Semua tulisan dari Jusnawati

Penulis adalah pengelola forum “ngegosip buku”, Menyukai petualangan di arena-arena yang menantang, Berharap menjadi sosok As syifa di manapun dan dalam kondisi apapun.

Mereka yang tidak Tercatat Sejarah Kepahlawanannya

Pahlawan selalu diidentikkan dengan orang-orang yang memiliki semangat juang yang tinggi. Mereka rela mengorbankan segala hal yang mereka miliki, bahkan nyawa sekalipun. Demi memperjuangkan kepentingan orang lain dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Dari Sulawesi Selatan misalnya, sebagaimana yang dilansir Bicara Id, ada Opu Daeng Risadju, pahlawan perempuan dari Palopo. Arung Palakka, Pahlawan yang berasal dari Bone. Kemudian Syekh Yusuf Tajul Khalwati, pahlawan sekaligus tokoh mitologi yang berasal dari Gowa, dan La Maddukkelleng sebagai pahlawan yang berasal dari Wajo. Mereka berjuang dengan cara masing-masing, melawan penjajahan Belanda untuk memerdekakan diri dari segala tindakan tak berprikemanusiaan.

Masa kiwari, pahlawan juga bisa disematkan kepada orang yang kaya prestasi. Orang-orang yang mengharumkan nama bangsa dengan cara perdamaian di atas visi dan misi cinta kasih. Banyak pahlawan semisal Gusdur, yang dikenal sebagai bapak pluralisme di Indonesia, Mahatma Gandhi sebagai sosok yang gencar dengan gerakan ahimsanya (non kekerasan), dan bunda Teresa yang dikenal sebagai sosok Misionari cinta kasih dari India. Mereka berperang  bukan dengan bedil dan angkatan senjata lainnya, tetapi dengan menyuarakan pesan cinta kasih tanpa pilih kasih, serta kepedulian terhadap kaum lemah.

Pada konteks yang berbeda, penulis juga dapat dikatakan sebagai pahlawan. Seorang penulis adalah pahlawan bagi ide-ide, gagasan, dan suara hatinya. Melalui tulisan yang menjadi buah penanya, ia menuangkan ide dan gagasan yang memenuhi batok kepalanya dan menyuarakan hal-hal yang dirasakannya. Segala hal yang diamati dan dirasakan oleh penulis, baik kondisi masyarakatnya, pengalaman pribadi, maupun imajinasi kreatif yang tumbuh seketika dalam kepalanya akan menjadi modal dasar dalam pertempuran.

Sebuah pertempuran, tidak hanya memerlukan modal dasar untuk mencapai hasil yang maksimal tetapi harus ditopang oleh strategi yang baik. Dunia kepenulisan pun memerlukan strategi dalam mengolah ide, gagasan, dan suara hatinya untuk melahirkan tulisan yang berkualitas. sebagaimana Ayu Utami menerangkan dalam sebuah bukunya yang berjudul Menulis dan Berfikir Kreatif. Strategi pengolahan ide bagi Utami memiliki tiga tahap; tahap orientasi, menimbang ide, dan penentuan struktur dasar narasi.

Tahap orientasi merupakan titik awal,  yakni penulis memikirkan dan menentukan titik awal, “dari mana memulai sesuatu?” Tahap orientasi ini terbagi dua yaitu orientasi eksterior dan orientasi interior. Orientasi eksterior adalah peninjauan ke luar. Pada posisi ini, seorang penulis memetakan diri dalam hubungannya dengan dunia di luar dirinya, sedangkan orientasi interior adalah usaha penulis memahami cara pikiran bekerja, yang tidak terlihat dari luar. Pada posisi ini, penulis harus memetakan mentalnya dengan menggunakan kompas batin.

Kompas batin atau kompas perjalanan kreatif  disebutkan Utami sebagai poros-poros penghayatan, yang harus dimiliki dan dikenali oleh penulis dalam menciptakan karyanya. Poros-poros tersebut dapat dilihat dari berbagai sisi; kiri-kanan, atas-bawah, dan abstrak. Melalui poros-poros tersebut, penulis hendaknya berada di tengah poros. Sehingga penulis mampu memposisikan keberadaannya dan mengatur keseimbangan muatan tulisannya.

Tahap kedua adalah menimbang ide. Pada tahap ini, penulis dianjurkan untuk meninjau beberapa hal; tingkat keabstrakan maupun kekonkritan tulisan, menilai tingkat urgensi serta kebaruan suatu ide, menuliskan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami pembaca, menciptakan struktur logis yang penuh kejutan, dan menemukan struktur cerita. Hal tersebut penting untuk melahirkan tulisan yang berbobot.

Adapun tahap ketiga adalah menciptakan struktur dasar narasi. Pada tahap ini, diperlukan dialektika antara kebebasan dengan struktur. Kebebasan penulis dalam memunculkan ide dengan struktur yang harus dibangun dalam menghidupkan ide tersebut. Struktur itu dikenal dalam tiga bagian yaitu awal, tengah, dan akhir. Istilah lain dalam dunia kepenulisan dikenal dengan tahap pengenalan, klimaks, dan resolusi.

Perjuangan seorang penulis tidak hanya sampai di situ. Bersama buku, penulis mengembangkan dan menguatkan idenya. Di hadapan pena dan laptop pula penulis meneguhkan tekadnya, duduk berjam-jam, mengedit, mengusik kebosanan, menumbuhkan  semangat, merenung, bertemankan sepi, dan bahkan jungkir balik menemukan pupuk untuk menyehatkan tulisannya. Hingga akhirnya, penulis akan kembali meninjau dengan kesadaran penuh pada tujuan penciptaan karyanya.

Seorang penulis melewati proses panjang nan berliku ini. Mereka melahirkan karya-karya besar yang berpengaruh dan menggerakkan hingga mengubah kehidupan manusia, tatanan masyarakat dan lain-lain. Demikian Sang buah pena menyapa segenap pembacanya, berdialog dengan melintasi ruang dan waktu, tempat di mana penulisnya berada. sebagaimana sabda Sang Sastrawan Seno Gumira Ajidarma “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, dan suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” Melalui tulisan, seorang penulis bicara tentang hal-hal yang dibungkam, berkata tentang kesenjangan das sein dan das sollen, serta menyentuh banyak orang dengan melintasi zaman, dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan ke permukaan.

Itulah kala penulis dan buah penanya menjadi pahlawan. Pahlawan yang tak ternarasikan dalam sejarah kepahlawanan negeri.

 


sumber gambar: tribunnews.com

Waktu Senggang Perempuan di Bawah Telunjuk Kapitalisme

 

Rentang sejarah kehidupan manusia yang panjang, ada gerak perubahan yang menjadi keniscayaan dalam semesta kehidupan. Hal tersebut tak menampik timbulnya pembelahan atas waktu yakni waktu senggang dan bekerja, yang mewarnai ragam corak kehidupan manusia, terutama makhluk yang bergelar perempuan. Peristiwa ini telah diulas dengan apik oleh salah seorang Intelektual di Makassar, Muhammad Ridha dalam bukunya “Sosiologi Waktu Senggang: Eksploitasi & Komodifikasi Perempuan di Mall”.

