Semua tulisan dari Muhajir MA

Kesehariannya bekerja sebagai jurnalis. Ikut mengasuh kalaliterasi.com dengan posisi sebagai redaktur. Menyukai kopi dan buku. Saat ini bercita-cita untuk berhenti merokok, saat menyadari menjadi Ksatria Baja Hitam itu mustahil.

KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata peribahasa klasik. Harapan terwujudnya masyarakat berbudaya literasi tentu bukan hal mustahil terwujud. Asalkan ada segelintir—dalam bahasa Arnold Toynbee—creative minority yang siap bergerak mewujudkan harapan itu. Buktinya, hanya berawal dari sebaran pamflet sederhana di media sosial. Ajakan berliterasi bisa memantik niat segelintir orang untuk bergabung membenahi diri. 37 anak muda ini akhirnya terpanggil untuk belajar.

Bisa dibayangkan. Jika kegiatan literasi dilakoni secara intensif oleh banyaknya komunitas yang tersebar di berbagai penjuru. Bukan tak mungkin, harapan terwujudnya Makassar menuju kota Literasi, atau Indonesia menuju negara literasi bisa menjadi nyata. Mulanya budaya literasi itu ditanamkan dari individu ke individu melalui ruang diskusi. Seperti biasanya, hanya segelintir saja yang berhasil terprovokasi.

Di antara segelintir ini, ada secuil subjek yang bersedia menanamkan semangat literasi di lingkungan sosialnya. Seterusnya demikian. Perlahan tapi pasti. Mungkin hasilnya belum bisa dipetik pada generasi saat ini. Namun di generasi selanjutnya—entah di generasi ke berapa—budaya literasi bisa saja terwujud secara masif melalui benih-benih dari generasi sebelumnya.

Apa salahnya bermimpi, Bung. Mumpung masih gratis. Lagi pula, mimpi-mimpi kebangkitan masyarakat literasi ini bukan semacam utopia yang tak memiliki referensi di dunia nyata. Dia lebih riil di banding utopia akan tatanan masyarakat tanpa kelas ala Marxisme, atau negara ideal ala Platon, misalnya.

Sebab fenomena kebudayaan literasi itu benar-benar ada. Hanya belum merata. Agar bisa meluas di ranah kehidupan masyarakat, budaya literasi ini tentu perlu diperjuangkan. Memperjuangkan mimpi ini setidaknya lebih bermanfaat daripada terus berkelahi demi mendukung salah satu kandidat presiden, yang belum tentu memikirkan nasib kita.

Tentu KLPI hadir bukan sebagai ruang bertemunya pahlawan sok jago yang ingin memperjuangkan tatanan dunia baru. Dan TBPI bukan sejenis markas Power Ranger. KLPI sadar diri hanya sebagai entitas kecil dari kosmologi literasi. Tapi KLPI punya tekad yang besar menyumbangkan sumbangsi bagi perjuangan tatanan masyarakat literasi meski sejumput saja. Relawan KLPI hanya tahu, literasi itu penting dan memperjuangkannya adalah sebuah kebaikan bernilai berpahala.

Bahkan, relawan dan peserta kadang mencuri sedikit waktu untuk ketawa-ketiwi ketika proses belajar di kelas berlangsung. Karena memang KLPI tak punya tampang untuk bisa disebut sebagai ruang pertemuan para pejuang yang hendak membahas cita-cita revolusi secara serius. KLPI hanya ingin memperjuangkan satu elemen penting dalam masyarakat: literasi. Perjuangan yang tentunya dijalani dengan gembira, banyak bercanda, sambil menikmati hangatnya kopi hitam dan pisang goreng buatan Yunda Mauliah Mulkin.

KLPI telah memasuki angkatan ke-5. Tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Kadang semangat melanjutkan kelas ini meredup. Kemudian menyala lagi. Redup lagi. Menyala lagi. Seterusnya demikian. Namun, relawan KLPI kadang tidak tega, jika orang-orang bertanya: “kapan kelas dibuka lagi?”, “Kak Hajir, kabarika kalau mau buka kelas lagi nah!”.

Relawan KLPI merasa bersalah jika tidak menjemput antusiasme orang-orang yang memilih KLPI sebagai ruang membenahi tradisi literasinya. Para relawan tentu bersyukur, jika KLPI dipercayai sebagai—ibarat kawah candradimuka— ruang membenahi diri. Itu artinya, orang-orang mulai melihat KLPI sebagai salah satu gerakan bagi masa depan kemajuan literasi masyarakat.

Selamat bergabung, peserta KLPI Angkatan ke-5. Mari menjadi bagian dari sejarah.

Sang Aku di Hadapan Wajah Yang Lain

Jika Anda hendak membantu orang lain. Pernahkah Anda bersikap cuek? Mungkin Anda merasa secara pribadi tidak berkewajiban menolong orang lain. Pada level sosial tertentu, Anda merasa korban tidak terikat secara kebudayaan dengan Anda. Atau karena dia bukan penganut agama yang sama dengan Anda. Di antara miliaran orang di muka bumi ini, saya yakin ada yang bersikap demikian.

Namun kita tahu, persoalan etika kemanusiaan tidak sesederhana itu. Sejahat-jahatnya manusia, setidaknya minimal dalam sekali pernah melakukan perbuatan baik pada orang lain. Saya saja merasa bukan seorang hero yang kerap berperan di film Hollywood. Tapi sesekali muncul suatu perasaan untuk membantu orang lain. Bahkan, pada suatu peristiwa tertentu,  saya kerap merasa  bertanggung jawab atas hidup orang lain. Entah mengapa.

Misalnya di suatu hari, ketika saya bertemu korban kecelakaan. Seketika saja timbul rasa tanggung jawab saya kepada sang korban. Dan akan merasa bersalah jika tidak memberikan pertolongan. Perasaan itu hadir begitu saja saat setelah terjadi perjumpaan dengan sang korban. Perasaan itu membebaniku secara psikologis, karena saya diringkus dalam sebuah pilihan: meruntuhkan sejenak egoku dan menolog orang itu atau abai saja. Waktu itu saya memilih memberi pertolongan, bersama pejalan lainnya.

Mungkin Anda juga pernah merasakan hal yang sama dengan saya. Anda pasti pernah terlibat dalam momen-momen etis tatkala melihat orang lain sedang kesusahan. Meski sepercik saja, timbul rasa tanggung jawab yang mencoba membujuk, mendorong Anda untuk melakukan sesuatu. Terlepas dari apakah Anda bergegas menolong atau tidak.

Manusia sejatinya adalah keterbelahan antara yang etis dan yang egois. Pada momen tertentu, perjumpaan etis bisa terjadi dalam relasi sang Aku (subjek) dengan Yang Lain. Hanya saja, manusia terkerangkeng oleh egonya sendiri. Sehingga membuatnya merasa tidak perlu bertanggung jawab pada Yang Lain. Aku hanya bertanggung jawab pada diriku sendiri. Aku hanya bertanggung jawab pada keluarga, dan sesama muslim. Seorang penganut Syiah yang dipersekusi akan sulit mendapat simpati pada para pembencinya. Sebab ego pembenci Syiah merasa tidak bertanggung jawab pada kaum yang dianggapnya sesat.

Tapi, bukan berarti selamanya pembenci Syiah bersikap demikian. Kuncinya sekali lagi ada pada rasa tanggung jawab yang selalu saja datang tiba-tiba dalam perjumpaan sang Aku dengan Yang Lain. Jika seorang anti Syiah merasa punya tanggung jawab antar sesama manusia, melebihi sekat-sekat perbedaan, bukan tak mungkin dia bersedia mengulurkan bantuannya jika melihat seorang penganut Syiah sedang dalam kesusahan.

Hal ini unik sebenarnya. Hingga munculkan pertanyaan, mengapa perasaan tanggung jawab bisa muncul tiba-tiba dalam relasi sang Aku dengan orang lain? Padahal diketahui, seseorang selalu adalah Yang Lain dalam kerangka pemikiran subjek. Dengan segenap keberlainannya,  sang Aku bisa saja merasa tidak bertanggung jawab atas nyawa, keselamatan dan beban sosial orang lain.

Sekitar 50  tahun yang lalu, filsuf Perancis Kontemporer,  Emmanuel Levinas memperkenalkan konsep “Wajah” (FaceLe visage) untuk mengemukakan pemikirannya mengenai kemungkinan-kemungkinan terjadinya perjumpaan etis sang Aku dengan Yang Lain. Jawaban atas pertanyaan di atas bisa kita lacak pada diskursus etika filsuf Yahudi itu.

Levinas mengatakan,  dalam relasi sang Aku dengan Yang Lain, Wajah muncul melalui momen epifani: hadir tiba-tiba dan menyapa sang Aku. Perjumpaan sang Aku dengan Wajah Yang Lain membuatnya tersandera,  terpanggil untuk memberikan sesuatu pada Yang Lain. “The face opens the primordial discourse whose first word is obligation which no ‘interiority’ permit avoiding,” demikian tulis Levinas dalam bukunya yang terkenal, Totality and Infinity. Kewajiban itu menjelma dalam bentuk tanggung jawab yang tak bisa dihindari oleh sang Aku.

Konsep Wajah Levinasian ini tidak dipahami sebagai wajah biologis atau fisik. Wajah yang dimaksud adalah Wajah yang tak terlihat, tak dapat disentuh. Namun, kehadirannya dapat dihayati sang Aku hingga mendorongnya untuk bertanggung jawab terhadap Wajah itu. Untuk itulah Levinas mandang Wajah tak mungkin diabstraksikan atau dirumuskan dalam kerangka pemahaman apapun.

Masih dalam Totality and Infinity Levinas menyebut,”….the face is present in its refusal to be contained.” Pada kesempatan lain Levinas juga menyebut wajah sebagai suatu infinity (tak berhingga), transenden, dan suatu alteritas yang tak bisa direduksi dalam totalitas. Sifat Wajah ini adalah implikasi ontologis darinya yang tak terjamah. Hanya melalui relasi langsung yang bersifat etis, Wajah itu bisa menampakkan diri di hadapan sang Aku. Karena Wajah mustahil direngkuh oleh persepsi, maka Wajah hanya bisa dijumpai pada level pra reflektif.

Melalui perjumpaan itu, Wajah menyapa dan memanggil subjek untuk menemuinya: Wajah itu seperti takut ditinggalkan sendirian. Dalam suatu keadaan tertentu, mungkin Anda pernah merasakan adanya sebuah bisikan. Semacam sebuah perintah “tolong aku”, “lindungi saya”, di kedalaman perasaan Anda ketika berjumpa orang lain yang sedang menanggung kesulitan. Merujuk pada Levinas, itu adalah keadaan pra reflektif saat terjadinya perjumpaan sang Aku dengan Wajah.

Sapaan yang dilakukan Wajah mendorong sang Aku tiba-tiba sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Yang Lain bahkan sebelum ia melakukan identifikasi, refleksi, persepsi, atau komunikasi terhadap Yang Lain. Implikasi yang lebih kongkret, Wajah Yang Lain meruntuhkan egoisme sang Aku dalam suatu relasi etis.  Menjadikannya siap menerima orang lain dengan segala keberlainan dan perbedaannya melalui rasa tanggung jawab.

Keadaan bertanggung jawab ini yang menjadi titik mula ego sang Aku keluar mengambil tindakan demi Yang Lain. Levinas menyebutnya sebagai keadaan eksterioritas. Dalam tafsiran bebas saya, eksterioritas dapat terjadi hanya jika hasil refleksi subjek terhadap pengalaman pra reflektif itu membuatnya memutuskan mengambil tindakan.  Karena sesungguhnya kesadaran akan tanggung jawab itu  menjebak subjek pada dilema yang begitu tragis: bertindak atau diam saja melihat penderitaan Yang Lain.

