Semua tulisan dari Muhajir MA

Kesehariannya bekerja sebagai jurnalis. Ikut mengasuh kalaliterasi.com dengan posisi sebagai redaktur. Menyukai kopi dan buku. Saat ini bercita-cita untuk berhenti merokok, saat menyadari menjadi Ksatria Baja Hitam itu mustahil.

Ibn ‘Arabi, Para Pencari Ilmu, dan Suatu Rasa Bersalah

Di ruang berisikan puluhan meja dan kursi itu, peserta diskusi tengah duduk santai, sambil menikmati sajian kopi dan fasilitas internet. Saya datang terlambat. Dan entah mengapa, setelah sampai di warkop itu saya merasa gugup. Saya tak seperti biasanya.

Mungkin karena materi yang dibebankan oleh Yusri, owner dari warkop yang bernama Be Smart Coffee itu, membuatku seperti ciut sendiri. Bayangkan, saya harus mengulas pemikiran Ibn ‘Arabi, meski hanya pengantar saja. Dan kita tahu, pemikiran Ibn ‘Arabi begitu rumit, tak sederhana yang kita bayangkan. Tapi saya pikir, ini tugas intelektual yang harus saya emban. Saya hanya memilih mensiasati diskusi ini dengan mengutarakan apa yang saya tahu, dan tidak mengutarakan, atau tidak asal ngomong dari apa yang saya tidak tahu tentang percik pemikirannya.

Soal tugas intelektual, bagi saya adalah “barang” yang tak bisa ditawar-tawar. Justru karena itu, saya berupaya memantik semangat berbagi ilmu dalam diri saya yang nyaris hilang belakangan ini, dengan menerima undangan sebagai pembicara pada majelis ilmu yang digelar Be Smart Coffee, meskipun tawaran materinya rumit bukan main.

Yah, belakangan ini saya sering “ogah” berkunjung, ketika diundang sebagai pembicara di suatu majelis ilmu. Saya menyadari, kelakuan seperti itu sebenarnya tidak baik. Bahkan saya kerap merasa bersalah sendiri ketika melakukan penolakan untuk menjadi pembicara. Di samping juga, kelakuan seperti itu perlahan mematikan etos belajar anak-anak muda kita. Apa jadinya ketika mereka lagi semangatnya menuntut ilmu, lantas kecewa gara-gara pematerinya yang tidak ada? Sangat betul, kelakuan seperti itu sungguh tak baik. Apalagi saat melihat air muka para peserta diskusi Ibn ‘Arabi malam itu, yang kelihatan haus intelektual, kuyakinkan diriku sekali lagi untuk ke depan, tak lari dari tanggung jawab intelektual.

Baiklah untuk tidak berlama-lama, di kesempatan ini, saya berencana mengulang bahasan Ibn ‘Arabi malam yang lalu. Meski tidak sesempurna pada saat diskusi yang lalu, setidaknya garis-garis besar pembahasan itu bisa kuutarakan di sini, untuk yang tidak sempat menghadiri diskusi, ataupun untuk mereka yang mau mengomentari pemahaman sempit saya tentang Ibn ‘Arabi. Oke, the next…..

***

Ibn ‘Arabi. Pesohor tasawuf teoritik itu, setidaknya bagi mereka yang bergulat dalam dunia diskursus, adalah persona yang tak asing lagi. Apa lagi jika mendengar konsep wahdat al-wujud, tajalli dan insan kamil, maka pikiran kita tertuju pada persona yang pemikirannya penuh kontroversi itu. Malam itu saya hanya membahas dua konsep kuncinya. Yakni hanya membahas pokok pemikiran wahdat al-wujud-nya, dan konsep tajalli-nya.

Sebenarnya penyematan wahdat al-wujud untuk konsepnya mengenai ketunggalan wujud, bukanlah berasal dari Ibn ‘Arabi. Cuma ciri pemikiran wahdat al-wujud dimiliki sepenuhnya dalam diskursus metafisikanya. Bahkan, pemantik awal perkembangan diskursus wahdat al –wujud, baik dalam tasawuf teoritik maupun dalam terang metafisika Islam, berasal darinya.

