Semua tulisan dari Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Lamuru: Riwayatmu Dulu, Riwayatmu Kini

Lamuru dapat saya katakan sebagai kerajaan yang tenggelam!

-Ahmadi, Juru Rawat Situs Kompleks Makam Raja-Raja Lamuru-

17 Oktober 2018, kala itu senja telah menyapa Kecamatan Lamuru—salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bone—keheningan sejenak mendekap tempat tersebut, angin berhembus pelan, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan rerumputan hijau yang dinaungi sebatang pohon yang teramat besar. Tak jauh dari tempat tersebut, dengan jarak selemparan batu membentang makam yang menghadap dari arah utara ke selatan dan berjejer dari barat ke timur. Jejeran makam itulah yang dikenal sebagai kompleks pemakamam Raja-Raja Lamuru. read more

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java. read more

Hikayat Perberasan di Bandar Niaga Somba Opu pada Abad XVI dan XVII

Masyarakat di Sulawesi Selatan sejak dahulu dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Berdasarkan catatan pengelana Portugis, penduduk dari negeri ini telah melakukan suatu perniagaan dan menjalin kontak dagang dengan masyarakat (pedagang) di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan tempat-tempat di antara Siam dan Pahang. Tome Pires dalam catatannya menggolongkan pedagang-pedagang dari wilayah tersebut dalam dua golongan. Golongan yang pertama mencakup para pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan dengan membawa beras putih dan sedikit emas. Sedangkan golongan kedua ialah mereka yang berlayar atau berniaga dengan membawa istri mereka dan melakukan perampokan—dan tentunya menjual barang rampokan tersebut, terkadang pula mereka menawan budak. Jika dikaitkan pemberitaan dengan budaya di negeri-negeri tersebut, maka jelas bahwa kelompok yang dimaksud adalah Bajo atau Sama (penduduk aquatik), sementara yang lainnya adalah orang Makassar, Bugis, Mandar, dan Selayar.[1] read more

Bioskop di Kota Makassar

Bagi warga kota atau mereka yang bermukim di sekitaran kawasan perkotaan, biasanya punya kegiatan untuk menghilangkan penat dan rasa suntuk dari beban pekerjaan yang berat. Biasanya mereka (warga kota) akan mencari satu sarana hiburan untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Bisa berkaraoke ria di rumah bernyanyi, menikmati semilir angin di pantai, pun bisa memanjakan mata dengan menyaksikan film di bioskop. Nah! saya, kalau lagi suntuk dan punya rezeki berlebih, maka bioskop bisa jadi sarana untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Bioskop dapat dikatakan sebagai salah satu wadah hiburan bagi masyarakat di Indonesia, terutama bagi mereka yang bermukim di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan termasuk di dalamnya Kota Makassar. read more

Sepotong Kisah Tentang Saya, Aslam, dan Kota Makassar

Pernah satu waktu saya bersua dengan seorang kawan bernama Aslam Nanda Rizal, kenalan saya di Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI). Beliau adalah seorang alumni dari Ilmu Sejarah UGM.

Kala itu, Aslam menghubungi saya melalui chat media sosial. Beliau meminta kesediaan saya untuk membunuh waktu suntuknya—maklum saat itu kawanku suntuk, pesawat yang ditumpanginya transit selama empat jam di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Maka sebagai kawan yang baik, maka kuiyakan pintanya, jadilah saya menjadi pemandu wisata dadakan—berpusing-pusing ria di Kota Makassar. read more

Arajang-Kalompoang: Pengertian dan Esensi

Ada satu kisah menarik ketika saya berkunjung ke Museum Balla Lompoa di Sungguminasa, saat itu saya bersama Erwin Djunaedi—alumni Ilmu Sejarah UGM—dan Jabal—alumni Sastra Daerah UNHAS—melihat-lihat koleksi museum, bola mata Erwin Djunaedi yang dari Yogyakarta itu begitu takjub melihat tombak, parang, klewang, badik, kain, serta ornamen-ornamen yang terdapat di dalam museum. Adapun Jabal hanya berkespresi biasa—mungkin lantaran keseringan mengunjungi museum Balla Lompoa.

