Semua tulisan dari Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Kelabu Kesayangan Ibu

Kelabu sangat penyendiri dan kesepian. Ia seperti sesuatu yang lain dari segalanya di rumah ini. Tetapi Ibu menyayanginya, amat sangat. Ia punya kamar sendiri dan tempat makan sendiri-makannya selalu teratur. Tidak pernah terlambat walau sedetik.

Aneh. Dengan seluruh keistimewaan yang diberikan Ibu padanya, Kelabu justru terkesan tidak begitu mengacuhkan. Ia meninggalkan makanannya di tempat khusus itu, lantas memilih mencari di dapur atau mengorek sisa makanan di meja makan kami. Ia makan sendirian, tanpa suara, tanpa ambil pusing dengan keributan dari ruang sebelah  tempat Ibu meletakkan makanan khusus untuknya.

Kelabu juga selalu bermain sendiri. Kegemarannya adalah berkeliling di halaman rumah, mengamati apa saja. Tumpukan batu yang diam, pot bunga warna-warni milik Ibu, atau sekedar berjalan-jalan di atas rumput sambil memandangi kakinya yang tidak pernah beralas. Kalau sedang hujan, ia akan duduk diam di kursi teras. Mengamati hujan lamat-lamat, matanya seolah dapat menyibak bilah-bilah hujan. Kelabu akan terus seperti itu hingga hujan reda.

Aku menyayangi Kelabu-walaupun tidak sesayang Ibu. Aku senang memperhatikannya diam-diam sembari menebak-nebak gerangan apa yang sedang terlintas di kepala kecilnya. Mengamati Kelabu sibuk sendiri, seperti melihat seseorang yang sedang mencari bagian yang hilang dalam dirinya.

Namun, sayangku berangsur-angsur berubah seiring kelabu tumbuh semakin besar. Dia menjadi kurang ajar. Seenaknya saja memasuki daerah pribadi kami tanpa permisi, mengotori lantai dengan bekas-bekas lumpur yang menempel di kakinya. Kami semua anak-anak Ibu mengeluh, tapi Ibu malah makin sayang padanya.

Saban kali kakinya hendak melewati pintu, aku dan saudara-saudaraku sigap mengusirnya. Kami membentaknya agar segera keluar dan kembali ke tempatnya sendiri. Aku tidak mau jejak kakinya mengotori lantai. Lalu Ibu selalu datang bak malaikat bagi Kelabu. Dibujuknya Kelabu pelan-pelan, dan diantarkannya Ia ke tempatnya.

Semakin hari Ibu semakin protektif pada kelabu. Tidak boleh ada yang menyentuhnya kecuali Ibu. Bapak pun tidak, sebab tangan Bapak adalah api yang memusnahkan segala yang hidup. Sedang Ibu adalah Bumi tempat tumbuh segala yang hidup.

Aku masih senang memperhatikan Kelabu diam-diam. Tidak tahulah, aku selalu penasaran dengan isi kepalanya. Bagaimana ia memandang kami anak-anak Ibu? Seperti apa Bapak baginya? Atau apa yang ada di benaknya mengenai Ibu?

Kelabu adalah segala sesuatu yang tidak pernah terucap dalam keluarga kami. Dia mengakrabi sunyi, diam adalah napasnya, dan kesendirian adalah jejak kakinya. Dia adalah Kelabu, anak ayam kesayangan Ibu yang beliau pelihara sejak masih dalam telur dan tidak pernah tahu siapa Bapaknya.

 

sumber gambar: junkhost.com

Jendela dan Puisi-Puisi Lainnya

Jendela

Saban pagi aku membukanya
Menyingkap tirainya beserta doa-doa
Angin baik, hujan dan kicau burung
dan embun sisa semalam pada kisi-kisinya

Saban pagi aku selalu membukanya
Suatu saat di bilangan pagi yang entah keberapa
Wajahmu muncul di balik tirai
beserta doaa-doaa..

Makassar, Juli 2017

 

Katamu, tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata

 

Seperti malam pada gulita
Dan api pada nyala
Sunyi kita berbicara
Semesta menciut sebatas pelukan

Seperti malam pada gulita
Katamu tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata
Tapi aku adalah mata
yang mencari petanda

Seperti api pada nyala
Tidakkah kau tahu?
Benda bermula dari kata
Kata menjadi kerja
Dan kerja adalah sikap

Seperti api pada nyala
Sunyi kita berbicara
Tapi aku tidak mau selamanya
menatap matamu
Menebak-nebak isi kepalamu

Makassar, Juli 2017

 

Pintu

 

Aku memikirkan sebuah pintu
dengan gagang gading yang berkelotak
saban memikirkanmu
Dan terbuka membawaku padamu setiap kali aku rindu

Makassar, September 2017

Nona Biskuit dan Kebahagiaan Abadi

Sepotong biskuit cokelat berbentuk persegi tipis dengan taburan kristal gula di sekujur tubuhnya lahir begitu saja di suatu petang yang ganjil. Tanpa Bapak, tanpa Ibu. Lantas begitu saja terhidang di atas meja, duduk manis dalam plat porselen yang indah.

Joy, Nona Biskuit bertabur gula itu adalah biskuit pengembara. Ia bertualang ke seluruh negeri, mengikuti berbagai sayembara, ikut serta dalam kerja bakti, dan berkhidmat menjadi warga negara yang baik. Setiap gula di tubuhnya adalah piagam penghargaan dari seluruh sayembara yang ia serta, maupun dari orang-orang yang sempat ia bantu. Joy adalah biskuit paling berbahagia di kota itu. Seluruh kebahagiaan ditaburkan ke seluruh tubuhnya.

Namun petang ini lain, terasa ganjil bagi Nona Manis itu. Baru saja ia mengobrol dengan matahari yang nyaris terbenam. Bagaimanakah caranya agar ia bisa mendapatkan gula kebahagiaan darinya?

‘Wahai Nona Biskuit bertabur gula, akan kau apakan seluruh kebahagiaan yang melekat di seluruh tubuhmu?” Matahari bertanya.

Aku ingin lebih bahagia.

“Gula kebahagiaanku punya batas waktu, Nona. Pagi hari mungkin kau merasa seperti biskuit paling bahagia di dunia. Tapi menjelang petang kebahagiaan itu diangkat dari tubuhmu tanpa sisa. Tidak mengapa, aku akan memberitahumu di mana kau bisa mendapatkan kebahagiaan abadi.”

Joy penasaran, ia sangat penasaran.

“Pergilah ke kota minuman. Carilah seseorang yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan. Ikuti dia, kemanapaun dia pergi.”

Jingga adalah warna terakhir yang disaksikan Joy dari matahari. Malam itu juga Joy berangkat ke kota yang dimaksud. Melewati beberapa bukit dan hutan berpohon jarang. Sampai di sebuah ladang, terlihatlah gerbang kota minuman. Dari jauh kota itu bercahaya, seluruh gerbangnya dipenuhi lampu-lampu aneka warna.

Kota minuman mirip pasar malam. Ramai sekali. Sepanjang jalan utama berjejer toko-toko minuman, ada jus, anggur, sirup, minuman herbal. Ah.. Joy mendadak merasa haus.

Joy memasuki salah satu toko jus. Memesan segelas jus mangga. Ia begitu haus setelah berjalan jauh.

Setelah menandaskan jus mangganya, Joy lantas ingat tujuannya kemari. Mencari minuman yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan.

“Oh.. pergilah ke toko minuman herbal, nyaris semua minuman di sana pahit bukan main.” Sahut pemilik toko.

Joy berangkat ke toko yang dimaksud, di sana ia menemukan bau wangi rempah yang legit dan eksotik. Bertanya pada pemilik toko. Adakah minuman yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan?

Si pemilik toko bingung.

