Semua tulisan dari Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Di Balik Hari Jadi Bone yang Ke-689

6 April 2019, Kabupaten Bone memperingati hari jadinya—sebagai hari jadi Bone—yang ke 689 tahun. Usia yang teramat tua dan teramat matang, jika kita menarik mundur maka daerah ini “lahir” pada tahun 1330. Jikalau demikian, maka timbul suatu pertanyaan! Mengapa tanggal “6” bulan “April” dan tahun “1330” dijadikan sebagai patokannya?

Dipilihnya tanggal, bulan, dan tahun tersebut bukanlah tanpa sebuah alasan, tanggal 6 bulan April merupakan hari dilantiknya Lapatau Matanna Tikka MatinroE ri Nagauleng sebagai Raja Bone XVI. Raja Bone tersebut merupakan kemenakan tersayang dari sosok legend bagi masyarakat Bone dan bagi orang Bugis pada umumnya, yakni Latenri Tatta Datu Mario Arung Palakka MatinroE ri Bontoala Raja Bone XV[1] sedangkan  tahun 1330 merupakan tahun awal memerintahnya Raja Bone I yang bernama MatasilompoE MannurungngE ri Matajang. read more

Pada Tempo Doeloe, Padoeka Toean Djuga Menenggak Minoeman Keras

Sudah hampir dua pekan saya menghabiskan waktu di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang beralamtakan di Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 14. Musabab saya sering ke tempat tersebut tak lain dan tak bukan dikarenakan riset tesis, yah! Saya sedang menyusun tesis berjudul “Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Komoditas Beras di Sulawesi Selatan pada Tahun 1946-1950” dan untuk mengungkap peristiwa sejarah di kisaran tersebut tak lain dan tak bukan saya harus “membongkar” arsip-arsip yang berkenaan dengan riset saya.Tapi, bukan masalah tesis saya yang ingin disinggung dalam tulisan ini, melainkan perjumpaan saya dengan Muhammad Awal. read more

Menegok Sejenak Sebuah Kisah Awal dari Pembangunan Bendungan Bili-Bili

Sudah beberapa hari ini nama Bendungan Bili-Bili begitu tenarnya. Musababnya stasiun televisi swasta nasional menguritkan bencana banjir yang melanda Sulawesi Selatan yang di mana salah satu penyebabnya adalah meluapnya air di Bendungan Bili-Bili, sehingga pintu bendungan terpaksa dibuka dan membuat arus dan volume air meningkat di sepanjang Daerah Aliaran Sungai Je’ne Berang.

Selain itu curah hujan yang begitu derasnya—sedari 21 Januari hingga 23 Januari 2019—mengguyur Sulawesi Selatan memperparah banjir yang terjadi di Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Je’ne Ponto, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, dan Kota Makassar. Salah satu daerah yang paling parah terkena dampak adalah Kabupaten Gowa. read more

Sebongkah Kisah di Bulan Desember yang Basah

Di kedai kopi ini kulihat butiran hujan sedang bercumbu dengan jendela dan sejenak kemudian ingatanku terbayang olehnya.

***

Ingatanku kembali ke masa itu, kala saya jatuh hati pada seorang gadis pemilik senyuman yang indah, seindah mentari pagi yang terbit di celah bukit hijau nun ufuk timur sana. Pertama jumpa padanya saat kongkow-kongkow di kedai kopi langganan, kala itu ia mengenakan sweter hitam dipadupadankan dengan celana jeans tiga perempat dan sepatu kets. Gadis itu sedang asyik-masyuk duduk di dekat jendela dan menikmati secangkir cappuccino. read more

Lamuru: Riwayatmu Dulu, Riwayatmu Kini

Lamuru dapat saya katakan sebagai kerajaan yang tenggelam!

-Ahmadi, Juru Rawat Situs Kompleks Makam Raja-Raja Lamuru-

17 Oktober 2018, kala itu senja telah menyapa Kecamatan Lamuru—salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bone—keheningan sejenak mendekap tempat tersebut, angin berhembus pelan, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan rerumputan hijau yang dinaungi sebatang pohon yang teramat besar. Tak jauh dari tempat tersebut, dengan jarak selemparan batu membentang makam yang menghadap dari arah utara ke selatan dan berjejer dari barat ke timur. Jejeran makam itulah yang dikenal sebagai kompleks pemakamam Raja-Raja Lamuru. read more

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java. read more

Hikayat Perberasan di Bandar Niaga Somba Opu pada Abad XVI dan XVII

Masyarakat di Sulawesi Selatan sejak dahulu dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Berdasarkan catatan pengelana Portugis, penduduk dari negeri ini telah melakukan suatu perniagaan dan menjalin kontak dagang dengan masyarakat (pedagang) di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan tempat-tempat di antara Siam dan Pahang. Tome Pires dalam catatannya menggolongkan pedagang-pedagang dari wilayah tersebut dalam dua golongan. Golongan yang pertama mencakup para pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan dengan membawa beras putih dan sedikit emas. Sedangkan golongan kedua ialah mereka yang berlayar atau berniaga dengan membawa istri mereka dan melakukan perampokan—dan tentunya menjual barang rampokan tersebut, terkadang pula mereka menawan budak. Jika dikaitkan pemberitaan dengan budaya di negeri-negeri tersebut, maka jelas bahwa kelompok yang dimaksud adalah Bajo atau Sama (penduduk aquatik), sementara yang lainnya adalah orang Makassar, Bugis, Mandar, dan Selayar.[1] read more

Bioskop di Kota Makassar

Bagi warga kota atau mereka yang bermukim di sekitaran kawasan perkotaan, biasanya punya kegiatan untuk menghilangkan penat dan rasa suntuk dari beban pekerjaan yang berat. Biasanya mereka (warga kota) akan mencari satu sarana hiburan untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Bisa berkaraoke ria di rumah bernyanyi, menikmati semilir angin di pantai, pun bisa memanjakan mata dengan menyaksikan film di bioskop. Nah! saya, kalau lagi suntuk dan punya rezeki berlebih, maka bioskop bisa jadi sarana untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Bioskop dapat dikatakan sebagai salah satu wadah hiburan bagi masyarakat di Indonesia, terutama bagi mereka yang bermukim di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan termasuk di dalamnya Kota Makassar. read more

Sepotong Kisah Tentang Saya, Aslam, dan Kota Makassar

Pernah satu waktu saya bersua dengan seorang kawan bernama Aslam Nanda Rizal, kenalan saya di Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI). Beliau adalah seorang alumni dari Ilmu Sejarah UGM.

Kala itu, Aslam menghubungi saya melalui chat media sosial. Beliau meminta kesediaan saya untuk membunuh waktu suntuknya—maklum saat itu kawanku suntuk, pesawat yang ditumpanginya transit selama empat jam di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Maka sebagai kawan yang baik, maka kuiyakan pintanya, jadilah saya menjadi pemandu wisata dadakan—berpusing-pusing ria di Kota Makassar. read more