Semua tulisan dari M. Yunasri Ridhoh

Penikmat Kopi dan Peserta di Kelas Literasi Paradigma Institute. Dan saat ini hidup menggelandang di kampus.

Buku dan Puisi; Ziarah Terpanjang Saifuddin Almughniy

Judul          : Cinta dan Nyanyian Hujan (antologi puisi)

Penulis        : Saifuddin Almughniy

Penerbit      : Meja Tamu

Cetakan      : Pertama, Mei 2017

Tebal          : xxx + 160 Halaman

Saat aku berjumpa cinta saat itu juga aku tak bertemu cinta, saat aku memahami cinta saat itu juga aku tak mengerti cinta, saat cinta menyapamu seketika itu engkau tak mengenal dirimu, engkau telah mengubur diri karena yang tumbuh tenyata hanyalah dia.  Sejak itulah aku tak membutuhkan rindu karena dirimu tak lagi berjarak denganku.

(Sopian Tamrin)

Apa yang lebih jujur, halus tetapi kuat dan tajam, lebih dari puisi? Barangkali tak ada, petuah-petuah bijak bahkan kitab-kitab suci datang dengan kalimat yang sangat puitis. Itu menjadi penanda bahwa puisi adalah ruh yang menghidupkan peristiwa bahkan peradaban. Ia menjadi monumen peringatan juga kenangan di sepanjang sejarah peradaban manusia.

Secara sederhana puisi merupakan ekspresi kreatif atau renungan seorang terhadap sebuah peristiwa. Puisi menjadi media mengekspresikan ide-ide pencerahan dan pembaruan. Di sana  kejujuran, maksud baik, refleksi diabadikan.

Para penyair—walaupun saya yakin Saifuddin Almughniy tak pernah berharap disebut penyair—selalu punya caranya sendiri dalam menyampaikan kemarahan, kerinduan, kegelisahan atau pikiran-pikirannya. Mirip-mirip dengan para nabi, pertapa atau para sufi. Ada kekhasan tersendiri bagi mereka dalam memaknai hal-hal yang ditemuinya di setiap lorong-lorong kehidupan. Demikian halnya dengan Saifuddin Almughniy—Penulis buku ini—dalam melukiskan relung-relung keresahan dan kerinduannya.

Cinta dan Nyanyian Hujan. Sebuah buku dengan kejernihan makna dan kedalaman permenungannya; tentang cinta, kepergian dan kesetiaan. Barangkali sulit bagi kita untuk percaya bahwa 129 puisi dalam buku tersebut ditulis hanya dalam waktu 12 hari. Rasa-rasanya memang sulit untuk mempercayainya, bagaimana bisa ia ditulis hanya dalam tempo yang sesingkat itu. Tapi percayalah, puisi tersebut benar-benar dituliskan hanya dalam 12 hari. Kalau tidak percaya, bacalah buku tersebut, lalu temuilah penulisnya dan berbincanglah dengannya.

Sebetulnya, buku tersebut merupakan saripati atau ruh dari novelnya yang juga di tahun ini akan terbit “Memungut Cinta Di Atas Sajadah”, yang ia tuliskan lebih dari enam tahun. Berkebalikan dengan buku puisi ini, yang begitu singkat. Buku ini adalah buku yang ke 22-nya. Sekalipun bukan kali pertama menulis puisi, tetapi buku ini terasa begitu spesial, sebab dialamatkan untuk dua perempuan yang disebutnya sebagai ibu; ibu baginya dan ibu bagi kedua anaknya. Buku ini tentu saja berisi demonstrasi patahan-patahan perasaannya, tentang dua orang perempuan yang begitu banyak mempengaruhi arah sejarah kehidupannya. Anda tahu, perempuan tersebut pergi mengabadi tepat di jam, tanggal dan hari yang sama, hanya berbeda tahun. Suatu peristiwa yang sangat muskil untuk disebut sekadar kebetulan.

Buku Cinta dan Nyanyian Hujan karya Saifuddin Almughniy ini sepertinya ingin menjelaskan lika-liku perjalanan cintanya. Buku ini menjadi tugu dari serangkaian perjalanan yang telah disusurinya. Ia monumen ingatan, pusara keabadian kisahnya. Puisi-puisinya dalam buku tersebut memanifestasi patahan-patahan dari penghayatan dan permenungannyayang begitu reflektif—baik sebagai anak dari seorang perempuan yang disebutnya ibu, maupun sebagai suami dari perempuan yang dipanggilnya kekasih atau ibu anak-anaknya—dalam memotret peristiwa agung antara seorang lelaki dengan dua perempuan yang ia sangat hormati dan kasihi. Terutama kejernihan dan kearifannya dalam mengemas dialog dan laku spritual, sosial dan intelektual ibunya dan ibu dari anak-anaknya, dalam diksi ataupun bait-baitnya yang maknawi.

Buku ini bagi para perindu atau pecinta kesejatian tentu sangat mungkin untuk dijadikan kitab suci, tentu bukan dalam pengertian “pengganti ayat-ayat ilahi”, tetapi dalam pengertian hikmah atau pelajaran. Sekalipun tema-tema yang disajikan dalam buku ini barangkali sudah akrab dengan telinga dan pikiran kita, tetapi ada hal yang khas dari buku ini. Setidaknya buku ini dalam menggambarkan maknanya selalu menggunakan pendekatannya yang sangat reflektif dan kontemplatif. Di situlah salah satu kelebihan dari penulis buku ini, mampu menyajikan beragam dialog dengan bahasa yang cair, komunikatif, dan sangat piawai menempatkan diksi-diksi yang reflektif dalam setiap bait-bait syairnya.

Pada intinya, syair yang ada dalam buku ini mesti dibaca dengan cinta, di mana hati sedang dalam kondisi bersukacita. Tanpa kondisi sukacitakita akan membaca syair-syair tersebut seperti membaca buku biasa, yang mana setiap katanya berlalu begitu saja. Padahal dalam setiap syairnya, ada serangkaian peristiwa, setumpuk makna yang penulis hendak sampaikan.

Bencana Itu Bernama Korupsi

Dulu orang korupsi di bawah meja,

sekarang tidak hanya korupsi di atas meja, mejanya pun dikorupsi

[Gusdur]

“Jika korupsi demikian menggurita, itu karena negara dan warganya membiarkannya merajalela. Selama ini raga koruptor terpenjara tapi bisnis dan hidup sosialnya lancar jaya”

[Najwa Shihab]

Tidak banyak negara yang ditakdirkan sekaya indonesia. Kaya dengan sumber daya alamnya begitupun sumber daya manusia dan kebudayaannya. Sayang sekali kekayaan itu tidak terkelola dengan baik, akibatnya bangsa ini malah menjadi bangsa yang salah urus. Kekayaannya justru melahirkan malapetaka. Jadilah bangsa ini menjadi bangsa yang kaya akan masalah. Di sana-sini terjadi krisis, baik sosial, politik, moral, hukum lebih-lebih ekonomi. Parahnya, di tengah-tengah krisis tersebut para elit politik justru sibuk ngurus citra, kepentingan dan kesejahteraan pribadi dan kelompok sendiri. Sungguh sangat ironi dan ngeri menyaksikan realitas kebangsaan kita ini, tahun ke tahun terus berjalan tak tahu arah, pembangunan yang timpang, kebijakan yang melenceng dari azas dan norma. Lihat saja tingkah para pejabatnya, lebih sibuk menumpuk harta dan memperkaya diri dan golongan sendiri. Mereka yang harusnya menjadi pelayan, pengabdi sebagai mandataris rakyat untuk mengelola kekayaan Negara justru abai bahkan sengaja melanggarnya.

Karena itu, barangkali apa yang dikhotbahkan si filsuf gila Nietzche bahwa naluri manusia yang tidak pernah padam adalah kehendaknya untuk berkuasa ada benarnya. Sebagaimana yang dikatakan Lord Acton dalam salah satu suratnya kepada uskup Mandell Creighton pada april 1887, bahwa kekuasaan cenderung membuat sesorang berbuat korup. “Power tends to corrupt, and absolutly power corrupts absolutely”. Korupsi dan kekuasaan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Kekuasaan atau jabatan, sering kali membuat manusia terpesona hingga lupa terhadap hakikat dibalik itu semua. Yang lebih parah dan tragis adalah ketika kekuasaan dipersepsikan sebagai lahan “mencari kerja”. Ketika kekuasaan dimaknai demikian, maka tidak heran ketika terjadi penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan.

