Semua tulisan dari Muchniart AZ

Lahir 32 tahun silam. Punya seorang andalan bernama Za. Senang pinjam buku dan minum kopi hitam.

Marosso dan Kunang-Kunang yang Mati di Atas Kepalanya

Marosso, dia tidak pernah memilih lahir dari kandungan ibunya. Di sebuah subuh nan bisu, tatkala para tetua bersujud di Masjid, segerombol anak muda dalam pengaruh alkohol mengendap-endap masuk rumahnya. Mereka meniduri seorang gadis ranum beramai-ramai. Dari situlah asal muasal janin, Marosso terus tumbuh, lalu lahir meski telah coba digugurkan dengan urut dan ramuan obat-obatan tradisional, beberapa kali.

Telah banyak spekulasi perihal laki-laki yang berhak dipanggilnya ayah. Namun, spekulasi itu mengendap demikian saja. Bahkan para tetua kampung tidak berani mengadili biang kerok hadirnya Marosso, meski mereka tahu dalang pemerkosaan itu. Akhirnya, Marosso jebrol tanpa ayah. Inilah malapetaka kedua, setelah dia terpaksa tumbuh dalam rahim antah berantah, dan tak dikehendaki.

Baginya, dunia itu sederhana. Bangun cari makan jika pagi, main-main sejenak, berkeliling kompleks perumahan kalau-kalau ada yang bisa dipungut untuk dijual, tertidur di sembarang tempat, dan terbangun lagi jika perut keroncongan. Mandi, ganti baju, tidak masuk prioritas kesehariannya. Beginilah masa kecil, dia jalani. Perempuan yang ditumpangi peranakannya, tidak mau ambil pusing. Marosso, telah membunuh masa depannya. Dia telah dipinang seorang lelaki mapan sebelum peristiwa subuh itu menimpanya, kemudian batal tanpa kompromi. Begitu dia menarik simpulan.

Tetapi, marcapada masih memberi ruang bahagia untuk Marosso. Hidupnya terang, sewaktu dia bertemu dengan seorang nenek. Tempo hari, dia sungguh menikmati beberapa ekor belalang hasil kejarannya di lapangan sepakbola, lalu dibakar seadanya. Sembari mencabuti kulit-kulit belalang gosong, seorang nenek mendekatinya. Bola matanya mengawasi gerak Sang Nenek, meski mulutnya terus mengunyah serampangan. Alangkah senangnya dia, sewaktu nenek tersebut menyodorkan nasi kuning terbungkus daun pisang. Pagi itu sungguh luar biasa baginya.

Sekenyangnya, Sang Nenek mengajak Marosso tinggal di rumahnya, dengan iming-iming bisa makan, dan minum sepuasnya. Dia manut! Walhasil, dia tidak lagi berkeliling kompleks dan memakan belalang. Dia memilih membantu nenek menyapu jalanan kala subuh, dan memulung barang-barang bekas saat pagi. Hasilnya, dikumpul, dijual, dan dibagi sama rata.

Satu yang sangat membekas di ingatan Marosso selama tinggal bersama Sang Nenek. Ini tentang sebotol kunang-kunang sebagai hadiah untuknya, entah demi merayakan apa. Tatkala itu, Marosso barulah pulang, ketika Sang Nenek berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya. Tangan kanannya menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya, sementara satu tangannya lagi berusaha menangkap lengan Marosso. Merespon sikap perempuan renta itu, Marosso secara sukarela mengulurkan lengannya. Belum sempat tersentuh telapak nenek, semburat cahaya membuatnya terperangah. Sang Nenek, semisal peri tua dipenuhi kilauan. Dia bermandi kunang-kunang yang tanpa sengaja jatuh dari pengangannya demi meraih lengan Marosso, lalu berlomba-lomba keluar dari lubang mulut botol plastik ukuran besar. Tetiba, rumah kecil miliknya bersimbah terang. Untuk pertama kalinya Marosso terpukau terang, dan pertama kali pula dia merasai sakitnya kehilangan. Esok, di pagi yang berembun, perempuan berumur itu menghilang.

****

Kepulan asap kopi hitam melayang-layang di udara. Dia senang mengisi paginya menyeruput secangkir kopi, bersama sebatang kretek terapit jari tengah dan telunjuknya. Tidak banyak yang diharapkan dari hidup yang sekarang. Bersyukur, dia telah mampu mandiri, mengelolah warung kaki lima dengan beberapa pajangan kebutuhan sehari-hari itu lebih dari cukup. Pun berinteraksi dengan para sopir yang singgah menjerang kopi instan jualannya, sungguh membawa rezeki untuknya.

Sejak dikerumuni kunang-kunang, dia merasa hidupnya sangat berubah. Dia percaya, binatang kecil bercahaya itu membawa keberuntungan. Maka setiap malam, dia menyiapkan waktu khusus, duduk berlama-lama di rawa penuh belukar di belakang rumahnya. Jika pun udara sungguhlah dingin, dia tidak akan meninggalkan kebiasaannya ini. Dia sangat menikmati kemunculan salah satu hewan keluarga kumbang bersayap tersebut, satu persatu dari rimbun pohon di sekeliling rawa. Semakin larut, akan semakin bertambah banyak, jika sudah demikian, bersamaan dengan riuh berhimpunnya kunang-kunang, Sang Nenek ada di sana.

Maka, Marosso pun akan berkeluh kesah pada perempuan tua itu. Kadang, percakapan berlanjut sangat lama dan alot, apatah lagi jika membicarakan tentang hidup yang diperjuangkan Marosso. Meski perjumpaan mereka memakan waktu lama, dia sama sekali tidak pernah menanyakan perihal perginya Sang Nenek. Kunang-kunang telah membawanya kembali.

Dalam perjumpaan itu pula, Sang Nenek kadang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap Marosso karena masih menjalani hidup sendirian, padahal usianya telah layak menikah. Jika wanita berumur itu menanyakan perihal ini, Marosso menanggapi seadanya saja. “Pastilah akan tiba saatnya nanti, mungkin saja ketika kunang-kunang sedang ramai-ramainya beranak pinak.” Selorohnya.

Bukan hanya nenek, kadang ini juga menjadi pertanyaan para sopir yang beristirahat di warungnya. “Bukankah Si Dara sangat suka mengunjungimu? Sepertinya dia menyukaimu!” Kalimat-kalimat ini seperti hujan, menguyur Marosso.