Jika disimak baik-baik konsep pemikirannya, Ibn ‘Arabi hanya menjelaskan bahwa wujud itu tunggal dan esa, bersifat tetap dan tak berubah, tidak sebagaimana semesta kosmik yang berubah, bergerak dan jamak. Bahkan eksistensi segala yang ada di alam semesta, diragukan Ibn ‘Arabi sebagai yang benar-benar “ada”. Ibn ‘Arabi melihat, yang mawujud (yang berada) di alam semesta tidaklah ada-pada-dirinya. Sebab limpahan keberadaan yang plural itu bisa binasa oleh kuasa ruang-waktu, hingga menjadi tiada. Sehingga Ibn ‘Arabi memahami, tak pantaslah segala yang ada di semesta kosmik ini dibilangkan sebagai al-wujud. Hanya satu yang pantas disematkan sebagai al-wujud. Ialah Tuhan. Dan selainnya, hanyalah “ketiadaan”, perihal yang fana. Dari sinilah Ibn ‘Arabi identik dengan wahdat al-wujud.

Yang menjadi soal kemudian, Ibn ‘Arabi memahami, Tuhan sebagai al-wujud itu adalah perihal yang tak terperi. Ia musykil terkatakan oleh bahasa manusia, musykil terpikirkan oleh nalar manusia, dan musykil pula tergambarkan oleh imajinasi manusia. Menjadi soal karena, al-wujud akhirnya tak bisa dipahami, apapun modus pengetahuan yang kita pergunakan. Sehingga ketidakpahaman kita pada al-wujud, atau Tuhan itu sendiri, benar-benar membawa kita pada kondisi absennya pengetahuan kita tentangnya. Dia-pada-diriNya-sendiri adalah suatu kesendirian, suatu yang tak terjamah oleh nalar manusia. Jika kita ingin menggambarkan ketidak terjamanya Dia, maka meminjam istilah suatu hadis Qudsi yang dipakai oleh Ibn ‘Arabi, katakanlah al-wujud itu sebagai “Harta yang tersembunyi”.

Tetapi, redaksi yang lengkap dari hadis Qudsi itu sebenarnya menyiratkan juga suatu kemungkinan untuk mengenali Allah sebagai al-wujud. Di situ diterangkan, “Aku adalah harta yang tersembunyi. Aku tidak dikenal, maka Aku ingin dikenal”. Hal demikian adalah suatu pertanda bagi mungkinnya mengetahuan tentang-Nya.

Di sinilah konsep Tajalli Ibn ‘Arabi dirumuskan dalam melengkapi diskursus metafisikanya. Upaya Allah agar dikenal oleh mahluknya adalah dengan melalui proses “penyingkapan diri” (Tajalli). Dengan tajalli, Allah melimpahkan wujudnya dalam penciptaan mahluk bersama semesta kosmik, melalui proses manifestasi “ke –Diri-an-Nya”, melalui pemancaran cahaya wujudnya yang paripurna dan tak terbatas. Sehingga mahluk tercipta pada segenap limpahan wujudnya, dengan memberikan eksistensi kepada setiap mahluk, sesuai porsi penciptaan mereka masing-masing. Maka dari itulah Allah, sang al-wujud itu, memungkinkan menjelma pada setiap mahluknya, dan menyingkapkan “wajah”-Nya pada setiap mahluknya. Dalam arti memungkinkan untuk dikenali. Yah, Dia lebih dekat dari urat leher kita (QS. Qaff : 16). Dan, di manapun kita menghadap di situ ada wajah Tuhan (QS. Al Baqarah: 115).