Fenomena korupsi memang takkan pernah habis untuk diperbincangkan di negeri ini. Bangsa ini sudah terkenal sebagai pusat pariwisata koruptor. Hampir setiap jenis korupsi tersaji dengan meriah. Sejak rezim totaliter orba hingga era reformasi yang selalu mengatasnamakan diri sebagai yang paling demokratis, korupsi begitu subur hingga negeri ini mendapatkan predikat sebagai salah satu Negara terkorup di dunia. Korupsi sepertinya sangat sulit untuk diberantas di negeri ini. Kita bisa mengutuk bahwa Soeharto dan rezimnya yang memimpin negeri ini sebagai era yang paling bobrok berantakan karena praktik pelanggaran HAM serta korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) mengakar dan menggurita. Tapi dimasa orba praktik busuk itu setidak-tidaknya hanya terjadi di lingkaran eksekutif semata, kini praktek tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan eksekutif tapi sudah menggejala sampai pada lingkaran elit legislatif bahkan yudikatif, dari pusat hingga ke pelosok desa dan itu semua dilakukan secara berjamaah.

Di negeri ini, sepertinya korupsi menjadi sebuah amal ibadah. Bahkan, ada sebuah pameo yang diyakini secara kolektif sebagai sebuah fatwa politik bahwa “barangsiapa yang mendapatkan jabatan politik lalu tidak memanfaatkannya untuk memperkaya diri dan kelompok maka menyesallah dia seumur hidup”. Bahkan konon katanya, kalau ada pejabat yang tidak bisa mengeruk kekayaan Negara, ataumenumpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara, maka ia akan dianggap tidak sukses kariernya di pentas politik. Begitulah dogma yang tertanam dalam tingkah dan watak para penguasa di panggung perpolitikan bangsa ini.

Korupsi memang menggiurkan, pesona korupsi membuat elit-elit politik kita kehabisan akal sehat,etika-moralitas serta hati nuraninyapun habis terjual demi setumpuk rupiah. Dihadapan setumpuk uang, idealisme dan kewarasan mereka runtuh seketika. Begitulah kenyataan yang tengah kita hadapi saat ini, korupsi telah membuat tatanan kebangsaan, moralitas, etika dan stabilitas ekonomi-politik menjadi porak-poranda. Dan parahnya mereka yang tertuduh dan terbukti berbuat korupsi seakan tidak memiliki beban atau rasa malu di hadapan publik. Mereka masih dengan santainya menebar senyumannya di media-media, seakan-akan tak ada rasa bersalah atau dosa akan perbuatannya.

Ketika sudah seperti demikian kenyataan politik di negeri ini maka satu-satunya harapan kita adalah social movement dan integritas penegak hukum, ditangannyalah kita menggantungkan harapan agar hukum benar-benar menjadi panglima. Karena seperti kita pahami bahwa perilaku korup itu tidak terlepas dari kekuasaan, korupsi pasti selalu dimulai dari pintu kekuasaan, maka mengakhirinya pun harus menggunakan otoritas hukum dan politik kekuasaan negara. Sebab negara tak mungkin mampu mengurus rakyatnya, jika birokrat sudah bermental korup. Dengan hadirnya social movement maka penegakan hukum akan berjalan maksimal.

Dari beberapa data yang pernah dirilis oleh P2EB UGM dari tahun 2001-2012 negara mengalami kerugian kurang lebih 168,19 T akibat ulah para koruptor, dari jumlah itu hanya sekitar 15,1 T atau 9 % saja yang kembali pada negara. Dan selebihnya 153 T hilang entah kemana,angka ini belum termasuk subsidi negara terhadap mereka para pelaku korupsi, yang mencakup biaya untuk penyeledikan, penyidikan, penuntutan, pengadilan dan penghukuman. Angka tersebut kalau dikalkulasikan kemudiandidistribusikan ke sektor pendidikan, maka sekitar 2,5 juta anak-anak negeri inidapat mengakses atau mendapatkan pendidikan dari S1 – S3 secara gratis, pembangunan 102.000 Puskesmas, pengadaan BLT 100.000/bulan untuk 127 juta rakyat indonesia, dan penyediaan 17 juta ton beras kepada masyarakat.

Data tersebut diatas seharusnya membuat nurani rakyat tergerak, lebih-lebih para penegak hukum.Karena kalau hal tersebut terus dibiarkan maka sampai kapanpun bangsa ini akan terus dihantui penyakit korup. Hukuman pada para koruptor sepertinya harus lebih dipertegas. Sudah ada banyak tawaran hukuman untuk memberikan efek jera kepada para Napi koruptor, seperti misalnya memaksimalkan hukuman penjara, uang pengganti serta denda, ditambah dengan hukuman pemiskinan, pencabutan hak politik serta penghapusan hak mendapatkan remisi pembebasan bersyarat. Selain itu pemerintah dan aparat penegak hukum boleh belajar atau menggunakan konsep ATM (amati, tiru dan modifikasi) aturan dan contoh yang diterapkan di negara-negara yang sudah berhasil memberantas korupsi. Barangkali China dapat menjadi negara rujukan untuk belajar menghentikan sepakterjang koruptor. Penyediaan peti mati bagi koruptor merupakan simbol perlawanan terhadap korupsi. Sekalipun model semacam ini perlu dipertimbangkan lebih matang lagi. Barangkali dengan sanksi yang sangat berat akan menghentikanpenyakit korupsi di tubuh pemerintahan.

Entah sampai kapan bangsa ini terus dirundung malapetaka akibat kasus korupsi. Belum selesai tumpukan kasus korupsi di rezim sebelumnya, seperti Centuri, simulasi SIM, BLBI, Hambalang, datang lagi tumpukan yang baru, skandal papa minta saham beberapa waktu silam, mega skandal KTP-Elektronik, korupsi beberapa legislator, menteri, kepala daerah dan pimpinan perguruan tinggi, dan yang terbaru OTT terhadap Kalapas Sukamiskin, entah besok kasus apa lagi? Kita berharap, semoga saja bangsa ini masih memiliki nurani perlawanan terhadap korupsi. Tidak cukup, hanya dengan ikhtiar KPK dan para hakim untuk menegakkan keadilan, tetapi harus ada perlawanan dari civil society untuk menista kejahatan korupsi tersebut. Seharusnya untuk sebuah kejahatan luar biasa, penanganannya pun harus dengan cara luar biasa, tidak dengan cara yang biasa-biasa saja. Mengingat akhir-akhir ini kita menyaksikan ada upaya dari beberapa kelompok untuk melakukan pelemahan KPK. Padahal kita ketahui bersama bahwa KPK lah satu-satunya institusi yang sejauh ini masih terjaga integritasnya dalam melakukan pemberantasan korupsi. Karena itu melalui catatan ini, penulis mengajak kepada hadirin pembaca yang budiman untuk tetap merawat kewarasan, dengan menolak pelemahan KPK dan melawan kajahatan korupsi.

Orang Miskin Dilarang Kuliah

Judul Buku     : Kuliah Kok Mahal? (Pengantar Kritis Memahami Privatisasi,  Komersialisasi dan Liberalisasi Pendidikan Tinggi)

Penulis            : Panji Mulkillah Ahmad

Penerbit          : Best Line Press

Cetakan          : Pertama, April 2018

Tebal               : vii + 251 Halaman/SC/Book Paper

 

“Pasar dan penjara, mahal dan fasis” barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan isi buku “Kuliah Kok Mahal?” ini. Buku ini ditulis oleh Panji Mulkillah Ahmad. Di dalamnya mengulas praktik pendidikan tinggi yang menurut Panji semakin disorientasi, mulai dari biaya kuliah yang kian mahal, penyalahgunaan anggaran pendidikan, birokrasi kampus yang makin tidak demokratis, kurikulum yang berorientasi pasar, maraknya pungutan liar, kekerasan akademik serta setumpuk persoalan-persoalan lainnya. Tema-tema seperti UKT, PTN-BH, UU Dikti, kredit pendidikan, liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi  sampai pada wacana gerakan massa diulas secara detail.

Buku ini bagi penulisnya didedikasikan untuk siapapun terutama mereka yang selama ini menjadi korban dari maling-maling berdasi di institusi pemerintahan dan institusi pendidikan. Buku ini mengupas habis tentang mahalnya pendidikan tinggi di negeri ini. Mencari kuliah murah apalagi berkualitas di republik ini rasa-rasanya sulit sekali, seperti mencari jarum dalam timbunan jerami. Semua hal dikenakan biaya, tentu dengan beban biaya yang cukup besar, ditambah lagi pungutan-pungutan liar tambahan. Hal ini menyebabkan hanya mereka yang kaya saja yang berkesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi.

Tak hanya itu, persoalan pokok lain yaitu pengambil kebijakan tidak sensitif untuk segera merespon mahalnya biaya pendidikan, banyak kampus yang statusnya negeri tapi malah dikelola seperti perguruan tinggi swasta. Kalau negeri saja nasibnya seperti demikian, bagaimana dengan kampus-kampus swasta. Prakteknya kita menemukan fakta bahwa ada banyak perguruan tinggi yang diswastanisasi karena malasnya pemerintah mengambil peran. Buktinya bisa kita lihat pada politik hukum pemerintah yang lebih memprioritaskan APBN ke pertahanan keamanan dan infrastruktur daripada ke sektor pendidikan. Seolah-olah kita dibawa untuk kembali ke jaman rimba, yang kuat yang menang.