***

Joy lesu, gula di seluruh tubuhnya meredup satu-satu. Tanda kebahagiaan sedang diangkat demi sedikit darinya. Aduh! Minuman seperti apakah yang dimaksud Matahari. Keluhnya.

“Malam begini dingin, tidakkah tubuh tipismu akan membeku, Nona Biskuit?” Sebuah sapaan. Seseorang sedang mendekat ke kursi taman yang Joy duduki.

Tidak ada siapa-siapa, mata Joy nanar mencari-cari. Bangku tempatnya duduk demikian terang, lampu taman sebesar bola bersinar. Tapi Joy tidak melihat asal suara barusan.

“Oh.. aku memang sulit terlihat, apalagi di gelap malam. Tubuh hitamku yang malang..” Keluh suara itu pilu.

Joy bertanya ragu-ragu.

“Aku Robi, minuman paling pahit di kota ini. Dan seolah kepahitan itu belum cukup, tubuhku juga hitam bagai jelaga. Aku minuman paling tidak diminati di kota ini.” Sahut Tuan Kopi mengenalkan diri, sambil tidak lupa mengeluh.

Joy terhenyak. Tuan inikah yang dimaksud oleh Matahari? Seseorang yang seluruh hidupnya dilumuri kepahitan.

Apakah seluruh hidupmu dilumuri kepahitan?

“Tidak ada yang lebih pahit daripada hidupku, aku lahir dengan seluruh kepahitan yang ada. Mungkin juga akan mati dengan cara yang sama. Ngomong-ngomong siapa kau, Nona Biskuit? Kau punya banyak sekali gula kebahagiaan di seluruh tubuhmu.”

Aku Joy, Tuan Kopi. Dan kaulah yang kucari untuk mendapatkan gula kebahagiaan abadi.

Tuan Kopi heran. Di malam yang ganjil itu pertama kali ada seseorang yang mengatakan hal seindah itu tentang dirinya. Nona biskuit yang seluruh tubuhnya dipenuhi kebahagiaan, malah mencari kebahagiaan abadi pada seseorang yang dilumuri kepahitan macam dirinya. Wahai.. tidak cukupkah kebahagiaan yang diberikan padanya?

“Aku tidak memiliki satu pun gula kebahagiaan.”

Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi. Sekujur tubuh Joy kembali bersinar.

Sepanjang hidupnya Robi hanya menginginkan satu hal. Menemukan seseorang yang bersedia meminumnya tanpa mengernyitkan dahi, menghidunya dengan penuh perasaan tanpa memiliki niat memuntahkannya ke tanah.

“Maukah kau menemaniku menemukan seseorang itu?”

Joy mengangguk tanpa pikir panjang.

***

Sepotong biskuit cokelat bertabur gula terhidang di meja, di atas plat porselen yang indah. Di sampingnya tersaji dengan sederhana secangkir kopi hitam pekat yang mengepul.

Seorang lelaki datang dengan tempias hujan di rambutnya, kuyup di bahunya. Memeluk cangkir Tuan Kopi. Menghidunya dengan khidmat dan meminumnya dengan penuh rasa terimakasih. Dan sepotong biskuit coklat bertabur gula dicelup ke dalamnya.

Di luar hujan sedang turun.

 

Makassar, 04 Agustus 2017

*Sepotong biskuit dan

cerita tentang kamu..

Cara Terbaik Mencintai

Helai-helai malam dianyam oleh sepasang tangan seputih pualam milik seorang perempuan. Ia duduk tekun di atas anyaman bambu yang hampir selesai, sesekali tangannya yang kanan membenturkan batang besi pipih untuk merapatkan anyaman. Sinar lampu minyak tanah bercahaya, membuat wajah perempuan itu bersinar bagai purnama.

Adalah Nur, yang sejak kepergian suaminya beberapa jam lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa malam menanti sang suami pulang dengan menyelesaikan anyaman gamacca (anyaman yang terbuat dari serat bambu, biasa dibuat dinding) yang telah dimulai suaminya. Nyaris saban malam Nur menghabiskan waktunya menekuri anyaman demi anyaman sembari menunggu sang suami, sedang suaminya sendiri baru pulang lewat tengah malam dengan bau tuak menyeruak dari seluruh tubuh, dan mulut yang sudah tidak jelas lagi menggumamkan apa.

Suaminya Karna memang pemabuk kelas berat seantero dusun. Bergelas-gelas tuak bisa ia habiskan dalam semalam, membuat kawan-kawannya menyerah kalah dan bersorak untuk kemenangannya.

Berkali-kali saudara perempuan dan sepupu-sepupu Nur menganjurkan agar ia berpisah saja dengan suaminya. Tapi Nur hanya tersenyum, lantas bilang bahwa suaminya minum tuak dan mabuk-mabukan hanya untuk bergaul dengan kawan-kawannya. Lagipula sang suami tidak pernah berkata kasar apalagi memukul. Hari itu mekar dalam hatinya yang bening, kelak suaminya akan berubah menjadi semakin baik. Bersama dengan itu makin mekar pula cintanya pada Karna.

Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya tiba juga kabar bahagia yang dinantikan keduanya. Nur hamil anak pertama mereka. Maka dimulailah episode bahagia dalam keluarga kecil itu. Karna berlipat-lipat perhatiannya. Tidak pernah ia membiarkan Nur bekerja terlalu banyak. Mencuci pakaian dan mengangkat air menjadi tanggungjawabnya setelah pulang dari sawah. Karna juga tidak pernah keluar malam lagi dengan kawan sepeminumannya.

Malam-malam mereka lewati saling bercengkerama, merencanakan hal-hal sederhana namun indah bagi mereka berdua dan Si Kecil yang sedang tumbuh dalam perut Nur. Di luar para jangkrik berebutan mengaminkan, sedang langit dan bintang-bintang berkelipan mencatat kenangan manis mereka berdua.

Kadang mereka juga menganyam gamacca bersama, merampungkan sudut-sudut bagian masing-masing. Berdua mereka mengerjakannya dalam diam, hanya suara besi pipih beradu dengan helai-helai serat bambu terdengar sekali dua kali. Di atas sinar lampu minyak makin purnamalah wajah Nur, dan Karna adalah bintang-bintang yang sedang jatuh cinta.

Malam itu ingin Nur bertanya, apakah Karna telah menyiapkan sebuah nama yang bagus bagi si bayi kelak. Namun segera ia urung, Nur ingat pesan Mamaknya, pamali memberikan nama bagi jabang bayi sebelum ia lahir ke dunia.

***

Angka pada lembaran almanak berganti. Lahirlah Si Bayi mungil dengan kulit merah berseri. Karna segera menggendong anaknya disertai rasa gugup, ia gembira sekaligus takut dekapannya membuat Si Bayi kesakitan. Karna melantunkan azan di telinga putrinya dengan khidmat. Membuat Karna merasa sebagai laki-laki paling terberkati di dunia.

Nur tersenyum di atas ranjang rumah bersalin. Masih sakit seluruh tubuhnya, masih serasa remuk tulang-tulangnya. Namun menyaksikan kedua belahan jiwanya berdekapan, sungguh tiada artinya seluruh penderitaan itu. Nur merasa sebagai perempuan paling terberkati di dunia.

“Siapakah namanya?’ Buncah juga pertanyaan yang ditahan-tahannya berbulan-bulan.

“Purnama. Lihatlah! Wajahnya bundar dan bersinar seperti purnama penuh.” Sahut Karna bangga.

Sejak saat itu Purnama menjadi sinar kebahagiaan bagi kedua orangtuanya. Setiap hari ia tumbuh, bergerak dengan lincah, berlari-lari kecil, bertanya apa saja yang ia temukan. Purnama telah tumbuh menjadi gadis cilik yang menggemaskan.

