Semua tulisan dari Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Alam Sadar VS Alam Bawah Sadar: Gerbang Penentu Takdir

Kebebasan manusia dan takdir Tuhan merupakan tema yang hangat sepanjang masa. Pada satu sisi, dengan kebebasan yang dimiliki oleh manusia maka ia dipandang sebagai penentu nasib bagi dirinya sendiri. Manusia bebas menentukan nasib seperti apa yang diinginkan. Manusia merdeka dalam menentukan  corak takdir yang ingin ia lakoni. Dalam pandangan ini manusia bertanggung jawab penuh atas tindakan atau pilihannya. Dan pada sisi lain, Tuhan Yang Maha Kuasa sangat berkuasa pada manusia sehingga tidak ada jalan lain kecuali Tuhanlah sebagai penentu nasib manusia. Manusia tak berdaya di hadapan Tuhan karena Tuhanlah yang menentukan segalanya, termasuk takdir manusia. Pandangan ini dapat melahirkan pendapat bahwa manusia tidak bertanggung jawab atas takdir yang menimpanya dan Tuhanlah yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Pandangan lain yang berusaha menyatukan dua kutub di atas, yaitu Tuhan telah menetapkan berbagai pilihan takdir yang mungkin dan manusialah yang memilihnya. Manusia diberi kelonggaran atas pilihan-pilihan takdir sebagai campur tangan Tuhan dan manusia bertanggung jawab atas takdir yang ia pilih tersebut. read more

