Semua tulisan dari Muchniart AZ

Lahir 32 tahun silam. Punya seorang andalan bernama Za. Senang pinjam buku dan minum kopi hitam.

Marosso dan Kunang-Kunang yang Mati di Atas Kepalanya

Marosso, dia tidak pernah memilih lahir dari kandungan ibunya. Di sebuah subuh nan bisu, tatkala para tetua bersujud di Masjid, segerombol anak muda dalam pengaruh alkohol mengendap-endap masuk rumahnya. Mereka meniduri seorang gadis ranum beramai-ramai. Dari situlah asal muasal janin, Marosso terus tumbuh, lalu lahir meski telah coba digugurkan dengan urut dan ramuan obat-obatan tradisional, beberapa kali.

Telah banyak spekulasi perihal laki-laki yang berhak dipanggilnya ayah. Namun, spekulasi itu mengendap demikian saja. Bahkan para tetua kampung tidak berani mengadili biang kerok hadirnya Marosso, meski mereka tahu dalang pemerkosaan itu. Akhirnya, Marosso jebrol tanpa ayah. Inilah malapetaka kedua, setelah dia terpaksa tumbuh dalam rahim antah berantah, dan tak dikehendaki. read more

Cermin

Pertama sekali dia memiliki cermin saat menginjak kelas lima sekolah dasar. Ibunya yang membelikan kala itu, sebab dia mesti membawa sebingkai cermin kecil ke tempat mengajinya. Oleh guru mengajinya, cermin tersebut akan digunakan anak- anak belajar makhorijul huruf. Maka itu, setiap anak ditugaskan membawa sebuah cermin. Dan inilah hal yang paling menyenangkan bagi Sengka selama hampir sebulan mengikuti kelas mengaji setiap sore di masjid dekat rumahnya.

Alasannya, sederhana. Dia senang dengan cermin. Sejak kecil orang-orang malah menggelarinya dengan nama La gaya, disebabkan kesenangannya bercermin. Kadang-kadang pula cermin baginya selaku televisi, tempat dia melihat sendiri cerminan dirinya dengan bibir monyong, ataukah bernyanyi sambil berjoget-joget. Malahan pernah, dia dianggap aneh oleh para tetangganya, kala ulang tahun kelimanya dan dia dihadiahi mobil-mobilan oleh seorang temannya. Tetapi mobil mainan tersebut dibuang, lalu dia berlari menangis sejadi-jadinya di depan cermin, dan setelahnya tertawa-tawa sendiri. Sayangnya, cermin tersebut bukan miliknya, melainkan milik ibunya dan karenanya waktu menggunakan sungguhlah terbatas. Sengka tak mengecap merdeka jika demikian. read more

Nenek Pakamekame

Anak-anak senang menjadikannya guyonan. Jika sedang melintas, mereka berlari kecil-kecil, mengekor pada bayangan perempuan ini, sambil serempak bersorak-sorak, “Torroko-torroko na kandeko batitong!![1]!” Sebagian lagi akan berkata, “Minggirko, lewatki nenek pakamekame, na curiko nanti[2].

Sementara perempuan yang diteriaki sedemikian rupa, melenggang saja. Tak hirau pada keusilan anak-anak tersebut. Baginya, itu tak lebih dari angin lalu. Dia telah terbiasa digempur cibiran. Makanya, dia memilih membangun rumah kecil pada sepetak tanah di pinggiran sungai, untuk menghindari kebisingan orang-orang yang panjang lidah, demikian dia memberi istilah. Walau begitu, masih ada saja yang sengaja datang membuang masalah. Semisal, para perempuan yang sahaja lewat, lalu melempar gunjingan bahwa salah satu di antaranya melihat seorang laki-laki keluar masuk di rumah itu, dengan suara keras dan cekikan mesum. Atau, para lekaki yang berkelakar saat melewati daun pintu rumahnya, bahwa kalau pun digaji mereka takkan pernah sudi dilamar oleh perempuan itu. read more

Lajana Taruttu

Seekor kelabang menggelitik punggungnya. Lima jarinya meraba, ternyata bukan hanya satu. Ada dua. Tidak, ada tiga, empat, dan serasa punggungnya dipenuhi kelabang. Serentak, binatang berkaki berjibun ini menyuntikkan bisanya di punggung Lajana, menyisakan jerit yang lebih serupa lolongan, dan lebam-lebam biru kehitaman di seluruh punggungnya. Nyeri yang melanda, membuatnya bermandi keringat. Dia meringis sejadi-jadinya, dan meronta menghalau sakit. Saking berisiknya, seorang perempuan tua, tergopoh-gopoh menghampiri, dengan setangkup air di tangan, lalu memercikkan air tersebut ke wajahnya. Dia tersadar, untung hanya sebuah mimpi. read more

Perempuan dan Sekerat Cinta

Dia perempuan tua, di belantara sunyi. Dia tinggal di sebuah rumah yang lebih mirip kubus dari tumpukan batu bata. Dalam rumah tersebut, dia bersama dua anak lelakinya, dan seorang anak perempuan. Hampir setiap hari, dia hanya duduk-duduk pada satu-satunya kursi rotan di halaman rumahnya. Dua anak lelakinya datang begitu saja, setelah mereka lari dari rumah ayahnya yang memiliki istri muda, terlunta di jalan, barulah mengingat perempuan yang telah melahirkannya. Sementara, seorang lagi anak perempuan yang baru berusia 10 tahun. Dia masih terlalu kecil, dan nyaris tak tahu apa-apa selain berlarian telanjang dada kala hujan menitik satu-satu, lalu membentuk genangan coklat, bersama teman-teman sebayanya. read more