Semua tulisan dari Ijhal Thamaona

Lahir di Bulukumba, 17-11-1976. Aktif di Gusdurian Sulsel. Belajar meneliti di LAPAR dan Litbang Agama Makassar

Orang Gila dan Masjid yang Raib

 

Senja telah berakhir. Garis merah di langit barat mulai memudar. Gelita merayap pelan memeluk bumi.  Sang kala merangkak-rangkak.  Pelan, lambat tapi pasti. Dan akhirnya malam betul-betul runtuh ke bumi.  Di langit, bintang gemintang merekah senyum. Tapi tidak demikian dengan  sepotong bulan di akhir Muharram itu, lesu mengapung di balik awan.

Tepat pada saat itulah, Faizal menginjakkan kakinya di tanah.  Pendar lampu jalan menimbulkan bayangan tubuhnya yang memanjang.    Lelaki ceking itu baru saja turun dari mobil bus yang ditumpanginya.  Kota Telaga Indah, itulah tempat yang tanahnya dijejaknya kini.    Sejenak Ia membiasakan diri dengan suasana.  Situasi yang mulai gelap membuatnya tak bisa segera mengenali keadaan. Udara dingin menyergapnya.  Faisal segera mengenakan jaket yang tadi disampirkan ke pundaknya.   Tangannya menyisir rambutnya yang telah diacak-acak angin sejak berada di bus tadi.

Saat itulah, telinganya jelas mendengar suara azan yang sudah mau berakhir. Terdengar dari mana-mana dan bersahut-sahutan. Di dekat tempatnya berdiri dia mendengarkan azan itu dari dua masjid. Satu terdengar dari pelantam yang berada di  menara masjid yang  menjulang persis di sisi jalan di mana ia berdiri.  Satunya lagi terdengar dari seberang jalan, sedikit ke arah kiri.   Beberapa jenak Faisal menatap dua masjid yang  memancang mengapit jalan di mana  ia kini sedang tegak.  Lalu bergegas Faisal belok kanan, masuk ke masjid yang ada di sisi itu.

Faisal baru saja memasuki halaman masjid itu, ketika dari arah samping seorang tua berpakaian putih lusuh,  bersongkok hitam yang mulai pudar warnanya dan bersarung hitam melambaikan tangan.

“Tunggu anak muda, aku ingin bertanya?”. Orang tua itu memanggil Faisal dengan suaranya yang serak sambil melangkah tergopoh-gopoh.

Faisal menghentikan langkahnya  menanti kedatangan orang tua itu.  Melihat sikapnya yang tergapah-gopoh , jelas ada sesuatu yang penting.

“Anak muda, magrib telah tiba, di mana kita bisa melaksanakan salat?”.  Tanya orang tua itu.  Matanya yang bulat  berputar-putar memandang sekeliling.  Mata itu mencari-cari sesuatu.

Faisal menatap orang tua itu dengan bingung.  Pikirannya buncah.  Bukankah di depan mata orang tua ini menjulang masjid dengan  jelas sekali? Bahkan tidak jauh dari masjid yang akan dimasuki Faisal, di seberang jalan juga memancang masjid yang tak kalah megahnya. Faisal dengan terheran-heran memperhatikan orang tua ini.  Tubuhnya tidak terlalu tinggi.  Wajahnya beberapa bagian telah muncul keriput namun bersih, jelas bukan gelandangan. Matanya yang agak besar seperti bersinar-sinar.  Baju putih yang dikenakan sudah agak lusuh, demikian halnya dengan sarung hitamnya. Songkok yang hitamnya sudah agak pudar dan sudah mengarah pada warna coklat disungkupkan sekenanya di kepala, nangkring agak miring ke kiri.  Warna coklat itu semakin coklat bahkan sudah mengarah ke warna merah pada bagian bawah,  tepi dari songkok itu. Mungkin karena sering terkena air saat berwudu.

“Mungkinkah matanya buta? Demikian  batin Faisal. “Tetapi bola matanya bergerak-gerak seperti mencari-cari sesuatu, berarti Ia melihat?” Bantah Faisal sendiri dalam hatinya.

“Tapi ah…biar aku mengetesnya”.  Katanya kemudian. Dalam hati tentunya.

Perlahan tangannya diangkat lalu digoyang-goyangkan di depan muka orang tua tersebut.

“Hei anak muda mengapa malah menggoyang-goyangkan tanganmu di depan mukaku, aku mencari tempat untuk salat”.  Sahut orang tua itu tiba-tiba.  Meski sebelumnya Faisal sudah memperkirakan orang tua ini melihat, tapi ditegur orang tua atas sikapnya itu,  Faisal sampai surut satu langkah ke belakang saking kagetnya. Maka sambil terbata-bata Faisal berkata;

“Maaf…..maaf ….pak, aku eh…iya, ini di depan bapak kan ada masjid, aku juga mau masuk salat di masjid ini”

“Mana…mana….aku tak melihat ada masjid, tidak ada….tidak ada….”. Seru orang tua tersebut. Suaranya mengedau di tengah kesunyian menunggu iqamat. Beberapa orang menoleh ke arah mereka.

Nalar Faisal betul-betul buncah. Ia menatap orang tua itu dengan mulut menganga. Tiba-tiba dilihatnya seseorang memberi isyarat kepadanya. Jari telunjuk tangan kanan orang itu diletakkan menyilang di dahinya, sambil menunjuk ke arah orang tua. Setelah dua kali isyarat yang sama dilakukan orang itu dari jauh. Faisal langsung paham. Orang tua di depannya ini gila rupanya. Bergegas Ia meninggalkan orang tua itu. Melangkah cepat mencari tempat berwudu.

“Di mana masjid….aku mau salat, tapi masjid tidak ada. Ya Allah tunjukkan padaku letak masjid-masjidmu, kenapa tiba-tiba semua masjid raib di negeri ini….”

Samar-samar masih didengarnya orang tua itu berteriak-teriak mencari masjid. Faisal tidak menghiraukannya lagi. Buru-buru dia mengambil air wudu. Iqamat sudah mulai disuarakan oleh muazin.

Salat berjamaah di masjid itu dihadiri oleh hanya segelintir manusia.  Sedikit lebih cepat dari salat jamaah yang pernah diikuti oleh Faisal sebelum-sebelumnya. Tanpa zikir bersama setelah salat. Bahkan begitu selesai salam, salah seorang  jemaah salat yang duduk di saf depan, persis di belakang imam,  berdiri. Mengenakan songkok putih, serban putih menggantung di bahu serta baju koko terusan, panjang sampai di pertengahan betisnya. Sejumput janggut, atau tepatnya beberapa helai rambut yang tumbuh segan, mati pun tak hendak, bergelantungan di dagunya.

“Jemaah salat magrib yang dirahmati Allah,” demikian orang berjanggut segan ini memulai pidato atau ceramah, atau sekedar memberi informasi.  Entahlah, dengar kan saja.

“Masjid kita butuh kembali pemugaran, kita akan membangun lantai dua. Rencananya menara masjid kita, akan dibuat lebih menjulang lagi”.  Begitu orang berjanggut segan itu melanjutkan pidato, eh tepatnya pengumuman rupanya.

“Masjid adalah rumah Allah, jangan mempermalukan Allah dengan masjid yang tak lapang. Tidak terlihat keagungannya.  Apalagi jika di sekitarnya ada rumah ibadah umat agama lain yang lebih agung, lebih indah dan lebih  segala-galanya.  Tidak boleh….tidak boleh ada yang melebihi keagungan rumah ibadah kita di tanah ini! Di tempat lain, jika ada rumah ibadah umat lain lebih besar, lebih agung dan lebih indah, bukan urusan kita. Tapi di tanah ini….!!!”.  Orang ini menjeda sejenak ucapannya. Padangan matanya menyusuri jemaah yang hadir di tempat itu yang duduk menyimak dengan takzim.  Ia seperti ahli pidato ulung yang memberi jeda pada pendengar agar penasaran.   “Di tanah ini, tanah Allah, tanah umat muslim…  tidak boleh ada kejadian semacam itu.” Katanya kemudian.

