Semua tulisan dari Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute.

Berikan Ruang pada Perasaan Anak

Jika Band Letto mengangankan Ruang Rindu, dan Tulus, seorang musisi terkenal, yang  menginginkan Ruang untuk bebas dan sendiri, pernahkah terlintas dalam pikiran untuk memberikan ruang pada perasaan anak? Bukan hanya ruang bermain, ruang belajar, atau ruang-ruang fisik lainnya. Karena semua fasilitas tersebut sudah lebih mudah ditemukan di rumah-rumah tinggal, sekolah, atau area publik lainnya. Kendati masih butuh banyak pembenahan dalam hal keamanan, kenyamanan, serta keselamatan mereka.

Anak-anak beserta dunianya yang penuh warna, tantangan pengasuhan, kepelikan menghadapi perilakunya, akan selamanya mendorong dan memaksa setiap orang dewasa di sekitarnya untuk terus siap siaga, belajar, berubah, dan bertumbuh. Tak sedikit yang kewalahan hingga berujung pada rasa frustrasi, namun banyak pula yang jatuh-bangun mau belajar segala hal yang terkait pengetahuan pengasuhan mereka. Walaupun mungkin lebih banyak jatuhnya daripada bangunnya. Tak jadi soal selama mereka bangkit kembali dan belajar memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lalu. read more

Parenting for Dad

Dalam banyak kesempatan saya sering memperhatikan baik secara sengaja maupun tidak, interaksi dan percakapan yang terjadi antara ayah dan anak, atau obrolan sebuah keluarga yang berada dalam jangkauan perhatian dan pendengaran saya. Sangat langka saya dapati percakapan sehat dan membangun di sana. Yang banyak terjadi, suara dan pendapat anak-anak disepelekan, ditertawai, bahkan dianggap angin lalu atau tidak pernah ada.

Mereka terkadang ditanyai tetapi jawabannya tidak didengarkan. Dimintai pendapat namun kerap tidak dihargai. Pertanyaan yang sifatnya basa-basi berseliweran dalam percakapan sehari-hari tetapi mereka hanya melayang dan berputar-putar saja sebatas plafon, lalu menguap entah ke mana. Masing-masing kembali sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Tak peduli orangtua tanyanya apa, anak-anak jawabnya apa. Sepanjang tidak timbul kegaduhan yang  berarti, maka semua akan dianggap baik-baik saja. read more

Ujian Nasional dan Pesan Munif Chatib

Bertahun-tahun lalu saat belum tersentuh oleh wacana sekelas Paulo Freire dan seri buku-buku Munif Chatib, seperti Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Kelasnya Manusia, Orangtuanya Manusia, dan judul-judul lainnya, kami memiliki sikap seperti pada umumnya orangtua lain yang cemas menghadapi Ujian Nasional setiap tahunnya.

Puluhan tahun terpasung dalam sistem pendidikan yang berfokus pengetahuan kognitif semata, yang menggiring anak-anak untuk berbondong-bondong ke sekolah, duduk patuh dengan tangan terlipat, mulut dikunci, lalu mendengarkan omongan bapak dan ibu guru. Di akhir penjelasan, anak-anak diminta untuk bertanya, namun saat pertanyaan dilontarkan murid, guru pun menyela tak sabar, “Soal apa lagi yang kamu tidak mengerti?” Anak pun tertunduk bingung menghadapi pertentangan yang terjadi di depan mata. read more

Pergulatan Kata-kata

Beberapa bulan berlalu saya mandek menulis. Entah kenapa. Yang saya percaya, bahwa memulai kembali sebuah kebiasaan ibarat mendaki gunung yang tinggi. Perjuangannya sungguh luar biasa. Makanya janganlah pernah merasa bangga ketika sudah melahirkan karya semisal buku atau sederet tulisan di sejumlah media. Karena bagi saya menulis itu mestilah menjadi sebuah kebiasaan. Seperti halnya ketika bangun pagi dan kita butuh ngopi atau sarapan. Terasa ada yang kurang jika dalam satu hari kita tidak melakukannya. Dalam permisalan minum kopi mungkin saja ada sinyal yang dikirim otak ke sistem tubuh yang mengakibatkan kepala jadi terasa sakit. Nah, dalam menulis, efek apa yang akan dirasakan jika berhenti melakukannya? Setiap orang akan menyodorkan jawaban yang bervariasi. read more

Menggeledah Buku Metamorfosis Ibu

Beberapa bulan lalu tepatnya 17 Agustus 2018 buku ini tiba di tangan kami. Betapa bahagianya bisa menimang-nimang kumpulan hasil karya sendiri. Sayangnya tidak segera bisa dibuatkan acara khusus sebagaimana umumnya karya penulis-penulis lain. Hal ini dikarenakan belum menyatunya waktu serta kesiapan personil-personil yang akan menyelenggarakan kegiatan tersebut. Launchingnya justru diadakan di sebuah pelosok desa kecil di pedalaman Bantaeng. Meskipun nyatanya bukan sebenar-benarnya peluncuran karena banyak hal yang tidak sesuai dengan yang seharusnya terjadi pada saat sebuah buku diluncurkan. read more