Pada konsep tajalli itu, ada dua pokok yang bisa kita urai. Pertama, tajalli adalah suatu konsep kosmologi, suatu proses bagaimana Allah mencipta mahluknya, dan penjelasan asal usul alam semesta ini. Dari sini, Allah adalah al-wujud yang tunggal, esa dan sendiri, melimpahkan wujudnya, menciptakan pluralitas eksistensi, kejamakan realitas. Kedua, tajalli adalah konsep di mana Allah memperkenalkan dirinya kepada mahluknya. Pengenalan itu, selain Dia menyingkapkan “wajah” pada setiap mahluk, juga bisa melalui 99 asma-Nya. Maka dalam 99 asma Tuhan itu adalah upaya simbolisasi, upaya konseptualisasi dalam menggambarkan sifat-sifat –Nya, menggambarkan identitas-Nya agar dikenali mahluk.

Lantas, bagaimana mesti menjelaskan hal tersebut? di satu sisi Ibn ‘Arabi menegaskan ketidak mungkinan pemahaman apapun terhadap Allah sebagai al-wujud. Tapi di sisi lain, Ibn ‘Arabi menegaskan kemungkinan-Nya untuk diketahui. Di sinilah terkadang pemikirannya menuai kontroversi. Sebab, pada konsepnya, cenderung memperlihatkan keadaan yang contradictio in terminis, sehingga menuai prilaku yang multitafsir bagi para pembacanya. Bahkan, Ibn ‘Arabi pernah dituduh sebagai seorang panteis. Sebab konsep-konsepnya memperlihatkan kecenderungan menyamakan antara Tuhan dan mahluk. Sebab bagaimanapun, keberadaan mahluk bukanlah keberadaan yang sejati. Dikarenakan mahluk hanyalah bayangan Allah, limpahan wujud yang seolah-olah plural, tapi sebenarnya tunggal. Bahwa keseluruhan adaan-adaan hanyalah wujud Allah yang tampak jamak dan terpisah-pisah karena diakibatkan oleh tampakan esensi-esensi saja. Maka dari sini, orang-orang seenaknya menuduh bahwa Ibn ‘Arabi memahami mahluk adalah Tuhan juga.

Padahal paradoks dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, karena ia contradictio in terminis, maka tak bisa dijustifikasi oleh penalaran absolut seperti apapun. Sebab Ibn ‘Arabi mengakui mahluk sekaligus tidak mengakui mahluk. Ia mengakui pluralitas sekaligus mengabaikannya. Ia mengakui ketidakmungkinan mengenali al-wujud sekaligus mengakui kemungkinan pengenalan terhadap-Nya. Di sini, logika Aristotelian tak memadai lagi untuk memilah-milah pemikirannya pada suatu ketetapan justifikasi yang absolut. Definisi pun tak memungkinkan lagi. Makanya, Ibn ‘Arabi tetap harus ditempatkan pada pemikir di jalan tasawuf. Di mana pencapaian pengetahuan intuitif kadang tak memadai dibahasakan oleh bahasa manusia.

***

Aku hanya menjelaskan itu. Sangat jauh dari sempurna. Bahkan, bisa saja terjadi kesalahpahaman pada saat saya mengurai pemikiran Ibn ‘Arabi. Tapi, bagaimana pun, saya tetap yakin bahwa setidaknya, terselip percikan kecil kebenaran dari penjelasan itu. Dan, suatu kesyukuran, para peserta cukup antusias bertanya, dan mengutarakan pendapatnya sendiri. Diskusi akhirnya tercipta dengan sendirinya, dari sebuah lemparan pertanyaan dari satu orang, menggelinding bagai bola sajlu, lebih besar dan semakin besar muatan bobot diskusinya, hingga diskusi ini harus berakhir oleh waktu yang terbatas.

Tapi setidaknya, “wajah’ Ibn ‘Arabi seperti nampak pada kedirian para peserta. Yakni, “wajah” Ibn ‘Arabi yang haus pengetahuan, sang pencari pengetahuan. Sebagaimana Ibn ‘Arabi yang mendalami ilmu dengan mencari tempat-tempat yang sekiranya berseliweran ilmu pengetahuan di sana, dengan berjalan kaki. Para peserta pun seperti itu. Perbedaannya, mereka belum setangguh Ibn ‘Arabi, yang mampu berjalan ribuan kilo meter untuk mencari guru, mencari hikmah di setiap negara-negara terdekat. Tapi etos mencari ilmu itu ada pada mereka.

