Semua tulisan dari Fauzan Al Ayyuby

Suka makan, nulis, ngopi, dan penyuka jendela. Belajar dan berhalaman rumah di Tanahindie. Nongkrong di Yayasan Sabtu Malam (Yassalam).

Ruang Maya yang Maya

Teknologi di tangan manusia seperti pisau yang netral pada kemungkinan ‘nasibnya’: bisa jadi dipakai untuk hal-hal baik, bisa juga hal-hal jahat. Tak terkecuali teknologi informasi dan komunikasi. Baru saja kita lewati Pemilihan Presiden (Pilpres) di Indonesia, yang jauh sebelum waktu pelaksanaannya, dipenuhi berita-berita hoaks. Tetapi baru pada awal tahun 2019, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika menyusun strategi untuk menangkal hoaks. Indikasi politik dengan hoaks lewat media sosial jadi penanda penting dari mampunya ruang-ruang maya meredefinisi “cara kita memilih”. read more

Mengikat Ingatan Lepas Soal Laut

“Naik ke laut. Siapkan perahu. Dayung dan ingatan pasti ‘kan bicara.”

Holaspica (Petikan lagu Naik ke Laut)

Lagu Holaspica yang berjudul Naik ke Laut, diawali dengan deburan ombak. Deburan yang menghantar debar menghadapi laut yang luas dan lepas. Laut yang lepas dari mata orang-orang yang berpaling memunggungi laut, atau dari mereka yang melepas ingatannya tentang biru laut berwarna dalam.

Mengapa orang-orang memunggungi laut? Satu hal yang perlu kita tilik bersama, mengingat kita adalah bangsa maritim. Ada beberapa hal yang barangkali bisa menjelaskan hal itu. Trauma, misalnya. Dalam film Walt Disney, Moana (nama yang dalam bahasa Polynesia berarti laut), kita melihat bagaimana suku Motunui menaruh ‘rasa takut’ berlebih pada laut, sampai pada titik memasukkan kapal-kapal pendahulunya itu ke dalam sebuah gua. read more

1920 dan Puisi-puisi Lainnya

1920

Keramaian doa di sebuah stasiun kereta menuju langit
Tiba-tiba saja merah. Semua tahu warna doa
: putih. Suci di bibir seorang pendeta
Sedang bertarung dengan makna-makna yang berdarah

Seluruhnya patuh menyaksikan debat
Orang-orang gempal bertopi coklat
Menikmati wangi asap dari pabrik dan pajak.
Kakinya disilangkan, seperti mendengarkan sajak

Teriakan demi teriakan menyemat di telinga takdir
Jiwa-jiwa merah-berdarah-darah terlentang di sepanjang relnya
Beberapa orang bersenggama seperti ibadah
Percaya bahwa Tuhan lupa membawa kunci gereja read more

Mendengarkan Perempuan

“Jalan menuju ke hati wanita adalah melalui telinga.” – Voltaire

Kita terlalu sering menghukumi perempuan baik secara langsung maupun dari obrolan-obrolan ringan di meja-meja warung kopi. Menjadikan perempuan sebagai objek, bukan sekadar melihat kecenderungan perempuan dalam budaya patriarki, ataupun branding. Menjadikan perempuan sebagai objek bahkan sering kita lakukan dalam budaya diskusi, bahasa sehari-hari, pun dalam tulisan ini—jika kita benar-benar menjadikan kata ‘objek’ sebagai landasannya. read more

Kau Diciptakan dan Puisi-puisi Lainnya

KAU DICIPTAKAN

daun-daun telinga

tak mendengar batang kata

ia tumbuh, bagai bibir pujangga

mengalirkan usia

menggugurkan sebatang aksara, lalu

melisani tubuhmu

hujan jatuh dari air mata

seorang ibu, mengaliri denyut

nadi di pergelangan tanganmu

yang bertunas dari kemesraan hujan, dan

jari-jemari seorang ayah

begitu kau diciptakan

tak pernah layu

tak pernah sayu

(2017)

ANAK-ANAK HILIR

aku ingin membenci hujan

di atas sungai yang airnya kuning

ia mengalirkan celana dalam cecunguk

dari hulu peradaban

lalu mengutip pesan Ayah, read more