Peliknya Menjadi Anak (Tetesan Rasa Kemanusiaan di Hari Anak Indonesia)

Sedikit rasa kemanusiaan sungguh jauh lebih berharga daripada seluruh peraturan yang ada di dunia ini. ~ Jean Piaget

Sering kali muncul gugatan dan perasaan miris dalam hati, manakala menyaksikan lingkungan anak-anak yang sungguh memprihatinkan. Bukan soal materi semata melainkan pada bagaimana cara orang-orang dewasa berinteraksi dengan mereka. Bagaimana perlakuan orangtua terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Rasa kepemilikan seolah menjadi pembenar atas banyaknya perlakuan yang salah. read more

Teruslah Berjalan… (Refleksi Pada Suatu Hari Wisuda)

Pada suatu masa, rentang waktu 95-an, usiamu setahun kurang lebih, kami sang orangtua baru dengan penuh semangat mengajarimu berbagai macam keahlian. Mulai mengeja abjad, pada usia hitungan bulan, berbahasa dan bercakap-cakap dengan kalimat yang baku dan tertata kaidahnya. Hingga mengatur dan menjaga interaksi orang-orang dewasa di sekitarmu agar mengikuti aturan dan arahan dari kami. Agar tidak terjadi kesalahan perlakuan yang akibatnya bisa runyam di kemudian hari.

Orangtua manapun di dunia ini sudah pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Tak ada yang berniat buruk ingin mencelakakan ataupun menjerumuskan buah hati yang sangat disayanginya. Jika ternyata dalam praktiknya terjadi kesalahan, maka bisa dipastikan bukan itu niat mereka. Hanya karena ketidaktahuanlah yang menggiring mereka melakukan kesalahan. Mengapa tidak tahu? Karena tidak ada proses pencarian pengetahuan di dalamnya. Jika terus dirunut ke belakang, mengapa tidak belajar, boleh jadi seribu satu alasan akan mengemuka. Beberapa di antaranya, kurangnya waktu, semangat mencari ilmu sudah terhenti pada batas bangku akademik, dan lain-lain alasan yang mungkin akan panjang jika disebutkan. read more

Surat untuk Anakku

Di tengah malam seperti ini, hal yang paling Ibu suka adalah membaca sambil mendengarkan lamat-lamat musik dari radio. Buku setebal 150 halaman sanggup Ibu baca dalam suasan malam yang hening. Sesekali jika ada ide yang melintas, bergeraklah jari-jari ini menari di atas tombol-tombol huruf notebook. Walaupun hadirnya tak pernah bisa bertahan hingga hitungan jam. Karena bagaimanapun Ibu sekarang tak kuat lagi begadang hingga melewati batas kemampuan tubuh ini. Sehingga kendati semangat untuk menulis itu terkadang menderu-deru, namun pikiran dan tenaga harus pula Ibu siapkan untuk urusan lain keesokan harinya. read more

Maafkan Kami yang Telah Mengirimmu ke Sekolah

Suatu sore seorang kenalan baru bertandang ke toko dan melihat aktivitas yang saya lakukan. Mengajar anak usia SD pelajaran matematika, Bahasa Inggris, dan mengaji. Terlontarlah tanya dari mulutnya, “Anak-anak ta pastinya rangking semua ya di sekolah?”

“Oh, tidak juga. Mereka biasa-biasa saja prestasinya di kelas.”

Kami termasuk orangtua yang tidak mematok anak-anak harus menduduki peringkat tertentu. Karena bagi kami, sekolah bukanlah segalanya dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan, anak-anak berkelakar di rumah, kala ditanya oleh temannya, bahwa sekolah itu hanya sampingan saja. Pengisi waktu di sela-sela banyaknya kegiatan yang lain. read more

Ayah dalam Episode Kenangan

Oleh Bapak saya pernah diperdengarkan sebuah rekaman suara obrolan dua orang yang sedang bercakap-cakap. Suara laki-laki dewasa dan seorang anak perempuan kecil usia sekitar 3 tahunan yang terdengar ceriwis dan kritis. Saya bertanya ke Ibu itu rekaman suara siapa? Ternyata anak kecil dan orang dewasa dalam rekaman kaset tersebut adalah suara saya dan Bapak. Beliau rajin mengabadikan momen kanak-kanak kami dalam bentuk kaset rekaman.

Saya bisa membaca sebelum usia SD,  atas jerih payah Bapak. Saya pun sudah bisa melafazkan huruf-huruf Hijaiyah dengan baik dan jelas pada usia tersebut. Dalam bayang-bayang ingatan yang belum terlalu jelas saya sering ikut beliau ke masjid dan tinggal di sana beberapa waktu setiap selesai salat Magrib untuk mengajari mengaji beberapa anak-anak kecil. Saya duduk di samping Bapak menunggunya selesai mengajar. Sesekali saat murid-muridnya ada yang kesulitan melafazkan sebuah huruf, Bapak akan berbalik ke saya meminta saya untuk mencoba menyebutkannya dengan tepat. Sembari show of force saya pun  dengan bangga menyebutkannya. read more