Semua tulisan dari Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java.

Kalau diingat-ingat, perkenalanku dengan Riki bisa dikatakan ‘iseng-iseng berhadiah’. Kala itu saya sedang asyik melihat-lihat story Instagram (IG) followers-ku. Karena suntuk, saya coba mengetik sebuah nama di bilah pencari. Nama yang kuketik ialah ‘Riki’. Yap, lelaki yang kelak menjadi kekasihku itu.

“Oke juga nih,” sahutku kemudian mencoba melihat dengan seksama story-story Instagram serta time-line IG-nya, kulihat Riki nampaknya gandrung akan sastra dan alam. Ia sangat senang membuat caption tentang senja, hujan, hutan, lembah, dan kesemuanya dimuarakan pada satu kata “cinta”. Salah satu caption IG-nya yang menurutku begitu menyentuh ialah sebuah pemandangan lembah yang diselimuti guyuran hujan. Di situ, ia menuliskan caption seperti ini : aku ingin menjadi hujan, agar jatuh di hatimu dan kau tak bisa mengelak.

Dari situlah saya mulai mem-follow IG Riki dan memerhatikan setiap captionnya. Oh iya, bicara permasalahan wajah?! Riki boleh dikata punya rupa yang lumayan, mengingatkanku pada artis Korea, kalau tak salah namanya Jimin, salah seorang pentolan Bangtangboys.

Seperti kata pepatah Jawa waitingtresno jalane soko kulino yang artinya cinta datang karena terbiasa. Perasaan itu mulai bertambat di hatiku kala saya terbiasa melihat-lihat hasil jepretan dan caption yang wau di IG-nya. Olehnya itulah kuberanikan diri untuk mengirimkan pesan via chat-IG.

“Hai, perkenalkan, nama saya Faradiba. Saya suka dengan foto dan caption di IG-mu.”

Begitulah chat pembukaku padanya, seperti gayung bersambut, Riki membalas pesanku

“Oh iya. Salam kenal, namaku Riki dan terimakasih atas apresiasinya.”

Hanya mendapat balasan dari Riki entah kenapa saya menjadi senang. Mungkin di luar nalar saya bisa jatuh hati dengannya—hanya lantaran caption dan jepretan—tapi begitulah kenyataannya. Lalu saya dan Riki mulai intens saling bertukar kabar, mulai dari sekadar “say hello” , “udah makan belum?”, hingga menjerumus ke hal-hal yang cukup pribadi. Tak puas dengan berkirim pesan, kami pun mulai saling teleponan via Whatsapp (WA), lalu mengobrol lewat video call di WA. Bahkan, pernah di beranda rumahku kutemukan tergeletak kartu pos bergambarkan pemandangan Kota Bandung di subuh hari, tentunya sebuah untaian kata indah tersematkan di balik kartu pos itu. Hingga pada satu hari, melalui pesan WA, dia menanyakan alamat rumahku.

“Faradiba, kalau berkenan, boleh nggak aku minta alamat rumahmu?!” Tanya Riki melalui pesan WA.

“Untuk apa?!” tanyaku seolah jual mahal, padahal senangnya bukan kepalang.

“Ada deh….!” Jawabnya singkat. Dan saya pun mengirimkan alamat rumahku.

Yah tanpa dinaya, Riki datang mengunjungiku, langsung dari Bandung. Di Bandara Internasional Hasanuddin ia mengabari kedatangannya, seolah tak percaya saya hanya menimpali dengan kata, “kalau Riki benar di Makassar, coba nampakkan batang hidungmu di depan rumahku? Bukankah pernah kukirimkan alamat kepadamu?!.

Yah seperti sinema di teve ia sungguh datang ke rumahku. Saya masih ingat kala itu rembulan telah mendekap malam, mungkin sekitar pukul 20.00 pintu rumahku diketuk kemudian disusul ucapan salam beberapa menit setelahnya.

Waalaikumsalam, ya tunggu,” sahutku singkat. Kemudian pintu kubuka dan nampaklah sesosok pria dengan tinggi 177 sentimeter mengenakan blazer biru gelap dan celana cino hitam, wajahnya putih cerah, lelaki itu mengulas senyuman sembari berkata “Faradiba yah?! Saya Riki….”

***

Malam semakin larut, kedai kopi yang kukunjungi semakin ramai. Beberapa pemuda-pemudi sedang asyik bercengkramah satu sama lain. Yah sekira duabelas pasang lah. Wah ramai juga yah. Mungkin karena malam ini malam minggu.

Oh iya, saya lupa memberitahukan kepadamu. Saat Riki datang kala itu sontak saja, saya menutup mulutku dengan kedua tangan, seolah tak percaya bahwa lelaki di depanku adalah Riki, lelaki yang diam-diam kukagumi dan you know-lah what I mean. Dan kamu mungkin tak percaya, bahwa ia lebih tampan tinimbang di foto-foto IG-nya. Singkat kata hubungan kami saat itu semakin akrab dan hangat. Ia juga menyatakan perasaannya padaku. Tentu saja perasaan itu kuterima dengan hati berbunga-bunga. Kurang lebih ia seminggu berada di Makassar dan selama itu pula tercipta kenangan yang begitu manis. Setelah itu? Yah seperti yang telah kujelaskan kepadamu, long distance realionsip. Hubungan itu berlangsung hingga setahun lebih.

“Sudah lama menunggu?” sahut seorang lelaki yang membuyarkan lamunanku. Sontak saya menoleh ke sumber suara. Rupanya ialah Riki, lelaki yang kuceritakan kepadamu.

“Oh Riki?!” sahutku kemudian berdiri menjabat tangannya.

Lelaki itu kemudian mengambil posisi duduk di hadapnku. Wajahnya masih seperti yang dulu, tetap memesona. Kulihat Riki hanya mengulas senyuman mendengarkan penuturanku, sesekali sepasang bola matanya menuding pada sebuah undangan pernikahan, yah undangan perniakahan yang kita alamatkan kepadanya……

Sunggguminasa, di Kantin Sekolah 13 Oktober 2018

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/drawrepulser/art/Afternoon-Cafe-748905730

Hikayat Perberasan di Bandar Niaga Somba Opu pada Abad XVI dan XVII

 

Masyarakat di Sulawesi Selatan sejak dahulu dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Berdasarkan catatan pengelana Portugis, penduduk dari negeri ini telah melakukan suatu perniagaan dan menjalin kontak dagang dengan masyarakat (pedagang) di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan tempat-tempat di antara Siam dan Pahang. Tome Pires dalam catatannya menggolongkan pedagang-pedagang dari wilayah tersebut dalam dua golongan. Golongan yang pertama mencakup para pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan dengan membawa beras putih dan sedikit emas. Sedangkan golongan kedua ialah mereka yang berlayar atau berniaga dengan membawa istri mereka dan melakukan perampokan—dan tentunya menjual barang rampokan tersebut, terkadang pula mereka menawan budak. Jika dikaitkan pemberitaan dengan budaya di negeri-negeri tersebut, maka jelas bahwa kelompok yang dimaksud adalah Bajo atau Sama (penduduk aquatik), sementara yang lainnya adalah orang Makassar, Bugis, Mandar, dan Selayar.[1]

Berdasarkan gambaran dari Tome Pires[2] bahwa jaringan perdagangan Sulawesi Selatan telah berkembang setidaknya pada Abad ke XVI—di mana salah satu komoditi yang diperdagakan menurut Pires adalah beras. Perkelindaan para pedagang-pedagang Sulawesi Selatan dalam dunia pelayaran niaga dimungkinkan oleh keadaan pesisir Sulawesi Selatan di Abad ke XVI. Paruh awal abad ke XVI di pesisir Sulawesi Selatan telah terbentuk kota-kota pelabuhan atau bandar niaga seperti: Siang (Pangkajene), Bacukiki, Suppa, Nepo (Balanipa), Tallo, dan Somba Opu.[3] Bandar niaga inilah yang dimanfaatkan penduduk dan penguasa setempat untuk memasarkan komoditi andalannya di mana salah satunya adalah beras.

Keterlibatan penduduk di kota-kota pelabuhan tersebut kiranya mengingatkan pada pernyataan Alfred Thyan Mahan, yang menyatakan :apabila keadaan pantai suatu negara memungkinkan penduduknya turun kelaut, mereka akan lebih bergairah untuk mencari hubungan keluar melalui laut. Dorongan untuk menjalin hubungan dengan wilayah luar berkaitan dengan kecenderungan penduduknya untuk berdagang yang pada gilirannya akan melibatkan kebutuhan untuk memproduksi barang dagangan.[4] Pernyataan ini menempatkan keadaan geografi sebagai faktor keterlibatan penduduk dalam dunia kemaritiman, khususnya dalam kaitannya dengan dunia perdagangan, termasuk perdagangan beras. Itulah sebabnya tercatat—dalam berbagai catatan atau literature—bahwa para pedagang asing dalam jumlah besar telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di daerah tersebut.