Sebenarnya, perkara meminang gadis menjadi istrinya mudah saja. Penghasilan dari warung kecilnya, terbilang cukup menafkahi keluarganya kelak. Dan inilah yang menjadi alasan para sopir tersebut menjadikan Marosso bulan-bulanan setiap hari. Tetapi, dalam pikiran Marosso, tidak pernah terbesit perihal hidup bersama perempuan muda dalam rumahnya. Dia selalu ketakutan jika memikirkan ini. Sejak kecil, seorang gadis ranum membuangnya. Untuk apa dia memelihara gadis lagi, yang akan mencampakkannya sebagaimana dulu? Pada sebagian ruang ingatannya, hanya tersimpan memori ihwal pertolongan perempuan berumur yang melebur bersama kunang-kunang di suatu malam. Selebihnya lagi, bekas-bekas tangisan ketika dia merengek air susu ibu tapi tidak didapatkannya.

Didera ketakutan mengigilkan, kadang Marosso memimpikan menjadi kunang-kunang saja. Ada Sang Nenek yang bisa membantunya. Sampai-sampai suatu malam, sebagaimana gelap yang selalu ditempuhinya, dia mengumpulkan banyak kunang-kunang dalam botol plastik berukuran besar. Ini sengaja dilakukannya, agar dia menghilang seperti Sang Nenek. Botol plastik tersebut dipeluknya sampai pagi, tetapi dia tidak juga menjadi kunang-kunang. Tidak berputus asa, dia melakukannya berulang-ulang. Telah banyak kunang-kunang dibuat mati kehabisan oksigen. Namun dia tetap berhasrat jadi kunang-kunang.

Malam ini, dia berharap menjadi malam terakhirnya. Dia berjalan menuruni anak tangga rumahnya yang tak seberapa. Mengeratkan balutan jaket menghalau beku. Seperti biasa, dia duduk menunggui kunang-kunang satu-satu berkilau di rimbun belukar. Menanti pula Sang Nenek, hadir di situ. Seekor kunang-kunang mengintip, pelan-pelan mendekat,  terbang ke atas kepalanya. Selanjutnya bayangan Sang Nenek berkelebat. Marosso riang. Dia sungguh lama merindukan Sang Nenek, sejak ratusan kunang-kunang dibunuhnya.

“Kau masih menunggunya? Kau bodoh! Coba hitung berapa banyak binatang ini telah kau buat mati? Untung saja tersisa sedikit jantan membuahi betinanya, hingga masih ada yang ingin menemuimu. Mereka juga punya hasrat. Punya cara mempertahankan diri untuk hidup. Punya soalan hidup sendiri-sendiri! Menjadi seperti mereka, apa yang kau harapkan?” Rentetan kalimat Sang Nenek serupa peluru melesat cepat tanpa memberi kesempatan Marosso mengelak, apalagi bertanya.

Hening! Apalah daya, seekor kunang-kunang yang tadi bermain-main di atas kepala Marosso, mendadak mati. Jatuh tepat mengenai ubun-ubunnya. Pelan-pelan, kepalanya ditumbuhi antena, tubuhnya bersayap, dan bercahaya. Dia telah menjadi kunang-kunang!

 

Makassar, Sabtu dini hari/ 26 Januari 2018

Cermin

Pertama sekali dia memiliki cermin saat menginjak kelas lima sekolah dasar. Ibunya yang membelikan kala itu, sebab dia mesti membawa sebingkai cermin kecil ke tempat mengajinya. Oleh guru mengajinya, cermin tersebut akan digunakan anak- anak belajar makhorijul huruf. Maka itu, setiap anak ditugaskan membawa sebuah cermin. Dan inilah hal yang paling menyenangkan bagi Sengka selama hampir sebulan mengikuti kelas mengaji setiap sore di masjid dekat rumahnya.

Alasannya, sederhana. Dia senang dengan cermin. Sejak kecil orang-orang malah menggelarinya dengan nama La gaya, disebabkan kesenangannya bercermin. Kadang-kadang pula cermin baginya selaku televisi, tempat dia melihat sendiri cerminan dirinya dengan bibir monyong, ataukah bernyanyi sambil berjoget-joget. Malahan pernah, dia dianggap aneh oleh para tetangganya, kala ulang tahun kelimanya dan dia dihadiahi mobil-mobilan oleh seorang temannya. Tetapi mobil mainan tersebut dibuang, lalu dia berlari menangis sejadi-jadinya di depan cermin, dan setelahnya tertawa-tawa sendiri. Sayangnya, cermin tersebut bukan miliknya, melainkan milik ibunya dan karenanya waktu menggunakan sungguhlah terbatas. Sengka tak mengecap merdeka jika demikian.

Lantaran merasa telah memiliki sebuah cermin sendiri, sore itu Sengka sungguhlah bahagia. Sebelum berangkat ke masjid, dia telah mencoba beberapa adegan di depan cermin. Semisal meniru gaya ceramah guru mengajinya, pun mengembang kempiskan hidung serupa kucing mengendus bau ikan asin. Dan sesampai di masjid, dialah yang paling bersemangat unjuk jari belajar penyebutan huruf-huruf hijaiyah. Semua teman-temannya kaget melihat Sengka hari itu. Bahkan guru mengajinya pun terperangah. Ini rekor terbaru Sengka, setelah beberapa kali menjadi tulang punggung keonaran di kelas mengajinya. Tetapi, tak satu pun di antara mereka yang mampu menebak, semua itu karena cermin yang telah dimilikinya.

Semenjak itu, kesukaannya terhadap cermin memuncak lagi. Menginjak remaja, koleksi cermin Sengka semakin banyak. Uang jajan yang diberikan ibunya setiap hari dia kumpulkan untuk ditukar sebingkai cermin. Walhasil, di kamarnya cermin tergantung di semua dinding. Bahkan sebagian telah disangkutkan pada tembok di ruang tamu rumahnya. Jika ditanya, untuk apa? “Untuk bercermin!” Inilah jawaban satu-satunya.

Ada sebuah cermin besar yang tergantung di tengah-tengah dinding kamarnya. Disitulah akhir-akhir ini dia memaku diri. Apalagi sejak dia dipercayakan oleh guru mengajinya mendampingi beberapa orang anak belajar mengaji. Maka, sebelum ke masjid, dia akan berdiri berlama-lama di depan cermin, dan membisikkan entah apa padanya. Sepulang dari masjid pun dia akan seperti itu lagi. Berdiri, mematung, dan membisikkan entah apa.

Memerhatikan ini, ibunya Sengka mulai khawatir. Ditambah lagi omongan orang-orang di sekitar, bahwa kebiasaan Sengka itu tidaklah wajar. Menanggapi semua itu, Sengka pantanglah surut semangatnya. Koleksi cerminnya tambahlah banyak, dan kebiasaannya berlama-lama di depan cermin juga semakin menukik. Belakangan, malahan dia mengikuti kebiasaan guru mengajinya dahulu menyuruh anak-anak menyebutkan huruf-huruf hijaiyah di depan cermin. Anak-anak riang tertawa, memerhatikan gerak bibir mereka saat melafadzkan beberapa huruf. Bahkan ada yang tak sempat lagi melanjutkan pelajarannya karena tak bisa menahan tawa setiap kali menaruh cermin sejengkal dari wajahnya. Tetapi Sengka tidak pernah marah menyikapi anak-anak tersebut. Dia selalu ingat pesan guru mengajinya kala itu, bahwa Islam itu agama kelembutan, dia harus diajarkan dengan ramah. Bukan dengan amarah. Karena inilah, Sengka bercita-cita juga menjadi guru mengaji.