Karna juga semakin hari semakin bahagia dan semangat bekerja. Hingga suatu waktu kawannya pulang dari rantau. Ia dan kawan-kawannya di dusun menyiapkan acara penyambutan kecil-kecilan, acara minum tuak bersama-sama. Katanya kawan yang baru pulang itu rindu minum tuak dari kampung mereka.

Mulailah sejak saat itu kebiasaan Karna pulang malam kambuh lagi. Meninggalkan Nur menganyam sendirian dan si kecil Purnama yang pulas tanpa tepukan lembut dari Bapaknya.

Nur masih diam di awal-awal, tetapi ia tidak bisa terus diam ketika Purnama selalu bertanya kemana perginya sang Bapak saban malam. Si Kecil yang mulai beranjak enam tahun itu mulai curiga pada Bapaknaya, apalagi ia sering mendengar sepupu-sepupu Mamaknya bilang tentang mendengar Karna agar tidak terlalu banyak minum, tentang Mamaknya yang sudah punya anak, atau tentang Karna yang mulai sering membentak dan berteriak kasar pada Nur.

“Lebih baik kau ancam saja dia dengan perpisahan.” Salah satu sepupu Nur memberi saran. Bertiga. Nur dan kedua sepupunya sedang berbincang di bale-bale depan rumah, di bawah rimbun pohon bambu. Si Kecil Purnama sedang bermain rumah-rumahan.

Nur diam, tidak setuju. “Suatu saat Karna pasti akan berubah. Kalau tidak demi aku, boleh jadi demi Purnama.” Tegas Nur sore itu.

***

Bulan-bulan berlalu begitu cepat. Almanak berganti tanpa disadari, Purnama tumbuh semakin jelita. Kini gadis cilik itu duduk di bangku taman kanak-kanak. Bila sore menjelang ia mengaji di kolong rumah Pak Imam bersama kawan-kawannya. Sementara Karna semakin kuat minum, tidak hanya pada malam hari. Tetapi juga siang hari, selepas duhur dia sudah menghabiskan empat gelas tuak di rumah tetangga.

Nur resah, tertekan batinnya. Ia kehabisan cara menasihati sang suami. Percuma menasihati saat Karna pulang di waktu malam. Orang mabuk tidak bisa mendengar penjelasan. Malah Nur dibentak bila bersuara. Menegur di siang hari juga tak patut ia lakukan. Nur tidak ingin Purnama melihat kedua orangtuanya bertengkar. Ia semakin kurus memikirkannya.

Suatu hari Nur berkunjung ke rumah Mamaknya. Tidak ada maksud lain. Nur hanya ingin meminta nasihat.
Maka mengeluhlah Nur mengenai kesusahannya, bahwa dia kehabisan cara menghadapi sang suami.

“Nur, masihkah kau mencintai Karna?” Mamak Nur bertanya sungguh-sungguh.

“Kalau begitu, cara terbaik mencintai suamimu adalah tetap berada di sampingnya. Jangan berkurang perhatianmu padanya, jangan patah kepatuhanmu padanya kecuali bila Karna menyuruhmu berbuat dosa, jangan benci pada suamimu walau sebesar biji sawi. Kelak Gusti Allah akan mendengar doa-doamu. Kita tidak akan pernah mengira dari mana datangnya pertolongan itu. Maka bersabarlah Nur, sesungguhnya sabar adalah atap dari sebuah bangunan cinta.”

Didengarnya sungguh-sungguh nasihat sang Mamak, diresapinya dalam-dalam. Kelak sejak hari itu Nur tidak pernah lagi mengeluh. Semakin Karna membentaknya, makin telaten Nur mengurusnya. Ia yakin suatu saat Karna akan luluh.

***

Jumat adalah hari yang sempurna bagi Purnama. Anak itu sekarang naik tingkat ke jilid lima. Ia senang sekali, sebab itu berarti sisa satu jilid lagi ia taklukkan untuk bisa mendaras surah-surah pendek. Anak itu tidak sabar ingin segera pulang. Berita baik ini harus segera disampaikan pada Mamak dan Bapak.

Selepas majelis ditutup, Purnama segera bergegas pulang. Tidak dihiraukannya seruan Guntur yang menantangnya bermain kelereng. Anak itu berlari-lari kecil sepanjang jalan setapak menuju rumah saking girangnya.

Tiba di depan pintu rumah anak itu mengucap salam, membuka pintu, lantas melipir menuju dapur tempat Mamaknya berada setiap ia pulang mengaji.

“Mak, hari ini Purnama sudah jilid lima. Sebentar lagi sudah bisa baca jus’amma. Hebat kan?!” Serunya bersemangat.

Tidak ada yang bisa membuat seorang Ibu lebih bahagia selain melihat buah hatinya tumbuh dengan baik dan bangga atas kerja kerasnya sendiri, “Wah, hebat sekali anak Mamak.” Nur tersenyum dengan lebarnya.

“Bapak mana Bu? Purnama juga mau memberitahu Bapak,” lehernya menoleh ke setiap sudut rumah mencari sosok sang Bapak.

Nur gamang, tetapi ia tidak tega melihat semangat Purnama yang letup. “Tadi Bapakmu pamit ke rumah Kirana.”

Purnama segera meraih tas mengajinya lantas pamit tanpa mengganti baju. Ia tahu rumah Kirana. Teman sepengajiannya itu tinggal tidak jauh dari rumahnya.

Purnama tiba dengan napas tersengal dan mendapati Kirana sedang bermain di halama, “Bapakku ada di dalam, Rana?”

Kirana mengiyakan, lantas mengikuti langkah Purnama dari belakang.”

Ruang tamu rumah Kirana penuh. Karpet merah digelar di lantai dan orang-orang laki-laki duduk melingkar. Di tengah lingkaran terhidang berpiring-piring ikan bakar sebesar telapak tangan dan bergelas-gelas minuman berwarna putih pekat, mirip air tajin. Baunya kecut dan menyengat.

Purnama tahu itu minuman apa. Anak itu menajamkan mata mencari sang Bapak. Lihatlah Bapaknya, duduk diapit dua laki-laki kawannya sedang berseur panjang setelah menghabiskan segelas. Entah gelas yang keberapa.

Purnama tidak peduli, ia merangsek menuju Bapaknya duduk. Merengek, meminta perhatian.

“Pak. Pak hari ini Purnama sudah jilid lima. Sebentar lagi sudah bisa membaca jus’amma.” Karna hanya mengangguk-angguk antara sadar dan tidak, sementara Purnama terus memeluk lengan Bapaknya.

“Bapak, Purnama sudah jilid lima. Ayo kita pulang,” ajaknya lirih. Suara anak itu serak dan mengiba. Dua mata beningnya siap menganak sungai.

Wahai.. gadis kecil yang lugu itu. Ia kebingungan. Apakah gerangan yang membuat air matanya tumpah? Padahal sang Bapak begitu gembira tertawa-tawa di antara riuh kawan-kawannya.

Lalu kelabat baying Ibunya melintas dalam benak. Ibunya dengan wajah bersinar oleh pelita, Ibunya yang sedang tekun melengkapi anyaman demi anyaman serat bamboo hingga jauh malam sendirian. Alangkah elok wajah itu. Namun setegar apapun perempuan itu terlihat, matanya sungguh tidak dapat berdusta. Bahwa ada kesedihan panjang dan dalam mendekam di kedalaman hati. Bahwa ada harap yang tak putus-putus yang perempuan itu sendiri tidak tahu di mana ujungnya.

Karna, bagaimanapun bebalnya seorang peminum saat mabuk. Ia tetap tidak bisa menghindar dari tali kasih sayang antaranya dengan Purnama. Gadis kecil berkerudung hijau lembut itu anaknya. Anaknya yang tersayang. Yang mewakili wajah bundar milik istrinya.

