasi yang dibangun untuk teori ini, berdasarkan kemiripan dengan muslim Syiah: peringatan Asyurah 10 Muharram. Pemuliaan terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw, (Ahlul Bait) yang hidup dan menjadi tradisi dalam masyarakat Nusantara. Selajutnya, teori Cina, dasar argumentasinya dilihat dari adanya pengaruh budaya Cina dalam sejumlah kebudayaan Islam di Indonesia.

Dari sejumlah teori di atas, namun dalam pandangan kaum sejarawan ada kesapahaman bersama bahwa Islam yang masuk di Indonesia dengan jalan damai. Dengan jalan mempertemukan tradisi Nusantara denga nilai Islam. Dengan jalan “sintetis mistik” istilah Merle Calvin Ricklefs—sejarawan lulusan Cornell University—New York, Amerika. Islam masuk di Nusatara lebih mengedepankan sisi esoterisme. Mengajarkan Islam Tasawwuf. Gagasan mistik “Wahdatul Wujud”—kesatuan wujud dan “Wahdatul Syuhud”—kesatuan pandangan, menjadi pengetahuan yang diperjumpakan dengan tradisi Nusantara. Hamzah Fansury, Syamsuddin Al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, Syeikh Siti Jenar, Yusuf Al-Makassari, menjadi figur-figur pelopornya. Puncaknya pada gerak Wali Songo.

Sejarah terus berlanjut, beriringan dengan itu, Islam semakin diterima oleh masyarakat Indonesia. Islam kemudiaan menjadi agama mayoritas di Indonesia. Paruh abad ke-20, Islam Indonesia mengalami “polarisasi”. Tercatat secara garis besar ada dua bentuk polarisasi. Polarisasi ini, berakar sejak abad ke-17 M ketika beberapa anak muda Indonesia yang memperdalam agama di Haramayn (Mekkah dan Madinah) kembali ke tanah air. Orieantasi fiqih kecenderungan menjadi geraknya. Ide-ide pemisahan “yang tradisi” dan “yang Islami” menjadi wacananya. Pengaruh anak muda yang belajar di Haramayn ini, kemudian disebut sebagai kaum “modernis”. Sedang yang tetap pada pola Islam yang “turun temurun/tradisi” dinamai kaum “tradisional.

Soekarno dalam dua polarisasi Islam ini, berdiri di tengah-tengah. Hal ini terlihat ketika dalam pembuangan di Ende kurun 1934-1938, Soekarno memperdalam Islam. Mengaji Islam dengan seksama. Di pengasingan itu, Soekarno mencoba merenungi Islam yang “layak” untuk dianut di Indonesia. Melalui surat menyurat dengan A Hassan, pendiri Persatuan Islam, di situ Soekarno menyampaikan hasil permenungannya ihwal Islam. Selain itu, beberapa gagasannya atau ide-idenya yang dimuat dalam Suluh Indonesia Muda, Pandji Islam, dan Pedoman. Soekarno bukan modernis dan tradisionalis, bisa dilihat dari kritiknya terhadap kedua model ini. Kritik Soekarno ini, bisa dijumpai dalam buku Islam Kita, Islam Nusantara Oleh Muhammad Guntur Romli dan Ciputat School:

“Perbedaan kaum tua (tradisionalis—pen) dan kaum muda (modernis-pen) di sini hanyalah, bahwa kaum tua menerima tiap-tiap otoritas Islam, walaupun tidak tersokong oleh Quran dan Hadis…Intepretasi Quran dan Hadis itu, cara menerankannya belumlah rasionalistik 100%, belumlah dengan bantuan akal 100%…Mereka tidak selamanya mengakurkan pengertian itu dengan akal yang cerdas, tetapi masih-mengasih pada jalan percaya buta belaka…Asal tertulis dalam Quran, asal tertera  di dalam Hadis yang sahih (skriptualis—pen). Mereka terimalah walau kadang-kandang akal mereka tidak menerimanya”.