Jemaah salat magrib yang hanya segelintir itu mangut-mangut. Mereka sepertinya setuju 100 % dengan ucapan orang berjanggut segan itu. Sebaliknya Faisal yang juga berada di tengah-tengah mereka malah celangak-celinguk memperhatikan masjid.  Kagum bercampur heran. Masjid ini sudah luas, saking luasnya orang yang sedang salat berjamaah magrib saat ini ibaratnya hanya  sejumput rumput dalam lapangan bola yang luas. Masjid ini pun tak kalah indahnya dengan masjid-masjid agung yang pernah dilihatnya di beberapa kota. Tiang-tiangnya kokoh menjulang, diukir dengan kaligrafi.  Tegelnya  mungkin dari pualam karena berkilat-kilat di timpa sinar lampu.  Mimbarnya dari kayu hitam yang diukir indah. Sekujur dinding masjid dipenuhi dengan kaligrafi.  Tepatnya di tengah-tengah masjid, lampu-lampu hias yang klasik-elok menjulur-julur ke bawah.

“Kenapa dianggap tidak lapang, dan kenapa pula dianggap kurang agung?”   Tentu saja pertanyaan itu hanya disimpan dalam hatinya. Sebenarnya ia ingin berbisik, bertanya pada orang di sebelahnya. Tapi orang yang di sebelahnya dilihatnya terlalu khusyuk mendengar penyampaian orang berjanggut segan itu.  Kepalanya berulang kali mangut-mangut. Barulah Faisal sadar bahwa orang di sebelahnya bukannya menyimak tapi justru terkantuk-kantuk, bahkan mungkin tertidur, ketika sang janggut segan bertanya padanya.

“Bagaimana pak Setya, berapa Bapak akan sumbang, bukankah Bapak mau menjadi calon kepala desa dalam pemilihan tahun depan?” Apa kata khalayak kalau masjid di desa Bapak ini tidak terlihat agung dan indah. Apalagi peresmian bapak sebagai calon kepala desa kan dilakukan di masjid ini”.   Tiba-tiba terdengar orang berjanggut segan itu bertanya.

Orang di sebelah Faisal itu tersentak, mengucek sejenak matanya lalu dengan buru-buru menjawab.

“Saya siyap  50 juta saja dulu”….

“Subhanalah…..,”  terdengar serentak suara menyucikan Tuhan dari dalam masjid itu.

***

Siang itu, Faisal menyusuri kota Telaga Biru. Ia memang mendapat tugas riset tentang Kehidupan dan Keberagamaan Masyarakat Telaga Biru. Sepanjang perjalanan ia menyaksikan beberapa masjid-masjid besar yang memancang kokoh.  Ada 2 atau 3 gereja, dan 1 klenteng.  Menariknya setiap ada gereja, maka di sekelilingnya ada setidaknya dua masjid yang memancang kokoh. Seakan mengepung gereja. Gereja yang tidak seberapa besar itu pun seakan-akan tenggelam di bawah bayang-bayang kemegahan masjid.

Sementara di sekitar Klenteng juga demikian adanya. Klenteng ini terlihat memang cukup megah. Dengan ornamen-ornamen cina yang artistik, Klenteng ini tampak menantang kekudusan masjid-masjid di sekitarnya. Tetapi dua masjid yang berada di dekatnya. Memancang lebih tinggi, besar dan gagah.  Letak Klenteng ini sendiri ternyata tak jauh dari masjid yang di tempati magriban oleh Faisal,  saat hari pertama menginjakkan kakinya di kota Telaga Biru ini.

Tapi ada satu hal eh…dua hal  yang mengganggu pandangan mata dan pikiran Faisal. Pertama-tama Ia menyaksikan di sepanjang  penelusurannya di kota ini, berderet-deret rumah-rumah reyot dan kumuh. Terjepit di antara rumah-rumah besar dan mewah atau bahkan berada di sekitar naungan menara-menara masjid yang tegak memancang.   Anak-anak tak berbaju dengan perut buncit-buncit berlarian di halaman rumah mereka yang sempit.  Bisa dipastikan perut mereka yang buncit bukan karena kekenyangan, soalnya selain perutnya yang buncit, yang lain di badannya hanya tulang berbalut kulit. Beberapa yang lain memilih bermain bola di sisi jalan. Sesekali ada satu-dua di antara mereka melongok ke pekarangan masjid yang luas dan dipenuhi rumput. Sangat cocok untuk berlari-lari sambil menendang bola. Tapi tidak mungkin, pagar terkunci.  Lagi pula di situ dengan jelas ada tulisan “Dilarang Berlarian Apalagi Main Bola di Halaman Masjid.”  Masjid adalah tempat beribadah, rumah Tuhan yang Agung, bukan tempat bermain-main, meski pun itu hanya di halamannya. Mungkin begitu maksud dari larangan itu.

Selain itu, sepanjang ia menelusuri kota, Ia tidak pernah melihat lapangan bola, lapangan voli atau lapangan olahraga lainnya. Mulanya Ia menyangka, belum sekujur kota Ia jajaki. Mungkin di satu sudut ada stadion olahraga yang lengkap lapangan untuk berolahraganya. Tapi ketika Ia bertanya pada seorang anak muda soal lapangan olahraga ini, anak muda itu menggeleng. “Tidak ada…tidak ada lapangan olahraga di kota ini.  Dulunya ada tapi sudah dibangun masjid di sana. Masjid kebanggaan kota ini”.  Begitu kata anak  muda itu.

Saat menyusuri jalan-jalan kota itulah tiba-tiba Faisal kembali bertemu orang tua gila yang pernah mencari-cari masjid yang hilang. Pakaian orang tua itu tetap sama dengan yang dia kenakan saat pertama kali bertemu dengannya. Bedanya kali ini orang tua itu tidak berteriak-teriak mencari masjid. Mulutnya bungkam, tapi tangannya sibuk menempelkan kertas-kertas di dinding rumah, di pagar masjid, di tiang listrik, bahkan di punggung orang. Orang yang ditempeli punggungnya gelagapan, ngomel-ngomel dan berusaha mencabut kertas yang ditempel di punggungnya.  Orang tua gila itu sendiri hanya tertawa terkekeh-kekeh. Orang gila ini bahkan berusaha memanjat pagar sebuah masjid.  Rupanya Ia berniat menempel kertas yang dibawanya di dinding atau di papan informasi  masjid tersebut. Penjaga masjid melihatnya dan buru-buru mengusirnya.

Faisal mendekat ke salah satu kertas yang di tempel di salah satu pagar masjid. Ia tersenyum geli setelah membaca tulisan di kertas itu. “Masjid, rumah Allah, tempat merendahkan hati, kini telah ditemukan, datanglah untuk syukuran. Ba’da Ashar hari Jum’at! Jangan telat, nanti keburu raib lagi.Di bawah tulisan tadi, disebutkan alamat tempat lokasi syukuran.

Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu ikut membaca pengumuman tersebut. Faisal mendatangi salah seorang di antara mereka. Bertanya tentang lokasi dari alamat yang tertera di kertas yang dipasang di mana-mana oleh si orang tua gila.

***

Sore itu pun akhirnya datang.  Hari Jumat selepas salat Ashar di tempat yang disebut-sebut di kertas pengumuman si orang tua gila. Tidak dinyana, di sore Jumat yang muram oleh awan hitam yang mengapung lesu di angkasa, orang-orang ternyata mengular datang ke tempat itu. Entah apa yang membetot mereka berbondong-bondong ke tempat tersebut.

Faisal menelisik satu-satu orang yang datang. Rata-rata berjalan kaki. Pakaian kumal.  Satu dua memang ada pula yang berkendaraan dengan pakaian rapi jali. Tapi memang yang paling banyak berbondong-bondong datang ke tempat itu adalah para penghuni rumah-rumah kumuh lengkap dengan anak-anaknya yang berperut buncit.