Sepuluh tahun terakhir, gelombang protes atas kebijakan-kebijakan pendidikan tinggi semakin masif. Hal ini seiring dengan biaya kuliah yang meningkat lebih dari 10 kali lipat selama beberapa tahun terakhir. Tentu mahalnya biaya kuliah akan sangat menghambat kemajuan generasi muda Indonesia dalam membangun bangsanya. Hal ini terbukti dari mayoritas angkatan kerja Indonesia merupakan lulusan SD dan SMP, sedangkan yang merupakan lulusan sarjana dan diploma hanya 11 persen saja. Cukup jauh dari negara tetangga seperti Malaysia yang sarjana dan diplomanya mencapai 24 persen, ataupun Singapura yang mencapai 29 persen dari angkatan kerja di negerinya. Dengan riwayat pendidikan formal yang rendah, banyak generasi muda Indonesia terserap di industri sebagai buruh murah dengan hubungan kerja yang tidak adil seperti outsourcing dan kontrak berkepanjangan, maupun sebagai buruh migran di luar negeri yang minim perlindungan.

Secara global, keadaan pendidikan amatlah memprihatinkan. Pendidikan berubah  menjadi proses dehumanisasi, dimana orang kehilangan kemanusiaannya justru dengan belajar untuk mengembangkan dirinya. Inilah ironi pendidikan terbesar di abad 21. Tak heran jika Noam Chomsky, menulis di dalam bukunya yang berjudul Class Warfare, bahwa pendidikan justru membunuh kecerdasan, kepekaan moral dan kebahagiaan yang merupakan tiga ciri utama kemanusiaan. Kalau kita analisis lebih dalam sepertinya praktek liberalisasi pendidikan di Indonesia jauh melebihi negara-negara yang mengaku menganut sistem liberal sekalipun di Eropa dan Amerika. Akibatnya sekolah-sekolah, kampus-kampus hanya menghasilkan mesin pekerja tanpa peduli apa potensi Anda sebenarnya. Di dalam proses itu, soal-soal yang amat penting, seperti pendidikan kemanusiaan, kepedulian sosial dan pendidikan nilai, justru sama sekali diabaikan.

Membaca buku ini, kita akan sampai pada kesimpulan sederhana bahwa sebetulnya pendidikan kita belum benar-benar menjalankan mandat konstitusi, sebab faktanya kita masih merasakan pendidikan terjebak dalam penjara-penjara feodalisme dan kapitalisme. Pertama adalah minimnya sarana dan prasarana. Kedua, ketimpangan akses bagi warga negara. Ketiga rendahnya kualitas tenaga pendidik dan kependidikan. Dan keempat kurikulum pendidikan yang bongkar pasang dan seringkali salah memilih paradigma pendidikan yang tepat.

Padahal Indonesia adalah negara yang punya cita-cita mulia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara yang melindungi warganya, termasuk dalam hal menjamin pemenuhan hak atas pendidikan. Negara mengupayakan pembebasan anak didik dari kemiskinan serta kebodohan, mendewasakan di dalam berpikir (rasional) dan bertindak (bertanggung jawab), serta membuatnya sadar akan situasi diri maupun masyarakatnya. Tetapi dalam kenyataannya, pendidikan diperlakukan seperti komoditas yang diperdagangkan (baca bab xvi). Apa yang membuat pendidikan seperti seolah diperdagangkan? Apakah mungkin pendidikan dapat dijadikan barang dagangan? Kenapa kuliah semakin mahal? Apa yang bisa dilakukan? Buku ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Buku ini tidak hanya asal menghujat mahalnya pendidikan di Indonesia, namun juga dilengkapi dengan data-data konkrit dan berita-berita nyata. Buku ini mengajak kita tertawa, dan di saat yang sama kritis melihat dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Buku ini layak dijadikan referensi sebagai evaluasi bagi kita bagaimana kondisi kehidupan pendidikan di republik Indonesia, juga renungan bagi para pengambil kebijakan, para pendidik, para aktivis mahasiswa dan semuannya yang menginginkan negeri adil makmur dan damai serta pendidikan yang menghasilkan sumberdaya berkualitas dan cerdas.

Melalui buku ini, kita dapat ikut merasakan bagaimana pilunya hati tak dapat menimba ilmu karena tak memiliki uang. Begitulah buku banyak bercerita, buku ini meneriakkan kembali suara protes untuk mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang bobrok menghasilkan lulusan yang juga bobrok, lemah, bodoh dan tak bermoral. Buku ini menjadi nyanyian yang mengingatkan bahwa kuliah harus murah dan juga membangkitkan kembali sebuah mimpi kuliah ideal bahwa pendidikan harus murah bahkan gratis, ilmiah, demokratis, mengabdi pada rakyat dan kemanusiaan. Alasan konstitusional mengapa kuliah harus murah, adalah bunyi amandemen UUD 1945 yang mewajibkan kuliah bisa menampung semua warga. Karenanya, kuliah memang perlu murah agar bisa menyedot semua orang.

Lalu apa solusi yang ditawarkan oleh buku ini ? dihalaman 210 pertanyaan itu terjawab. Sebagai penutup, saya mengajak anda dan kita semua untuk membaca buku ini.

 


sumber gambar: twitter.com/panjimulki

Mengenang dan Mengaji Kembali Gagasan Cak Nur

Mengenang 12 tahun wafatnya Nurcholish Madjid

***

“Dengan membaca, mendengar atau mengaji gagasan Cak Nur, maka akan ada yang terselamatkan dari iman mereka”

[Goenawan  Mohammad_Pengantar Pintu-pintu menuju Tuhan]

***

Menulis tentang seorang tokoh tentulah bukan perkara mudah. Butuh pengetahuan yang cukup, kecermatan dan kegigihan untuk menuliskannya. Terutama bila sang tokoh tersebut adalah seorang pejuang, pemimpin panutan yang melintasi banyak zaman ataukah seorang pemikir yang gagasan-gagasannya menjadi kontroversial, digugat, dihujat di sana-sini. Lebih-lebih bila ketokohannya tersebut sudah mendekati mitos. Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya. Beruntunglah karena tokoh yang hendak saya tuliskan ini belum sampai dimitoskan oleh orang-orang. Dan beruntungnya lagi, karena ketokohannnya juga sudah banyak dituliskan, dibicarakan oleh orang-orang; sejarah hidupnya, aktivitas-aktivitasnya sampai pada pikiran-pikirannya semasa hidup. Sehingga saya banyak terbantu karena itu.

Nurcholish Madjid, demikianlah namanya atau lebih dikenal dengan nama Cak Nur. Nama ini barangkali sudah tidak asing lagi terdengar. Terutama bagi mereka yang senang dengan wacana-wacana seperti kebebasan berpikir, islam liberal, pluralisme dan wacana-wacana lainnya yang sering dituduh sesat oleh kelompok-kelompok tertentu. Namanya seringkali dibicarakan, pemikirannya kerap jadi kutipan, gagasannya menjadi bahan perbincangan dan kegelisahannya yang khas dalam menempuh jalan kebenaran banyak dijadikan model oleh anak-anak muda Islam. Karena itulah saya menjadi tertarik untuk membaca dan menuliskan sedikit sejarah hidup dan pikiran-pikirannya.

Barangkali saya termasuk salah satu orang yang agak terlambat mengenal dan membaca pemikiran Cak Nur. Beberapa teman sekampus saya, jauh ketika masih sekolah dulu gagasan dan pemikiran Cak Nur sudah dibacanya. Seingat saya, pertama kali membaca dan bersentuhan dengan pemikirannya adalah ketika saya duduk di semester awal perkuliahan beberapa tahun silam. Waktu itu secara kebetulan saya iseng-iseng saja ikut pada seorang teman untuk mengikuti sebuah pelatihan salah satu organisasi mahasiswa untuk perekrutan kader atau anggota baru. Saat mengikuti pengkaderan itulah saya untuk pertama kali mendengar nama dan gagasan Cak Nur.

Sejak saat itulah saya mulai tertarik dengan sosok dan pemikirannya, bukan karena pemikirannya linear dengan disiplin akademik saya di kampus atau karena kebetulan saya salah satu kader di organisasi yang pernah dipimpinnya, tetapi karena ada banyak gagasannya yang terdengar “canggih” untuk ukuran pengetahuan saya dan itu tentu penting untuk mengangkat level pergaulan saya di lingkungan kampus. Semangat itulah yang menjadi motivasi awal saya untuk membaca dan mengenal beliau. Yah, sekadar untuk eksis, dan dibilang intelek. Tapi itu dulu, kira-kira 5 tahun yang lalu, sekarang tidak tentunya.