Josef Pieper dalam Ridha, mengemukakan pemanfaatan waktu senggang yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Di mana waktu senggang pra industri tepatnya di era Yunani klasik, dimanfaatkan untuk produktifitas pemikiran dengan berfikir mendalam dan radikal tehadap makna filosofis dan hakiki kehidupan manusia, berlangsungnya aktivitas berdiskusi, berimajinasi soal-soal terdalam kemanusiaan. Sehingga pemanfaatan waktu senggang melahirkan banyak buah pemikiran yang cemerlang di zaman tersebut seperti Anaxigoras, Parmanedes, Plato, Sockrates, Aristoteles dan lain-lain. Tak luput juga karya-karya dari beberapa filosof perempuan yang lahir di masa itu, yang saat ini jarang disabdakan, seperti Theano yang merupakan istri Pytagoras, Diotima dari Mantinea yang diakui Plato sebagai mentor Socrates, Aspasia dari Miletus sang politikus, Hypatia dari Alexandria sebagai ahli matematika dan fisuf neo-platonis.

Pasca industri, waktu bekerja belangsung padat, pemanfaatan waktu senggang mengalami pergeseran aktivitas. Sebagaimana yang dibahasakan Ridha, waktu senggang tidak lagi bermakna kontemplatif, tetapi pada makna simbolik konsumsi. Lebih jauh diungkapkan di era industrial lahir masyarakat konsumen, di mana praktek waktu senggang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dengan kerja secara jelas, yakni keduanya bisa dilakukan bersamaan dalam satu kesempatan. Waktu senggang seperti halnya waktu kerja yang dinilai sebagai aktivitas ekonomi di mana waktu senggang ini dimanfaatkan oleh industri dalam proses penjualan komoditasnya.

Pada era ini pula, gaung kebebasan bagi perempuan bergema. Perempuan menemukan momentum kebebasan dirinya untuk mengaktualisasikan diri secara terbuka di ranah publik, setelah melewati proses diskriminasi yang cukup lama. Pendiskriminasian perempuan dalam analisa penulis, telah lahir dari konstruksi sosial yang telah tertanam sejak berabad-abad, perempuan didefenisikan di bawah kekuasaaan dan kepentingan laki-laki. Sebagaimana Plato dan Rene Descartes  dalam Arivia mengungkapkan bahwa perempuan adalah makhluk yang irasional, tidak mampu dalam ilmu pengetahuan. Selain itu, Thomas Aquinas, Aristoteles, Francis Bacon mengatakan bahwa perempuan layaknya berada di dunia domestik dan berfungsi sebagai makhluk bereproduksi daripada mereka berkecimpung di dunia publik sebagai makhluk yang produktif. Pada masa Arab jahilia, perempuan juga dimaknai sebagai aib besar bagi keluarga, liang kubur menjadi rumah yang nyaring akan tangisan bayi perempuan. Jika hidupnya dipertahankan, ia hanya sebatas pelayan laki-laki.

Setelah kehadiran Rasulullah saw, melalui kehadiran buah hatinya Fatimah Az Zahrah, barulah perempuan mendapatkan tempat dalam struktur masyarakat jahilia kala itu. Fatimah Az Zahrah menjadi tonggak istimewa diakuinya eksistensi  dan hak-hak kemanusiaan perempuan. Meski demikian, kepentingan dan kekuasaan laki-laki tetap langgeng seiring dengan gerak zaman. Sejarah yang menjadi pil pahit yang harus ditelan oleh kaum perempuan juga digambarkan Frederick Engels dalam bukunya, “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara” tentang ruang gerak perempuan yang direduksi seiring dengan perubahan dalam organisasi keluarga. Fase awal, perempuan dan laki-laki tidak memiliki ikatan dengan perempuan  dan perempuan bebas menentukan hidupnya.

Fase kedua, terjadi seleksi alam, populasi perempuan lebih sedikit daripada laki-laki sehingga banyak laki-laki yang memutuskan untuk tidak ingin melepaskan pasangannya. Sejak itu, diberlakukan aturan mengenai pasangan tetap. Pada masa ini perempuan dianggap sebagai asset. Engels mengasumsikan bahwa masyarakat ketika itu adalah masyarakat matrilineal (garis keturunan ibu) dan juga masyarakat matriarkhal (perempuan mempunyai kekuasaan ekonomi dan politik). Fase ketiga, perkembangan dan perubahan terus terjadi, aktivitas memproduksi alat-alat material rumah tangga dianggap tidak memadai lagi, aktivitas perburuan binatang kemudian menjadi mata pencaharian yang penting untuk kelangsungan hidup. Di sini pergeseran kekuasaan mulai terlihat berubah, pembagian kerja dibentuk, perempuan terkungkung di dalam pekerjaan rumah dan dianggap tidak lebih penting dari aktivitas laki-laki. Hal ini disebabkan, hasil perburuan tidak hanya untuk makan tetapi dapat dipertukarkan dengan barang lain. Sehingga hasil produksi laki-laki semakin dihargai. Atas dasar itu, laki-laki kemudian menempati posisi yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat.  Sampai pada akhirnya, laki-laki menggeser garis matrilineal menjadi garis patrilineal dan mengokohkan budaya patriarkhal. Engels mengatakan pada saat itulah terjadi “kekalahan sejarah terbesar bagi mereka yang berjenis kelamin perempuan”.

Pengukuhan atas identitas dan posisi perempuan dalam rentang sejarahnya yang cukup panjang ini, telah berhasil menanamkan nilai ruang yang telah dijeniskelaminkan, bahwa perempuanlah yang menjadi pemangku ranah domestik, meski gaung kebebasan tentang aktualisasi diri telah digencarkan oleh para feminisme di era industri. Ibarat gayung yang bersambut dengan wajah sistem kapitalisme yang tumbuh subur pada era ini. Peran dan kebutuhan pemangku domestik, disambut baik oleh sistem kapitalisme dengan menyediakan tempat yang nyaman dan ragam kemudahan bagi perempuan dalam mendapatkan segala kebutuhan domestik. Prinsip efisiensi dan efektifitas ini telah mendukung langkah-langkah strategis perempuan dalam melakukan aktivitas konsumsi.

Selain sebagai pelaku konsumsi, perempuan juga menjadi sasaran empuk kapitalis untuk menjadi objek pelaris. Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Dunia yang Dilipat” melihat keterpautan antara perempuan dan ekonomi politik tubuh. Adalah hal yang kontradiksi, perempuan yang menyatakan telah mendapatkan kebebasannya berekspresi di ranah publik atau kegiatan-kegiatan industri, namun terperangkap dalam tata tertib atau pendisiplinan tubuh melalui etiket sistem kapitalis. Di mana Yasraf mengemukakan bahwa sejarah tubuh perempuan di dalam ekonomi politik kapitalisme adalah sejarah pemenjaraannya sebagai tanda atau fragmen-fragmen tanda. Fungsi tubuh digeser dari fungsi organis biologis atau reproduktif ke arah fungsi ekonomi politik, khususnya fungsi tanda. Tubuh perempuan dimuati dengan modal simbolik ketimbang sekedar modal biologis.

Keterlibatan perempuan di ranah industri menghadirkan dua sisi yang memiliki garis impit, antara eksplorasi dan eksploitasi. Mekanisme eksploitasi tubuh perempuan agar berfungsi dan berpotensi sebagai tanda, selain di pusat-pusat perbelanjaan juga digunakan dalam media massa, sebagaimana Raditya mengungkapkan yakni nilai tanda tubuh sebagai komoditi media. Hal tersebut dapat dilihat melalui berbagai aspek. Pertama, tampilan tubuh (body apprearance), di mana tubuh ditertibkan melalui tampilan yang menekankan aspek umur, yang secara visual tubuh perempuan memiliki nilai sensualitas yang relatif tinggi. Kedua, perilaku, aspek ini menentukan relasi tanda tubuh (body sign). Dilihat dari ekspresi tubuh dengan berbagai gaya (menantang, merayu, menggoda dan lain-lain). Ketiga, Aktifitas tubuh yang menjadi penanda bagi posisi sosialnya. Diantaranya sentuhan, apakah sebatang tubuh itu pasif, aktif, lemah, dan berkuasa.

