Semua tulisan dari Bahrul Amsal

Blogger yang nyambi jadi dosen partikelir

Metamorfosis Ibu: Merumahkan Ide melalui Literasi Parenting

Yang unik dari buku ini adalah semuanya lahir dari keluarga. Yang menulis, menyunting, sampai ilustratornya.

Tema-temanya digali dari pengalaman keluarga. Entah dari mengasuh anak hingga mengasah anak. Dan juga mengasihi anak. Bisa dibilang dari saling asuh, asah, dan asih inilah buku ini menopangkan dirinya.

Di tulisan yang sedang eike persiapkan untuk buku ini, ada satu peran utama yang menjadi benang merah dari esai-esai literasi parenting ini: ibu.

Ya, dari pengalaman seorang ibu-lah buku ini akhirnya bisa sampai ke tangan pembaca. Tentu perlu digarisbawahi, kata pengalaman yang eike maksud di sini adalah jenis pengalaman yang betul-betul pengalaman. Suatu tindakan yang terlibat dan dilibati lingkungannya. Pengalaman yang mengikutkan rasa, pikiran, emosi, dan intuisi seorang ibu.

Dengan kata lain, suatu pengalaman yang lahir dari dalam. Yang memangkas jarak dan waktu. Yang intim sekaligus fenomenologis.

Itulah mengapa, esai parenting ini begitu hidup dan gamblang. Ia lahir dari orang pertama. Dari pelaku langsung.

Seorang ibu, kiwari agaknya dinilai sebelah mata. Dia hanyalah elemen masyarakat nomor dua. Sebagai perempuan ia dipandang tidak memiliki sumbangsih apa-apa. Ia pasif dan bukan sebagai agen perubahan.

Bahkan banyak fenomena memperlihatkan komunitas ibu-ibu yang berkumpul hanya untuk bersenang-senang. Berbelanja dan bergosip secara berjamaah. Kadang, di akhir pekan mereka bertemu hanya sebagai ajang katarsis. Hanya bersuara akibat menjadi “korban” dunia laki-laki.

Yang paling fenomenal adalah dieksploitasinya dunia ibu-ibu oleh tarik ulur politik. Di kancah nasional ada salah satu capres memanfaatkan emak-emak sebagai kekuatan politiknya. Nampak dari permukaan ini seolah-olah kekuatan baru dalam kancah perpolitikan. Tapi sebenarnya fenomena itu tetap saja menjadi bamper politik.

Kaum perempuan atau ibu-ibu tetap saja masih diimajinasikan melalui kebutuhan laki-laki.

Semua fenomena itu terjadi karena perempuan tidak mampu mendayagunakan protein bahasanya. Saking lemahnya, protein bahasa yang memproduksi kata-kata hanya dimanfaatkan untuk mewacanakan hal-hal di seputar dunia belanja, dapur, dan kasur. Kata-kata perempuan hanya tercecer di pelataran gosip belaka.

Tapi buku ini sebaliknya. Melalui kata-kata (hasil penelitian ahli linguistik menyebutkan perempuan menghasilkan 20.000 kata perharinya dan kaum lelaki hanya 7000 kata saja perhari) seorang ibu malah berjuang dari dalam, dari ruang domestiknya dengan menulis. Suatu pekerjaan para begawan kebudayaan.

Dengan kata lain, dari ruang domestiknya perempuan sebenarnya adalah benteng terakhir peradaban. Di ruang domestiknyalah ia semestinya juga dapat mengembangkan peran sosialnya. Melibatkan diri dari balik pintu rumah ikut membentuk masyarakatnya.

Berbeda dari cara pandang Barat meletakkan peran perempuan dalam skema dinamika masyarakatnya. Perempuan-perempuan Timur dengan adat budayanya justru banyak mendayagunakan ruang keluarganya sebagai basis perubahan. Dengan cara mendidik anak-anak menyiapkan pelanjut-pelanjut generasi bangsanya.

Itulah sebabnya perlu kaca mata lain untuk melihat kebiasan perempuan-perempuan Timur dalam konteks gendernya. Bagi Barat perempuan mesti menerobos dinding domestiknya untuk berperan di ranah publik. Itu adalah cara mereka mengekspresikan kebebasan dan perannya.

Sementara perempuan-perempuan Timur, tidak ada distingsi antara ruang domestik dan ruang publik. Tidak ada pemisahan antara rumah dan masyarakatnya. Meski demikian berjarak dari segi ekonomi dan politik, namun dari segi budaya, dua ranah ini adalah satu kesatuan. Dia berbagi dimensi yang sama.

Di masyarakat Bugis-Makassar, misalnya, di balik kepemimpinan seorang laki-laki justru dilegitimasi oleh keberadaan seorang perempuan. Ada anekdot lucu untuk menggambarkan kedudukan perempuan di masyarakat Bugis: jika gagal memengaruhi pendirian seorang pemimpin, maka cobalah datang melalui ibu atau istrinya. Niscaya melalui pengaruh “di balik layar”, permintaan halus seorang ibu atau istri kepada pemimpin laki-laki akan mengubah keputusannya.

Demikian sentralnya peran perempuan, masih dari tanah Bugis-Makassar, jika ada permintaan atas sesuatu yang sifatnya umum kadang dimediasi melalui datang bertandang langsung ke rumah sang pemimpin. Di rumah, sang pemimpin laki-laki, akan turut ikut kepada kemauan sang istri atau ibunya. Di rumah, sang perempuanlah pemimpinnya.

Buku ini adalah salah satu contoh bagaimana perempuan mengelola rumah tangganya dengan protein bahasanya. Mengumpulkan dan menjadikannya sebagai benda budaya. Sebuah buku untuk disejajarkan sebagai pekerjaan pemberdayaan masyarakat. Terutama bagi ranah sel terkecil masyarakat: keluarga.

Islam menyebut masyarakat atau bangsa dengan istilah khas: umat. Sepadan dengan kata asalnya, “um” yang membentuk kata “umi” atau ibu. Kata umat dari kata “amma-yaummu” yang berarti “menuju”, “menumpu”, “meneladani”.

Kata “imam” juga mengasalkan akar katanya dari asal yang sama dengan kata “umat” dan “umi”. Seorang imam mesti memiliki sifat-sifat seorang ibu: menjaga, mengasihi, mengayomi, melestarikan….

Bahkan, seorang ibu adalah imam. Seorang pemimpin.

Buku ini merekam jejak kepemimpinan seorang ibu. Lebih jauh lagi menunjukkan bagaimana seorang ibu memimpin masyarakatnya. Dari rumah sekalipun.

Data buku:

Judul Buku                      : Metamorfosis Ibu, Sehimpunan Literasi Parenting

Penulis                             : Mauliah Mulkin

Penyunting                     : Sulhan Yusuf

Ilustrasi isi                     : Nabila Azzahra

Desain sampul               : Ambena Akkin

Penerbit                          : Liblitera

Tahun terbit                   : Agustus 2018

Tebal halaman              : 270 halaman

 

 

Jalan Raya: Alas Pijak Kapitalisme Global

DI ABAD modern,  sejarah jalan raya adalah sejarah modernisasi itu sendiri.  Tanpa jalan raya, percepatan modernisasi berupa perpindahan penduduk, pergerakan arus transporatasi, pembangunan infrastruktur, terbentuknya kawasan perkotaan, dan pergerakan komoditas  akan sulit terealisasi.

Jalan raya adalah tulang punggung yang  menjadi alas sekaligus penghubung beragam penanda modernitas di atas dapat mengalami ekspansi geografis seperti yang dirasakan seperti sekarang ini.

Dengan kata lain, basis utama dari modernisasi (yang dalam kajian kritis adalah juga kapitalisme itu sendiri) adalah jalan raya yang menjadi saluran pembuluh saraf, yang menghubungkan titik-titik terpencar dari aktivitas produksi kapital menjadi lebih terhubung dan lebih gampang terkoordinasi.

Pernyataan ini setidaknya menandai telah terjadi peralihan yang semula dapat disaksikan di tanah air sendiri berkaitan dengan pembangunan jalan-jalan raya di masa silam.

Di tanah air, jika ingin menandai kapan modernisasi pertama kali terjadi akan ditemukan dua peristiwa yang berkaitan kembali dengan sarana transportasi: pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS)  dan megaproyek jalan raya dari  Anyer hingga ujung jawa Bayuwangi berupa pembangunan yang dikenal sebagai jalan raya Pos.

Pembangunan yang pertama bermaksud untuk mengangkut hasil-hasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem cultuur stelsel (tanam paksa). Sementara yang kedua  –selain karena alasan perdagangan—juga dipakai sebagai cara pemerintah Hindia Belanda  mengontrol pergerakan  dan pemberontakan pribumi-pribumi melalui patroli-patroli militer yang mengandalkan akses informasi yang cepat.

Dari kedua peristiwa di atas jalan raya menjadi jauh lebih penting dari masa sebelumnya.  Di era penjajahan jalan raya bukan saja sebagai cara pemerintah Hindia Belanda agar lebih mudah menggerakkan alat-alat militernya, melainkan lebih dari itu yakni sebagai sarana menggerakkan hasil-hasil bumi.

Di masa sekarang, aktivitas di atas jalan raya tidak serta merta difungsikan sebagai sarana transportasi belaka, melainkan juga masih mempertahan cara yang sama seperti di masa penjajahan dahulu: perdagangan.

Namun sayangnya, dari semua itu, betapa fundamentalnya peran dan kedudukkan jalan raya dalam skema pembangunan hari ini, sejauh penulis ketahui belum ada karya pikiran yang khusus mengkaji jalan raya sebagai objek perhatiannya. Padahal jika melihat peran strategisnya menghubungkan lokasi-lokasi sumber daya, dan keberadaannya yang  sangat trategis bagi percepatan pembangunan, jalan raya patut ditelaah secara kritis.

Di tengah kekosongan –dan juga luput dari perhatian–kajian kritis tentang jalan raya, beberapa waktu lalu terbit buku “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik” karya Muhammad Ridha, seorang aktivis cum dosen sosiologi UIN Alauddin yang setidaknya mengisi satu titik kosong di dalam perbincangan berkaitan dengan tema kritik ideologi kapitalisme.

Hendro Sangkoyo dalam kata pengantarnya di buku ini, diasalkan kepada satu pertanyaan mendasar: untuk apa jalan raya dibuat? Melalui pertanyaan utama  inilah analisis-analisis Muhammad Ridha dikembangkan dengan cara menelusuri di mulai dari sejarah jalan raya dan bagaimana posisinya hingga sekarang terutama ketika di dudukkan ke dalam format ideologi pembangunan di tanah air dan  masyarakat kapitalisme global.

Yang paling menarik dari itu, demi menguatkan tesisnya, Ridha menggunakan pendekatan studi ekonomi politik khas Marxian melalui dedah teori ruang yang diperkenalkan seorang Marxis Henri Lefebvre dan David Harvey di dalam melihat jalan raya.

Melalui pendakuan-pendakuan teoritik kedua tokoh inilah, Ridha meneropong  jalan raya dari sisi ekonomi-politik dalam struktur kepentingan kapitalisme global.