Kehadiran pedagang luar ke pelabuhan di wilayah Sulawesi Selatan pada masa itu berpengaruh terhadap kebijaksanaan pemerintah setempat. Kerajaan yang memiliki ambisi yang besar untuk dapat mengawasi kegiatan perniagaan di kawasan Sulawesi Selatan adalah kerajaan Gowa-Tallo atau lazim disebut Kerajaan Makassar. Sekadar catatan, musabab bersatunya dua kaerajaan ini selain merekatkan hubungan antara Raja Gowa dan Tallo yang pernah renggang juga mencanangkan usaha penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan pesisir dan kerajaan agraris yang potensial di jazirah Sulawesi. Kebijaksanaan itu berakibat pada kota pelabuhan-pelabuhan kerajaan taklukkan menjadi sirna. Walhasil, kota pelabuhan di Kerajaan Makassar Makassar berkembang menjadi pusat perniagaan Jazirah Sulawesi.[5] Selain itu, Pemusatan kegiatan penduduk yang bergiat dalam dunia niaga/perdagangan di kawasan Makassar akhirnya berhasil menempatkan kota pelabuhan tersebut sebagai pusat perniagaan dan pelabuhan transito terbesar di Nusantara dalam paruh Abad XVI dan Abad XVII.[6]

Sekadar catatan tersendiri, Pelabuhan Makassar atau Bandar Niaga Somba Opu baru memperlihatkan gejala pertumbuhan dengan pesat pada pertengahan abad XVI, kemudian meningkat lagi perkembangannya di awal abad XVII.  Pertumbuhan itu sangat dipengaruhi oleh dorongan pertumbuhan internal maupun pengaruh situasi perkembangan niaga dari luar. Pertumbuhan  internal bersumber dari adanya “ambisi” penguasa kerajaan Gowa-Tallo untuk mengembangkan bandar niaganya sebagai satu-satunya pelabuhan dagang dan pusat perdagangan di wilayah tersebut.[7]

Sedangkan dorongan pertumbuhan dari luar antara lain disebabkan: Pertama, terjadinya pergeseran kegiatan perniagaan ke wilayah timur mengikuti situasi perkembangan politik di Nusantara, yakni sejak jatuhnya Malaka pada tahun 1511 dan dikuasainya jaringan perdagangan Selat Malaka untuk beberapa waktu oleh orang-orang Portugis. Ihwal tersebut menyebabkan banyak pedagang-pedagang dari Malaka mengalihkan perdagangannya, salah satunya ke Makassar atau Pelabuhan Somba Opu.[8] Kedua, hadirnya sekelompok pedagang asing untuk menjadikan Pelabuhan Makassar sebagai koloni dagang dan mengalihkan perdagangan mereka ke Makassar. [9]

Pilihan pada pelabuan ini di samping letaknya strategis, sikap penguasa di bandar ini sangat terbuka bagi kehadiran pendatang asing dan tidak membatasi perdagangan di wilayahnya. Hal ini tak mengherankan karena kerajaan ini menerapkan politik terbuka (mare liberum) dalam dunia perdagangan pada abad XVII.[10]

Para pedagang yang berdatangan dari berbagai suku bangsa ke pelabuhan ini masing-masing membawa komoditi perdagangan andalannya. Pedagang Asia seperti Melayu, Cina, India, dan Arab membawa kain tenun, kain sutera, porselen, barang pecah belah dan perhiasan. Sedangakan pedagang Portugis membawa pakaian. Menurut memorandum Belanda tentang perdagangan di Nusantara tahun 1603, bahwa tiap-tiap tahun kapal Portugis ke Somba Opu (Makassar) membeli pala, bunga pala, dan budak. Semua pembelian tersebut ditukarkan dengan pakaian.[11]

Kemudian bagi penduduk pribumi, hasil utama yang diperdagangkan di bandar niaga Somba Opu adalah komoditi beras dari daerah pedalaman. Maros dan Takalar adalah daerah pedalaman yang subur sebagai daerah produksi beras, sedang Bantaeng dikenal sebagai lumbung beras Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar). Demikian pula dengan kerajaan Bugis seperti Bone, Wajo, dan Soppeng, merupakan kerajaan agraris yang menghasilkan beras. Bahkan menurut Anthony Reid di tahun 1610 daerah Maros menghasilkan beras tidak kurang dari 1000 ton tiap tahun.[12] Bahkan seorang Belanda yang pernah mengunjungi Makassar pada permulaan abad XVII mengungkapkan ketakjubannya terhadap kesuburan dan keindahan wilayah ini:

“Wilayah Makassar dari laut terlihat sebagai daerah yang paling subur dan paling menyenangkan. Wilayah ini berupa daratan, indah, hijau, dan tidak begitu tertutup hutan seperti daerah-daerah lain di Hindia; penduduknya sangat padat. Makassar adalah daerah persawahan indah, di mana-mana padi tumbuh; hal ini dapat dilihat jika berlayar menyusuri pantai, terutama pada bulan Maret, April, Mei, dan Juni. Lebih ke dalam lagi terdapat kebun kelapa yang indah. Pohon ditanam berjejer-jejer teratur dan daunnya yang rindang melindungi orang dari terik matahari”.[13]

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kegiatan niaga di daerah ini  erkembang karena didukung oleh potensi penduduk Sulawesi Selatan yang bergerak di bidang agraris dan maritim, pun berkelindaan dengan potensi wilayahnya yang subur dan sangat baik untuk ditanami padi. Bahkan, ketika pemerintahan kolonial Belanda menancapkan kukunya di wilayah ini (sejak tahun 1667) kegiatan pertanian dan perdagangan beras pun masih tetap berlanjut dan menjadi salah satu penggerak urat nadi perekonomian di jazirah Sulawesi.

Daftar Rujukan

Anwar, Muhammad Vibrant. 1993. Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar: Studi Kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653, Skripsi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Poelinggomang, Edward L., 2002. Makassar Abad  XIX Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation.

————————————— 2011. Padewakang dan Pinisi Kajian Kemaritiman Sulawesi Selatan, dalam Jurnal IKAHIMSI Edisi I, No.2, Juli-Desember. Palu: Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Ombak.

Hamid, Abd. Rahman. 2013. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

M.A.P., Melink Roelofs dalam Yuliani Umar. 1990. Bandar Somba Opu Sebagai Sumber Penghasilan Kerajaan Gowa Sampai Tahun 1667, Skripsi. Jakarta: Fakults Sastra Universitas Indonesia.

Maryam, Siiti. 1999. Perdagangan Beras Di Sulawesi Selatan Tahun 1930-1940, Skripsi. Ujung Pandang: Fakultas Sastra Hasanuddin.Pires, Tome. 2014. Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Fransisco Rodrigeus. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

[1] Edward L Poelinggomang, Padewakang dan Pinisi Kajian Kemaritiman Sulawesi Selatan, dalam Jurnal IKAHIMSI Edisi I, No.2, Juli-Desember (Palu: Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Ombak, 2011) hlm. 49

[2] Salah satu karya termahsyur Tome Pires adalah Suma Oriental, Suma Oriental que trata do Mar  Raxo ate aos Chins (Ikhtisar Perjalanan Wilayah Timur dari Laut Merah Hingga Negeri Cina), karya ini ditulis Tome Pires pada tahun 1512-1515 yang berisi informasi kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara di Abad ke XVI termasuk wilayah Indonesia (Nusantara). Karya Tome Pires dicetak ulang oleh Penerbit Ombak dengan judul Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Fransisco Rodrigeus. (Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2014).

[3] Edward LPoelinggomang, Makassar Abad  XIX Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2002) hlm. 23-26

[4] Edward LPoelinggomang, Op.,Cit. Hlm. 50 lihat Pula Abd. Rahman Hamid, Sejarah Maritim Indonesia (Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2013)

[5] Ibid

[6] Edward LPoelinggomang Loc.Cit

[7] Muhammad Vibrant Anwar, Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar: Studi Kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653, Skripsi  (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1993) hlm. 84

[8] Jatuhnya Malaka di tangan portugis di tahun 1511 membuat kegiatan perniagaan yang awalnya berpusat di Malaka bergeser ke daerah tanah Jawa yakni pesisir Jawa timur, akan tetapi adanya serangan dari Mataram mengakibatkan pesisir Jawa Timur tidak aman, peperangan terus menerus berlangsung antara Jawa Timur (bekas wilayah pengaruh Kerajaan Majapahit) dan Jawa Tengah (Kerajaan Mataram), antara tahun 1600-1625 yang menandai kemunduran bagi perdagangan melalui pesisir Jawa Timur beralih ke Bandar Somba Opu (Makassar). Kegiatan perdagangan di bandar Somba Opu (Makassar) memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi Kerajaan Gowa (di Abad ke XVII Kerajaan Gowa telah menguasai wilayah Sulawesi Selatan) posisi yang strategis sebagai bandar transito mendorong daerah tersebut untuk memproduksi komoditi perdagangan (salah satunya beras) serta mendatangkan dari daerah sekitarnya (Maros, Pangkep, Bone, Bantaeng dan beberapa daerah pedalaman)

[9] Muhammad Vibrant Anwar, Op.,Cit. Hlm. 85-86.

[10] Siti Maryam, Perdagangan Beras Di Sulawesi Selatan Tahun 1930-1940, Skripsi  (Ujung Pandang: Fakultas Sastra Hasanuddin, 1999) hlm. 84

[11] M.A.P., Melink Roelofs dalam Yuliani Umar, Bandar Somba Opu Sebagai Sumber Penghasilan Kerajaan Gowa Sampai Tahun 1667, Skripsi (Jakarta: Fakults Sastra Universitas Indonesia, 1990) Hlm. 47

[12] Ibid, Hlm. 49

[13] Edward L. Poelinggomang. Op.,Cit. Hlm. 15

 

 

 

Sumber gambar: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmakassar/wp-content/uploads/sites/32/2015/05/Benteng-Somba-Opu1.jpg

 

Bioskop di Kota Makassar

Bagi warga kota atau mereka yang bermukim di sekitaran kawasan perkotaan, biasanya punya kegiatan untuk menghilangkan penat dan rasa suntuk dari beban pekerjaan yang berat. Biasanya mereka (warga kota) akan mencari satu sarana hiburan untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Bisa berkaraoke ria di rumah bernyanyi, menikmati semilir angin di pantai, pun bisa memanjakan mata dengan menyaksikan film di bioskop. Nah! saya, kalau lagi suntuk dan punya rezeki berlebih, maka bioskop bisa jadi sarana untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang. Bioskop dapat dikatakan sebagai salah satu wadah hiburan bagi masyarakat di Indonesia, terutama bagi mereka yang bermukim di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan termasuk di dalamnya Kota Makassar.

Di Makassar sendiri, ada empat lokasi yang biasanya menyediakan sarana hiburan ini. Pertama, di Makassar Town Square dengan XXI nya. Kedua, Trans Studio Mall dengan XXI nya. Ketiga, Mall Ratu Indah. Dan Keempat Mall Panakkukang dengan Studio 21 & XXI. Saya sendiri lebih sering mengunjungi tempat yang keempat. Studio 21 Mall Panakkukang. Alasannya sederhana, lokasinya mudah saya akses dan ongkos untuk nonton film tidak terlalu menguras kocek saya.