Pada posisi ini, perempuan yang tadinya telah mendapatkan kemerdekaan untuk berekspresi di ranah publik, baik dalam menikmati waktu senggangnya maupun bekerja, kembali masuk ke perangkap ketertindasan model baru, yakni melalui penjajahan atas tubuh. Bagian ini pula yang menjadi sorotan feminisme postkolonialisme, yang menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang maupun mentalitas perempuan. Melalui sistem kapitalisme, terjadi kolonialisasi terhadap tubuh perempuan, hingga perempuan tidak memiliki kuasa lagi terhadap tubuhnya.

 

Referensi:

Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan

Engels, Frederick. 2004. Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara. Kalyanamitra

Raditya, Ardhie. 2014. Sosiologi Tubuh. Yogyakarta: Kaukaba

Ridha, Muhammad. 2012. Sosiologi Waktu Senggang; Ekslpoitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mall.Yogyakarta: Resistbook.

Piliang, Yasraf Amir. 2010. Dunia yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung; Matahari.

 


 

Calabai dan Muara Bissu

Calabai adalah sisi lain dari “wajah masyarakat”. Ia merupakan identitas yang dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan yang memiliki perilaku, sikap, yang berbeda dan tidak sejalan dengan wujud fisiknya sebagai perempuan atau laki-laki pada umumnya. Pun sebagaimana teori gender mengkonstruksikan kedua jenis kelamin ini. Calabai melabrak konstruksi tersebut. Sosok Calabai, sebagaimana Pepi Al-Bayquni telah mengemasnya dengan begitu apik dalam sebuah novelnya yang berjudul Calabai; Perempuan dalam Tubuh Lelaki, atau dalam kalimatnya yang lebih menohok, jiwa perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki. Novel tersebut dengan detail menggambarkan lika liku kehidupan para calabai, terkhusus kepada mereka yang berada di kampung Segeri, Pangkep Sulawesi Selatan.

Sebagai identitas kedirian, calabai bisa merujuk secara personal maupun kelompok, di mana kehadirannya tidak jarang menimbulkan asap bumerang bagi penganut agama Islam tertentu. Betapa tidak, kehadiran mereka kerap dipahami sebagai orang yang melanggar fitrah ciptaan Tuhan, yang hanya menciptakan dua jenis kelamin yakni lelaki dan perempuan, dengan sifat dan ciri khas yang berbeda. Lalu, bagaimana mungkin kehadiran seseorang di luar dari jalur ini bisa ada dan diterima? Setidaknya pertanyaan inilah yang menjadi awal pro dan kontra penerimaan atas eksistensi calabai. Hal ini juga menjadi bagian penting yang disinggung Pepi dalam alur cerita novelnya, di mana Kiyai Kusen dihadirkan sebagai sosok tokoh Islam dalam novel tersebut. Kiyai Kusen memberikan penjelasan berbeda dari apa yang selama ini didapatkan oleh para calabai, melalui ceramah agama tentang diri mereka yang kerap menimbulkan angkara murka.

Melalui Kiyai Kusen, para calabai mendapatkan angin segar dan ceramah meneduhkan. Sebuah penjelasan yang akan membuka cakrawala berfikir para pembaca, melalui metode dialog yang produktif dan argumentasi rasional. Dalam dialog tersebut tidak ada kesan penghakiman secara sepihak, tapi justru tuntunan yang mencerahkan dengan meletakkan pandangan Islam yang ramah, yang mampu mendialogkan situasi dengan sifat merangkul. Demikian, Kiyai Kusen menjadi representasi tokoh Islam yang bijaksana dan mencerahkan, dengan meletakkan persoalan calabai dari sudut pandang yang berbeda. Output yang diperoleh pun berupa respon positif dalam menanggapi eksistensi calabai.  Pada perbincangan calabai ini, agama dihadirkan melalui pandangan yang terbelah. Maka benarlah analisa sang sosiolog kontemporer, Robert K.Merton melalui analisa fungsionalnya tentang agama. Merton mengemukakan agama mampu mempertinggi tingkat kohesi suatu masyarakat, dan di lain sisi agama memiliki konsekuensi disintegratif.

Calabai dalam pandangan sebagian penganut agama Islam, di satu sisi menganggapkannya sebagai makhluk yang dilaknat Tuhan, sehingga kehadirannya hanya akan mendatangkan musibah. Pandangan ini memiliki kecenderungan dalam penarikan kesimpulan yang tergesa-gesa, dengan menyandarkan dalil-dalil penafsiran ayat al-quran dan hadis secara tekstual. Jika ditilik pandangan ini memiliki konsekuensi disintegratif. Di sisi lain, sebagian penganut agama Islam pula memandang calabai melalui penelaahan yang lebih mendalam akan seluk beluknya, dan tidak hanya menyandarkan penelaahan secara tekstual pada tafsiran ayat-ayat al-quran dan hadis. Sehingga pandangan berbeda pun timbul terkait keberadaan calabai. Melalui pandangan ini kran kemungkinan diberikannya apresiasi dan penghargaan akan eksistensinya sebagai ciptaan Tuhan terbuka lebar, bagi calabai yang pada dasarnya sejak lahir telah diberikan kecenderungan naluri atau jiwa yang berbeda dari manusia pada umumnya. Karena pada dasarnya kecenderungan naluri dan kejiwaan yang dibawa sejak lahir adalah di luar dari kehendak mereka. Pandangan ini, memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam menarik kesimpulan serta penelusuran yang mendalam terhadap kehadiran calabai. Pada posisi ini, pandangan penganut agama Islam tentang kehadiran calabai sangat potensial menciptakan kohesi suatu masyarakat.

Kehati-hatian dan penelusuran mendalam tersebut ditunjukkan dalam penjelasan Kiyai Kusen. Kiyai Kusen tidak hanya menyandarkan sudut pandangnya pada dalil-dalil penafsiran agama dan kekuatan penalarannya, tetapi juga mengawalinya dengan meluruskan pemahaman kita terlebih dahulu tentang calabai itu sendiri. Kiyai Kusen dalam dialognya membagi dua calabai atau waria, yakni ada yang dikenal banci tulen dan banci bikin-bikinan, sebagaimana Pepi pada alur cerita, sebelum tokoh Kiyai Kusen dihadirkan dalam novelnya, juga dengan terang mengungkapkan tiga tingkatan calabai, pertama disebut Calabai Tungkena Lino, mereka adalah laki-laki yang sejak kecil bersifat perempuan, tapi tidak genit. Kedua, Paccalabai, yakni Calabai yang genit. Ketiga, Calabai Kedo-Kedo, yakni lelaki tulen yang meniru-niru sifat perempuan. Berdasarkan pembagian ini, dapat dilihat kategori atau tingkatan calabai mana yang tidak dikehendaki agama Islam. Sehingga penghakiman dan pandangan yang menggeneralisir kehadiran calabai dapat dikatakan sebagai pemikiran yang keliru.