Dengan kritik itu, Soekarno secara tidak langsung ingin membangun sebuah gagasan Islam Indonesia. Islam yang mampu menjawab konteks Indonesia. Setidaknya beberapa pandangan Islam Soekarno dapat kita temui. Dalam Islam Kita dan Islam Nusantara (2016), Muhammad Guntur Romli mengemukakan, bahwa ada beberapa yang bisa disebut sebagai gagasan utama Islam “ala” Soekarno. Pertama, bagi Soekarno, Islam sebagai elan persatuan nasional. Ide ini bisa ditemui dalam tulisanya “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” dimuat Suluh Indonesia Muda. Pada ide ini, Soekarno menarik nilai-nilai Islam menjadi “alat” kolektivitas rakyat yang mayoritas Islam untuk bangkit memperjuangkan bangsa dan tanah airnya dari penjajahan dan imperialisme. Agar Indonesia keluar dari kungkungan asing. Pada gagasan ini, Soekarno mempertemukan nilai-nilai Islam dan konsep Nasionalisme sekaligus Marxisme. Bahwa ketiganya bukanlah suatu yang mesti dipertentangkan.

Kedua, Islam menekankan rasionalitas. Islam harus menerima kemajuan Ilmu pengetahuan (sains). Bagi Soekarno “Orang tak dapat memahami betul Quran dan Hadis kalau tak berpengetahuan umum (sains). Bagaimana bisa orang mengerti betul firman Tuhan segala barang sesuatu dibikin oleh-Nya “berjodoh-jodohan—(berpasang-pasangan-pen)” kalau tak mengerti biologi, tak mengetahui eletron, tak mengetahui posistif dan negatif…”. Pada poin ini, nampak jelas ide-ide kemajuan Soekarno bahwa Islam tak mesti alergi terhadap kemajuan pengetahuan (sains) bahkan Islam semakin kaya jikalau Islam “dibaca” dalam kerangka sains. Pembacaan ini bisa dijadikan sebagai salah satu cara metode dalam membaca Islam.

Ketiga, dalam artikel yang ia tulis “Islam is progress”, Kata Soekarno, “Islam itu kemajuan…kemajuan karena wajib….karena sunnah tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh jaiz atau mubah yang lebarnya melampui batas-batasnya zaman” Islam itu berkemajuan yang menekankan pada aspek kebolehan (mubah) yang bisa melampui zaman. Bukan untuk melarang-larang dan mengharamkan. Senada pada ide yang kedua, makna progres atau kemajuan di sini yakni pelibatan akal dalam membaca Islam. Selain itu, ide “Islam is Progress” juga dapat bermakna penempatan Islam dalam barisan perjuangan. Dalam gerakan pembelaan terhadap orang yang termarginalkan. Islam terlibat dalam pembebasan secara kolektif di samping pembebasan secara Individu. Islam bagi Soekarno yakni libertarian sosial bukan hanya libertarian individual seperti yang cederung dianut oleh kalangan Islam Liberal. Soekarno sepertinya paham betul bahwa jika Islam hanya mendorong kebebasan individu, maka Islam akan menjadi pelayan bagi ideologi liberalisme dan turunannnya. Intinya, Soekarno melihat Islam memiliki semangat emansipatoris secara khusus pada perlakuan pada perempuan. Hal ini bisa dilihat dalam gagasan berikutnya yakni keempat, bahwa Islam itu membebaskan dan anti penindasan. Bung karno menentang tabir yang menutupi perempuan dan pertemuan, karena bagi dia “tabir adalah lambang perbudakan kaum perempuan” dalam wawancara ia menegaskan, “saya anggap tabir sebagai simbol-simbolnya perbudakan perempuan, keyakinan saya ialah Islam tidak mewajibkan Tabir itu. Islam memang tidak mau memperbudak perempuan.” Demikian dakunya.

Selanjutnya ide Islam progres Soekarno, atau yang kelima yakni Islam mengakui persamaan dan kemuliaan manusia. Baginya, ”..tak ada satu agama yang menghendaki kesemerataan daripada Islam”. Bung karno menafikan perbedaan manusia berdasarkan keturunan. Menolak penjajahan manusia dengan manusia yang lain seperti yang dilakukan kapitalisme. Menolak rasialisme dan fasisme seperti yang dilakukan oleh Hitler di Jerman. Bung Karno juga sangat menentang sektarianisme yang dibangun berdasarkan atas dasar perbedaan agama atau mazhab. Terkait dengan gagasan yang kelima ini, di sinilah gagasan Soekarno menjadi kritik dengan kondisi Islam di Indonesia sekarang ini yang sudah mulai terjebak dan terkungkung dalam ideologi liberalisme dan fundamentalisme. Wujud liberalisme Islam sebagaimana dibahasakan sebelumnya, yakni Islam untuk kemerdekaan atau kebebasan individual semata. Menjauhkan Islam sebagai aksi. Sebagai agama yang menyimpan protes terhadap segala bentuk penindasan dan diskriminasi kaum mustadaafin. Watak Islam liberal memiliki kemiripan dengan semangat Ideologi liberalisme itu sendiri.  Wujud fundamentalisme melahirkan konflik atas nama agama. Teror dan bom bunuh diri menjadi bagian dari keimanan oleh kaum ini. Sebab baginya ini merupakan jalan pintas menuju surga. Sesarinya Islam fundamentalisme merupakan “anak haram” dari ideologi liberalisme. Sebab tindakan mereka selama ini, sebagian lahir atas respon ideologi liberalisme yang terbukti menjadikan Islam sebagai bagian dari skenario dalam mempertahankan ideologinya.