Cermin-cermin anak-anak yang sudah lulus pelajaran makhorijul huruf akan diminta oleh Sengka, sebagai kenang-kenangan, atau lebih tepatnya untuk menambah koleksi cerminnya. Itulah sebabnya, cermin-cermin Sengka sudah meruah ke dapur dan ruang tamu. Bahkan sebagian lagi telah dipotong kecil-kecil sebagai gantungan anak kunci di setiap pintu rumahnya. Jika ada yang bertamu ke rumah Sengka, dan ada yang menanyainya perihal cermin-cermin tersebut, jawabannya pasti sama, “Untuk bercermin!”

***

Kini, sepenuhnya Sengka telah menjadi guru mengaji bagi anak-anak di masjid dekat rumahnya. Guru yang mengajar Sengka, pamit ke kota karena sebuah urusan penting, alasannya. Demi memakmurkan masjid dengan kalimat-kalimat Ilahi sebagaimana pesan gurunya, Sengka takzim pada serah terima jabatan tersebut. Meski senantiasa dianggap aneh karena cermin-cermin di rumahnya, orang-orang juga tidak meragukan kefasihan Sengka merunut kalimat-kalimat Tuhan. Anak-anak setiap hari akan berdatangan dengan cermin-cermin di tangan, dan selang beberapa minggu, mereka dengan riang telah menguasai pelajaran yang menggunakan cermin sejengkal dari wajah. Pelan-pelan, orang-orang tak lagi mempersoalkan kebiasaan Sengka pada cermin-cermin.

Cita-cita Sengka menjadi guru mengaji telah terkabul, dan hari ini, dia menurunkan cermin besar yang tersampir di dinding kamarnya. Ini adalah keanehan lain bagi ibunya. Sebab di cermin itulah sering kali, Sengka menandaskan waktunya sebelum ke masjid. Sengka menatap cermin itu lekat-lekat, kemudian membersihkan bingkai dan kacanya sampai bening. Lalu satu persatu cermin di kamarnya dipunguti, pun yang tergantung di dapur beserta ruang tamu. Semua disatukan dengan cermin besar. Gantungan anak-anak kunci yang masih bergoyang menggelayut di lubang kunci, dicabutinya satu-satu, dimasukkan dalam plastik kecil, lantas di satukan juga dengan cermin besar.

Mengamati pola laku Sengka, ibunya diam dan gantian mematung di depan cermin besar yang sudah dikepung cermin-cermin kecil. Sengka masih terus menjelajahi setiap sudut-sudut rumahnya, kalau-kalau masih ada cermin yang tersisa. Meski disibukkan mencari cermin-cermin, ujung mata Sengka sempat menangkap sorot mata penuh tanya ibunya dalam pantulan cermin besar. Di sana ibunya masih tarus membatu dengan mulut terkatup.

“Untuk bercermin!!!” Demikianlah Sengka menangkupkan sorot mata penuh tanya ibunya.

“Siapa yang akan bercermin?” Ibunya menimpali

“Entahlah, tetapi seseorang sedang berulang tahun hari ini, dan saya rasa dia butuh cermin!”

Selanjutnya senyap, Sengka pun ibunya sama-sama bungkam.

 ***

Sengka menumpangi sebuah bus menuju ke kota. Sambil memangku bungkusan besar berisi cermin-cermin, matanya tertuju pada sebuah LCD 14 inci yang menggantung di bus tersebut. Berita utamanya hari ini sebagaimana yang kemarin-kemarin, perang politik di ibukota yang tak kunjung surut. Telah terpilih seseorang dengan persentase terbanyak, dan itu menyulut pertempuran semakin apik. Sebenarnya dia telah bosan dengan hal-hal yang seperti itu. Sebagai guru mengaji, dia merasa tertekan lantaran beberapa oknum telah mengikut-ikutkan huruf-huruf yang dipelajarinya dengan cara mendekatkan mulut sejengkal dari cermin dalam pertikaian politik. Ini tak sehat menurutnya. Tetapi apalah daya Sengka, selain bergeming di depan cermin besar, membisikkan entah apa.

Bus tersebut serasa sesak, dan Sengka sungguh segera ingin sampai. Cermin-cermin di pangkuannya seakan-akan semakin berat menindih pahanya. Suara dan gambar-gambar di kotak datar tersebut menumpuki gendang telinga dan batok kepalanya. Beruntunglah, tak berapa lama, bus yang ditumpanginya singgah di sebuah masjid karena seorang penumpang ingin buang air kecil. Sengka memanfaatkan kesempatan tersebut berangin-angin sejenak. Dia hendak menuju kran air tempat jamaah masjid mengambil air wudhu untuk cuci muka ketika telinganya menangkap suara yang tak asing lagi. Sengka membelokkan kakinya memasuki masjid, dan suara itu semakin dekat terdengar, di pintu masjid, jelas dia melihat guru mengajinya.

Sang guru sedang duduk dilingkari banyak orang. Dia dengan berapi-api memaki-maki seseorang dalam arena politik ibukota sebagaimana yang dilihat Sengka di atas bus tadi. Sengka dengan tergesa-gesa, kembali ke dalam bus, mengambil bungkusan berisi cermin-cermin, lalu berlari dengan cepat memasuki masjid. Di hadapan banyak orang yang duduk melingkar, dia memberikan cermin-cermin tersebut pada guru mengajinya, “Inilah sekadarnya yang bisa saya berikan di hari lahirmu!” Tukasnya, kemudian berlalu meninggalkan guru dan jamaahnya yang duduk melingkar, bisu.

Berkelindan di benaknya, tentang seorang guru yang senantiasa mengajarnya dengan tekun. Dan selalu berkata tentang agama yang lembut dan nabinya yang penuh kasih sayang. Kemudian bertukar dengan adegan seorang guru mengaji yang izin ke kota karena suatu hal, lalu mengomandoi sebuah gerakan kebencian, sungguh jauh dari cinta dan kasih sayang.

 

Makassar, 24 Februari 2017

Ilustrasi: http://barrin84.deviantart.com/art/Cracked-Mirror-bad-luck-23908956

Nenek Pakamekame

Anak-anak senang menjadikannya guyonan. Jika sedang melintas, mereka berlari kecil-kecil, mengekor pada bayangan perempuan ini, sambil serempak bersorak-sorak, “Torroko-torroko na kandeko batitong!![1]!” Sebagian lagi akan berkata, “Minggirko, lewatki nenek pakamekame, na curiko nanti[2].