Berangkat dari pemahaman ketiga tingkatan calabai ini, Calabai Tungkena Lino dan Paccalabai dikatakan adalah calabai yang potensial menjadi bissu, dan yang paling potensial adalah Calabai Tunkena Lino. Bissu bermakna bersih, ia tidak memiliki nafsu yang berkobar-kobar untuk bersetubuh. Bissu melampaui jenis kelamin. Sebelum calabai ini menjadi bissu, mereka harus melewati beberapa tahap ujian, termasuk bagaimana mereka mengendalikan gairah birahi dan mendapatkan tanda-tanda dari Dewata. Bissu adalah penutur spiritual, pemangku ritual, dan terdapat bissu tertentu yang mendapatkan hidayah dalam kemampuan berbahasa Torilangi, bahasa yang diyakini sebagai bahasa Dewata. Pada zaman kerajaan mereka diberikan tugas penting dan posisi yang terhormat. Mereka diamanahkan untuk menjalankan acara adat di Bola Arajang, menjaga benda-benda pusaka kerajaan, dan pelaksana ritual Mappalili dalam kahidupan masyarakat bertani.

Hiruk pikuk kehidupan calabai hingga menemukan muara kehidupan bissu, terang diuraikan dalam novel Pepi. Mereka yang harus berhadapan dengan dua “wajah masyarakat” sebagai ruang tapak tilasnya. Sebagaimana yang dikatakan Bordieu, masyarakat sebagai ruang (spasial) yang berisi perbedaan-perbedaan dan di dalamnya terdapat berbagai hubungan sosial dominatif yang tersembunyi. Calabai adalah salah satu identitas yang menjadi aktor dalam hubungan sosial dominatif tersebut, dan mengambil bagian di arena diskriminatif.

Syahdan, bagaimana kita menyikapi perbedaan ini, bukankah dari beragam perbedaan yang mereka miliki, kita memiliki satu kesamaan hakiki dari segi kemanusiaan yang tidak bisa disangkal? Wallua’lam bissawab.

 

*Terbit sebelumnya di Harian Radar Makassar

 


sumber gambar: institup.com

Anne dan Getaran untuk Anak Bangsa

Nama Anne di Indonesia ini mungkin sudah banyak, tapi Anne dalam tulisan saya ini bukanlah Anne sebagaimana Anne yang biasa kita temui di tengah jalan, mal, pasar dan sekolah, tapi kemungkinan terdekatnya, sosoknya adalah imajinasi kita dan bagian dari diri kita yang terejawantahkan sebagai Anne. Saya pun tidak tahu seberapa banyak orang yang telah mengenal, berakrab-akrab dengannya, bahkan berasyik masyuk mengikuti perjalanan hidup dan sepak terjangnya. Sosok yang bagi saya agak misterius saat awal saya mencoba mengenalnya lebih dekat. Dialah Anne yang termaktub dalam Anne of Green Gables.

Anne of Green Gables disabdakan Lucy M.Montgomery sebagai novel yang mengangkat nilai-nilai kasih sayang, persahabatan, dan imajinasi. Anne dinobatkan sebagai aktor utama yang mengendalikan alur perjalanan Anne of Green Gables.Usianya yang masih sangat muda dengan pemikiran yang brilian dan karakter yang unik,  menjadi teka-teki bagi pembaca yang melahap kisahnya. Usianya yang masih sekitar 11 tahun dan pertemuan dengan orangtua angkatnya, menjadi awal kemekaran bunga-bunga kehidupannya yang memancar indah, walau sesekali harus diterpa badai.

Bagaimana tidak? Dia harus mengalami pertarungan batinnya, antara kegembiraannya menemukan orangtua yang mengangkatnya sebagai anak, dan memiliki rumah sendiri, dengan awal kehadirannya yang diam-diam tidak diinginkan oleh orangtua angkatnya, hanya karena keberadaan dirinya di rumah tersebut adalah hasil kesalahan. Anne menggantikan sosok anak lelaki dari panti asuhan yang menjadi awal pengharapan orantua angkatnya.

Anne dengan karakternya yang banyak bicara, memiliki pertanyaan ibarat “mata air”, semangat yang bergejolak, rasa penasaran yang membumbung pada hal-hal baru, dan imajinasi yang luas, awalnya menjadi kecemasan ibu angkatnya. Tapi siapa sangka, hanya dengan hitungan bulan, Anne bisa menarik simpati, dan memenangkan hati orangtua angkatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering keluar dari bibirnya terkadang menjadi bom bagi dirinya sendiri, tetapi diam-diam kecerewetannya menjadi buah kerinduan orangtuanya.

Kalimat yang sering diutarakan adalah kalimat yang melampui bahasa umurnya. Kerap pula bahasanya dikatakan sebagai bahasa canggih bagi teman-temannya, bahkan oleh orang yang lebih dewasa dari dirinya. Kata apa, mengapa, kapan, dan bagaimana selalu menjadi makhkota dalam ucapan yang keluar dari mulutnya. Imajinasinya yang luas melabrak batas-batas kebiasaan orang di sekitarnya, berbincang dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, air yang mengalir, dan benda mati di sekelilingnya membawa ia berselancar dengan riang tanpa batas.

Tapi bukankah ini suatu cara untuk menjalin kedekatan dengan alam? Tepatnya berdialog dengan alam, yang saat ini kerap diabaikan oleh orang dewasa dan orang-orang yang menggelari dirinya sebagai orang modern, di tengah pertumbuhan industri yang sangat pesat. Alam ditaklukkan dengan sedemikan rupa di bawah kekuasaan manusia.

Tapi Anne, sang gadis kecil Green Gables tidak hidup dalam lingkaran pemikiran manusia modern itu, mampu berdialog dengan alam di sekitarnya dengan penuh penghayatan. Ia begitu hidup dengan keragaman imajinasinya yang terus mengalir. Kegemarannya membaca buku, kesenangannya membantu, sikap tulus dan ketekunanya, serta kasih sayangnya, tidak hanya tercurah kepada orantuanya, tetapi kepada sahabat, rekan sekolahnya, dan orang-orang berjasa di sekitarnya, membuat ia menjadi anak yang dikagumi dan dihormati.

Hal yang dilakoni oleh Anne adalah hal yang saat ini jarang diperankan oleh anak era kiwari. Bahkan mungkin sebagian generasi digital saat ini menganggapnya sebagai peran yang aneh dan jauh dari kesan modern. Mereka begitu sesak diserbu perangkat digital. Orangtua, teman sebaya, dan orang-orang di sekitarnya selalu dilengkapi dengan gadget, akhirnya anak-anak pun tumbuh sebagai penikmat bahkan pecandu gadget.

Bagaimana tidak? Gadget begitu sangat memesona melalui kemudahannya dalam banyak hal, keseruannya melalui audio visual dan pengunaannya yang mudah, hanya gerakan jemari dan pandangan fokus tertuju pada layar gadget, maka di sanalah kesenangan dan kepuasan mereka temukan.

Ada hal menarik dan penting untuk diketahui melalui pertumbuhan anak di era modern ini, era di mana anak dilengkapi dengan kecanggihan teknologi. Salah satu analisa Yee-Jin Shin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak terkemuka di Korea, yang mencengangkan bahwa kehadiran perangkat digital sangat potensial menyebabkan anak menjadi matang semu, mengalami gangguan kejiwaan, tidak bisa mengontrol emosi, dan terlihat antisosial.

Mereka tumbuh dengan jiwa yang hampa, yang mengenal kepuasaan sesaat bukan kebahagiaan. Hal yang sangat mengerikan bukan? Hal ini benar-benar menjadi tantangan berat bagi orang tua modern untuk mengendalikan kehadiran gadget di rumah dan di tangan buah hati, bukan justru sebaliknya. Beruntunglah Anne yang tidak berada di lingkungan demikian.