The Secret of Giving

The secret of giving, rahasia sedekah. Telah banyak uraian tentang sedekah dalam berbagai aspeknya. Secara umum sedekah dipahami sebagai pemberian yang tulus yang justru hasilnya akan kembali kepada  pemberi. Bahkan efek kembalian sedekah itu berlipat ganda. Secara fisik sangat tampak dalam proses sedekah yang dapat manfaat langsungnya adalah penerima, namun justru yang sesungguhnya yang mendapat manfaat lebih banyak adalah pemberi. Pernyataan ini didukung oleh banyak fakta dalam kehidupan bahwa orang yang banyak bersedekah, orang yang banyak memberi adalah mereka yang lebih kaya dan bahagia dibanding orang yang sedikit melakukannya. Ada kebalikan makna dalam sedekah, orang yang memberi justru menerima lebih banyak. Pertanyaan yang tersisa adalah: kenapa bisa demikian? Secara normatif, pertanyaan tersebut dapat dijawab bahwa Tuhanlah yang memberi nilai lebih atas pengembalian setiap pemberian atau sedekah. Tuhanlah  yang berperan melipatgandakan imbalan setiap sedekah. Dapat juga dijawab dengan prinsip pertumbuhan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan akan bertumbuh dan berkembang, begitupun dengan sedekah. Pemberian atau sedekah itu ibarat tanaman, semakin unggul bibit dan lahan serta perlakuan, maka ia semakin bertumbuh melampaui bibit-bibit yang lain. Itulah sedekah diberikan kepada penerima, justru pemberilah yang panen raya. Sedekah yang tulus memutar balik logika umum, memberi sama sekali tidak mengurangi, malahan menambah nilai lebih pada pemberi. Rahasia sedekah ini dapat juga disibak dengan menelisik prinsip penciptaan dalam pandangan Wahdatul Wujud. Melalui konsep ini, setidaknya, dapat diketahui mengapa setiap pemberian yang tulus, sedekah yang ikhlas, senantiasa membuahkan nilai lebih yang berlimpah bagi pemberi. Sedekah, dalam pandangan ini, selama dilakukan dengan ikhlas, tidak ada jalan lain kecuali hasilnya kelipatgandaan imbalan bagi pemberi. Seolah hal ini menjadi aksioma. Menjadi keniscayaan. Memberi pasti hasilnya adalah keberlimpahan bagi pelakon sedekah. Seolah prinsip ini menjadi ‘kode keras’ yang mengatakan bersedekahlah dengan apapun bentuk kebaikan yang dimiliki untuk menciptakan keberlimpahan bersama untuk semua. Penciptaan dalam pandangan Wahdatul Wujud  secara hakiki tidak bermakna menghadirkan sesuatu dari “tiada” menjadi “ada”, akan tetapi Yang Maha Ada-lah yang memanifestasi, yang mentajali. Laksana mentari yang memancarkan sinarnya. Sinar matahari tidaklah dicipta dari “tiada” menjadi “ada”, akan tetapi ia mewujud karena adanya matahari itu sendiri. Sinar matahari mewujud akibat dari kewujudan matahari itu sendiri yang memancarkan diri. Dalam konteks  internal keberadaan matahari, pancaran cahaya matahari tidak pernah dicipta dan dimusnah, karena pancaran cahaya tersebut semata tajaliat dari matahari dan keberadaannya bergantung total pada matahari. Begitupun dengan segenap manifestasi, baik yang lahir maupun batin, keberadaannya hanyalah semata pancaran dari Yang Maha Ada, dari Yang Maha Wujud. Manifestasi secara hakiki tidak dicipta dari “tiada” menjadi “ada” akan tetapi ia semata hanyalah pancaran wujudiah dari Yang Maha Ada. Oleh karena itu kehadiran manifestasi bukan berasal dari “tiada” menjadi “ada” akan tetapi ia hadir dari “ada” menjadi “ada”. Keberadaan manifestasi dengan sumbernya ibarat gelombang dengan lautan. Semua wujud gelombang, semua wujud manifestasi adalah “tampilan luar” dari wujud lautan, dari Wujud-Nya. Dalam konteks konsep ini tidak ada penerima. Yang ada hanya pemberi semata. Karena secara hakiki memang penerima tiada, sebab yang bisa menerima itu hanyalah ketiadaan. Dan secara logis, ketiadaan pun tidak dapat menerima, karena bagaimana mungkin ia dapat menerima sementara ia sendiri tiada. Di sisi lain, bagi yang ada juga tidak perlu lagi menerima “ada” karena hal tersebut sudah ada dalam dirinya secara azali. Oleh karena itu, secara hakiki, dalam pandangan ini tidak ada penerima, yang ada hanya pemberi semata. Sehingga, pada saat pemberi bersedekah, ia sedang “menampakluarkan” manifestasi-Nya. Orang yang pemberi sedekah sedang memerankan peran-Nya, yaitu menjadikan tampak tajaliat-Nya. Dalam perspektif Wahdatul Wujud bahwa segenap kehidupan ini hanyalah pancaran manifestasi dari Yang Maha Ada, Yang Maha Wujud, oleh karena itu kehidupan ini beserta segala pernak-perniknya hanyalah wujud dari pemberian semata. Wujud dari sedekah semata. Totalitas kehidupan ini hanyalah sedekah dari Yang Maha Memberi. Hanya dengan sedekah inilah, sedekah dari-Nya, sehingga segenap pancaran wujud memanifestasi. Menyata. Satu-satunya pemberi sedekah hanyalah Allah, sebab dalam Wahdatul Wujud hanya dikenal Subjek Tunggal, yaitu Allah SWT, oleh karena itu persyaratan mutlak sedekah adalah ikhlas, yaitu tiadanya subjek pemberi sedekah kecuali Allah semata. Hadirnya subjek lain selain Allah dalam sedekah, yaitu hadirnya “aku” yang mengklaim sedekah, berakibat jatuhnya sedekah ke dalam fatamorgana penciptaan, dan bukan murni lagi merupakan pancaran dari tajaliat-Nya serta memposisikan pesedekah tersebut jauh terlempar dari sumber yang manifestasi, hal ini merupakan posisi kebalikan dari keberlimpahan. Para pesedekah, selama dilakukan dengan ikhlas, telah memerankan peran Allah dalam menghadirkan berbagai tajaliat kebaikan dalam kehidupan. Ini berarti secara wujudiah ia mengambil posisi tingkat wujud sumber, tingkat wujud keberlimpahan. Ia mengambil posisi kearah tingkat wujud pemberi. Sehingga, secara sadar atau tidak, dengan sedekah ikhlas—pemberian yang dinisbahkan kepada Allah semata, karena Ia memang satu-satunya Pemberi—para pemberi sedekah telah menaiki tangga-tangga ke tingkat wujud keberlimpahan sehingga ia bergelimang dengan keberlimpahan tersebut. Semakin ia sedekah dengan tulus semakin ia menanjak ke tinggkat wujudiah keberlimpahan yang lebih tinggi lagi. Sehingga, sedekah semakin berefek multikebaikan kepada pesedekah tersebut. Mungkin dengan pandangan semacam ini pula para nabi dan rasul serta para orang suci, tidak memiliki perhitungan dalam memberi, dalam bersedekah. Karena dalam kesadaran mereka, dalam pandangan batin mereka, urusan tajaliat semata, sedekah adalah kekuatan dalam yang ada pada tajaliat untuk menyata, maka bagi mereka bersedekah adalah kekuatan yang nyata untuk berpartisipasi dalam melahirkan manifestasi dalam kehidupan, tentunya dengan kehadiran Allah dan “mereka tiada”. Tiada keraguan akan kekurangan bagi mereka dalam bersedekah karena mereka sadar betul bahwa semua manifestasi merealitas hanya dengan kekuatan sedekah dari Yang Maha Memberi. Setiap kali mereka bersedekah kebaikan maka pada saat itu pula Yang Maha Memberi melimpahkan kebaikan pada mereka dengan keberlimpahan tanpa batas. Sedekah dan sedekah, menaiki tingkat wujud keberlimpahan yang lebih tinggi menuju yang lebih tinggi lagi. Demikianlah cara kerja sedekah dalam menghadirkan keberlimpahan kebaikan yang tanpa batas. Sumber gambar : Google