Maka jangan heran jika banyak orang yang rela berkorban untuk orang lain. Tulus dan tanpa pamrih. Levinas menyebutnya hubungan yang asimetris. Karena orang-orang seperti itu berhasil menerjemahkan secara kongkret panggilan Wajah Yang Lain untuk bertanggung jawab atasnya. Tanpa peduli dia anak siapa, dari suku mana, penganut agama dan mazhab apa, ego orang baik ini sudah siap memihak pada Yang Lain dengan segala keberlainannya.

Syahdan, setiap orang sebenarnya pernah merasakan momen etis, hingga membuatnya merasa bertanggung jawab atas Yang Lain. Di sinilah kualitas kemanusiaan kita diuji. Apakah memilih menjumpai secara kongkrit Yang Lain, atau tetap membiarkan ego berada dalam interioritasnya sendiri. Pada konteks ini, diri kita sendiri adalah ujian untuk ego kita. Karena teman terbaik sekaligus musuh berbahaya adalah diri kita sendiri.

Jika diperluas jangkauannya, etika Levinasian bisa menjadi jembatan bagi pikiran dalam memandang pluralitas antar sesama manusia. “Metafisika Wajah” Levinasian ini—tanpa bermaksud mempersempit jangkauan teoritiknya—bisa menjadi pendasaran bagi kajian muktikulturalisme. Saat Indonesia sedang diterjang politik identitas dan fenomena intoleransi,  etika Levinasian bisa menjadi tawaran alternatif untuk memperkaya khazanah pluralisme.

Sumber gambar: crispme.com

Larut dalam Samudra Simbol-simbol: Masyarakat Konsumer dan Permasalahannya

Kapitalisme Pasca-Fordisme dan Lahirnya Masyarakat Konsumer

Sekitar sebulan yang lalu, di Pantai Akkarena, AHM bekerja sama dengan Astra Motor Makassar menggelar acara Honda Bikers Day. Selain menggelar beragam event untuk para bikers, AHM juga memboyong  konsep produk motor trail berkecepatan 150cc. Produk itu dipajang di gelaran tersebut, agar pengunjung dapat melihat-lihat produk yang baru sebatas contoh itu. Hal ini dilakukan agar manajemen AHM dapat mempelajari hasrat konsumen mengenai motor trail seperti yang diinginkan konsumen itu sendiri.

Pihak AHM tentunya mempelajari keinginan-keinginan konsumen itu melalui masukan-masukannya soal produk itu. Semua masukan itu ditampung, dipilah-pilah, agar menjadi patokan untuk mengembangkan kembali motor trail 150 itu agar sesuai dengan animo pasar. Dengan kata lain: agar sesuai dengan hasrat konsumen.

Model produksi yang semacam ini sudah menjadi strategi umum bagi sebagian besar korporasi raksasa. Kalla Toyota sebagai main diler resmi Toyota di wilayah Indonesia Timur juga melakukan hal yang serupa. Sekitar seminggu yang lalu, di gelaran Kalla Toyota SALE 2017, Kalla Toyota juga turut memamerkan model terbaru Sienta yang diberi nama Sienta Ezzy. Line up terbaru Sienta ini juga masih sebatas product concept. Pengembangan selanjutnya akan dilakukan jika pihak Toyota telah mengetahui respon masyarakat soal produk itu, dan mencatat semua keinginan-keinginan mereka.

Ada catatan penting dari dua peristiwa di atas. Di era kapitalisme mutakhir (pasca industrial), setiap komoditi diproduksi sesuai dengan permintaan konsumen.  Artinya, sebelum komoditi diproduksi, kapitalisme melakukan komunikasi konstan kepada konsumen terlebih dahulu, untuk mendapatkan data mentah soal apa yang paling diinginkan konsumen, baru setelah itu komoditi dibuat.

Berbeda dari model kapitalisme klasik  (industrial) yang sifat produksinya didasarkan pada sistem produksi massal tanpa mempertimbangkan domain konsumen sebagai syarat utama produksi.  Dalam bahasa marxisme otonomis, era kapitalisme kontemporer dibilangkan sebagai kapitalisme pasca-fordisme dan era kapitalisme industrial disebutnya sebagai kapitalisme fordisme. Kedua istilah ini akan kita pakai dalam studi selanjutnya.

Sayahdan, mengikutsertakan permintaan-permintaan konsumen adalah hal yang sangat penting dalam sistem produksi kapitalisme pasca-fordisme. Sebab, konsumen hari ini cenderung mengkonsumsi suatu komoditi jika objek itu menawarkan makna sosial yang dapat mengangkat prestise, kemewahan, kehormatan, dan meningkatkan gaya hidup. Sehingga, agar dapat laris di pasar, suatu komoditi mesti dirancang sesuai apa yang dicari oleh konsumen.

Untuk itulah, produk-produk kapitalisme era kiwari selalu menawarkan diferensiasi. Maksudnya, suatu objek komoditi dibuat dengan mengikutsertakan produksi  makna-makna yang berbeda dari tawaran  produk  perusahaan lain.  Hal ini dilakukan agar suatu produk dapat menarik perhatian calon pembeli, sembari memberi keyakinan, jika produk inilah yang sedang dicari-cari oleh mereka.

Bagaimana orang bisa tahu jika suatu produk betul-betul jadi objek yang sedang dicarinya? Di sini, kapitalisme pasca-fordisme punya strategi: produksi isi informasional dan kultural dari komoditi. Atau dalam istilah kaum marxisme otonomis, disebut sebagai produksi nilai imaterial. Di sini, semakin nampak perbedaan antara kapitalisme fordisme dengan pasca-fordisme. Kapitalisme model kedua ini tidak hanya memproduksi nilai material dari suatu komoditi, namun juga memproduksi nilai imaterialnya.

Produksi imaterial hanya menjadi mungkin terjadi jika ada pekerja imaterial yang bertugas  memproduksi isi informasional dan kultural dari komoditi. Pekerja imaterial ini bisa berupa desainer, biro iklan, dan biro pemasaran—Antonio Negri dan Michael hardt, dua pentolan marxisme otonomis menyebutnya sebagai kaum kognitariat. Artinya, kapitalisme pasca-fordisme sangat membutuhkan tangan-tangan kreatif dan kepiawaian komunikasi dari seseorang kaum kognitariat untuk memproduksi dimensi imaterial dari komoditi.

Desainer akan bertugas merancang model virtual motor trail anyar AHM untuk diperlihatkan oleh masyarakat melalui televisi, Youtube, Instagram, Facebook, media cetak, hanya untuk mengabarkan jika motor impian masyarakat telah hadir dan siap mengaspal.  Tentunya, publikasi komoditi anyar ini sudah disertai dengan berbagai informasi-informasi soal kecanggihan, kemutakhiran dan betapa gaul dan mewahnya motor ini, sambil menyisipkan model yang biasanya selalu perempuan agar dapat berfungsi sebagai perangkat bujuk rayu.

Apa yang ingin dicapai oleh kapitalisme pasca-fordisme ini adalah menciptakan masyarakat yang memiliki hasrat menggebu-gebu untuk terus membeli dan mengkonsumsi. Dengan strategi produksi yang berpusat pada konsumsi, dengan kecenderungannya memproduksi nilai imaterial berikut makna-makna sosial dari komoditi, kapitalisme pasca-fordisme sekaligus berhasil menciptakan model masyarakat yang kemudian hari disebut-sebut sebagai masyarakat konsumer.

Seperti inilah kondisi masyarakat hari ini. Di bawah bendera kapitalisme pasca-fordisme, hasrat konsumtif dipacu melalui pengaruh daya pikat komoditi, yang memang sengaja dirancang dengan mengikutsertakan kode-kode tertentu agar dapat menginterpelasi masyarakat untuk terus membeli dan mengkonsumsi. Di era kiwari, kapitalisme terus melanggengkan ideologinya dengan menciptakan dan meningkatkan kapasitas konsumsi melalui diferensiasi produk, iklan, pemutakhiran kemasan agar nampak jika produknyalah yang selama ini diidam-idamkan  oleh masyarakat konsumer. Hingga masyarakat semakin bergairah untuk membeli, berdampak pada derasnya akumulasi modal kapitalisme.

Pada pembahasan selanjutnya, akan difokuskan untuk membahas kondisi masyarakat konsumer. Sekaligus kita akan membahas bagaimana masyarakat konsumer ini dirangsang hasrat konsumtifnya justru melalui ilusi-ilusi hiperrealitas yang diciptakan oleh kapitalisme pasca-fordisme melalui kekuatan teknologi informasi dan media massa. Hingga akan dibahas bagaimana masyarakat konsumer tenggelam dalam gairah konsumsi: menuju pembalikan radikal atas nilai-nilai.

 

Masyarakat Konsumer: Merayakan Realitas Semu, Membebaskan Hasrat

Sekali lagi ditegaskan, masyarakat konsumer sesungguhnya adalah anak kandung dari kapitalisme pasca-fordisme. Lahir dengan menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan. Besarnya kecenderungan konsumtif masyarakat konsumer ini, menjadikan motif konsumsinya tidak lagi berpusat ke nilai guna dan nilai tukar, tapi lebih ke arah konsumsi makna-makna sosial, yang kemudian disebut oleh Jean Paul Baudrillard, seorang sosiolog Prancis sebagai nilai simbol (nilai tanda).

Di sini, Baudrillard memisahkan diri dari Karl Marx. Jika dulu Marx meyakini, intervensi nilai guna dan nilai tukar sebagai motif utama seseorang mengkonsumsi, tapi Baudrillard, melalui analisisnya pada kondisi era kiwari, melihat asumsi itu sudah tidak relevan lagi. Masyarakat kini lebih menekankan nilai simbol sebagai motif utama mengkonsumsi.

Tentu, kecenderungan konsumsi masyarakat hari ini dipengaruhi sepenuhnya oleh strategi-strategi ekonomi kapitalisme pasca-fordisme. Gairah konsumsi masyarakat didorong sepenuhnya oleh pengaruh nilai simbol yang ditanamkan kapitalisme di dalam produk-produknya. Nilai simbol ini tentu selalu disesuaikan bentuknya terhadap bentuk-bentuk hasrat masyarakat, dan terhadap fantasi masyarakat mengenai suatu produk yang selama ini ingin dimilikinya. Jika saat ini, masyarakat memiliki hasrat untuk tampil mewah, artistik, berkelas, dan ingin memiliki aksesoris tubuh yang seperti dimiliki oleh selebriti idolanya, maka animo pasar ini yang ditangkap oleh kapitalisme dan diinternalisasi dalam produk-produknya: menjadi nilai simbol.

Kapitalisme pasca-fordisme ini punya cara agar masyarakat dapat mengakses kumpulan-kumpulan produk yang telah dicekoki berbagai macam nilai simbol itu: melalui kemampuan membangun citra yang dimiliki teknologi informasi dan media massa. Kapitalisme di era kiwari memang sangat diuntungkan oleh teknologi informasi dan media massa. Pengiklanan produk dapat bergerak cepat hingga bisa sesigap mungkin sampai ke masyarakat.

Lewat televisi, Facebook, Instagram, situs-situs website, komoditi ditampilkan dengan beragam efek-efek virtual dan artis (model) yang menyertainya, sambil mengkomunikasikan makna-makna sosialnya ke khalayak. Melalui sinetron, reality show, komoditi yang dikenakan sang artis lantas memancarkan semangat gaya hidup yang mengguncang hasrat penontonnya. Melalui dunia maya dan layar kaca, komoditi menjadi tontonan, dan di sinilah awal mula gairah konsumsi itu dimulai: hasrat dipacu untuk terus membeli dan membeli.

Tentu, terserapnya penonton ke realitas virtual itu punya problem tersendiri.  Apakah mereka sadar tengah memasuki realitas semu? Sadar atau tidak, ketika kita tengah larung dalam citra-citra komoditi yang saling hadir dan meniadakan di dunia maya dan layar kaca, sesungguhnya kita telah terjebak dalam sebuah dunia yang disebut Baudrillard sebagai hiperrealitas. Yakni realitas semu dan fantasi yang selalu diandaikan lebih nyata dari kenyataan itu sendiri dan menjadi refleksi manusia untuk membangun identitasnya.

