Semua tulisan dari Jasman Al Mandary

Pustakawan di Lentera Manakkara.

Asa di Jinjingan

Anak itu hadir bersama tanda waktu yang sedang resah di Mamuju. Tanah Manurung dirundung murung oleh tiupan musim yang bonsai. Di ambang gelap  ia menjadi kisah.

***

Ia meniti tanggul yang memanjang seratus meter di depan rumah adat. Tanggul yang tak pernah sepi di senja hari, oleh muda mudi. Ada yang menggandeng pacar, ada pula yang merenungi sapaan angin dan ombak yang tak henti menampar tepi tanggul.

Pada sudut lain, gadis belia tertunduk tanpa ekspresi menatap kosong ke Pulau Karampuang yang beku, jauh dilepasan pantai Manakarra. Mungkin sedang patah hati. Ada juga yang sibuk bersolek, bergaya bak model tabloid dewasa Korea dan seorang karibnya bersiap merapatkan mata ke camera DSLR. read more

Anakronisme Sejarah: Bapak yang Terlupakan

Dentuman diskusi didedahkan di sebuah warung kopi, Jl. Wr Monginsidi Mamuju. Panitia menugasi mengulas referensi seputar pemikiran Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka

***

Saya memulai dengan ulasan bahwa, Tan Malaka adalah orang pertama yang  menulis secara utuh konsep Republik Indonesia. Oleh Moehammad Yamin digelari bapak Republik, sedang Sukarno, menyebutnya seorang yang mahir dalam revolusi. Tetapi ia dilupakan begitu saja. Namanya tak pernah muncul dalam sejarah arus utama, kecuali dengan embel-embel pekai, pemberontak, kominis tak bertuhan dan sederet hal-hal buruk lainnya. read more

Para Penggenggam Arit

Sekelompok manusia berarak menuju sebidang tanah di kaki bukit, turun dari rumah dengan sarung terikat di pinggang. Mereka menggenggam arit, separuhnya lagi berjalan sambil memikul cangkul dengan kaki ringkih telanjang.

Pagi itu cuaca cerah, petani di perbatasan Seko dan Kalumpang itu, akan memanen padi setelah tiga bulanan menunggu. Pada hamparan sawah mereka padi-padi itu tertunduk sempurna, menguning dengan bulir yang padat meski ditanam di musim tak tentu.

Demikianlah adanya padi di kaki Bukit Sandapang. Orang-orang sekitar memang tak pernah berpatokan pada musim hujan atau kemarau saat hendak menanam. Lebih-lebih tak mau terjebak dalam rumus para penyuluh pemerintah yang mereka anggap tak memahami konsep pertanian secara baik. Mereka lebih teguh memegang tradisi purba dengan berpatokan pada batu pare. Batu dalam bahasa Kalumpang berarti sebuah batu, sedangkan pare berarti padi. read more

Pergulatan Tanpa Henti

Sejenak memanggul renung selepas malam menggelinding dan hujan menempias di balik pucuk pohon yang tumbuh di halaman. Mozaik hening mengisah ngilu serta setumpuk pertanyaan di kepala dan juga harapan yang timpah-penimpah.

Gemuruh di luar kian menjadi. Arakan hujan menggedor atap rumahku. Namun, mataku tetap lena pada banjaran aksara, hendak mengemasi cerita tentang padi dan sawah di kaki Bukit Sandapang dan sekelompok manusia penggenggam arit, di pedalam Bagian Barat Sulawesi.

Tetapi tiba-tiba aku melenguh, mengingat jiwa-jiwa yang runtuh dihajar banjir, pagi kemarin. Dalam hati kecilku ada doa semoga huja malam ini tak lagi berbuah banjir. read more