Jalan raya dalam imajinasi kapitalisme

Untuk mengemukakan penjelasan dari pernyataan di atas, Ridho memperjelasnya dari pendakuan konsepsional Hendri Lefebvre berkaitan dengan ruang. Bagi Lefebvre, jalan raya sebagai ruang tidak sekadar hanya sebagai spasio-temporal yang sangat harfiah dan tidak memiliki sangkut pautnya dengan representasi struktur sosial tertentu.

Menurut Lefebvre, seperti dikemukakan Ridho, ruang dalam hal ini jalan raya adalah medan yang sudah sebelumnya dikonstruksi elit masyarakat tertentu. (hal.24)

Dalam hal ini kontruksi jalan raya tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan-pertanyaan Ridha untuk menguji keberadaan jalan raya dari sisi politisnya, semisal yang berkaitan dengan siapa yang mengkontruksi jalan raya? Bagaimana ia diproduksi? Apa yang ingin ditunjukkan di atasnya? Untuk apa jalan raya dibangun? Siapa yang diuntungkan dari pembangunan jalan raya, dan siapa yang dirugikan? (hal.23)

Dengan kata lain, konsepsi ruang dalam hal ini juga adalah  jalan raya senantiasa berkaitan dengan eksposisi-eksposisi yang diajukan pertanyaan kritis Ridha di atas.

Sebagaimana dijelaskan menurut logika Lefebvre,  dalam masyarakat kapitalis jalan raya menjadi begitu sentral untuk menjalankan suatu pendekatan yang memeragakan tindakan produksi sekaligus menjadi arena bagi subjek tertentu menjalankan dominasinya.

Jalan raya dalam hal ini tidak terhindarkan dari praktik-praktik representasi melalui beragam subjek yang berbaur di dalamnya. Dia menjadi arena pertarungan untuk mengukuhkan suatu kecenderungan dominasi atas posisi kelas tertentu.

“Masalah terbesarnya adalah representasi ruang elit terlalu mendominasi praktik spasial dan ruang representasional sehari-hari” (hal.25)

Mengikuti pemikiran Lefebvre, dalam struktur dan praktik sosialnya, jalan raya senantiasa dihadirkan berdasarkan logika ruang kelas pemodal demi efisiensi dan efektifitas produksinya. Dalam hal ini ruang atau jalan raya didudukkan berdasarkan kebutuhan kelas pemodal dengan pertimbangan jalan raya mesti memudahkan sirkulasi dan peredaran komoditi, dan bahkan menjadi ruang produksi itu sendiri.

Namun bagaimana sebenarnya ruang atau jalan raya berperan menjadi seperti yang dikatakan di atas sebagai “pembuluh saraf” yang menghubungkan pelbagai titik-titik sumber daya untuk mensirkulasikan pergerakan komoditas dan modal?

Di sinilah peran penjelasan David Harvey dikemukakan mengenai apa yang disebut dengan ekonomi ruang (space economy) dan spatio temporal –fixed. Kedua konsep ini pada dasarnya merujuk kepada strategi kapitalisme  untuk mengektifkan dan mengefesienkan kerja produksi dan sirkulasi komoditi  sekaligus memperluas cakupan dan modus operasionalnya demi menunda krisis yang terjadi dalam dirinya. Hal ini dilakukan dengan pergerakan menemukan dan membuka ruang baru agar terjadi perluasan dan peningkatan surplus modal dapat terus terjadi.

Dua konsep kunci inilah yang menjelaskan mengapa kapitalisme dengan cepat dapat memperluas cakupan pasar dan investasinya kepada proyek-proyek jangka panjang melalui pembangunan-pembangunan infrastruktur berskala global.

Seperti dikemukakan Ridha “di Jawa masa kolonial hingga orde baru ketika jalan berperan khusus memberikan suatu model kompresi ruang dan waktu. Jalan raya pos mengurangi waktu tempuh dan Batavia ke Surabaya yang tadinya bulanan menjadi hanya seminggu, begitu juga jaringan kereta api di Jawa yang menyebabkan pergerakan barang dan orang semakin cepat dari sebelumnya” (hal. 32)

Yang tersingkir dari pembangunan Infrastruktur

Secara kasat mata, di mana pun terjadi perluasan pembangunan infrastruktur, di situ dengan gamblang terjadi juga aktivitas penyingkiran bagi masyarakat sekitar. Pemandangan ini jamak ditemukan di bukan saja di kota-kota besar, melainkan ikut merembes ke wilayah pedalaman sesuai kebutuhan investasi pembangunan.

Menurut liputan Tirto.id tertanggal 24 November 2016 di bawah rezim Jokowi-JK  saat ini tercatat tujuh kasus yang ditimbulkan akibat pembangunan infratruktur berskala nasional.  Dimulai dari proyek pembangunan jalan tol di Kuala Namu, Sumatera Utara, Pembangunan PLTA Waduk Cirata di Purwakarta Jawa Barat, Bandara Internasional di Yogyakarta,  Pembangkit listrik panas bumi di NTT,  Perluasan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, hingga pembangunan BandaraDominique Edward Osok, Sorong Papua.

Sementara Berdasarkan Perpres Nomor 58 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, tercatat ada 248 proyek infrastruktur strategis nasional di berbagai wilayah Indonesia mulai dari jalan tol, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, rusun, kilang minyak, Terminal LPG, SPAM, bendungan dan irigasi, peningkatan jangkauan broadband, techno park, Kawasan Ekonomi Khusus, smalter, dan pembangkit listrik.

Tidak sedikit dari pembangunan infrastruktur berskala nasional di atas menimbulkan banyak korban. Sudah barang pasti proyek pembangunan infrastruktur  di atas banyak mengubah lanskap kehidupan sosial-ekonomi-budaya masayarakat setempat. Bukan saja kehilangan nyawa, tempat tinggal, lapangan pekerjaan, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi dan dasar interaksi masyarakat di dalamnya.

***

AWALNYA seperti dikatakan Ridha buku ini akan diberi judul “Merebut Kembali Jalan Raya Studi Ekonomi Politik”, namun setelah diberikan usulan oleh Eko Prasetyo buku ini sampai ke hadapan pembaca dengan judul cukup menantang: “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik”. Dengan melihat perubahan itu buku ini memiliki motivasi bukan saja sekadar hanya menjadi “imajinasi bagi pembaca”, seperti disebutkan Ridha dalam kata pengantarnya, melainkan sebenarnya sebuah kritik bagi ideologi pembangunan yang dianut pemerintah saat ini.

Itulah sebabnya, barangkali buku ini terkhusus ditujukan kepada mahasiswa, elemen sosial yang paling politis menggunakan jalan raya. Elemen gerakan mahasiswa seperti diketahui, seringkali menggunakan jalan raya sebagai medan terbuka melancarkan kritik-kritiknya terhadap rezim pemerintahan yang dinilai tidak adil dan demokratis.

Memang bagi kelas masyarakat tertentu, aktivitas politik mahasiswa di jalan raya ketika melakukan hajatan aksi demonstrasi, dianggap mengganggu laju lalu lalang sirkulasi transportasi. Ketika mahasiswa turun ke jalan sebagai satuan gerakan, waktu dan ruang gerak bagi pengguna jalan banyak tersita dan terbuang percuma. Karena inilah, acap kali mahasiswa dengan tradisi berlawanan demikian dinilai negatif dan terbelakang.

Namun, ketika pandangan negatif semacam selama ini dikembalikan kepada dalil teoritik dalam buku ini berkaitan dengan jalan raya sebagai ruang konstestasi dalam semesta kepentingan kapitalisme global, keresahan-keresahan berkaitan dengan aktivisme mahasiswa di jalan raya dengan sendirinya akan tertolak.

Di akhir-akhir bagian buku ini juga akan kelihatan dengan terang “semangat awal” dari Ridha ketika meletakkan keperpihakkannya kepada aktivisme kritis mahasiswa yang kerap menjadikan ruang publik sebagai medan pergerakannya. “…tepat pada logika semacam inilah tulisan  ini ingin menjadi pembelaan bagi seluruh aksi-aksi jalanan yang dilakukan oleh kaum miskin, mahasiswa dan elemen sosial lainnya yang merasa bahwa jalan bisa menjadi ruang untuk mempertaruhkan hidup dan masa depan kehidupan mereka”.

Akhirnya, buku ini –sekali lagi—patut diapresiasi tinggi disebabkan memberikan analisis mendalam tentang kedudukan jalan raya di dalam semesta kapitalisme global. Juga  seperti ujaran Martin Suryajaya, buku ini menambah daftar tematik di dalam mendalami kajian-kajian tentang aktivitas produkis kapitalisme yang hanya berfokus di ranah kerja dan produksi belaka.

Data buku:

Judul Buku                : Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik

Penulis                        : Muhammad Ridha

Penerbit                      : Carabaca Makassar dan Social Movement Institute Yogyakarta

Tahun terbit               : Agustus 2018

Tebal halaman           : XXIII + 156 halaman.

The Sea of Trees: Keinginan Bunuh Diri dan Pencerahan di Aokigahara

Konon semakin tua, pilihan hidup seseorang semakin sedikit. Umumnya, di usia muda sesorang memiliki segudang keinginan: ingin sekolah ke luar negeri, ingin berpetualang ke tempat-tempat terpencil, traveling mengabadikan pemandangan eksotis, melancong ke kota-kota bersejarah, atau menjadi seorang volunteer di kegiatan-kegiatan sosial.

Tidak lama umur bertambah ia akan menginginkan pekerjaan tetap, kendaraan pribadi dan jaringan pertemanan yang luas. Di waktu ini ia juga akan mencari seorang pasangan hidup. Setelah dirasa sedikit mapan ia ingin memiliki hunian sendiri, dan anak-anak dari rahim istrinya. Bertahun-tahun menyekolahkan anak-anaknya, hingga akhirnya pilihan hidupnya hanya tinggal dua: hidup tenang menikmati hari tua dan menunggu kapan kematian menjemputnya.

Kematian dari siklus demikian sering menjadi pilihan terakhir bagi kehidupan orang-orang normal. Bahkan, ia sebenarnya tidak pernah dimasukkan ke dalam daftar panjang keinginan. Dalam hal ini kematian hanya menjadi sesuatu yang dibiarkan alami. Terjadi begitu saja tanpa dipikirkan apalagi direncanakan. Toh, siapa pula yang berencana mati.

Tapi, bagaimana jika kematian justru menjadi sesuatu yang diinginkan. Dengan kata lain, kematian adalah satu-satunya harapan yang mesti segera ditunaikan?

The Sea of Trees adalah film yang berangkat dari pernyataan di atas. Si tokoh yang pergi jauh ke Jepang dari Amerika tempatnya tinggal hanya untuk bunuh diri. Uniknya, ia berkeinginan bunuh diri di dalam hutan yang terkenal angker. Hutan yang memang populer sebagai tempat orang-orang mengakhiri hidup: Aokigahara.

Film ini dimulai dengan Arthur Brennan ( Matthew McConaughey) yang membeli tiket sekali jalan menuju Tokyo tanpa membawa apa-apa, bahkan koper sekalipun. Tujuannya hanya satu yakni langsung ke Aokigahara, hutan di kaki Gunung Fuji.