Kita seolah-olah melihat kenyataan. Namun sesungguhnya, citra-citra yang hadir silih berganti itu hanyalah duplikat realitas, terbentuk melalui apa yang disebut Baudrillard sebagai proses simulasi. Bahkan, dalam dunia simulasi, manusia sesungguhnya mendiami sebuah dunia di mana perbedaan antara nyata dan fantasi, benar dan salah, amatlah tipis.

Apa konsekuensi dari terserapnya manusia ke dalam ruang simulasi?  Pertama, mengikuti asumsi Baudrillard, khalayak akan menjadi massa yang diam. Itu artinya, citra-citra komoditi hanya mengalir deras memasuki kesadaran penonton, tapi tidak ada bekas apa-apa yang tertinggal dari tontonan itu kecuali terbentuknya gairah untuk membeli dan menirukan segala yang tampak dalam tontonan.

Tak ada makna apa-apa yang terserap seperti makna-makna intelektual, moral, spritualitas, selain hanya meyisakan seorang individu yang keinginan-keinginan konsumtifnya tengah dibentuk oleh iklan. Ringkasnya, tak ada kedalaman apapun yang ditemukan dari tontonan-tontonan simulasi. Yang ada hanyalah kedangkalan imajinasi yang sedang berfantasi untuk mengikuti gaya hidup sang artis idola: untuk itu seseorang akan bergegas ke pusat perbelanjaan, untuk membeli dan membeli.

Kedua, jika perbedaan antara nyata dan fantasi, benar dan salah dalam dunia simulasi sudah amat tipis, maka segenap makna yang diterima masyarakat melalui saluran citra-citra akan semakin sulit pula untuk ditinjau kebenaran dan keasliannya. Kondisi paling ekstrim, dunia simulasi selalu akan dianggap lebih riil dibanding kenyataan yang sesungguhnya (hiperrealitas). Sebab, tak jarang jeleknya wajah kita selalu ingin dirubah oleh konsumsi kosmetik semahal apapun. Oleh karena kita lebih percaya pada ilusi nilai simbol yang ditampilkan iklan-iklan dari pada menerima kenyataan apa adanya.

Ketiga, merayakan dunia simulasi, berarti merayakan pembebasan hasrat.  Belantara komoditi, tanda-tanda, makna-makna semu dalam dunia simulasi membangkitkan hasrat manusia untuk bebas merasakan gairah kesenangan di hadapan objek tontonan. Hingga menceburkan diri dalam keterpesonaan akan benda-benda dan citra-citra tubuh yang tampil menakjubkan di layar kaca, dunia maya atau pada etalase-etalase mal.

Dari sini, hasrat seakan diminta untuk segera memuaskan diri.  Musik rock, sepak bola, iklan-iklan, gaya hidup Raisa akhirnya menjadi pemicu dari meledaknya gairah untuk lebih banyak lagi mengkonsumsi, dan berbelanja. Ada hasrat untuk tampil lebih rock, untuk tampil lebih karismatik serupa Cristiano Ronaldo. Dan, dorongan hasrat itu hanya terpenuhi jika sang subjek bergegas mengkonsumsi.

Yasraf Amir Piliang dalam Buku Dunia yang Dilipat, sejak awal telah mengatakan jika masyarakat konsumer adalah corak masyarakat yang menjadikan hasrat sebagai bagian utama kehidupan.  Kondisi masyarakat konsumer saat ini, dalam kacamata Yasraf,  adalah kondisi yang di dalamnya hampir seluruh energi dipusatkan bagi pelayanan hasrat—hasrat kebendaan, kekayaan, kekuasaan, seksual, ketenaran, popularitas, kecantikan, kebugaran, keindahan, kesenangan.

Hal tersebut tentu berdampak pada runtuhnya nilai-nilai luhur dan kedalaman pada dimensi kehidupan manusia. Gelora hasrat yang semakin mabuk di hadapan benda-benda, citra-citra  selebriti, konser musik, tidak menyisakan ruang bagi diri sendiri untuk melakukan penajaman hati, penumbuhan kebijaksanaan, peningkatan kesalehan dan pencerahan spritual.

Masyarakat konsumer adalah masyarakat yang larut dalam kesenangan, dan tidak menyisakan ruang untuk refleksi dan merenung. Di balik pelepasan hasrat ini, tentu ada yang paling diuntungkan: kapitalisme itu sendiri. Gairah konsumsi tanpa batas masyarakat hari ini, semakin mempercepat akumulasi modal kaum kapitalis. Artinya, ramalan Marx mengenai kehancuran kapitalisme akibat kontradiksi dalam dirinya sendiri perlu untuk dievaluasi kembali.

Terbebasnya hasrat manusia ini oleh permainan simbol yang diciptakan kapitalisme, kembali menghadirkan persoalan baru dalam diskursus kapitalisme itu sendiri: batas-batas moralitas kian meluruh. Gairah tak terbatas masyarakat dalam mengkonsumsi simbol,  semakin berdampak pada hilangnya tabu, kerahasiaan,  moral, dan kesopanan dalam aktivitas kehidupan. Seorang perempuan rela berpenampilan seksi untuk mendapatkan sensasi akan kecantikan. Ia tak kenal lagi konsep tabu, tak perlu lagi ada rahasia bagi organ intimnya,  karena hasrat untuk mendapatkan pengakuan lebih penting dari itu semua.

Syahdan, persoalan sosial yang menonjol  kini dalam diskursus kapitalisme bukan lagi hanya masalah konflik sosial yang tersembunyi di balik relasi produksi, dan alienasi kaum pekerja. Namun juga telah merambat ke persoalan tenggelamnya nilai-nilai luhur dalam gairah konsumsi masyarakat atas simbol-simbol.

Sumber gambar: https://www.picquery.com/

Sulhan adalah Han dan Sang Guru Itu Sendiri

Tutur Jiwa dan Beberapa Hal Tentangnya

***

Malam itu, Bedah Buku Tutur Jiwa  Karya Sulhan Yusuf oleh LKIMB UNM di pelataran PKM UNM itu, sepertinya menjadi awal teks-teks kearifan Sulhan menari di belantara realitas, yang mulai kering dari wejangan-wejangan spritual dan filosofis. Tutur Jiwa  hadir seolah memanggil kumpulan jiwa-jiwa muda yang haus akan tutur kebijaksanaan. Puluhan jiwa-jiwa itu duduk bersila, menunggu Sang Guru (sang tokoh spritual Han dalam Tutur Jiwa) berujar mengenai perihal yang dapat membasuh kedalaman batin yang kian kerontang. Ujaran Sang Guru itu tentu bergema melalui perantara Sulhan, sebagai pencatat wejangan-wejangannya.

Lantas, siapa Sang Guru? dan siapa Han? Anda boleh bilang mereka adalah tokoh fiksi yang hadir dari rahim imajinasi Sulhan. Tapi, dari sisi yang lebih filosofis, Sang Guru dan Han itu adalah nyata. Meminjam perspektif Herman Pabau, salah seorang pembedah Tutur Jiwa di malam itu, “Han dan Sang Guru harus dipandang sebagai wujud tunggal, bukan dua wujud secara individual berdiri sendiri. Yang membedakannya adalah siapa yang bergantung murni pada siapa atau perbedaan itu pada tingkat wujudiah yang mereka duduki dalam cakupan wujud tunggal.”

Tentu, yang dimaksud Herman Pabau bahwa, Sang Guru dan Han adalah suatu ketunggalan dalam wujud Sulhan, dan bergradasi  membentuk suatu ikatan guru dan murid. Sulhan ibarat punya dua kepribadian yang tak terpisah satu sama lain, Sulhan Yusuf hadir dalam dua wajah yang saling bercakap-cakap: Han sebagai murid dan Sang Guru yang tentu sebagai guru si Han. Atau dalam pengertiannya yang paling sederhana: Sulhan sebagai murid (Han) dan Sulhan juga sebagai guru untuk dirinya sendiri (Sang Guru).

Ini menarik. Sebab Sulhan hadir sebagai murid yang bersedia menerima wejangan kearifan dari refleksi batinnya sendiri dan Sulhan juga sekaligus menjadi guru untuk menuntun jiwanya dalam membaca realitas. Terkadang, orang-orang berkhotbah dengan maksud untuk memperingati orang-orang di sekelilingnya, namun di sisi lain, tidak mau menceramahi dirinya sendiri karena merasa sudah cukup sempurna. Untuk itu, Tutur Jiwa hadir tak hanya menjadi pengingat bagi pembacanya mengenai suatu perihal, namun juga menjadi pengingat bagi Sulhan sendiri. Wejangan-wejangan Sang Guru untuk semua orang, tanpa terkecuali.

Kearifan yang Bergerak di Ketinggian dan di Kerendahan

Wejangan kearifan apa yang ditawarkan oleh Sang Guru (atau Sulhan) dalam Tutur Jiwa? Pracitra yang ditulis oleh Alwy Rachman, Budayawan Sulsel, sudah cukup untuk memberi jawaban. Alwy menulis, “Di kerendahan Sulhan Yusuf membincang manusia melalui satir yang santun, bukan sarkasme yang kasar. Satir santun dialamatkan pada politikus, kepada demokrasi, dan kepada kekuasaan. Di ketinggian, Sulhan Yusuf berkisah tentang cinta, tentang persahabatan, tentang kedirian, tentang hak dan tentang jiwa.”

Tentu, Tutur Jiwa ini hadir tidak untuk mengganti kitab suci (karena sama-sama berbincang soal ketinggian dan kerendahan) agama-agama dan Sulhan mendeklarasikan dirinya sebagai nabi.  Meskipun kearifan yang kemudian dibukukan itu proses kreatifnya hampir sama dengan cara para nabi mencatatkan wahyu Ilahi. Di malam itu Sulhan bercerita, di suatu ketika dia sedang menemudikan motor dan sedang membonceng istrinya, Mauliah Mulkin. sembari mengamati kenyataan di sekelilingnya, tiba-tiba Sulhan berhenti, mengambil pulpen dan kertas, kemudian mencatatkan satu paragraf mengernai kenyataan yang dihadapinya. Yah, seolah-olah Sulhan mendapatkan wahyu.

Tapi, Sulhan memperingati peserta, ini bukan wahyu dan dia bukan nabi. Lantas,  bisikan itu dari mana? Jika kembali pada pembahasan sebelumnya, sudah pasti bisikan itu datang dari permenungan pribadi Sulhan sendiri, ketika pada posisi itu Sulhan menjadi Sang Guru dan sekaligus menjadi Sang Murid, Han. Memang, bukan kitab suci. Tapi, isi teks yang ditawarkan Sulhan bisa menjadi panduan para pembacanya untuk merenungi diri sendiri dan kenyataan di luar dirinya: Tutur Jiwa sudah pantas menjadi kitab untuk membawa para pembacanya bergerak di kerendahan dan di ketinggian.

Literasi Paragraf Tunggal, Apa itu?

Jika kearifan yang larut dalam samudra jiwa Nabi Muhammad Saw kemudian hari disebut sebagai Al-quran, maka sebut saja rangkaian teks kearifan Sulhan dalam Tutur Jiwa ini sebagai “Literasi Paragraf Tunggal”. Apa itu Literasi Paragraf Tunggal? Saya sebagai salah satu peserta dalam diskusi buku itu sebenarnya menunggu kehadiran Alwy Rachman, seorang budayawan yang bertanggung jawab atas istilah itu. Maka dari itu, saya hanya bertanya kepada Sulhan saja, yang tahu asal usul istilah itu.

Suatu kesimpulan akhirnya kuracik dari pernyataan Sulhan. Literasi Paragraf Tunggal hadir saat tidak ada padanan kategorisasi sastra yang (mungkin) bisa tepat untuk melabeli teks-teks Tutur Jiwa. Sejauh Alwy membaca buku-buku sastra, belum ada karya sastra yang dituliskan dalam bentuk satu paragraf, dan hampir unsur-unsur sastra terdapat di dalamnya. Tiap Literasi Paragraf Tunggal dalam Tutur Jiwa memiliki unsur cerpen, epigram, aforisme dan puisi. Yah, satu paragraf  yang ditulis dengan rongga yang sangat luas untuk menyimpan kisah dengan kandungan makna yang sangat padat. Kandungan makna yang luas ini juga tercipta karena, tiap teks ditulis dengan jejaring metafora yang kuat. Sehingga ragam tafsir dan tarikan makna bisa diambil dalam rongga yang luas itu.