“Bapak, ayo kita pulang.” Rengek Purnama dengan sisa-sisa suara.

Itu siang dengan pemandangan mengharukan si seluruh kampong. Seorang gadis kecil berwajah purnama, sisa-sisa tangis membekas di pipi, tangannya lekat pada lengan sang Bapak yang menggendongnya dalam keadaan setengah mabuk.

Purnama yang lain leleh di ambang jendela demi menyaksikan pemandangan mengharukan itu. Wahai, benarlah seluruh nasihat itu. Bersabar adalah cara terbaik untuk mencintai.
Makassar, Mei-Juni 2017

Memoriaphobia

Malam datang begitu lesat, umpama desing peluru yang tiba di sasaran sepersekian detik setelah pelatuk ditarik. Lail mengeluh, rupanya kali ini peluru macam itu menyasar jantungnya. Dua manik mata gadis itu cemas memandangi meja, di atasnya tergeletak secarik undangan yang diikat pada tangkai mawar putih mekar sempurna.

Sejak pagi Lail gelisah. Lebih tepatnya sejak Ben muncul di depan pintu rumahnya dan menyodorkan undangan berikat mawar itu. Hanya undangan makan malam perpisahan antara dua sahabat. Kata Ben sambil menyengir, tidak lupa mengingatkan betapa Lail harus datang apapun yang terjadi.

“Karena setelah ini kita akan jarang sekali bersama-sama.” Sahut Ben riang.

Keriangan Ben membuat Lail tersinggung. Lihatlah, Ben begitu bahagia dengan gagasan bahwa mereka akan jarang sekali bersama-sama setelah dia menikah.

Ben memang akan menikah tidak lama lagi, dengan seorang perempuan beruntung dari antah-berantah. Perempuan yang dengan kedatangannya secara tiba-tiba telah merenggut Ben darinya.

Dalam sekejap waktu-waktu luangnya bersama Ben dikuasai perempuan itu. Hilang sudah percakapan-percakapan gila dua sahabat di warung-warung kopi. Tidak ada lagi Lail dan Ben berdua menyasar bangunan-bangunan tua tersembunyi di sudut-sudut kota hanya untuk mengambil gambar. Kini Ben yang akan selalu pergi kemanapun bersama perempuan beruntung itu. Tanpa Lail.

Esok lusa Ben dan perempuan itu akan menikah, dan undangan makan malam perpisahan antara dua orang sahabat itu begitu mengecewakan hati Lail. Ben dengan cara yang resmi sekaligus terselubung hendak mengusirnya pergi jauh dari hidup mereka. Apalagi setelah Ben bilang undangan spesial itu hanya ada satu. Hanya untuk Lail seorang.

“Maaf Ben, kupikir aku tidak akan datang,” sahut Lail kecewa.

Ben terkejut, tidak menyangka reaksi Lail begini berbeda.

“Aku akan menikah Lail, apakah kamu tidak bahagia sebagai sahabatku?”

“Beginikah caramu bersahabat Ben? Ketika kamu bahagia, kamu malah menghadiahi sahabatmu dengan undangan perpisahan.”

Lail tidak kuasa menyaksikan wajah polos tanpa dosa Ben lagi. Setelah mengungkapkan kekecewannya, Lail berlari masuk kamar. Tidak keluar lagi hingga malam.

***

Apakah Lail cemburu?

Mungkin iya. Sebab Ben lebih duluan menemukan pendamping hidup, sebab Ben memilih perempuan dari antah-berantah yang membuat Ben mau mengucapkan selamat tinggal padanya.

Tapi mungkin juga tidak. Lail bukan tipe perempuan yang jatuh cinta pada sahabatnya. Ia mungkin hanya merasa kehilangan.

Bukan kehilangan Ben.

Tetapi kehilangan terhadap kenangan-kenangannya bersama Ben.

Lail telah banyak merasakan momen bernama perpisahan. Dan perpisahan selalu sanggup membuat dua orang menyesal pernah bertemu dan membangun kisah bersama-sama. Padahal apa susahnya membiarkan? Toh kita hidup di dunia yang serba dinamis. Semua orang bisa datang dan pergi kapanpun dia mau.

Lalu apa susahnya membiarkan Ben pergi, mengetuk pintu kebahagiannya bersama perempuan beruntung itu?

Di luar bulan sedang purnama. Sinarnya bulat sempurna menggantung di atas siluet daun-daun mangga di bingkai jendela. Ben baru saja mengirim pesan. Sahabatnya itu sudah menunggu dengan manis di restoran tempat pertama kali mereka makan malam. Di tepi pantai, di sebalik deru ombak, di bawah sinar bulan. Lail menyukai pantai dan kehadiran Ben malam itu.

Sebagian hati Lail tidak rela jika tempat yang menyimpan kenangan manis itu harus diingatnya juga sebagai tempat kali terakhir mereka bertemu. Lail ingin mengkristalkan tempat itu di dalam kenangannya yang indah-indah tentang Ben. Bukan tentang perpisahannya.

Ayolah Lail, bulan sedang bagus-bagusnya. Aku menunggu.

Itu pesan Ben yang kedua. Lail berusaha tidak peduli.

Wahai, beginikah dasyatnya kenangan? Makhluk tanpa wajah tapi sanggup menciptakan kepedihan tiada tara. Membalikkan peristiwa bahagia di masa lampau menjadi penyebab kesedihan panjang di waktu sekarang. Beginikah jahatnya kenangan? Tanpa ampun membuat Lail tidak bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya.

Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Membiarkan Ben menunggu untuk kecewa pada akhirnya. Atau merelakan sebagian kecil kenangan manis bersama Ben rusak demi membuat sahabatnya bahagia. Lalu Lail juga akan pergi setelah menjelaskan segalanya.

***

Di langit bulan makin tinggi, angin laut menjelang tengah malam tidak hanya membawa bau asin tetapi juga gigil yang menggigit. Ben nyaris putus asa. Atau kecewa lebih tepatnya. Lelaki itu belum juga mengerti, apa yang membuat seorang sahabat tidak bisa ikut bersimpati atas kebahagiannya?

Padahal Ben yakin tidak ada alasan bagi Lail menolak datang. Segala hal menyangkut makan malam kali ini adalah semua yang disukai Lail. Pantai, bulan, setangkai mawar putih, dan senyumnya.

Ya, Lail pernah bilang ia sangat menyukai senyum Ben.

“Heh, Tuan Kegeeran. Aku nggak pernah ya bilang suka senyum kamu.”

Ben takjub, malu sekaligus senang. Malu sebab ternyata tanpa sadar ia telah menyuarakan pikirannya dan Lail mendengar. Senang, sebab lihatlah Lail yang nyaris membuatnya putus asa menunggu akhirnya berdiri tepat di hadapannya dengan gaun coklat muda dan jepitan bunga yang manis.

“Tapi.. tapi kamu pernah bilang aku jauh lebih ganteng kalau senyum.” Sahut Ben tidak terima.

“Ia, tapi bukan berarti aku suka senyum kamu.” Lail membalas dengan sengit sambil menggeser kursi dan duduk seenaknya.

“Kamu lama banget Lail. Tadi itu satu menit lagi kamu nggak datang, aku pasti sudah pulang. Dan kita berdua selesai.”

Lail tersenyum getir, “di luar macet, Ben.”

Hati Lail kecut pada kata selesai yang disematkan Ben untuk mereka berdua. Begitu mudah menyelesaikan segalanya bagi Ben. Tapi biarlah, toh ini akan menjadi kali terakhir ia bertemu Ben, kali terakhir ia akan makan di tempat ini dengan bulan dan bau laut, dan.. senyum Ben.