Tiba di dalam hutan ia menenggak resep obat untuk mengakhiri hidupnya. Tepat di saat inilah ia melihat Takumi Nakamura (Ken Watanabe), pria lain yang bunuh diri yang tampaknya berubah pikiran mencari jalan keluar dan ingin kembali ke tempat aman setelah tersesat selama dua hari. Di titik inilah film ini mulai masuk ke dalam inti cerita.

Pertemuan Arthur dan Takumi  juga sekaligus menjadi titik balik cerita yang di awal diperkirakan akan mengakhiri hidup mereka masing-masing. Justru pertemuan mereka mengarahkan cerita untuk keluar dari Aokigahara. Satu hal yang tiba-tiba bertolak belakang dari premis awal film ini.

Dari sini, Arthur berkeinginan membantu Takumi menemukan jalan keluar dan segera mendapatkan pertolongan. Tapi, yang namanya hutan, jika tidak memiliki keahlian mengetahui letak arah angin maka akan menjadi masalah tersendiri. Arthur dan Takumi akhirnya tersesat, dan secara tidak sengaja di saat mencari jalan keluar itulah mereka berdua menjadi lebih dekat.

Jalan cerita yang berubah dari premis awal sang tokoh, nampaknya menjadi perhatian utama Gus Van Sant sebagai sutradara untuk tidak ingin masuk ke dalam cerita mengenai bagaimana dan seperti apa proses kedua tokoh menuju kematian. Justru porsi utama ada pada dimensi mengapa kedua tokoh ingin mengakhiri hidupnya?

Di sinilah tema tentang depresi, kesepian, cinta, dan harga diri dieksplorasi ke dalam jalinan cerita flash back si tokoh Arthur.

Arthur adalah seorang ilmuwan berprofesi sebagai dosen yang menjalani rumah tangga yang bermasalah. Hal ini diperlihatkan dari Joan Brennan (Naomi Watts), istri Arthur yang mempermasalahkan pendapatan suaminya sebagai dosen. Tapi ibarat gunung es, simptom utamanya adalah kasih sayang yang meregang di antara mereka berdua.

Dalam konteks keluarga, dapat ditelusuri persoalan utama mengenai kasih sayang adalah salah satu masalah utama masyarakat Barat. Eksplorasi kasih sayang yang diangkat dari pasangan Arthur dan Joan dengan kata lain merupakan salah satu jualan film ini, apalagi mengingat minimnya kasih sayang dalam banyak kasus menjadi salah satu penyebab depresi yang mendorong orang bunuh diri.

Walaupun begitu, dalam film ini seperti nanti terkuak, faktor utama yang mendorong si tokoh berkeinginan bunuh diri adalah depresi akibat rasa bersalah yang kian akut. Ya, Arthur menjadi pribadi yang berbeda setelah istrinya divonis tumor otak. Ia mulai kehilangan konsentrasi dan gagal fokus. Hingga ketika istrinya meninggal dunia, hidup Arthur diliputi keputusasaan dan penyesalan tiada tara.

Lain hal dari Arthur, Takumi malah lebih merepresentasikan budayanya sebagai orang Jepang. Sebagai pekerja kantoran, ia terdorong mengakhiri hidup lantaran hilang harga diri setelah turun jabatan. Seperti yang ia katakan kepada Arthur, turun jabatan artinya kehilangan peluang memberikan makan layak kepada keluarganya. Jika itu terjadi sama halnya ia hilang kehormatan sebagai seorang kepala rumah tangga.

Sosok Takumi jika dikontekskan ke dalam data-data kasus bunuh diri di Jepang, mewakili kebiasaan para pekerja kantoran yang memilih bunuh diri setelah pulang bekerja dari kantor. Selain stres akibat tuntutan kerja, besar kemungkinan hal itu dipicu oleh motif yang sama seperti diperlihatkan Takumi.

Lalu mengapa Aokigahara yang dipilih? Bukankan kalau mau mengakhiri hidup bisa di mana saja dan dengan cara apa saja. Misalnya, meloncat dari gedung tinggi, gantung diri, menenggak racun mematikan, atau menabrakkan diri di rel kereta api. Bukankah terlihat aneh jika hutan menjadi tempat bunuh diri?

Dari pertanyaan demikian, menurut hemat saya bahwa film ini memiliki visi untuk mengkampanyekan anti bunuh diri yang memang banyak terjadi di Aokigahara. Di Jepang sendiri menurut catatan resmi, terdapat 21.897 orang yang meninggal dunia akibat bunuh diri pada 2016. Dari semua itu Aokigahara menjadi tempat paling “favorit” untuk melakukan bunuh diri.

Itulah sebabnya di suatu adegan, Arthur yang sudah tenggelam dalam putus asa mencari tempat paling baik untuk mengakhiri hidup via internet. Dan seperti disampaikan sebelumnya hutan Aikogahara menjadi destinasi paling teratas muncul di mesin pencari.

Berdasarkan visi itulah film ini bertolak dengan pentingnya pencarian makna hidup yang menjadi sebab mendasar dari umumnya orang bunuh diri. Klimaks dari itu terdapat di dalam percakapan di tengah malam yang mengantarkan Arthur dan Takumi secara tidak langsung mendapatkan secercah cahaya pencerahan. Di scene ini, sangat terasa bahwa masalah utama dari keduanya –dan juga orang-orang yang mengalami kekosongan sampai depresi—adalah soal bagaimana seseorang menemukan rekan yang tepat untuk saling menguatkan.

Di bagian ini pula, kehilangan orang yang dicintai bukan berarti orang yang meninggal benar-benar hilang dan lenyap begitu saja, melainkan ia tetap ada dan dekat walaupun berbeda alam dengan orang yang masih hidup. Pandangan filosofis inilah yang keluar dari mulut Takumi sekaligus mengentakkan Arthur mengenai makna kehidupan pasca kematian. Sesuatu yang sebelumnya tidak dipercayai Arthur mengingat profesinya sebagai profesor di bidang matematika.

Twist di akhir cerita yang kontras dari premis awal film ini akan membuat sebagian penonton merasa tertipu. Bagaimana tidak jika justru Arthur menjadi orang yang berhasil keluar dan terselamatkan berkat usahanya bertahan hidup. Pasca itulah sebelum kredit film, Arthur kembali menata hidupnya dengan melakukan hal-hal yang disenangi istrinya semasa ia hidup. Semua itu dilakukannya demi cintanya kepada Joan istrinya. Sesuatu yang menjadi kekuatan untuk melanjutkan kehidupannya. Juga, sesuatu yang belakangan baru ia sadari.

Data Film

Sutradara: Gus Van Sant

Penulis skenario: Chris Sparling

Genre: Drama misteri

Pemain: Matthew McConaughey, Ken Watanabe, Naomi Watts

Durasi: 110 menit

Produksi: Gil Netter Productions Waypoint Entertainment

Tanggal rilis: 2016

Rating: 6,0/10 (IMDb)

Sumber gambar: imdb

 


sumber gambar: amazon.com

5 Jenis Mahasiswa Senior Bakal ditemui ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Menjadi mahasiswa baru adalah pengalaman tersendiri bagi sebagian orang. Selain merupakan masa transisi dari kehidupan “pra-pencerahan”, ia juga menjadi penanda bertambahnya tanggung jawab sebagai pelanjut generasi bangsa.

Dunia kemahasiswaan adalah semesta pengalaman yang unik. Ketika je menjadi mahasiswa baru, je bakal menemukan dunia yang berbeda dari masa SMA dulu. Mulai dari beban sks, jadwal mata kuliah yang sering bergonta-ganti, teman nongkrong yang kece-kece(le), aneka ragam dosen dari kelas bulu sampai kelas berat, pembayaran ini itu, aktifitas organisasi yang macam-macam, hingga tentu senior-senior  yang kegatelan ingin mendekati je seperti calo tiket terminal.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan amatiran eike, tulisan ini ingin menyajikan 5 jenis mahasiswa senior yang bakal je temui ketika menjadi mahasiswa baru.

  1. Senior tipe ustaz/ustazah

Tipe pertama senior ini banyak bermunculan ketika kampus dikepung organ-organ berhaluan agama. Mulai dari organ tipe liberal sampai konservatif. Namun, sekira lima tahun belakangan organ agama kemahasiswaan yang dominan adalah ah-je-tahu-sendiri-yang-eike-maksud.

Ciri-ciri organ ini gampang diidentifikasi ketika mereka sedang menguasai masjid-masjid kampus. Dalam suatu artikel, Azyumardi Azra seorang cendikiawan muslim Indonesia sekaligus mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, organ-organ ini bisa merebak bak bakteri akibat tidak ada wacana Islam tandingan yang lebih moderat.

Yups, benar sekali. Mereka gampang dikenali dari paham keagamaan mereka yang menghendaki berdirinya negara agama.

Mahasiswa senior macam begini punya strategi rekuitmen kader bekerja sama dengan dosen-dosen buta politik. Dengan dalih kajian keagamaan banyak mahasiswa baru kepincut ikut organ ini yang berafiliasi dengan ormas-ormas keagamaan berhaluan konservatif.

Yang unik dari organ tempat jenis mahasiswa senior ini berkecamba,  mengikuti kegiatan mereka ikut menentukan bagus tidaknya nilai mata kuliah agama di kurikukulum tingkat jurusan.

Senior tipe ustaz/ustazah sangat gampang ditemui di lingkungan sekitar masjid-masjid kampus. Mereka getol berdakwah bahkan sampai berburu di rumah kos-kosan mahasiswa baru.

  1. Senior ala kadarnya

Senior ala kadarnya adalah mahasiswa akhir yang tidak terlalu ambil pusing ketika mahasiswa baru pertama kali menginjakkan kakinya di aula-aula kampus.

Senior tipe ini adalah satu jenis mahasiswa yang sehari-harinya mempraktikkan etika mahasiswa 3K: kampus, kamar kos, dan kakus. Di tiga semesta inilah senior tipe ini mengekalkan kehidupannya.

Karena prinsip etika 3K, senior seperti ini lebih mengedankan kehidupan akademik yang layak. Kuliah hanyalah satu-satunya aktivitas mereka. Bagi mahasiswa tipe ala kadarnya nilai A+ di atas ijazah adalah satu-satunya summum bonum yang mesti diperjuangkan seluruh mahasiswa.

Itulah sebabnya, kehadiran mahasiswa baru ketika masa PMB dan setelahnya, tak sedikit pun mengalihkan perhatian mereka.

Oh iya, senior jenis ala kadarnya  adalah mahasiswa yang paling banyak berkembang biak di dalam kampus. Mereka kelas mahasiswa mayoritas yang paling banyak memenuhi isi kantin jika rehat dari jam perkuliahan.

  1. Senior masih dunia lain

Senior masih dunia lain adalah senior yang misterius. Tidak banyak informasi dapat diketahui dari senior jenis ini. Namanya juga senior masih dunia lain! Kampus bukanlah alam hidup mereka.

  1. Senior aktivis sampai mampus

Nah, kalau yang ini adalah senior yang sering gagah-gagahan menggunakan Pakaian Dinas Harian (PDH) organisasi. Ibarat pegawai negeri sipil, baik kuliah atau sedang ee di kamar mandi seragam PDH adalah satu-satunya busana yang dikenakan. Mirip tentara, PDH adalah lambang kesetiaan kepada organisasi.

