Semua tulisan dari M. Mario Hikmat. A

Mahasiswa FKM UNHAS. Anggota LISAN Cab. Makassar. Pernah didapuk sebagai wakil presiden BEM FKM Unhas periode 2015-2016. Mulai berjuang menyelesaikan tugas akhir.

Luka Daur Ulang; Puisi atau Berita?

Wacana daur ulang, kadang riuh kadang senyap. Daur ulang, biasanya bermisi mengontrol lonjakan jumlah barang tak terpakai. Lewat kreatifitas kerajinan tangan, sampah misalnya, sanggup bertransformasi dari barang tak layak konsumsi menjadi barang ekonomis. Jumlah sampah jadi berkurang. Sampah pun bisa jadi pangkal mata pencaharian.

Di dimensi lain, ternyata, tak hanya sampah atau benda saja bisa didaur ulang. Fauzan Al-Ayyubi, lewat seikat puisi, melahirkan buku bertitel Luka Daur Ulang (2016). Buku puisi menghimpun 70 puisi. Pejumpaan awal dengan buku bikin dahi pembaca mengernyit. Pembaca bertanya, bagaimana produk dari sebuah luka daur ulang? read more

Prasangka

Karena prasangka, hidup manusia berakhir. Bagaimana bisa?

Coba Anda lihat, bagaimana kebencian terhadap kelompok –yang dianggap- minoritas bekerja dalam masyarakat. Orang beragama Islam yang tinggal di Amerika, misalnya. Mereka dianggap sebagai kelompok ekstrim, hanya karena pada suatu masa, tindakan terorisme pernah terjadi dan pelakunya dituduhkan kepada orang Islam.

Maka muncullah istilah Islamophobia. Ketakutan berlebih terhadap orang Islam. Irfan Amalee menuturkan, kesalahpahaman ini terjadi karena kurang dan salahnya informasi tentang Islam bagi warga Amerika. read more

Kapan Kita Merdeka?

Kemerdekaan Indonesia telah memasuki usianya yang ke-72, namun makna dari kata “merdeka” masih belum menyatu dengan darah dan daging kita. Sebenarnya, kapan kita betul-betul merdeka?

Saban Agustus, negeri kita tercinta menyambut dengan riang gembira hari kemerdekaan. Sejak Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan republik ini pada 17 Agustus 1945, setiap tahunnya masyarakat merayakannya dengan berbagai macam ekspresi. Dari membuat kegiatan lomba, diskusi, sampai upacara bendera.

Antusias masyarakat dalam menyambut bulan Agustus adalah cerminan betapa berharganya arti kemerdekaan. Bung Karno telah mewanti-wanti bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas merah). Sejarah para pahlawan dalam mengkonsolidasikan dan mengantarkan bangsa ini keluar dari jerat kolonial, sungguh hal yang tak patut untuk dilupakan barang sedikitpun. Oleh karenanya, setiap detil keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia harus selalu dirayakan agar spirit kemerdekaan mampu bertahan sepanjang zaman. read more

Dalam Bayang-bayang Intoleransi

Praktik intoleransi kembali terjadi. Mengapa demikian? “Karena kita semua diam“, tukas bang Andre Barahamin dalam statusnya di Facebook. Kita tanpa sadar telah membiarkan kelompok intoleran tumbuh subur di negeri ini. Membiarkan mereka mengorganisir diri, membangun jejaring ke berbagai pelosok negeri, juga membiarkan mereka melakukan tindakan yang sangat jauh melenceng dari cita-cita persatuan bangsa.

Perjuangan pahlawan memersatukan bangsa dari berbagai macam latarbelakang suku, agama, budaya, bahasa dan seterusnya, seakan dikencingi oleh kelompok yang menasbihkan dirinya sebagai sang pemilik tunggal kebenaran. Mereka kerap bertindak dengan cara-cara yang pada akhirnya berujung konflik. Mencoba menerapkan apa yang mereka pahami dengan tindakan yang sangat tidak etis; dengan kekerasan, dan bahkan dengan cara yang bisa menyebabkan kematian –ini tidak berlebihan. read more

Mengakhiri Stigma Ambivalensi Agama

“Apapun alasanya, teror tidak akan pernah dibenarkan. Teror adalah kejahatan kemanusiaan.”

Belum hilang trauma kita akibat konflik atas nama agama—yang sudah beberapa kali terjadi—di negeri ini, kita kemudian dihadapkan lagi dengan sebuah peristiwa teror. Bom Molotov dilemparkan oleh seorang lelaki yang mengenakan kaus bertuliskan “Jihad: Way of Life” ke Gereja Oikumene di Samarinda (13 Nov 2016) yang memakan korban dan di antaranya terdapat balita dan anak-anak yang tidak berdosa.

Drama demi drama kekerasan dan teror yang membawa label agama berlangsung begitu saja dan tak ada penyelesaian. Peristiwa bom yang terjadi di Samarinda adalah sebuah fenomena lepasnya akal sehat dan kontrol diri terhadap fitrah kemanusiaan. Pelaku mungkin terjebak dalam sebuah ekstase, bahwa tindakan yang dia lakukan adalah sebuah kenikmatan sebagai seorang “pembela” agama. Buah dari kesadaran religius palsu (KW, Supercopy) dengan iming-iming kenikmatan surgawi yang pada kenyataanya telah menenggelamkan orang-orang ke dalam agresifitas beragama. read more

Menghidupkan Kembali Jalan Raya

Pada beberapa potongan sejarah, jalan raya dan mahasiswa adalah satu kesatuan utuh yang dibalut dengan ide-de perubahan. Hal ini terekam pada beberapa kisah tentang sebuah protes yang ditujukan kepada kekuasaan yang tampangnya hipokrit. Kekuasaan yang mendongengkan tentang kemakmuran dan pembangunan yang merata, namun di saat yang bersamaan, dongeng tersebut tak mampu menjangkau semua komponen masyarakat. Pada saat itulah, ketika keresahan terakumulasi dengan praktik-praktik yang tidak adil dan menindas, jalan raya menjadi sebuah potret di mana suara lantang menggema untuk menuntut hak yang mulai dipangkas sedikit demi sedikit. read more

Asoka dan Puisi-Puisi Lainnya

Asoka

Telah sampai kepadaku kabar tentang puisi

yang paling kelabu di antara taman-taman bunga.

Ia menjatuhkan pagi dengan rasa hangat,

paduan pahit malam dan getar-getir cuaca

yang semalaman tak rela meninggalkan

kisah masa lalu tentang sakit yang tak menentu.

Alangkah sabarnya dada ini.

Hidup di antara sejarah yang sesak dengan kisah

Tercurinya diri sendiri dari bualan tentang masa depan.

Kelak, aku berjalan menyusuri taman asoka

taman penuh suara dari tangis pilu peletak hidup

yang dipaksa membunuh kemanusiaan dalam dirinya. read more