Semua tulisan dari Bahrul Amsal

Blogger yang nyambi jadi dosen partikelir

Mengapa Mereka Begitu Pandai Merazia Buku?

Saya tiba-tiba merasa menjadi orang goblok selama 17 detik melihat sekumpulan orang yang merazia buku. Mereka gagah berdiri bebas memegang buku yang dianggap mampu meracuni pikiran orang banyak. Merekamnya dengan gawai canggih tanpa rasa was-was. Pose mereka ini mirip dengan calon guru besar yang hendak mendatangi podium pengukuhan. Menenteng buku-buku sampai membutuhkan asisten berkaca mata.

Saya menduga mereka sudah melakukan penelitian berhari-hari, berbulan-berbulan, atau bertahun-tahun, atau beribu-ribu tahun sampai abad pertengahan bahwa buku  memiliki pengaruh langsung terhadap bentuk pemikiran orang-orang. Seolah-olah teks memiliki akses langsung mengubah paradigma seseorang. read more

Merasakan Kibasan Bertarung Dalam Sarung

Pendekatan saya dengan buku ini tidak seperti buku-buku lain. Di toko buku, saya cenderung memilih buku karena tema utamanya. Terkadang juga mencari unsur kebaruan dari buku-buku yang lebih belakangan terbit. Atau mengejar karangan-karangan dari penulis-penulis yang saya favoritkan—tapi seringkali semua itu gugur selama persediaan kantong terbatas :).

Bertarung Dalam Sarung saya pilih—dari sekian banyak pilihan—bukan karena alasan-alasan di atas, walaupun ia tergolong judul baru dalam khazanah kesusastraan Tanah Air (Dari segi ini bayangkan berapa banyak judul buku baru dicetak setiap harinya?). read more

Menadaburi Perjalanan Cinta

Buku Perjalanan Cinta dibuka dengan secuplik figur Maemunah. Seorang ibu penjaja warung makanan kecil-kecilan di sebuah kota kecil Sulawesi Utara. Esai ini tidak berbicara banyak selain dari kebajikan Ibu Maemunah yang berhasil “dipungut” dari sekian banyak kisah-kisah inspiratif nan menggugah tentang kebaikan yang dilakoni “orang-orang kecil”.

Di esai ini kesimpulannya cukup sederhana, tapi mahal harganya: apa pun lakon Anda, bekerjalah dengan jujur, ikhlas, dan senantiasa berpikir positif. “Insya Allah, hidup kita akan mabarakka‘ (berkah)” ungkap Maemunah di esai berjudul Bunda Maemunah itu. read more

Waktu untuk Tidak Menikah: Perempuan-Perempuan Pelupa dan Suara Aktivisme Perempuan

Sejak awal, dari Denyut Merah, Kuning Kelabu, kumcer Amanatia Junda sudah memuat daya pikat yang nyaris sempurna. Ia dibuka dengan lenyapnya Noni, tetangga si Aku yang menjadi penutur dalam cerita pertama di buku yang baru saja diterbitkan kembali awal tahun ini.

Dengan cara ini, pembaca langsung dipukul rasa penasaran. Ibarat lubang hitam, ia menyedot daya imajinasi pembaca untuk menjawab rasa ingin tahu yang ditiupkan dari kalimat pembuka cerpen ini.

Noni diceritakan perempuan tomboy seketika hilang entah kemana. Tokoh si Aku, tetangga kamarnya paling dekat bahkan tidak tahu kemana perginya Noni. Noni dikisahkan raib tanpa petunjuk sedikit pun. Ia hilang meninggalkan kamar kosnya dengan TV dibiarkan menyala. read more

Kisah Liyan Sawerigading Datang Dari Laut 

Tidak bisa dimungkiri buku kumcer Faisal Oddang Sawerigading Datang dari Laut, sudah memikat sejak dari covernya. Kombinasi warna merah-biru malam membentuk karikatur ombak bergelombang  dengan siluet seseorang sedang berjalan di atas air, menjadi daya tarik tersendiri memancing saya untuk segera memilikinya. Ketika melihat penulisnya dan tertera nama Faisal Oddang, menambah keyakinan saya agar segera membayarnya di meja kasir.