Sementara perempuan yang diteriaki sedemikian rupa, melenggang saja. Tak hirau pada keusilan anak-anak tersebut. Baginya, itu tak lebih dari angin lalu. Dia telah terbiasa digempur cibiran. Makanya, dia memilih membangun rumah kecil pada sepetak tanah di pinggiran sungai, untuk menghindari kebisingan orang-orang yang panjang lidah, demikian dia memberi istilah. Walau begitu, masih ada saja yang sengaja datang membuang masalah. Semisal, para perempuan yang sahaja lewat, lalu melempar gunjingan bahwa salah satu di antaranya melihat seorang laki-laki keluar masuk di rumah itu, dengan suara keras dan cekikan mesum. Atau, para lekaki yang berkelakar saat melewati daun pintu rumahnya, bahwa kalau pun digaji mereka takkan pernah sudi dilamar oleh perempuan itu.

Pernah suatu ketika, penduduk kampung mendatangi rumahnya. Seorang ibu menghimpun massa tersebut demi anak laki-lakinya yang pamit bermain kelereng, namun hingga matahari tenggelam belum jua pulang. Secara sepihak, ibu itu menuduhnya telah menyembunyikan anak laki-lakinya, dan diaminkan oleh seorang saksi yang melihatnya bermain di tepi sungai. Gerombolan massa, mengepung rumahnya. Di tengahi Pak RT, selaku orang yang dituakan di kampung tersebut, dia menyilakan perwakilan massa memeriksa seluruh sudut rumahnya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Setelah hampir sejam, massa akhirnya menyerah, dan berinisiatif pulang satu-satu. Tetapi tanpa diduga-duga, anak itu ditemukan meringkuk dalam tempayan berukuran besar, di dekat pintu belakang rumah tersebut, oleh seorang warga yang masih tinggal memeriksa beberapa tempat.

Sontak, warga yang awalnya berniat pulang, kembali berkerumun. Mereka meminta Pak RT mengusir perempuan ini dari kampung, sebab terbukti telah menculik seorang anak. Meski perempuan tadi membela diri, bahwa dia tak tahu tentang keberadaan anak itu, yang tiba-tiba saja di dalam gentong miliknya, Ibu yang merasa anaknya telah diculik, tak terima. Dia meminta Pak RT mengambil keputusan sebagaimana kehendak warga, sebelum mereka main hakim sendiri. Pak RT, lalu menyarankan perempuan tersebut untuk meninggalkan kampung sampai dia mampu membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, barulah boleh kembali lagi.

Warga merasa, keputusan Pak RT adil. Kerubungan, mengecil. Pulang ke rumah masing-masing satu persatu, kecuali ibu tadi. Sambil mengelus-elus kepala anaknya, dia menatap tajam pada Margina, perempuan yang telah dituduh melarikan anaknya. Ada sebilah pisau, dan sebuah kesumat menari-nari di matanya.

***

Dia tak pernah meminta terlahir dengan bulu mata lentik. Dia juga selalu mengelak, jika ada yang memujinya cantik. Baginya, hidup tak akan selesai dengan paras jelita saja. Pernah, dulu sekali, saat masih tekun beribadah, dia memohon agar keelokan yang dimilikinya, ditukar saja dengan kekayaan. Namun kemudian dia menyadari bahwa itu adalah permintaan konyol. Sebab meski beberapa kali mengulang permohonan yang sama, hasilnya tetap nihil. Untuk menjadi kaya, dia haruslah bertahan menekuni segala jenis pekerjaan yang mengutamakan syarat, berpenampilan menarik.

Dia juga sebenarnya kurang mengerti perihal syarat tersebut yang sepertinya wajib pada setiap pekerjaan yang dilamarnya. Malahan lebih wajib dari hanya sekadar ijazah Sekolah Menengah Pertama yang dibawanya. Dan secara cepat dia menyadari, syarat tersebut tak pernah membuatnya kesulitan memperoleh pekerjaan. Sejak awal dia terlahir menawan, dan di kota besar tempatnya mencari kerja, dia belajar bahwa keayuannya adalah sebuah modal.

Belum setengah tahun dia berprofesi sebagai seorang pramuniaga sebuah toko pakaian, dia merasa di atas angin. Berkat bekerja di tempat itu, dia menjadi akrab pada salah seorang pelanggan utamanya. Sepertinya, tidak hanya sekadar akrab saja. Tersiar kabar, mereka telah pacaran. Dan itu membuat iri pramuniaga yang lain. Tetapi suka cita yang dirasa, tidak bertahan lama. Ciko, si pelanggan utama, ternyata adalah seorang lelaki hidung belang. Darinya, Margina merasa, kecantikan yang dimilikinya semisal tanah liat yang teronggok. Tak memiliki harga, dan telah mati oleh kepasrahannya di suatu malam.

Orang-orang di toko tempatnya bekerja dengan cepat mengetahui apa yang terjadi pada Margina. Ada yang bersedih, tetapi banyak juga yang tersenyum penuh kemenangan. Yang bersedih, tentunya Si Manager toko karena akan kehilangan pramuniaga yang kecantikannya telah banyak mendatangkan pembeli. Dan yang bahagia, pastilah para wanita pramuniaga lainnya yang telah dibuat sakit hati oleh Margina.

Inilah kali pertama, Margina melatih telinganya untuk abai pada perkataan orang. Hidup di atas opini orang lain, baginya tak nyaman. Dia ingin melanjutkan hidup dengan caranya sendiri. Meski penat, dia memutuskan mukim di kota saja, sebab di kampung tak ada sesiapa yang bisa dijadikan sandaran. Dia luntang-lantung sejak beranjak remaja. Kedua orangtuanya merantau ke negeri Jiran saat Margina masih di tahun pertama, sekolah menengah pertama. Orang tuanya, menitipkan Margina pada seorang kerabat, untuk beberapa waktu dan berjanji akan menjemputnya, tak lama. Namun, telah terbilang tahun, orangtua Margina tak memberi kabar, dan tak kunjung datang. Maka setamat sekolah menengah pertama, Si Bapak asuhnya, hendak menikahi Margina saja. Dia telah setahun menduda. Terang saja, ini tak diterima Margina, ada setumpuk cita-cita telah disusun runut di benaknya yang hendak ditunaikan satu-satu. Hingga bermufakatlah dia dengan hatinya untuk pergi ke kota.

