Semua tulisan dari Muhajir MA

Kesehariannya bekerja sebagai jurnalis. Ikut mengasuh kalaliterasi.com dengan posisi sebagai redaktur. Menyukai kopi dan buku. Saat ini bercita-cita untuk berhenti merokok, saat menyadari menjadi Ksatria Baja Hitam itu mustahil.

Survei, Quick Count dan Kaum Anti Ilmu Pengetahuan

Survei dan quick count itu prediksi, begitulah cara kerja matematika. Tak puas? Bantah dengan temuan yang lebih kuat, bukan dengan status Facebook.

—————-

Banyak pelawak yang terus saja meragukan hasil quick count perolehan suara kandidat presiden dan wakil presiden dari sejumlah lembaga survei. Saya menyebutnya pelawak, karena berkoar-koar tentang adanya upaya pembentukan opini dari lembaga survei tersebut karena dianggap hasil belum final. Padahal lembaga survei tersebut tidak pernah mengatakan hasil survei dan quick count-nya sudah final. Itu lucu sekali. read more

Laut; Kita dan Puisi-puisi Lainnya

Laut; Kita

Keheningan adalah bahasa langit,
atau sebuah pesan tentang
waktu yang beku dan ruang yang
mengecil.

Di pantai itu, hanya ada deru angin
yang sayup, atau gulungan ombak yang
tak merintih.
Selebihnya, seperti tak ada gerak waktu.
Kita menjadi seonggok daging yang tak
mengenal letih, dan tubuh ini tenang
dalam geming.

Sebab suatu malam di pantai itu tetiba
menjadi tontonan yang menghibur.
Malam yang diselimuti oleh lengang
berhasil memugar harapan.
Malam yang merumahkan tubuh dan
jiwa kita,
dalam sebuah ruang yang hanya milik
kita berdua. read more

Hantu Komunisme dan Mengapa Ilmu Pengetahuan Harus Tetap Ada

Ketika Marx dan Engels menyebut komunisme sebagai ‘hantu’ dalam Manifesto Komunis, saat itu pula komunisme benar-benar hanya sebagai hantu. Dia hadir sebagai pembawa rasa cemas  pada orang-orang yang alergi terhadap imaji mengenai tatanan dunia tanpa kelas.

Dia sebagai ‘genderuwo’ bagi orang-orang yang takut pada persatuan kaum buruh dalam merebut alat produksi: menghancurkan kapitalisme. Tapi komunisme tak bisa menjadi nyata sebagai sebuah sistem utuh dan tak terbantahkan. Dia ada hanya menakuti, sesekali makan korban, setelah itu menghilang. read more

KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat. read more

Sang Aku di Hadapan Wajah Yang Lain

Jika Anda hendak membantu orang lain. Pernahkah Anda bersikap cuek? Mungkin Anda merasa secara pribadi tidak berkewajiban menolong orang lain. Pada level sosial tertentu, Anda merasa korban tidak terikat secara kebudayaan dengan Anda. Atau karena dia bukan penganut agama yang sama dengan Anda. Di antara miliaran orang di muka bumi ini, saya yakin ada yang bersikap demikian.

Namun kita tahu, persoalan etika kemanusiaan tidak sesederhana itu. Sejahat-jahatnya manusia, setidaknya minimal dalam sekali pernah melakukan perbuatan baik pada orang lain. Saya saja merasa bukan seorang hero yang kerap berperan di film Hollywood. Tapi sesekali muncul suatu perasaan untuk membantu orang lain. Bahkan, pada suatu peristiwa tertentu,  saya kerap merasa  bertanggung jawab atas hidup orang lain. Entah mengapa. read more