Apakah Tutur Jiwa suatu produk sastra baru? Anda boleh bilang “ya” dan Anda juga boleh bilang “bukan”.  Sebab, Sulhan sendiri dalam penyampaiannya malam itu mengatakan, jika ia menuliskan tiap teks Tutur Jiwa itu tidak bermaksud untuk menciptakan karya sastra baru, atau motif-motif lainnya. Ia hanya merenung, dan menulis. Itu saja. Labelisasi karya sastra memang selalu hadir dari pembaca dan kritikus. Maka, pembaca dan kritikuslah yang punya wewenang untuk itu. Saya malah melihat, Sulhan tidak punya motif popularitas papun. Karya luar biasa ini lahir justru dari ruang sunyi kesastraan, dan bukan di panggung-panggung elit sastra Indonesia.  Tutur Jiwa tercipta dari semangat altruisme yang selalu hanya hinggap di pinggiran ruang pertunjukan literasi.

Mahasiswa; Kaum Inteligensia

Catatan kecil untuk kawan-kawan mahasiswa baru Jurusan Teknologi Pendidikan UNM, atau untuk mahasiswa baru lainnya, dan untuk diri saya secara pribadi.

***

Setelah mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2MB) dari tingkat Universitas, Fakultas, hingga tingkat Jurusan, apa yang kalian rasakan, kawan-kawan mahasiswa baru? Apa kalian merasa senang sudah bisa menghirup aroma kampus yang selama ini diidam-idamkan? Yang pastinya, hari-hari ke depan akan berbeda dengan hari-hari kalian sewaktu  di sekolah menengah. Kalian akan menemui pengalaman-pengalaman yang lebih kompleks lagi.

Ibarat berpetualang di rimba raya sungai  Amazon. Di sana kalian dapat menikmati  indahnya panorama alam. Jika menelusuri lebih dalam lagi, kalian mungkin mendapatkan buah-buahan yang nikmat, tapi tak menutup kemungkinan akan bertemu monster hutan: anaconda, ikan piranha, atau laba-laba beracun. Persis seperti itu petualangan kalian di kampus barumu kelak: manis dan getir bercampur baur.

Tapi aku senang jika kalian memulai petualanganmu dengan rasa riang gembira. Kuperhatikan media massa memberitakan kegiatan PK2MB itu, dengan wajah kalian terpampang di sana. Ada ribuan tawa dan senyum yang semringah. Kuyakinkan diriku jika suasana hati itu adalah sepercik semangat. Bahwa kalian sangat yakin,  jika akan ada masa ketika gelar sarjana yang direbut dalam empat tahun yang akan datang menjadi kunci untuk membuka pintu kesuksesan: seragam PNS sudah mulai berseliweran di dalam imajinasi mungil kalian. Selama bertahun-tahun doktrin itu tak pernah lekang di telan masa: suatu kepercayaan bahwa kampus adalah ruang pencetak PNS atau karyawan swasta.

Hal tersebut  sesungguhnya tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar.  Sejak saya diminta oleh salah seorang mahasiswa Teknologi Pendidikan untuk menuliskan catatan ini, kuiyakan segera. Karena inilah kesempatanku untuk mewartakan pesan ini: kampus tidak sesederhana image yang kalian bangun, kawan. Yah, terlalu kecil peran kampus jika hanya sebagai ruang pencetak  manusia-manusia pekerja.

Sejatinya kampus adalah ruang di mana peradaban itu bermula, dan mahasiswa adalah output Pendidikan Tinggi  yang seharusnya berperan mengubah jalannya sejarah. Karena kampus ibarat kawah candradimuka, tempat membenahi diri, menuju kaum inteligensia! Ketika kalian telah sukses menjadi kaum inteligensia, kesuksesan lain pun pastinya akan mengikuti: menjadi PNS begitu mudah, apalagi jika hanya menjadi sales atau marketing di suatu perusahaan.  Maka, kesuksesan materil seperti itu hanyalah efek-efek kecil ‘revolusi diri’ yang kalian lakukan.

Syahdan, apa itu kaum inteligensia? Seorang Sosiolog, Ignas Kleden mendefinisikan, kaum inteligensia sebagai kaum terpelajar dan terdidik yang berperan sebagai ujung tombak perubahan dan pembaruan masyarakat.  Melalui definisi ini, kaum inteligensia dipahami sebagai kaum yang cerdik pandai, yang memiliki tanggungjawab moril untuk memperbaiki tatanan masyarakatnya.  Untuk itu, sejak memasuki dunia kampus, kalian sebenarnya telah lahir menjadi bayi-bayi peradaban. Maka jadikan kampus tempat mendulang ilmu pengetahuan dan mengasah kepekaan sosial. Agar setelah selesai nanti, kalian telah siap menjadi kaum inteligensia di tengah-tengah masyarakat.

Lantas, bagaimana menjadi kaum inteligensia? Asah minat literasimu, rakuslah membaca buku! Sebab buku adalah sarapan rohani yang utama untuk menjadi  kaum inteligensia. Tentu, buku yang saya maksudkan di sini adalah segala jenis dan judul buku  yang ada (kecuali majalah porno). Bahwa, menjadi mahasiswa tak hanya membaca buku yang kalian beli dari dosen semata, untuk kepentingan penguasaan akademik belaka. Tapi menjadi mahasiswa, mesti giat membaca buku apa saja. Baik itu buku-buku fiksi, maupun  buku-buku filsafat.

Kawan, keterpurukan bangsa Indonesia saat ini salah satunya diakibatkan oleh minat literasi masyarakatnya yang rendah. Bayangkan, hasil studi deskriptif Central Connecticut State University, Amerika Serikat mencatat, Indonesia berada di peringkat 61 dari 60 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya. Dan sampai saat ini kita belum bisa menandingi  Jepang yang warganya terkenal sebagai pecandu buku—bahkan di dalam kereta saja warga Jepang menyempatkan diri untuk membaca. Maka dari itu kita jauh tertinggal oleh Finlandia yang warganya paling terpelajar  di dunia.

Jika kaum mahasiswa di Indonesia malas membacas buku, generasi apa yang akan dihasilkan kelak untuk membangun negeri ini? Indonesia sudah sekarat, kawan. Sudah amat lama. Dan sampai saat ini, kita belum punya cukup banyak generasi brilian, yang bisa diharapkan untuk bergotong royong membangun bangsa ini.  Kalian telah memasuki ruang pengap kampus. Kelak, ketika telah menyandang gelar sarjana, kalianlah yang akan menentukan baik dan buruknya peradaban bangsa ini.  Jika sedari mahasiswa, semangat literasi itu sudah tumpul, kualitas kelimuan juga tak lebih baik dari anak SMA, maka peradaban apa yang bisa dihasilkan dari sarjana seperti itu?

Menjadi kaum inteligensia juga tidak hanya gandrung membaca buku, dan menari-nari di jagat teoritik. Kaum inteligensia memiliki kepekaan sosial yang menggugah. Maka, di dalam pengalaman mahasiswa kalian yang melelahkan nantinya, sempatkanlah diri terjun ke tengah-tengah masyarakat. Berbaktilah sesuai tingkat kemampuan kalian. Buatlah hasil bacaan dan ilmu akademik kalian menjadi berguna untuk banyak orang. Sebab, ilmu dan praktik tidak pernah saling beroposisi. Justru saling mengisi.

Kalian tahu? catatan kecil  ini bahkan menampar diriku sendiri. Saya kuliah tujuh, tapi belum menjadi sarjana yang baik. Melalui catatan ini, kusampaikan sebuah harapan, jadilah generasi-generai yang lebih baik—lebih cerdas, lebih inovatif, lebih revolusioner— dari generasi-generasi  terdahulu.  Tapi, kalian masih baru. Tentu kalian butuh teman yang dapat mengajakmu menuju kaum inteligensia. Maka bergaullah dengan mahasiswa dan dosen yang bermutu, yang memiliki etos literasi yang baik, dan memiliki jiwa pembaharu yang berapi-api.

Karena tidak semua mahasiswa bisa diajak untuk mengasah diri menjadi kaum inteligensia. Kelak, kalian akan menyaksikan ratusan mahasiswa yang seolah-olah terlihat seperti kaum inteligensia. Mereka senang mengatakan dirinya organisatoris. Tapi pikirannya hanya sanggup memikirkan ide-ide yang dangkal: hanya pintar membuat bazar, paling banter menyelenggarakan latihan kader. Ada pula yang gandrung meneriakkan term ‘revolusi’ dengan suara lantang dan serak di jalan raya yang sesak. Tapi yang kita temui dari huru hara yang mereka ciptakan hanyalah asap tebal yang menyelimuti cakrawala, atau kemacetan yang berkepanjangan, atau hujan batu yang menyisakan darah dan keringat. Selebihnya, kesia-siaan.

Aktivisme kaum inteligensia tidak seperti itu, kawan. Gerakannya betul-betul menawarkan solusi perubahan. Tawaran perubahannya diracik dari jejaring ide-ide yang kompleks. Kaum inteligensia tak muluk-muluk  mengaku revolusioner ataupun demonstran sejati. Namun, mereka bisa berhasil memperbaiki tatanan masyarakatnya, meskipun sumbangsihnya kecil.

Seperti itu pula dosen-dosen kalian. Tidak semua dari mereka bisa diajak untuk mengasah diri menjadi kaum inteligensia. Kelak, akan ada jenis dosen yang melihat pertumbuhan mahasiswanya hanya melalui kalkulasi-kalkulasi IPK semata, dan bukan karena keluasan wawasan maupun produktivitasnya dalam berkarya dan membangun masyarakat. Dan, akan ada jenis dosen yang tidak memberi kesempatan untuk menjadi kritis apalagi mengasah minat literasi kalian. Tetaplah bergaul dengan dosen seperti itu, tapi jangan berharap banyak pada mereka. Mereka adalah produk gagal dunia akademis.

Mungkin catatan kecil ini terkesan menggurui. Tapi sejatinya tak ada maksud untuk itu. Toh, ketika harapan-harapan yang tertuang di dalam catatan ini tidak kalian pedulikan, tak ada masalah.  Jika kalian menyepakati isi catatan ini, maka persiapkan bekalmu menuju  kaum inteligensia. Bergegaslah! Di luar pagar kampus yang berdebu dan mulai berkarat itu, dunia kehidupan yang boyak telah menantimu. Dengan harap, ilmu pengetahuan yang kalian asah dapat bermanfaat untuk orang banyak.  []

Pertemuan di Shinjuku Gyoen dan Puisi-Puisi Lainnya

Pertemuan di Shinjuku Gyoen

 

Suhu udara Tokyo mulai hangat.

Bunga sakura di Shinjuku Gyoen seperti bercerita

tentang sebuah negara yang selalu bersinar, ibarat matahari.

Tapi tak ada yang kilau di Negeri Matahari Terbit siang ini.

Tak ada cahaya menyebar menutupi pandanganku.

Segalanya jelas, dan kita saling tatap.

Aku tak tahu persis bagaimana Tuhan merencanakan sebuah takdir.

Pertemuan kita seperti sudah tertuliskan di catatan harianNya

tanpa kutahu mengapa kita yang mesti bertemu.

Musim semi kali ini merekam banyak cerita

yang mesti dilanjutkan atau diakhiri saja.

Tapi takdir Tuhan tak pernah cacat.

Bunga sakura telah mekar,

harapan akhirnya mekar juga.

 

 

Festival Kembang Api Nagaoka

 

Malam ini kulihat masa depan yang cerah

pada percik kembang api di Nagaoka.

Kehidupan yang akan kita lalui sepertinya

lebih panjang dan berliku dibanding Sungai Shinamo.