Masih jelas dalam ingatan saya, dalam beberapa bulan terakhir ini terdapat tiga film yang pernah kutonton dalam rentang tempo yang begitu dekat. Di antaranya Susah Sinyal, Silariang : Cinta yang (tak) Direstui, dan Dilan 1990.  Tiga film ini telah disaksikan jutaan pasang mata—termasuk saya dan mungkin juga kamu?! Banyaknya pasang mata yang menyaksikan film-film tersebut membuktikan bahwa semakin bergeliatnya industri perfilman Indonesia. Sekadar catatan, menurut ‘Mbah’ Wikipedia, industri perfilman di Indonesia pernah mengalami masa mati suri di kurun tahun 1991 – 1998 di mana masa itu film-film Indonesia yang ditayangkan di bioskop didominasi oleh film-film bertemakan seks (dewasa). Selain itu kemunculan televisi swasta, VCD, LD, dan DVD menjadi pesaing baru yang turut andil dalam kemunduran industri perfilman Indonesia. Sekadar diketahui, sebelum tahun 1991 film-film di Indonesia dapat dikatakan menjadi tuan di negerinya sendiri. Apatah lagi film-film yang dilakoni oleh Ratu Horror Indonesia Suzzanna Martha Frederika van Osch atau yang lebih dikenal dengan Suzzanna. Jangan lupa para orang tua kita dulu pasti mengingat serial film Warkop (baik era Warkop Prambors maupun Warkop DKI). Bagi penggemar dangdut, pasti mengenal film-film dari Bang Haji Rhoma Irama sebutlah Berkelana I dan Berkelana II yang rilis di tahun 1978 atawa Satria Bergitar—film keluaran tahun 1984.

Sebagaimana yang saya terangkan dalam alinea sebelumnya, geliat perfilman Indonesia di era milineal dapat dikatakan sebagai era kebangkitan kembali film Indonesia, uniknya! Di tengah semakin beragamnya sarana untuk menyaksikan film—seperti di kanal You Tube, VCD, DVD, atau mengunduh film di jagad maya—menyaksikan film di bioskop masih mendapatkan tempat di hati masyarakat kota. Secara kasat mata dapat dibuktikan dengan banyaknya pasang mata yang menyaksikan tiga film yang kusebutkan sebelumnya, tak ketinggalan film-film booming yang pernah tayang di layar teater bioskop seperti: Petualangan Sherina, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Habibi Ainun, dan banyak lagi.

Namun ada satu hal yang unik dan mungkin luput bagi mereka penikmat film di bioskop. Mungkin sebagian besar dari mereka—terutama generasi milineal kids jaman now—tidak mengetahui bahwa dahulu di sudut-sudut Kota Makassar bertebaran bioskop-bioskop yang pastinya memanjakan mata. Dalam skripsi karya Rahmatia M—salah satu mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM—yang berjudul Bioskop di Kotamadya Ujung Pandang (1971-1999) menyebutkan bahwa : setidaknya, di kurun tahun 1950-an terdapat tiga belas bioskop yang cukup terkenal di Kota Makassar, yakni; Bioskop Capitol, Bioskop Alhambra, Bioskop City, Bioskop Cathy, Bioskop Empress, Bioskop Sirine, Bioskop Taman Gembira, Bioskop Murni, Bioskop Nam Seng, Bioskop Sin Kong, Bioskop Asmara, Bioskop Roxy, dan Bioskop Sempurna.[1]

Uniknya, perbioskopan di Makassar tempo doeloe mengenal pengkelasan, jika di masa kolonial Hndia-Belanda kelas-kelas bioskop tercipta akibat pengaruh ras antara orang Belanda dengan Bumi Putera (Inlander). Maka kelas-kelas bioskop di Kota Makassar pada dekade 1950-an tercipta akibat perbedaan ekonomi masyarakat.[2] Kemudian, era 1970-an pengkelasan bioskop di Kota Makassar (Kotamadya Ujung Pandang saat itu) dipengaruhi oleh jenis film yang diputar, sehingga muncul bioskop yang khusus memutar Film India, Film Barat, Film Hongkong maupun Film Mandarin, serta Film Indonesia tentunya.[3]

Syahdan, di tahun 1977 pemerintah Kota Makassar (Kotamadya Ujung Pandang saat itu) pernah mengeluarkan suatu regulasi penetapan golongan atau kelas serta harga tanda masuk bagi bioskop yang berada di Makassar (Ujung Pandang saat itu) melalui SK. No. 299/S.Kep/71/77 tertanggal 22 Nopember 1977. Pengklasifikasian atau penggolongan kelas bioskop di bagi atas lima golongan. Pertama, golongan I/A atau golongan yang paling utama. Bioskop yang masuk dalam golongan ini adalah Bioskop Artis yang terletak di Jalan Gunung Lompobattang dengan harga tiket masuk dibandrol Rp. 300 – RP. 1.000. Kedua, golongan I/B. Bioskop yang masuk kategori ini ialah Bioskop Madya, Bioskop Istana, Bioskop Dewi, Bioskop Benteng, Bioskop Ratu, Bioskop Anda, dan Bioskop Arini—yang harga tiket masuknya berkisar antara Rp. 300 – Rp. 750. Ketiga, golongan II/A. Bioskop yang masuk dalam golongan ini adalah Bioskop Jumpandang dan Bioskop Mutiara dengan HTM (Harga Tiket Masuk) berkisar antara Rp. 200 – Rp. 500. Keempat, golongan II/B—dengan Bioskop Jaya dan Bioskop Apollo, adapun harga tiket masuk berkisar Rp. 200 – Rp. 500. Dan terakhir, golongan III yang meliputi Bioskop Surya, Bioskop Kolam Renang, Bioskop Mesra, Bioskop Pelita, Bioskop R.K.M dan Bioskop Jalaria dengan HTM berkisar antara Rp. 100 – Rp. 200.[4]

Keseluruhan bioskop yang disebutkan di atas telah tiada dan tinggal kenangan. Beberapa bangunan bioskop tersebut juga telah beralih fungsi, semisal Bioskop Istana—dahulu namanya Empress Theater—yang terletak di simpang Jalan Ranggong dan Jalan Sultan Hasanuddin kini telah menjadi ruko. Demikian pula dengan Bioskop Capitol yang terletak di Jalan Penghibur telah menjelma menjadi Zona Café.[5]

Yah! Kurang lebih demikianlah sekelumit kisah tentang perbioskopan di Kota Makassar. Dan kiwari ini hanya ada dua tempat untuk menyaksikan film kesukaan, kalau tidak di Bioskop Studio 21…, yah saudaranya…, XXI. Jadi?! Adakah acara malam ini tuk pergi nonton bioskop…?!

[1] Ilham. Menolak Kolonialisme, Membayangkan Barat : Bioskop dan Film di Makassar Tahun 1950-an. Artikel. 2011. Dalam Rahmatia M. Bioskop di Kotamadya Ujung Pandang (1971-1999). Skripsi. (Makassar : FIS UNM, 2015) Hlm. 24

[2] Rahmatia M, Ibid.

[3] Iibid.

[4] Badan Arsip Propinsi Sulawesi Selata, Arsip Inventaris Pemerintah Kotamadya Ujung Pandang (1926-1988). No. Reg. 1425. Untuk melengkapi informasi tentang pengkelasan bioskop di Makassar dapat pula dilihat artikel Syaifullah Daeng Gassing, Dulu Ada Bioskop Kelas B di Makassar dalam Anwar Jimpe Rahman (peny.) Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain – dari meja warkop sampai riuh festival rock. (Makassar : Tanahindie, 2014) Hlm. 62-65

[5] Rahmatia, Loc.,Cit

Sepotong Kisah Tentang Saya, Aslam, dan Kota Makassar

Pernah satu waktu saya bersua dengan seorang kawan bernama Aslam Nanda Rizal, kenalan saya di Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI). Beliau adalah seorang alumni dari Ilmu Sejarah UGM.

Kala itu, Aslam menghubungi saya melalui chat media sosial. Beliau meminta kesediaan saya untuk membunuh waktu suntuknya—maklum saat itu kawanku suntuk, pesawat yang ditumpanginya transit selama empat jam di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Maka sebagai kawan yang baik, maka kuiyakan pintanya, jadilah saya menjadi pemandu wisata dadakan—berpusing-pusing ria di Kota Makassar.

Dengan menggunakan motor matic saya mengajak Aslam tuk melihat-lihat Kota Makassar, terutama ke tempat-tempat yang bersejarah. Tempat pertama yang kutuju adalah Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang—sebuah benteng pertahanan yang dibangun pada masa Raja Gowa X, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng sekitar tahun 1545.[1] Kulihat kawan saya Aslam begitu terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya. Sembari mengajak beliau berkeliling-keliling kompleks benteng, saya menjelaskan tentang perjalanan singkat Kota Makassar.

“Jadi Bung Aslam, Makassar itu memiliki sejarah yang panjang. Jika merujuk pada kitab karya Mpu Prapanca, Kakawin Nagarakertagama –nama Makassar telah disebutkan sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit.”[2] Aslam kala itu hanya manut-manut saja, saya pun melanjutkan penjelasanku dengan mengajak lelaki dari Provinsi Banten ini tuk ngaso di salah satu bastion Fort Rotterdam.

“Lalu kapan terbentuk kota ini?” tanyaku pada Aslam yang pada akhirnya kujawan sendiri, “Jadi kota ini sudah terbentuk sejak kisaran abad ke XVI dengan ditandai pemindahan ibu kota Kerajaan Gowa dari Tamalate ke Somba Opu[3] lalu pada perkembangan selanjutnya di sekitaran muara Sungai Jeneberang terbentuk pelabuhan atau Bandar Niaga Somba Opu[4] dari bandar niaga inilah menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Makassar.”