Larut dalam Samudra Simbol-simbol: Masyarakat Konsumer dan Permasalahannya

Kapitalisme Pasca-Fordisme dan Lahirnya Masyarakat Konsumer

Sekitar sebulan yang lalu, di Pantai Akkarena, AHM bekerja sama dengan Astra Motor Makassar menggelar acara Honda Bikers Day. Selain menggelar beragam event untuk para bikers, AHM juga memboyong  konsep produk motor trail berkecepatan 150cc. Produk itu dipajang di gelaran tersebut, agar pengunjung dapat melihat-lihat produk yang baru sebatas contoh itu. Hal ini dilakukan agar manajemen AHM dapat mempelajari hasrat konsumen mengenai motor trail seperti yang diinginkan konsumen itu sendiri. read more

Sulhan adalah Han dan Sang Guru Itu Sendiri

Tutur Jiwa dan Beberapa Hal Tentangnya

***

Malam itu, Bedah Buku Tutur Jiwa  Karya Sulhan Yusuf oleh LKIMB UNM di pelataran PKM UNM itu, sepertinya menjadi awal teks-teks kearifan Sulhan menari di belantara realitas, yang mulai kering dari wejangan-wejangan spritual dan filosofis. Tutur Jiwa  hadir seolah memanggil kumpulan jiwa-jiwa muda yang haus akan tutur kebijaksanaan. Puluhan jiwa-jiwa itu duduk bersila, menunggu Sang Guru (sang tokoh spritual Han dalam Tutur Jiwa) berujar mengenai perihal yang dapat membasuh kedalaman batin yang kian kerontang. Ujaran Sang Guru itu tentu bergema melalui perantara Sulhan, sebagai pencatat wejangan-wejangannya. read more

Mahasiswa; Kaum Inteligensia

Catatan kecil untuk kawan-kawan mahasiswa baru Jurusan Teknologi Pendidikan UNM, atau untuk mahasiswa baru lainnya, dan untuk diri saya secara pribadi.

***

Setelah mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2MB) dari tingkat Universitas, Fakultas, hingga tingkat Jurusan, apa yang kalian rasakan, kawan-kawan mahasiswa baru? Apa kalian merasa senang sudah bisa menghirup aroma kampus yang selama ini diidam-idamkan? Yang pastinya, hari-hari ke depan akan berbeda dengan hari-hari kalian sewaktu  di sekolah menengah. Kalian akan menemui pengalaman-pengalaman yang lebih kompleks lagi. read more

Pertemuan di Shinjuku Gyoen dan Puisi-Puisi Lainnya

Pertemuan di Shinjuku Gyoen

Suhu udara Tokyo mulai hangat.

Bunga sakura di Shinjuku Gyoen seperti bercerita

tentang sebuah negara yang selalu bersinar, ibarat matahari.

Tapi tak ada yang kilau di Negeri Matahari Terbit siang ini.

Tak ada cahaya menyebar menutupi pandanganku.

Segalanya jelas, dan kita saling tatap.

Aku tak tahu persis bagaimana Tuhan merencanakan sebuah takdir.

Pertemuan kita seperti sudah tertuliskan di catatan harianNya

tanpa kutahu mengapa kita yang mesti bertemu.

Musim semi kali ini merekam banyak cerita read more

Membaca Manusia Secara Filosofis tapi Puitis ala Nirwan Ahmad Arsuka

Percakapan dengan Semesta (PDS) adalah buku tipis. Sang pengarang, Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Gerakan Pustaka Bergerak, hanya meraciknya dari tiga esai yang kemudian menghasilkan 120 halaman belaka. Tapi yakinlah, buku ini begitu padat akan sajian diskursus. Para pembaca tidak hanya diajak menyelami tema-tema kebudayaan, tapi juga filsafat, sains, sejarah, yang diracik padu untuk membaca manusia. Manusia akan dilihat pada pertautannya dengan semesta (esai pertama), pertautannya dengan citra-citra foto (esai kedua), dan manusia yang ditafsirkan dalam sebuah karya sinema (esai ketiga). Pertautan-pertautan itulah yang sekaligus membuka tabir-tabir problem kemanusiaan. read more