Faisal mengalihkan perhatiannya ke arah lokasi yang dimaksud. Matanya mencari cari si orang tua gila. Tidak kelihatan. Yang tampak di sana adalah bangunan yang di buat dari bambu, sebagian juga ada kayu-kayunya. Atap bangunan dari daun rumbia.  “Mungkinkah itu yang dimaksudkannya masjid yang telah di temukan kembali?”  Kata Faisal dalam hati. Di depan bangunan itu terlihat beberapa tumpukan. Entah  barang apa? Tak seorang pun yang paham, soalnya tumpukan itu ditutupi terpal.

Lalu saat Faisal dan beberapa orang-orang yang semakin menyemut di tempat itu terlongo-longo menyaksikan bangunan dari bambu yang tidak jelas rupanya dan tumpukan yang tak kelihatan wujudnya, tiba-tiba dari dalam bangunan itu muncullah si orang tua gila. Ia memberi isyarat kepada beberapa orang-orang yang berpakaian kumal untuk mendekat. Mungkin mereka adalah para penghuni rumah kumuh di sepanjang kota ini, mungkin juga para sejawat gilanya. Tapi ah..sudahlah tidak usah diambil pusing. Perhatikanlah sekarang apa yang mereka lakukan. Orang-orang itu diminta membuka   tutup-tutup terpal itu.  Ketika tutup terpal pertama dibuka, ternyata isinya adalah sembako, tutup terpal kedua dibuka isinya berdus-dus mie instan, dan ketika tutup terpal ketiga dibuka isinya adalah pakaian-pakaian yang  sudah dikepak sedemikian rupa. Dua tutup terpal belum dibuka. Si orang tua gila memberi isyarat untuk membukanya. Lima orang datang membuka terpalnya, dan semua hanya bisa terheran-heran ketika ternyata di balik dua terpal itu ada dua kubah masjid.

“Hei….ternyata dua kubah masjid itu ada di sini, itu kubah masjid yang dekat klenteng yang mau dibangun lagi, pantasan dua hari yang lalu hilang”. Tiba-tiba salah seorang pengunjung yang berpakaian rapi berteriak. Semua orang berpaling padanya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah dua kubah masjid itu.

“Tak ada masjid….tak ada masjid di sana….he…he..he…”. Tiba-tiba terdengar suara si orang tua gila. Serentak perhatian orang kini beralih pada orang tua gila.

“Aku melihat dua kubah ini tergeletak  di sana, sayang sekali tidak digunakan, soalnya masjidnya ada di sini. Ya…aku bantu bawa ke sini”. Lanjut Si orang tua gila.

“Dasar orang gila.” Teriak orang berpakaian rapi tadi. Si orang tua gila yang diteriaki gila seperti tidak mendengarkan. Ia malah melanjutkan ucapannya.

“Masjid adalah tempat merendahkan hati, menghilangkan segala rasa sombong dan tempat untuk mengagungkan Allah, bukan tempat yang justru dijadikan lahan memupuk keangkuhan apalagi  untuk memperlihatkan kehebatan kelompok.”  Demikian orang tua gila itu bilang. Matanya menatap orang-orang di sekitarnya  dengan liar. Mendengar kata-kata orang tua gila itu, Faisal menjadi tertarik. Apa yang dikatakan sepertinya tidak mungkin keluar dari mulut orang gila.  Ia lantas menyeruak ke depan.  Mendekat.

“Semua masjid di kota ini telah hilang. Yang ada sekarang hanyalah tempat orang berkerumun bicara politik, tempat orang menampar harga diri dan menjatuhkan marwah orang atau kelompok lain.” Ucap orang tua gila itu lantang. Orang-orang yang hadir di tempat semakin merapat. Yang berpakaian lusuh yang paling pertama maju, lalu meski dengan agak segan-segan, orang-orang yang berpakaian rapi juga mendekat.  Mereka menyimak apa yang dikatakan orang tua yang dianggap gila itu.

“Masjid itu ternyata pindah ke sini”. Kata orang tua itu sambil menunjuk bangunan di belakangnya. “Di sinilah kubah-kubah itu akan dipasang. Masjid ini milik kita semua. Anak-anak kalian, yang perutnya besar-besar itu boleh bermain-main di halamannya. Masjid ini tidak perlu besar, tapi bisa menjadi pusat transaksi sosial. Masjid ini harus menjadi pusat keadilan sosial, setidak-tidaknya jadi tempat untuk membicarakan hal itu”  Lanjut orang tua gila ini. Faisal semakin dicengkau rasa heran mendengar ucapan-ucapan orang tua ini. Bukan hanya dia, yang lain juga terlihat terlongo-longo. Kebanyakan mungkin tidak mengerti khususnya mereka yang berpakaian lusuh-lusuh itu, tapi ada yang betul-betul terpukau. Mereka tidak menyangka orang tua yang selama ini dianggap gila bisa berkata seperti itu.

Si orang tua gila lantas menunjuk ke arah tumpukan barang-barang, pakaian, sembako dan mie instan dan berkata   “Tapi sebelum kita mulai salat di masjid ini, silakan kalian bagi barang-barang yang ada itu” .

Mendengar itu serentak orang yang berpakaian lusuh menyerbu ke depan. Lima orang yang sebelumnya membuka terpal-terpal itu dengan sigap membagikan  barang-barang yang ada di situ, sembako, pakaian dan mie-mie instan. Pembagian barang-barang itu membuat suasana riuh rendah. Orang-orang berpakaian lusuh terlihat bersemangat. Sesekali mereka bersorak dan bertempik dengan riuhnya. Faisal tersenyum-senyum melihatnya. Sementara pengunjung lain yang berpakaian rapi hanya tegak seperti orang dicengkau pesona mistis.

Matahari semakin bergerak turun, sinarnya memerah di balik selimut awan yang kelabu.  Gelap terasa lebih cepat memeluk waktu. Mungkin karena senja hari itu berkelumun awan yang pekat.

Tepat ketika hujan yang berinai-rinai luruh ke bumi, dari dalam bangunan yang dianggap masjid oleh si orang tua gila terdengar suara azan magrib.  Mengalun dengan syahdu. Tapi azan tanpa pelantam itu segera ditindih oleh azan dari menara-menara masjid yang lain yang seakan berlomba mempertunjukkan pelantam-pelantam paling canggih. Orang-orang berpakain rapi mundur teratur, lalu pelan-pelan naik ke kendaraan masing-masing, pulang ke rumah mereka  atau mencari masjid-masjid dengan suara azan dengan pelantam di menara-menara. Sementara orang-orang berpakaian lusuh itu berbondong-bondong masuk ke bangunan sederhana, yang dibangun si orang gila dan disebutnya masjid. Tempat mereka memang hanya di sana, bukan di masjid mewah-mewah yang selama ini pagarnya digembok.  Melarang mereka masuk.

Faisal masih tegak. Ia ragu apakah masuk salat ke bangunan yang tidak berbentuk masjid itu, atau ikut pulang dan salat di masjid mewah, menara menjulang dan suara pelantam yang berdentam-dentam. Azan dari dalam bangunan mengalun semakin syahdu, suara sang muazin menyusup ke telinga Faisal. Kemudian lesap ke dalam batinnya.  Sementara itu, tiba-tiba saja Faisal mendengar suara azan dari pelantam-pelantam di menara-menara masjid mewah itu, seperti suara tawa. Mulanya pelan, lalu seperti tawa terbahak-bahak. Tawa yang angkuh…!!, tapi tawa siapa?