Saya kemudian melanjutkan penjelasan tentang “apa yang saya sebut dengan Pemerintahan Daerah Kota Makassar”. Terbentuknya suatu tatanan pemerintahan di Kota Makassar bermula pada tahun 1906 dengan suatu peraturan yang disebut sebagai staatsblad No. 171 Tahun 1906 dimana aturan tersebut merubah status Makassar menjadi Gemeente Makassar terhitung sejak 1 April 1906. Adapun walikotanya baru diangkat di tahun 1918.[5]

“Kalau tidak salah yah Aslam, walikota pertamanya itu bernama J.E. Dambrink, adapun wilayahnya kala itu terdiri dari enam distrik yaitu: Distrik Makassar; Distrik Wajo; Distrik Melayu; Distrik Ende; Distrik Ujung Tanah; dan Distrik Mariso. Distrik Makassar, Wajo, Melayu, dan Ende masing-masing diperintah oleh seorang kapitein. Sedangkan Ujung Tanah dan Mariso masing-masing dikepalai oleh seorang gallarang. Lalu Aslam, di tahun 1921 Distrik Melayu digabungkan ke dalam Distrik Wajo dan wilayah Distrik Ende dibagi atau dimasukkan ke dalam wilayah Distrik Makassar dan Distrik Wajo. Jadi di tahun 1921 hanya ada empat distrik.[6] Jadi dahulu Makassar itu sempit, hanya sekitar 21 kilometer persegi. Yah, lalu waktu terus berputar, matahari dan bulan silih berganti, perkembangan politik dan sosial semakin dinamis hingga pada satu masa pemerintah Kota Makassar di tahun 1971 melakukan upaya perluasan kota dengan mengambil beberapa wilayah tetangga, seperti Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Pangkep.[7]

Sesungguhnya, saya masih ingin menjelaskan lebih jauh tentang perkembangan Kota Makassar, tentang perubahan nama dari Makassar menjadi Ujung Pandang kemudian kembali lagi menjadi Makassar, tentang bangunan-bangunan tuanya, tentang kuliner khasnya, hingga segala tetek-bengeknya kota Makassar, kota yang dijuluki Kota Anging Mammiri, Kotanya Para Daeng. Namun sayang, waktu telah di penghujung, tanpa terasa sudah waktunya berpamitan dengan Aslam.

“Wah sepertinya Bung Ilyas, kita harus ke bandara lagi deh, kurang lebih setengah jam lagi pesawat yang membawa saya ke Yogyakarta akan takeoff.

“Sayang sekali yah Bung Aslam, baru juga mau ngajak makan Coto Makassar,” sahutku kemudian kawanku ini terkekeh sedang saya hanya tersenyum sembari beranjak dari tempat, kemudian bersama-sama meninggalkan Fort Rotterdam menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin….

 

 

[1] Darwas Rasyid, Beberapa Catatan Tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang

[2] Info Makassar Edisi: 04, Tahun I / Oktober-Desember 2007 lihat pula Mattulada, Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, (Ujung Pandang: Bhakti Baru, cetakan pertama 1982)

[3] Mattulada, Ibid. Hlm 14-15

[4] Mengenai Somba Opu lihat Umar, Yuliani Umar. Bandar Somba Opu Sebagai Sumber Penghasilan Kerajaan Gowa Sampai Tahun 1667, Skripsi. (Jakarta: Fakults Sastra Universitas Indonesia, 1990) dan Muhammad Vibrant Anwar. Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar Studi kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653. Skripsi. (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1996)

[5] Yudistira Sukatanya, Dari Makassar ke Makassar. Dalam Udhin Palisuri, dkk., Makassar Doeloe, Makassar Kini, Makassar Nanti. (Makassar: Yayasan Losari Makassar, 2000)

[6] Asmunandar, Kota Makassar dalam Empat Abad. Dalam Anwar Jimpe Rahman (peny.) Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain-dari meja warkop sampai riuh festival rock. (Makassar : Tanah Indie, 2014) lihat pula Majalah Imaginedhistoria edisi Agustus – Desember.

[7] Lihat PP. No. 51 Tahun 1971.

 


sumber gambar: situsbudaya.id

 

Arajang-Kalompoang: Pengertian dan Esensi

Ada satu kisah menarik ketika saya berkunjung ke Museum Balla Lompoa di Sungguminasa, saat itu saya bersama Erwin Djunaedi—alumni Ilmu Sejarah UGM—dan Jabal—alumni Sastra Daerah UNHAS—melihat-lihat koleksi museum, bola mata Erwin Djunaedi yang dari Yogyakarta itu begitu takjub melihat tombak, parang, klewang, badik, kain, serta ornamen-ornamen yang terdapat di dalam museum. Adapun Jabal hanya berkespresi biasa—mungkin lantaran keseringan mengunjungi museum Balla Lompoa.

Setelah asyik menyaksikan koleksi museum, pengelola dan juru rawat Museum Balla Lompoa kemudian mengajak kami memasuki ruangan khusus di bagian belakang, ruangan yang diberi teralis dan digembok. Ketika kami diijinkan memasuki ruangan tersebut, sepasang bola mata Jabal dan Erwin Djunaedi berbinar melihat adikarya Museum Balla Lompoa, yakni Salokoa—mahkota Kerajaan Gowa.

Penuturan sang juru rawat saat itu mengatakan bahwa mahkota Kerajaan Gowa atau Salokoa merupakan benda pusaka kerajaan atau dalam bahasa setempat disebut kalompoang sedang dalam bahasa Bugis disebut arajang. Kalompoang atau arajang dalam pandangan masyarakat Bugis-Makassar kala itu merupakan benda sakral dan menjadi alat legtimasi kepemimpinan seorang raja—selain melihat trah, dan pesetujuan dewan adat tentunya.

Di Kerajaan Gowa, selain Salokoa terdapat pula Sudanga. Sekadar catatan Salokoa merupakan mahkota Kerajaan Gowa yang terbuat dari bahan emas murni bertahtakan intan berlian sebanyak 250 biji, ada yang bewarna hijau, ada pula bewarna putih merah. Bentuknya menyerupai kuncup bunga teratai yang mempunyai kelopak sebanyak lima helai. Sedangkan sudanga merupakan senjata tajam—serupa parang atau pedang yang dipercaya dibawa oleh Lakipadada dan Karaeng Bayo—dua nama ini dikenal sebagai bangsawan suatu kerajaan di jazirah Sulawesi saat itu, pun salah satu dari mereka mempersunting raja Gowa pertama, Tumanurung Bainea.

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, esensi dari kalompoang atau arajang ini merupakan salah satu alat legitimasi bagi seorang bangsawan dalam memerintah di suatu kerajaan di Sulawesi Selatan. Posisi dari arajang atau kalompoang ini begitu penting lantaran dapat memberikan pengaruh besar bagi si pemegang benda pusaka ini. Salah satu peristiwa yang kongkrit berkenaan arajang atau kalompoang ini dapat dilihat pada kisah “Gerakan Batara Guru I Sangkaliang”. Sebuah gerakan untuk merebut tahta Kerajaan Gowa. Dikisahkan pada tahun 1776 seorang lelaki yang bernama Batara Gowa I Sangkilang berhasil merebut pengaruh dan wibawa raja Gowa saat itu, Sultan Zainuddin serta banyak rakyat Kerajaan Gowa di daerah pedalaman mengalahikan ketaatannya pada Batara Gowa I Sangkilang—lantaran memiliki lelaki itu memiliki kalompoang kerajaan.

Contoh tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam konsep Kalompoang atau Arajang dapat ditemukan dasar pengabsahan atau pengukuhan kepemimpinan masyarakat tradisional Bugis-Makassar. Itulah mengapa ketika pemerintahan Hindia-Belanda meminta kesediaan Andi Mappanyukki untuk menjadi Raja Bone, ia—maksudnya Andi Mappanyukki—menolak, karena arajang Kerajaan Bone tidak dimilikinya. Barulah ketika pemerintahan Hindia Belanda mengembalikan arajang Kerajaan Bone, maka Andi Mappanyukki bersedia menduduki tahta Kerajaan Bone.

Sekilas Tentang Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan Pasca Perjanjian Bongaya[1]

Pernah satu waktu saya bersua dengan saudara Erwin Djunaedi—lelaki dari Kabupaten Wajo yang berkebetulan menjadi seorang duta museum Yogyakarta—pada satu masa di bilangan Makassar, kala itu kawan saya yang alumni Ilmu Sejarah UGM itu memintaku untuk mengajaknya berkeliling Kota Makassar, mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota para daeng. Wal hasil saya membawanya ke sebuah tempat yang dikatakan kawasan Kota Tua Makassar, sebuah daerah yang dahulunya bekas Staatsgemente Macassar[2] yang kini bagian dari Kecamatan Ujung Tanah (di sebelah utara) hingga Kecamatan Mamajang (selatan jalan Veteran Selatan).

Singkat kata saya mengajaknya bertamasya menyusuri seluk beluk Kawasan Kota Tua Makassar, mulai dari melihat-lihat klenteng di Kawasan Pecinan Makassar[3] yang berlokasi di sekitaran Jalan Sulawesi, menyaksikan gedung-gedung tua peninggalan Belanda; seperti Kantor Walikota, Gedung Kesenian Makassar, Museum Kota Makassar, Gereja Immanuel, dan beberapa gedung-gedung tua di sepanjang jalan Ahmad Yani dan Jalan Balaikota. [4] Kunjungan hari itu diakhiri dengan menyaksikan semburat senja di Fort Rotterdam (Ujung Pandang)[5], salah satu benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo—yang setelah Perjanjian Bongaya diteken, benteng ini diserahkan ke VOC Belanda.

Perjumpaan saya dengan saudara Erwin Djunaedi tidak berakhir di situ, keesokan harinya beliau meminta kesediaan saya untuk menyambangi salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Gowa, yakni Istana Balla Lompoa yang terletak di jantung Kota Sungguminasa. Permintaan eks mahasiswa Ilmu Sejarah UGM ini pun saya amini, sebagai tuan rumah yang baik maka saya langsung mengajaknya menuju lokasi, melihat Istana Balla Lompoa yang telah berubah fungsi menjadi museum.

Syahdan, ketika berada di kawasan Balla Lompoa, Erwin Djunaedi sempat melontarkan pertanyaan seputaran Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang tentu saja selaku eks mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM pertanyaan itu kujawab. Kujelaskan seksama tentang awal mula lahirnya Kerajaan Gowa dengan menarasikan mitos atau kisah Tomanurung, pun tak ketinggalan kuceritakan tentang Daeng Matanre Tumapa’risi Kalllonna, Raja Gowa ke-9 yang mengubah orientasi kerajaan dari agraris menjadi maritim. Tidak sampai di situ, saya juga menyempatkan menjelaskan tentang daerah-daerah kekuasaan dan pengaruh Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar) yang membentang luas pada Abad XVII.[6] Walaupun demikian, ada satu pertanyaan dari saudara Erwin Djunaedi yang tak bisa saya jawab, tentang kondisi politik, pemerintahan, dan wilayah serta pengaruh Kerajaan Gowa-Tallo pasca Perjanjian Bongaya.