Tapi genggaman tanganmu di pinggir sungai itu seperti isyarat.

Jika aral melintang di waktu mendatang

bukanlah perkara yang mesti dicemaskan.

Sepertinya, hari-hari di musim panas ini justru akan sejuk.

Lalu, jangan tanyakan bagaimana aku

menikmati festival kembang api malam ini.

Aku lebih menghayati percik hanabi di pikiranku,

yang membawaku ke suatu masa akan datang.

 

 

Ciuman Musim Gugur

 

Bibirmu adalah pagi yang sejuk.

Menumpahkan embun.

Kali ini bibir itu tak semerah

daun musim gugur Hokkaido.

Gincu hanyalah zat kimia

yang tak ingin kau lumuri di bibirku.

Di pangkal pendakian Akadake,

Ginsendai semacam gairah yang membuncah.

Jiwa-jiwa kita berwarna-warni,

serupa taburan warna-warna daun

di musim gugur yang rimbun

 

 

Yang Telah Berakhir di Shirakawa

 

Pagi ini hujan tak turun lagi.

Tapi langit tak menumpahkan salju.

Tubuhmu tak sedang di Shirakawa.

Kenangan mengering.

Genangan menguap oleh terik.

Tapi sebenarnya kenangan itu tak perlu diingat.

Ia tak seindah sejarah Gassho-Zukuri.

Seandainya ingatan bisa dikubur,

kan kubawa kau sekali lagi melintasi prefektur Gifu

pada Desember yang beku.

Biarkan sejarah itu ditenggelamkan salju,

bersama dengan tanah Shirakawa.

Kau hanya belum tahu,

punggungku sudah punya sepasang sayap malaikat.

Membaca Manusia Secara Filosofis tapi Puitis ala Nirwan Ahmad Arsuka

Percakapan dengan Semesta (PDS) adalah buku tipis. Sang pengarang, Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Gerakan Pustaka Bergerak, hanya meraciknya dari tiga esai yang kemudian menghasilkan 120 halaman belaka. Tapi yakinlah, buku ini begitu padat akan sajian diskursus. Para pembaca tidak hanya diajak menyelami tema-tema kebudayaan, tapi juga filsafat, sains, sejarah, yang diracik padu untuk membaca manusia. Manusia akan dilihat pada pertautannya dengan semesta (esai pertama), pertautannya dengan citra-citra foto (esai kedua), dan manusia yang ditafsirkan dalam sebuah karya sinema (esai ketiga). Pertautan-pertautan itulah yang sekaligus membuka tabir-tabir problem kemanusiaan.

Meski diskursus yang disajikan cukup padat, tapi kiranya tidak menjadi kendala bagi psikologi pembaca era kiwari, yang tentunya cepat bosan dengan bacaan-bacaan yang menguras pikiran, apalagi untuk pembaca pemula. Sebab yakinlah, Anda tak akan bosan dengan gaya menulis Nirwan yang begitu sastrawi. Sehingga ragam macam pembahasan filosofis di dalamnya menjadi indah untuk dibaca, sehingga dapat membuat orang betah menghabiskan setiap paragraf yang diracik dari paduan bahasa teknis-ilmiah dan puitik: perbincangan filosofis akhirnya ibarat menyelami teks-teks puisi.

Rekaman manusia itu sudah bisa kita temukan esai pertama PDS, “Percakapan dengan Semesta”, yang mengangkat tema mengenai bagaimana manusia memahami semesta, dan menceritakannya. Upaya memahami semesta itu, yang dalam buku ini sudah berlangsung sejak leluhur manusia mulai berimajinasi terhadap data-data pengalaman kesehariannya. Dan pada dinding padas itulah hasil memahami semesta—atau hasil percakapan dengan semesta dalam bahasa Nirwan— dinarasikan dalam bentuknya yang paling purba: melalui gambar-gambar imajinatif, dengan sentuhan teknologi lukis yang masih sederhana.

Kemudian waktu bergerak, diikuti pula dengan gerak vertikal kecerdasan manusia. Hingga manusia bisa sampai pada ekspresi memahami (percakapan dengan) semesta yang jauh melampaui usaha-usaha epistemik tradisional yang pernah ada. Ekspresi memahami paling mutakhir itulah yang dalam era kiwari dibilangkan sebagai pengetahuan ilmiah. Pengetahuan yang bagi Nirwan “berkembang menjadi bentuk percakapan tertinggi karena ia berusaha sepenuhnya menjadi dialog (hal.9)”. Dialog itu terjadi ketika teori ilmiah coba dikorespondensikan dengan kenyataan, dan akan bisa benar atau salah tergantung semesta menyepakati atau tidak (sesuai dengan realitas apa adanya atau malah melenceng).

Namun, percakapan dengan semesta ini, bukannya tidak melahirkan rasa cemas. Dari awalnya Nirwan menarasikan sejarah percakapan semesta-manusia dengan optimisme yang kuat, tetiba ia menunda optimisme itu pada refleksi era kiwari. Era yang bisa saja menjadi jalan buntu manusia untuk terus menerus mengembangkan dialog mutakhir dengan tatanan kosmik dan segala hamparan misterinya. ketakutan Nirwan ada pada kalangan akademisi yang hanya memuja gelar akademik, tapi begitu berjalan mundur dalam menarasikan semesta.

Ketakutan itu juga terletak pada masih menjamurnya pemujaan pada pandangan dunia tertutup: pandangan dunia yang bisa menjadi ancaman bagi perkembangan ilmu pengetahuan, yang menyaratkan keterbukaan untuk mengkritik, dikritik dan bereksperimen pada hal-hal yang baru. Dan kemunduran memahami semseta pada akhirnya ada pada kemampuan otak manusia itu sendiri, yang harus tunduk pada hantaman ombak informasi yang datang tiada henti. Masalahnya kemudian, “Luapan informasi yang datang dari segala penjuru mengepung manusia tidak dalam kuanta dan paket yang bisa dicerna. Agar bisa dicerna, arus informasi itu harus disederhanakan dan disesuaikan dengan daya cerna manusia: sejumlah informasi pun disingkirkan. Penyingkiran informasi itupun bisa bersifat temporer, juga permanen. Jika ia permanen, manusia dengan mudah melakukan kekerasan kognitif dengan mudah (hl.23),” begitulah ketika Nirwan menarasikan masa depan otak manusia yang kian murung. Penyesuaian informasi oleh daya cerna manusia akhirnya menjadi problem. Informasi yang ditelan kemudian banyak yang belum terbukti secara logis, kritis dan sesuai dengan kenyataan apa adanya, karena daya cerna otak manusia yang rendah hanya menginginkan informasi yang bisa langsung menentramkan, tanpa perlu dipikirkan matang-matang. Jika manusia pada keadaan epistemologis seperti itu, perbincangan pada semesta sukar untuk berkembang.

Di dua esai lainnya, Nirwan memulai perbincangan tentang manusia pada hal yang mungkin di kalangan awam begitu remeh-teme, tapi penting setelah dibedah secara filosofis: fotografi dan sinema. Untuk tema mengenai fotografi, Nirwan mencoba membedah pemikiran Susan Sontag dalam sebuah esai, “Susan Sontag: Citra-Waktu”. Pembahasan yang tidak melulu mendeskripsikan pemikiran filosofis Sontag mengenai fotografi, tapi juga berupaya mengkritiknya. Melalui esai inilah, Nirwan juga bergerak untuk membaca manusia pada relasinya dengan citra-citra fotografi. Fotografi ini, yang bagi Sontag memang sebagai mahakarya teknologis abad ini, tapi justru menjadi jalan buntu untuk menyelesaikan problem epistemologis dan etis dari manusia.

Fotografi memang bisa menguasai waktu, tapi tak bisa menguasai ruang: problem epistemologisnya terletak di sini. Yang tertangkap pada kamera hanyalah irisan kenyataan yang sukar menjadi medium untuk manusia menilai kenyataan itu secara apa adanya. Itu karena kehadiran separuh kenyataan dalam foto berarti ketersediaan informasi di dalamnya juga terbatas. Sementara problem etisnya adalah, fotografi dalam amatan Sontag, bukannya menjadi medium untuk menyelesaikan problem kemanusiaan (misalnya mengintervensi simpati manusia untuk revolusioner dengan melihat foto-foto bencana atau perang), citra foto malah membekukan keberpihakan manusia (berhadapan dengan gambar foto perang, misalnya, membuat manusia serasa tak berdaya, dan hanya bisa diam).

Nirwan bergerak melampaui amatan Sontag. Bukannya menyalahkan citra foto—seperti yang dilakukan Sontag—, Nirwan malah melihat problem itu pada manusia itu sendiri: pada kualitas daya cerna manusia saat berhadapan dengan kenyataan pada citra foto. Keterbatasan kognitif manusia inilah yang kerap membuatnya selalu lupa jika foto bukanlah visualisasi kenyataan yang utuh. Sementara problem etis yang disangka Sontag pada fotografi, Nirwan hanya mengatakan ini: “Bila benar bahwa limpahan citra penderitaan manusia akan membuat kebas mereka yang menatapnya, maka gelombang bantuan kemanusiaan pasca-tsunami dan gelombang bantuan bencana alam lainnya, tentunya tak akan terjadi. Awalnya, mereka yang menatap foto-foto dan rentetan bencana tsunami mungkin memang terpaku beku, tetapi kemudian mereka bergerak (hal. 51-52).”

Tentu, isi esai kedua dalam PDS tak sesederhana yang saya bilangkan itu. Esai ini diracik dengan sangat cerdas. Analisisnya sangat kuat dan mendalam dalam melihat diskursus fotografi Sontag yang banyak menyisakan problem filosofis itu. Tapi juga tak sepenuhnya menyalahkan Sontag. Pada beberapa hal, Nirwan bahkan mendukung pikiran-pikiran revolusioner pakar fotografi itu. Amatan dalam esai ini akhirnya terlihat bijak dalam menanggapi suatu diskursus. Meskipun memang, esai kedua ini akan rumit dipahami jika tak dibekali banyak kosakata teknis-ilmiah, dan ketakbiasaan membaca teks-teks analogi dan metafor: struktur teks dalam esai kedua ini seperti memaksa setiap orang memaksimalkan proses kognitifnya dalam memahami isinya.

Terakhir, pada esai yang ketiga, manusia coba direkam Nirwan dalam pertautannya dengan cita ideal dan semangat kepahlawanan dari film Hero Episode 2 dengan mengangkat judul esai, “Pedang dan Dunia ‘Hero’ Episode 2”. Film yang dianggap Nirwan sejak Hero Episode 1 “tak tuntas menggali pengertian arketipe tentang pahlawan dalam psike Timur (hal. 92).” Film ini, kata Nirwan, “mentok jadi propaganda bagi kediktatoran dan aneksasi, bagi paham legalisme yang mempromosikan kuatnya negara di depan masyarakat, yang dengan sistematis dilemahkan (hal.92).”

Model kepahlawanan dalam psike Timur yang belum tuntas digali dalam Hero 1, sepertinya tak bisa saya komentari lebih lanjut. Apakah yang dimaksud adalah, karena ia film dari Timur (Cina) maka hendaknya merepresentasikan citra kepahlawanan dalam kebudayaan Timur? Sebab memang, film ini bercerita banyak tentang kepahlawanan: bagaimana seorang manusia (4 pendekar), yang sudah jengah dengan kediktatoran penguasa, coba melakukan persekongkolan untuk membunuh sang Kaisar, dengan melakukan pengorbanan nyawa (atau dalam akhir film Hero 1, justru terjadi negosiasi dengan sang Kaisar untuk menjadi “tiang utama” terbentuknya kerukunan antar kerajaan, yang sebenarnya juga bisa dikata sebagai puncak kepahlawanan.). Tapi, apakah memang pesan kepahlawanan dalam film ini, tidak sepenuhnya mewedarkan perspektif kepahlawanan di belahan Timur?