 


sumber gambar: Tribunnews.com

Sang Penista

Matahari merangkak menuju puncaknya. Sinarnya membakar petala bumi. Dari atas panggung orasi, aku melihat beberapa orang menyingkir ke tepi halaman kantor bupati itu. Mereka mencari tempat-tempat berteduh. Sebagian terlihat bergerombol di bawah pohon mangga yang cukup rindang, tepat di sudut halaman kantor itu. Panji al-rayah yang berwarna hitam yang bertuliskan kalimat La IlaahaIllallah Muhammad Rasulullah masih terpancang, melambai ditiup angin siang yang terasa panas. Spanduk bertuliskan kalimat serupa ditambah dengan kalimat “ Menolak Calon Bupati Anu, Sang Penista Agama” terpancang di beberapa sudut. Dua spanduk besar yang dipegang oleh beberapa orang dari kerumunan massa bertuliskan kata-kata: ‘Allahu Akbar.…Mendukung si Anu Sama dengan Jihad Membela Agama’. Sementara itu beberapa bendera putih bertuliskan kalimat tauhid yang kami kenal dengan al-liwa, ikut menepi, bersama beberapa ikhwan yang memegangnya.

Aku sendiri dari atas panggung orasi, meneriakkan Allahu Akbar dengan garang. Suaraku seakan menyundul langit, menantang matahari yang garang. Entah beberapa kali kalimat itu aku teriakkan. Aku terbiasa dengan kalimat itu dalam setiap aksiku. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku merasa dengan kalimat Allahu Akbar itu, aku telah membela agamaku lewat aksi menolak si calon Bupati Anu.

Ya….si Anu, calon bupati itu, kami anggap tak pantas memimpin daerah ini. Ia seagama tapi kerap ikut kegiatan-kegiatan adat yang berbau kemusyrikan. Bagi kami yang pantas menjadi bupati itu adalah tokoh lain yang sering tampil di TV dengan kopiah dan bahkan kadang berserban. Bicaranya manis, santun, dan bijak. Sebelum pidato, biasanya ia pun berteriak Allahu Akbar.

Awal mula kami merasa si Bupati Anu adalah musuh Islam, setelah orang dekat dari calon bupati lainnya, yang bicaranya manis itu, sering mendatangi kelompok kami. Ia menceritakan bahwa calon Bupati Anu sering ikut selamatan, upacara adat, dan seterusnya.

“Calon Anu itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang mencampuradukkan adat dan agama. Ia penista agama.” Ucapnya suatu ketika.

Kalimat itu singkat, tapi cukup mendidihkan emosi keagamaan kami. “Penista agama”. Sungguh terlalu. Siapa orang yang mau dinistakan agamanya? Amarah kami meruak. Kami tidak merasa perlu lagi mencari tahu lebih dalam, benarkah si calon Bupati Anu itu menistakan agama atau tidak. Kami juga tak mau dengar penjelasan si calon Bupati Anu yang berkali-kali menyatakan di berbagai media, tidak mungkin punya niat menistakan agamanya sendiri. Bagai mantra sihir, kata penista agama yang dihembuskan itu cukup sudah menggerakkan nalar kami untuk segera beraksi.

Sejak saat itulah kami menjadi orang yang berdiri di belakang si calon bupati yang bermulut manis itu. Kami merasa membela dia sama dengan membela agama. Bukankah dia yang sedang bertarung melawan sang penista itu. Kami tahu, aksi kami sama dengan kampanye gratis bagi dia. Tapi apa salahnya. Kami telah dengan sengaja memilih membela sang tokoh santun ini. Mengarak dia dengan kalimat-kalimat suci. Memayunginya dengan bahasa agama.

Aku bersiap melanjutkan orasi, ketika ikhwan Amir datang menggamitku. Ia membisiki sesuatu. Sesaat aku tertegun mendengarnya. Tetapi selanjutnya aku lantas menyerahkan mikrofon ke ikhwan yang lain. Aku kemudian bergegas turun dari panggung orasi mengikuti jejak Amir yang telah mengegah terlebih dahulu.

“Betul yang kau katakan itu.” Tanpa basa basi saya langsung melantingkan tanya begitu saya berdiri di samping Amir.

“Ya….calon Bupati Anu sering datang melakukan acara keislaman yang dicampur dengan berbagai ritual adat itu di Desa Belimbing. Di situ ada tokoh masyarakat yang sering melakukan acara itu. Yang lebih bermasalah lagi, kabarnya tokoh masyarakat itu menyimpan berbagai benda pusaka yang disembah-sembah, tiap malam dibakarkan lampu. Tidak sembarang orang bisa melihatnya.” Amir menjelaskan dengan semangat. Entah dari mana berita itu didengarnya.

“Baik…., nanti malam kita ke sana, ajak beberapa ikhwan, kita buktikan perilaku yang menistakan agama yang melibatkan calon Bupati Anu itu.”

***

Aku menatap tajam orangtua yang ada di depanku. Daeng Tunayya, begitu ia memperkenalkan dirinya. Ia tidak menentang pandangan mataku yang garang, sebaliknya ia malah menundukkan pandangannya. Sementara sepuluh orang ikhwan yang ikut serta denganku mengambil posisi menyebar. Lima orang tegak di belakang lelaki tua itu, sementara lima lainnya duduk di sampingku. Gaya kami yang berjumlah 11 orang itu bagai pasukan yang tengah mengepung musuh. Aku yakin ia tidak akan bisa lolos jika berniat melarikan diri. Sikap kami juga aku pastikan akan membuka mulut lelaki tua ini. Ia tidak mungkin berbohong melihat sikap intimidatif kami ini.

Perlahan orang tua itu mengangkat wajahnya. Sorot matanya tenang. Tidak ada setitik kecemasan terlihat di balik sinarnya. Sebelum kalimat pertama meluncur dari mulutnya, ia terlebih dahulu melontarkan senyum. Lalu dengan ketenangan menakjubkan ia berkata:

“Jadi Ananda semua datang ke sini untuk membuktikan bahwa saya adalah orang yang telah melakukan perbuatan sesat dan menistakan agama.”

“Tidak hanya Anda, kami juga sekaligus akan membuktikan bahwa calon Bupati Anu juga sering terlibat dalam kegiatan Anda ini.” Aku menyambar dengan cepat ucapan Daeng Tunayya ini.

“Kalau hanya sekadar membuktikan bahwa calon Bupati Anu itu ikut dalam beberapa upacara selamatan saya, tak perlu ananda setegang itu. Saya bisa langsung katakan, ia memang ikut, tak hanya sekali, tapi sudah beberapa kali.”

Kami tak menyangka bahwa Daeng Tunayya ini akan langsung dengan jujur mengatakan keterlibatan Calon Bupati Anu. Mulanya kami duga, ia akan menyembunyikan kesertaan calon Bupati Anu itu dalam hajatan-hajatan yang kami anggap sebagai perbuatan menyesatkan dan menistakan agama. Tapi Daeng Tunayya langsung membabarkan begitu saja. Tanpa tendeng aling-aling. Justru karena sikapnya itu, kami beberapa jenak terkesiap bingung. Sejenak aku tergagu . Tapi segera aku berusaha memperlihatkan sikap sengit dengan langsung mengucapkan kalimat menohok.

“Ya…sudah, berarti benar kalian terbukti melakukan penistaan agama! Anda ikut saya sekarang, untuk mengakui semua perbuatan Anda dan keterlibatan calon Bupati Anu itu !”

“Tunggu dulu Ananda, siapa yang kalian tuduh menistakan agama?”

“Loh, tentu saja Anda dan calon Bupati Anu.” Kali ini yang menimpali adalah Amir, ikhwan yang menyampaikan berita ini. Daeng Tunayya berpaling sejenak ke arah Amir.

“Bagaimana kalian bisa menyatakan bahwa saya dan calon Bupati Anu, menistakan agama.” Suara Dg Tunayya masih terdengar sareh.

“Tadi Anda sudah mengakuinya.” Timpalku dengan nada tinggi .

“Maaf Ananda semua, yang mana dari pernyataan saya yang menyatakan bahwa saya dan calon Bupati Anu telah melakukan perbuatan menistakan agama?” Tanya Daeng Tunayya dengan nada berat.