Setelah asyik menyaksikan koleksi museum, pengelola dan juru rawat Museum Balla Lompoa kemudian mengajak kami memasuki ruangan khusus di bagian belakang, ruangan yang diberi teralis dan digembok. Ketika kami diijinkan memasuki ruangan tersebut, sepasang bola mata Jabal dan Erwin Djunaedi berbinar melihat adikarya Museum Balla Lompoa, yakni Salokoa—mahkota Kerajaan Gowa. read more

Sekilas Tentang Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan Pasca Perjanjian Bongaya[1]

Pernah satu waktu saya bersua dengan saudara Erwin Djunaedi—lelaki dari Kabupaten Wajo yang berkebetulan menjadi seorang duta museum Yogyakarta—pada satu masa di bilangan Makassar, kala itu kawan saya yang alumni Ilmu Sejarah UGM itu memintaku untuk mengajaknya berkeliling Kota Makassar, mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota para daeng. Wal hasil saya membawanya ke sebuah tempat yang dikatakan kawasan Kota Tua Makassar, sebuah daerah yang dahulunya bekas Staatsgemente Macassar[2] yang kini bagian dari Kecamatan Ujung Tanah (di sebelah utara) hingga Kecamatan Mamajang (selatan jalan Veteran Selatan). read more

Karaeng Pattingalloang dan Kecintaannya terhadap Ilmu Pengetahuan

“Bola dunia itu, perusahaan Hindia Timur mengirimkannya ke istana Pattingngalloang yang agung, yang otaknya menyelidik ke mana-mana dan menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil, kami berharap tingkat kekuasaannya memanjang dan mencapai kutub yang satu dan yang lainnya. Agar keuzuran waktu hanya melapukkan tembaga itu bukan persahabatan kita.”

-Joost van den Vondel-

Itulah spenggal syair kekaguman yang diutarakan seorang dramawan dan misionaris asal Negeri Belanda kepada salah seorang bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, yakni Karaeng Pattingalloang—Mangkubhumi Kerajaan Gowa (Kesultanan Makassar). read more

150 Kilometer Setelah Tujuan: Sebuah Catatan Perjalanan

Awal November tahun 2017 itu, tepatnya Sedari hari Jumat hingga Ahad, saya berkesempatan menyambangi tiga kabupaten sekaligus: Maros, Bone, dan Soppeng. Yah, untuk kesekian kalinya raga ini bersua dengan peninggalan-peninggalan budaya, sejarah, dan pranirleka di sana. Setahun lalu juga saya pernah ke daerah-daerah tersebut—melihat pesona Pranirleka Gua Prasejarah Leang-Leang yang berada di Kabupaten Maros, mentadaburi sejarah Kerajaan Lamuru melalui perantara Makam Raja-Raja Lamuru di Kabupaten Bone, dan berpusing-pusing ria (meminjam bahasa melayu) menyaksikan peninggalan budaya dan sejarah di Kabupaten Soppeng. read more

….Ada Kisah Tentang Makassar yang Berulang Tahun….

Ada seorang lelaki yang sedang asyik duduk di Pantai Losari, menatap semburat senja tentunya. Sebutlah lelaki itu Kamaruddin, di bahunya bersandar seorang gadis berkulit putih dengan rambutnya yang ikal bergelombang ibarat—kalau orang Bugis-Makassar menyebutnya—bombang silellung. Sebutlah gadis itu Ona Mariona atau dipanggil Ona. Lelaki dan gadis itu tentunya sedang merenda kasih dan asmara, sembari berpacaran tetiba saja sepasang sejoli yang lain juga ikut duduk-duduk di dekatnya, kemudian terlibat suatu pembicaraan. read more