Bermodal wajah rupawan itu, Margina melakoni banyak peran. Selepas pramuniaga, dia pernah menjadi simpanan seorang pesohor. Darinya Margina belajar, bahwa di sisi seorang pesohor, perempuan semisal dirinya haruslah terus bertopeng, meski ditimbun banyak uang dan barang-barang mewah. Jika topeng itu sekali saja dilepas, perempuan tak ubahnya sisa-sisa makanan dari restoran siap saji yang membusuk dan dikerumuni lalat di tempat sampah. Saat usianya memasuki dewasa, sempat juga dia menjadi istri muda seorang pengusaha. Tetapi lagi-lagi dia berguru, dirinya tak lain hanyalah sebuah kantong kresek tempat hal-hal yang kurang berkenan ditampung. Setiap kali lelakinya datang, ada banyak masalah yang diturutkan bersamanya. Dan malam mereka akan dihabiskan dengan segudang curhatan lelakinya perihal kebisingan rumah tangganya.

Lalu, dia memutuskan sendiri saja, tidak memiliki dan dimiliki siapa-siapa. Tetapi pilihan itu tidak membuatnya anteng. Ada banyak lelaki tua, dan muda yang menginginkannya. Setiap kali keluar rumah kontrakan, ada yang ikut berjalan di belakangnya. Bahkan sering kali para lelaki menggodanya terang-terangan saat dia lewat. Sampai-sampai, seorang tetangga dekat rumahnya bersiasat mendatanginya di suatu sore yang redup, mendekapnya, dan memerkosanya, dan menyekap Margina di rumah sendiri.

Margina menangis sejadi-jadinya untuk hal ini. Dia mengutuk lelaki yang telah membuatnya lebih rendah dari apa pun. Sendiri menerawang langit-langit rumah, hati kecilnya merindukan kampung, dan rumah panggung tempatnya dahulu berleha-leha di sisi bingkai jendela, melihat para petani pulang berkebun dengan setandan pisang mengkal di pundak. Setitik bulir bening, menepi di sudut matanya. Dia akhirnya berjanji, ingin pulang ke kampung jika masih ada kesempatan baginya melepaskan diri. Kemudian itu terkabul, tepat saat lelaki yang menyekapnya lalai membiarkan Margina terkulai, selepas dia membuang hasrat lagi.

***

Margina tak seranum dahulu. Dia tak muda lagi, namun guratan pesonanya tidaklah memudar. Di kampung, dia menjadi bahan pembicaraan para lelaki. Banyak para istri yang dibuat cemas oleh kedatangannya gara-gara para suami mulai membanding-bandingkan Margina dengan mereka. “Belajarlah dari Margina, telah berumur tapi pandai merawat diri.” Demikianlah saran para suami.

Perempuan muda juga merasa terancam. Kekasih mereka, mulai menyebut-nyebut nama Margina.“Kau masih muda, seharusnya kau lebih memikat dari Margina!” Inilah semisal kata-kata yang harus mereka telan

Baik perempuan tua dan muda menyebut Margina, nenek pakamekame. Mereka harus berhati-hati, sebab dia sewaktu-waktu dapat menculik para suami, dan kekasih mereka yang telah tersihir oleh Margina. Anak laki-laki juga dibuat waspada oleh ibu mereka, karena Margina tak segan-segan menjadikan anak laki-laki sebagai incaran.

Bapak asuh, Margina merupakan orang yang paling bahagia mendengar kabar kepulangan Margina. Meski telah memperoleh seorang istri, tetapi dia masih menyimpan keinginannya memiliki Margina. Dia hendak menjadikan Margina istri berikutnya. Dan ini terdengar oleh Jaiyang, perempuan yang dulu menggantikan posisi Margina, dan telah memberinya dua anak perempuan, dan satu anak laki-laki.

Dia merasa Margina adalah meriam waktu yang akan meledakkan rumah tangganya. Dan dia tidak menghendaki itu terjadi. Maka, di suatu kesempatan diutuslah anak lelakinya, bermain di sekitar tepi sungai. Dan jika matahari telah tenggelam, dia memerintahkan anak lelakinya bersembunyi dalam tempayan. Lalu muncullah seorang lelaki yang juga adalah saudara sepupunya, menemukan anak tersebut. Maka sempurnalah alasan mengusir Margina, menjauh dari kampung itu, karena dia seorang nenek pakamekame.

Makassar, 19 November 2016

Sumber gambar: http://dok-alexa.deviantart.com/art/Grandmother-Spider-201399749

Catatan Kaki:

[1] Sebuah peringatan dari bahasa duri, suku Masenrempulu, jika tinggal akan dimakan parakang/ setan

[2] Menjauhlah, karena nenek pakamekame akan lewat dan menculikmu

Lajana Taruttu

Seekor kelabang menggelitik punggungnya. Lima jarinya meraba, ternyata bukan hanya satu. Ada dua. Tidak, ada tiga, empat, dan serasa punggungnya dipenuhi kelabang. Serentak, binatang berkaki berjibun ini menyuntikkan bisanya di punggung Lajana, menyisakan jerit yang lebih serupa lolongan, dan lebam-lebam biru kehitaman di seluruh punggungnya. Nyeri yang melanda, membuatnya bermandi keringat. Dia meringis sejadi-jadinya, dan meronta menghalau sakit. Saking berisiknya, seorang perempuan tua, tergopoh-gopoh menghampiri, dengan setangkup air di tangan, lalu memercikkan air tersebut ke wajahnya. Dia tersadar, untung hanya sebuah mimpi.

Ini mimpi yang kedua dengan alur cerita yang sama. Dia telah diperingatkan oleh perempuan tua tadi perihal amanat yang diselip kosmos pada mimpinya. Bahwa, kehadiran binatang ini adalah petanda buruk. Biasanya orang mengirimkan tenung melalui satwa ini. Bagi Lajana, tenung, guna-guna, santet, dan semacamnya tak perlu dirisaukan. Toh, dia bisa menyewa dukun sakti untuk merapalkan mantra-mantra pemagar diri. Jadi, urusan kelabang, dia menganggapnya sebatas bunga-bunga tidur saja. Perempuan tua yang telah bekerja di rumahnya puluhan tahun ini, hanya bisa urut dada, dan geleng-geleng kepala dengan sikap keras kepala majikannya.

***

Renjisan air meniti dari sebatang bambu besar yang dibelah dua, mengetuk bebatuan di bawahnya. Dia tidak suka pemandangan ini, apalagi jika renjisan itu mengenai bajunya. Sejak kecil, ayahnya sering mengajak Lajana keliling persawahan miliknya, tempat banyak ditemui pancuran bambu untuk membersihkan diri para petani selepas bekerja. Di kampung tersebut, ayahnya memiliki seperdua dari seluruh sawah yang ada. Karenanya, keluarga mereka hidup berkecukupan. Orang-orang menghormati Pak Talling, ayah Lajana sebab meski hidup berkecukupan, dia terkenal rendah hati. Kerap kali dia menggelar kenduri besar-besaran di rumahnya saat musim panen tiba, lalu mengundang penduduk kampung menikmati hidangannya. Dia senang menyemai bibit-bibit padi yang hijau serupa juluran jarum, apalagi jika itu dilakukan bersama-sama penduduk kampung. Tak sengan-segan celananya dibiarkan berbalut lumpur, dan tangan blepotan. “Bagi petani, lumpur adalah tintanya cangkul,” prinsipnya.