“Tadi Anda menyatakan bahwa sering melakukan upacara yang juga melibatkan calon Bupati Anu itu.”

“Ya benar, tapi yang mana dari upacara kami yang dianggap menistakan agama? Apa upacara syukuran, yang kami sebut mappadekko, atau upacara permohonan keselamatan pada Yang Maha Kuasa yang kami sebut andingingi?”

“Ya…itu sudah, kedua-duanya. Itulah kegiatan kalian yang menistakan agama. Masih ingin mangkir lagi?”   Kali ini saya merasa Daeng Tunayya tidak bisa mengelak. Saya memandang ke arah ikhwan yang lain, mereka juga mengangguk-angguk membenarkan.

“Maksud Ananda sekalian mappadekko dan andingingi itu perbuatan yang menista agama?”

“Ya…perbuatan kalian itu adalah syirik, sesat, dan menistakan agama.” Ucapku tandas.

Allahu Akbar…..!!!, serentak ikhwan yang lain menimpali dengan takbir.

“Yang mana dalam andingingi itu yang sesat, sementara kami hanya mengundang semua sanak kadang untuk sama-sama berdoa kepada Allah SWT agar negeri kita, khususnya daerah ini dilimpahi berkah dan keselamatan? Yang mana pula dalam acara mappadekko itu yang menistakan agama, sementara kami hanya berkumpul memberi makan kepada seluruh handai tolan, khususnya yang tidak mampu, sekaligus kami mengucapkan syukur atas karunia Allah atas hasil panen kami.” Sahut Daeng Tunayya masih dengan sikap yang sareh. Ucapannya meluncur dengan tenang dari mulutnya.

Apa yang diutarakan Daeng Tunayya sawabnya masuk akal. Naluri kami senyatanya menerima, tidak ada yang bermasalah dengan upacara yang dilakukannya itu. Justru karena itu kami semua jadi tergagu. Melihat kami didekap keheningan, duduk membeku tanpa menimpali, Daeng Tunayya pun melanjutkan tuturannya.

“Ananda semua, sesungguhnya dibanding kalian siapalah saya, saya hanya orang kampung, sementara Anak-anakku ini adalah aktivis muda muslim. Pengetahuan agama yang saya miliki mungkin hanya sesilir bawang dari yang Ananda semua miliki. Ilmu Ananda sekalian mungkin sundul langit. Tapi jika boleh, saya ingin katakan, bahwa tradisi andingingi yang kami lakukan itu adalah ungkapan doa keselamatan untuk negeri kita. Bukankah dalam khotbah kedua di hari Jumat, doa senada juga sekali waktu dilantunkan.” Nada bicara Daeng Tunayya masih tetap datar, tak ada kesan menggurui dalam ucapannya.

Kami masih belum menimpali. Keterangan Daeng Tunayya semakin sulit kami sanggah. Daeng Tunayya melanjutkan kalimatnya satu demi satu dengan sareh. Setenang angin yang berembus sepoi-sepoi.

“Demikian halnya dengan upacara mappadekko, ananda. Itu adalah ungkapan kesyukuran, bukankah bersyukur atas karunia Allah adalah justru perintah agama.”

Aku masih bungkam, ikhwan lainnya juga masih membisu. Kami justru kehilangan ujaran, meski hanya sepatah dua kata. Kami tidak tahu harus membantah dengan kalimat apa. Tiba-tiba aku melihat ke salah satu bilik di rumah itu. Pintunya tidak tertutup rapat. Dari sela-sela pintu yang terbuka , saya melihat pendar cahaya menyeruak keluar. Aku melangkah mendekati pintu itu, tanganku meraih daunnya. Di dalam bilik itu, dua lampu diletakkan mengapit satu peti yang dipasangi kelambu. Tiba-tiba aku merasa mendapatkan bukti valid dari apa yang kami cari.

“Tengoklah….Ikhwan sekalian, inilah bukti perbuatan Daeng Tunayya yang menista agama itu. Ini benda-benda yang mereka sakralkan, bahkan mungkin benda inilah yang disembahnya dalam upacara itu.”

Serentak para ikhwan yang berjumlah sepuluh orang itu beranjak ke dalam bilik itu. Bilik yang memang tidak terlalu besar itu jadi sesak. Perlahan Daeng Tunayya juga beringsut ke dalam bilik kecil itu. Ia lalu tegak di sampingku.

“Daeng Tunayya, bukalah! Apa yang selama ini kau sembunyikan dalam peti itu ?” Ucapku, sambil menunjuk ke peti yang dipasangi kelambu itu.

Dengan anteng Daeng Tunayya membuka kelambu kecil yang digunakan sebagai sungkup dari peti tersebut. Dengan sikap yang sama, ia melanjutkan membuka peti tersebut. Begitu peti terbuka, serentak kami berebutan ikut melongok. Kami penasaran apa sebenarnya isinya. Ternyata hanya tiga kain, Merah, Putih dan Hitam. Ketika Daeng Tunayya membentangkan kain yang berwarna merah, ternyata secarik bendera merah putih. Setelah meletakkan bendera merah putih itu. Ia lalu mengambil kain yang berwarna putih. Ketika dibentangkan, hampir bersamaan kami mengucapkan “subhanallah”. Kain putih itu di tengahnya bertuliskan La IlahaIllallah Muhammad Rasulullah.

“Itu kan al-liwa, bendera putih simbol perjuangan Rasulullah.” Celetuk salah seorang ikhwan dengan spontan.

Daeng Tunayya tidak menanggapi. Ia malah membentangkan kain yang berwarna hitam. Kembali di hadapan kami terpampang secarik kain berwarna hitam, dengan tulisan warna putih La IlahaIllallah Muhammad Rasulullah. Al-Rayah, panji Rasulullah yang juga sering dibawa saat peperangan dulu.

“Itulah isi dari peti itu Ananda.” Suara sareh Daeng Tunayya memecah atmosfer yang sedari tadi beku dan sirep.

“Apakah menyimpan dengan sepenuh-penuhnya penghormatan ketiga bendera itu adalah sikap yang menistakan agama?” Daeng Tunayya melanjutkan ucapannya dengan nada tanya. Meski kelihatannya Ia tak butuh jawaban, karena selanjutnya ia pun bertutur.

“Ketiga carik kain itu kami simpan dan tak sembarang mengeluarkannya, karena kami menghormatinya, Anak-anakku. Sekali-kali kami tidak pernah berniat menyembahnya. Meski kami ini bukanlah orang yang mahir dalam hal agama, tapi kami juga paham ketiga kain itu hanyalah benda yang tidak patut untuk disembah.”

Belum ada di antara kami yang menimpali ucapan Daeng Tunayya. Justru karena itulah Daeng Tunayya meneruskan kembali kalimat-kalimatnya.

“Kami menyimpan dengan baik ketiga kain itu karena kami begitu menghormatinya. Bukankah di balik tiga carik kain itu masing-masing memiliki makna dan sejarah yang agung. Merah Putih adalah simbol perjuangan bangsa ini.Betapa banyak darah pahlawan dan ulama yang membasuhnya agar merah putih ini tetap berkibar. Ingatlah syair indah dari Guru Tua: Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan dan simbol kemuliaan kita adalah merah dan putih.

Kata demi kata mengalir dari mulut Daeng Tunayya. Kalimatnya seakan mencengkau kesadaran.Kami hanya bisa berdiri termangu-mangu. Bahkan ketika Daeng Tunayya melanjutkan ucapannya dengan suaranya yang sareh itu, serempak kami memasang telinga baik-baik.

“Sementara dua kain yang lain, kalimatnya adalah kalimat tauhid, kalimat yang paling agung yang pernah kalian tahu. Tidak pantaskah saya jaga baik-baik kalimat itu. Tidak sembarang waktu saya keluarkan.”