Nanti setelah mereka berdua melangkahkan kaki keluar dari restoran maka tidak akan ada langkah untuk kembali masuk. Lail berjanji tidak akan membuat kenangan lagi

Sepatu dan Puisi-puisi Lainnya

Sepatu

Kamu punya berapa sepatu?

Dua..

yang kumal dipakai di dalam rumah

yang bagus dan baru dipakai ke tempat kerja

 

Kamu punya berapa pakaian?

Dua..

daster longgar dan murah dipakai di rumah

gaun indah dan mahal dipakai ke pesta

 

Kamu punya berapa wajah?

Dua..

yang polos tanpa bedak dipakai di rumah

yang putih dan bergincu tebal dipakai bertemu banyak orang

 

Kamu sebenarnya ada berapa?

 

Kamu ini yang mana?

yang bersepatu kumal, berdaster murah, dan polos tanpa bedakkah?

atau yang bersepatu bagus, bergaun mahal, dan bergincu?

 

Makassar, 27 Desember 2016

 

Tempat Sampah

Sampah itu sisa

Sampah itu kotor

Tempat sampah berarti

Tempatnya sisa-sisa dan kotoran

 

Kamar yang bersih, ada tempat sampahnya

Rumah yang bersih juga punya tempat sampah

Kota yang bersih, lha kok tempat sampah

ada dimana-mana?

 

di lampu merah,

di taman,

di trotoar,

di halte,

di atas bus

 

Setiap sudut bertebaran tempat sampah

Berhamburan sisa-sisa

Berserakan kotoran

Lha kok, katanya kota yang bersih

Gimana sih?!

 

Makassar, 27 Desember 2016

 

Istri-Istri Masa Depan

Kelak aku ingin beristri banyak

Sudah kusisihkan harta warisan

dengan maksud meminang Ricke yang pandai memasak

Juga Suci yang pandai mencuci

 

Aku telah bekerja keras

siang malam

Lembur tak kenal waktu

Demi melamar asni

yang pandai membuat hati merana jadi sejuk

 

Kukumpul-kumpulkan uang panai’

untuk mempersunting Si Kembar

Ema dan Rema yang cantik lagi pandai membuat sarapan

Tidak boleh ketinggalan Mina yang paling subur

diantara yang lain

 

Mari sini, kukenalkan istri-istri masa depanku

lengkap beserta nama keluarganya

Ricke Rice Cooker

Suci Mesin Cuci

Asni Air conditioner

Ema Coffe Maker

Rema Bread Maker

Dan Mina Inseminasi Buatan

 

Tenang kawan!

Mereka ini tidak akan rewel

Menuntut keadilan

 

Makassar, 27 Desember 2016

 

Malam yang lain..

Aku menggigil memikirkan

rencana-rencana

Aku tergugu bertanya

Menelusur selubung kenang

 

Aku menangis untuk

sebuah pisah yang belum

Di luar malam sedang gerimis

 

Makassar, 22 Desember 2016

 

Hujan. Daun-Daun Gugur. Dan Perempuan

Yang Sedang Melamun

Desember menyibak hijabnya dibalik hujan

yang datang di awal pagi

Angin semilir yang manis

dan tudung kelabu berumbai gerimis

Si parkit gelisah di depan jendela

Bernyanyi seperti patah hati

 

Masih di pagi yang sama

Jalan tiba-tiba berubah brutal sepagi ini,

diliputi ketergesa-gesaan

Angin berhembus dari sela zamani zaman

Luruh daun-daun akasia berbentuk bulan sabit sempurna

Bunga cempaka kuning, kecil-kecil

luruh dengan patuh di atas trotoar

Jalan-jalan seperti diselimuti permadani kuning

bertabur bunga-bunga

 

Di koridor

di sisi kolam ikan yang airnya gemericik

Gerimis mencumbui telapak daun-daun

Beberapa diantaranya luruh

dan seorang perempuan berbaju kuning

Sedang menikmatinya sambil melamun

 

Makassar, 08 desember 2016

Ilustrasi: http://www.deviantart.com/morelikethis/322120112

Okan dan Opi; Sepasang Katak yang Jatuh Cinta

November, hujan dan air adalah tiga hal yang paling kugemari. Pekerjaan paling kusukai adalah bernyanyi dan berlompatan di bawah rintik hujan. Seringkali kalau hujan sedang bagus-bagusnya, Mami Bertha˗Ibuku dan rekan-rekan sejawatnya membentuk kelompok bernyanyi.

Aku juga senang keluyuran bermain berkeliling rawa. Berenang bersama riak bundar bergelombang yang diciptakan hujan atau sembunyi di bawah daun talas satu ke daun talas yang lain. Kadang sampai lupa waktu, lupa jalan pulang. Sehingga di rawa aku dijuluki Okan yang sering tersesat.

Rawa kami dipenuhi daun-daun talas yang tumbuh tinggi dan lebar mirip payung, di sela-selanya muncul paku-pakuan, segala macam rumput, dan tanaman merambat. Kata Papa Bobi di luar kawasan rumah kami ada hamparan padang rumput dan ilalang yang luas, tempat para burung bermain dan bernyanyi saban pagi.

Suatu pagi aku iseng berjalan-jalan keluar kawasan rawa. Itu pagi yang indah. Matahari bersinar hangat, batang-batang cahayanya menerobos celah-celah daun talas, kicau kawanan burung terdengar ramai di kejauhan. Tapi aku bosan dengan suasana pagi yang begini-begini saja. Bosan mendengar hanya kicauan burung. Aku ingin melihat burung berkicau, terbang dalam kawanan lalu hinggap di suatu tempat.

Maka kuputuskan untuk berjalan-jalan keluar rawa, menuju padang rumput di mana burung-burung terbang dan hinggap di balik semak.

Sepanjang jalan aku berpapasan dengan banyak katak yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berenang sambil menggendong anak, ada yang bengong saja di bawah daun talas, juga ada yang sedang asyik bertelur. Semua menyapaku dengan sapaan seragam.

“Okan mau kemana? Jangan tersesat lagi ya..”

Aku hanya tersenyum menanggapi sapaan kawan-kawanku. Sudah terbiasa digoda demikian. Di rawa, kami hidup dengan damai, memakan nyamuk dan lalat serta serangga-serangga kecil, berlompatan sesuka-suka, atau bernyanyi sepanjang sisa hujan.

Langit masih cerah ketika aku muncul di balik semak batang talas yang lembab, terhampar di depanku bagai permadani rerumputan hijau yang pucuknya berkilau karena embun. Beberapa kupu-kupu putih terbang rendah di atasnya. Sekawanan burung pipit menukik hendak singgah. Manuver mengagumkan mereka berakhir di serumpun rumput alang-alang yang tingginya kira-kira dua meter.

***

Cuaca di padang rumput cepat sekali berubah. Segera batang-batang cahaya lenyap ditelan mendung, alam bergemuruh, satu batang cahaya lain tiba-tiba mendelik. Para burung dan kupu-kupu lenyap entah sembunyi di mana. Tak berapa lama satu titik air mendarat di bawah mataku. Bagai sebuah perintah bergerak melantunkan sepotong bait-bait hujan.

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

Aku ingin bernyanyi

Agar lebur semua kenangan dalam tari

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

Aku ingin menari

Agar lebur segenap kemarahan dalam hati

 

Gerimis menderas. Aku makin keasyikan menari. Kata Mami Bertha hujan adalah melodi alam paling murni, juga teman berdansa yang baik.

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

Aku ingin bernyanyi

Agar lebur semua kenangan dalam tari

 

Tarianku melambat. Itu nyanyian hujan paling merdu yang pernah kudengar. Lebih merdu dari nyanyian Mami Bertha. Berati ada katak lain di sekitar sini.