Keenam, Soekarno melihat Islam mengakui agama-agama yang lain dan pentingnya toleransi dan demokrasi. Baginya, pemaksaan suatu negara Islam menurutnya bertentangan demokrasi dan dunia modern dan hal tersebut bentuk kediktatoran. Katanya, “…kalau mereka tidak menerima konstitusi Islam, apakah kamu paksa mereka, dengan menghantam Tuan punya  tinju di atas meja, bahwa mesti ditundukan kepada kemauan Tuan? Ai Tuan mau main diktator, mau paksa mereka dengan senjata bedil dan meriam?..zaman sekarang zaman modern, dan bukan zaman basmi-basmian secara dulu”. Gagasan Islam Soekarno yang demikian, merupakan bentuk kritik terhadap orang-orang atau kelompok Islam yang memiliki cita-cita menegakkan Negara Islam. Dalam konteks Indonesia kekinian ide-ide Negara Islam (khilafah) ini, sangat getol diperjuangkan oleh kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Bagi Soekarno ide-ide semacam itu mengandung kediktatoran yang dibungkus dengan dalil agama. Suatu ide yang tidak sesuai dengan dunia kemodernan dan Indonesia.

Ketujuh, Soekarno melihat Islam adalah ajaran yang menekankan pada subtansi. “Ruh dan semangat Islam, api Islam” bukan pada aspek-aspek simbolnya yang sebut sebagai “agama celak” dan “agama sorban” atau ‘abu islam”. Pada ide ini, di sini dalam kontekstualisasinya menjadi kritik terhadap model keberilslaman mengedepankan simbol. Memanjangkan jenggot, mengisbalkan celana, serta memakai sorban dianggap sebagai model Islam yang sesungguhnya—Islam sejati. Dan kelompok seperti ini cenderung sibuk mengurusi hal tersebut dan tidak membawa Islam untuk berbicara pada dimensi emansipatorisnya. Islam yang sibuk mengurusi simbol tersebut, cenderung pasif terhadap penindasan serta marginalisasi yang dilakukan oleh sitem kekuasaan.

Sejatinya Soekarno melihat Islam dengan segala doktrin yang milikinya diarahkan untuk melahirkan kebebasan rakyat Indonesia dari segala bentuk penjajahan. Islam dengan nilainya mampu menjadi inspirasi perjuangan menentang segala bentuk penindasan. Islam harus terlibat dalam kubangan penderitaan rakyat. Di sana Islam harus menjadi pelipur lara pada luka-luka rakyat atas diskriminasi yang dialami. Islam harus mampu menjadi “air” pada dahaga rakyat. Islam harus mampu ditarik dalam praksis dan menjadi solutif pada kelas tertindas. Yang perlu didorong bahwa Islam tidak menerima segala bentuk eksploitasi. Islam menolak segala bentuk penguasaan kebudayaan, sosial politik dan ekonomi oleh kelompok tertentu. Islam menginginkan tatanan sosial yang adil dan beradab. Bukan bengis dan biadab.

RINDU

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia berjarak tak berjauhan, jua tak berdekatan

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia derita yang panjang, jua bahagia tak berkesudahan

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia airmata yang tak menetes, jua tawa tak bersuara

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia intensi tanpa pretensi, jua perintah tak menyuruh