Hal pertama yang saya lakukan ketika selesai mengikuti perkaderan tersebut adalah berkelana ke toko buku mencari buku-buku yang berisi atau memuat gagasan dari Cak Nur. Pada waktu itu, seingat saya dengan uang yang pas-pasan, itupun setelah satu pasang sepatu melayang harus terjual. Akhirnya tiga buah buku dari Cak Nur pun saya dapatkan. “Islam Kemodernan, dan Keindonesiaan” (1988), “Islam, Doktrin, dan Peradaban” (1992), “Pintu pintu menuju Tuhan” (1994). Baru beberapa bulan kemudian buku yang lainnya ikut menyusul seperti “Tradisi Islam ; Peran dan fungsinya dalam pembangunan di Indonesia”, atau buku yang disuntingnya “Khazanah Intelektual Islam” dan lainnya. Sampai saat ini buku-buku tersebut masih tersusun rapi dalam lemari perpustakaan pribadi saya, tetapi  jangan dikira semua buku tersebut sudah saya khatami atau tamat membacanya. Itu terlalu berat dan agak rumit bagi saya untuk memahaminya dengan betul.

Hanya tema-tema besar dari gagasan Cak Nur yang sudah terdokumentasi dalam pikiran dan tertanam dalam keyakinan saya. Seperti misalnya, gagasan tentang  “Islam, Yes; Partai Islam, No”. Jargon ini sesungguhnya kalau kita kaji dengan cermat maka kita akan memukan dasar dari semangat jargon tersebut. Cak Nur pernah menjelaskan bahwa “Islam, Yes; Partai Islam, No” itu sebenarnya berangkat dari semangat monoteisme radikal atau paham tauhid yang mendasar, yang kemudian berimplikasi pada lahirnya desakralisasi, yaitu bahwa yang boleh disakralkan hanya Allah yang Maha Esa, selain dari itu tidak boleh disakralkan. Sehingga berbagai bentuk praktik pelembagaan agama (seperti partai politik atau negara yang berlabelkan agama) tidak perlu disakralkan. Bukan hanya itu, jauh sebelumnya kira-kira di awal tahun 70 an Cak Nur juga pernah menggagas sebuah konsep “Sekularisasi, Yes; Sekularisme, No” yang menuai gugatan dan protes dari berbagai kalangan. Gagasan ini sebenarnya juga adalah pengembangan dari semangat pembaharuan Islam dan pengembangan teologi inklusif yang dibangunnya. Dan bagi saya gagasan tersebut adalah gagasan yang coba untuk menafsirkan teks islam secara proporsional, tidak memaksakan untuk mencampur baurkan satu dengan lainnya. Mana yang zhanni (boleh disekularisasikan), dan mana yang qath”i (tidak boleh diganggu gugat).

Ringkasnya, dari interaksi dengan gagasan atau pemikiran Cak Nur, yang banyak orang menganggapnya sebagai gagasan yang sangat skriptual sekaligus liberal sebab gagasannya langsung bersumber pada teks qur’an, hadis dan khazanah islam klasik lain. Tetapi disaat yang sama kemudian beliau terjemahkan dengan interpretasi kritis dan progresif menggunakan perangkat rasionalitas. Hal inilah mengapa kita perlu untuk “mengaji” kembali mengenai gagasan dari Cak Nur tersebut.

Pada intinya, pergulatan Cak Nur yang tanpa lelah mengingatkan kita akan satu prinsip hidup mahapenting yaitu kejujuran dan keadilan—menyitir istilah Pram dalam bukunya; Bumi Manusia—adil dan jujurlah sejak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Cak Nur sendiri telah mengamalkannya secara konsisten lewat praktek berpikir bebasnya dan keberpihakannya pada kaum marginal. Dia tidak mau menjadi munafik, seolah-olah paling suci, paling benar dan semacamnya. Dia memilih berontak dari pakem semacam itu. Cak Nur benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri. Sebab, hanya dengan kejujuran, dengan berpikir bebas, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya, menjadi manusia yang seutuhnya.

Ada begitu banyak gagasan Cak Nur yang terhadapnya barangkali kita hanya bisa menganggukkan kepala. Bukan karena kita setuju sepenuhnya tetapi, sebagai penghormatan atas gagasannya tersebut. Karena dari sekian banyak gagasannya tentu ada beberapa yang mungkin saja kita setujui tetapi ada pula yang tidak. Alasannya sederhana, karena setuju sepenuhnya dengan gagasannya adalah berarti bertentangan dengan prinsip relativitas kebenaran manusia yang didengungkan sendiri oleh Cak Nur.

Terakhir mengapa penting untuk kita “mengaji” kembali gagasan Cak Nur adalah agar supaya kelak dari pengajian itu akan lahir para “anak-anak intelektual” atau “anak-anak ideologis” dari Cak Nur yang kemudian nantinya akan menelurkan gagasan-gagasan baru yang lebih progresif dengan semangat inklusifitas dalam memahami dan memaknai islam dan bangsa.

Ilustrasi: https://roysamboja.deviantart.com/

Trilogi Interupsi dari Kampus: Oemar Bakri Bertanya dan Puisi-puisi Lainnya

Oemar Bakri Bertanya

 

Oemar bakri mengejek.

Kalian para pendidik, nalarmu kau kemanakan ?

Makin hari makin jongkok, ucap dan tingkahmu makin berjarak.

Papan tulismupun makin jauh dari soal-soal kehidupan.

 

Kalian para birokrat kampus, apa kerjaanmu ?

Yang kulihat, sehari-hari kerjaanmu hanya memperkaya diri, memahalkan biaya kuliah, mengkomersilkan fasilitas kampus, membuat kebijakan yang mengkerangkeng kreatifitas mahasiswa.

Kampus kau buat tuli, buta, bisu dan impoten.

Kampus kalian buat menjadi penjara, di sana kalian malah memperbudak.

 

Oemar bakri bertanya, lalu dimana sosok pahlawan tanpa tanda jasa itu ? pengabdi tanpa berharap pamrih itu ?

 

 

Kabar Derita

 

Lewat angin dikala hujan,

Lewat rinai gerimis,

Lewat malam yang gulita,

Lewat kopi yang pahit dan pekat,

Lewat pelataran-pelataran kampus yang tergenang banjir,

Lewat biaya kuliah yang mencekik mahal,

Lewat kebijakan yang kian memenjara.

 

Sekali lagi, kukabarkan berita ini.

Pada kalian yang sibuk dan lupa.

Karena hidupmu berlimpah nikmat dan kemewahan.

Bahwa di sini, ada susah yang menggunung,

Ada derita yang bertumpuk-tumpuk.

 

Dengarlah, menolehlah sejenak, mendekatlah kemari.

Agar kalian percaya, yang kukatakan itu bukanlah bualan.

 

 

Bait-bait Rindu

 

Pada malam yang basah,

Pada angin dan gerimis,

Pada daun yang jatuh berguguran,

Pada pohon dan rumput yang bergoyang.

Dengarlah, ada rindu yang ingin kutitipkan.

 

Kami rindu,

Rindu pada pendidikan murah.

Rindu pada pendidikan yang ilmiah.

Rindu pada pendidikan yang membebaskan.

 

Kami rindu,

Rindu pada kedamaian,

Pada keadilan,

Pada kemerdekaan.

 

Sampaikanlah rinduku padanya.

Pada mereka yang diperbudak nafsu kebinatangan.

Karena semua itu sudah lama pergi,

hilang, tertimbun nafsu serakah.

Buku, Perpustakaan dan Kampus yang Anti Buku

“Perpustakaan (kepustakawanan) dan ilmu pengetahuan adalah merupakan dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Perpustakaan merupakan lembaga yang menyimpan dan melestarikan beragam ilmu pengetahuan, serta mentransmisikan ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi”.

[Prof. Dr. Komaruddin Hidayat]

“Pemerintah tidak menganggap penting buku, tidak menganggap penting sastra, tidak menganggap penting rakyat gemar membaca. Seakan sengaja membiarkan rakyat tetap bodoh”.

[Kang Ajip Rosjidi]

 ***

Tak dapat disangkal, buku adalah personifikasi atau jelmaan dari seseorang dalam bentuk teks. Di sanalah rekaman-rekaman peristiwa, gagasan serta rasa dirawat. Itulah kenapa, buku seringkali disebut sebagai nyawa cadangan untuk memperpanjang umur sejarah bagi si penulisnya. Dengan begitu, maka menulis buku sejatinya adalah mendaftarkan diri pada sang waktu untuk hidup mengabadi.