***

Berselang beberapa masa setelah kejadian itu, ketika berkuliah di Program Pascasarjana UNM, pertanyaan Erwin Djunaedi tempo itu terulang kembali—dalam mata kuliah Sejarah Perkembangan Politik. Saat itu dosen pengampuh mata kuliah Dr. A. Suriadi Mappangara, M.Hum menugaskan kami untuk mencari tentang kondisi politik kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pasca Perjanjian Bongaya 1667. Dalam penugasan itu kami diminta untuk membaca setidaknya tiga buku, pertama Warisan Aru Palakka karya Andaya, kedua Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I, dan ketiga Minawang : Hubungan Patron Klien.

Membaca ketiga buku tersebut, sedikit banyak memberikan informasi mengenai kondisi Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan pasca Perjanjian Bongaya. Andaya dalam bukunya Warisan Aru Palakka menyebutkan, setelah Perjanjian Bongaya penguasa Bone—dalam hal ini Aru Palakka—dan Kerajaan Bone menjadi “penguasa tunggal” di jazirah Sulawesi Selatan (bersama V.O.C tentunya). Bahkan lebih jauh lagi Andaya menjelaskan bahwa ketika penguasa-penguasa lokal di Sulawesi Selatan ingin menghadap ke-pada VOC Belanda harus melalui perantara Aru Palakka—Kerajaan Bone.[7]

Lebih lanjut dalam buku Sejarah Sulawesi Selatan jilid I dijelaskan tentang penggambaran geo-politik Sulawesi Selatan pada Abad ke-XVII, salah satunya adalah pembagian—segregasi / pemisahan—antara kerajaan-kerajaan Bugis dan kerajaan-kerajaan Makassar yang dilakukan oleh Speellman. Apa yang dilakukan sang penguasa kolonial ini sesungguhnya suatu tindakan untuk memertahankan pengaruh dan kekuasaan Belanda di Jazirah Sulawesi Selatan—di samping tetap menjaga dan menjalin persahabatan dengan Kerajaan Bone.

Adapun dua kelompok besar itu ialah Kelompok Bugis, kerajaan-kerajaan yang tergolong dalam kelompok tersebut adalah Kerajaan Bone, Soppeng, Binamu, Bangkala, dan Laikang. Keterlibatan kerajaan-kerajaan itu sehubungan dengan pemihakan mereka terhadap Aru Palakka dalam Perang Makassar.[8] Sedangkan kelompok kedua adalah Kelompok Makassar yang berada dalam kepemimpinan Raja Gowa. Kerajaan-kerajaan yang tergolong dalam kelompok ini adalah semua kerajan di Sulawesi Selatan yang berpihak kepada Kerajaan Gowa-Tallo dalam Perang Makassar yang tidak tergolong dalam Kelompok Bugis, antara lain: Mandar; Luwu; Wajo; Sidenreng; Agangnianjo; Kerajaan-Kerajaan Malussetasi, Suppa, Sawitto, Enrekang, dan Toraja.[9]

Seiring berjalannya waktu, beberapa kerajaan-kerajaan tersebut kehilangan otonominya—sebagai konsekuensi dalam Perjanjian Bongaya. Heddy Shri Ahimsa Putra dalam bukunya Minawang : Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selaatan menjelaskan secara ringkas tentang pembagian daerah Sulawesi Selatan dalam dua bentuk, pertama kerajaan yang diperintah langsung oleh Belanda—dalam istilahnya rechtsreeks bestuurd gebied yang juga dikenal dengan istilah gouvernementslanden. Lalu apakah yang dimaksud kerajaan yang diperintah langsung oleh Belanda? Secara sederhana kerajaan yang diperintah langsung oleh Belanda ialah suatu kerajaan yang di mana pihak Belanda memiliki kuasa terhadap urusan politik, keamanan, perekonomian, dan perdagangan atas kerajaan tersebut selain itu kerajaan-kerajaan tersebut berada dalam pengawasan pegawai pemerintahan kerajaan Belanda—dalam hal ini penunjukan seorang regent, controuler, asisten countroler, resident, asisten resident.[10] Adapun daerah yang dikuasai Belanda secara langsung di Sulawesi Selatan dibagi dalam suatu afdeling-afdeling sebagai berikut: (1) Afdeling Makassar: terdiri dari Makassar[11] dan Kerajaan lama Tallo; (2) Afdeling Nooderdistricten (Wilayah distrik utara) : terdiri dari Maros, Pangkajene, Segeri, dan beberapa Bergregentschappen; (3) Afdeling Zuiderdistricten (Wilayah distrik selatan) : terdiri dari Binamu, Bonthain, dan Bulukumba; (4) Afdeling Takalar : terdiri dari Takalar dan Bangkala; (5) Afdeling Oosterdistricten (Wilyah distrik timur) : terdiri dari Balangnipa, Bikeru, dan Kajang; dan (6) Afdeling Saleier.

Dalam alinea-alinea sebelumnya dijelaskan bahwa pasca Perjanjian Bongaya beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan kehilangan otonominya, walaupun demikian tidak semua kerajaan-kerajaan kehilangan legitimasi kekuatannya. Kerajaan Gowa walaupun kalah dalam perang masih dipandang sebagai suatu kerajaan yang merdeka sejajar dengan Kerajaan Bone yang menjadi pemenang dalam Perang Makassar. Kedua kerajaan ini berstatus bondgenootschaplanden atau kerajaan sekutu, selain Kerajaan Gowa dan Bone terdapat pula Kerajaan Mandar, Luwu, Masenrempulu, Wajo, dan sebagainya—kerajaan lokal yang menjadi sekutu ini tetap dikendalikan oleh raja masing-masing dan tidak berada di bawah kekuasaan Belanda. Hubungan antara kerajaan sekutu dengan Belanda lebih bersifat hubungan kontrak atau perjanjian. Dan bagi Belanda, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone pada masa itu dipandang sebagai sekutu utama.[12]

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andaya, Leonard Y.,(diterjemahkan oleh Nuhary Sirimorok). 2004. Warisan Aru Palakka Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Makassar: Ininnawa.

Anwar Jimpe Rahman (peny.) 2004.  Seri Kompilasi Tulisan Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain – dari meja warkop sampai riuh festival rock. Makassar : Tanah Indie.

Majalah Imaginedhistoria edisi Februari – Mei 2016

Majalah Imaginedhistoria edisi Agustus – Desember 2016.

Palisuri, H. Udhin, dkk. 2000.  Makassar Doeloe, Makassar Kini, dan Makassar Nanti. Makassar : Yayasan Losari Makassar.

Poelinggomang, Edward L., dan A. Suriadi Mappangara (ed), dkk., 2004. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I. Makassar: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan.

Rasyid, Darwas. Beberapa Catatan tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa. Ujung Pandang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Wiarawan, Yerry. 2013. Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 hingga ke-20. Jakarta : KPG.

 

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-yQCubSTOI-c/VHQ9Mqu6VYI/AAAAAAAAC2s/nGt_BXrsCGk/s1600/hsntm.jpg

 

 

[1] Tulisan ini lahir ketika saya mengerjakan tugas Mata Kuliah Sejarah Perkembangan Politik—yang diampuh oleh Dr. Andi Suriadi Mappangara, M.Hum.

[2] Penjelasan terperinci mengenai “di mana kawasan Kota Tua Makassar” itu dapat dilihat secara tersirat di buku Anwar Jimpe Rahman (peny.) Seri Kompilasi Tulisan Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain – dari meja warkop sampai riuh festival rock. (Makassar : Tanah Indie, 2004) Lihat juga Majalah Imaginedhistoria edisi Februari – Mei 2016 dan edisi Agustus – Desember 2016.

[3] Penulusuran tentang masyarakat Tionghoa di Makassar dapat dilihat pada karya Yerry Wiarawan, Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 hingga ke-20. (Jakarta : KPG, 2013)

[4] Untuk informasi mengenai bangunan-bangunan tua di Makassar dan Gedung Kesenian Makassar dapat disimak dalam kumpulan tulisan yang dikuratori H. Udhin Palisuri, dkk., Makassar Doeloe, Makassar Kini, dan Makassar Nanti. (Makassar : Yayasan Losari Makassar, 2000) Hlm. 71-78 dan Hlm 293-295.

[5] Mengenai Fort Rotterdam dapat dilihat dalam tulisan Darwas Rasyid, Beberapa Catatan tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa. (Ujung Pandang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional)

[6] Mengenai wilayah Kerajaan Gowa – Tallo dapat dilihat dalam salah satu peta yang termaktub dalam bukunya Abd. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa dan salah satu koleksi peta milik Museum Balla Lompoa Sungguminasa.

[7] Leonard Y. Andaya, (diterjemahkan oleh Nuhary Sirimorok)., Warisan Aru Palakka Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. (Makassar: Ininnawa, 2004)

[8] Edward L. Poelinggomang dan A. Suriadi Mappangara (ed), dkk. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I (Makassar: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan, 2004). Hlm. 130-131

[9] Ibid.

[10] Heddy Shri Ahimsa Putra, Minawang : Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selatan. (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press)

[11] Makassar yang dimaksud di sini mungkin sekitaran wilayah Fort Rotterrdam, yang pada perkembangan selanjutnya menjadi Staatsgemente Macassar yang terdiri dari empat distrik yakni Distrik Wajo, Distrik Makassar, Distrik Ujung Tanah, dan Distrik Mariso. Selengkapnya lihat pada Majalah Imaginedhistoria edisi Agustus – Desember 2016.

[12] Heddy Shri Ahimsa Putra, Op.,Cit. Hlm. 52-53

Karaeng Pattingalloang dan Kecintaannya terhadap Ilmu Pengetahuan

“Bola dunia itu, perusahaan Hindia Timur mengirimkannya ke istana Pattingngalloang yang agung, yang otaknya menyelidik ke mana-mana dan menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil, kami berharap tingkat kekuasaannya memanjang dan mencapai kutub yang satu dan yang lainnya. Agar keuzuran waktu hanya melapukkan tembaga itu bukan persahabatan kita.”

-Joost van den Vondel-

Itulah spenggal syair kekaguman yang diutarakan seorang dramawan dan misionaris asal Negeri Belanda kepada salah seorang bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, yakni Karaeng Pattingalloang—Mangkubhumi Kerajaan Gowa (Kesultanan Makassar).