Daeng Tunayya menjeda sesaat kata-katanya. Ia terbatuk-batuk, mungkin karena usia tua mulai menyergapnya, sehingga tidak tahan udara dingin. Aku meliriknya diam-diam. Sosok yang bersahaja. Pakaiannya sederhana. Sehelai sarung sedikit lusuh dan baju kemeja biru yang sudah pudar warnanya. Parasnya menunjukkan, usianya sudah di ujung senja, namun wajah itu terlihat jernih bersimbur kelembutan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.

“Saat ini, Anak-anakku, sering kali kita berteriak si anu menista agama…., tapi pernahkah kita sadari jangan-jangan kitalah sang penista itu. Tengoklah ke dalam bilik sanubari kita masing-masing, apakah yang kita perbuat adalah wujud memuliakan kalimat suci itu? Dengan gegabah kita bawa-bawa tak jelas juntrungannya bendera tauhid ini. Kita arak untuk aksi yang hanya membela kepentingan politik kelompok tertentu. Bukankah dengan sikap seperti itu, justru kita yang telah merendahkan serendah-rendahnya kalimat suci ini sampai tersuruk pada kenistaan politik?”

“Tapi bukankah Rasulullah sendiri berpolitik dan menjadikan Islam sebagai landasan politiknya?” selaku tiba-tiba.

“Ya benar,….saya tidak mengatakan Rasulullah tidak berpolitik. Tapi politik Rasulullah adalah politik kemaslahatan. Islam menjadi sandaran nilainya dalam berpolitik.  Jika kalian melongok ke dalam nurani kalian yang terdalam, saya yakin Ananda semua akan sama merasakan, dalam langit politik negara kita yang kusam ini, tak ada yang sungguh-sungguh menjadikan Islam atau agama sebagai landasan berpolitiknya.” Daeng Tunayya menjeda lagi kata-katanya. Pandangannya beredar memerhatikan wajah kami satu demi satu. Melihat kami hanya tegak mematung, ia meneruskan ucapannya.

“Yang ada malah sebaliknya, agama, khususnya Islam, hanya diarak-arak untuk kepentingan politik tertentu. Agama dijadikan tunggangan. Kalimat suci hanya untuk membenarkan hasrat untuk berkuasa. Teriakan Allahu Akbar yang gelegarnya sampai menyundul langit itu kosong tak bermakna. Ia sekadar kita jadikan penyemangat nafsu berkuasa dan menyingkirkan yang lain.”

Kami masih termangu-mangu. Bahkan rasa-rasanya kalimat-kalimat Daeng Tunayya yang disampaikan dengan sareh, semakin lama justru semakin menghunjam ke dalam sanubari kami. Pikiran kami bagai dibersihkan. Dan entah bagaimana….tiba-tiba saja rasa kantuk menyergapku. Tidak hanya aku, tapi ikhwan yang lain terlihat mengalami hal yang sama. Suara Daeng Tunayya semakin lamat….samar dan akhirnya lenyap sama sekali…..

***

Kami berpandangan dengan keheranan. Aku dan sepuluh orang ikhwan yang bersamaku semalam, kini tiba-tiba berada di tengah ladang. Di ladang kecil itu ada satu kuburan dalam bangunan tak berdinding dan diatapi dengan beberapa helai seng. Aku terbangun di pagi hari ini dengan kepala bersandarkan nisan kuburan tersebut. Ikhwan yang lain bertebaran pula di sekitar kuburan tersebut.

“Kita di mana ? Mana rumah Daeng Tunayya ?” suara Amir memecah kebingungan kami.

Tidak ada yang menjawab. Kami semua memang tidak tahu berada di mana. Yang kami tahu semalam kami mendatangi rumah Daeng Tunayya. Mencari bukti penistaan orangtua itu terhadap Islam. Kemudian kami berdiskusi sengit dengan orangtua itu. Lalu kami mengantuk….dan tiba-tiba saja sekarang berada di tengah ladang, persis di samping sebuah kuburan.

“Sebentar…, itu ada orang menuju ke mari, kita bisa bertanya pada orang itu.” Aku menunjuk ke arah matahari terbit. Dari arah sana, seseorang dengan langkah-langkah yang bergegas menuju ke tempat ini. Tak lebih dari sepenginang, orang itu telah berada di hadapan kami. Ia mengangguk hormat.

“Pagi-pagi begini sudah datang ziarah Anak Muda?”

“Iya…eh anu….sebenarnya kami tidak sedang berziarah.” Aku menjawab dengan gugup. Soalnya aku sendiri tidak mengerti sedang apa di tempat ini.

Orang itu menatap kami dengan heran. Aku berpaling pada ikhwan yang lain. Mereka memberi isyarat untuk bertanya saja pada orang itu.

“Sebenarnya aku dengan para Ikhwan ini datang untuk bertemu dengan Daeng Tunayya.”

“Ya…kalian sudah ada di depan Daeng Tunayya.”

“Jadi bapak daeng Tunayya.”

“Bukan, bukan aku, tapi itu.” Orang itu menunjuk pada kuburan di belakang saya.

Bagai disentakkan tangan tak terlihat serentak kami menoleh ke arah kuburan yang ditunjuk oleh orang itu. Kami berpandangan dengan keheranan. Bukankah semalam justru kami berada di rumahnya, berjumpa dengan lelaki tua bersahaja itu. Tapi kenapa lelaki itu justru mengatakan bahwa kuburan di belakang kami adalah kuburan Daeng Tunayya.

“Maksud Bapak Daeng Tunayya sudah meninggal.”

“Ya….!. Sudah lama beliau ini meninggal. Seturut cerita orang-orang tua, Daeng Tunayyalah yang pertama mengajarkan Islam di kampung ini. Dialah yang pertama mengajar membaca Alquran. Dia pulalah yang pertama mendirikan surau yang sekarang sudah jadi masjid. Bahkan dialah yang mengajak orang-orang membuka persawahan di kampung ini. Daeng Tunayya dianggap wali oleh warga kampung ini. Makanya kami juga menamai kampung ini dengan kampung Tunayya selain Desa Belimbing.”

“Jadi…..Daeng Tunayya….sudah…lama….meninggal.” Dengan suara terbata-bata seorang ikhwan yang lain menimpali penjelasan orang ini.

Orang itu hanya mengangguk.

“Maaf Anak Muda saya harus melanjutkan perjalanan, saya akan menuju sawah saya yang ada di seberang itu.”

“Tunggu sebentar Pak, apakah Bapak kenal si Anu yang menjadi salah satu calon Bupati itu.”

“Oh….dia, ya…., dia adalah salah satu keturunan dari Daeng Tunayya. Dia juga sampai sekarang masih sering ikut dalam acara keagamaan dan upacara adat di daerah ini. Upacara yang dirintis Daeng Tunayyalah, leluhurnya.”

Kami kembali berpandangan. Ketika orang itu pamit sambil memberi salam, kami hanya bisa mengangguk dan menjawab salam orang itu dengan lemas. Setelah orang itu semakin jauh, kami pun tanpa banyak bicara meninggalkan tempat ini.

***

Siang itu aku duduk di depan TV di ruang tamu. Saya menekan tombol hitam di sudut kanan TV itu. Televisi menyala. Di layar terpampang aksi 123 yang sedang berlangsung hari itu. Aksi itu adalah kelanjutan dari aksi menuntut penodaan agama yang dilakukan si calon Bupati Anu. Di sebut aksi 123, karena dilakukan pada tanggal 12 bulan 3. Aku memindahkan ke channel lain, tapi berita yang sama juga terpampang di channel TV itu. Ah….aku tiba-tiba merasa segan melihat itu semua, sebagaimana aku merasa enggan untuk ikut aksi hari ini . Aku raih remote TV, lantas menekan tombol off-nya.

