Semua tulisan dari Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair. Lahir di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, 15 Mei 1995. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin, Makassar. Karyanya pernah dimuat di Fajar Makassar, Go Cakrawala Gowa, Rakyat Sultra, Lombok Post, Analisa Medan, Tanjungpinang Pos, Radar Surabaya, Litera, FloresSastra, NusantaraNews, WartaLambar, Sediksi, serta beberapa buku antologi puisi bersama. Yang terbaru, puisi-puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Pesta Puisi Kopi Takengon 2016 “1550 MDPL”. Bisa dihubungi melalui sur-el ayatautum95@gmail.com.

Anawangguluri dan Puisi-Puisi Lainnya

Incognito : Koboi Kembara

Aku berjalan berjejalan ditemani luka-luka laki-laki yang telah diperam kelam terungku kala bertamu diiringi bunyi-bunyi ledak.

Aku menyamar jadi memar usai terjerembap menyusun bunyi sunyi hujan bulan untuk ditadah wadah berupa sedepa ember Desember.

Aku bercerita berita hampar sampar melintang kencang menaungi remaja hingga raja tanpa menggubris lukis dinding pening bencana tak terduga.

Aku lelah membelah maut kalut mencari kilat cerawat guna terang pematang sebab belukar dan akar memuji ramah tanah penerima derma. read more

Makassar, Jam 9 Pagi dan Puisi-puisi Lainnya

(Sebuah Catatan Perjalanan dari Makassar ke Enrekang)

Makassar, Jam 9 Pagi

Mataku masih buram saat melirik secarik absensi basa-basi

kusentuh layar ponsel, memotret kelakar pelepasan

boneka dan bantal tersisip paksa di celah tumpukan koper

aku akan kompromi dengan kantuk atau mengusirnya paksa

Seseorang membaca gegarisan gelimpang daun-daun di tanah

perjalanan ini akan lancar saja”, sabdanya kala menjauhi kemudi

Maros, Jam 10 Pagi

Sebutkan tempat-tempat kita berseteru dulu

aku masih hapal merek kacamata yang kupecahkan read more

Ketika Wallace di Makassar

Sudah sebulan Wallace tinggal di Makassar. Ya, Alfred Russell Wallace. Penjelajah dan peneliti asal Inggris. Dia populer di mata para  penduduk. Anak-anak orang Belanda menghadiahinya beratus-ratus kupu-kupu, bertangkai-tangkai bunga bahkan daun-daun tumbuhan. Sementara kaum pemuda Bugis sering membawanya ke hutan untuk berburu hewan. Wallace juga sering diundang ke pesta yang diadakan orang-orang Eropa. Biasanya dia datang dengan membawa beberapa kupu-kupu awetan untuk dijelaskan ke sesama tamu. read more