Aku menengok ke segala arah mencari sumber suara. Penasaran sekaligus senang. Bosan menengok, aku melompat semakin dekat ke arah suara merdu memabukkan itu.

Aku kemudian menemukan jalan setapak. Ini bukan jalan setapak biasa, yang batunya berserakan dan ketika turun hujan. Jalan setapak ini sungguh hebat. Hitam, mulus, dan genangan tipis air hujan di permukaannya memungkinkan aku bisa bercermin.

 

Hujan.. hujan kami

Turunlah dalam damai

 

Nyanyian merdu itu kembali terlantun, mengusik kegiatanku mengagumi jalan setapak hebat sekaligus mengagumi bayanganku di permukaannya.

Semakin lama berjalan, padang rumput semakin pendek, semakin hijau, dan semakin rapi. Seperti sengaja ditanam dan dipangkas setiap pekan.

 

Aku ingin menari

Agar lebur segenap kemarahan dalam hati

 

Di tengah padang rumput yang cantik, di hadapan sebuah rumah besar lagi megah. Menari di bawah hujan, seekor katak yang juwita. Tetes hujan mengalir lembut di sekujur tubuhnya yang hijau. Dan rupa-rupanya suara merdu itu berasal dari moncong merah mudanya.

Aku terpana, ini keindahan kedua yang kutemui sepanjang perjalanan. Sekaligus yang paling indah.

***

“Aku Okan. Nyanyianmu merdu sekali.” Sahutku memperkenalkan diri.

“Aku Opi. Terimakasih.” Moncong merah mudanya mengembang, membentuk sepotong senyum.

Aku bersorak dalam hati, mencocokkan nama kami berdua, “Apa kamu tinggal di sekitar sini?”

“Ya, aku tinggal di halaman rumput milik keluarga Oscar. Tapi sayang sekali, mereka tidak menyukai katak. Berkali-kali aku diusir dengan sapu setiap kali mendekati teras.” Keluh Oki, “kamu sendiri tinggal di mana?”

Maka berceritalahaku tentang rawa yang ramai, tempat keluargaku tinggal. Tempat tawa dan senda gurau beradu, tempat nyanyian hujan berpadu.

“Indah sekali.. apakah perjalanan menuju rumahmu berbahaya?” Oki mengerjapkan mata bundarnya ingin tahu. Dia gagal menyembunyikan ketertarikannya.

“Tidak juga. Bahkan jalan menuju ke tempat ini dipenuhi pemandangan menakjubkan.”

Tanpa pikir panjang Oki memohon untuk ikut.

Ini hari yang panjang dan berakhir manis. Juga perjalanan penuh kenangan dan tidak akan pernah aku lupa sampai aku pikun.

***

Kira-kira dua kilometer dari halaman rumah keluarga Oscar, padang ilalang tempat burung-burung hinggap telah siaga seekor biawak lapar yang tengah mengintai mangsa.

 

Makassar, 21 November 2016

Pejuang Pangan dan Puisi-puisi Lainnya

Pejuang Pangan

Siapa paling pantas digelari pahlawan di negeriku

Bukan para tentara penyandang senjata

Bukan pula polisi penyandang lencana

Pahlawan itu adalah dia..

Yang memanggang punggungnya

Untuk menyuapi mulut rewel majikan kota

Untuk menyediakan makanan bagi perut lapar

Anakanak bangsa

Walau perut sendiri nelangsa

Sebab tiga bulan tak pernah cukup makan

 

Pahlawan itu adalah dia..

Yang bercaping di tengah sawah

Saban hari bergumul dengan tanah

Membelaibelai bulir padinya sambil berdoa

Semoga tikustikus berhenti menggerogoti padinya

Sebab bila demikian, anakanak tak dapat makan

Masa depan bangsa bakal terancam

Alihalih tentara sempat berangkat perang

Memanggul senjata saja sudah kepayahan

Alihalih polisi sempat angkat senjata

Memanggul lencana saja sudah keberatan

 

Siapa paling pantas digelari pahlawan di negeriku ?

Adalah dia!

Para pejuang pangan.

[Di Beranda Rumah, 01 November 2014]

 

Indonesia, Lautmu Kini

Rindu,

Ingin kusalami pasir kelabumu

Yang saban pagi kugali untuk menghangatkan kaki

 

Rindu,

Ingin kusaksikan jingga memeluk

Menelikung setiap sudut pandang dengan kemegahan

 

Rindu,

Ingin kusapa wajah-wajah hitam berkilat

Bersimbah peluh, terpapar terik

Dari jauh nampak serupa kilau

 

Dulu,

Saban sore, ketika bulat mentari tinggal setengah

Para nelayan sudah kembali dari pelayaran

Masih kusaksikan jingga merajai langit barat

Masih kudengar gumaman syukur atas tangkapan hari ini

 

Kini,

Di negeri rantau, jauh dari pangkuan Ibu

Kudengar Kau membeli garam dari tetangga

Ada apa?

Sudah tawarkah seluruh penjuru lautmu?

[Makassar, 07 Agustus 2014]

Ini puisi lama yang ditulis setelah tidak sengaja membaca kutipan milik Soekarno di salah satu website (saya lupa websitenya apa)

#kutipan: Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya, bukan sekadar jongos di kapal, tetapi mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang.” (Soekarno, 1953)

 

Tanah

Lihatlah ia masih berputar

Bersama jutaan makna hidup di setiap senti luasnya

Sesekali tundukkan wajahmu

Dan tataplah kesahajaannya

 

Ia tak menuntut untuk dikatakan hidup

Walau sebenarnya ia sangat hidup

Hidupnya hanya bisa dimengerti oleh segelintir mereka yang belajar padanya

 

Lihatlah ia masih menjadi alas yang kokoh

Meski bebannya bertambah-tambah setiap hari

Tetapi manfaatnya tetap terbentang

Bagai hamparan permadani bagi para jelata

 

Lihatlah ia tetap bersabar

Meski para kaum aristokrat enggan mengakui keberadaan

sari hina dalam darahnya

Padahal ia dijadikan hidup

Dari onggokan tanah liat

[Bontorea, 01 Oktober 2014]

Ilustrasi: deviantart

Keluarga Butterfly

Di sepetak ladang milik Bu Tani, di antara rumpun pohon bambu yang meliuk ketika angin bertiup, di bawah rumpun tanaman semak, di antara ranting-ranting rapuh perdu-perduan. Tinggallah keluarga besar Butterfly.

Papi Utter dan Mami Erly adalah sepasang kupu-kupu kebun berwarna putih bersih dengan corak elips hitam mirip bola mata di kedua sayap belakangnya. Keduanya adalah sepasang kupu-kupu bahagia yang tinggal di atas mahkota bunga-bunga putih dan ungu, bersama keempat anak-anak mereka. Willow, Spring, Guntur, serta Lail.

Masing-masing anak diberi nama sesuai suasana pada saat ia berhasil keluar dari kepompong. Willow, anak perempuan tertua lahir pada saat semak rumah mereka baru berupa rumput-rumput pendek. Spring lahir ketika bunga-bunga di seluruh semak mekar serempak. Guntur dan Lail, dua putra kembar mereka lahir pada malam berhujan disertai guntur menyalak-nyalak.

Keluarga Butterfly selalu bangun di awal hari. Memulai pagi dengan teriakan dari Mami Erly yang menyebut nama anak-anaknya secara berurutan dari yang paling tua hingga yang termuda. Lalu mereka bersama-sama melakukan peregangan sayap dengan terbang rendah mengelilingi batang utama rumah perdu mereka. Khidmat sekali menyaksikan enam pasang sayap kupu-kupu berwarna putih terbang berkeliling tujuh putaran mengitari rumah mereka.