Lingkungan Anne adalah lingkungan yang begitu mengapresiasi keindahan dan kelestarian alam, lingkungan dengan didikan orangtua yang tidak serba instan, yang mengajarinya keterampilan, dan penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan potensi yang dimilikinya. Kebijaksanaan orangtua angkatnya di antara detik-detik waktu yang berdetak, akhirnya mampu mendidik Anne untuk perlahan beradaptasi, mengelola kecerewetannya pada hal yang posistif dan mengenali karakternya serta memahami keadaan orang lain, sehingga ia tumbuh dengan sikap kepedulian sosial yang tinggi. Anne, sosok yang awalnya tidak diinginkan menjadi sosok yang begitu sangat disayangi dan dikagumi. Tidak hanya bagi orangtuanya, tetapi juga orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Demikian, novel ini sangat memikat hati saya. saya merasa kesepian ketika buku keduanya ini selesai saya baca dan buku selanjutnya belum berada di tangan saya. Akhirnya dengan penuh pengharapan dan penantian, waktu sedang menagajari saya bersabar untuk melamar satu seri sebelumnya dan 6 seri berikutnya. Novel berkualitas yang tak akan membuat anda rugi untuk memilikinya.

 

Membaca Rabiah Al-Adawiah

Sejumput Kisah Hidup Rabiah Al-Adawiah

Siapakah yang tak mengenal Rabiah Al-Adawiah? Perempuan yang melalui pemikiran dan lakonnya, memberikan sumbangsih atas pemikiran baru dalam dunia tasawuf atau kehidupan para sufi. Muhammad Atiyah Khamis dalam bukunya Penyair Wanita Sufi; Rabiah Al-Adawiah, mengulas panjang kisah Rabiah. Sosok yang dikenal sebagai seorang pemuka sufi abad kedua hijriyah. Lahir di Basrah tahun 95 H/713-714 M, pendapat lain mengatakan tahun 99 H/717 M. Ayahnya bernama Ismail yang dikenal sebagai muslim yang sabar, bertaqwa, dan Al abid (banyak ibadahnya), oleh masyarakat kala itu. Mereka hidup di kota Basrah, Iraq sebagai golongan fakir, di bawah bayang-bayang kemewahan, hiruk pikuk kehidupan keduniawian, dan tempat-tempat hiburan yang senantiasa ramai dikunjungi orang-orang bersama lakon perempuan-perempuan pelacur. Di tahun permulaan abad kedua hijriah itu pula, Basrah menjadi salah satu kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan yang paling berkembang, dan menjadi pusat perhatian para ahli filsafat, alim ulama, dan cendikiawan dari berbagai negeri Islam.

Rabiah lahir di tengah kondisi keluarga dan sosial di sekitarnya yang memprihatinkan. Tangisnya memecah keheningan malam tanpa alat penerangan yang bisa menemani proses kelahirannya, dan sehelai kain yang dimiliki untuk membungkus tubuh kecilnya. Orangtuanya bersedih hati akan peristiwa tersebut, tetapi ayahnya tetap membesarkan hatinya dan berusaha ikhlas. Rabiah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang biasa dengan kehidupan yang saleh dan penuh zuhud. Ayahnya berpulang ke rahmatullah, yang kemudian disusul oleh ibunya, di kala ia masih kecil. Sepeninggal kedua orangtuanya, Rabiah mengarungi lautan dan gejolak hidup sendiri. Di antara ketiga saudara perempuannya, Rabiahlah yang melanjutkan perjuangan ayahnya untuk membantu pencarian nafkah bagi dirinya dan kakaknya. Perahu kecil, adalah salah satu harta yang ditinggalkan oleh orangtuanya. Melalui perahu itulah, Rabiah bekerja seharian penuh menyeberangkan orang dari tepi sungai Dajlah yang satu ke tepi lain. Sedangkan saudara-saudara perempuan Rabiah bekerja di rumah, menenun kain atau memintal benang.

Kehidupan Rabiah dan saudara-saudaranya semakin dihimpit kesulitan, tatkala Basrah menjadi kota yang dipenuhi pertentangan antara satu aliran dengan aliran lainnya, kerusuhan antar penduduk pun sulit dielakkan. Sejak itu pula, kota Basrah mengalami berbagai bencana alam, seperti kekeringan akibat kemarau panjang. Kemiskinan pun tak luput semakin melanda kota tersebut. Kondisi yang demikian mengakibatkan Rabiah kehilangan pekerjaannya. Ia dan saudara-saudaranya pun terpaksa meninggalkan gubuk reot yang selama ini ditempatinnya dan berkelana ke berbagai daerah. Di tengah pengembaraan itu, Rabiah terpisah dengan saudaranya, tinggallah Rabiah sebatang kara melanjutkan kehidupannya.

Penderitaan demi penderitaan ia alami, ia kemudian jatuh di tangan para penyamun dan dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang sangat murah, yaitu dengan harga 6 dirham. Rabiah diperlakukan secara tak berperikemanusiaan oleh tuannya. Ia menggeluti siang harinya untuk “banting tulang”, melakukan berbagai macam pekerjaan yang dibebankan tuannya kepadanya. Pada malam harinya, ia mengisi waktunya beribadah kepada Allah swt.

Hingga pada suatu malam, ketika Rabiah sedang berdoa tiba-tiba tuannya terjaga dari tidurnya karena mendengar suara orang berdoa dengan penuh khusyuk. Diam-diam tuannya mengamati Rabiah dari celah pintu kamar Rabiah, dan mendapati bahwa suara orang berdoa itu adalah suara Rabiah yang sedang melakukan shalat malam. Ketika Rabiah berdoa dan melakukan shalat malamnya itu pula, tiba-tiba tuannya melihat lentera berayun-ayun di atas kepala Rabiah, tanpa tali yang menahannya. Cahaya lentera itu memancar ke seluruh kamar, sehingga menimbulkan ketakutan di hati majikannya.

Ketika fajar menyingsing, pedagang itu memanggil Rabiah dan membebaskannya. Setelah mendapatkan kebebasannya, Rabiah berkelana di padang pasir, mengunjungi masjid-masjid, menghadiri pusat-pusat pengajian. Cerita lain juga mengisahkan bahwa, setelah Rabiah memperoleh kemerdekaannya, Rabiah mencari nafkah dengan bermain musik, karena ia amat pandai bermain suling. Namun, Rabiah hanya bermain suling untuk jangka waktu tertentu saja. Setelah itu, ia mengasingkan diri dari khalayak ramai untuk beribadah kepada Allah swt.

Ia wafat ketika berumur 80 tahun dengan kondisi yang masih perawan. Pilihannya untuk tidak menikah ini kerap menjadi hal yang kontroversial jika dipersandingkan dengan kecintaannya terhadap Tuhan. Bukankah Nabi Muhammad saw sebagai kekasih Allah swt, menganjurkan ummatnya untuk menikah? Apakah tindakan Rabiah ini dapat dikatakan sebagai ajaran cinta yang menyesatkan atau menyalahkan sunnah? Wallahu a’lam, tapi setidaknya melalui ulasan Muhammad Atiyah Khamis dalam bukunya Penyair Wanita Sufi; Rabiah Al-Adawiah, ada setitik cahaya yang membawa kita untuk berfikir sedikit bijaksana, bahwa pilihan Rabiah untuk tidak menikah adalah karena keinginannya untuk meneguhkan prinsip keadilan baik bagi dirinya maupun orang yang kelak bersamanya. Sebagaimana dikisahkan bahwa Ia pernah dilamar oleh Abdul Wahid bin Zeyd, Muhammad bin Sulayman al-Hashimi, Malik bin Dinar, dan Tsabit Al Banani. Ketika ia dilamar, ia mengajukan persyaratan akan menikahi pria yang bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, dengan memberikannya jawaban atas ketiga pertanyaan yang ia ajukan.