Mataku kemudian terbentur di rak TV itu. Di sana sebuah Al-Quran tampak teronggok diam. Hati saya tiba-tiba berdesir tajam. Sejak sering ikut aksi bela ini bela itu, menghantam si Anu dan si Itu, aku jarang menyentuh kitab mulia nan agung ini. Perlahan kuraih kitab tersebut. Untuk sejenak, seperti orang asing aku memandanginya lekat-lekat. Lalu dengan penuh keharuan menciumnya penuh hikmat. Selanjutnya aku mulai tenggelam dalam alunan ayat demi ayat dari kitab yang mulia ini.

Senjakala Kelisanan

Cerita rakyat kakak-beradik Ayuh (Sandayuhan) dengan Bambang Basiwara adalah salah satu babad yang paling lekat dalam bilik ingatan orang-orang Dayak-Meratus dan Banjar. Tersebutlah, ketika kepada dua orang itu diserahkan masing-masing satu kitab suci yang akan menjadi pedoman dalam hidup mereka, Bambang Basiwara sang adik mengambil kitab itu untuk selanjutnya disimpan dan dipelajari. Dari kitab itulah Bambang belajar membaca dan menulis, sekaligus memahami kehidupan secara paripurna. Dengan kitab itu pula Bambang mengenal agama.

Hal yang tidak lazim terjadi ketika kitab lainnya diberikan pada Ayuh. Demikian kitab itu ada padanya, Ayuh justru tidak menyimpan untuk kemudian membacanya, tapi Ia malah menelan kitab itu bulat-bulat.

Bambang Basiwara kelak dikemudian hari dianggap sebagai cikal bakal orang-orang Banjar, sementara Ayuh adalah moyangnya orang-orang Dayak-Meratus. Kisah ini mengiringi kontestasi dan proses perjumpaan antara Banjar dan Dayak-Meratus. Dari cerita ini sering muncul pemahaman bahwa simbol Bambang yang menerima kitab suci, menunjukkan bahwa Ia dan bangsa Banjar menerima agama langit secara formal. Sementara Ayuh justru menjadikan ajaran dan nilai agama luluh dalam dirinya, sehingga dapat dimengerti jika banyak orang-orang Dayak-Meratus yang tidak memeluk agama langit secara formal, sebab agama adalah dirinya itu sendiri dan sikap serta perilaku mereka adalah pancaran agama yang sudah menubuh.

Kisah ini juga menunjukkan bagaimana pertarungan antara keaksaraan yang diwakili oleh Bambang dan kelisanan yang diwakili oleh Ayuh. Bagi Bambang dan keturunannya yang orang Banjar itu, keaksaraan menjadi penting, karena hanya dengan itulah mereka bisa memahami kitab (kehidupan) tersebut. Namun bagi Ayuh dan keturunannya, keaksaraan tidaklah bermakna, soalnya kitab sudah ditelan dan manunggaling dengan dirinya. Maka yang penting bagi mereka untuk menjaga kitab itu tetap hidup, adalah meneruskan ke generasinya melalui tuturan. Di sini, kelisanan (oral tradition) menjadi kuncinya.

Kontestasi kelisanan dan keaksaraan dalam cerita Bambang dan Ayuh memang tidak menunjukkan secara eksplisit siapa yang keluar sebagai pemenang. Hanya saja, dari cerita ini muncul semacam stereotyping bagi Ayuh dan keturunannya, Dayak-Meratus, sebagai orang-orang yang tuna aksara dan terkesan bodoh. Namun bagi orang-orang Dayak-Meratus, tentu saja kelisanan mengatasi keaksaraan, sebab kelisananlah yang paling mungkin mewakili secara langsung kitab yang sudah menubuh tersebut. Bukankah kelisanan belum berjarak dari tubuh yang telah menelan kitab tersebut ?

Jika dalam cerita Ayuh dan Bambang tadi tidak secara tegas menunjukkan keunggulan lisan atas tulisan, maka tidak demikian halnya dalam keyakinan orang-orang Tanah Toa Kajang. Bagi mereka, kelisanan adalah puncak pengetahuan, sementara tulisan berada di bawahnya.   Cerita ini saya dengar dari Amma Toa, pemimpin adat Tanah Toa , pada suatu masa di penghujung bulan ke tujuh pada tahun 2004 . Amma Toa Puto Palasa, demikian Ia biasa dipanggil, membentangkan perbandingan antara Pasang ri Kajang yang lisan dengan kitab-kitab lontara yang ditulis. Ibarat angka, demikian Amma, Pasang ri Kajang adalah angka satu; masih lurus, murni dan belum tercemari dengan kepentingan macam-macam. Sementara kitab-kitab yang ditulis sudah seperti angka 2 atau 3, sudah bengkok, karena sudah dimasuki bermacam-macam tafsir dan kepentingan.

Dalam kisah Ayuh-Bambang dan cerita Amma Toa, perjumpaan kelisanan dan keaksaraan adalah pertarungan yang saling mereduksi antara satu dengan lainnya. Berbeda dengan itu, bagi Walter J.Ong, perjumpaan antara kelisanan dan keaksaraan tidaklah bersifat reduksional, atau pertarungan yang saling melenyapkan satu atas yang lain. Perjumpaan keduanya cenderung relasional (Walter J. Ong, 2013).   Tetapi Ong tidak bisa memungkiri, meski tidak serta merta melenyapkan, perjumpaan keduanya bergulat untuk saling mendominasi. Ada masanya di mana kelisanan yang menjadi dominan. Sebaliknya, ada pula waktunya kelisanan itu berada di bawah bayang-bayang keaksaraan.

Pada masa klasik, keaksaraan sudah tampil. Banyak naskah tulis menawan yang terbit. Walau demikian, kelisanan tetap menjadi hal yang lebih istimewa. Balogh (1926) menandaskan pada masa itu lumrah anggapan bahwa teks tertulis yang bernilai, harus dibacakan keras-keras di depan umum. Praktik membaca keras-keras (tradisi oral) ini banyak mempengaruhi gaya pustaka saat itu.   Keutamaan kelisanan ini berlanjut pada masa Renaisans, meski saat itu kertas sudah ditemukan, sehingga ide dan gagasan dengan mudah disebar melalui tulisan, namun kelisanan tetap eminen. Tulisan, hanya menjadi pendukung dari kelisanan. Kurun waktu itu adalah masanya ahli retorika dan jayanya para orator.

Ketika zaman merangkak menuju masa kemodernan, tulisan tampaknya makin berjaya. Meski tidak serta merta kelisanan itu sirna dengan sendirinya. Jejak kelisanan itu masih tampak pada abad-abad ke-19. Beberapa sastrawan, seperti Dickens membacakan novel-novel terbaiknya di atas panggung orasi. Sementara itu karya masyhur nan memikat McGuffey’s Readers yang terbit di Amerika Serikat dalam titi mangsa 1836-1920 dirancang justru bukan untuk kepentingan keaksaraan (literasi) namun untuk memperbaiki cara berdeklamasi lisan (Ong, 2013).

Namun apa yang menjadi pandangan Walter J. Ong ini, semakin ke sini, rupanya semakin sulit dipertahankan. Kini, Ong tidak bisa lagi bersikukuh bahwa keaksaraan tidaklah menyingkirkan kelisanan. Russ Rymer dalam tulisannya “Suara-suara yang Sirna” (National Geographic, 2012) menyebutkan setidaknya dalam 14 hari ada satu suara atau bahasa lisan yang pupus. Ia memperkirakan menjelang abad XXI, 7000 bahasa ibu berbasis lisan akan lesap menemui ajalnya. Rymer kemudian bercerita lebih jauh bahwa saat ini kelisanan seperti Tuva di Rusia, Aka yang digunakan di gunung Arunachal Pradesh, utara India dan Wintu di California mengap-mengap dalam gempuran bahasa yang berbasis tulisan. Tidak menunggu waktu lama bahasa-bahasa itu akan sirna dari tempatnya (Bisri, 2013).

