Semua tulisan dari Muhajir MA

Kesehariannya bekerja sebagai jurnalis. Ikut mengasuh kalaliterasi.com dengan posisi sebagai redaktur. Menyukai kopi dan buku. Saat ini bercita-cita untuk berhenti merokok, saat menyadari menjadi Ksatria Baja Hitam itu mustahil.

KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat. read more

Sang Aku di Hadapan Wajah Yang Lain

Jika Anda hendak membantu orang lain. Pernahkah Anda bersikap cuek? Mungkin Anda merasa secara pribadi tidak berkewajiban menolong orang lain. Pada level sosial tertentu, Anda merasa korban tidak terikat secara kebudayaan dengan Anda. Atau karena dia bukan penganut agama yang sama dengan Anda. Di antara miliaran orang di muka bumi ini, saya yakin ada yang bersikap demikian.

Namun kita tahu, persoalan etika kemanusiaan tidak sesederhana itu. Sejahat-jahatnya manusia, setidaknya minimal dalam sekali pernah melakukan perbuatan baik pada orang lain. Saya saja merasa bukan seorang hero yang kerap berperan di film Hollywood. Tapi sesekali muncul suatu perasaan untuk membantu orang lain. Bahkan, pada suatu peristiwa tertentu,  saya kerap merasa  bertanggung jawab atas hidup orang lain. Entah mengapa. read more

Larut dalam Samudra Simbol-simbol: Masyarakat Konsumer dan Permasalahannya

Kapitalisme Pasca-Fordisme dan Lahirnya Masyarakat Konsumer

Sekitar sebulan yang lalu, di Pantai Akkarena, AHM bekerja sama dengan Astra Motor Makassar menggelar acara Honda Bikers Day. Selain menggelar beragam event untuk para bikers, AHM juga memboyong  konsep produk motor trail berkecepatan 150cc. Produk itu dipajang di gelaran tersebut, agar pengunjung dapat melihat-lihat produk yang baru sebatas contoh itu. Hal ini dilakukan agar manajemen AHM dapat mempelajari hasrat konsumen mengenai motor trail seperti yang diinginkan konsumen itu sendiri. read more

Sulhan adalah Han dan Sang Guru Itu Sendiri

Tutur Jiwa dan Beberapa Hal Tentangnya

***

Malam itu, Bedah Buku Tutur Jiwa  Karya Sulhan Yusuf oleh LKIMB UNM di pelataran PKM UNM itu, sepertinya menjadi awal teks-teks kearifan Sulhan menari di belantara realitas, yang mulai kering dari wejangan-wejangan spritual dan filosofis. Tutur Jiwa  hadir seolah memanggil kumpulan jiwa-jiwa muda yang haus akan tutur kebijaksanaan. Puluhan jiwa-jiwa itu duduk bersila, menunggu Sang Guru (sang tokoh spritual Han dalam Tutur Jiwa) berujar mengenai perihal yang dapat membasuh kedalaman batin yang kian kerontang. Ujaran Sang Guru itu tentu bergema melalui perantara Sulhan, sebagai pencatat wejangan-wejangannya. read more

Mahasiswa; Kaum Inteligensia

Catatan kecil untuk kawan-kawan mahasiswa baru Jurusan Teknologi Pendidikan UNM, atau untuk mahasiswa baru lainnya, dan untuk diri saya secara pribadi.

***

Setelah mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2MB) dari tingkat Universitas, Fakultas, hingga tingkat Jurusan, apa yang kalian rasakan, kawan-kawan mahasiswa baru? Apa kalian merasa senang sudah bisa menghirup aroma kampus yang selama ini diidam-idamkan? Yang pastinya, hari-hari ke depan akan berbeda dengan hari-hari kalian sewaktu  di sekolah menengah. Kalian akan menemui pengalaman-pengalaman yang lebih kompleks lagi. read more

Pertemuan di Shinjuku Gyoen dan Puisi-Puisi Lainnya

Pertemuan di Shinjuku Gyoen

Suhu udara Tokyo mulai hangat.

Bunga sakura di Shinjuku Gyoen seperti bercerita

tentang sebuah negara yang selalu bersinar, ibarat matahari.

Tapi tak ada yang kilau di Negeri Matahari Terbit siang ini.

Tak ada cahaya menyebar menutupi pandanganku.

Segalanya jelas, dan kita saling tatap.

Aku tak tahu persis bagaimana Tuhan merencanakan sebuah takdir.