Baik Buruk dalam Perspektif Wahdatul Wujud

Masalah baik dan buruk senantiasa hangat diperbincangkan oleh para pencari kebenaran. Baik dan buruk merupakan hal yang bertentangan secara diametral dan sangat terasa kehadirannya bahkan begitu mempengaruhi kehidupan. Baik dan buruk adalah hal yang nyata hadir dalam kehidupan. Keduanya adalah fakta senyatanya yang tak terbantahkan. Sejauh baik dan buruk sebagai ejawantah yang hadir dalam kehidupan, tidak ada masalah dengannya. Namun, jika sudah menyentuh persoalan asal-usul baik dan buruk dalam perenungan mendalam, persoalan menjadi rumit dan krusial. Bagi orang yang meyakini Tuhan sebagai sumber segala sesuatu dan satu-satunya sumber, menyematkan kebaikan berasal dari Tuhan adalah hal yang semestinya. Namun, menyematkan Tuhan sebagai sumber keburukan bukan hanya merupakan hal yang tidak etis, namun juga tidak logis. Mungkinkah Tuhan sebagai sumber kebaikan sekaligus merupakan sumber keburukan? read more

Persaudaraan Wujudiah

Dari sekian banyak pemaknaan, ada yang mengartikan “saudara” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “sa” berarti satu dan “udara” berarti perut atau rahim. Maksudnya adalah terlahir dari satu perut atau rahim yang sama. Atau pun juga berasal dari satu sumber yang sama. Sesuatu disebut bersaudara karena satu dengan yang lainnya terlahir dari sumber yang sama. Atau, dengan makna yang lebih luas, disebut bersaudara jika berada dalam lingkup yang sama.

Ikatan persaudaraan ini menentukan nilai-nilai yang membalut kerekatan antara satu dengan yang lainnya untuk tetap menyatu. Kesatuan, cinta, kasih sayang, senasib, tenggang rasa dan lain sebagainya merupakan nilai-nilai yang mengikat mereka dalam keutuhan dengan pandangan bahwa mereka berasal dari sumber yang sama. Sumber atau asal yang sama dijadikan pijakan persaudaraan untuk tetap menyatu padu antara satu dengan yang lainnya. read more

Konsep Bersama Allah dalam Pandangan Syekh Yusuf Al-Makassary

Syekh Yusuf al-Makassary merupakan tokoh besar sufi yang bukan sekedar senantiasa bergelimang Tuhan dalam setiap tarikan napasnya, tapi juga merupakan sufi pejuang yang melawan praktik kezaliman dalam dunia nyata di zamannya. Biografinya menunjukkan bahwa beliau begitu gigih dalam menuntut pengetahuan pencarian jati diri dan mengajarkannya, pada saat yang sama juga gigih menentang penjajahan dan kezaliman. Seolah beliau ingin membumikan citra surgawi yang didapat dalam perjalanan ruhaninya ke dalam dunia nyata sehingga harus berhadap-hadapan langsung dengan pelakon kezaliman dalam kehidupan. Sepanjang hidupnya dihabiskan dengan belajar mengenal diri serta mengajarkannya dan juga menghabiskan banyak waktu untuk menentang kolonialisme dan kekafiran. read more