Berbeda dengan Lajana, dia tidak suka lumpur, meski ayahnya berusaha membiasakan dirinya berbetah-betah di sawah sejak kecil. Baginya, lumpur semisal isyarat kerendahan. Dia tidak ingin demikian, mengingat harta kekayaan keluarganya yang melimpah. Mengurus sawah, menurutnya adalah urusan para petani yang bisa diupah dengan hasil panen. Dia memosisikan ayahnya sebagai juragan, meski ayahnya tak pernah sepakat dengan ini, dan Lajana selalu dongkol dibuatnya.

Apatah sekarang di usia remaja, dia enggan mengikuti ajakan ayahnya lagi. Tetapi Pak Talling mahfum, Lajana setiap harinya sekolah, lelah, dan banyak pekerjaan rumah, ampuh menjadi alasan utamanya. Ini diterima Pak Talling, dia berharap kelak Lajana lulus menjadi seorang sarjana pertanian. Akan lebih bagus menurut Pak Talling, jika sawah-sawahnya dikelolah oleh ahlinya. Dia juga berharap, Lajana menjadi guru bagi para petani membiakkan padi-padinya lebih unggul.

Olehnya itu, setiap panen, Pak Talling selalu menyisihkan sebagian besar hasil penjualan gabahnya sebagai tabungan pendidikan Lajana. Dia juga rutin menitipkan uang entah berapa dalam amplop putih yang bertuliskan, “Semoga pahalanya membahagiakan, Salmah, Istriku”, pada imam masjid dekat rumahnya. Tanpa sepengetahuan Lajana, Pak Talling pun telah menulis wasiat perihal sawah-sawah yang dimilikinya. Meski Lajana merupakan anak tunggal, dia duduk berlama-lama di depan surat wasiatnya. Menandakan ada banyak nama yang diurut.

***

Dia mematung di hadapan lembaran-lembaran wasiat. Walaupun telah berkumpul orang-orang yang namanya tertera dalam surat wasiat itu, mulutnya masih kaku, dan matanya menancap pada kertas-kertas tadi. Ayahnya memang tersiar dermawan, tetapi dia sama sekali tak menduga kedermawanan ayahnya, sukses tak menjadikannya pewaris tunggal. Sebelum meninggal, ayahya membagi-bagikan separuh sawahnya ke penduduk kampung yang pernah bekerja padanya. Dan untuk ini, Pak Talling kembali ditimbun pujian. Sisanya, bagian Lajana, dan untuk sedekah almarhumah, ibunya. Rumah, tetap milik Lajana, dengan syarat perempuan tua yang telah bekerja di sana sebelum dia lahir tetap bersamanya. Pada tabungan pendidikan, ayahnya berwasiat agar perempuan tua tersebut yang mengelolahnya.

Demi uang tabungan, dan rumah, serta sisa sawah yang dimilikinya, kesal dan kecewa Lajana sedikit terobati. Beberapa hari sepeninggalan ayahnya, dia meminta tabungannya pada Perempuan Tua, dengan kilah untuk modal usaha. Rencananya dia hendak membuka usaha bengkel di pekarangan rumah. Awalnya, perempuan tua ini tidak sepakat, sebab itu dana sekolah. Dia juga ragu pada kesanggupan Lajana membagi waktu antara sekolah dan usahanya. Tetapi Lajana meyakinkan, semuanya akan baik-baik saja. Dan perempuan tua itu pun menyerah.

Tak lama, mesin pengisi angin telah didatangkan. Tetapi hari berikut dan selamanya tak ada tambahan peralatan lagi. Malah mesin tersebut mulai berkarat. “Itu bukan urusanmu!” hardiknya, jika Perempuan Tua menanyakan perihal uang dan rencana bengkel padanya. Jika sudah demikian, dia memilih kembali ke dapur, duduk diam!

Sarjana pertanian yang diharapkan ayahnya, juga dipatahkan Lajana. Jauh hari sebelum ayahnya meninggal, dia sudah meninggalkan sekolah. Meski ini tak diketahui Pak Talling, sebab setiap hari Lajana akan selalu pamit dengan seragam putih abu-abunya. Namun itu hanya kedok belaka, di pertegahan jalan, seragam itu akan berganti kaos oblong dan celana jeans setengah lutut, dan melajulah dia dengan Kawasakinya ke kota. Di sana, beberapa orang telah menantinya menghirup kemewahan kota. Ini dilakukanya setiap hari

***

Tersisa rumah dan sedikit sawah, Lajana merasa terancam gembel. Maka dia pun memutar otak. Dia membuka kembali lembar-lembar wasiat, merunut satu-satu nama penduduk yang mewarisi sawah ayahnya, lalu mulai memanggil mereka bergiliran. Perihal pemanggilan itu adalah untuk menandatangani surat perjanjian penyewaan tanah. Rencananya, dia akan menjadi tuan tanah yang menyewakan sawah-sawah yang sebenarnya sudah berpindah tangan tersebut. Tentu saja, para penduduk tak sepakat, dan enggan meninggalkan tanda tangannya, namun Lajana telah mengantisipasi ini. Ada tiga puluh orang teman-temannya dari kota dia datangkan. Mereka semua berbaju hitam, dan berbadan kekar. Setiap hari, mereka ditugaskan wara-wiri di persawahan penduduk. Dan jika malam, mereka mabuk-mabukan, lalu merusak rumah penduduk yang masuk dalam catatan Lajana. Mereka membuat kampung kacau, dan menegangkan sebab tak segan-segan mereka memukuli penduduk. Pernah ada seorang penduduk yang melaporkan ini pada aparat, namun kampung hanya sanggup damai semalam. Malah, esoknya, penduduk tersebut kehilangan bulir-bulir padi yang siap panen. Batang-batang padinya patah, dengan kondisi sawah yang lebih para dari arena pacuan kuda.

Pernah pula, ada penduduk yang mengadu ke imam masjid, tempat ayah Lajana menitipkan sedekah. Kemudian imam masjid tersebut menasehati Lajana. Tetapi dia dan teman-teman kotanya hanya mampu saleh seminggu. Itu pun, untuk mencari jalan balas dendam pada imam masjid yang dianggap telah mengusik jalannya. Akhirnya, Si Imam Masjid memutuskan pindah setelah malu oleh cerita miring karangan Lajana, bahwa dia mencabuli salah satu santri Taman Pendidikan Qurannya, dan Si Santri mengakui itu oleh tumpukan uang yang disodorkan.

