Semua tulisan dari Bahrul Amsal

Blogger yang nyambi jadi dosen partikelir

Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang

Konon orang Rusia pelit tersenyum apalagi tertawa. Tertawa bagi orang-orang Rusia tidak diperuntukkan bagi sembarangan orang, apalagi bagi orang tidak dikenal. Bahkan ada penelitian dari seorang professor di Universitas Voronesh, orang-orang Eropa umumnya mengenal orang Rusia sebagai orang-orang yang pemurung, suka cemberut, dan mudah marah.

Berbeda dari masyarakat kita yang gampang tersenyum. Bahkan kita mudah menggumbar senyuman kepada orang yang masih asing. Ingatan bangsa kita mengenal orang yang paling mudah memberikan senyuman di saat kapan pun sudah tentu adalah Soeharto. Tidak tanggung-tanggung di saat memerintah dan menindas  pun ia masih bisa melakukannya read more

Alwy Rachman: Membaca sama dengan Mendengarkan

Eike belakangan ini berusaha merenung-renungkan perkataan seorang budayawan sekaligus sosok penting bagi keberlangsungan pelbagai komunitas Literasi di Makassar, Alwy Rachman, pasca launcing dan diskusi buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf tempo waktu di Dialektika Cafe. Saat itu Alwy Rachman mengatakan membaca adalah mendengarkan, suatu pengertian yang tidak biasa bagi eike. Bagaimana mungkin, membaca yang identik menggunakan indera penglihatan harus diartikan sama dengan mendengarkan, aktifitas yang lebih banyak melibatkan telinga. Kata yang secara literer di pengertian Alwy Rachman, seketika sepadan dengan bunyi. read more

5 Lagu Mahasiswa-Perjuangan yang Tidak Lagi Akrab di Telinga Generasi Mahasiswa Zaman Now

Tidak bisa dimungkiri, karakter, kecenderungan, dan cara pandang mahasiswa era kiwari jauh berbeda dari dua generasi sebelumnya. Perbedaan ini sangat terasa dari perubahan kehidupan kultural yang mereka lakonkan.

Terutama generasi Z, cara mereka menjalani hidup jauh lebih variatif dan unik. Seperti hasil riset dari Tirto.id, jika ditilik, dari segi fesyen, mahasiswa-generasi Z lebih menyukai membeli produk di mal-mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang dirasa lebih mewakili selera berbusana mereka. Sehari generasi ini bisa menghabiskan tiga sampai lima jam mengakses internet melalui gawai canggih mereka. Jika hendak memenuhi hajat perut, generasi Z gampag ditemui di tempat makan siap saji semisal KFC, Pizza Hut, atau pun McD. read more

Gara-Gara Foucault

Eike kira kekuasaan tidak serta merta hanya berurusan dengan negara sebagai institusi koersif yang selama ini sering dianggap sebagai satu-satunya sumber. Atau bahkan kekuasaan adalah legitimasi yang dimiliki negara secara “ekslusif” untuk menundukkan warganya kepada suatu kepatuhan tertentu. Kekuasaan, seperti yang dikatakan Michel Foucault –seorang sosiolog cum filsuf pasca strukturalis– hanya dapat diandaikan dalam hubungan relasional. Artinya, setiap ada relasi, maka di situ ada kekuasaan. read more

Dua Literasi Sang Aku

Ego atau diri dalam khazanah teori sosiologi adalah konsep yang mendua. Tidak sebagaimana dalam ilmu psikologi, diri dalam teori-teori sosiologi tidaklah berparas tunggal. Diri, atau ego, melalui teori-teori sosiologi, adalah serangkaian perubahan yang ditentukan dan dipengaruhi oleh hubungan-hubungan kongkrit masyarakat sebagai fondasi kenyataannya.

Diri yang berparas jamak, dengan begitu adalah gambar yang licin, dan bahkan mudah menipu. Erving Goffman, seorang sosiolog Amerika, mendakukannya melalui dramaturgi. read more

Sang Ego di antara Kisah Qurban Ibrahim-Ismail

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. (Surah Maryam: 54)

Ismail pasrah, barangkali tercengang kaget. Di tempat yang bernama Jabal Qurban itu, dia yang sudah menggeletakkan diri, berakhir dengan leher hewan gembala yang menganga. Sementara pedang Ibrahim, ayahnya, urung memenggal leher buah hatinya. Ibrahim mungkin tersentak. Tapi, mimpi yang pernah mendatanginya itu berubah di akhir peristiwa yang mencengangkan.

Memang tak ada mukjizat di hari itu. Tapi itu adalah momentum bersejarah. Suatu peristiwa yang berkisah tentang jiwa yang sabar. Jiwa yang rela bersetia. read more

Perempuan Kedua dan Puisi Lainnya

Setelah Merdeka

Sekarang betapa mudah mengangkat bendera merah putih itu. Menanamnya di perut bumi. Dengan tiang-tiang bambu.

Kadang dibuat melintang di atas genteng, menjalari seperti ular naga yang melintas bolak-balik, di tiup angin. Begoyang-goyang seperti suara daun bambu

Merah putih berkibar berkelabat di setiap benak pandunya

Melayang layang di bumi Indonesia. Dengan susah payah

kemarin badan koyak, mengucur-ngucur keringat. Apalagi darah

semburat warna bendera. Betapa berat sungguh

Sampai sekarang, tubuh masih kesakitan mengingat read more

Menghayati Bunyi

Ada yang ganjil ketika semalam saya mulai memejamkan mata. Setelah membuka-buka artikel via dunia maya, saya lekas ke pembaringan. Segera lampu  dipadamkan. Sebelumnya, saya menengok jam tangan yang tergeletak di dekat kipas angin yang berputar: sudah hampir pukul 12 malam. Lekas saya hamparkan badan di atas kasur. Istri saya sudah lebih duluan rebahan.Waktunya untuk tidur.

Tidak lama berselang, terdengar bunyi-bunyian di atas kepala saya. Tripleks plafon di atas kepala seperti digosok-gosok sesuatu. Seperti ada yang berjalan di atas plafon kamar. read more

Chester Bennington dan Beberapa Masalah di Sekitar Kita

Bila mereka berkata
Siapa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?
Di langit sejuta bintang
Berkedip, berkedip
Siapa yang peduli kapan waktu seseorang habis?
Bila sesaat itulah kita
Kita lebih cepat, lebih cepat
Siapa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?*

Dia mati. Kamis, 20 Juli lalu. Tewas di rumah pribadinya, di Palos Verdes Estates Los Angeles. Tak lama setelah itu beritanya viral. Banyak penggemarnya dibuat mendung matanya. Siapa menduga dia mati dengan cara yang tragis: gantung diri. read more

Narasi Nirwan Ahmad Arsuka

Bagaimana mungkin dunia pada hakikatnya adalah narasi?

Tapi, begitulah yang dibilangkan Nirwan Arsuka di suatu diskusi menjelang ramadan di Cafe Dialektika yang digelar Paradigma Institute Makassar. Dunia jika dikuak intinya, tiada lain adalah narasi.  Segala sistem pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, dibangun di atas sebuah narasi. Melalui “lidah” manusia, alam semesta mewujudkan dirinya melalui kisah.

Atau dengan kata lain, sepanjang manusia menciptakan narasi tentang hidupnya, maka sebenaranya itu adalah cara alam semesta mengungkapkan dirinya di hadapan manusia. read more