Terlepas dari itu, dalam esai ini, Nirwan sebenarnya lebih memusatkan perhatiannya membedah nilai seni dan muatan sastra dalam struktur film Hero 2 (dan sesekali menyinggung Hero 1), mulai dari kualitas sinematorgafinya yang sangat memukau, hingga jalinan puisi yang menubuh pada setiap adegan dan tuturan para pelakon film. Hingga, pembacaan atas manusia lebih padat pada dua esai pertama ketimbang esai terakhir ini.

Namun, Nirwan pada esai ketiga ini tetap tidak meninggalkan gaya menulisnya yang khas: puitis dan filosofis. Bahkan, membaca esai ini, seperti membaca sebuah cerita pendek yang menceritakan huru-hara di belahan Cina di zaman kerajaan, dengan mengolah kembali kisah-kisah Hero 2 dalam bentuk teks.

Memulai Epistemologi yang Berdialog, Menyudahi Fanatisme: Upaya Mendekati Nalar Lintas Disiplin

Belakangan ini, kita dirundung problem mengenai masa depan kedaulatan berpikir masyarakat. Agama diseret oleh pemeluknya menjadi penafsir tunggal atas kenyataan. Agama kemudian jadi beku, dan anti dialog. Di sela-sela itu, bermunculanlah kalangan agamawan yang menanamkan kepercayaan fanatik terhadap bentuk negara seperti apa yang mesti ditegakkan, dan seperti apa wujud pemimpin yang diinginkan Tuhan.

Tentu, permasalahannya terletak pada tertutupnya kemungkinan pengetahuan lain sebagai pertimbangan alternatif untuk menilai kenyataan, akibat absolutivisme yang berlebihan itu. Padahal pembentukan negara, misalnya, bukan hanya melulu bersandar pada rujukan teologis, tapi juga pertimbangan teori-teori sosiologi dan kebudayaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap fenomena mesti dilihat secara multidimensional: punya keterkaitan dengan ranah sosial, politik, ekonomi, dan tak hanya pada ranah religius semata.

Pengandaian ini sudah harus dilakukan, untuk menyikapi sikap fanatik berlebihan yang akhir-akhir ini memenjara cara pandang pada satu elemen pengetahuan saja. Dan tak tanggung-tanggung, problem etis dari fanatisme itu memang sangat menyeramkan: penyingkiran terhadap yang beda, intimidasi dan diskriminasi terhadap minoritas, dan sikap radikal yang bukannya revolusioner, tapi malah membawa petaka.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada diskursus agama-agama, izinkan saya mengungkapkan hal ini:

Pada permasalahan etis itu, umat beragama memang sudah harus membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan epistemologi lainnya, mencoba berintegrasi dalam dialog yang dinamis, untuk menghadapi gejala sosial yang kompleks ini: situasi multidimensi yang tak hanya bisa diselesaikan dengan suara kebenaran tunggal agamawan.. Integrasi di sini bukan dalam rangka pembauran epistemologis sehingga ciri esensial pengetahuan menghilang. Tapi lebih pada organisasi setiap bentuk pengetahuan untuk saling bahu membahu membaca kompleksitas berdasarkan wilayah rujukan masing-masing. Puncaknya akan melahirkan kesepahaman dan saling tukar tambah pengetahuan untuk pembacaan fenomena secara menyeluruh, dan tidak sepotong-sepotong. Hal ini kiranya lebih membawa perubahan, daridapa harus saling bersikukuh menyingkirkan yang beda, untuk penegakan doktrin keagamaan yang bisa saja sudah jauh berbeda dari apa yang dimaksudkan Tuhan, oleh karena rentang sejarah interpretasi yang terlalu panjang.

Seperti belum lama ini, dunia sains dikejutkan dengan penemuan kemungkinan lahirnya hibrida babi-manusia, dengan memasukkan sel-sel manusia ke dalam embrio babi. Jun Wu dan rekan-rekannya di Salk Institute, yang menginisiasi penelitian itu, memanggil makhluk baru itu dengan nama khimaira, yang diambil dari nama mahluk legendaris dari mitologi Yunani yang berwujud gabungan dari tiga hewan: berbadan kambing, berkepala singa, dan berekor ular. Melalui penelitian secara berkala, akhirnya khimaira mampu bertahan hidup di dalam perut babi. Yang hendak dicapai dalam penelitian itu adalah, terciptanya organ manusia di dalam tubuh babi, meskipun harus melalui tahap penelitian bertahun-tahun untuk mencapai penyempurnaan. Namun melalui itu, gerbang masa depan bagi transplantasi organ mulai terbuka.

Jika kelak, organ manusia bisa tumbuh di dalam tubuh babi, dan menjadi jawaban bagi ketersediaan organ buat keberhasilan transplantasi, bagaimanakah agama akan dibawa untuk menyikapi itu? Apakah transplantasi organ nantinya menjadi haram, mengingat donor organ berasal dari babi, dan setelah itu melaknat atau mengajak perang para penemunya? Ataukah mencoba bersikap terbuka, dengan merancang fatwa untuk memerbolehkan transplantasi itu, yang mungkin pada batas-batas yang sangat sudah mendesak dan bisa ditoleransi, mengingat hal ini adalah menyangkut hidup-mati seseorang? Penilaian final soal penyikapan atas temuan itu bisa ditarik ketika tafsir teologis bersedia didialogkan dengan ragam macam bidang ilmu, termasuk sains itu sendiri. Sebab persoalan itu harus dipandang sebagai realitas yang bersifat menyeluruh.

Ilmu pengetahuan kian berkembang. Sementara agama hanya diseret ke permasalahan yang amat purba, yang sama sekali tidak mengandung visi peradaban: pelarangan pembangunan tempat ibadah, soal-soal aliran sesat, soal-soal pemimpin kafir, dan ngotot-ngototan merasa paling benar. Pemujaan terhadap fanatisme buta membuat kalangan agamawan akhirnya gagal memersiapkan kemungkinan-kemungkinan perkembangan masa depan, seperti memutakhirkan fatwa-fatwa sebagai implikasi dari dialog dengan penemuan-penemuan sains, filsafat, dan ilmu humaniora. Jika kawasan epistemologi keagamaan tidak ingin dipukul mundur oleh kemajuan, maka berdialog dengan kawasan epistemologi lain adalah perihal yang tak bisa ditawar-tawar: bahkan sunni-syiah bisa saling tukar tambah pengetahuan, demi menjawab realitas keislaman yang saat ini tampil lebih kompleks.

Sains pun mesti demokratis terhadap epistemologi keagamaan, atau kawasan epistemologi lainnya, untuk menjawab kompleksitas permasalahan dunia, atau mengurangi cacat etis dari implikasinya sendiri. Sebab tak dapat ditampik, pada matra yang lebih praktis, sains kerap dirundung problem etis yang cukup mengkhawatirkan. Penemuan-penemuan ilmiah dipergunakan untuk mengembangkan teknologi nuklir, yang telah mengancam perdamaian dunia. Implementasi teori fisika dan kimia pada pengembangan teknologi industri menjadi ancaman bagi kehidupan ekologis. Untuk menyelesaikan problem etis dan kemanusiaan itu, sains mesti harus membuka diri pada model pengetahuan yang memiliki penghargaan besar terhadap eksistensi kosmik dan kemanusiaan, untuk mencapai kehati-hatian dalam implementasi teknis ilmu-ilmu.

Sementara di tataran teoritik, sains juga kerap tunduk pada fanatisme. Metodologi ilmu-ilmu alam diandaikan oleh komunitas ilmiah sebagai satu-satunya yang sanggup menarasikan alam semesta secara apa adanya. Ruang abstrak filsafat, juga teologi disingkirkan dari cabang-cabang ilmu pengetahuan, karena pengandaian teoritiknya tidak berlandaskan situasi objektif alam semesta: yang metafisik dalam filsafat dan yang ilahia dalam teologi disingkirkan oleh model kosmologi yang tercerap dan terjelaskan secara matematis. Sehingga gerak alam semesta tidak lagi menemukan penjelasannya pada penggerak yang berdiri sendiri di luar alam semesta, tapi terjelaskan oleh hukum-hukum fisika. Dalam amatan Newton, alam semesta persis seperti sebuah mesin besar, di mana gerak benda-benda ditentukan oleh gaya-gaya yang berada pada benda tersebut.

Namun apalah artinya fanatisme itu, ketika alam semesta dan seisinya adalah “maha misteri” yang ternyata tak mudah ditekuk oleh keketatan metodologi? Memang benar ketika Nirwan Ahmad Arsuka, dalam bukunya Percakapan dengan Semesta, membilangkan bahwa, “Pengetahuan ilmiah berkembang menjadi bentuk percakapan tertinggi karena ia berusaha menjadi dialog. Para ilmuwan memang terus mengamati dan mengumpulkan fakta lalu berusaha menyusun teori, tetapi teori itu hanyalah usulan belaka. Teori tersebut, draft cerita rekaan itu, harus dibenturkan oleh kenyataan. Hanya yang disetujui oleh semesta yang bisa diterima sebagai cerita semesta yang ilmiah.” Namun, sebagai percakapan tertinggi, pada akhirnya pengetahuan ilmiah harus menyerah oleh semesta yang sebagian darinya susah untuk dipercakapkan: seolah-olah alam raya menyembunyikan sebagian entitasnya. Di sini, eksperimentasi dan pembacaan matematis hanya sampai pada kondisi “mungkin tepat” dalam menarasikan semesta.

Seperti yang dialami oleh kosmologi dan fisika. Pada keterbatasan pencerapan, pada ketakmampuan mengisolasi kosmos menjadi objek observasi, mau tak mau gerak skala besar planet dan bintang-bintang yang misterius itu mesti dicarikan sebuah postulat yang harus benar secara apriori. Dan para ilmuwan sepakat untuk menamakan daya gerak misterius itu sebagai energi gelap. Agar para astronom dan fisikawan dapat menjelaskan gerak percepatan pemuaian kosmos, yang pada penjelasan itu sebenarnya tak jauh beda dengan penjelasan teologi bahwa gerak semesta adalah campur tangan Ilahi. Kehadiran postulat pada akhirnya menjadi tanda kehadiran elemen subjektif dalam ilmu-ilmu empirik: spekulasi nalar dan permainan imajinasi yang jauh hari sudah ditekuni dalam pengembaraan metafisika oleh para filsuf.

Ketika pada akhirnya pengetahuan ilmiah juga tak lepas dari— dalam bahasa Fritjof Capra –“penggambaran kira-kira”, maka apa yang perlu dibanggakan dalam kekurangan pencerapan manusia ilmiah? Bahkan harus menyisihkan ilmu-ilmu lain, tanpa sadar akan keterbatasan metodik dari sains sendiri, yang membuatnya tidak lebih baik dari bermetafisika ala filsafat, misalnya. Einstein pun, dalam perumusan teori relativitas mesti berspekulasi ria dalam menciptakan model-model alam semesta. Membayangkan tata kosmik sebagai kelengkungan ruang-waktu demi menjelaskan betapa dinamisnya alam semesta pada geraknya yang relatif: suatu temuan yang kemudian menghempaskan mekanika klasik ala Newton yang membayangkan alam semesta bergerak secara deterministik. Benda-benda langit akhirnya dibayangkan bergerak relatif sesuai situasi lengkung ruang-waktu yang dihadapinya (seperti kelereng yang bergerak maju namun berubah gerak ketika menemui sebuah lengkungan tanah).

Tapi, terlepas dari itu, pengetahuan ilmiah setidaknya masih lebih maju dari fanatisme keagamaan akhir-akhir ini. Di internal para ilmuwan, preferensi untuk saling kritik teori amat besar. Ketika suatu teori tak bisa lagi diselamatkan, maka ia harus menyerah dengan kedatangan teori baru, yang sekiranya lebih mutakhir menjelaskan realitas. Atau malah masing-masing teori saling bahu membahu mengembangkan narasi ilmiah yang baru. Berbeda dengan, misalnya, Islam yang di internalnya sendiri masih sibuk saling kafir-mengkafirkan sesama, dan saling menghabisi mazhab-mazhab lain demi menyatakan diri sebagai Islam yang paling benar. Padahal ragam cara pandang dalam Islam bisa saling padu dalam membaca kompleksitas realitas keislaman.