Pertama, terkait kondisi keberimanan dan kesucian Rabiah kelak jika ia meninggal dunia dan datang menghadap Tuhan. Kedua, penerimaan kitab amalannya apakah dengan tangan kanan. Ketiga, golongan ketika hari berbangkit tiba, di golongan manakah Rabiah antara golongan yang ke surga atau neraka. Tetapi tak seorang pun dari mereka yang mampu memberikan jawaban, sedangkan ketiga masalah itu pula yang meliputi pikiran dan hati Rabiah. Sehingga ia menyadari dengan menerima tangan seorang pria dalam ikatan perkawinan, hanya akan membuat Rabiah tidak adil terhadap suami atau anak-anaknya, karena ketidaksanggupannya memberikan perhatian kepada mereka, karena hatinya tidak cukup memperhatikan kepentingan mereka. Atau hal itu menyebabkan kesengsaraan pada dirinya sendiri, karena ia tidak dapat mencurahkan seluruh hatinya pada Allah swt. Dengan demikian Rabiah tidak ingin berlaku tidak adil, baik kepada orang lain atau kepada dirinya sendiri. Dan karena sikap tidak adil menyebabkan kegelapan yang menutup hubungan antara manusia dengan Allah swt.

Mahabbah dan Perjalanan Spiritual Rabiah

Rabiah dikenal sebagai sufi perempuan yang pertama memperkenalkan konsep mahabbah dalam bidang tasawuf. Bahkan menurut Margaret Smith, Rabiah dinilai sebagai orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Mahabbah dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati, sehingga sifat-sifat yang dicintai Tuhan masuk ke dalam diri yang dicintai. Dalam dunia sufi, mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta. Dengan demikian, orang yang telah mencapai tingkat mahabbah, seluruh jiwanya terisi oleh kasih sayang dan cinta kepada Allah swt. Sehingga, kadang-kadang tampak tidak ada lagi perasaan cinta yang dapat disalurkan kepada yang lain, seperti yang tampak pada Rabiah Al Adawiah. Hal tersebut dapat dilihat melalui syair-syairnya sebagai berikut:

Tuhanku

Kalau aku mengabdiMu karena takut akan nerakaMu

Maka bakarlah aku di neraka jahannam

Dan kalau aku mengabdiMu karena inginkan surgaMu

Maka tampiklah aku dari surga itu

Adapun kalau aku mengabdimu karena cintaku padaMu

Maka janganlah tampik aku, Tuhanku dari melihat keindahan wajahMu.

 

Kedalaman dan pencapaian cinta Rabiah juga digambarkan dalam syair selanjutnya, yang dituliskan Dr. M. Fudoli Zaini dalam bukunya; Sepintas Sastra Sufi, Tokoh dan Pemikirannya

 

Antara pecinta dan Kekasihnya

Tak ada antara

Ia bicara dari rindu

Ia mendamba dari rasa

 

***

Dalam hadirNya engkau baur

Dalam adaNya engkau lebur

Dalam tetapNya engkau Kabur

 

Demikian melalui syair-syairnya, Rabiah dalam dunia sufi dikenal sebagai pelopor ajaran pengabdian kepada Allah swt, bukan atas dasar ketakutan tetapi karena kecintaan. Sebagaimana yang dilansir dalam sebuah artikel bahwa Muhammad Mahdi al-Ashifi menuturkan, Ja`far Shadiq (w. 765 H) membagi tiga bentuk pengabdi kepada Allah. Pertama, yang menyembah Allah karena takut, sebagai ibadahnya hamba sahaya. Kedua, untuk mengharapkan imbalan, seperti pedagang. Ketiga, disebabkan rasa cinta. Di antara ketiga bentuk tersebut, upaya pencarian ridha Allah dan penyembahan kepada-Nya karena didasari rasa cinta (mahabbah/hubb), disebutkannya sebagai ibadah tingkat tertinggi.

Perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Rabiah berangkat dari kerja keras Rabiah dengan melakukan penggemblengan jiwa dan watak. Dan Rabiah mengawalinya dengan kehidupan zuhud. Zuhud bukan berarti semata-mata tidak mau memiliki harta benda dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi, tetapi sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta benda, dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah swt. Demikian pulalah yang dilakukan Rabiah, ia menjalankan kehidupan zuhud dengan menjadikan dunia sebagai ladang beramal, untuk bekal di akhirat dengan penuh kehati-hatian. Sebagaimana ia mengatur tempat tinggalnya dengan membuat sebuah tempat gantungan baju, tingginya kira-kira dua hasta untuk menggantungkan kain kafannya. Kain itu selalu tampak di depan matanya, supaya ia selalu ingat dan merenung hakikat kehidupan yang sedang dihadapinya.

Di sisi lain, Rabiah juga berdialog dan melayani orang-orang yang datang bertanya kepadanya perihal kehidupan dan masalah yang mereka hadapi. Hal tersebut dapat dilihat melalui dialognya dengan seorang ahli filsafat. Di mana dialog tersebut berkaitan dengan salah satu pertanyaan, bagaimana ia memanfaatkan dunia? Ia lalu menjawab “Dengan bekerja dan beramal demi hidup abadi di akhirat”. Setidaknya melalui pernyataan ini, kita dapat menilai bahwa Rabiah tidak serta merta mengabaikan kondisi dunia, melalui sikap dan tindakannya.

Rabiah bagaikan seorang wanita yang sedang mengalami alam rohani yang amat luas untuk mencari ampunan dan ridha Allah swt. Betapa pun penderitaan terus menerus datang menghampirinya, tak lalu mengubah komitmennya untuk selalu meluangkan waktu bermunajat pada Tuhannya. Ia menapaki jalan derita yang kemudian mengantarkannya hingga mencapai tingkatan ridha, dan meraih tingkat mahabbah atau disebut dengan istilah Hub al-Ilahi.

Meskipun Rabiah telah meninggal, pemikiran dan sikap keteladanannya akan terus hidup, mengalir bersama tinta dan pena yang menggoreskan perjalanan hidupannya. Dialah salah salah satu sosok perempuan teladan di zamannya yang mencerminkan kehidupan sederhana, memiliki kematangan berfikir, menghidupkan ruang-ruang kontemplasi bagi dirinya, tangguh atas penderitaan, dan guru yang mendidik rohani menapaki jalan cinta yang agung.