Pada abad XVII di belahan timur dunia saat itu, terdapat seorang bangsawan tinggi Kesultanan Makassar yang menaruh minat dan kegemaran terhadap ilmu pengetahuan. Dalam berbagai literatur sejarah disebutkan bahwa : ketika bangsawan-bangsawan Kesultanan Makassar menitipkan pesanan berupa pakaian, sutera, topi, porselin, dan lain sebagainya kepada pedagang-pedagang Timur Jauh dan Barat yang akan mengangkat sauh—kembali ke negeri asalnya masing-masing dan akan kembali pada musim angina berikutnya—Karaeng Pattingalloang malah lebih memilih menitipkan pesanan berupa buku dan perangkat ilmu pengetahuan teknologi.

Bahkan Denis Lombard—seorang pakar sejarah dengan karya besarnya berjudul Nusa Jawa Silang Budaya—pernah mengemukakan suatu transaksi yang dilakukan oleh Karaeng Pattingngalloang pada 22 Juli 1644. Mangkubhumi Kerajaan Gowa saat itu memberikan kayu cendana seharga 660 real kepada seorang kapten kapal Belanda disertai dengan satu daftar pesanan barang, bahkan kapten kapal Belanda pun menyebut pesan Pattingalloang adalah pesanan raritten atau barang langka. Di antara pesanannya adalah sebagai berikut: (1) Dua bola dunia Atlas, yang besar berukuran 157-160 Inci terbuat dari tembaga, gunanya menentukan letak arah kutub utara dan selatan; (2) Sebuah Peta Dunia yang berukuran besar yang Berbahasa Spanyol, Portugis atau Latin; (3) Sebuah Atlas Besar dan penjelasan yang terpeinci yang berbahasa Spanyol, Portugis, atau Latin; (4) Dua buah Teropong berukuran besar dan berkualitas terbaik—lengkap dengan Surya Canta yang besar dan berkualitas tinggi; (5) Dua buah Prisma Segitiga yang memungkinkan untuk mendekomposisikan cahaya; (6) Tiga puluh sampai empat puluh buah tingkat baja kecil; (7) Sebuah bola dari tembaga atau baja. Sedangkan dalam catatan Fride Rhodes, Karaeng Pattingalloang menghayati Tehnical Inovation Europe, dan ia merupakan orang Asia Tenggara pertama yang menyadari pentingnya matematika guna ilmu-ilmu terapan (Aplied Science).

Kecintaan dan kecendekiawan Pattingngalloang terhadap buku dan ilmu pengetahuan barat ini, juga dipengaruhi dengan perkembangan pengetahuan di Eropa pada Abad ke XVI dan XVII. Dalam catatan sejarah, masa Patingalloang hidup pada paruh abad XVI hingga XVII bertepatan pada masa puncak berlangsungnya abad pencerahan di Eropa, di abad ini lahir tokoh pemikir, pembaharu, saintifis. Sekaliber Martin Luther, Kalfin, Kopernikus, Kepller, Galileo, dan berbagai tokoh intelektual lainnya. Dunia astronomi dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan di abad ini, karena itu tak heran Karaeng Pattingalloang yang berada jauh di Timur ikut terpengaruh. Bahkan terdapat rumor yang menyebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang pernah menerima hadiah teropong dari salah seorang intelektual barat pada masanya.

Pertautan antara Pattingalloang dan pedagang-pedagang barat pada masa tersebut juga dikarenakan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahsa asing yang sangat baik. Bahkan ketika Pattingalloang berusia 18 tahun, ia telah menguasai berbagai bahasa di antaranya Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, Italia, Cina, Arab, dan lain-lain. Perihal penguasaan bahasa, Alexander Rhodes, seorang Misionaris di Makassar pada tahun 1646 pernah menulis tentang kemampuan berbahasa Portugis sang Mangkhubumi Kerajaan Gowa itu.

“Karaeng Patingalloang adalah orang yang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, selalu memegang buku matematika yang dipelajarinya, tiap hari dan tiap malam Ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan barat. Mendengarkan Ia berbahas Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa orang yang berbicara itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon.”

Kecerdasan dan kemampuan seorang Pattingalloang sedikit banyak membantu Kesultanan Makassar dan penguasa Makassar saat itu—Sultan Malikudsaid Raja Gowa ke XV—dalam menggapai masa kejayaan dan gemilangnya. Ahmad Sewang dalam bukunya berjudul Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI-XVII menyebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang sebagai mangkubhumi dari Kerajaan Gowa (Kesultanan Makassar) dikenal luas sebagai orang yang menguasai berbagai bahasa asing dan menjalin persahabatan dengan raja-raja asing (penguasa Barat) serta menguasai ilmu-ilmu barat guna untuk mentransformasikan pengalaman dan pengetahuan teknik dari bangsa asing tersebut. Pengetahuan yang ditransfer adalah pengetahuan tentang peta maritim dan penyempurnaan penulisan catatan harian (lontara) dengan dilengkapi penanggalan Hijriyah dan Masehi.

Demikianlah sedikit uraian tentang Karaeng Pattingalloang, yang telah tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan kerajaan Gowa-Tallo (Kesultanan Makassar) di masa lalu. Bahkan sejarawan Sulawesi Selatan, Edward L. Poelinggomang pernah menyebutkan bahwa : karena pengetahuannya tentang dunia yang begitu luas sehingga orang-orang pada masa itu menyatakan—bagi Karaeng Patingalloang luas dunia ini sama dengan luasnya daun kelor.

Sungguminasa, 24 Desember 2017

150 Kilometer Setelah Tujuan: Sebuah Catatan Perjalanan

 

Awal November tahun 2017 itu, tepatnya Sedari hari Jumat hingga Ahad, saya berkesempatan menyambangi tiga kabupaten sekaligus: Maros, Bone, dan Soppeng. Yah, untuk kesekian kalinya raga ini bersua dengan peninggalan-peninggalan budaya, sejarah, dan pranirleka di sana. Setahun lalu juga saya pernah ke daerah-daerah tersebut—melihat pesona Pranirleka Gua Prasejarah Leang-Leang yang berada di Kabupaten Maros, mentadaburi sejarah Kerajaan Lamuru melalui perantara Makam Raja-Raja Lamuru di Kabupaten Bone, dan berpusing-pusing ria (meminjam bahasa melayu) menyaksikan peninggalan budaya dan sejarah di Kabupaten Soppeng.

Tidak hanya setahun lalu tepatnya di tahun 2011 saya juga menyambangi tempat ini. Pun menyambangi tempat-tempat yang sama. Bosankah saya? Tidak! Menyambangi Gua Prasejarah Leang-Leang, Makam Raja-Raja Lamuru, Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo, Museum Latemmamala (Villa Yulliana), dan beberapa tempat lainnya tidak membuat hati dan raga saya merasa jenuh, malah sebaliknya penuh semangat dan riang gembira sebagaimana gembiranya anak TK yang diberikan permen oleh ayahnya.

***

Kukira berkuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah UNM itu membosankan, membicarakan ihwal masa lalu dan hal-hal yang kuno. Tetapi rupanya menyenangkan, baru aku tahu rupanya salah satu guna belajar sejarah ialah “guna rekreatif”. Maka jadilah saya menyambangi Kabupaten Maros, Bone, dan Soppeng—bermaksud melihat peninggalan sejarah di sana. Kunjungan pertama yang aku datangi ialah kawasan Prasejarah Leang-Leang. Setidaknya ada tiga tempat yang aku sambangi; Leang Pettakere, Leang Pettae, dan Leang Timpuseng. Ada hal yang lebih dari kunjungankuke tempat ini, kata salah seorang senior yang mendampingi kami, studi sejarah ini lain dari pada yang lain, karena ada tambahan leang atau gua yang kami datangi, yakni Leang Timpuseng, jaraknya lumayan jauh dari Leang Pettakere dan Leang Pettae.

Di tiga leang tersebut, aku menyaksikan lukisan-lukisan di dinding gua, ada berbentuk cap telapak tangan, ada pula berbentuk babi rusa. Menurut pemandu kami gambar telapak tangan di dinding gua dipercaya sebagai penolak bala dari roh jahat yang akan mengganggu,sedangkan lukisan babi rusa yang di dadanya tertancap panah diartikan sebagai simbol pengharapan—agar kiranya dalam berburu binatang buran dapat berhasil. Selain itu, kulihat juga beberapa cap telapak tangan yang tidak sempurna, semisal cap telapak tangan di dinding gua yang jemari-marinya hanya ada empat, kata pemandu; telapak tangan yang berjari empat diyakini sebagai simbol berkabung atau belasungkawa, tatkala ada salah satu anggota keluarga—manusia purba yang mendiami gua—meninggal. Ih serem juga yah.

Setelah lawatan ke Maros, tujuan berikutnya adalah Kabupaten Bone, menyambangi Makam Raja-Raja Lamuru. Tapi sayang sekali, aku dan kawan-kawanku tak sempat menyambangi Makam Raja-Raja Lamuru, ihwal itu terjadi karena waktu yang tak memungkinkan.

Dalam perjalanan tersebut, untuk membunuh rasa penasaran, aku iseng-iseng menanyakan mengenai Kerajaan Lamuru pada salah seorang senior yang mendampingi perjalanan ini. Katanya Lamuru dahulu adalah sebuah kerajaan yang berdaulat hingga daerah ini selalu ditimpa ketidakstabilan—lantaran pernah menjadi daerah vassal Kerajaan Gowa, Wajo, Soppeng, dan Bone. Ketika berakhir perang Makassar, Lamuru yang dahulu bagian dari Kerajaan Gowa diserahkan ke Kerajaan Bone—dalam hal ini Aru Palakka—kemudian Kerajaan Bone menyerahkan wilayah ini ke Kerajaan Soppeng. Tetapi di kisaran abad ke XVIII terjadi pembunuhan Datu Lamuru bernama La Cella oleh Datu Soppeng, hal inilah yang menyebabkan Kerajaan Lamuru menggabungkan diri ke Kerajaan Bone dan olehnya itulah hingga kini Lamuru merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bone.