Tahukah engkau apa itu rindu?
Ia durasi, jua singkat

Tahukah engkau apa itu rindu?
Entalah yang tak berkesudahan

Rasa yang Tertahan Oleh Politik Brengsek

Riuh desiran ombak pada Desember yang rintik. Aku menatap jauh ke tengah laut. Di kejauhan, sesekali nampak muncul tenggelam cahaya lampu para nelayan. Malam ini, dalam pikirku, aku akan menabalkan hati yang lama tertahan. Perasaan yang lama terpendam. Aku berpikir inilah saatnya. Ini kesempatan yang terbaik kupunya. Mungkin agak sulit untuk menemukan momen seperti malam ini. Aku berpikir jika tidak malam ini, berakhirlah segalanya. Jika tidak malam ini, ada baiknya aku mengubur saja rasa ini dan melupakannya. Membiarkan berlalu dan ditelan oleh waktu. Tapi jika itu tidak terjadi pikirku, aku akan menahan “sakit” yang saya bisa pastikan begitu lama. Ya, lama—seiring  ia ditelan oleh waktu. Dan, itu pasti perjuangan melelahkan. Melupakan yang tak berarti itu mudah. Akan tetapi jika ia terkait pengalaman eksistensial itu pasti berat. Sekali lagi, butuh perjuangan yang tak mudah. Butuh sajen hati yang ikhlas. Aku tak bisa menyangkal kali ini, aku berada pada dua ruas rasa yang tak akan lolos dari konsekuensi. Menabalkan lalu bersedia menerima apa pun hasilnya atau tidak sama sekali.

***

Hujan masih saja rintik, tetap malam masih sama. Di kejauhan lampu nelayan masih timbul tenggelam. Aku masih sibuk dengan pikirannku. Memikirkan tentang cara yang tepat menuturkan perasaan yang kian lama ingin meletup. Ah, mengapa malam ini aku tak punya keberanian? Tidakkah dengan mengungkapkannya, aku akan lepas. Tidakkah dengan mengatakannya, akan membuat ia memahami. Tapi semuanya masih tertahan. Aku tak bisa menatar perasaanku dengan baik.

“Menurutmu, bagaimana dengan politik kita sekarang ini?”

Tanyanya kepadaku tiba-tiba, seketika membuatku terbangun dari pikiran-pikiranku.

“Tidak beres” jawabku singkat sambil menoleh kepadanya lalu kembali menatap ke depan melihat hamparan laut.

“Iya benar, politik kita sekarang memang tidak beres” Dia menimpali. Lalu dia melanjutkan, “lihat saja para politisi kita semakin rakus. Mereka tidak segan-segan melahap uang rakyat. Mereka tak sedikit pun memiliki empati terhadap rakyat. Mereka tak punya niat sedikit pun mensejahterakan rakyat. Mereka membuat undang-undang hanya untuk kepentingan pemodal. Coba saja kamu amati, terobosan apa yang telah dilakukan oleh politisi kita untuk rakyat. Yang ada, kebijakannya semakin melebarkan jarak antara kaya dan miskin”

“Iya seperti itu adanya” ujarku, membenarkan apa yang ia bilang. Aku tidak bersemangat berkomentar panjang. Dalam hati, aku berkata, “malam ini aku tidak tertarik berdiskusi. Apalagi membicarakan politik yang brengksek ini. Aku sebenarnya ingin kita mendiskusikan hal yang lain. Hal eksistensial. Tentang rasa ini. Aku ingin kita membicarakan rasa ini. Apakah kamu juga memiliki dan mengalami hal yang sama seperti apa yang kualami. Sekali lagi, ini yang ingin aku bicarakan”.

“Seandainya para pendiri bangsa menyaksikan kondisi bangsa sekarang ini, pasti ia akan sangat sedih. Apakah para politisi itu tidak tahu bagaimana perjuangan pendahulu kita mendirikan bangsa  ini. Apakah mereka tidak tahu penderitaan Tan Malaka, Soekarno dan tokoh yang lain, kadangkala mereka harus mendekam di penjara karena perjuangannya memerdekakan bangsa ini. Apakah mereka tidak pernah membaca sejarah itu. Ooo iya saya lupa mereka memang malas membaca”

“Iya seperti itulah politisi kita” jawabku singkat menimpali tuturnya yang panjang lebar. Dengan wajah yang datar, dalam hati aku merintih, “sudahlah aku tidak ingin berdiskusi. Apalagi tentang politik yang tai kucing ini. Sekali lagi, malam ini aku ingin memberi ruang pada hatiku agar lepas dari jerat rasa ini. Ya, dengan mengungkapkannya kepadamu itu adalah jalannya. Dengan membagi kepadamu yang sebenarnya orangnya adalah kamu sebagai subjek sekaligus objek dari rasa ini yang ingin dituju. Aku tak sanggup lagi menahannya. Tidakkah kau ingin mendengarnya? Tidakkah malam ini dengan rintik hujannya cukup romantis untuk membicarkan perasaan ini. Dari pada berbicara politik yang kelam ini”

“Lihat perilaku partai politik. Mereka hanya sibuk bertransaksi kekuasaan. Mereka tak memiliki ideologi yang jelas. Ada partai yang berlabel agama tapi korupsinya nomor satu. Partai begini benar-benar menggunakan agama sebagai topeng  untuk legitimasi dalam memuluskan kebejatannya. Mereka benar-benar lihai menampilkan diri sebagai kaum agamawan. Orang-orangnnya benar-benar seperti bal’am.”