Ilustrasi: http://mighzal.com/2016/10/

Pesta Demokrasi dan Teror Politik Masyarakat Desa

Demokrasi, sebagaimana khalayak ramai memahaminya secara umum adalah praktik politik dari rakyat dan untuk rakyat. Pemahaman ideal ini tidak bisa dimungkiri ibarat “masih jauh api dari panggangnya”. Karena realitas perjalanannya kerap ditemukan kecacatan. Sehingga, berjalan tumpang tindih dan secara halus menciptakan penindasan bagi golongan rakyat tertentu. Acap kali hal ini ditemukan dalam proses pemilihan umum, di mana masyarakat sama-sama menghendaki proses tersebut melahirkan sosok pemimpin yang mampu mengayomi dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

Kecacatan pesta demokrasi sebagaimana yang dikemukakan penulis di atas, tidak hanya ditemukan di level-level nasional maupun kota, tetapi geliatnya sudah merasuk hingga ke tataran grassroot. Hal tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan pemilihan umum di tingkat desa. Pada level ini, masyarakat dikenal masih memiliki simpul kekeluargaan yang erat dan ikatan solidaritas yang kuat. Pada dasarnya simpul kekeluargaan dan ikatan solidaritas yang tinggi, adalah modal besar untuk mewujudkan praktik politik yang sesungguhnya. Karena, mungkin tak berlebihan jika kiranya dikatakan bahwa, pada masyarakat desalah akar falsafah hidup masyarakat beranak pinak, hidup kental dan diwariskan secara turun temurun. Sebagaimana falsafah hidup masyarakat bugis yang dikenal Sipakatau’, Sipakalebbi’, dan Sipakainge’. Di sisi lain , pada arena politik, simpul kekeluargaan dan ikatan solidaritas ini bisa dijadikan bumerang, dan “medan liar” untuk menodai tindakan ideal politik.

Mengapa demikian? Karena ada hal mendasar yang mendorong tindakan manusia. Menurut Thomas Hobbes, hal mendasar, naluriah, dan fundamental tersebut dipilahnya menjadi dua yang bermukim dalam diri manusia, yakni hasrat (desire) dan kuasa (power). Sebagaimana yang dikemukakan Ito Prajna dalam tulisannya Indonesia Modern Terjebak dalam Politik Hasrat dan Politik Uang-Sebuah Perspektif Filsafat. Antara Hasrat dan kuasa, keduanya bisa mendorong manusia untuk melakukan gerak atau tindakan destruktif dan konstruktif. Tindakan destruktif dilahirkan dari benih hasrat untuk menguasai, hasrat untuk dipuja, hasrat untuk terkenal dan lain-lain. Sedangkan tindakan konstruktif bisa dilahirkan dari hasrat untuk menciptakan tatanan sosial yang adil, sehat, dan transparan melalui kekuasaan yang diampunya.

Bukan hal yang tidak mungkin, tindakan destruktif yang mendominasi medan pergerakan politik dalam pemilihan-pemilihan umum di desa, mengalahkan kekuatan falsafah masyarakat desa yang sudah tumbuh kuat, dan menjadi pegangan dalam bertindak. Simpul kekeluargaan dan ikatan solidaritas yang tinggi dimanfaatkan dalam permainan politik. Sehingga, suara politik menjadi tumbal atas permainan politik uang, termasuk tebusan atas bantuan teknis yang saban hari diberikan sebelum pemilihan, dan ancaman memutuskan tali persaudaraan, menjadi pemandangan dan suara sumbang yang dikumdangkan. Melalui tindakan tersebut, penindasan sejatinya telah dilakukan, meski tidak menggunakan kekerasan fisik, tetapi secara halus tindakan tak bermoral tersebut, dilakukan secara halus melalui tekanan psikologis individu. Pada saat itu pula, pemasungan hak kemerdekaan dan kebebasan seseorang, untuk mengemukakan pendapat atau dalam hal ini memberikan hak suara pun terjadi.

Tindakan-tindakan destruktif ini, setidaknya dapat dikategorikan sebagai bagian dari teror politik. Baudrilard, sebagaimana yang dituliskan Fajlurrahman Jurdi dalam artikelnya Mahasiswa dan Mesin-Mesin Anti Demokrasi mengemukakan bahwa, teror menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari politik, ketika politik itu dikendalikan oleh hawa nafsu atau hasrat (desire). Demikianlah, masyarakat desa dalam pemilihan-pemilihan umum, sangat potensial menjadi audiens politik yang berada di bawah bayang-bayang teror. Kondisi masyarakat yang demikian sedang berada dalam arus perpolitikan, sebagaimana yang dikemukakan Baudrillard sebagai masyarakat transpolitik. Di mana di dalamnya terjadi pengaburan atas batas politik dengan teror, politikus dengan penjahat, demokrasi dengan tindak kekerasan.

Tindakan-tindakan yang mencederai sistem perpolitikan ini, sebaiknya menemukan obat agar menutup lukanya yang kian menganga. Pengobatan yang dilakukan tentunya harus menyentuh masyarakat akar rumput dan melalui pemahaman politik yang bersih dan sehat. Sehubungan dengan pemahaman politik, menarik kiranya menilik gagasan politik Hannah Arendt dalam bukunya yang berjudul Politik Otentik. Melalui gagasannya, Arendt memaknai politik yang mengafirmasi keberagaman dan tentunya mengakui perbedaan. Sehingga secara mendalam, politik dalam kaca mata Arendt adalah usaha manusia mengelola kehidupannya, tanpa sikap diskriminatif dan intimidatif. Sehingga meniscayakan hadirnya ruang terbuka bagi semua individu untuk mengajukan kesetaraannya.

Penjelasan politik Arendt, juga diiringi dengan pemahaman atas pemilahan antara ruang publik dan ruang privat. Di mana bagi Arendt, politik hanya dapat diberlangsungkan dalam ruang publik. Mengapa? Karena ruang publik adalah ruang yang memberikan kebebasan untuk berekspresi, ruang bersama, dan ruang di mana kepentingan bersama diperjuangkan dan ditegakkan. Sedangkan ruang privat adalah ruang di mana penguasaan bisa dilakukan tanpa keterlibatan yang lain, sehingga menolak kolektivisme, dan menutup kran terwujudnya kepentingan bersama.

Kondisi perpolitikan masyarakat desa yang menciderai aktivitas ideal politik, dimungkinkan karena ketidaktelitian atas ruang di mana politik tersebut diberlangsungkan. Dan dicampuradukkannya antara aktivitas publik dan privat. Setidaknya melalui pemikiran Arendt, kita mampu bercermin, pentingnya menarik garis pemisah yang tegas antara aktivitas politik dan aktivitas privat yang tentunya melibatkan hubungan kekeluargaan.

Syahdan, dibalik hitam putih pesta demokrasi, pemahaman atas praktik politik sangat bernilai penting, agar prosesnya dijalankan oleh masyarakat yang sadar atas tindakan politiknya, dan melahirkan sosok pemimpin yang mempunyai kesadaran akan kelahirannya, dari siapa dan untuk apa?

Ilustrasi: http://suika-eman.deviantart.com/art/Democracy-Wallpaper-349068984

Menggosipkan Buku

Kampus adalah medan perang, yakni memerangi kebodohan untuk mewujudkan mahasiswa yang cemerlang, dan generasi yang memiliki ciri intelektualitas tinggi. Jika sebagai prajurit di medan laga peperangan anggota militer, senjata yang digunakan adalah pistol, senapan, dan senjata api lainnya, untuk menegakkan keamanan rakyat, maka sudah selayaknya seorang mahasiswa menjadikan buku, pena, dan laptop sebagai senjata untuk berlaga di “medan perangnya” yang bernama kampus.

Komitmen yang kuat tentu sangat diperlukan dalam suatu pertempuran untuk memperoleh hasil yang baik. Demikian pula bagi seorang mahasiswa dalam membatinkan komitmennya, untuk selalu mendekatkan bahkan mencintai “alat tempurnya”. Hal tersebut tentu sangat diharapkan agar generasi yang dicita-citakan, bisa terwujud melalui cetakan-cetakan kampus. Mengingat hal itu, turut andil dalam menanamkan komitmen, tentulah tidak hanya sekadar memperkenalkan melalui nasehat dan imbauan lisan, tetapi ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada komitmen yang akan dibangun.