Diibaratkan dengan rumah, buku barangkali adalah jendela dan perpustakaan adalah rumahnya. Di rumah itulah beragam jendela dunia dihamparkan. Setiap orang bebas untuk memilih ingin memandangi apa, melalui jendela itulah orang-orang bebas melihat. Karena itu keberadaan perpustakaan dan penghargaan terhadap buku amatlah penting. Keberadaan keduanya menjadi jantung peradaban. Tanpanya, peradaban akan kering bahkan mati. Sebagaimana fungsi jantung dalam tubuh, perpustakaan sangatlah menetukan sehat tidaknya masyarakat atau sistem pendidikan di perguruan tinggi. Apabila jantung tidak bekerja dengan baik maka bisa dipastikan akan terjadi kelumpuhan bahkan kematian. Kampus yang tidak memiliki atau tidak mengurusi perpustakaannya dengan baik sama halnya dengan tubuh yang tak memiliki jantung atau sakit jantung. Karena itu, tidak salah kalau disebut bahwa penyebab buruknya dunia pendidikan kita adalah karena tidak menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya pendidikan.

“Perpustakaan adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya” kira-kira begitulah pepatah bijak bilang. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata negara maju mengawali proyek peradabannya dengan terlebih dahulu membangun budaya baca dan tulis dari masyarakatnya. Sehingga tidaklah mengherankan ketika peradaban mereka jauh melampaui peradaban bangsa kita. Barangkali, sudah menjadi hukum besi sejarah atau sunnatullah kehidupan bahwa siapa yang mencintai dan menguasai pengetahuan  maka ia akan menjadi penguasa, dan saya kira hal ini sejalan dengan slogan yang didengungkan Francis Bacon bahwa Knowledge is Power, pengetahuan adalah kekuasaan.

Wajah sebuah bangsa dapat dilihat dari wajah perpustakaannya. Begitupun dengan tingkat peradabannya, dapat diukur dari kesadaran literasi  para warganya. Sejarah peradaban besar tidak lepas dari keberadaan buku dan perpustakaan. Dan itu fakta. Kenyataan ini semakin menegaskan pentingnya buku dan perpustakaan. Tengoklah mereka, para tokoh, pemimpin dan intelektual di sepanjang sejarah peradaban umat manusia, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi selalu mengakrabkan diri dengan tradisi literasi. Mereka adalah penulis, dan pembaca buku yang baik. Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat Ke-3 karena saking cintanya terhadap buku sampai pernah berkata “Saya tidak dapat hidup tanpa buku”, dan itu diaminkan oleh Thomas Bartholin seorang cendekia dari Denmark yang juga berucap “Tanpa buku Tuhan akan diam, keadilan akan terbenam, sains akan macet, sastra akan bisu, dan seluruhnya akan dirundung kegelapan”. Pernyataan itu menjadi afirmasi betapa pentingnya buku dan perpustakaan. Ingat, Peradaban modern berkembang dan maju seperti saat ini, itu karena penghargaan dan kecintaan mereka terhadap buku. Bangsa Arab pasca turunnya ayat pertama Iqra atau bacalah, juga akhirnya berkembang dan maju dengan sangat luar biasa.

Azyumardi Azra pernah mengatakan  bahwa peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup muslim dipandu oleh buku, dan kita menemukan nilai hidup kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita juga termanifestasi dalam buku, dan identitas kita juga terbentuk oleh buku-buku. Jadi, bagaimana mungkin ada orang di antara kita yang merusak buku dan melarang orang membaca buku?

Nah, mari kita bandingkan dengan situasi bangsa kita saat ini terutama kampus kita UNM. Kurang lebih sudah tujuh puluh satu tahun bangsa ini merdeka dan berdaulat dari kolonialisme dan lima puluh lima tahun usia UNM, namun rasa-rasanya belum ada satupun prestasi yang dapat kita banggakan. Malah secara kualitatif dan kuantitatif semakin hari makin stagnan bahkan cenderung menurun atau mundur. Sebagai kritik, barangkali ada baiknya kita semua kembali merenungi, apa yang pernah dikatakan oleh Taufik Ismail “Malu aku menjadi orang indonesia”. Bangsa ini kian hari kian “Tampak tua dan lelah” kata Ebiet G. Ade.

Tanggungjawab perpustakaan bukan sekadar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga mesti bekerja membangun mental, pemikiran dan budaya dari generasi yang sebelumnya asing terhadap buku menjadi generasi pencinta buku. Bergiat mengajak, mengampanyekan pentingnya kesadaran literasi utamanya minat baca. Misalnya, mengadakan kelas menulis, seminar atau dialog tentang literasi, bedah atau diskusi buku, lomba meresensi buku, menulis esai, puisi, cerpen dll. Dari situlah perpustakaan melakukan transfer pengetahuan, pengalaman dan nilai dalam hal kesadaran literasi. Untuk melakukan itu tentu hal pertama yang disiapkan adalah komitmen yang serius dari seluruh sivitas akademik seperti pimpinan kampus, pustakawan, dosen dan mahasiswa. Unsur-unsur itu mesti memiliki paradigma yang sama tentang pentingnya perpustakaan dalam pendidikan. Terutama bagi pustakawannya. Jangan menganggap profesi pustakawan sekadar sebagai pegawai atau karyawan yang berharap gaji semata. Tetapi yang paling penting, mereka harus memiliki idealisme, kecintaan terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Tidak cukup hanya dengan keterampilan teknis dalam mengelola perpustakaan tetapi juga adanya panggilan jiwa untuk menekuninya. Sehingga apa yang dilakukannya adalah sebagai bentuk  pengabdian untuk kemajuan kampus dan bangsa.

Selain pustakawan, hal berikutnya adalah koleksi pustaka. Kampus utamanya pustakawan mesti mengecek dan terus mengevaluasi ketersediaan bahan bacaan atau pustaka. Bukan hanya ketersediaannya tetapi juga bergizi tidaknya koleksi pustakanya. Hal itu mengharuskan para pustakawan untuk banyak bekerjasama dan proaktif merekomendasi pimpinan kampus agar mengembangkan kebijakan pengadaan koleksi pustaka secara bersama yang berbasis kebutuhan dan kepentingan komunitas kampus.

Terakhir, walaupun perpustakaan bukanlah segalanya dalam hidup kita, tetapi segalanya dapat kita mulai dari perpustakaan. Akan jadi apa bangsa dan dunia nanti-nya, itu bergantung pada kebiasaan dan bacaan generasinya saat ini. Ketika penghargaannya terhadap buku dan perpustakaan baik maka baik pulalah bangsa dan dunia ini di masa depan. Sebaliknya, bila penghargaannya buruk maka percayalah bahwa akan buruk pula nantinya. Mari bermenung sejenak.

Kampus dan Brengseknya Ongkos Kuliah

…bolehkah kami bertanya, Kapan kampus kami lebih baik dari kandang anjing? lebih baik dari pembuangan sampah? Tidak kebanjiran ketika hujan, dan tidak berdebu ketika kemarau? Tidak kepanasan ketika kuliah? Kapan biaya kuliah kami murah? Kenapa kami harus bayar mahal, padahal fasilitas dan kualitasnya sangat brengsek?”

Boleh dibilang, tulisan ini hanyalah upaya reflektif atau reinpretasi untuk melakukan pembacaan ulang terhadap masalah-masalah pendidikan, mudah-mudahan bisa dijadikan sebagai basis wacana dalam melakukan gerakan-gerakan sosial yang lebih nyata. Karena, di antara segudang persoalan, kita harus tetap optimis dan yakin bahwa hanya dengan pendidikanlah bangsa ini akan berdikari di dalam hal ekonomi, berkepribadian di ranah kebudayaan dan berdaulat di bidang politik. Sebab, sudah terlalu lama bangsa ini menganaktirikan pendidikan dalam proses pembangunan nasional. Politik sebagai panglima dahulu bergaung di era Orde Lama, Ekonomi sebagai panglima berjaya di era Orde Baru, maka kini di era reformasi sudah saatnya bangsa Indonesia menjadikan pendidikan sebagai panglima, sesuai amanat konstitusi kita yang menjadi dasar tujuan bernegara yakni “Mencerdaskan Kehidupan Berbangsa”.

Salah satu potret dunia pendidikan yang belakangan ini kerap menggelisahkan adalah mahalnya biaya pendidikan. Padahal di saat yang sama, jumlah orang miskin semakin bertambah, di negeri ini kemiskinan dan kemewahan hidup berdampingan, parahnya karena itu terjadi di sekitar kantor-kantor pemerintahan, institusi pendidikan dan rumah-rumah ibadah. Seolah-olah hal tersebut alamiah saja. Perhatikan saja, jurang kaya-miskin makin menganga lebar. Mereka yang dimiskinkan oleh berbagai kebijakan dan struktur negara, akhirnya harus pula dilindas oleh sistem pendidikan. Hal itu berarti, langsung tidak langsung, pengelola negara mengkhianati rakyatnya, si kaya menghisap si miskin, kaum terpelajar membodohi orang-orang yang tidak mampu mengenyam pendidikan.