Setelah ritual peregangan sayap usai. Papi Utter akan mengambil alih untuk memimpin ritual pagi kedua keluarga Butterfly. Sarapan bersama.

Ritual sarapan bersama selalu menyenangkan, anak-anak selalu bersemangat menyambutnya. Sebab ritual sarapan bersama keluarga Butterfly berbeda. Mereka tidak sarapan di meja dan kursi berbentuk bunga dengan sepiring nektar di hadapan masing-masing. Tetapi mereka sarapan di tanah lapang dan ladang penuh bunga-bunga, menghisap nektar langsung dari kuncup bunga yang baru saja mekar.

Mami Erly mendapat posisi terdepan pada formasi penerbangan, di belakangnya Guntur dan Lail, diikuti Willow dan Spring. Posisi paling akhir ditempati Papi Utter yang bertugas menjaga dan melindungi seluruh anggota keluarga.

Mereka berenam terbang dengan gembira. Willow dan Spring bernyanyi riang sepanjang perjalanan, Guntur dan Lail sekali dua kali saling balapan siapa yang terbang lebih cepat, Papi Utter waspada mengawasi sekeliling. Tujuan penerbangan kali ini adalah kebun sawi di ladang sebelah yang bunganya sedang mekar, berwarna kuning cerah memikat dari jauh.

“Tetap dalam formasi penerbangan semula. Jangan dahului mami kalian anak-anak!” Papi Utter berseru mengingatkan anggota keluarga ketika mereka telah sampai di atas hamparan kuning bunga sawi.

Papi Utter bergegas turun, terbang rendah mengitari bunga. Mencium aromanya, lalu mencicipi nektar bunga sawi tersebut. Apakah aman atau malah beracun.

“Oh common! Get your breakfast kids, seru Papi Utter.

Seruan Papi Utter disambut sukacita oleh seluruh anggota keluarga. Mereka sarapan dengan gembira, tidak saling berebutan satu sama lain. Mami Erly menyanyi riang. Lagu wajib keluarga Butterfly.

Butterfly. Butterfly

Susah senang selalu bersama

Butterfly. Butterfly

Kita pergi untuk pulang ke rumah

Papi Utter ikut bernyanyi. Willow dan Spring tidak mau kalah. Sedangkan Guntur dan Lail bersorak-sorak sesuka hati mereka. Jadilah sarapan pagi itu sarapan paling menyenangkan sepanjang ingatan mereka.

***

Rombongan keluarga Butterfly beralih ke tepi telaga begitu matahari telah condong empat puluh lima derajat di arah timur. Seluruh anggota keluarga haus setelah menyeruput nektar bunga yang manis sepanjang sisa pagi.

“Minumlah anak-anak! Setelah itu kita pulang,” terdengar seruan Papi Utter dari belakang.

Itu telaga yang indah dan ramai. Puluhan keluarga kupu-kupu tinggal di sekitarnya. Kawanan belalang, semut, dan capung membangun rumah berdampingan. Mereka mencari makan tanpa saling ganggu.

Lima menit kemudian keluarga Butterfly sudah terlihat terbang menjauhi telaga. Sambil sepanjang jalan saling meenyapa keluarga kupu-kupu lain yang mereka lewati sepanjang jalan pulang.

Tidak berapa lama keluarga Butterfly tiba di ladang perdu di mana rumah mereka berada. Hari sudah terlalu siang bagi Willow, Spring, Guntur dan Lail untuk bermain di permukaan rumpun perdu. Sinar matahari sangat terik, jadi mereka memutuskan untuk menghabiskan siang hari di dalam rumah. Mami Erly biasanya punya banyak kisah untuk diceritakan.

“Mami, kenapa kita tidak bisa membuat madu seperti Tuan Lebah?” tiba-tiba Lail nyeletuk. “Padahal makanan kita sama-sama nektar bunga.”

“Setiap makhluk punya tugas masing-masing Lail. Contohnya Mami dan Papi bertugas menjaga seluruh anggota keluarga dan memastikan kalian tumbuh dengan baik. Kakak willow dan Kakak Spring bertugas membantu Mami dan Papi.”

“Sementara Guntur dan Lail tugasnya mengacaukan segala hal,” Spring memotong ceramah Maminya, menggoda Guntur dan Lail yang sedang serius mendengarkan.

Guntur dan Lail meleletkan lidah tidak peduli ke arah Spring. Mereka berdua sedang serius mendengar ceramah Mami Erly.

“Nak, tugas kita sebagai kupu-kupu ialah menyerbuki bunga. Sebab kalau bunga tidak diserbuki maka pohon-pohon dan seluruh tanaman yang ditanam Bu Tani tidak akan berbuah,” sahut Mami Erly menutup penjelasan.

“Jadi kita ini penghulu para bunga ya, Mi?” timpal Guntur menyimpulkan.

Mami Erly mengangguk.

Sementara itu terdengar raungan panjang dari atas perdu. Suaranya mirip dengung kawanan lebah, hanya saja yang ini sepuluh kali lipat lebih menggelegar. Pastinya bukan guntur, sebab langit begitu terik dan hujan tidak turun. Lalu apa?

Papi dan Mami saling pandang, sementara suara meraung itu semakin dekat.

“Lari Tuan Utter!!!” Itu suara Tuan Belalang yang berteriak di antara semak. Dari jauh tubuh hijau panjangnya kepayahan terbang patah-patah di antara semak perdu.

“Formasi sarapan anak-anak! Kita terbang ke permukaan,” Papi Utter berseru panik.

Mami Erly terbang memimpin dengan cepat, anak-anak terbang berdampingan mengikut di belakang. Papi Utter seperti biasa menjaga di barisan paling belakang. Keterkejutan dan kecemasan masih bertengger di wajah masing-masing.

Setidaknya mereka bisa menyaksikan semuanya dengan jelas dari atas. Dari mana asal suara raungan yang menyebarkan kepanikan begini cepat. Dari atas, keluarga Butterfly bisa menyaksikan seluruh semak perdu rebah sebaris demi sebaris sesuai alur dari alat yang raungannya mirip kawanan lebah hanya sepuluh kali lebih dasyat.

Itu mesin pemotong rumput paling mutakhir yang pernah mereka saksikan. Willow dan Spring tersedu-sedu menyaksikan rumah mereka terpotong, rebah tak berdaya. Guntur dan Lail saling berpelukan, mereka ketakutan. Raungan alat itu lebih mengerikan daripada gemuruh Guntur di malam berhujan. Papi Utter dan Mami Erly hanya mampu memandang getir ke arah pemilik tangan yang menggerakkan mesin pemotong rumput itu.

“Ayo anak-anak, kita terbang ke tepi telaga,” sahut Papi Utter lesu.

Perjalanan ke Telaga kali ini adalah perjalanan paling sunyi. Tidak ada sebait nyanyian pun yang keluar dari mulut Mami Erly. Willow dan Spring juga bungkam. Guntur dan Lail kehilangan selera untuk balapan. Papi Utter prihatin melihat kondisi anggota keluarganya.

Semoga keluarga di tepi telaga berbaik hati membantu kita. Harap Papi Utter.

Alangkah malang. Ternyata keadaan di tepi telaga tidak jauh lebih baik. Seluruh rerumputan dan semak tempat berlindung telah terpotong, rebah, rata dengan tanah. Tempat itu lengang.

Mami Erly lunglai, ia hampir saja jatuh seandainya Guntur tidak bertindak cepat.

“Itu Flo!” seru Willow sambil menunjuk ke arah tiga kupu-kupu kuning di ujung jalan setapak menuju telaga.

Flo adalah kupu-kupu kuning sepupu mereka. Dua kupu-kupu lain yang bersamanya adalah Om Tito dan Tante Ella, orangtua Flo.