Senior dari klasifikasi ini merupakan mahasiswa penghuni sekretariat-sekretariat sebagai kantor mereka. Di masa OSPEK PMB tiba, mereka inilah yang paling sibuk menyiapkan penyambutan mahasiswa baru.

Di masa itu kadang mahasiswa senior dari kelas ini jarang sekali pulang ke rumah hanya untuk menghibahkan waktunya demi dedek-dedek mahasiswa baru.

Tidak jarang, dari senior seperti inilah lahir macan-macan kampus. Kelas mahasiswa minoritas yang garang di jalanan tapi malas membaca buku.

Berkat kehidupan altruis mereka, mantan macan kampus yang sudah lebih dahulu diusir dari kampus menitipkan tanggung jawab kelembagaan di atas pundak mereka. Kadang lantaran tanggung jawab ini mereka sampai mampus hidup abadi di dalam kampus.

  1. Senior ala KRS (Korban Retorika Senior)

“Sepertinya kita hidup di waktu yang salah,” seloroh kawan eike ketika ngopi di salah satu kampus di Makassar. Ucapannya itu dia maksudkan kepada mahasiswi-mahasiswi yang saat itu asik merumpi di sudut kantin. Tapi bukan isi obrolan yang ia sasar dari mahasiswi-mahasiswi itu, melainkan paras mereka yang cantik rupawan.

Waktu itu kami sudah lama meninggalkan kampus, dan ketika datang bertandang dalam suatu kegiatan di kampus, kawan eike terkesima melihat mahasiswi-mahasiswi generasi milenial yang lebih fesyienebel dari zaman kami sebelumnya. Dengan paras rupawan dan tampilan yang lebih stelish mahasiswi sekarang jauh lebih sadar penampilan dari generasi sebelumnya.

Kepada mereka inilah sekaum mahasiswa senior menjadikan mereka sebagai calon gebetan. Bagi mahasiswa senior yang sering ikut kajian retorika walaupun tidak tuntas-tuntas, sering menggunakan disiplin ilmu ini sebagai senjatanya.

Melalui obral kata-kata, mahasiswi-mahasiswi yang masih polos kerap menjadi korban senior jenis kelima ini. Sejak dijadikan pacar unyu-unyu, mahasiswi seperti mereka menjadi bamper bertahan hidup mulai dari ongkos ngerokok sampai belanja quota data mingguan.

Karena semua itulah mahasiswi-mahasiswi yang termakan kata-kata senior seperti ini sering disebut mahasiswi KRS (korban retorika senior).

Kadang, lantaran saking KRS-nya, mereka sering diPHP-kan di akhir semester nanti. Cinta akhirnya tak seawet empat belas semester.

Seperti senior tipe aktivis, senior ala KRS sering cari-cari muka ketika  mahasiswa baru pertama kali menjalani hari-hari pertamanya di selasar kampus.

Itulah 5 jenis mahasiswa senior yang bakal kamu temui saat menjadi mahasiswa baru. Tidak ideal, memang. Hidup mahasiswa.

 


sumber gambar: Okezone.news

Bagaimana Alvaro Menulis Karangannya: Ulasan atas El Autor

Tulisan ini merupakan naskah awal sebelum dikirim ke situs resensi buku dan ulasan film Karepe.com dengan judul The Motive: Cara Busuk Menjadi Penulis. Ini versi spoilernya.

Alvaro, suami dengan istri seorang penulis best seller memutuskan hidup sendiri di flat sederhana di suatu sudut kota Sevilla. Ia mengambil keputusan itu pasca memergoki Amanda (María León), istrinya, bercinta di atas mobil bersama rekan kerjanya. Namun selingkuh hanyalah kedok. Ia minggat karena ingin merealisasikan hasrat terpendamnya: menjadi penulis terkemuka.

Menjadi penulis terkemuka bagi Alvaro dilakukan dengan menciptakan karangan yang ia sebut “sastra tinggi”. Karangan yang ia nilai akan menjadi penanda pencapaian fenomenalnya.

Lantas apa itu “sastra tinggi” dalam imajinasi Alvaro? Apalagi dalam suatu pertengkaran dengan Amanda, tersampir dialog-dialog yang menjurus kepada suatu pengertian mengenai “sastra tinggi” dan yang mana dianggapnya “sastra rendahan”. Anehnya, dari jalan pikiran Alvaro –seperti tersurat dari dialog cekcok mulut mereka– “sastra tinggi” bukan tipe sastra seperti karangan istrinya yang berhasil meraih penghargaan best seller, karangan yang disebutnya pasaran dan melangit-langit.

Dari sudut pandang demikian, jalan pikir Alvaro seolah-olah mendudukkan dirinya sebagai orang yang vis a vis melawan arus sastra maenstream. Setidaknya saat ia menilai pencapaian sastra di negerinya, yang menganugerahkan istrinya sebagai pengarang terbaik sebagai keputusan yang mengada-ngada.

Apabila mencerna isi pengertian sastra menurut Alvaro, mengingatkan saya mengenai perdebatan ideologi kepenulisan sastra di negeri sendiri yang sampai hari ini banyak memengaruhi perkembangan sejarah sastra di tanah air.

Kembali ke ke tokoh kita. Scene awal yang menunjukkan air muka Alvaro begitu serius hingga matanya berkaca-kaca saat mendengarkan kata-kata inspiratif di seminar penulisan, mengisyaratkan betapa tokoh kita ini sangat mencintai dunia tulis menulis. Saking cintanya, di waktu bersamaan, ia rela mengorbankan menghadiri malam penganugerahan kepenulisan istrinya di tempat berbeda.

Namun, setelah ditelepon berkali-kali, datang juga ia di malam penganugerahan. Walaupun demikian, apa lacur, selama kedatangannya, di dalam diri sang tokoh kita ini terpendam hasrat mendalam untuk menjadi penulis hebat. Di dalam pikirannya, penghargaan yang diraih Amanda bukanlah apa-apa.

Dari sisi ini sudah dapat ditebak walaupun tidak punya bakat menulis, Alvaro sosok yang ambisius. Terbukti, selain bekerja sebagai notaris, Alvaro menghabiskan banyak waktunya mengikuti kelas menulis sastra yang dibimbing Profesor Juan (Antonio de la Torre), si guru menulis. Tidak tanggung-tanggung sudah tiga tahun ia mengikuti kelas ini. Di kelas inilah, ia melipatgandakan hasratnya agar dapat melahirkan karya monumental yang dirasanya akan melampaui pencapaian istrinya.

Namun, seperti penyakit purba setiap penulis, Alvaro terserang mental block. Idenya kering seperti raib ditelan obsesinya sendiri. Dia sebenarnya hanya butuh kalimat pembuka sebagaimana penulis-penulis andal memulai karangannya. Tapi apa? Dengan cara apa agar inspirasi ibarat tarikan nafas yang datang berkali-kali dengan ringan? Justru yang terjadi adalah setiap kali ia ingin memulai proyek monumentalnya, yang ada hanyalah layar kosong komputer beserta kesunyian kamarnya.

Untuk mensiasati keadaannya Alvaro mencari segala jenis cara agar dapat menelurkan sebiji ide. Dimulai dengan cara berlari berkeliling di rumahnya sampai mau tidak mau mengikuti saran Profesor Juan dengani trik konyol bin aneh dari Ernest Hemingway: menulis berdiri dalam keadaan telanjang dengan kemaluannya diganjal di atas meja.

Sepertinya, di momen ini Alvaro menunjukkan suatu kenginan besar melakukan revolusi penulisan dari karya yang ia rencanakan. Ia seperti mengafirmasi perkataan Gabriel Garcia Marques penulis One Hundred Years of Solitude: “cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan.” Namun, seperti apakah cara terbaik yang dilakukan Alvaro agar menelurkan karya yang disebutnya “sastra tinggi”?

Nah, di sinilah aturan sederhana yang dari awal dikemukakan berlaku: menulis apa yang dilihat dan apa yang di dengarkan. Dengan rumusan sederhana ini, Alvaro melalukakan cara yang ia anggap paling baik sekaligus paling elementer: mendudukkan pengamatannya sebagai sumber pengetahuan. Ia menjadi seorang penganut filosofi empiris.

Melalui cara itu ia menghidupkan masukkan Profesor Juan agar menjadikan kenyataan sebagai basis karangan. Dalil pernyataan ini didasarkan dari pengakuan gurunya karangan sastra yang unggul mesti mengandung elemen kebenaran. Dengan kata lain, karangan mesti ditimba dari kenyataan yang sebenarnya agar realistis dan seolah-olah memang pernah terjadi. Dengan premis inilah, yang juga dijadikan pernyataan pamungkas Alvaro ketika bersilat lidah dengan istrinya, menjadi tinta semangat karangan novelnya.

Selain menjadi seorang empiris, Alvaro bertindak sekaligus sebagai seorang behavioris dengan memanipulasi kejadian-kejadian di sekitarnya. Di sinilah kepicikan Alvaro sekaligus dikatakan “berbahaya”.

Demi mengembangkan alur ceritanya terutama agar dapat terjadi konflik, ia mendengungkan dan menerapkan bunyi teori perilaku yang ada dalam disiplin psikologi dengan cara mengeksperimenkan jalan hidup tetangganya.

Pertama, ia memanipulasi perilaku dan perasaan Portera (Adelfa Calvo), seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal yang miskin kasih sayang dengan mengajaknya bercinta. Melihat bagaimana gelagat dan sikapnya ketika pasca ditiduri, mencatatnya sebagai bahan salah satu karakter novelnya.

Kedua, ia menyusun skenario bersama Portera agar dapat masuk ke kehidupan Montero (Rafael Téllez), seorang pria uzur bekas tentara yang tertutup dan memiliki pistol tua yang ia sembunyikan di berangkas rahasianya.

Ketiga, ia menggunakan keahliannya sebagai seorang notaris untuk pura-pura membantu masalah keuangan Irene (Adriana Paz) dan Enrique (Tenoch Huerta), sepasang suami istri imigran dari Meksiko.

Kepada mereka semualah, di balik kamar apartemennya, Alvaro seperti seekor elang mengawasi seluruh gerak-gerik tetangganya pasca menciptakan motif yang memengaruhi jalan kehidupan tetangganya. Mencatat setiap detil informasi semisal, karakter tetangga-tetangganya, pekerjaan, jenis makanan, posisi berangkas uang si tua Montero hingga masalah percintaan Irene dan Enrique. Dari semesta macam itulah, Alvaro meliuk-liukkan jemarinya menyusun cerita di atas tuts komputernya.

Film yang ikut Festival Film Toronto 2017 dengan judul asli El Autor ini berhasil membawa Javier Gutiérrez dan Adelva Calvo meraih penghargaan aktor terbaik dan aktris pendukung terbaik pada Goya Award 2018, suatu ajang penghargaan film nasional utama di Spanyol. Menurut hemat saya ganjaran yang diraih keduanya cukup sepadan karena akting mereka yang total dan “berani”.

Jadi, jika Anda ingin menjadi penulis dengan cara picik, saya sarankan bergegas menonton film besutan Manuel Martín Cuenca ini. Film ini menyediakan trik busuk sekaligus “berbahaya” ketika Anda kehabisan ide cerita. Rumusnya sederhana: cukup menulis setiap kejadian dari apa saja yang Anda lihat dan dengarkan di sekitar Anda.