***

Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk pertama kali di daerah Maros saya menyambangi sebuah leang selain leang Petta Kere dan Leang Pettae, namanya Leang Timpuseng. Sebenarnya sebaran temuan jejak purbakala tidak hanya ada di ketiga leang atau gua tersebut melainkan ditemukan pula di daerah Pangkep dengan Leang Bulu Sumi dan Leang Sumpang Bita-nya. Yang mana keduanya berada dalam kompleks Taman Prasejarah Sumpang Bita, sekadar catatan Taman Prasejarah Sumpang Bita telah ditetapkan sebagai Situs Kawasan Prasejarah Berskala Nasional tertanggal 1 Juli 1998 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A.

Setelah asik melihat-lihat peninggalan purbakala di Kabupaten Maros, perjalanan saya kemudian dilanjutkan ke daerah Bone untuk melihat peninggalan Kerajaan Lamuru. Namun sayang beribu sayang, saya dan rombongan tidak sempat menyambangi-nya, lantaran waktu yang memaksa untuk bersegera menuju Kabupaten Soppeng.

***

Ketika menginjaki kaki di Kabupaten Soppeng, aku terkesima dengan bangunan klasik bernama Villa Yulliana, konon katanya, Villa ini dulu dibangun untuk akomodasi ratu Belanda yang sedianya akan berkunjung ke Sulawesi Selatan, namun karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan—maka niatan ratu Belanda itu diurungkan. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa pembangunan Villa Yulliana sebagai bentuk rasa syukur pemerintahan Hindia-Belanda atas kelahiran ratu Juliana putri dari Ratu Wilhelmia van Oranje-Nassau.

Kalau dilihat-lihat sih, Villa Yulliana ini dibangun dengan perpaduan arsitektur Bugis dan Belanda. Memiliki dua lantai. Dari lantai dua sangat jelas terlihat pemandangan Kota Wattansoppeng yang indah, kota yang dikelilingi oleh perbukitan, daerah yang dijuluki Bandoeng van Celebes.

Sebelum ke Villa Yulliana, sesunguuhnya aku sempat mengunjungi Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo, bertemu dengan Bapak Anwar—juru rawat kawasan tersebut. Dengan senyuman yang ramah Pak Anwar menjelaskan kepada kami tentang jejak-jejak arkeologi dan budaya di Kabupaten Soppeng—yang beliau istilahkan sebagai Peradaban Lembah Sungai Walanae—di mana ditemukannya fosil vertebrata, fragmen gigi gajah purba, fosil babi rusa, dan artefak batu lainnya—yang merupakan temuan atau hasil eskavasi Van Heekeren dan Soejono serta arkeolog lainnya di abad ke XX masehi. Wau, dari penjelasan Pak Anwar dapat aku interpretasikan bahwa daerah ini dahulu memiliki peradaban yang keren.

***

Setelah melihat pesona Taman Prasejarah Leang-Leang, merasakan sensasi peradaban Lembah Sungai Walanae di Kabupaten Soppeng, kini tiba juga untuk bertolak ke Makassar dan berjumpa dengan setumpuk pekerjaan.  Wau! Tiga hari melakukan lawatan di daerah cukup melelahkan juga rupanya. Jika tak ada aral melintang perjalanan pulang ke Makassar akan memangsa jarak 150 kilometer lebih.

Melalui jendela bus kulihat di luar langit mulai senja dan perlahan-lahan gelap akan datang. Bus melaju dengan syahdunya, selama di perjalanan itu saya lebih banyak diam, memilih memerhatikan kamera yang menampilkan hasil jepretan studi lapangan tadi, sesekali mencuri pandang pada penumpang bus yang lagi asyik bertukar obrolan: tentang lembaran sejarah yang baru mereka ukir di memorinya masing-masing.

Ah… kapankah saya bisa menyambangi daerah ini lagi?

 


sumber gambar: travel.kompas.com

 

….Ada Kisah Tentang Makassar yang Berulang Tahun….

Ada seorang lelaki yang sedang asyik duduk di Pantai Losari, menatap semburat senja tentunya. Sebutlah lelaki itu Kamaruddin, di bahunya bersandar seorang gadis berkulit putih dengan rambutnya yang ikal bergelombang ibarat—kalau orang Bugis-Makassar menyebutnya—bombang silellung. Sebutlah gadis itu Ona Mariona atau dipanggil Ona. Lelaki dan gadis itu tentunya sedang merenda kasih dan asmara, sembari berpacaran tetiba saja sepasang sejoli yang lain juga ikut duduk-duduk di dekatnya, kemudian terlibat suatu pembicaraan.

“Sayang, tadi waktu ke sini, naik mobil, di kiri-kanan jalan banyak baliho yah…?! Baliho-baliho itu serempak menuliskan SELAMAT HARI JADI KOTA MAKASSAR KE 410 TAHUN.”

“Iya kasih dan cintaku, terus ada apa gerangan dengan baliho itu?”

“Tidak-ji, penasaranja, rupanya Makassar begitu tua yah?! Baru tahu saya setiap tanggal 9 Nopember diperingati hari Jadi Kota Makassar, tapi….” Gadis itu kemudian bergelayut manja dan melanjutkan percakapan. “Kenapa mesti hari jadinya tanggal 9 Nopember yah? Kenapa bukan 28 Februari saja seperti hari jadian kita?”

“Yah, kalau masalah itu saya tidak tahu? Yang penting kita rayakan saja, toh sebagai warga kota yang baik tidak ada ruginya bersuka ria.”

Mendengar pembicaraan tersebut, Kamaruddin sedikit termenung mungkin melamun memikirkan percakapan sepasang sejoli yang berpacaran—tidak jauh dari tempatnya berpacaran. Dalam lamunannya, tetiba saja Kamaruddin merasakan sakit kepala, matanya berkunang-kunang dan pandangannya kabur, beberapa menit setelahnya terdengar letupan besar dan kilatan cahaya. Sepersekian detik berikutnya, Kamaruddin bersama kekasihnya itu mairat, menghilang! Mallajang istilahnya dalam bahasa setempat.

Rupanya, jiwa dari Kamaruddin dan Ona melintasi lorong waktu, berkelana menembus semesta dan terdampar pada satu tempat di pesisir, mereka kembali pada abad ke XVII—tepatnya 9 Nopember 1607 yang berkebetulan jatuh pada 19 Rajab 1016 Hijriyah.

Sepasang sejoli itu kemudian kaget bukan kepalang, mereka kini berada pada satu daerah yang tak pernah ia lihat sebelumnya, baik di sosial media maupun di buku-buku sejarah yang dibaca ketika SMA dulu. Kamaruddin dan Ona menyaksikan kemegahan suatu mukim yang membentang dari selatan ke utara, terdapat juga benteng-benteng pertahanan yang berdiri megah serta hamparan pematang sawah dan pohon lontar. Sedangkan di horizon barat di lautan sana, hilir-mudik kapal-kapal layar—ada padewakkang, lambo, kapal-kapal berbendera Portugis, Spanyol, Belanda-V.O.C, Inggris-EIC, dan ada pula lepa-lepa. Beberapa kapal di antaranya membuang sauh di sekitaran pelabuhan.

“Kita ada di mana sayang?” Tanya Ona pada Kamaruddin.

“Entahlah, yang pasti kita tidak berada di Eropa, tidak pula di Indonesia, mungkin jiwa kita terampar di salah satu sudut Nusantara pada abad ke XVII.”

“Kamu tahu yah?”

“Entahlah, cuma asal tebak.”

Sepasang sejoli itu melirik ke kanan dan ke kiri, memerhatikan suasana sekitar. Rupanya mereka berdiri di dekat jalanan—pemukiman penduduk—lalu sepasang bola mata Kamaruddin dan Ona melihat segerombolan masyarakat yang berbondong-bondong—dengan memakai busana yang mirip bangsawan-bangsawan kerajaan dahulu, ada pula yang berpakaian ala Eropa—berlarian menuju utara. Salah seorang di tengah rombongan itu berseru.

“Wahai kalian para penghuni Kerajaan Makassar! Yang berada di sekitaran benteng Somba Opu, Panakkukang, Garassi, Barombong. Wahai sekalian yang bermukim di pedalaman! Hei kalian pendatang dari tanah ogi, tanah Melayu! Penjelajah samudera dari Portugis, Belanda, Inggris, India, dan sekalian yang bermukim di butta ini. Dengarkanlah seruan yang agung ini, mari kita bersama-sama menuju istana Tumabicara Butta, Mangkubumi Kerajaan Gowa yang agung itu!”

Kamaruddin dan Ona semakin bingung atas apa yang mereka lihat, terlebih lagi mereka merasa para masyarakat yang beragam itu tak melihat keberadaannya. Lantas dengan perasaan ragu-ragu sepasang sejoli itu kemudian mengikuti kemana gerangan perginya manusia-manusia itu : manusia dari berbagai belahan bumi.

Mereka menuju utara, menuju sebuah istana yang terbuat dari kayu nan megah. Berjalan dan berjalan hingga tak terasa senja mulai menyapa. Dari kejauahan Kamaruddin dan Ona melihat seorang pria berumur dengan wajah yang teduh sedang berdiri di lego-lego—beranda—istananya yang agung. Sejenak suasana semakin riuh, lalu beberapa saat hening dan kemudian pria berumur yang berdiri di lego-lego itu berseru.

“Wahai rakyatku, hari ini telah kutahbiskan kepada kalian, bahwa Islam adalah agama resmi kerajaan ini, maka peluklah agama yang baik itu, berpalinglah dari kemungkaran dan penuhilah seruan Tuhan. Tetapi rakyatku sekalian, walaupun telah kutahbiskan Islam sebagai agama resmi, tetapi kehadiran para pemeluk-pemeluk agama lain masih bebas menjalankan keyakinannya, bebas berdagang di butta ini, tak ada larangan bagi mereka yang tidak seyakinan dengan kita untuk mencari nafkah di sini. Bagaimanapun mereka juga ciptaan Tuhan, yang membedakannya adalah cara mereka untuk meyakini keberadaan Tuhan. Kita semua, saya, kalian, dan bangsa lainnya yang bermukim di butta ini mempunyai hak dan kewajiban yang sama, kita adalah masyarakat besar di kerajaan yang besar!”

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Seluruh yang hadir di sekitaran istana itu berseru dan memanjatkan pujian serta doa panjang umur kepada junjungannya : I Malingkaang Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awalul Islam.