Pertemuan kita seperti sudah tertuliskan di catatan harianNya

tanpa kutahu mengapa kita yang mesti bertemu.

Musim semi kali ini merekam banyak cerita read more

Membaca Manusia Secara Filosofis tapi Puitis ala Nirwan Ahmad Arsuka

Percakapan dengan Semesta (PDS) adalah buku tipis. Sang pengarang, Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Gerakan Pustaka Bergerak, hanya meraciknya dari tiga esai yang kemudian menghasilkan 120 halaman belaka. Tapi yakinlah, buku ini begitu padat akan sajian diskursus. Para pembaca tidak hanya diajak menyelami tema-tema kebudayaan, tapi juga filsafat, sains, sejarah, yang diracik padu untuk membaca manusia. Manusia akan dilihat pada pertautannya dengan semesta (esai pertama), pertautannya dengan citra-citra foto (esai kedua), dan manusia yang ditafsirkan dalam sebuah karya sinema (esai ketiga). Pertautan-pertautan itulah yang sekaligus membuka tabir-tabir problem kemanusiaan. read more

Memulai Epistemologi yang Berdialog, Menyudahi Fanatisme: Upaya Mendekati Nalar Lintas Disiplin

Belakangan ini, kita dirundung problem mengenai masa depan kedaulatan berpikir masyarakat. Agama diseret oleh pemeluknya menjadi penafsir tunggal atas kenyataan. Agama kemudian jadi beku, dan anti dialog. Di sela-sela itu, bermunculanlah kalangan agamawan yang menanamkan kepercayaan fanatik terhadap bentuk negara seperti apa yang mesti ditegakkan, dan seperti apa wujud pemimpin yang diinginkan Tuhan.

Tentu, permasalahannya terletak pada tertutupnya kemungkinan pengetahuan lain sebagai pertimbangan alternatif untuk menilai kenyataan, akibat absolutivisme yang berlebihan itu. Padahal pembentukan negara, misalnya, bukan hanya melulu bersandar pada rujukan teologis, tapi juga pertimbangan teori-teori sosiologi dan kebudayaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap fenomena mesti dilihat secara multidimensional: punya keterkaitan dengan ranah sosial, politik, ekonomi, dan tak hanya pada ranah religius semata. read more

Kamar Gelap dan Puisi-puisi Lainnya

Kamar Gelap

mungkin cinta kita bukan apa-apa

kecuali ia bermula dari kamar gelap

saat kau tak bisa membaca Das Kapital

dan bola mataku hanya memandang hitam

teks-teks buku rujukan skripsi

tapi kita mampu membaca tubuh masing-masing

seperti kita menghayati teks-teks puisi

2017


Pengemis

sampai pada akhirnya burung-burung gereja

membuat sarang di dalam atap masjid

mereka tetap bernama burung gereja

sampai ke seribu kalinya kau

bermunajat tanpa letih di dalam masjid

kau tetap pengemis

sebab itu kau tak serupa pak lurah read more

Jagal dan Banalitas Kejahatan

Esai ini adalah naskah pengantar untuk diskusi film Jagal (2012) yang diadakan oleh KOFIMA (Komunitas Film Mahasiswa) dan Perpustakaan UNM

img-20161118-wa0007
Suasana saat pembicara menyampaikan materinya

Pernah di suatu masa, Indonesia memasuki babak baru sejarah yang begitu kelam. Masa di mana pergulatan politik dan ideologi menghadirkan peristiwa yang menyedihkan; tentang jutaan jiwa yang dibantai dengan bengis. Ketika itu, kelompok PKI dan/atau yang memiliki hubungan dengan orang-orang komunis (meski dia bukan komunis), dihabisi dengan rupa-rupa modus pembunuhan yang amat keji. Geliat pembantaian itu serentak di semua daerah di Indonesia. Sebab saat itu, Soeharto, sebagai pemimpin dari operasi penumpasan PKI, memberikan kebebasan terhadap setiap orang yang ingin terlibat dalam pembantaian itu. Oleh karena sejarah itu amat monumental, maka sampai saat ini, setiap orang kerap mengenangnya, namun dengan cara yang berbeda. Ada yang mensyukuri polah pembantaian itu, ada pula yang mengutuknya. Kita sebut saja peristiwa itu sebagai pembantaian massal 1965 (penyebutan selanjutnya, “peristiwa 65”). read more