 

Data Film

Sutradara: Manuel Martín Cuenca

Penulis skenario: Manuel Martín Cuenca, Alejandro Hernández

Genre: Komedi, Drama

Pemain: Javier Gutiérrez, María León, Antonio de la Torre, Adriana Paz, Tenoch Huerta, Bald Adelfa, José Carlos Carmona

Durasi: 112 menit

Produksi: Icónica Producciones

Tanggal rilis: 2017

Rating: 6,8/10 (IMDb), 60% (Rotten Tomatoes)

Pad Man: Melawan Kemiskinan dengan Pembalut

Lakshmikant Chauhan dilanda kegalauan setiap istrinya memasuki masa haid. Gayatri, Istrinya, lebih memilih memakai kain lap sebagai pembalut. Kegalauan Lakshmi semakin menjadi-jadi lantaran setiap kali haid, setiap itu pula istrinya menggunakan kain yang sama sebagai penggantinya. Hingga suatu hari, dengan uang pinjaman, Lakshmi membelikan pembalut untuk istrinya. Bukannya berterima kasih, lantaran mahal, Gayatri malah menolak pembalut pemberian suaminya.

Didorong kegundahan melihat polah istrinya dan kehidupan yang dililit kemiskinan, Lakshmi bereksperimen membuat pembalut dari mesin sederhana yang diciptakannya sendiri. Setelah melalui beberapa percobaan Lakshmi kembali membujuk istrinya menggunakan pembalut buatannya. Tidak diduga sebelumnya, untuk kesekian kalinya, istri Lakshmi menolaknya.

Begitulah secuplik cerita film Pad Man yang dibintangi Akshay Kumar dan Sonam Kapoor adaptasi kisah nyata Arunachalam Muruganantham, aktivis sosial yang kini menjadi pengusaha di India. Film yang disutradai R. Balki ini mengisahkan suatu tema unik yang selama ini menjadi tabu dan hanya dibicarakan diam-diam oleh perempuan-perempuan India: menstruasi.

Penyakit dan Selimut kemiskinan

Tulang punggung film ini ada pada harapan Arunachalam Muruganantham (diperankan Akshay Kumar sebagai Lakshmikant Chauhan) agar istrinya (diperankan Radhika Apte sebagai Gayatri), termasuk perempuan-perempuan India memerhatikan kesehatan ketika tiba masa haid dengan menggunakan pembalut yang lebih higienis daripada kain lap. Harapan Muruganantham bukan tanpa sebab karena memakai kain lap saat menstruasi dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit hingga mengancam rahim perempuan terserang virus dari kain yang kotor.

Menurut laman berita BBC, survei 2011 yang dilakukan AC Nielsen oleh pemerintah India, menemukan bahwa hanya 12 % wanita di seluruh India menggunakan pembalut wanita. Sementara menurut data USAID dalam artikel yang ditulis Abijan Barua di laman KBR.id, sekitar 80 persen perempuan India hanya menggunakan potongan kain ketika menstruasi. Selama berkali-kali kain itu tetap dipakai dengan dicuci menggunakan air dingin, dan dipakai ketika masih lembab. Ini menyebabkan infeksi dan luka berkembang biak.

Hal itulah yang menyebabkan, seperti dikutip dari  Detik Healt, 70 persen dari semua penyakit reproduksi di India disebabkan kebersihan menstruasi yang buruk. Bahkan ada yang sampai berujung kematian. Hal ini karena selain menggunakan kain lap, perempuan-perempuan India, juga menggunakan pasir, daun, serbuk gergaji, bahkan abu sebagai pengganti pembalut.

Fenomena di atas seperti tampak dari adegan-adegan Padman, hanyalah efek dari situasi ekonomi masyarakat miskin India. Perempuan-perempuan di India, sengaja menggunakan kain lap karena tidak mampu membeli pembalut akibat selimut kemiskinan.

Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang buruk, Pad Man dengan terang mengangkat pula kehidupan budaya perempuan India yang disekap pandangan dunia tradisional. Seperti diperagakan melalui adegan-adegannya, selama mens, perempuan-perempuan di desa Muruganantham harus menjalani suatu prosesi unik berupa hidup terpisah di beranda khusus menyerupai sepetak kamar. Kamar itu disusun dari sekat-sekat kayu menyerupai penjara yang diisi satu tempat tidur khusus dan tali jemuran untuk mengeringkan pakaian dan kain lap pembalut.

Kebiasaan di atas menurut  aktivis perempuan, Swapna Tripathi, dikutip dari artikel Abijan Barua dalam situs KBR.id, karena pola pikir tradisional yang menyebut para perempuan seharusnya merasa malu jika sedang mens sehingga harus tinggal terpisah.

Bahkan rasa malu karena masa haid berdampak pula kepada dunia pendidikan, terutama bagi para remaja perempuan. Esai Istri pangeran Harry, Meghan Markle seperti dilaporkan Tabloid Bintang dari laman Time mengungkapkan, perempuan-perempuan remaja yang telah memasuki masa haid merasa malu karena menganggap tubuh mereka dihuni mahluk jahat dan menjadi “kotor” ketika haid. Akibat hal ini banyak perempuan-perempuan remaja yang tidak ingin bersekolah saat haid.

Pemberdayaan perempuan

Hanya karena menstruasi istrinya, Arunachalam Muruganantham yang diperankan Akshay Kumar mengembangkan teknologi sederhana berupa mesin pembuat pembalut. Tidak lama setelah bertemu Rhea (Sonam Kapoor) yang mengikutkan alat temuannya pada ajang inovasi teknologi, seperti dikisahkan, Lakshmi berhasil menyabet penghargaan presiden berkat mesin temuannya.

Setelah menolak alat temuannya dikomersilkan dan diberi hak paten, dalam adegan, Lakshmi justru berkeinginan setiap perempuan dapat memiliki alat yang sama secara gratis. Mulai dari itulah, pelan-pelan bersama Rhea, Lakshmi mengembangkan mesinnya dengan melibatkan dan melatih perempuan-perempuan di desanya membuat pembalut.

Apa yang diusahakan secara kolektif dalam adegan-adegan film ini bersama perempuan-perempuan di desanya sebenarnya adalah usaha kritis untuk memberdayakan perempuan. Di samping mengkampanyekan bahwa masa menstruasi adalah hal yang normal, pemberdayaan perempuan melalui pabrik mini yang mereka ciptakan ikut serta membantu perekonomian keluarga-keluarga miskin di desanya dengan cara menjual pembalut buatan sendiri dengan harga yang lebih terjangkau.

Dari desa untuk dunia

Usaha Muruganantham bukan tanpa hambatan. Ketika pertama kali membuat pembalut ia ditentang istrinya sendiri karena ikut campur urusan perempuan. Perlu diketahui, di India, karena tradisi sangat tabu membicarakan masalah menstruasi apalagi bagi lelaki. Menstruasi dianggap tema pembicaraan yang tidak layak dibicarakan secara publik sekalipun dalam skala rumah tangga.

Itulah sebabnya, akibat sikap Muruganantham yang “keras kepala” ingin mencari solusi pengganti kain lap sebagai pembalut harus merelakan rumah tangganya hancur ditinggalkan istrinya. Bahkan, karena membuat malu keluarga besarnya, ia akhirnya harus pergi meninggalkan desanya setelah dihakimi secara sosial.

Tapi, niat Muruganantham sudah kepalang di atas ubun-ubun, usahanya membuat pembalut menarik minat dunia setelah ia berhasil memenangkan penghargaan inovasi dari presiden India. Diundanglah ia oleh PBB untuk membicarakan temuannya sekaligus perlawanannya melawan penyakit reproduksi yang disebabkan ketakutan menggunakan pembalut.

Berkat usahanya melawan mitos dan ketakutan seputar penggunaan pembalut, perlahan-lahan, dari desa ke desa, seiring berjalannya waktu mesin-mesin itu dapat menyebar ke 1.300 desa di 23 negara bagian.

Kini lelaki yang masuk 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia menurut majalah Time 2014 lalu telah memproduksi alat temuannya untuk disebarkan bagi 104 negara-negara miskin termasuk Kenya, Nigeria, Mauritius, Philipina, dan Bangladesh.

Berkat tindakannya ini, Muruganantham digelari sebagai “pahlawan”. “Jika di Amerika punya Superman, Batman, atau Spiderman. Maka di India ada Padman,” Ungkap Amitabh Bachchan yang muncul sebagai cameo.

Data Film:

Sutradara : R. Balki

Genre : Biografi, drama, komedi

Cast : Akshay Kumar, Sonam Kapoor, Radhika Apte

Durasi : 140 menit

Tahun rilis : 2018

Studio : Grazing Goat Pictures

Rating : 8.2/10 (IMDb), 100% (Rotten Tomatoes)

 


sumber gambar: Bollywood Garam.com

Ramadan

Pengalaman puasa adalah pengalaman menemukan otentisitas “sang aku”. Ia cara manusia membebaskan diri “dari” sesuatu dan “untuk” sesuatu. Agama menyebutnya  “sang aku” yang menahan  diri dari  godaan hawa nafsu , sekaligus juga untuk meraih apa yang dibilangkan agama sebagai puncak puasa: takwa.

Dengan kata lain, puasa adalah mekanisme  diri untuk kembali ke keaslian parasnya dengan diraihnya predikat takwa seperti dalam kosakata Al  Quran.

Keotentikan diri yang diupayakan selama berpuasa sepadan dengan bunyi hadis qudsi yang mengatakan barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya. “Sang aku” yang ril disebutkan ceruk yang mampu membawa pemahaman manusia  mengenal siapa Tuhannya. Dari sang diri yang otentik, manusia dapat membangun kontak dengan Tuhannya. Bahkan diri yang otentik adalah tempat pancaran Tuhannya.

Barangkali karena itulah ramadan berarti membakar. Itulah juga arti selama berpuasa segala kecenderungan yang bersumber dari ego individual dihilangkan dengan cara berpuasa. Ibarat cara memisahkan emas murni dengan yang palsu melalui cara dibakar. Puasa adalah cara diri ditempa pembakaran untuk menemukan diri otentik yang terpancar cahaya ilahi.

Selama ramadan, demi mencari diri otentik, “sang aku” mesti mengedepankan “kemauan Tuhan”. Mengapa “kemauan Tuhan”? Karena selama berpuasa tidak ada kecenderungan ego manusia yang layak dikedepankan. Selama berpuasa kita diwajibkan meninggalkan seluruh pekerjaan yang mengutamakan diri manusia. Semuanya adalah “kemauan Tuhan” yang mesti diutamakan. “Sang aku” diwajibkan menahan hawa nafsunya semata-mata agar jiwa melakukan semua perintah Tuhan.

Dari kacamata sufistik selama berpuasa “diri individual” dikekang dan ditiadakan demi “diri ilahiah”. Ego manusia dilenyapkan untuk memancarkan “diri-Nya”. Dengan begitu, diri ilahiah adalah diri yang “terhubung” langsung secara ruhaniah dengan Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain setiap tindakan manusia adalah cermin tindakan Tuhan. Para sufi menyebutnya berakhlak dengan akhlak Tuhan.