The Master Key System: Andalah Sang Penentu Nasib Diri

Dengan mengacu pada ketunggalan semesta, Charles F. Haanel, dalam bukunya The Master Key System, terbit seratus tahun lalu, 1916, seolah ingin mengatakan bahwa manusialah yang menentukan nasib dirinya dan lingkungannya. Seperti apa wajah kehidupan dan keadaan seseorang, sebenarnya jauh-jauh hari sebelumnya telah ia ciptakan sendiri terlebih dahulu dalam dirinya. Seseorang sukses atau gagal dalam bidang apa pun, itu hasil olah dalam dirinya baik disengaja atau tidak, bukan hasil olah di luar dirinya. read more

Relasi Mistis antara “aku” dan “Aku” dalam Konsep Wahdatul Wujud

Teka-teki tentang diri atau “aku” merupakan misteri sepanjang sejarah manusia. Telah banyak cara dan jawaban yang diberikan untuk menjawab siapa “aku” sebenarnya namun selalu saja menyisakan berbagai pertanyaan. Dari setiap cara dan jawaban itu selalu saja memancing pertanyaan berikutnya, yang menunjukkan bahwa misteri siapa “aku” belum tersibak secara benderang. Jika dikatakan bahwa “aku” mengetahui dan bertindak, di sisi lain tiada kejelasan siapa “aku” sebenarnya, maka segenap pengetahuan dan tindakan tersebut tidak memiliki pijakan yang jelas, oleh karena itu runtuhlah semua bangunan pengetahuan dan tindakan tersebut. Pengetahuan dan tindakan semacam ini tidak memiliki nilai kepastian sehingga tidak dapat dijadikan acuan, semua itu akibat dari masih tersamarnya siapa “aku” yang sebenarnya. Begitu pun dalam hal ibadah, karena tidak jelasnya siapa “aku” atau salah paham tentang siapa “aku” menyebabkan segenap bangunan ibadah runtuh seketika, karena pelakon ibadah yang tidak jelas. read more

Fore Play untuk Menikmati Kedalaman Rasa Tutur Jiwa Sulhan Yusuf

Fore play, pengantar dini untuk hanyut dalam kenikmatan selanjutnya. Sengaja dipilih fore play dibanding warming up dalam mengawali “membaca” karya bernas Tutur Jiwa Sulhan Yusuf. Pada warming up mengandung makna pendahuluan mengantar kepada fokus dan menguras energi, sementara itu fore play juga pendahuluan, namun lebih pada makna kesantaian dan kenikmatan serta mengakumulasi energi. Dengan fore play ini, diharapkan pembaca dapat larut menikmati legitnya kedalaman rasa dan makna saat membaca Tutur Jiwa, berharap mencapai klimaks pemahaman dalam setiap paragrafnya. read more

Mengenal Diri dengan Merasakan Gerak Substansial Mulla Shadra

Konsep Wihdatul Wujud Ibnu Arabi telah banyak digunakan dalam dunia tasawuf sebagai awal pijakan untuk menjelaskan hubungan antara hamba dengan Tuhan sebagai hubungan ketunggalan. Suatu hubungan yang membuat lebih terang betapa dekatnya hamba dengan Tuhan, bahkan melampaui relasi yang berunsur jarak dan waktu. Nuansa konsep Wihdatul Wujud yang disodorkan oleh Mulla Shadra dengan tetap menggunakan jejak pemikiran Ibnu Arabi dan illuminasi Suhrawardi, yang memunculkan teori ‘gerak substansial’, membuat konsep ini lebih bermuatan ‘operatif’. Maksudnya, dengan bantuan teori gerak substansial Mulla Shadra, konsep Wihdatul Wujud dan illuminasi mendapat sejenis “manual operatif” untuk dibumikan dalam dunia nyata, dunia eksternal, termasuk ke dalam dunia tasawuf. read more

The Science of Getting Rich

Soekarno, sejak muda, telah melakukan dua langkah penting  yang mengantarkan ke arah Indonesia merdeka. Langkah tersebut, baik beliau sadari atau tidak, sangat jelas berperan nyata. Tanpa langkah penting ini, sepertinya, mustahil dicapai kemerdekaan Indonesia. Langkah-langkah tersebut adalah: pertama, sejak muda Soekarno punya visi atau pandangan batin yang jelas tentang seperti apa Indonesia merdeka;  kedua, beliau berjuang tanpa henti dengan ikhlas merealisasikan visi tersebut. Kedua virus ganas inilah yang dengan gagah berani Soekarno tularkan kepada siapa pun sehingga mewabah tak terbendung dalam hitungan sekitar seperempat abad, hasilnya adalah proklamasi bagi Indonesia merdeka. read more