Semua tulisan dari Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Kelabu Kesayangan Ibu

Kelabu sangat penyendiri dan kesepian. Ia seperti sesuatu yang lain dari segalanya di rumah ini. Tetapi Ibu menyayanginya, amat sangat. Ia punya kamar sendiri dan tempat makan sendiri-makannya selalu teratur. Tidak pernah terlambat walau sedetik.

Aneh. Dengan seluruh keistimewaan yang diberikan Ibu padanya, Kelabu justru terkesan tidak begitu mengacuhkan. Ia meninggalkan makanannya di tempat khusus itu, lantas memilih mencari di dapur atau mengorek sisa makanan di meja makan kami. Ia makan sendirian, tanpa suara, tanpa ambil pusing dengan keributan dari ruang sebelah  tempat Ibu meletakkan makanan khusus untuknya. read more

Jendela dan Puisi-Puisi Lainnya

Jendela

Saban pagi aku membukanya
Menyingkap tirainya beserta doa-doa
Angin baik, hujan dan kicau burung
dan embun sisa semalam pada kisi-kisinya

Saban pagi aku selalu membukanya
Suatu saat di bilangan pagi yang entah keberapa
Wajahmu muncul di balik tirai
beserta doaa-doaa..

Makassar, Juli 2017

Katamu, tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata

Seperti malam pada gulita
Dan api pada nyala
Sunyi kita berbicara
Semesta menciut sebatas pelukan

Seperti malam pada gulita
Katamu tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata
Tapi aku adalah mata
yang mencari petanda read more

Nona Biskuit dan Kebahagiaan Abadi

Sepotong biskuit cokelat berbentuk persegi tipis dengan taburan kristal gula di sekujur tubuhnya lahir begitu saja di suatu petang yang ganjil. Tanpa Bapak, tanpa Ibu. Lantas begitu saja terhidang di atas meja, duduk manis dalam plat porselen yang indah.

Joy, Nona Biskuit bertabur gula itu adalah biskuit pengembara. Ia bertualang ke seluruh negeri, mengikuti berbagai sayembara, ikut serta dalam kerja bakti, dan berkhidmat menjadi warga negara yang baik. Setiap gula di tubuhnya adalah piagam penghargaan dari seluruh sayembara yang ia serta, maupun dari orang-orang yang sempat ia bantu. Joy adalah biskuit paling berbahagia di kota itu. Seluruh kebahagiaan ditaburkan ke seluruh tubuhnya. read more

Cara Terbaik Mencintai

Helai-helai malam dianyam oleh sepasang tangan seputih pualam milik seorang perempuan. Ia duduk tekun di atas anyaman bambu yang hampir selesai, sesekali tangannya yang kanan membenturkan batang besi pipih untuk merapatkan anyaman. Sinar lampu minyak tanah bercahaya, membuat wajah perempuan itu bersinar bagai purnama.

Adalah Nur, yang sejak kepergian suaminya beberapa jam lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa malam menanti sang suami pulang dengan menyelesaikan anyaman gamacca (anyaman yang terbuat dari serat bambu, biasa dibuat dinding) yang telah dimulai suaminya. Nyaris saban malam Nur menghabiskan waktunya menekuri anyaman demi anyaman sembari menunggu sang suami, sedang suaminya sendiri baru pulang lewat tengah malam dengan bau tuak menyeruak dari seluruh tubuh, dan mulut yang sudah tidak jelas lagi menggumamkan apa. read more

Memoriaphobia

Malam datang begitu lesat, umpama desing peluru yang tiba di sasaran sepersekian detik setelah pelatuk ditarik. Lail mengeluh, rupanya kali ini peluru macam itu menyasar jantungnya. Dua manik mata gadis itu cemas memandangi meja, di atasnya tergeletak secarik undangan yang diikat pada tangkai mawar putih mekar sempurna.