Sebagai orang Sulawesi Selatan, Sawerigading Datang dari Laut adalah judul yang provokatif. Sebab, seperti sudah diketahui sebelumnya, cerita Sawerigading selalu diasosiasikan dengan nenek moyang orang Sulawesi yang berasal dari “Dunia Atas”. read more

Republik Yang Sedang Oleng: Negara dan Demokrasi dari A sampai Z

INI subjektif belaka. Terkait perkenalan saya dengan penulis buku ini. Kak Arman, begitu sering ia disapa, pertama saya tahu adalah seorang aktivis kampus. Ia sering mondar-mandir di depan ruang kuliah saya. Kala itu, rambutnya yang dibiarkan tergerai panjang menjadi ciri khasnya.

Saya masih ingat, menggunakan sepatu gunung dan kemeja terbuka yang melapisi kaos oblong di dalamnya, ia sering nongkrong di lapakan penjual buku yang berada tepat di sudut gedung perkuliahan saya. Belakangan saya baru menyadari, si penjual buku ini ternyata menjadi magnet tersendiri bagi aktivis kampus masa itu. Bukan saja sekadar menjual buku, si penjual buku ini malah menjadi “guru” bagi orang yang sering menghabiskan waktu berdiskusi dengannya. read more

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: Kemelut Manusia Modern dalam cerita Obrolan Sederhana

Ada tiga hal ditemui dari Obrolan Sederhana dalam kumcer Puthut EA, Seekor Bebek Yang Mati di Pinggir Kali. Pertama, esensi manusia sebagai mahluk sosial. Kedua, sebagai mahluk sosial selalu ada dorongan untuk berinteraksi walau dua orang tidak diperantai keakraban.

Dan yang ketiga,  obrolan remeh temeh dari dua orang yang tidak saling kenal dan hanya dipertemukan lantaran tidak sengaja bisa menjadi pintu masuk kepada sebuah problem yang lebih pelik: permenungan atas centang-perenang kehidupan manusia. read more

Berani Berkata Benar dari Yunani Antik: Pharresia

Judul : Pharresia: Berani Berkata Benar

Penulis : Michel Foucault

Penerjemah : Haryanto Cahyadi

Penerbit : Marjin Kiri

Tahun Terbit : Mei 2018

Tebal : 209 Halaman

ISBN : 978-979-1260-78-7

Pertama patut diapresiasi atas usaha Haryanto Cahyadi sebagai penerjemah mengingat buku ini bisa dikatakan sebagai teks filsafat. Bahasanya yang ringan dan mudah dicerna membuat pembaca merasa nyaman membacanya. Apalagi ini adalah Michel Foucault, filsuf yang lumayan berat pemikirannya –setidaknya bagi saya— lewat tangan Cahyadi dapat lebih mudah mengurai pokok-pokok gagasan yang ditranskip dari ceramah seminarnya di tahun-tahun belakangan sebelum ia wafat. read more

Literasi Desa Labbo: Dari Desa, Oleh Desa, dan Untuk Desa

Ini bocoran saja: dua hari lalu saya didadak Sulhan Yusuf agar segera meresensi buku teranyar dari salah satu desa di Bantaeng –kabupaten di Sulawesi yang mencuri perhatian kita 1 dekade belakangan–“Literasi Dari Desa Labbo”. Buku kumpulan tulisan yang tempo hari sudah saya ketahui cikal bakal kedatangannya. Tapi, berhubung masih diikat kesibukan lain, saya akhirnya baru bisa menulis ini di sela-sela pertemuan akhir kelas kuliah yang saya ampu. Sembari memberikan final mahasiswa, saya mencuri waktu agar tulisan yang dibuat ini dapat rampung dan dinikmati sesuai pesanan. read more

Ahlan Wa Sahlan 2019, Berusia Panjang dikutuk Bernasib Sial!

Memiliki usia yang panjang nampaknya bisa menjadi masalah tersendiri. Pertama, sebagai sepuh, ketebalan pengalaman kehidupan yang berlapis-lapis bakal membuat kehidupan ibarat video game yang sudah tamat berkali-kali. Tidak ada tantangan. Semua kunci dan jalan-jalan rahasia tidak bakal membuat diri semringah merasakan sensasi yang ndakik-ndakik. 

Semua rahasia kehidupan baik yang tersembunyi di ceruk-ceruk bumi sampai yang terselip dalam ruas ruang kosong ayat-ayat kitab suci, bukan lagi hal baru. Semuanya nampak biasa saja. Sensasinya sudah aus, malah. read more