Merasa tak sanggup berduet dengan Lajana, penduduk kampung melunak. Mereka menandatangani surat perjanjian penyewaan tanah. Merasa menang, Lajana senang. Maka setiap yang bertandatangan, berbalas amplop putih yang berisi entah berapa. Meski telah nyaman, Lajana tak membiarkan orang-orang kota yang diundangnya dahulu, pulang. Dia menawari mereka bercocok tanam sayuran berdaun lima ruas jari. Tentu saja mereka senang. “Jika ada penduduk yang tak membayar uang sewa tepat waktu, maka sawah merekalah incaran ladang sayurnya!” tegas Lajana.

Perihal ini, tatapan perempuan inangnya yang semakin beruban, menyorot tajam ke wajah Lajana. Dia merasa Lajana, menggali kuburan sedikit-sedikit untuk ditidurinya. Dia lagi-lagi mengingatkan Lajana ihwal mimpi disengat banyak kelabang. Tetapi hati Lajana bergeming. Hanya saja, dia tak mengharapkan lagi dukun sakti, sebab telah ada orang-orang kota di sisinya, dan persawahan yang sejauh mata memandang adalah kuncinya.

***

Namanya, Tungka’. Ayahnya menamai demikian, berharap anak ini memiliki sekolah yang tinggi, lalu menjadi panutan. Tetapi penduduk kampung lebih mengenalnya sebagai Lajana Taruttu. Mereka mengait-ngaitkan dirinya dengan cerita yang menggantung di bibir orang-orang kampung terdahulu. Bahwa, di sana pernah hidup seorang pemuda tampan, tetapi angkuh, licik, dan pemalas, bernama Lajana Taruttu. Dia menghabiskan kekayaan orangtuanya yang baik dengan hura-hura, dan berbuat onar. Tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Bahkan karena sikapnya yang mencoreng nama orangtuanya, maka ayah dan ibunya membenamkan diri di muara. Dari itu, penduduk kampung bermohon, dan Tuhan mengirimkan ratusan kelabang di suatu subuh. Lajana ditemukan mati dengan totolan-totolan biru kehitaman. Cerita ini dijadikan dongeng wajib bagi anak-anak jika para orang tua memberi petuah hidup di kampung itu. Dan penduduk kampung memiliki kepercayaan, di setiap masa, Lajana inkarnasi di tubuh yang lain. Adalah Tungka’ yang menjadi generasi pelanjut Lajana, maka nama itu lekat pada dirinya, dan orang-orang kampung telah lupa nama yang semula.

Makassar, 9 November 2016

Perempuan dan Sekerat Cinta

Dia perempuan tua, di belantara sunyi. Dia tinggal di sebuah rumah yang lebih mirip kubus dari tumpukan batu bata. Dalam rumah tersebut, dia bersama dua anak lelakinya, dan seorang anak perempuan. Hampir setiap hari, dia hanya duduk-duduk pada satu-satunya kursi rotan di halaman rumahnya. Dua anak lelakinya datang begitu saja, setelah mereka lari dari rumah ayahnya yang memiliki istri muda, terlunta di jalan, barulah mengingat perempuan yang telah melahirkannya. Sementara, seorang lagi anak perempuan yang baru berusia 10 tahun. Dia masih terlalu kecil, dan nyaris tak tahu apa-apa selain berlarian telanjang dada kala hujan menitik satu-satu, lalu membentuk genangan coklat, bersama teman-teman sebayanya.

Tak ada yang tahu pasti, siapa laki-laki yang menjadi ayah ketiga anak tadi, dan alasan mereka pisah atap. Para tetangga sepertinya enggan membicarakan hal tersebut. Mereka lebih tertarik pada tanggal jatuh tempo setiap utang yang mereka peroleh dari perempuan tua ini. Dia memang terkenal sebagai satu-satunya tempat pulang saat para warga kampung, dililit utang. Orang-orang terlanjur disibukkan mengumpulkan uang dan segera menyetornya agar tak ditimpa denda seberat tangga. Pun kedua anak lelakinya. Aso, anak tertua yang menurut desas-desus pernah seatap dengan ayahnya, lebih memilih bungkam jika ditanya. “Pintarja cari uang biar tidak ada bapakku.” Demikian dia berkilah.

Sementara Naba, putra keduanya tergolong susah diajak komunikasi. Hidupnya bagai kalong. Siang dihabiskan berpeluk bantal guling, dan malam diisi dengan mabuk-mabukan. Beserta mata memerah, dan kata-kata yang melesat bak peluru, dia kerap kali berbuat onar. Telah banyak warung kelontong warga dirusak, dan kaca-kaca rumah akan pecah jika ada yang berani menegur dirinya. Pun jika kedapatan mencuri barang-barang warga untuk dijual, semua bungkam saja. Dalam benak kebanyakan warga, ada Daeng Baji, ibunya yang siap menanggulangi semuanya.

Selain meminjamkan dan membungakan uang, Daeng Baji terkenal pula karena anak keduanya ini. Warga yang merasa dirugikan oleh kelakuan Naba, selalu akan meminta ganti rugi padanya. Menurutnya, selama para warga masih berutang padanya, maka dia bisa saling memotong saja kerugian tersebut saat utang warga jatuh tempo. Baginya, yang semacam itu terbilang sebagai penolak bala, atas sikap anak keduanya tersebut. Dia mengandaikan semacam cuci tangan di pancuran sehabis menyentuh kotoran sapi.

Tiga pekan terakhir ini, nama Daeng Baji naik daun lagi. Hal ini bermula dari desas-desus yang merembes di bibir tetangga dekatnya bahwa dia akan menikah lagi. Informasi ini berkejaran sangat cepat sampai ke warga terjauh. Orang-orang mulai bertanya-tanya perihal lelaki yang akan menikahi Daeng Baji di usia yang tidak muda lagi. Akhirnya tersiar kabar, calon suaminya adalah seorang pemuda yang sedang digandrungi gadis-gadis muda. Pemuda ini pernah bekerja di rumah Daeng Baji sekitar seminggu, memperbaiki atap dan tembok rumah yang bocor. Diam-diam Daeng Baji menaruh perasaan yang dalam pada pemuda tersebut. Dibuktikan dengan perhatiannya untuk hal-hal sepele semisal menyiapkan makan siang, dan membekali pemuda ini makan malam jika waktu kerja usai. Sering pula, dia mencucikan baju kerja yang ditinggalnya menggantung di belakang pintu, walau kotornya berlapis-lapis.