“Betul sekali pendapatmu itu” tuturku lagi dengan singkat membenarkan apa dia sampaikan. Tapi dalam hati, perasaanku berontak. “Kenapa kamu masih melanjutkan bicara politik ini. Politik kita memang absurd. Sudahlah, aku ingin kita mendiskuskan sejarah awal adanya rasa ini. Kapan pertama kali ia muncul. Mungkin itu lebih berarti. Barangkali itu lebih manusiawi dan bisa memanusiakan kita dibanding mendiskusikan politik. Rasa ini mungkin lebih politik yang sesungguhnya dibanding apa ditampilkan oleh politisi kita. Tolonglah, sudahilah bicara politiknya. Aku ingin kamu menyediakan kuping kamu untuk mendengar rasa ini bercerita. Aku ingin kamu menyiapkan hatimu memberi jawaban yang tentunya rasa kita bisa saling bertaut. Aku sungguh berharap itu”.

“Ah sudahalah bicara politik. Sepertinya membicarakan kebobrokan politik tak ada habisnya” ujarnya sambil mengerutkan jidat.

Aku meresponnya dengan hanya tersenyum tapi dalam hati aku berkata “kenapa bukan dari awal kamu menyadarinya. Seandainya dari awal kamu tidak membicarakan politik, setidaknya rasa ini punya waktu yang banyak untuk mendaku kepadamu. Menyampaikan semua ruas-ruasnya hingga tak ada yang tersembunyi. Mengungkapkan ihwal percik-percik dan getaran-getaran yang mana akal tak mampu memasukinya. Yang mana indera tak mampu menjangkaunya. Tapi tak apalah barangkali di waktu yang tersisa, aku masih bisa mengungkapkan ke dalam rasa yang tidak berdimensi jarak ini. barangkali aku bisa meringkasnya dengan memasukkan kamu ke dalam durasi rasa ini ”

Sambil menoleh kepadaku “Oh iya menurut kamu apa sih yang mesti dilakukan dengan kondisi politik seperti ini?” Tanyanya kepadaku.

“Mmmmm..aku tidak tahu, soalnya politik kalut sekali” Aku menjawab seadanya yang sebenarnya, bisa saja aku jawab lebih panjang dan detail. Dan, mungkin di situ bisa ditemukan solusi kondisi politik sekarang. Tapi, dari awal aku tidak bersemangat membicarakan politik. Lagian juga, ia sudah mengatakan akan mengakhiri berbincangan politik ini. Tapi, mengapa ia masih melanjutkannya dengan bertanya demikian. Aduh kapan perasaanku punya waktu untuk saya sampaikan kepadamu cetusku dalam hati.

***

Masih seperti semula rintik masih setia menemani kami. Namun, yang berubah malam semakin larut. Waktu sudah menjelang dini hari. Suasana semakin sepi. Tibalah waktunya kami mengakhiri pembicarakan yang dari awal hingga akhir meluluh politik. Bagiku, malam ini adalah pembicaraan dengannya yang sungguh membosankan. Akhirnya, kami memilih beranjak pergi meninggalkan tepi pantai dan Gasebo tempat kami berteduh. Kami beranjak untuk bergegas pulang. Aku mengambil motor di parkiran, lalu menyalakannya. Kemudian dia naik jok belakang. Aku memboncengnya. Di jalan pulang tak ada sepatah kata lagi yang keluar dari bibir kami. Kami semua sibuk dengan lamunan masing-masing. Saya tidak tahu apa yang ia lamunkan. Mungkin masih tentang politik yang brengsek ini. Di atas motor dengan menatap kosong ke jalan yang sudah lengang, aku menggerutu. Dasar politik ternyata ia telah menyita semua waktu yang ada. Tak ada sedetik pun yang disisakan untuk mengungkap perasaanku kepadanya. Dasar politik. Bahkan rasa ini tak ia beri kesempatan. Sungguh kejam. Politik memang kotor dan licik. Bayangkan hal paling eksistesial saja ia tak beri ruang. Ia merebut semuanya dengan luas boroknya yang tak pernah cukup waktu menceritakannya. Dan orang yang aku cintai karena pikirin-pikirannya juga ia ambilnya. Sungguh kejam. Sekali lagi sungguh brengsek[*]