Mendengar seruan Willow, rombongan keluarga Butterfly segera terbang ke arah keluarga Tito.

“Kami baru saja kembali dari pertemuan,” sahut Om Tito.

“Apakah kalian baik-baik saja?” Tante Ella bertanya khawatir.

“Kami baik-baik saja. Tetapi rumah kami porak-poranda,” Papi Utter yang menjawab.

“Seluruh tepi telaga juga porak-poranda, rumah kami tidak luput,” Om Tito menimpali. “Di pertemuan tadi, seluruh kawanan kupu-kupu memutuskan untuk pindah. Kita akan bermigrasi besar-besaran ke Bantimurung. Pimpinan kawanan mengatakan ada kerajaan kupu-kupu di sana.”

“Tapi Bantimurung amat jauh dari tempat kita. Perjalanan menuju kerajaan itu adalah perjalanan panjang penuh bahaya,” Papi Utter memperingatkan.

Sementara para orangtua berunding. Kelima anak-anak menyingkir ke tempat lain. Mereka berlomba menceritakan kejadian barusan. Tentang suara raungan yang mengerikan itu. Tentang rumah-rumah mereka yang rebah. Tentang makhluk yang menggerakkan mesin pemotong rumput itu.

“Siapa makhluk yang merusak rumah kita?” Seperti biasa Lail nyeletuk ingin tahu.

“Itu namanya manusia, Lail,” jawab Flo berbisik, seolah takut ada yang mendengar.

“Oh, jadi tugas manusia itu memotong rumah kita ya?” tambah Lail polos.

“Sstt! Lail, jangan keras-keras,” sahut Flo memperingati.

***

Hari itu senja seharusnya indah. Matahari bersinar hangat, bias jingganya terpantul di atas permukaan telaga yang datar dan jernih. Bau rumput baru dipotong menyeruak, jangkrik berderik, kawanan burung putih di langit terbang berkelompok pulang ke sarang.

Hari itu senja seharusnya indah. Tapi tidak bagi keluarga Butterfly. Sebab sore itu mereka sedang berunding apakah akan ikut bermigrasi ke Bantimurung atau tetaptinggal di ladang. Keputusan tersebut harus bulat sore itu juga, sebab besok pagi-pagi sekali kawanan migrasi kupu-kupu sudah akan berangkat.

“Di sana kita akan hidup damai, tidak akan ada yang mengganggu rumah kita lagi. Sebab Bantimurung adalah kerajaan kupu-kupu,” Papi Utter mengakhiri pidatonya.

“Tapi Bantimurung empat puluh kilometer jauhnya dari sini, Pi. Mami takut anak-anak tidak sanggup terbang sejauh itu. Apalagi Guntur dan Lail masih kecil,” protes Mami Erly cemas.

“Kita akan terbang bahu-membahu dan saling menjaga seperti biasa, Mi. Itu selalu berhasil. Di sini kita akan tinggal di mana? Om Tito bilang nanti setelah kita mati, tubuh indah kita akan diabadikan dalam kotak kaca yang bagus,” sahut Papi Utter tidak menyerah.

Willow jengah mendengar Papi dan Maminya nyaris bertengkar. Ini bukan perundingan, ini pertengkaran.

“Willow tidak ingin ikut bermigrasi. Willow tidak tertarik melakukan perjalanan sejuh itu hanya untuk diabadikan dalam kotakkaca yang bagus. Di sini lebih baik,meskipun Willow harus tidur di atas rumput,” sahut Willow tegas, pilihannya tidak dapat ditawar.

Spring sepakat pada pilihan kakaknya.

“Guntur juga memilih tetap di sini. Rumah bukan sebatas perdu dan semak. Tapi tempat kita pulang dan merasa nyaman. Kalau kita semua bersama-sama, Guntur yakin keluarga kita bisa membangun rumah di mana saja.”

Kata-kata Guntur membuat Mami Erly terharu. Tidak sia-sia namanya Guntur, sebab kata-katanya bisa menggetarkan hati siapa saja. Termasuk hati Papi Utter luluh juga dibuatnya.

“Pi, yang jadi raja di Bantimurung itu siapa sih?” si bungsu Lail tiba-tiba bertanya.

Papi Utter terhenyak mendengar pertanyaan bungsunya. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Papi Utter tahu. Sangat tahu.

“Manusia, Nak,” jawab Papi Utter lirih.

Mengapa ia keliru? Bagaimana bisa Utter keliru menilai? Pertanyaan bungsunya membuatnya sadarbahwa perlindungan dan keamanan keluarganya adalah tanggung jawabnya, tanggung jawab mereka bersama. Bagaimana ia begitu bodoh hendak menyerahkan nasib keluarganya ketangan makhluk yang tidak tahu apa yang keluarganya butuhkan?

“Baiklah. Kita akan tetap tinggal di sini,” seru Papi Utter yakin.

Willow dan Spring menari-nari riang, Guntur dan Lail berpelukan, Mami Erly kembali bernyanyi. Mereka berenam terbang rendah dalam formasi lingkaran di atas potongan rumput.

Butterfly. Butterfly

Susah senang selalu bersama

Butterfly. Butterfly

Kita pergi untuk pulang ke rumah

Kebisuan Kita dan Puisi-puisi Lainnya

Kebisuan Kita

Kebisuan kita dieja

oleh kata-kata yang habis ditikam diam

Direkam oleh senyap

Diabadikan kenangan

 

Kebisuan kita dibaca

oleh surat-surat tak sampai

Cerita-cerita yang urung

dan pertanyaan-pertanyaan

yang selalu gagal melewati

garis lintang lidah

 

Kebisuan kita ditulis

dalam lembar-lembar hari

Hariku dan harimu yang terpisah

Didaras pada tengah malam buta

oleh rindu dan sepi yang menggigit

Dan kita saling tidak tahu-menahu

 

Wahai..

Kebisuan kita.

[Makassar, 21 September 2016]

 

Kahayya

Di sini bukan soal jauh

Bukan soal jarak

Tidak juga soal keterasingan

Ini tentang orang-orang yang ingin dilupakan

 

Ke sini bukan sebab sunyi

Bukan sebab dingin

Tidak juga tentang kabut yang menabiri gunung

Ini tentang rindu

 

Memangnya siapa yang bisa menang

melawan rindu?

Kalau kau tak dapat mendekat

Maka lari sejauh-jauhnya

adalah pilihan tepat

Atau boleh jadi yang paling bijak

 

Meski hatimu berdarah-darah

Kakimu luka

Tanganmu melepuh

Matamu basah

[Kahayya-Bulukumba, 04 Juli 2015]

 

Jangan

Jangan beritakan padaku

tentang pertemuan

Aku takut kecewa

Aku takut berharap banyak

pada temu yang akan tuntaskan rindu

Bila ternyata temu hanyalah semu

 

Jangan janjikan padaku

tentang pertemuan

Muara segala sunyi

yang pekat oleh rindu

Karena temu adalah tipuan

 

Jangan beritakan padaku

tentang kedatanganmu

Aku terbiasa menanti ditemani sepi

Tanpa tahu apa-apa

[Kahayya-Bulukumba, 14 Juli 2015]

 

Segelas Kopi, Segelas Ketulusan

Subuh. Gigil. Beku.

Perempuan merebusnya dalam hangat

yang leleh

 

Subuh. Gelap. Kabut.

Perempuan menuang pekat malam

pada segelas udara

Diaduknya hingga asap tipis mengepul

Itu aroma ketulusan

 

Pagi. Masih dingin

Dihidangkannya segelas kehangatan

yang pekat

Minumlah!

Mintalah lagi kalau kau ingin

Itu segelas cinta dan ketulusan

Selamanya tak akan habis

[Kahayya-Bulukumba, 16 Juli 2015]