Salah satu forum yang mendukung pada peneguhan komitmen itu adalah forum bedah buku, yang sudah beberapa pekan hadir di tengah-tengah mahasiswa. Forum ini biasa juga dikenal dengan istilah yang lebih gaul ala generasi kekinian, sebagai ajang pertemuan “Ngegosip Buku”. Di mana tokoh penggeraknya adalah Muchniart AZ dan saya sendiri. Forum tersebut rutin dilaksanakan satu kali dalam sepekan, tepatnya pada pukul 13.00-15.00 wita. Adapun hari dan tempat pelaksanaannya sampai detik ini cukup fleksibel atau berdasarkan kesepakatan setiap pertemuan. Hal tersebut kami putuskan agar forum ini bisa melakukan penyesuaian, dengan jadwal perkuliahan dan tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh mahasiswa dari beberapa kampus.

Selaku pengelola forum ini, sehari sebelum jadwal pertemuan dilaksanakan, saya terlebih dahulu akan mengingatkan teman-teman, dengan menginformasikannya melalui akun saya di media sosial. Pengamatan saya selama pertemuan ini diadakan, beberapa wajah baru bermunculan dan menunjukkan semangatnya untuk belajar. Tampaklah pesona kebahagiaan di wajah kami dengan melihat respon positif dari adik-adik mahasiswa.

14344115_1327485310597700_6026070192256458139_n

Pertemuan Ngegosip Buku yang kami selenggarakan pada dasarnya adalah titik balik dari pencitraan atau makna gosip, yang selama ini nyaring terdengar sebagai hal yang negatif, dan mayoritas dilakukan oleh kaum perempuan, bahwa di era perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan yang tumbuh pesat, buku menjadi objek yang sangat seksi untuk diperbincangkan, dan perempuan harus tampil sebagai subjek yang terampil dalam memposisikan diri, serta turut andil di dalamnya. Sehingga dalam pertemuan Ngegosip Buku yang diselenggarakan, mahasiswa perempuan menjadi prioritas.

Forum yang masih terbilang seumuran jangung ini, kami lakukan dengan desain yang sangat sederhana dan santai. Di mana setiap pertemuan akan membedah satu buku yang “bernafaskan” feminitas, sebagaimana beberapa buku yang telah menjadi bahan gosip di forum tersebut, yakni Marriage With Heart, Perempuan dan Ketidakadilan Sosial, Feminisme untuk Pemula, dan Perempuan di Titik Nol. Beberapa buku yang telah dibedah ini mengangkat cerita seputar kehidupan tentang perempuan, mulai dari kehidupan privat hingga ruang publik, yang tidak jarang diteropong dari sudut pandang budaya, agama, sejarah dan pesan-pesan hikmah yang diangkat dari kisah tokoh klasik.

Sebagai tantangan dari pertemuan Ngegosip Buku, setiap peserta akan mendapatkan giliran membedah buku yang disepakati, termasuk saya dan kak Muchniart. Para pembedah pun wajib menuliskan hasil diskusi atau pertemuan Ngegosip Buku, dan menyebarluaskannya di media sosial, sebagai bentuk penyebaran virus-virus ngegosip positif dalam skala yang lebih luas. Tentunya hal ini juga diniatkan, media sosial menjadi “tabung jejak”, Dalam upaya meningkatkan kualitas mahasiswa melalui gerakan literasi. Langkah yang ditempuh dalam pertemuan ini memang cukup sederhana, tetapi tidak menutup kemungkinan perjalanan ke depannya akan mengalami perkembangan, dan perubahan untuk efisiensi dan efektivitas forum pembelajaran selanjutnya.

Hal lain penting yang menjadi harapan kami, serangkaian aktivitas dalam pertemuan Ngegosip Buku ini, menjadi tahap pengenalan wacana tentang perempuan, sekaligus bagian dari agenda gerakan literasi yang membumi dalam dunia mahasiswa. Sehingga, segala persoalan dan wacana terkait perempuan, akan menjadi target kajian utama, mulai dari hal yang mendasar sebagai pemenuhan kebutuhan peserta.

Melalui medan ini pula, kami dapat terus belajar bersama untuk melatih diri secara terbuka berpendapat, dan berargumentasi berdasarkan referensi yang jelas. Terkhusus bagi mahasiswa, proses ini dapat menjadi pembelajaran bagi mereka, untuk menjalankan fungsi kemahasiswaannya sejak dini sebagai agent of change, dengan bekal mencintai buku dan menjadi pengusung gerakan literasi. Bukan hal yang tidak mungkin, di balik aktivitas yang sangat sederhana ini, akan memberi sumbangsih untuk menutup “kran” mahasiswa yang lahir dari produk-produk instan, melalui prosesnya yang step by step.

Demikianlah kami mengukuhkan harapan besar ini dalam perjalanan panjang pertemuan sederhana, berkumpul di saat terik matahari terang memancar, dan kembali ke peraduan masing-masing di kala matahari mulai mengatupkan kelopak cahayanya.

Bulan yang Mendung dan Puisi-Puisi Lainnya

Bulan yang Mendung

 Di balik awan yang berarak kehitaman

Wajah langit sendu menawan

Cahayamu sirna di bawah rintik hujan

Begitulah dikau yang larut dalam airmata kesedihan

 

Tetesan itu jatuh menanti rembulan

Diiringi gelegar guntur yang saling silih menyilih

Kita masih melangkah walau tertatih-tatih

Demi cinta yang merekah kita takkan letih

 

Bulanku…

Dikala duka menerungku

Mereka mencaci dan berlalu dengan angkuh

Itulah kala asa dan semangat dipupuk dengan kukuh

 

Jalan pulang…

Jalan yang masih panjang

Beranjaklah bulanku, menemui cahaya terangmu yang benderang

[Makassar, 11 Oktober 2016]

 

Luka

Goresan tajam di padang gersang

Tombak dan pedang menancap garang

Terlukislah dikau di atas lembaran sejarah yang terbentang

 

Apakah teralamatkan sudah dirimu yang malang???

Tidak…!

Tidak sama sekali

Engkaulah sang pemenang

Yang menggelorakan titisan juang

Yang mewarisi makhkota

Yang menggelindingkan picik tahta

 

Sungguh…

Kekejaman menebas tanpa batas

Menembus hingga ke ruas-ruas

Demikian pula pena yang dikebiri di atas kertas

 

Kini

Lukamu menyejarah

Menganga dalam ingatan utuh yang menyatu

[Makassar, 11 Oktober 2016]

 

 

Aksara

Siapakah engkau di antara deretan yang membisu?

Pelepas dahaga para pencari ilmu

 

Siapakah engkau dalam keheningan malam?

Pelipur lara bagi jiwa yang kelam

 

Siapakah engkau di tengah gulita kekuasaan yang merajalela?

Jalan terang yang menyibak tirai rahasia

 

Siapakah engkau di antara kesemrawutan hidup yang malang?

Penawar bagi keserakahan yang tunggang langgang

 

Siapakah engkau di altar suci para pemangku kitab?

Penyejuk sukma, pemantik gelora pada keyakinan yang tetap

 

Siapakah engkau bagi pikiran gelisah penuh tanya?

Deretan huruf yang mengantongi makna

Di ujung setiap jari dan setiap lidah para pengucap

[Makassar, 12 Oktober 2016]