Kenyataan ini pun terjadi di Nusantara. Pada mulanya, dalam masyarakat lokal di Nusantara, kelisanan mendapatkan tempat yang lebih unggul dibanding dengan keaksaraan. Namun seiring dengan pengenalan terhadap aksara, baik aksara yang berasal dari negeri sendiri, seperti honocoroko dan aksara lontara, maupun persentuhan dengan aksara dari luar, seperti pallawa, arab dan latin, perlahan kelisanan mulai dipinggirkan. Apalagi keaksaraan diidentikkan dengan peradaban yang lebih maju, sebaliknya kelisanan acap kali diandaikan sebagai keterbelakangan.

Tradisi lisan Nusantara seperti bahasa lokal ,cerita rakyat, pantun, atau di Bugis-Makassar ada papaseng, pau-pau ri kadong, dan parupama semakin lama semakin sirna dalam kehidupan masyarakat. Kini perlahan digantikan dengan cerita-cerita dari bacaan yang begitu mudah diakses. Lantas apa yang hilang mengiringi sirnanya kelisanan ini ? Tidakkah maraknya literasi, hanyalah tuntutan perubahan zaman. Bukankah pula kelisanan itu awet justru karena Ia dituliskan ?

Jika kita perhatikan, ternyata perbedaan antara kelisanan dan keaksaraan, bukan semata-mata soal yang satu disampaikan dalam bentuk aksara-tulisan atas peran penglihatan, dan lainnya disampaikan lewat tuturan dengan peran penting pendengaran dan hafalan. Lebih dari itu, kelisanan dan keaksaraan memiliki dunia budayanya sendiri. Menurut Walter J.Ong (2013) pola berpikir antara para pemangku kelisanan dan keaksaraan berbeda antara satu dengan lainnya.

Ciri-ciri pemikiran berbasis lisan, demikian Ong, di antaranya; Kelisanan itu aditif dan tidak subordinatif sebagaimana lazim dalam keaksaraan. Aditif berarti kelisanan jamak menggunakan kata yang menguatkan kalimat sebelumnya. Kelisanan juga agregatif. Karakter agregatif ini bertujuan untuk memicu ingatan. Dalam tradisi lisan, jika menyebut putri, tidak cukup jika tidak melengkapinya dengan putri yang cantik jelita. Demikian halnya jika menyebut prajurit, baru absah jika diujarkan dengan prajurit gagah perkasa. Dengan demikian, ungkapan lisan bukanlah satuan sederhana, tapi justru kumpulan satuan yang cenderung dianggap tidak efektif dalam tradisi keaksaraan (Walter J. Ong, 2013). Ciri agregatif ini menimbulkan kesan kelisanan ini panjang lebar dan berlebih-lebihan. Ciri lisan yang lainnya adalah sangat situasional, yaitu makna kata mendapatkan pengesahan semantik langsung kini dan di sini. Selain itu kelisanan juga tidak mengenal logika silogisme yang abstrak.

Satu hal dari ciri kelisanan yang menurut saya penting dibentangkan lebih lapang dalam tulisan ini adalah kedekatan jarak atau bahkan tidak berjarak sama sekali antara ungkapan ide dengan realitas. Para pemangku kelisanan menyampaikan ide dan gagasan tanpa beranjak dari realitas yang ingin disampaikan. Mereka menyampaikan bahasa alamnya dan suara komunitasnya. Para pemangku kelisanan tidak membangun konsep, kategori dan analisis objektif yang rumit sebagaimana para kaum melek huruf melakukannya. Kalau komunitas Sedulur Sikep-Samin menyatakan bahwa pabrik semen Kendeng membuat mereka kehilangan air untuk kehidupan mereka, maka itu bukan konsep dan hasil analisis yang ribet. Ide itu adalah realitas yang mereka lihat.

Demikian halnya Amma Toa di Tanah Toa Kajang ketika memerikan tentang Patuntung”? Alih-alih Ia menjelaskan seperti kaum melek huruf yang biasa menguraikannya sebagai konsep keyakinan, Amma justru mengatakan bahwa patuntung itu “membenturkan kepala”. Amma Toa menyatakan itu, karena demikianlah realitasnya di Tanah Toa; ketika orang membenturkan kepala disebut dengan patuntungi.

Penelitian Romanovich Luvia memperjelas hal ini. Penelitian yang dilakukan di Ubzek dan Kirghizia terhadap orang tuna aksara menunjukkan bahwa pemangku kelisanan sangat susah untuk mendefinisikan secara abstrak-konseptual objek-objek yang ditanyakan kepadanya. Mereka justru memandang aneh, misalnya, pertanyaan yang meminta mendefinisikan apa itu pohon. Mereka hanya menyatakan: “pohon itu ya…seperti yang kau lihat sekarang ini”. Bagi mereka, melihat pohon itu secara nyata, jauh lebih gamblang memberikan gambaran tentang pohon itu sendiri dari pada membuat definisi tentangnya (J. Ong, 2013).

Cara berpikir para pemangku kelisanan yang demikian ini membuat banyak antropolog menganggap mereka sebagai primitif dengan cara berpikir prelogic (Bruhl, 1923). Mereka dianggap sebagai kelompok The savage mind (berpikir liar). Di Indonesia, ungkapan-ungkapan demikian itulah yang menyertai proses gerakan anti buta huruf yang dicanangkan oleh pemerintah Orde baru dulu. Bahkan lebih dari itu, gerakan melek huruf pemerintah orde baru, berbarengan pula dengan penghancuran segenap tradisi yang berbasis kelisanan. Upacara-upacara pertanian yang dulu berlangsung marak oleh para pemangku kelisanan ini, diremukkan oleh revolusi hijau pemerintahan Orde Baru. Kebudayaan dan pola berpikir khas lisan digeser bahkan dijungkalkan dengan berbagai kebijakan oleh pemerintah.

Hamparan persoalan pun satu persatu menghampiri komunitas-komunitas lisan ini. Tanah-tanah adat mereka yang hanya ditandai dengan tanda-tanda alam, misalnya pepohonan atau sungai tidak diakui negara. Negara hanya mengesahkan tanah-tanah yang telah disahkan dengan logika keaksaraan. Misalnya tanah yang telah jelas konsep batas-batasnya, dibuktikan dengan sertifikat. Di luar itu kebanyakan diambil alih oleh korporasi atau negara. Gerakan keaksaraan yang didentumkan oleh pemerintah Orde Baru saat itu betul-betul menjadi lonceng kematian bagi kelisanan dan kehidupan yang ada di dalamnya.

Jelaslah, dengan demikian, lenyapnya kelisanan bukan hanya sekadar sirnanya kebiasaan mentransmisi pengetahuan lewat lisan, namun juga pupusnya segenap cara dan pola berpikir secara lisan. Lebih jauh lagi, adalah remuknya kebudayaan para pemangkunya dan hilangnya akses mereka terhadap tanah dan hutan.

Kini dalam rangkak abad XXI, gerakan literasi ditabuh lebih keras lagi. Dentumannya semakin menggema dahsyat. Tidak hanya pemerintah, masyarakat melalui lembaga-lembaga swadaya juga ramai-ramai menggalakkannya. Kesadaran semacam ini, patut kita apresiasi, namun dengan beberapa pertanyaan yang patut direnungkan: ‘mungkinkah gerakan literasi ini bisa mengakomodasi logika dan budaya kaum lisan’? Dapatkah digalakkan gerakan sastra lisan (oral literacy) yang tidak hanya menginventarisasi tradisi lisan yang berkembang di masyarakat tapi juga mengakomodasi gaya, logika dan budaya lisan itu ke dalam tulisan. Bisakah pula muncul pengakuan terhadap logika-logika kelisanan sebagai cara berpikir yang benar untuk menentukan hidup masyarakat pemangkunya?  Dengan itu kita berharap bahwa gerakan literasi bukanlah upaya untuk melenyapkan kelisanan, tapi justru untuk menguatkannya. Keduanya, seperti dikatakan oleh Ong, berjumpa dalam hubungan yang saling mendukung dan bukannya saling mereduksi.