“Panjang umur tumabicara butta…!”

“Panjang umur mangkubhumi kerajaan…!”

“Panjang umur Perdana Menteri raja di Makassar…!”

Begitulah seruan yang serempak hingga seruan itu serasa memecahkan langit, adapun Kamaruddin dan Ona kembali merasakan sakit kepala yang teramat, kilatan cahaya saling nyambar-menyambar, sepasang sejoli itu mairat, mallajang, dan menemukan dirinya kembali dalam keadaan duduk berdampingan di kursi yang empuk. Kini bukan lagi pemandangan eksotisme Abad ke XVII yang mereka lihat, melainkan sekumpulan pria dan perempuan yang berpakaian rapi—ada yang pakai setelan jas lengkap dengan peci, ada juga yang mengenakan kebaya.

“Kali ini kita di mana sayang?” Tanya Ona kepada Kamaruddin.

“Sepertinya kita berada di kantor dewan,” jawab Kamaruddin, lalu mereka kemudian memerhatikan lelaki yang duduk di meja pimpinan.

“Bapak-Ibu sekalian para anggota dewan yang terhormat, setelah menimbang seksama dari pandangan tiap fraksi, serta masukan dari masyarakat, akademisi, budayawan, dan sejarawan, serta apa yang telah kita lalui bersama. Maka Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2000 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Makassar akan kita sahkan.”

“Sebelum saya mengetuk palu, akan saya bacakan ulang penjelasan PERDA No. 1 Tahun 2000 pada pasal 2. Dijelaskan bahwa ; Penetapan Hari jadi Kota Makassar diambil dari momentum atau kejadian penting dalam sejarah Kota Makassar pada masa lalu yang bernuansa ke-kinian dan ke-depan, ringkasan arti dan pemaknaannya sebagai berikut, tanggal 9 Nopember 1607 yang bertepatan dengan hari Jumat tanggal 19 Rajab 1016 Hijriyah, merupakan peristiwa sejarah Makassar yang mempunyai makna dan nilai tinggi. Di mana Raja Tallo yang merangkap Mangkubumi Kerajaan Gowa bernama I Malingkaang Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awalul Islam mendeklarasikan sikap orang Makassar yang menjunjung tinggi pluralisme sebagai wahana menuju masyarakat madani/Civil Society dan sangat menghargai perdagangan bebas sebagaimana berkembang di era globalisasi sekarang ini. Oleh karena sesungguhnya agama Islam dinyatakan sebagai panutan resmi kerajaan, namun golongan dan agama lain di dalam wilayah kerajaan punya hak yang sama dan mempunyai kebebasan dalam berniaga dan bermasyarakat.”

Syahdan, setelah membaca penjelasan tersebut, pria yang duduk di meja pimpinan mengetuk palu tiga kali, sebagai tanda disahkannya peraturan daerah tersebut. Bersama dengan itu, Kamaruddin dan Ona lagi-lagi merasakan sakit kepala yang teramat kemudian disusul kilatan menyambar dan mereka menghilang—mairat, mallajang—dan menemukan dirinya kembali duduk di Pantai Losari, sedangkan di horizon sana matahari mulai tenggelam.

Sumber gambar: http://makassarkota.go.id/foto_berita/24rotterdam.jpg

Uraian Singkat tentang Hari Jadi Sulawesi Selatan

Peringatan hari jadi Sulawesi Selatan yang ke-348 tahun telah lewat sudah. Pesta meriah untuk merayakannya pun sudah usai—baik gerak jalan santai, panggung hiburan di CPI, dst. Kenduri yang digelar tiap tahun di rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan—dengan mengundang khayalak—pun telah berlalu, meninggalkan kenangan yang tersemai di sanubari masyarakat—baik guru-guru, pegawai negeri sipil, aparatur birokrasi, masyarakat umum, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, sampai yang punya toko bahan bangunan.

Tidak hanya di jagad nyata, perayaan hari jadi Sulawesi Selatan juga dirayakan di dunia maya. Masyakat Sulawesi Selatan zaman now beramai-ramai mengunggah status ucapan selamat di sosial media. Pun tak ketinggalan memasang foto profile di facebook dengan bingkai hari jadi Sulawesi Selatan yang sendu-mendu nan unyu-unyu. Melihat itu semua ada satu keharuan yang menerpa sanubariku—walaupun keharuan itu tidak menebalkan dompet saya.

Meskipun demikian, ada satu syakwasangka yang terlintas di kepala saya—sebuah praduga yang dibidikkan bagi masyarakat Sulawesi Selatan yang merayakan hari jadi provinsinya—kira-kira begini : “Tauwwa, banyak orang yang merayakan hari jadi Sulawesi Selatan, tapi… natauji itu-kah ngura’ Sulawesi Selatan berumur 348 tahun? Nataujika apa yang terjadi di Sulawesi Selatan 348 tahun lalu silam?”

***

Untuk menjawab praduga yang diejawantahkan dalam bentuk pertanyaan—itu, maka seyogyanya kita harus mentadaburi koleksi Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Cobalah buka koleksi lembaran negara, cumbuilah lembar demi lembar hingga Tuan, Puan, Ambo, Indo, Mangge, Daeng, dan Anri’ sekalian menemukan sebuah regulasi bernama : Peraturan Daerah No. 10 Tahun 1995.

Aturan itulah yang mendasari hari jadi Sulawesi Selatan. Dalam peraturan daerah tersebut ditetapkan hari jadi Sulawesi Selatan jatuh pada 19 Oktober 1669. Penetapan hari jadi ini tentu melewati perdebatan yang sangat panjang, dialektika keilmuan yang begitu kompleks—melihat dari dimensi sejarah, budaya, sosial, dan politik. Setidaknya, ada tiga penjelasan yang mendasari ditetapkannya tanggal 19, bulan Oktober, tahun 1669.

Pertama, urusan tanggal. Angka 19 dipilih berdasarkan peristiwa yang terjadi di masa awal kemerdekaan. Tepatnya peristiwa sejarah yang terjadi pada 19 Agustus 1945. Pada tanggal, bulan, dan tahun tersebut, di Jakarta para pendiri bangsa melalui sidang PPKI menetapkan pembagian wilayah daerah dalam lingkup Republik Indonesia, di mana salah satunya wilayah bernama Propinsi Sulawesi.

Kedua, urusan bulan. Dipilihnya bulan Oktober mengacu pada satu peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan yang terjadi di bulan Oktober 1945. Peristiwa itu dikenal sebagai Deklarasi Djongaya 15 Oktober 1945, yaitu kesepakatan sejumlah raja-raja di Sulawesi Selatan untuk menyatakan diri berada di belakang kekuasaan Republik Indonesia.[1] Dalam bagian ‘penjelasan’ peraturan daerah tersebut, diterangkan pula tentang alasan lain memilih bulan Oktober, yakni momentum kesepakatan para raja-raja di Sulawesi Selatan untuk menyatakan diri sedarah dan seketurunan pada 11 Oktober 1674. Kejadian-kejadian itulah yang merumuskan bulan Oktober sebagai “bulan-nya Sulawesi Selatan”.

Ketiga, urusan tahun, dipilihnya tahun 1669 tak bisa dilepaskan dari berakhirnya Perang Makassar, suatu perang yang memperhadapkan Sultan Hasanuddin dengan sekutunya dan Speelman dengan sekutunya. Di mana akhir dari perang ini ditandai dengan penghancuran Benteng Somba Opu dan bercokolnya V.O.C sebagai kekuatan baru di Jazirah Sulawesi.[2]

Lalu, apa pesan atau makna yang coba disampaikan dari “tanggal” , “bulan” , dan “tahun” tersebut? Secara sederhana—tanggal 19 dan bulan Oktober dapat diartikan sebagai makna simbolik dari semangat nasionalisme, patriotisme, persatuan, dan kesatuan. Peristiwa seputaran tanggal 19 dan bulan Oktober tersebut memberikan gambaran bahwa para pendahulu kita melepaskan atawa menanggalkan ego-ego kedaerahannya demi satu tujuan, persatuan dan kesatuan yang tercermin dalam semangat nasionalisme-patriotisme. Sedangkan makna simbolik di balik tahun 1669 sesungguhnya memberikan pesan perdamaian, cinta kasih, dan introspeksi. Bahwa, konflik saudara yang pernah terjadi di masa itu, sekiranya tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Bahwa luka yang pernah tertoreh dalam hati leluhur kita cukup berhenti pada mereka. Bukankah pasca Perang Makassar, Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka menunjukkan kebesaran jiwanya?! Mengubur luka masa lalu dan kembali merajut tali persaudaraan dengan menikahkan I Mariama Karaeng Patukanga (anak dari Mappadulung Sultan Abdul Jalil Tumenanga ri Lakiung Somba ri Gowa—cucu Sultan Hasanuddin) dengan La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris Matinroe ri Naga Uleng Mangkau ri Bone (yang merupakan kemenakan / keponakan tersayang Arung Palakka).[3]

***

Jadi! Dari penjelasan singkat di atas para handai tauladan sudah tahukan mengapa kita  merayakan hari jadi Sulawesi Selatan yang ke-348 tahun?! Semoga kiranya tulisan sederhana ini membawa faedah untuk kita semua. Yah minimal kalau natanyaki ana’ta nanti bisa dijawab… Ok! Wassalam….

[1] Informasi ini bisa pula didapatkan dalam bukunya Anak Agung Gde Agung, Dari Negara Indonesia Timur ke Negara Indonesia Serikat. (Yogyakarta : Gadjah Mada Press, 1985) dan atau tesis dari Najamuddin, Sulawesi Selatan : Pergumulan Antara Negara Federal dan Negara Kesatuan. Tesis (Jakarta : FIB UI, 2000)

[2] Urusan angka 1669 sebagai pilihan tahun “hari jadi Sulawesi Selatan” pernah diulas dalam artikel Pedoman Rakyat edisi 19 Oktober 2003 berjudul Inilah yang Terjadi 334 Tahun Silam.

[3] Untuk mengetahui silsilah kekerabatan Raja-Raja di Sulawesi Selatan dapat dibaca karyanya Suriadi Mappanggara, dkk. Atawa bisa langsung dilihat silsilahnya di Perpustakaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar, Jalan Sultan Alauddin Km.7