Perbedaan pengetahuan ilmiah dan fanatisme keagamaan ini mendapatkan penjelasannya secara apik oleh Nirwan: “Gabungan antara kritik, eksperimen dan kenyataan semesta yang terbuka bagi pemahaman akal manusia (intelligibility), membuat pengetahuan ilmiah tak mengenal istilah ‘pelecehan ilmu’ atau ‘penistaan sains’. Dalam masyarakat ilmiah, mustahil terjadi seorang penyusun teori atau pelaksana percobaan dituntut dan diseret ke meja hijau. Masyarakat ilmiah tak mungkin goncang lantas meletup naik pitam dan jadi haus darah hanya karena selebrasi teorema…”

Ketika cara pandang tertutup dirasa tak memadai lagi, maka setiap dari kita sudah harus rendah hati dalam menerima setiap kontribusi pengetahuan dari realitas pemikiran apapun. Sains mungkin bisa berdialog dengan filsafat pada wilayah kenyataan yang sukar ia sentuh. Atau mungkin saja kosmologi Islam dalam tafsir teologi ulama bisa didukung temuan-temuan kosmologi, fisika dan metafisika, seterusnya demikian. Sehingga ragam macam cara pandang itu bisa saling memahami wilayah rujukan masing-masing.

***

Pada tahun 1996, UNESCO mengundang Edgar Morin—Direktur Emeritus mengenai riset di CNRS, juga sebagai Presiden Perwakilan Kebudayaan Eropa—untuk menguraikan gagasannya mengenai pendidikan masa depan. Dalam paparannya, Edgar Morin mengurai kebutuhan pendidikan masa depan dalam tujuh poin, yang kemudian dibukukan dengan judul Tujuh Materi pending Bagi Dunia pendidikan (Seven Complex Lesson in Education for the Future).

Salah satu poin yang sangat menarik perhatianku—untuk tidak mengatakan bahwa yang lainnya tidak penting— adalah “Prinsip Pengetahuan yang Saling Berkaitan”. Pada poin itu, ia mengkhawatirkan pendidikan dewasa ini yang memecah pengetahuan dalam bagian-bagian yang terspesialisasi. Sementara setiap pengetahuan harus berhadapan dengan realitas yang sejatinya memiliki konteks, kompleksitas, berskala global dan berciri multidimensional.

Pada kondisi itu setidaknya akan terjadi tiga hal: Pertama, pengetahuan akan kehilangan konteksnya. Misalnya, ilmu ekonomi adalah ilmu sosial yang secara matematis paling maju, tapi ilmu yang paling terbelakang secara sosial dan manusiawi karena ia memisahkan diri dari kondisi-kondisi sosial, historis, politis, psikologis, dan ekologis yang sebetulnya tak terpisahkan dari aktivitas ekonomi. Sehingga ekonomi bisa gagal membaca situasi sosial, historis, politis, psikologis, dan ekologis dari masyarakat yang dapat memengaruhi aktivitas ekonominya.

Kedua, maka dari itu akhirnya pengetahuan yang terspesialisasi gagal memahami dimensionalitas kenyataan. Bahwa masyarakat mencakup dimensi sosiologi, historis, politis, mistis. Sebagaimana juga manusia yang mencakup dimensi biologis, psikologis, sosial dan religius. Ketiga, ketika gagal memahami dimensionalitas kenyataan, akan gagal pula memahami kompleksitas kenyataan: bahwa di antara setiap dimensi yang jamak itu sebenarnya adalah kesatuan yang tak terpisahkan.

Amatan Edgar Morin ini setidaknya bisa menjadi refleksi dari problem epistemologi kita yang sudah saya bahas panjang lebar. Bahwa yang diinginkan Edgar Morin dari penjelasan di atas hanyalah bagaimana setiap pengetahuan tidak menjadi spesialisasi yang tertutup. Sehingga masalah itu mesti diselesaikan dengan membiasakan pengetahuan saling relasi, untuk mencegah ketidaklengkapan penalaran dalam membaca realitas. Ekonomi mesti berdialog dengan sosiologi, psikologi, teologi, agar kesatuannya itu menghasilkan cara pandang yang lebih menyeluruh dalam memahami manusia yang multidimensi. Pengetahuan yang berkaitan, yang saling berdialog ini, dapat menghubungkan bagian-bagian dari keseluruhannya, agar kenyataan dapat dicerap secara menyeluruh.

Kembali pada penjelasan sebelumnya, mengenai batas-batas pencerapan dalam ilmu pasti. Pada selebrasi teoritik para ilmuwan yang tak menentu dan bisa berubah-ubah, oleh karena jangkauan terbatas dari pencerapan, bisa saja membuka kemungkinan bahwa kosmos tak hanya sebatas kesatuan materi-energi semata, tapi juga punya keterhubungan dengan realitas yang selama ini ditolaknya: realitas metafisik dan spritual. Hal itu mesti diandaikan, jika sedari awal kita memercayai bahwa setiap fenomena itu kompleks dan multidimensi. Maka dengan ini, akan terbuka kemungkinan antara sains, filsafat dan agama bisa bergialog mencari titik temu penyingkapan misteri semesta.

Pengetahuan yang saling berkaitan ini bisa membuka kemungkinan untuk meretas fanatisme epistemologis di segala bidang. Karena kebutuhan membangun relasi terhadap pengetahuan lainnya akan menjadi suatu kondisi sadar diri akan batas-batas epistemologi setiap pengetahuan. Sehingga masalah ekologi, misalnya, tidak hanya bisa diselesaikan oleh ilmu lingkungan semata, apalagi sarjana ilmu lingkungan mau ngotot bahwa bidangnya sudah cukup untuk (dan hanya ia yang bisa) menyelesaikannya. Bagaimanapun juga masalah ekologi menuntut kehadiran sosiologi, biologi, ekonomi, mungkin juga fatwa-fatwa keagamaan.

Hal inilah yang dalam dunia diskursus dibilangkan sebagai penalaran holistik, atau boleh jadi: nalar lintas disiplin. Karlina Supelli dalam Dari Kosmologi ke Dialog, menyebutnya sebagai penalaran trans-disiplin. Trans-disiplin ini bisa dikembangkan untuk “mencari koherensi narasi dalam keanekaragaman gejala manusia. Atau setidaknya, menemukan saling pengertian akan titik-titik acuan,” ungkap Karlina Supelli. Bahkan, dalam amatan karlina Supelli, “penalaran trans-disiplin menunjukkan bahwa…….jerih payah menemukan kebenaran bukan semata-mata perkara membincang objektivitas. Upaya mencari kebenaran melibatkan dialog metodologis dan kerjasama berbagai bidang pengetahuan dalam bahasa yang dibagi bersama.”

Kamar Gelap dan Puisi-puisi Lainnya

Kamar Gelap

mungkin cinta kita bukan apa-apa

kecuali ia bermula dari kamar gelap

saat kau tak bisa membaca Das Kapital

dan bola mataku hanya memandang hitam

teks-teks buku rujukan skripsi

tapi kita mampu membaca tubuh masing-masing

seperti kita menghayati teks-teks puisi

2017


Pengemis

sampai pada akhirnya burung-burung gereja

membuat sarang di dalam atap masjid

mereka tetap bernama burung gereja

sampai ke seribu kalinya kau

bermunajat tanpa letih di dalam masjid

kau tetap pengemis

sebab itu kau tak serupa pak lurah

yang berganti nama menjadi imam

kala memimpin salat berjamaah

atau kau tak serupa politisi

yang berganti nama menjadi ustad

tatkala berkhotbah di dalam masjid

tapi pikiran Tuhan melampaui nama-nama

olehnya itu Tuhan tak mengenal apa dan siapa

kecuali bagi yang mencintainya

2017

 

Aku adalah Air yang Membakar Api

—aku pula ikan laut yang berenang di atas awan

dan ubun-ubun kepalamu dikerumuni tanda tanya

sebab aku memang rumit

dan kau tak perlu mengerti

2017

 

Si Cilik Dekil

di suatu hari yang terik, macet lagi, seorang cilik dekil di pelipir jalan raya sedang melongok melihat sesosok mayat hilir mudik di udara, seperti layang-layang mengudara ke kiri dan ke kanan. sekali waktu si mayat terkatung-katung, sekali waktu terbang mondar mandi: seterusnya seperti itu. tapi dia bukan hantu, cuma bangkai belaka.

sementara sepanjang jalan raya lagi ribut. segerombolan massa lagi ngamuk di depan gedung DPRD. teriak-teriak tangkap para koruptor!…. tangkap para koruptor! situasi tambah sesak saat puluhan polisi menerobos gerombolan, dan sekumpulan wartawan sedang mencuri celah demi memotret kegaduhan. tapi si cilik dekil terus saja melongok memandangi si mayat yang masih terkatung-katung tak jelas itu.

Dan, hari sudah sore

bau busuk si mayat mulai menyebar seperti udara, bersamaan dengan menyebarnya gas air mata. bemonstran mulai muntah-muntah.“awas, gas itu telah dicampur wangi telur busuk!” kata seorang gondrong. gerombolan berhamburan. si cilik dekil pun tiada hirau dengan hiruk pikuk. masih sajaaaaaaa ia melongok memandangi nanar bangkai itu.

2017

Ilustrasi: http://rhunyc.deviantart.com/art/Dark-room-100858242

Jagal dan Banalitas Kejahatan

Esai ini adalah naskah pengantar untuk diskusi film Jagal (2012) yang diadakan oleh KOFIMA (Komunitas Film Mahasiswa) dan Perpustakaan UNM

img-20161118-wa0007
Suasana saat pembicara menyampaikan materinya

Pernah di suatu masa, Indonesia memasuki babak baru sejarah yang begitu kelam. Masa di mana pergulatan politik dan ideologi menghadirkan peristiwa yang menyedihkan; tentang jutaan jiwa yang dibantai dengan bengis. Ketika itu, kelompok PKI dan/atau yang memiliki hubungan dengan orang-orang komunis (meski dia bukan komunis), dihabisi dengan rupa-rupa modus pembunuhan yang amat keji. Geliat pembantaian itu serentak di semua daerah di Indonesia. Sebab saat itu, Soeharto, sebagai pemimpin dari operasi penumpasan PKI, memberikan kebebasan terhadap setiap orang yang ingin terlibat dalam pembantaian itu. Oleh karena sejarah itu amat monumental, maka sampai saat ini, setiap orang kerap mengenangnya, namun dengan cara yang berbeda. Ada yang mensyukuri polah pembantaian itu, ada pula yang mengutuknya. Kita sebut saja peristiwa itu sebagai pembantaian massal 1965 (penyebutan selanjutnya, “peristiwa 65”).

Sejarah pembantaian itu begitu rumit untuk dilupakan. Sehingga ragam macam cara dilakukan oleh berbagai pihak untuk tetap terus mengenangnya. Melalui studi ilmiah, sastra, musik, drama, macam-macam. Tapi ketika sinema Indonesia berada di puncak perkembangannya, orang-orang pun mengenang peristiwa itu dengan merekonstruksi sejarahnya dalam bentuk film.

Sudah ada beberapa produksi film untuk mengenang peristiwa 65. Di zaman Orde Baru, film tentang PKI sengaja dibuat untuk menanamkan kebencian terhadap mereka yang pernah berideologi, atau dekat dengan orang PKI, agar masyarakat tetap waspada terhadap apa-apa yang berbau komunis: rezim wacana dalam sinema waktu itu dikuasai sepenuhnya oleh diskursus anti-PKI, anti-komunis, yang dibentuk oleh pemerintah. Namun kita telah memasuki zaman yang baru, ketika demokrasi membuka pintu selebar-lebarnya terhadap kebebasan berekspresi. Mulailah bermunculan film yang dibuat untuk menyampaikan diskursus yang lain tentang sejarah, yang pastinya berbeda dengan wacana yang diproduksi Orde Baru.