Sudah lama dunia pendidikan (kampus) kita dikritik sebagai tempat yang kurang nyaman bagi peserta didik (mahasiswa) dalam mengeksplorasi dan menumbuhkembangkan potensi dirinya. Kampus tak ubahnya kerangkeng penjara yang menindas para mahasiswa. Mereka harus menjadi sosok yang serba penurut, patuh, dan taat pada komando. Imbasnya, mereka menjadi sosok mekanis yang kehilangan sikap kreatif, kritis dan mandiri. Mereka belum terbebas sepenuhnya dari suasana keterpasungan dan penindasan.

Yang lebih mencemaskan lagi, institusi pendidikan (kampus) dinilai hanya menjadi milik mereka yang kaya. Sedang mereka yang miskin—finansial dan pengetahuan— hanya bisa bermimpi dan terus bermimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi. Usai menuntut ilmu, mereka yang kaya tersebut menjadi penindas-penindas baru sebagai efek domino dari proses dan sistem yang selama ini mereka dapatkan di institusi pendidikan. Sungguh sangat beralasan jika banyak pengamat pendidikan yang menilai bahwa dunia pendidikan kita selama ini hanya melahirkan kaum penindas. Sementara itu, anak-anak dari kalangan masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki akses terhadap dunia pendidikan hanya akan menjadi kacung dan kaum tertindas. Lihat saja, hari ke hari, pendidikan makin menjadi barang mewah. Boleh dibilang pendidikan harganya seperti barang kebutuhan tersier saja, mahal sungguh-sungguh mahal. Pastinya, hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa mengakses pendidikan negeri. Sementara bagi rakyat miskin hanya dapat merajut mimpi saja.

Faktanya dapat kita temukan di manapun, sebut saja misalnya, di tahun 2016 Universitas Negeri Mahal Makassar (UNM) membebankan mahasiswa baru dengan biaya kuliah (Uang Kuliah Tunggal) dari 500.000 hingga 7.500.000/semesternya dan ditahun ini kembali naik sampai 8.500.000. Parahnya, karena jumlah mahasiswa yang berada pada golongan I dan II dengan kisaran biaya 500.000-1.500.000 sangat sedikit bahkan di bawah 5% untuk setiap prodi dari total keseluruhan mahasiswa. Sedang yang berada di golongan IV sampai VIII justru sangat banyak, menumpuk. Ini baru UNM yang statusnya masih SATKER bagaimana dengan kampus-kampus yang sudah berstatus BLU apalagi PTN BH. Bisa dibayangkan bagaimana brengseknya harga yang dibayarkan.

Kini tak asing lagi di telinga kita keluh-kesah dari para mahasiswa dan orangtua mahasiswa atas kebijakan UKT. Karena apa yang di dapatkan mulai dari sarana-prasarana, kualitas pendidik, sistem pembelajaran dll, tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dari besaran UKT yang dibayarkan. Banyak pembenaran yang dilontarkan pihak perguruan tinggi untuk mengelabui masyarakat bahwa setelah diberlakukan UKT maka tidak ada lagi pungutan yang akan ditanggung oleh mahasiswa, sebagaimana yang diutarakan oleh Mendikbud pada saat itu, Muhammad Nuh saat sosialisasi penerapan sistem UKT. Padahal itu hanya retorika sesat, karena tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Contohnya di Universitas Negeri Makasar dan ini merata dihampir semua fakultas, banyak mahasiswa utamanya mahasiswa baru yang mengelukan fasilitas yang didapatkan, mulai dari kursi yang sudah tidak layak pakai—mengingat usianya yang rata-rata lebih tua dari usia mahasiswa—, almamater yang harus beli sendiri dengan kualitas rendah tapi harganya sangat-sangat tinggi, penelitian yang harus dibayar, fasilitas kampus yang harus dipungut tarif ketika digunakan, ruangan yang sempit, panas karena tidak berbanding dengan rasio jumlah mahasiswa, dan masih banyak lagi yang dikeluhkan mahasiswa. Padahal, di UNM rata-rata biaya kuliah mahasiswa melonjak drastis setelah pemberlakuan sistem UKT. Yang harusnya biaya kuliah makin murah dan fasilitasnya makin meningkat.

Disinyalir bahwa biaya UKT lebih tinggi dibanding perguruan tinggi swasta. Kemudian di swasta biaya kuliah bisa dicicil bahkan di kampus-kampus swasta fasilitas dan kualitas pengajarnya lebih baik dari kampus “plat merah”. Inilah dasar pijakan mengapa sistem UKT dipersoalkan, karena di dalamnya ada spirit komersialisasi dengan kemasan baru, kedoknya saja yang seolah-olah manusiawi padahal nyatanya membinasakan.

Intinya, dalam sistem UKT, logika subsidi silang hanyalah ilusi, tidak lain hanyalah proyek untuk menstimulus negara lepas tanggungjawab dari pengelolaan pendidikan. Dimana, peran dan tanggung jawab pemerintah semakin jauh dari pendidikan dan hanya sebatas pemberi cap stempel saja. Inilah bentuk privatisasi pendidikan yang secara perlahan-lahan mendorong tata kelola pendidikan menjadi perusahaan, dengan orientasi pada akumulasi profit. Akibatnya, pendidikan tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi dijadikan sebagai industri jasa atau ladang eksploitasi bagi kelas-kelas borjuasi.

Sampai saat ini potret muram pendidikan tinggi menjadi kegelisahan banyak orang, institusi pendidikan dengan amat mudah diperalat untuk melayani kepentingan kaum elit semata. Pendidikan lebih sebagai tempat untuk akumulasi status quo, bukan sebagai agen dan pelaku perubahan dalam kehidupan masyarakat. Tengok saja kampus-kampus di kota-kota besar pada musim pendaftaran mahasiswa baru, hanya kelas menengah ke ataslah yang bisa masuk dengan mudah. Dengan biaya yang mahal dan persyaratan yang rumit yakinlah pendidikan bagi kaum miskin tidak akan pernah terwujud. Padahal, dalam konteks ini, pendidikan seharusnya bekerja membantu kelahiran manusia-manusia dewasa, kreatif, kritis dan merdeka sehingga kelak dengan bebas dan sadar membantu melakukan transformasi di dalam masyarakat.

Terakhir, sebagai kerja humanisasi harusnya pendidikan dapat diakses oleh semua orang. Tanpa memandang status, entah ia anak PNS, anak petani, anak nelayan, anak buruh, anak miskin kota bahkan anak pengangguran sekalipun. Negara harus ambil peran, memastikan bahwa semua orang dapat mengakses pendidikan yang berkualitas dengan murah bahkan gratis.

Desember dan Ritus Pembebasan

Desember adalah bulan yang panjang. Banyak peristiwa yang terekam di sana. Hari anti korupsi (9), hari HAM (10), Kelahiran Muhammad (12), hari Ibu (22), dan kelahiran Yesus Kristus (25), kelimanya terekam dalam satu makna yang sama; bukan saja mempertemukan hari kelahiran seorang manusia agung diupacarai, hari di mana Ibu kembali diperingati, atau hari kala anti korupsi dan HAM dirayakan, tapi juga kelima peristiwa itu mengingatkan kita akan perjuangan melawan lupa. Lupa atas penghormatan terhadap nilai ketuhanan, kemanusiaan, pembebasan dan perdamaian.

Tulisan ini barangkali tidak banyak mengulas perkara hari anti korupsi, hari HAM, dan hari Ibu, bukan tidak penting, tetapi butuh waktu dan ruang yang lebih banyak untuk menuliskannya. Itulah kenapa, tulisan ini hanya akan lebih banyak bercerita perihal kelahiran dua sosok agung yang di bulan ini kelahirannya dirayakan, dialah yang kita kenal sebagai wujud sempurna dari emanasi Tuhan di jagad raya. Sependek yang penulis ketahui kedua sosok inilah yang dalam sejarahnya sangat berperan penting dalam membangun peradaban dari yang sebelumnya sangat sesak oleh laku-laku kebiadaban. Dalam banyak hal, kedua sosok ini memiliki kesamaan-kesamaan, setidak-tidaknya keduanya sama-sama membawa ajaran keesaan Tuhan, mengajarkan bahwa kebenaran harus diperjuangkan dengan cinta (tanpa kekerasan), menempatkan agama sebagai semangat pembebasan (agama yang dimaksud adalah agama secara substantif bukan simbolik), mengajarkan ketegasan bukan kekerasan, sama-sama mengamalkan ajaran sufistik; membebaskan diri dari kepemilikan dan nafsu, meyakini bahwa semua manusia bersaudara dan perbedaan itu adalah rahmat. Pada titik-titik itulah kedua sosok ini ada pertemuan.