Sejak pagi Lail gelisah. Lebih tepatnya sejak Ben muncul di depan pintu rumahnya dan menyodorkan undangan berikat mawar itu. Hanya undangan makan malam perpisahan antara dua sahabat. Kata Ben sambil menyengir, tidak lupa mengingatkan betapa Lail harus datang apapun yang terjadi. read more

Sepatu dan Puisi-puisi Lainnya

Sepatu

Kamu punya berapa sepatu?

Dua..

yang kumal dipakai di dalam rumah

yang bagus dan baru dipakai ke tempat kerja

Kamu punya berapa pakaian?

Dua..

daster longgar dan murah dipakai di rumah

gaun indah dan mahal dipakai ke pesta

Kamu punya berapa wajah?

Dua..

yang polos tanpa bedak dipakai di rumah

yang putih dan bergincu tebal dipakai bertemu banyak orang

Kamu sebenarnya ada berapa?

Kamu ini yang mana?

yang bersepatu kumal, berdaster murah, dan polos tanpa bedakkah?

atau yang bersepatu bagus, bergaun mahal, dan bergincu? read more

Okan dan Opi; Sepasang Katak yang Jatuh Cinta

November, hujan dan air adalah tiga hal yang paling kugemari. Pekerjaan paling kusukai adalah bernyanyi dan berlompatan di bawah rintik hujan. Seringkali kalau hujan sedang bagus-bagusnya, Mami Bertha˗Ibuku dan rekan-rekan sejawatnya membentuk kelompok bernyanyi.

Aku juga senang keluyuran bermain berkeliling rawa. Berenang bersama riak bundar bergelombang yang diciptakan hujan atau sembunyi di bawah daun talas satu ke daun talas yang lain. Kadang sampai lupa waktu, lupa jalan pulang. Sehingga di rawa aku dijuluki Okan yang sering tersesat. read more

Pejuang Pangan dan Puisi-puisi Lainnya

Pejuang Pangan

Siapa paling pantas digelari pahlawan di negeriku

Bukan para tentara penyandang senjata

Bukan pula polisi penyandang lencana

Pahlawan itu adalah dia..

Yang memanggang punggungnya

Untuk menyuapi mulut rewel majikan kota

Untuk menyediakan makanan bagi perut lapar

Anakanak bangsa

Walau perut sendiri nelangsa

Sebab tiga bulan tak pernah cukup makan

Pahlawan itu adalah dia..

Yang bercaping di tengah sawah

Saban hari bergumul dengan tanah

Membelaibelai bulir padinya sambil berdoa

Semoga tikustikus berhenti menggerogoti padinya read more

Keluarga Butterfly

Di sepetak ladang milik Bu Tani, di antara rumpun pohon bambu yang meliuk ketika angin bertiup, di bawah rumpun tanaman semak, di antara ranting-ranting rapuh perdu-perduan. Tinggallah keluarga besar Butterfly.

Papi Utter dan Mami Erly adalah sepasang kupu-kupu kebun berwarna putih bersih dengan corak elips hitam mirip bola mata di kedua sayap belakangnya. Keduanya adalah sepasang kupu-kupu bahagia yang tinggal di atas mahkota bunga-bunga putih dan ungu, bersama keempat anak-anak mereka. Willow, Spring, Guntur, serta Lail. read more

Kebisuan Kita dan Puisi-puisi Lainnya

Kebisuan Kita

Kebisuan kita dieja

oleh kata-kata yang habis ditikam diam

Direkam oleh senyap

Diabadikan kenangan

Kebisuan kita dibaca

oleh surat-surat tak sampai

Cerita-cerita yang urung

dan pertanyaan-pertanyaan

yang selalu gagal melewati

garis lintang lidah

Kebisuan kita ditulis

dalam lembar-lembar hari

Hariku dan harimu yang terpisah

Didaras pada tengah malam buta

oleh rindu dan sepi yang menggigit

Dan kita saling tidak tahu-menahu

Wahai..

Kebisuan kita.

[Makassar, 21 September 2016]

 

Kahayya

Di sini bukan soal jauh read more