Awalnya, anak-anak Daeng Baji menganggap ini sebuah suguhan melankolik seorang yang terpantik naluri keibuannya saja. Tetapi, lama-kelamaan, Naba merasa ini tak wajar. Sebab ibunya lebih sering menjadikan pemuda ini buah bibir, ketimbang dirinya, kendati keonarannya dibuat melangit. Pun dengan Aso. Dia merasa iri, gara-gara sedari awal dia telah unjuk diri sanggup memperbaiki atap dan dinding bocor asal dibayar, tetapi ibunya menolak. Daeng Baji telah beberapa kali ditipu oleh anak pertamanya ini, itulah alasan terkuatnya menolak kesanggupan Aso. Kekesalan Aso, menjadi-jadi melihat ibunya sangat perhatian pada pemuda tadi. Inilah kali pertama Aso dan Naba bekerja sama mengatur siasat mengusir pemuda itu dari rumahnya. Lain halnya Lala. Justru dialah yang menjadi kurir untuk persoalan hati ibunya, seperti mencari tahu apakah Si Pemuda telah berberes pulang saat sore, dan Daeng Baji akan bergegas pula menyalin baju, memoles wajah dengan bubuk bedak putih, dan berbasa-basi dengan pemuda tadi sebelum beranjak pulang. Dia masih terlalu muda untuk paham persoalan rasa yang merekah di taman hati ibunya. Tetapi sudah sangat cekatan jika ditugasi ini itu.

Daeng Baji dari awal telah memperkirakan, Aso dan Naba pasti akan kesal jika mereka tahu duduk persoalannya. Namun karena rasa yang membelukar itu, dia tak ambil pusing. Malah, sekarang dia mencari jalan untuk mendapatkan pemuda tersebut. Sebab kesimpulan awalnya, pemuda itu memandangnya tak lebih dari seorang perempuan tua, seusia ibunya. Dan mengingat hal tersebut, serasa ada sebiji salak mengganjal di tenggorokannya. Meski begitu, cintanya telah sedemikian menyala.

Lantaran rindu yang basah, dan pemuda itu tak bekerja lagi di rumahnya karena ulah kedua anak laki-lakinya, dia jatuh sakit. Mengigau hampir sepanjang hari. Di waktu semua yang datang menjenguknya mengatakan dia sekarat, dia akhirnya mengajukan satu permintaan. Daeng Baji ingin pemuda itu datang menjenguknya. Orang-orang yang kasihan padanya akhirnya mencari pemuda tersebut.

Dia datang di suatu sore, saat hanya ada Aso, Naba, dan Lala di sampingnya. Melihat kehadiran pemuda ini, Daeng Baji tiba-tiba bugar. Dia menyuruh pemuda tersebut duduk di salah satu sudut pembaringannya, sementara dia menopang punggungnya dengan beberapa bantal yang disusun merapat ke dinding. Lama mereka saling terdiam.

“Ayo kita menikah!!!” Demikianlah Daeng Baji memecah sunyi.

Pemuda tersebut tergagap mendapat serangan tiba-tiba. Saat perasaannya telah terkendali, dia lantas menolak. Tetapi Daeng Baji telah mempersiapkan segalanya. Dia mengambil sebilah pisau yang disembunyikan di balik bantalnya, dan mengancam akan bunuh diri jika tak dinikahi. Melihat kondisi tersebut, pemuda ini tak punya pilihan lain. Dia akan menikah dengan perempuan seumuran ibunya. Untuk peristiwa ini, Aso dan Naba mengutuk keras perbuatan dan keputusan ibunya. Sejak hari itu, kembali Aso dan Naba meninggalkan rumah. Perihal siapa lelaki yang akan dinikahi Daeng Baji, maka orang yang mengantarkan pemuda inilah yang membocorkan semuanya.

***

Hari ini adalah pernikahannya. Orang-orang berkumpul di rumah Daeng Baji yang telah direnovasi dan diperbesar. Dindingnya dipenuhi dekorasi bunga-bunga, dan lantainya dilapisi keramik bermotif biru langit. Di situlah orang-orang duduk melingkar, menyaksikan akad nikah yang dipimpin seorang imam masjid. Semua biaya pernikahan ditanggung Daeng Baji. Mereka berpesta selama dua hari, dan warga kampung tak ada yang kelaparan. Meski demikian, Daeng Baji kembali diperbincangkan. Banyak yang menyangsikan ketulusan pemuda tersebut. Sebagian lagi terang-terangan berkata bahwa pemuda itu mengincar harta Daeng Baji. Hanya sedikit yang membela pemuda ini, bahwa tak ada pernikahan tanpa dilandasi cinta, dan pemuda ini pastinya telah dibuat jatuh cinta oleh perhatian Daeng Baji.

Tepat saat seluruh prosesi pesta usai. Aso dan Naba datang, mengejutkan penghuni rumah. “Kami akan tinggal lagi di sini,” putus Aso.

Disebabkan kebahagiaan yang menari, Daeng Baji tak merisaukan kedatangan kedua anak lelakinya. Mereka telah bersepakat, setelah menikah akan merantau ke kota seberang agar mereka tak mendengar nyanyian-nyanyian sumbang orang-orang di sekitar. Kehadiran Aso dan Naba justru memudahkannya mengatur tanggung jawab pada anak-anaknya perihal penjagaan rumah. Meski dia tak begitu yakin pada kedua anak lelakinya, pun pada Lala yang baru menginjak usia remaja, namun inilah pilihannya untuk melunasi cintanya pada pemuda yang telah menjadi suaminya.

***

Dia duduk di kursi rotannya. Satu-satunya tempat di rumah kubus itu untuk mengakurkan persoalan dalam renungan yang nyaman. Selebihnya, hanyalah jajaran batu dan semen yang menyerupai cakar ayam. Masih ada Naba yang menatap kosong, dan Aso menanti kelahiran anaknya, berkumpul dalam sempit dan temaran bola lampu bulat 5 watt. Rumah besar Daeng Baji yang ditinggal pergi, telah terjual untuk membebaskan Naba dari tahanan karena terlibat perkelahian, lalu menikam dua orang hingga tewas. Sisanya, dipakai Aso meminang anak gadis yang telah dibuatnya berbadan dua.

Satu-satunya yang tersisa adalah Lala yang sebentar lagi akan berseragam putih biru. Daeng Baji butuh sejumlah uang perihal ini. Tetapi tak satu pun orang mau meminjamkannya meski dia telah mengetuk banyak pintu warga, tak kecuali orang-orang yang pernah berhutang padanya. Tak ada yang bisa dijaminkan darinya, karenanya tak ada pula orang yang mau menolongnya, sementara hari tersisa sepenggal esok.

Dia menyesali banyak hal dalam hidupnya. Tetapi dia masih bisa berangin-angin oleh keputusannya, melepaskan suami keduanya pergi, menyusuri jalan cinta yang telah dirampasnya. Cintanya telah memenjarakan pemuda tersebut pada dunia yang tak semestinya. Sungguh pun kesadarannya datang terlambat, namun cinta tak mengenal itu sebab cinta bukanlah jarum jam yang mematung pada deretan angka-angka. Dan Daeng Baji menyadari bahwa tak semuanya bisa ditukar dengan uang, tak terkecuali cinta.