Itulah sebabnya, jika sebelumnya bulan Sya’ban adalah bulan milik Rasulullah, maka bulan Ramadan semata-mata bulannya Allah. Semua tindakan kita diusahakan merupakan representase kemauan Tuhan. Karena itu sering dikatakan setiap amalan selama Ramadan akan langsung dibawa ke hadapan Allah tanpa ada penghalang sedikitpun.

Berkaitan dengan itu, ramadan ibarat waktu destitute time-nya Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman. Destitute time, bisa dibilang adalah situasi “kekosongan atas kekosongan”, atau dalam konotasi Heidegger sebagai keterputusan manusia terhadap “benda-benda” yang mengikat dirinya.

Menurut Heidegger, dalam situasi ini manusia akan menemukan kedaan natural atas dirinya. Manusia akan menemukan “dasar” dirinya dalam keberadaannya yang penuh. Di kondisi ini manusia mengalami dirinya dengan maksud mencari makna terdalam sekaligus menjadi tempat makna itu sendiri. Menurut kaca mata Heidegger, selama berpuasa manusia memutuskan “keaukannya” dari ikatan-ikatan artifisial yang memalsukan dirinya.

Itulah sebabnya, di batas akhir selama sebulan berpuasa, ada hari khusus untuk merayakan pembebasan “sang aku” setelah keluar dari perjuangannya menaklukkan sang ego. Di hari itu, semua manusia akan mengucap takbir dan menyebut diri telah kembali kepada makna asalnya: fitrah.

Dikondisi fitrahlah, manusia menemukan makna otentiknya. Menjadi manusia seutuhnya.

Di awal abad modern, keutuhan manusia dialamatkan kepada kemampuan berpikirnya. Je pense donc je suis, ungkap Rene Descartes. Aku berpikir karena itu aku ada.

Tapi, di era kiwari keotentikan diri selalu ditandai dengan konsumerisme. I buy therefore I am. Aku berbelanja maka aku ada. Diri otentik bukan ditandai dari perjuangannya mengendalikan hawa nafsu. Malah sang ego dipermak melalui tindakan berbelanja.

Dengan kata lain, otentisitas diri manusia modern bukan melalui perjalanan panjang membangun jarak dengan benda-benda, melainkan upayanya untuk menimbun barang-barang melalui praktik konsumeristik. Melalui semua itu, manusia modern merasa yakin telah memperbarui dirinya dengan barang-barang baru yang dibelinya.

Bahkan, keotentikan manusia kiwari banyak mengalamatkan dirinya kepada citra-citra imajinatif. Melalui dunia informasi identitas manusia menjadi jauh lebih problematis akibat bingkai dunia maya yang banyak menyuguhkan fantasi dan glorifikasi.

Arus informasi yang deras tak terkendali, menurut Heidegger hanya menciptakan apa yang ia katakan sebagai idle talk (obrolan kosong), yakni kondisi komunikasi dalam perbincangan yang tidak membicarakan apa-apa. Tidak ada makna sekali pun di dalamnya. Kata Peter Sloterdjik dalam Heidegger and the Media, “media membicarakan semua hal, namun tidak menjelaskan apa-apa mengenai apa pun” (remotivi.or.id)

Di dalam idle talk, “sang aku” kehilangan dasar kontekstualnya akibat aliran deras informasi. Pemahaman “sang aku” terhadap dirinya yang otentik mengalami kegoyahan lantaran hilangnya ruang permenungan. Tak ada sama sekali waktu yang kosong dari hiruk pikuk interaksi.

Dari pengalaman itu, puasa yang bermakna transformasi ego “diri individual” menuju “diri ilahiah”  tidak sama sekali membekas sebagai praktik moral masyarakat modern. Selama berpuasa akibat “sang aku” yang masih terikat kepada dunia yang serba artifisial ia pada akhirnya hanya menjadi sebatas makna ritual ketimbang transformasional.

Lalu, apa sesungguhnya makna fitrah di hari fitri kelak? Sementara “sang aku” masih ditawan sang ego. Di medan budaya, ego menjelma menjadi pribadi yang gamang dengan identitas dirinya, di medan ekonomi, “sang aku” menyeruak membeli dan menimbun barang-barang, di medan politik “sang ego” membangun sekat sentimentalisme sempit demi kekuasaan, dan di medan hidup sehari-hari praktik kehidupan sosial lebih mudah menyimpan benci daripada menebar rahmat.

 

Badaruddin Amir: Esai itu Tulisan yang Genit

Esai itu tulisan yang genit. Dia diibaratkan seseorang yang datang dan mencubit pipimu dan kemudian pergi. Begitulah esai di mata Badaruddin Amir. Pendakuan ini ia sampaikan saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis esai bagi Guru-Guru Bahasa se-Kabupaten Sidrap beberapa waktu lalu.

Badaruddin Amir seorang sastrawan Sulsel. Dia tangkas menghidupkan suasana forum. Sebelumnya, forum ibarat ruang tunggu yang sepi lantaran materi yang cenderung teoritis. Kaku. Dan mungkin membosankan.

Sebelum Pak Badar, begitu ia disapa, eike yang berkesempatan pertama kali memberikan materi. Begitulah, semenjak Pak Badar mendapatkan giliran, dengan pengalamannya yang segudang mengampu pelatihan-pelatihan menulis, forum berubah 180 derajat.

Sebenarnya slide-slide materi yang disampaikan Pak Badar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah eike sampaikan. Tapi, dari cara penyampaian, dan beragamnya contoh pengalaman yang ia ajukan, membuatnya menjadi bintang forum. Ya, semenjak mengetahui akan dipanel dengan beliau, dari awal eike sudah memosisikan diri sebagai peserta kesekian yang kebetulan duduk di sebelah Pak Badar.

Kalau mau jujur, selama ini Badaruddin Amir tidak familiar di telinga eike. Ini bukan karena Pak Badar tidak tenar dalam dunia kesusastraan maupun literasi di Sulawesi Selatan, melainkan lingkaran pergaulan eike yang masih selebar daun kelor. Juga jelajah bacaan eike yang tidak meningkat-meningkat sehingga belum sempat membaca tulisan-tulisannya.

Nama Badaruddin Amir pertama kali eike temukan di dunia maya. Secara tidak sengaja eike melihat postingan cerpen beliau yang kebetulan nongol di beranda Fb. Karena merasa ganjil, kala itu eike memberanikan diri mengomentari beberapa kata dalam cerpennya. Tidak disangka komentar itu memancing pendiskusian yang lumayan panjang. Bahkan mengundang orang-orang dekat Pak Badar turut berkomentar.  Akibat saling kritik, eike mencoba mengintip-intip dinding Pak Badar. Setelah beberapa saat, rasa-rasanya beliau ini bukan orang biasa.

Tak disangka kami dipertemukan dalam kegiatan yang sama.

“Rival saya ini,” canda Pak Badar sambil menyalami eike ketika pertama kali bertemu. Sebelum forum dibuka kami sempat terlibat diskusi ringan. Pak Jamal selaku pihak yang mengundang heran. Dia mengira kami sama sekali belum saling mengetahui. Ternyata aksi “kritik-mengkritik” di Fb beberapa waktu lalu cukup berkesan bagi Pak Badar. Dia tidak semata-mata lupa dengan eike.

“Dulu di Pedoman Rakyat tradisi kritik diapresiasi. Saling kritik itu baik, yang penting tidak membawa personalitas di dalamnya” begitu seingat eike perkataan Pak Badar ketika kami duduk berdiskusi ringan. Dia juga menerangkan posisinya terkait “polemik” yang ditimbulkan Denny JA yang belakangan booming. Bahkan dia menilai usaha Denny JA dalam memperkenalkan  “puisi esai-nya” sudah tidak wajar.

“Di Sulawesi Selatan saya yang pertama kali dihubungi Denny JA untuk ikut mengapresiasi puisi esainya,” ucap Pak Badar di saat mengatakan penolakannya. “Dampak-dampaknya kelak berbahaya,” sambungnya.  Apa yang dikatakan Pak Badar ini jelas merujuk kepada upaya yang dilakukan Denny JA menghimpun sastrawan-sastrawan di seluruh daerah Tanah Air dengan memberikan bayaran sebanyak lima juta dengan catatan mau menulis puisi-esai dalam rangka ikut mempromosikannya.

Bahkan kalau tidak salah ingat, ia juga sempat mengatakan sudah menulis beberapa pandangannya tentang puisi-esai dalam esai yang diikutkan dalam kelompok penulis yang tidak sepakat dengan sepak terjang Denny JA.

Di siang itu forum berjalan lancar-lancar saja. Walaupun sebelumnya eike mesti bergegas dari Makassar semenjak Subuh agar sampai di lokasi kegiatan pukul 8 pagi. Langit yang tidak berubah cerah dan hujan yang awet ikut menemani selama perjalanan.

Apa boleh buat, keadaan tidak bisa dilawan sepenuhnya. Eike tiba pukul delapan lewat. Hampir pukul sembilan, bahkan.

Ketika naik ke lokasi kegiatan di lantai dua, sepintas eike melihat seorang pria paruh baya duduk mengenakan topi hitam melalui celah pintu. Tidak langsung masuk, eike memilih duduk sebentar di bagian depan sambil mengatur napas. Dengan terkejut eike bertemu seorang senior semasa di kampus. Sekarang ia menjadi seorang guru sejarah. Ternyata ia salah satu peserta di kegiatan ini. Tak dinyana, sekarang eike yang bergantian memberikan materi seperti yang pernah ia lakukan di masa masih mahasiswa dulu. Ah, begitulah, dunia bekerja.

Pria paruh baya itulah Pak Badaruddin Amir. Ia datang lebih awal dengan menggunakan topi dan duduk sembari menengok layar gawainya. Nampaknya Pak Badar lumayan aktif di dunia maya. Cerpen maupun esainya, sering ia posting di sana.

“Tulisan yang kamu komentari itu sebelumnya sudah saya kirim di Fajar, tapi saya enggan memotongnya menjadi lebih pendek,” ungkap Pak Badar. Ia nampaknya tidak setuju jika karya tulisnya mesti dipermak sampai harus memenuhi kolom “sempit” yang disediakan koran-koran selama ini. Itulah sebabnya ia lebih memilih memostingnya di dunia maya yang jauh lebih banyak memberikan ruang bagi karya tulis yang panjang.

Di tengah pemaparan materi memang ada sedikit pembahasan tentang apa yang dimaksudkan “pendek” ketika mengartikan cerpen. Apakah ia ditentukan oleh faktor internal semisal jumlah karakter? Atau jalan cerita yang sekali dibaca sudah dapat menangkap karakter tokohnya? Atau memang lebih ditentukan oleh faktor eksternal semisal medium cerita itu diterbitkan, yang dalam hal ini sangat ditentukan oleh space yang ada pada setiap koran, majalah, atau junal?

Pertanyaan ini akan makin membingungkan jika tradisi kepenulisan cerpen dikaitkan dengan tradisi tulis menulis di luar negeri. Pengalaman Eka Kurniawan ketika menerjemahkan karya-karya cerpennya ke bahasa asing  misalnya, menggambarkan ternyata cerpen-cerpen yang ditulis penulis-penulis luar negeri jauh lebih panjang dari apa yang dituliskan cerpenis-cerpenis dalam negeri. Kala itu seperti yang dituliskan Eka melalui blognya, editor yang menerbitkan tulisannya sempat membandingkan cerpen-cerpennya yang lebih pendek dari cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan.