Kelahiran Isa Al masih—Yesus Kristus—, yang kita sebut Natal dan kelahiran Muhammad SAW, yang kita kenal sebagai perayaan Maulid seharusnya tidak dimaknai sekadar pesta euforia dan perayaan simbolitas semata, yang sarat akan laku konsumtif, kapitalistik dan eksklusifitas teologis. Tetapi mestinya dimaknai sebagai ritus reflektif untuk menumbuhkan rasa keberagamaan yang altruis—berkorban dan membebaskan—serta menghormati keberbedaan, dalam hal apapun. Semangat itulah yang harusnya dibangun dan dirawat.

Kehadiran kedua sosok ini di muka bumi, merupakan realitas kesejarahan yang membawa pesan perjuangan untuk kerja pembebasan dan perdamaian. Keyakinannya akan keesaan Tuhan dijadikan sebagai ilham dan penyemangat untuk memimpin serta mengorganisir perjuangan, perlawanan dan pengorbanan untuk melawan semua status quo, belenggu dan penindasan terhadap ummat manusia. Dalam sejarah kita menyaksikan bagaimana Yesus dan Muhammad telah memperkenalkan ajaran akan ketundukan pada keesaan Tuhan dan penghormatan akan nilai kemanusiaan, serta memimpin ummat untuk melawan segala praktik-praktik perbudakan.

Kedua sosok agung ini, lahir di tengah-tengah kaum yang termarginalkan, para budak, anak yatim, janda dan orang orang miskin yang luar biasa menderitanya. Dari komunitas inilah Muhammad dan Al-masih memulai perjuangannya untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan, yaitu persaudaraan universal, keseteraan, keadilan sosial, dan keadilan ekonomi. Sebuah cita-cita yang membutuhkan keyakinan, tanggung jawab, keterlibatan dan komitmen. Karena itulah, di sana sangat dibutuhkan kebersetiaan.

Itulah kenapa, kedua sosok tersebut mewajibkan umatnya untuk melakukan perjuangan membela orang-orang yang tertindas, dan memosisikan diri sebagai pembela kelompok yang termarginalkan. Kedua sosok ini selalu menyeru manusia untuk terus memperjuangkan harkat kemanusiaan, menghapuskan kezaliman, melawan penindasan dan segala bentuk ekploitasi. Begitulahlah cita-cita ideal diturunkannya mereka ke muka bumi.

Kehadiran keduanya menjadi penegas bahwa, pada dasarnya sejak mula diturunkannya mereka beserta ajaran-ajarannya memang hadir dengan watak subversif terhadap kekuasaan yang ada di sekelilingnya, terutama kekuasaan yang sewenang-wenang. Hal itu tidak terlepas karena memang demikianlah cita awal agama diturunkan; mengubah tata nilai lama kedalam tata nilai baru yang lebih maju. Itulah barangkali, mengapa Yesus Kristus, dan Muhammad Saw di masa hidupnya senantiasa dicap sebagai pemberontak atau pembangkang oleh penguasa-penguasa di mana mereka hidup. Dari berbagai kisah mereka, kita dapat memetik banyak hikmah. Dari sana kita bisa menyaksikan bagaimana Yesus Kristus menjadi oposan bagi penguasa imperialis Byzantium yang lalim, dan Muhammad Saw menjadi penyeru perlawanan, untuk menghancurkan sendi-sendi kesewenang-wenangan para bangsawan Quraisy tanah arab pada waktu itu.

Kehadiran sosok ini di tengah kepenatan hidup dan kebekuan berpikir seperti sekarang ini sungguh sangat diperlukan dan dinanti. Ia tidak saja memaknai agama sebagai laku spritual semata. Tetapi menempatkan agama sebagai laku keberimanan yang menyeru pada perlawanan, pembebasan dan perdamaian. Sebagai pembawa risalah ilahi, kedua sosok ini laksana lautan tak bertepi dan bumi tak terjejaki. Ia selalu mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap toleran terhadap sesama, peduli akan penderitaan orang lain, menerima kelompok berbeda untuk hidup berdampingan sambil bergandengan tangan tanpa harus bertikai, serta mengabdikan hidup demi persaudaraan, pembebasan, perdamaian dan menjaga martabat manusia, sehingga terwujud tatanan masyarakat yang adil, demokratis, egaliter dan berperadaban.

Ritus perayaan natal dan maulid, mengajak kita untuk menelusuri kembali gagasan pluralitas dan progresifitas ritus tersebut, serta menyulam kembali kesadaran kita agar tetap lestari di tengah kepungan arus zaman yang kian kapitalis dan serba materialistik, seperti saat ini. Jangan sampai keberagamaan kita justru tumpul dan tampak lugu serta dungu ketika berhadapan dengan realitas sosial yang harus dihadapi umat: kekerasan atas nama SARA, rendahnya upah buruh dan redistribusi tanah yang tidak merata, meluasnya lembaga pelayanan publik yang berwatak komersial, utang luar negeri yang membubung, dan banyak persoalan lain. Kira-kira begitulah harusnya kita memaknai kelahiran dua sosok agung tersebut. Natal, maulid mestinya menjadi ritus reflektif, mengenang Sang Agung, yang dalam hidupnya berani keluar dari jalan ramai, penuh hiruk pikuk kekuasaan, menuju jalan sunyi, jalan perjuangan, pembebasan dan perdamaian.[]

Trilogi Kampus: Maha Menaragading dan Puisi-puisi Lainnya

Matinya Kampus

Kampus telah berubah.
Banyak hal yang telah hilang.
Parahnya, tak ada lagi yang sudi mencarinya.
Tak ada yang ingin bersusah-susah memulainya.

Dahulu, sudut-sudut kampus penuh sesak dengan lingkar-lingkar diskusi.

Ruang-ruang kuliah penuh debat-debat dialektis.
Hari ke hari suara-suara megaphone bersahut-sahutan.
Di sana-sini ramai aktivitas mahasiswa ; Olahraga, olahrasa, olahpikir, olahhati, olahkata, olahsosial dan barangkali olahkelamin.

Namun kini, hilang satu demi satu.
Kebebasan akademik telah dipasung.
Kemerdekaan berpikir, berpendapat serta berserikat telah dirampas.
Kritik dilarang.
Suara-suara protes dibungkam.
Katanya itu subversif.
Atas nama kedisiplinan, sopan-santun, etika-moralitas semuanya dilarang.

Kampus ibarat penjara.

Di sana-sini penuh tanda larang-melarang, rampas-merampas, bungkam-membungkam.
Mungkin wajahnya tidak lagi seperti dahulu; NKK/BKK, Petrus, Opsus militer seperti di era Orba.
Tetapi wataknya tetaplah sama.
Kemasannya saja yang bergantirupa.
Kini kejahatan dihalalkan negara.
Wujudnya bisa berupa Undangundang, Perpres, Permen, Statuta, atau bahkan Kontrak kuliah.

 

Maha Menaragading

Tatkala sumpah telah berganti sampah,

Maka, pekik revolusi pun akan mati.

Namamu yang kini bergelar “Maha”. Mahaguru, Mahasiswa justru membawa pada tunanurani.

Ketika teman-teman turun ke jalan.

Dengungkankebenaran, pekikkan keadilan. Nuranimu tak jua bergerak-bergetar.

Engkau malah asik duduk diam di ruang kelas atau berjualan proyek proposalmu.

 

Kau si “Maha”,

Nyayian teorimu di atas menara gading itu, sungguh hanya hampa yang kau bawa.

Sejarah tak pantas mencatat hadirmu.

 

“Bergegaslah, Lupakan saja mereka”

Kawan, bergegaslah.

Cepatlah pakai togamu.

Pakai jubah kemuliaan itu.

Rapikan rambutmu, tambahkan sedikit make up di wajahmu.

Dan jangan lupa, siapkan senyuman termanismu untuk mereka, bapak rektor dan para guru besar yang terhormat itu.

Kawan, bergegaslah.

Lupakan saja mereka, kawankawanmu yang sering kau sebut pemalas itu.

Biarkan mereka menua di loronglorong kampus, di ruangruang kelas, atau di sudutsudut jalan raya.

Kawan, bergegaslah.

Lupakan saja mereka, kawankawanmu itu.

Bukankah mereka itu para pemalas, pembangkang, tak beretika, tak tahu aturan? Dosendosen sering berkata begitu.

Kawan, bergegaslah.

Tak usah pikirkan mereka, urusi saja diri dan masa depanmu.

Bukankah dosendosen sering berucap “Hidup ini kompetisi, buang jauhjauh pikiranmu untuk turun kejalan, tak usah ikutikut demonstrasi, ikutikut mengkritik. Jadilah mahasiswa yang baikbaik, berbudi pekerti luhur”.