Hidup dan Segala Resah Tentangnya

Perbuatan baik adalah yang membuat hatimu tenteram, 

Sedangkan perbuatan buruk adalah yang membuat hatimu gelisah

—Hadis Nabi—

Apa yang menarik dari hidup? Bahwa di sana ada setumpuk masalah dengan berbagai macam bentuknya. Dengan berbagai wajahnya yang datang pada manusia tanpa jeda. Tanpa titik akhir jelas. Ia tak sedikit menghadirkan keresahan yang sangat. Sepertinya hidup adalah perhelatan penderitaan. Ia seakan mengingatkan kita pada Budha bahwa, “hidup adalah penderitaan dan manusia tidak bisa lepas darinya. Mungkin sang Budha ingin mengisyaraktkan kepada kita semua, bahwa manusia itu sendiri dalam eksistensinya adalah masalah.

Bagi kaum eksistensialis, masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Masalah adalah penanda akan eksistensi. Melupakan masalah berarti sama halnya melupakan eksistensi. Benar bahwa masalah melahirkan kerisauan, kegundahan, kecemasan pada yang mengalaminya. Jika mengalami itu, maka resah dianggap sebagai sikap cengeng. Namun tidakkah ia adalah sikap batin yang memberikan sedikit ruang padanya untuk merefleksi? Bukankah resah adalah jalan untuk berdialog dengan diri? Di sana ada tanya pada relung jiwa tentang kesalahan pada diri. Pada ruang ini, mungkin resah ingin kita beri batasan sebagai konsekuensi eksistensial terhadap realitas yang dihadapi.

Keresahan adalah enigma yang selalu ada pada manusia. “Besarnya” keresahan itu biasanya hadir tergantung pada konsepsi realitas (wujud) yang kita bangun. Pada premis ini mungkin kita ingin menilai resah sebagai sesuatu yang bertingkat seperti tingkatan realitas (wujud) dalam pandangan filsafat. Manusia merasakan keresahan, mungkin saja tak bisa di pisahkan dengan tingkat kesadaran. Di sana ada yang merasakan keresahan, jika pada dirinya tak memiliki materi yang banyak. Pada posisi itu, kita menempatkan materi sebegai suatu syarat yang real dalam eksistensi kita. keresahan ini kerena tak memiliki materi.

Jika kaum materialis, menilai penanda eksistensi adalah materi. Lain halnya dengan Platon. Dia melihat materi sebagai citra, imaji. Di mana, bila kita terikat dengannya maka ia menjadi penjara. Platon terlalu risih pada materi tapi perlu untuk direnungkan. Barangkali pandangan Platon ini, mengisyaratkan bahwa keresahan karena materi membuat kita terpenjara. Platon sepertinya mengajarkan bahwa yang demikian sangatlah rendah tingkatannya. Boleh jadi Platon ingin menyampaikan seharusnya keresahan kita pada materi perlu beranjak darinya. Menuju keresahan semestinya-resah karena adanya kesadaran akan jarak diri kita dengan dunia idea.

Lain Platon, lain kaum sufi. Menurutnya, resah hadir karena kita masih mengaggap diri sebagai eksistensi yang real. Tidakkah yang real itu hanyalah wujud (al-Haqq) dan kita adalah manifestasi (tajalli)? Bukankah wujud itu “tunggal“ tak berbilang. Bila menganggap diri wujud maka ada dua eksistensi (wujud). Cahaya itu cuma satu, hanya pada intesitasnya berbeda. Maka sang sufi mungkin ingin bertutur bahwa resah yang semestinya adalah kesadaran untuk “peniadaan” diri dan mengakui secara penyaksian bahwa hanya Dia-lah yang Wujud.

Barangkali antara Platon dan sang sufi (urafa) ingin mengajarkan kita kepada sebuah resah pada hidup yang transenden. resah yang tak terpenjara pada objek yang pada dasarnya tidak ada—tidak real. Mungkin ia hendak menyampaikan semestinya keresahan kita, karena tak “mengikatkan” diri kita pada wujud. Menjadi keresahan karena diri tak terpancarkan cahaya dan itu berarti kegelapan. Berada dalam kegelapan berarti berada pada ke-alpa-an wujud.