Menurut Eka, cerpen-cerpen yang ditulis di Tanah Air selama ini lebih banyak ditentukan oleh kolom yang disediakan media cetak. Sehingga ikut memengaruhi cara bercerita cerpenis ketika membangun narasinya. Menurut eike, efek paling membahayakan bagi pembaca adalah batas kemampuan membaca yang akhirnya tidak tahan membaca narasi yang panjang. Kata “pendek” dengan kata lain sudah pertama kali mendikte pembaca sehingga sulit memiliki energi lebih ketika berhadapan dengan narasi yang lumayan panjang.

Salah satu yang menarik selama pemaparan, menulis diibaratkan Pak Badar seperti berenang. Semua orang tahu seluruh gaya berenang, mereka tahu perbedaan di antara gaya kupu-kupu dengan gaya punggung, tapi itu hanya sebatas pengetahuan. Berenang yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sudah di dalam air. Ketika dia sudah berpraktik. Sudah mau melakukannya. Begitulah yang dimaksudkan Pak Badar, menulis hanya disebut menulis ketika dia dilakukan.

Sebelumnya, eike sempat malu sendiri. Pasalnya tidak ada tandamata berupa buku yang eike hadiahkan kepada Pak Badar. Sebaliknya, sebagai pamungkas dan tanda karya, eike diberikan buku kumcer beliau Latopajoko & Anjing Kasmaran. Di sini kelihatan kan, siapa sebenarnya penulis?

 

Menjelang Indonesia melalui Trumbo

Eike lumayan tercengang mendengar Partai Berkarya mendeklarasikan Tommy Soeharto sebagai calon presiden RI di perhelatan pemilu nanti (walaupun sudah eike duga sebelumnya). Selain, masih membawa bau amis partai bekas orde baru, partai yang menggunakan warna utama kuning itu, dengan terang-terangan tanpa dosa berani mereplika nama dan logo partai seperti partai “induknya.”  Ini indikator ada keinginan mengembalikan tatanan kekuasaan kepada trah penguasa tiga dekade itu dengan memanfaatkan memori bangsa Indonesia yang dikatakan pendek.

Dengan kata lain, tak dinyana orde baru masih tilas di memori kebanyakan orang-orang Indonesia. Buktinya, pertama, seperti ungkapan ketua umumnya, hanya butuh satu setengah tahun saja membangung partai ini dari Sabang hingga ujung Papua. Kedua, cukup menggunakan warna kuning familiar, logo pohon beringin yang kokoh berakar gantung, serta nama pamungkas Soeharto sebagai tiga “mantra” untuk menyihir, maka daya magisnya dianggap mampu menciptakan kembali kehidupan yang sering diringkas melalui kalimat mengejek, ini yang ketiga: Gimana enak to zamanku?

Bangsat, betul!

Tapi tidak bangsat-bangsat juga, karena warisan partai orde baru itu sebelumnya banyak berkecambah menumbuhkan partai-partai yang sebelas dua belas dengannya.

Jika sejarah Indonesia dilihat kembali, salah satu momen krusial yang mengawali naik dan berkuasanya penguasa orde baru ke gelanggang politik Indonesia tiada lain jatuh di tanggal 11 maret kemarin: surat perintah sebelas Maret (SUPERSEMAR). Satu-satunya “surat sakti” di dunia secara de facto yang memberikan dasar kekuatan suatu pemerintahan dapat berkuasa bertahun-tahun lamanya. Betul-betul surat super!

Mengingat momen dan peristiwa kelam yang muncul pasca kejadian itu, terutama  dari lini kebudayaan Indonesia banyak mengalami kekerasan kultural, film Trumbo menurut eike cocok menjadi cermin melihat Indonesia di masa-masa awal ia berdiri hingga sekarang.

Film ini berkisah tentang kehidupan seorang penulis skenario bernama Dalton Trumbo yang dicekal akibat paham politik komunis yang dianutnya. Di era tahun 1930an, banyak warga Amerika yang bergabung ke dalam Partai Komunis Amerika, terutama ketika menguatnya fasisme dan depresi besar yang dihadapi Amerika. Pasca bersekutu dengan Uni Soviet, selepas perang dingin, cuaca perpolitikan Amerika berubah drastis. Warga negara Amerika yang berhaluan komunis dilarang dan dianggap pro Uni Soviet. Termasuk Dalton Trumbo sebagai seorang komunis penulis, dikucilkan dari komunitas perfilman. Namanya masuk daftar hitam. Karya-karyanya dilarang tayang di seluruh bioskop Amerika, banyak rumah-rumah produksi enggan menggarap naskah-naskahnya. Ia bahkan diadili di depan Kongres Amerika, dan akhirnya di penjara.  Praktis setelah itu, Hollywood nyaris tidak pernah menyebut lagi namanya.

Tapi, Trumbo dengan keluarga yang diterpa pengucilan dan dikhianati sahabatnya tidak habis pikiran. Pasca keluar dari penjara, ia “melawan” kebijakan pemerintah Amerika dengan banyak menulis naskah film. Menggunakan banyak nama samaran dua kali filmnya memenangkan dua piala Oscar. Dunia perfilman gempar. Sampai akhirnya film Spartacus yang ditulisnya berani mencantumkan namanya. Melalui pidatonya, Trumbo membuka mata setiap orang:  pembungkaman adalah masa kegelapan yang hanya meninggalkan luka dan kehancuran.

Sejak menyadari inti film ini, eike mengingat dua nama: Indonesia dan Wijaya Herlambang. Melalui nama yang pertama, eike menyadari tidak ada perbedaan strategi kekuasaan diambil pemerintah Amerika di dalam mengekslusi dan mengarantina komunisme seperti yang pernah dialami Indonesia. Melalu dunia perfilman, secara kebudayaan, imajinasi masyarakat Indonesia dibentuk berdasarkan tafsir sejarah yang dikehendaki kekuasaan rezim orde baru.

Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film adalah hasil riset yang ditulis nama yang kedua. Ingatan eike kepada Wijaya Herlambang dengan kata lain melalui bukunya telah memberikan perangkat teoritis tentang apa yang terjadi selama tiga dekade di medan kebudayaan Indonesia.

Yang menarik dari buku Wijaya Herlambang adalah pendapatnya tentang tiada kekerasan fisik sebelum terjadi kekerasan budaya. Kekerasan fisik dalam hal ini hanyalah akibat dari kekerasan budaya yang menjadi dasar legitimnya. Dengan kata lain, ketika terjadi praktik-praktik kekerasan fisik, sudah sebelumnya mengalami kekerasan budaya yang bersifat epistemik dan paradigmatik.

Tesis ini lebih terang dikemukakan Herlambang melalui sejarah orba di Indonesia. Pertanyaan mendasar yang diajukan riset disertasinya ini adalah mengapa selama orde baru berkuasa, pengucilan, kekerasan, pembunuhan massal begitu massif dilakukan atas nama negara? Apa yang mendorong sehingga seolah-olah semua perbuatan itu nampak lazim dan tidak diiringi rasa bersalah sama sekali? Apakah ada perangkat-perangkat negara yang menjadi “kaki tangan” memberikan dasar pembenaran bagi segala kekerasan yang terjadi?

Film. Ya, melalui film-lah orba “mengedukasi” rakyat Indonesia. Sama persis seperti jalan cerita Trumbo. Pertama-tama, masyarakat diyakinkan sedang “berperang” dengan musuh negara yakni komunisme sebagai “setannya.” Kedua, dimulailah identifikasi orang-orang yang sudah kemasukan “setan” komunisme. Dan yang ketiga, penguasaan alat-alat siar negara dengan menyingkirkan karya-karya film penulis-penulis komunis. Satu-satunya yang membedakannya dengan Trumbo (Amerika),  di Indonesia sampai dibuat film tentang komunisme versi kekuasaan hingga menimbulkan aksi bunuh-bunuhan massal.

Dengan kata lain, kekerasan budaya yang terjadi di Amerika memiliki pola hampir sama dengan Indonesia, walaupun kedalaman dan skalanya jauh lebih besar terjadi di Indonesia.

Selain film, semasa orde baru, sastra juga menjadi alat legitim kekerasan budaya. Narasi anti komunisme tidak saja divisualisasikan melalui film, tapi juga dibantu sastra untuk mengimajinasikan kebudayaan Indonesia tanpa komunisme. Herlambang, bahkan sampai mengidentifikasi seniman, sastrawan-sastrawan dan lembaga-lembaga sastra yang berperan mengambil bagian dari skenario berujung penyingkiran sastra beraliran kiri.

Melalui narasi anti komunisme di lini sastra, memberikan efek signifikan bagi terbuka lebarnya panggung orde baru di dalam membentuk cara pandang kebudayaan masyarakat. Hilangnya wawasan komunisme sebagai narasi tanding, mau tidak mau memberikan ruang besar bagi kapitalisme bertungkus lumus di tanah pertiwi.

Baik dalam kisah Trumbo dan sejarah kebudayaan Indonesia, sama-sama dapat diafirmasi melalui analisis Louis Althusser, seorang filsuf marxis, tentang cara negara memanfaatkan perangkat-perangkat kenegaraan melangsungkan kekerasannya. Althusser membagi dua jenis aparatus yang ia sebut repressive state apparatus (RSA) dan ideological state apparatus (ISA) yang berfungsi menjadi model negara mengatur kesadaran warga negara.

RSA merupakan manifes negara yang melalukan kekerasan di ranah publik melalui aparat bersenjata, organisasi, penjara, atau birokrasi untuk menguasai masyarakat. Menurut perspektif marxian, RSA dapat bekerja akibat ISA yang lebih bersifat imajinari dan paradigmatik. Perbedaan di antara keduanya, ISA merupakan kekerasan yang berlaku di ranah privat melalui keluarga, agama, pendidikan, atau bahkan kebudayaan yang terjadi secara halus, simbolik, dan berulang.

Film, sastra, musik, bahkan logo dan simbol tertentu melalui analisis di atas merupakan alat negara yang berperan sampai ke ruang privat sebagai ideological state apparatus. Melalui perangkat-perangkat kebudayaan inilah negara memanipulasi kesadaran masyarakat. Jika di ruang privat kekerasan berlangsung halus, di ranah publik kekerasan malah berlangsung terang-terangan. Dua ranah ini bahkan saling bergantian menentukan yang mana lebih dominan sebagai dasar saat negara mendapatkan resistensi. Jika resistensi terjadi di ranah privat, maka RSA yang banyak berperan lama di ranah publik. Atau sebaliknya, jika resistensi banyak dialami di ranah publik, maka ISA lebih menentukan untuk meredam secara ideologis melalui ranah privat.

Di masa orde baru, dua aparatus dikerjakan sekaligus secara simultan. Dengan kata lain, kekerasan melalui intimidasi, penghilangan lapangan pekerjaan, karantina sosial hingga pembunuhan dapat terjadi akibat secara imajinari telah terjadi program cuci otak melalui lembaga-lembaga negara. Ini juga yang dapat menjelaskan mengapa dapat terjadi gerakan bersama secara massif dari warga negara sendiri untuk mengambil alih tindakan kekerasan tanpa mesti negara turun tangan langsung. Hal ini disebabkan karena secara paradigmatik, telah terjadi kekerasan yang dilakukan melalui ideological state aparratus yang dimiliki negara.