Salah satu yang pernah heboh di jagat per-film-an adalah Jagal (The Act of Killing), buah karya dari Joshua Oppenheimer. Film ini menjadi heboh karena berhasil membeberkan perihal peristiwa 65 yang berbeda dari pemahaman banyak orang: suatu fakta yang sebenarnya tidak banyak orang yang tahu. Maka wajar saja ketika kehadirannya sangat mengusik banyak orang, mengganggu pikiran mapan beberapa pihak. Lantas apa dan bagaimana sebenarnya Jagal itu?

Suasana diskusi film
Suasana diskusi film

Dokumenter yang Tak Sepenuhnya Dokumenter

Jagal adalah film ber-genre dokumenter, tapi tak hanya sekadar dokumenter belaka. Dikatakan dokumenter, karena berupaya untuk merepresentasikan kenyataan, berupaya merekam fakta-fakta, dan kemudian saling digabungkan agar memiliki plot yang jelas dan sistematik. Dalam film ini, realitas yang direkam adalah hingar bingar kehidupan para pembantai anggota, dan/atau yang terduga sebagai PKI di Medan sewaktu momen peristiwa 65, baik itu sisi kehidupannya sebagai anggota Pemuda Pancasila (PP), sebagai satuan kerabat, maupun sebagai bapak dalam rumah tangga. Salah satunya adalah Anwar Congo, algojo paling beringas di peristiwa pembantaian itu. Dalam film ini, ia memerankan tokoh utama.

Sesungguhnya film dokumenter tak hanya merekam jejak kehidupan sang tokoh, tapi juga turut merekam pernyataan langsung mereka mengenai pengalaman hidup, dan peristiwa yang pernah dialaminya seorisinil mungkin, sejujur mungkin, agar tak terjadi bias. Di sinilah dibutuhkan kecakapan seorang “filmaker” untuk bagaimana lebih dekat dengan sang penutur, agar mereka ingin berbicara secara jujur mengenai tema yang diangkat dalam film. Melalui film ini, akan dikuak bagaimana sang pembantai menghabisi korbannya, motif-motif pembantaiannya, dan seperti apa perasaan sang algojo itu saat dan setelah membantai korbannya, melalui tuturan langsung sang pelaku.

Kemudian, seperti yang telah disebutkan, Jagal juga memuat sisi non dokumenter, atau dimensi fiksi dari sebuah film. Sebab para narasumber menceritakan peristiwa kelam itu dengan memeragakan seni peran (sebagai aktor), merekayasa latar dan peristiwa untuk men-simulasi-kan adegan pembunuhan yang dilakukannya. Model film seperti inilah yang umumnya diproduksi dan ditonton oleh banyak orang, baik di media televisi, bioskop, maupun di media audio-visual lainnya. Hal demikian tentunya membuat film ini terkontaminasi oleh unsur kepura-puraan (fiktif), yang pastinya sangat bertentangan dengan esensi film dokumenter itu sendiri. Sebab bagaimanapun, yang membedakan antara dokumenter dan non dukumenter adalah sisi fiksi dan nonfiksi dalam lakon dan peristiwanya.

Suasana saat para aktor bermain film
Suasana saat para aktor bermain film

Lantas, apakah dimensi fiksi dalam Jagal memiliki peranan yang signifikan, atau malah sebaliknya, merusak dokumentasi fakta itu sendiri? Bagi saya, kecerdasan seorang Joshua Oppenheimer terletak di sini: pengaburan batas antara yang fakta dan yang fiksi dalam sebuah film dokumenter. Sehingga, buah karyanya begitu khas dan orisinil. Dan, jika berbicara mengenai penting-tidaknya fiksi dalam film ini, bagi saya, di sisi lain memang memiliki kegunaan tersendiri.

Telah banyak film non dokumenter yang idenya berasal dari kisah nyata, namun diperankan oleh yang bukan pelaku sejarah itu sendiri. Dalam film ini, adegan pembunuhan, juga pembantaian justru dilakukan oleh pelaku sejarah. Sehingga dari segi peran, rekonstruksi kejadian yang hendak diceritakan bisa mendekati kenyataan, baik perilaku si tukang jagal di kala melakukan pembantaian itu, maupun gambaran suasana ruang dan kejadian ketika ia membunuh. Sehingga baik sisi psikologis pembantai maupun sisi suasananya, memberikan gambaran yang lebih utuh soal bagaimana kebengisan si tukang jagal menghabisi korbannya sewaktu peristiwa 65 itu.

Saya sempat bertanya-tanya seputar proses pembuatan film ini. Yakni, mengenai kesepakatan antara sutradara dan para narasumber/aktornya. Sebab, bagaimanapun, adalah hal yang sungguh tabu ketika para pembantai itu hendak menceritakan apa dan bagaimana dia melakukan pembantaian itu (bahkan mereka mengisahkannya dengan penuh kegembiraan dan rasa percaya diri). Bahkan sang sutradara berhasil memasuki ranah paling privat dari para jagal itu, dan itu direkam tanpa ada rasa gugup dan curiga dari tampang mereka (ranah paling privat itu semisal mereka direkam saat pesta bir, bertemu dengan jaring-jaring kekuasaan, memalak pedagang pasar, sampai kehidupan pribadi sang narasumber).

Maka di sini, ada dua kemungkinan yang bisa kita tarik. Pertama, bahwa Joshua—entah bagaimana ia melakukannya—berhasil bernegosiasi dengan para jagal itu, sehingga pembuatan film ini menjadi mungkin dilakukan. Kedua, Joshua sebelumnya berbohong kepada mereka, atau menggunakan kamera tersembunyi saat hendak merekam peristiwa dan pembicaraan yang seharusnya tak perlu dipublikasi. Entahlah, yang pastinya, salah satu sisi menarik film ini terletak di situ.

Melihat Pembantaian Sebagai Kewajaran

Kemudian soal isi. Sungguh mengejutkan perihal apa yang diperlihatkan Jagal kepada penontonnya: ihwal banalitas kejahatan. Istilah “banalitas kejahatan” saya pinjam dari seorang filsuf politik asal Jerman, Hannah Arendt. Istilah itu hadir saat pemikir berkelamin perempuan itu menyaksikan secara langsung aktor utama pembantai Yahudi saat rezim Nazi berkuasa, sewaktu diadili secara hukum di Israel: Adolf Eichmann. Di situ Arendt melihat ada yang paradoks antara kebrutalan Eichmann dengan tampangnya yang datar, tenang, yang sebenarnya lebih mirip orang baik-baik ketimbang sosok pembantai. Tampang itu pula memberikan cerminan kepada pribadi Eichmann sebagai sosok yang sama sekali tak merasa bersalah terhadap apa yang dia lakukan. Tapi, mengapa dia bisa sebengis itu? Arendt membilangkan, bahwa itulah Banality of Evil (banalitas kejahatan). Yakni, situasi di mana kejahatan tidak lagi dirasakan sebagai kejahatan, tetapi sesuatu yang wajar-wajar saja dilakukan.

Apa hubungan banalitas kejahatan dengan film Jagal? Bahwa setiap pembantai yang direkam dalam film ini, baik itu Anwar Congo, Ady Zulkadry, dkk, sama sekali tidak merasa bersalah atas pembunuhan sadis yang pernah dilakukannya. Maka kekerasan yang dilakukannya pun terasa banal: dianggap sebagai tindakan yang biasa-biasa saja. Bahkan ketika Anwar Congo menjelaskan dan mempraktikkan bagaimana cara ia membunuh korbannya, terasa tak ada beban psikologis yang dialaminya (semisal rasa gugup dan cemas), bahkan dirasanya sebagai tindakan yang heroik (hal itu dilihat dari merasa bangga dan gembiranya ia mempraktikkan metode pembantaiannya).

Saat bagaimana Anwar Congo dengan semangatnya memeragakan metode membunuhnya
Saat bagaimana Anwar Congo dengan semangatnya memeragakan metode membunuhnya

Mungkin karena ketiadaan rasa salah itu, mereka mau-mau saja melibatkan diri dalam proyek film ini. Dan mungkin juga karena ketiadaan rasa salah itu, mereka tak sungkan-sungkan memperlihatkan polah premannya di hadapan kamera, dengan memalak satu persatu pedagang keturunan Cina di pasar. Sungguh polah yang miris, tapi banal. Hal demikian juga sebenarnya implikasi dari pemahaman mereka tentang preman. Bahwa dalam benak mereka, preman berasal dari kata free man: orang-orang bebas. Sehingga secara leluasa kekerasan itu dilakukan atas dasar hakikat mereka sebagai orang merdeka, yang bertindak tanpa syarat dan aturan.

Dan mengenai aturan, mereka memang bebas hukum sewaktu zaman pembantaian massal itu. Sehingga yang mulanya mereka hanya preman bioskop, turut membantai ria orang-orang (yang dianggap) komunis itu. Apakah mereka membantai karena soal politik dan ideologi? Mereka sendiri secara tidak langsung telah menjawabnya: tidak! Seperti pengakuan mereka, pembantaian yang dilakukannya karena si PKI itu melarang film Hollywood masuk secara leluasa di bioskop Indonesia, karena dianggap sebagai produk neo-kolonialisme. Sehingga hal ini mengancam pendapatan mereka yang sebagian besar berasal dari keuntungan yang diraup melalui penjualan karcis bioskop. Sehingga melalui ini, sang sutradara berhasil mengolah “narasi baru” mengenai tindak-tanduk pembantaian yang dilakukan masyarakat waktu itu. Bahwa sebagian dari mereka membantai atas dasar tidak suka, atas dasar menyenagi kekerasan itu sendiri, dan bukan karena motif politik, apa lagi ideologi. Ringkasnya, mereka membantai atas dasar motif-motif premanisme.

Namun, bagaimana pun kejinya, setiap manusia memiliki rasa iba. Kekuatan film ini, selain memasuki ranah paling privat kehidupan tukang jagal itu, juga berhasil menyeret salah seorang dari mereka untuk “bercermin” kembali. Dengan memberikan peran sebagai korban kepada Anwar Congo, akhirnya sang sutradara “menjebak” Anwar Congo untuk merasakan beban berat seorang PKI yang pernah dibantainya. Di akhir film ia menangis, tanda bahwa ia menghayati betul kesakitan yang dialami oleh para korban. Yah, sang pembantai, sekalipun begis tetap adalah manusia, yang memiliki rasa simpati.

Yang mesti dicatat, bahwa pembahasan ini tidak dirancang untuk membela PKI, ataupun komunisme. Bahkan saya secara pribadi, setidaknya pada level gagasan, tidak sepenuhnya sepakat mengenai doktrin komunisme. Pembahasan ini hanya diarahkan untuk melihat secara jernih satu dimensi patologis manusia. Bahwa ada saja manusia yang dengan senang hati ingin membantai, bahkan menganggapnya sebagai tindakan yang heroik, dan wajar-wajar saja. Bukankah sampai saat ini, masih sering kita dapati perilaku demikian, menjadikan kekerasan sebagai prestise? Karena bagaimanapun, laku membantai, apalagi dengan alasan yang tak jelas, adalah tindakan melanggar HAM!

Yang juga tak kalah mengherankan, sesuai yang direkam oleh Joshua, ternyata para pembantai itu memiliki akses yang mudah dengan kekuasaan. Sangat gampang bagi Anwar Congo untuk menemui Gubernur, juga Pak Menteri. Kita bertanya-tanya, mengapa itu bisa? Sebab, fakta sebaliknya, para korban atau keturunan-keturunan korban, untuk menjadi PNS saja susahnya bukan main. Di sini ada kesan yang terbentuk, bahwa para jagal itu kemudian dianggap sebagai pahlawan, dan korban (yang masih hidup), juga keturunan korban kemudian dianggap sebagai the other, “bukan orang kita”, dan penjahat yang tak perlu diberikan ruang di republik ini. Lantas, apakah itu suatu ketidakadilan dan melanggar HAM? Mari mendiskusikan ini.