Kawan, bergegaslah.

Tak usah pakai nuranimu, simpan saja di laci mejamu, atau di selangkangan pahamu, atau kalau perlu buang saja ke toilet.

Tak penting, seberapa siap kau mengabdi di masyarakat.

Tak peduli, seberapa banyak pengetahuan yang telah kau dapat. Bergegaslah saja.

Kawan, bergegaslah.

Antrian panjang robot berparas manusia menungguimu.

Barisbaris pengangguran berijazah menantimu. Bergegaslah!

Oktober 28; Menjaga dan Merawat Ingatan Kebangsaan

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

(Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928)

 

Sumpah di atas adalah bukti bahwa Indonesia sudah dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka. Melalui sumpah itu, kaum muda indonesia meletakkan dasar dari tonggak sejarah kebangkitan nasionalnya. Itu ditandai dengan ikrar bahwa satu Indonesia. Dan karenanya, sudah keharusan bangsa ini untuk memperingati momentum 28 oktober sebagai bagian dari proses lahirnya bangsa Indonesia.

Barangkali, semua sepakat bahwa sumpah pemuda 28 Oktober 1928, adalah ikrar bersatunya berbagai komponen bangsa yang diwakili kaum muda waktu itu. Mereka bersepakat untuk bersama-sama merajut dan memperjuangkan cita-cita bangsa untuk merdeka. Melalui proses dialog yang panjang, akhirnya kaum muda menyadari akan pentingnya kebersatuan sesama warga bangsa untuk mengenyahkan feodalisme, imperialisme dan kolonialisme dari tanah Nusantara.

Kesadaran membangun kekuatan bangsa, komitmen untuk berdaulat serta pentingnya merajut persatuan dan kesatuan, merupakan tuntutan mutlak agar bangsa ini segera menapaki nafas kemerdekaan. Dalam catatan sejarah kita menyaksikan rentang fase yang pernah dilalui oleh bangsa ini, walaupun sebutan merdeka tersebut masih debatebel. Fase harmoni dan fase kontradiktif beberapa kali pernah hadir menyertai dalam perjalanannya. 28 oktober 1928 adalah merupakan representasi fase di mana keresahan para pemuda telah sampai pada puncaknya. Fase inilah yang kemudian menjadi spirit perjuangan dan perlawanan untuk membangun jiwa dan raga bangsa tercinta, Indonesia.

Jika kita amati fase-fase proses perjalanan yang menghantarkan bangsa ini sampai pada titik merdeka hingga kini, tentu yang pertama muncul di benak kita adalah peran kaum muda revolusioner, yang dapat menyatukan visi serta misi bersama demi kesatuan dan persatuan bangsa yang sejak lama diidamkan. Semangat juang kaum muda tersebut merupakan bukti nyata dan “konkretisasi” dari sebuah harapan agung untuk mewujudkan masyarakat yang diridhai Allah Subhanhu wata’ala (Masyarakat Madani). “Tak ada samudera yang bebas dari badai”, begitulah pepatah bijak berucap, demikian juga dengan bangsa ini. Dalam merekatkan persatuan yang sudah lama ingin dibangun, hampir selalu ada badai yang menghantam, selalu ada benalu menghinggapinya. 71 tahun sudah bangsa ini merdeka. Namun, masih ada berbagai problematika yang menjadi penghambat kemandirian bangsa menemukan jati dirinya.

Problematika yang menjadi penghambat yang dimaksud adalah,  seperti misalnya watak materialistik-pragmatis yang hingga kini menjadi faktor yang banyak memproduksi mental “latah, apologis”  dalam pembangunan kebangsaan. Hal itu banyak kita temukan dalam jiwa mayoritas bangsa Indonesia termasuk kaum mudanya. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa republik ini hanyalah sekadar rumah untuk berlindung dari panasnya gejolak ketidakpastian sosial dan badai konflik horisontal-vertikal. Mental-mental seperti inilah yang membawa bangsa ini pada kondisi statis yang warganya hanya menunggu datangnya perubahan, bukan menjemput atau membangun perubahan.

Di sisi lain, faktor yang juga banyak menyumbangkan melambatnya perbaikan di bangsa ini adalah karena runtuhnya bangunan budaya akademis di kalangan pemuda pelajar dan mahasiswa. Hal ini dapat kita temukan dengan mudah. Tidak berlebihan barangkali ketika penulis mengatakan bahwa hari ini tak ada lagi budaya membaca, diskusi dan menulis di kalangan sivitas akademika (mahasiswa maupun dosen) kalaupun ada itu hanya segelintir orang. Kampus seolah hanyalah pelarian untuk  tidak dikatakan sebagai pengangguran. Hingga saat ini sejauh pengamatan yang  penulis lakukan, kurang dari sepuluh persen mahasiswa yang dalam sehari menyempatkan diri untuk berkunjung keperpustakaan ataupun ke toko buku, apa lagi mencuri waktu tidurnya untuk berdiskusi, menulis ataukah membaca. Banyak dari mereka lebih memilih nongkrong di kantin atau mencari kesibukan lain di dalam maupun luar kampus yang tidak ada kaitanya dengan kerja-kerja intelektual. Hal tersebut merupakan realitas objektif yang harus kita akui bersama.

Fenomena tersebut seolah memberi kesan bahwasanya paradigma perjuangan bangsa kita terhenti hanya sampai pada bung karno memproklamasikan kemerdekaan saja dan beberapa fase setelahnya. Jika benar demikian, maka harapan penggagas kemerdekaan the founding people tentang bangsa yang adil dan makmur perlu dibincang kembali. Pola pikir praktis dan hedonis tak dapat kita bendung, tidak saja bagi para politisi yang mementingkan  kepentingan kelompok dan golongannya saja, namun kalangan akademisi pun mulai terjangkit virus berbahaya tersebut. Tak heran ketika bentrokan pelajar dan mahasiswa telah menjadi life style bangsa kita. Dunia pendidikan seolah dipenuhi oleh para bandit yang tega saling pukul dan bunuh tak kenal belas kasihan. Makassar yang bisa kita sebut sebagai tanah rantau dan kiblat pendidikan di kawasan timur Indonesia dari tahun ke tahun, senantiasa  dihantui oleh fenomena bentrokan mahasiswa. Kemudian diperparah lagi dengan munculnya fenomena tragis yang beberapa bulan terakhir memberi ketakutan akan kehadiran geng motor yang mayoritas oknum pelakunya berlatar belakang pelajar, hal ini semakin menegaskan gagalnya bangsa ini dalam mendefinisikan peran serta fungsi para kaum muda. Itu artinya masih banyak yang menjadi pekerjaan rumah yang jauh dari kata selesai hingga hari ini. Belum lagi soal tawar menawar hukum, mafia peradilan, mafia tanah, mafia pajak, pelanggaran HAM, pembodohan dan pemiskinan sistemik struktural, korupsi di perguruan tinggi, kekerasan akademik, kekerasan ormas, carut marut sistem pendidikan hingga mandulnya kaum muda dalam menjalankan perannya juga masih belum final sampai hari ini. Barangkali, sudah saatnya seluruh elemen bangsa khususnya kaum muda untuk menyadari bahwa problematika ini harus menjadi pekerjaan bersama yang secepatnya perlu segera dirampungkan.

Sebagai kesimpulan, penulis mengajak kepada seluruh hadirin pembaca untuk bersama-sama merawat ingatan kita dan menyadari bahwa salah satu proyek prioritas kebangsaan yang harus segera dituntaskan adalah kembali menggelorakan semangat dan jiwa sumpah pemuda dalam jiwa kaum muda sekarang. Masa depan bangsa ini terletak pada semangat serta kesadaran kaum muda. Dalam sejarah bangsa manapun di dunia, kaum muda tetap menduduki posisi penting pada setiap perubahan tatanan sosial. Yakinlah, bahwa arah dan perjuangan bangsa ini bergantung pada sikap kritis dari kaum muda! Perbaikan keadaan yang buruk tertumpu pada kaum muda. Sulit kita bayangkan bagaimana tragisnya bangsa ini jika kaum muda terpengaruh dan menuruti jejak keadaan bangsa yang kian memburuk. Tentu hal ini tak kita kehendaki. Kaum muda adalah harapan bangsa, sama dengan harapan di masa lalu, ketika sumpah pemuda dikumandangkan. Kini, bangsa kembali menagih janji dan sumpah kaum muda. Bergerak di barisan terdepan sebagai lokomotif dalam berbagai perubahan sosial yang dicitakan. Berjuang tanpa pamrih adalah merupakan tugas utama dari kaum muda demi tercapainya merdeka yang sejati. Hal ini penting karena kemerdekaan adalah merupakan perangkat mutlak untuk mencapai masyarakat yang madani.