ISA dan RSA di dua ranah, baik privat maupun publik dari yang terjadi di Indonesia dengan kata lain menyebabkan kekerasan yang saling melegitim. Kekerasan di ranah publik (penggunaan aparat bersenjata, pembunuhan) melegitim pembungkaman di ranah privat (keluarga, sekolah), sebaliknya, kekerasan di ranah privat menyebabkan terjadinya pembungkaman di ranah publik (masyarakat, negara). Secara simultan di dua ranah inilah, warga negara banyak mengalami kekerasan baik kultural maupun struktural.

Trumbo, bagi eike, sedikit banyak menceritakan apa yang sudah terjadi di Indonesia dan yang telah diliterasikan Wijaya Herlambang. Walaupun ada perbedaan mendasar di antara keduanya dari sisi korban kekerasan. Di Indonesia dua jenis kekerasan berlangsung secara bersamaan, massif, dan terang-terangan didukung oleh negara. Bahkan kekerasan yang terjadi dianggap sebagai bagian dari perjuangan bela negara sehingga para pelakunya tidak merasa bersalah sama sekali.

Malangnya, kekerasan itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Anehnya, seiring dengan narasi anti komunisme (dan juga anti cina) yang belakangan dihidupkan kembali, muncul partai ber-KTP orde baru.

Sepanjang cerita, Dalton Trumbo bersama rekan-rekannya banyak melakukan upaya untuk memberikan dasar rasional atas pilihan politiknya, walaupun tetap saja dia kalah “suara” ketika sidang kongres berhadapan dengan negara. Sahabatnya yang lain akhirnya harus “membuka suara” sehingga dia dikhianati dan dipenjara. Kisah Trumbo adalah kisah gunung es, dia hanyalah satu di antara banyak orang yang mengalami kekerasan atas nama anti komunisme di Amerika.

Di Indonesia, tokoh itu bukan Trumbo, melainkan setiap warga negara yang diberlakukan semena-semena. Sampai hari ini, kekerasan yang dilakukan di dua ranah begitu terang dilakukan oleh negara. Malah, bukan saja negara, tanpa digerakkan banyak kelompok-kelompok yang otomatis melakukan tindak kekerasan akibat program cuci otak yang dilakukan orde baru. Walaupun sebenarnya kelompok-kelompok ini melawan prasangkanya sendiri.

Di akhir pidatonya Trumbo mengatakan: ketika Anda melihat kembali ke masa kegelapan, baik sekarang atau juga nanti, tidak ada gunanya mencari pahlawan atau musuh. Mereka tak ada. Yang ada hanyalah korban. Korban, masing-masing dari kita yang merasa terdorong mengatakan dan melakukan hal-hal yang sebaliknya tidak kita lakukan untuk memberi dan menerima kepedihan yang sesungguhnya tak ingin kita tukar…  Ya, Trumbo benar. Tidak ada gunanya mencari pahlawan atau juga musuh. Semuanya adalah korban.

 


sumber gambar: pinterest.com

Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang

Konon orang Rusia pelit tersenyum apalagi tertawa. Tertawa bagi orang-orang Rusia tidak diperuntukkan bagi sembarangan orang, apalagi bagi orang tidak dikenal. Bahkan ada penelitian dari seorang professor di Universitas Voronesh, orang-orang Eropa umumnya mengenal orang Rusia sebagai orang-orang yang pemurung, suka cemberut, dan mudah marah.

Berbeda dari masyarakat kita yang gampang tersenyum. Bahkan kita mudah menggumbar senyuman kepada orang yang masih asing. Ingatan bangsa kita mengenal orang yang paling mudah memberikan senyuman di saat kapan pun sudah tentu adalah Soeharto. Tidak tanggung-tanggung di saat memerintah dan menindas  pun ia masih bisa melakukannya

Itu tanda bahwa secara umum orang-orang Indonesia ramah-ramah, baik hati. Piye kabare, Gimana wuenak zamanku, to?

Melalui pendekatan psikologi, seorang scholar ilmu jiwa Pavel Ponomaryof mengemukakan sulitnya orang Rusia mengumbar senyum atau tertawa akibat latar belakang  sejarah mereka yang lama menghadapi agresi bangsa lain. Akibatnya, masyarakat Rusia memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang asing. Itulah sebabnya, tertawa atau tersenyum bagi bangsa Rusia mahal harganya. Dia tidak diperuntukkan bagi banyak orang.

Yang menarik, agak berbeda dari bangsa Rusia, bangsa Indonesia biarpun sudah mengalami banyak peristiwa sejarah kelam, masih suka melempar senyum dan tertawa sebagai tanda keakraban. Kurang afdol bagi masyarakat kita ketika pertama kali bertemu orang lain tanpa memberikan senyuman. Bahkan bagi pelaku kejahatan tingkat tinggi, koruptor misalnya, masih bisa tersenyum manis ketika di meja hijau.

Di Jepang, sulit menemukan seorang koruptor mengumbar senyuman setelah kedapatan melakukan kejahatan konstitusional. Di sini, saking ramahnya kita, sulit menemukan wajah menyesal bagi kasus yang sama seperti pejabat-pejabat publik di Jepang.

Memang sudah budaya kita ramah kepada orang lain. Kadang sikap itu diwujudkan melalui senyuman atau bahkan tertawa sebagai tanda saling menghormati.

Tapi walaupun tertawa merupakan hak seluruh manusia, bahkan disebutkan oleh seorang ahli jiwa merupakan bagian dari enam emosi dasar manusia, secara kultural setiap kebiasaan masyarakat nyatanya memiliki ekspresi yang berbeda-beda saat melakukannya. Bahkan ada bangsa-bangsa yang dikenal humoris akibat seringnya masyarakat mereka tertawa.

Kaum perempuan di masyarakar Barat misalnya, cenderung tertawa lepas tanpa segan menjadi sorotan banyak orang. Di ruang publik perempuan-perempuan Barat tertawa riang tanpa terbebani tabu-tabu masyarakat. Ini tentu berkaitan dengan  kemajuan bangsa Barat di dalam mengakomodir kebebasan individu di ruang publik.

Sedangkan di masyarakat Timur, perempuan masih kesusahan menyalurkan kebahagiaannya di depan umum. Tertawa riang bagi perempuan di keramaian sulit dilakukan akibat tradisi masyarakat yang masih kuat. Dikaitkan dengan budaya patriarki, tertawa lepas bagi perempuan masih dianggap tidak layak dilakukan.

Itulah sebabnya, bagi perempuan hanya untuk tertawa saja membutuhkan ruang khusus seperti di belakang dapur, di dalam kamar, atau perkumpulan di antara mereka agar dapat tertawa lepas. Bisa jadi, tindakan membicarakan orang melalui gosip yang umumnya dilakukan perempuan akibat dari domestifikasi yang mereka alami. Dengan kata lain, gosip yang seringkali diselingi tertawa lepas, bisa jadi imbas dari sempitnya ruang gerak mereka di masyarakat.

Dalam dunia seni peran, bahkan perempuan juga mengalami hal yang sama. Film-fim horor misalnya, adalah ilustrasi yang bisa mewakili bagaimana perempuan hanya bisa tertawa apabila ia telah mangkir dari kehidupannya. Dia hanya bisa tertawa pasca kehidupannya. Itulah sebabnya, hantu-hantu perempuan selalu identik dengan tertawanya yang khas melengking. Cara tertawa yang mengekspresikan kurang leluasanya ia di masa hidup, mungkin.

Terlepas dari rumitnya perempuan mengakses ruang publik untuk tertawa, dalam dunia humor tanah air, kita sering mendengar frasa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Warkop DKI adalah ikon yang mempopulerkan frasa ini melalui film-film yang mereka bintangi. Dilihat dari konteks frasa ini, Warkop DKI menjadikan humornya sebagai jangkar ingatan atas rezim otoriter yang memasung kebebasan berekspresi dan kebebasan  berpendapat. Tertawa sekalipun.

Hubungan tertawa dan kekuasaan kadang tidak seimbang, dan sering kali malah bertentangan. Literasi sufistik mengenal Nasruddin Khoja sebagai sosok bahlul yang pernah hidup dengan tingkah laku gilanya. Nasruddin Khoja sering ditempatkan sebagai antitesa dari rezim yang sering menjadi sasaran kritik leluconnya. Melalui kecerdikannya yang kerap mengundang tawa tersemat daya dorong yang memberikan suatu pengertian kritis mengenai situasi yang dialami .

Sosok yang kadang diasosiasikan dengan Abu Nawas ini juga muncul dalam kisah sastra klasik Seribu Satu Malam. Dikisahkan Abu Nawas cum penyair menggunakan lelucon menjadi orang gila untuk menolak wasiat ayahnya bekerja sebagai hakim di bawah pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid yang otoriter.

Di tanah air, melalui kisah pewayangan kita mengenal sosok Semar. Semar diriwayatkan adalah jelmaan dewa yang menyamar sebagai rakyat jelata dengan rupa jelek sekaligus bertubuh pendek dan gemuk. Sebagai orang biasa Semar memiliki perkataan dan tingkah laku di luar dari kebiasaan umum. Walaupun dia adalah rakyat jelata, di kisah Mahabrata maupun Ramayana, Semar sebenarnya adalah pengasuh dan penasehat para ksatria. Yang unik, ketika ia memberikan petuah kepada para ksatria, seluruh nasehat dikemasnya melalui bahasa humor.

Yang lebih dekat dari ingatan, kita mengenal juga Gus Dur sebagai sosok yang sering menggunakan guyonan untuk menyampaikan buah pikirannya. Seperti sosok Semar atau Abu Nawas dalam dunia tasawuf, Gus Dur menggunakan strategi bahasa melalui humor untuk memobilasi daya kritis masyarakat Indonesia. Walaupun sering kali bernada sarkastik, guyonan Gus Dur kadang membuat panas telinga orang-orang yang tidak mampu menangkapi inti pesannya.

Jika dalam kekuasaan tertawa malah dianggap perilaku yang menyebalkan, seperti yang diharapkan dari kisah-kisah Nasruddin Khoja atau Abu Nawas, tertawa justru adalah tanda sehatnya jiwa. Tentu tertawa di sini adalah jenis tertawa yang lahir dari lapang dan terbukanya jiwa. Dengan kata lain selain menangis, tertawa dalam hal ini menjadi mekanisme jiwa untuk merestart ulang keadaannya agar kembali ke keadaannya yang semula.

Di titik ini sebenarnya kita perlu memahami pentingnya tertawa. Menurut penelitian selain mampu menurunkan kalori, tertawa juga dapat menjaga sistem pikiran agar tidak mudah stres dan meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit. Apalagi, di masa sekarang, begitu banyak masalah yang bisa membuat orang mengalami stres berkepanjangan.

Syahdan, konon dalam dunia tasawuf, orang-orang yang sering kali banyak guyon, atau mudah tertawa adalah tanda-tanda dari tingginya makam spriritualnya. Di sini kita bisa mengerti kenapa para sufi sering dikatakan gila akibat guyonannya yang mengundang tertawaan.

 


sumber gambar: www.adibriza.com