Rashomon: Membincang Kegilaan

Setelah membaca Rashomon (2015), kumpulan cerpen karya Akutagawa Ryunosuke, saya lantas dilanda heran. Mengapa juga orang yang pernah mengalami sakit jiwa, justru melahirkan karya yang sangat brilian? Anda mungkin mengenal Nietzsche, yang dalam kondisi kejiwaan yang sakit justru lebih produktif menulis buku yang berisikan pemikiran cerdas dan rumit. Konon, The Will to Power lahir di puncak-puncak kegilaannya. Lantas, bagaimana dengan Akutagawa? Membaca Rashomon maka anda mungkin akan sulit mempercayai jika penulisnya adalah persona yang pernah ditimpa schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri di usia 35 tahun.

Rashomon berisikan kumpulan cerita hasil imajinasi cerdas Akutagawa, yang beberapa di antaranya sangat terkenal di masa abad 20, sampai sekarang. Buku dengan ketebalan 167 halaman ini memuat tujuh cerpen, termasuk yang paling panjang dan juga yang paling terkenal, “Kappa”. Meski ketebalannya cukup tipis, tidak mudah menghabiskannya hanya dengan satu malam, setidaknya bagi orang yang ingin lebih memahami kedalaman makna yang coba disampaikan oleh Akutagawa. Kekuatan simbolisme yang sangat kuat, juga bangunan konflik yang tak sederhana, menjadikan setiap pembaca mesti sedikit berpikir keras untuk memahami maksud terdalam pada setiap bangunan cerita.

Namun, secara umum, setiap isi cerita dalam Rashomon selalu mengangkat perkara nilai dan segenap batasannya yang kabur, juga kenyataan hidup yang penuh dengan ironi. kesemuanya digambarkan melalui hubungan antara orang-orang dan persona yang diposisikan sebagai the other, juga melalui imajinasi mahluk-mahluk aneh. Dalam satu kisah yang berjudul “Rashomon”, anda akan menyadari betapa rumitnya perkara moralitas itu. Simaklah bagaimana seorang nenek kurus melalukan satu tindak kriminal karena tuntutan hidup, dan bagaimana ia memahami tindakannya sebagai perihal yang mesti dimaklumi, sebab ia mengambil sesuatu dari orang yang di masa hidupnya kerap melakukan kejahatan. Dengan demikian, bukankah baik dan buruk itu batasannya begitu tipis, bahkan saling silang sengkarut?

Melalui cerita tentang si nenek pencuri, saya pikir, Akutagawa hendak berkisah mengenai kegilaan yang kerap menyelinap di setiap tindak tanduk manusia, toh ketika kegilaan itu dimaksudkan sebagai ihwal yang melampaui batas, kekacauan, dan perkara yang tak masuk akal. Yang lebih gila lagi apa yang dilakukan seorang genin, samurai kelas rendah yang hendak menghadang kejahatan yang dilakukan nenek itu. Di satu sisi ia mencoba menjadi penegak moralitas, namun di sisi lain turut pula melakukan kejahatan, dengan merampas pakaian yang dikenakan nenek itu.

Dalam buku ini, kegilaan tak berhenti hanya dalam satu cerita saja. Dalam cerita lainnya, “Kappa” misalnya, realitas sosial kemudian digambarkan sebagai ihwal yang centang perenan. Hal demikian dikisahkan melalui kehidupan masyarakat kappa, mahluk yang mirip katak namun memiliki paruh. Dari situ, kita akan menemukan kehidupan yang kacau dan rada-rada irasional. Seperti pembantaian buruh dianggap biasa saja, yang diperlihatkan melalui dialog antara tokoh “aku” dan seorang kappa kapitalis bernama Gael. Pun, potret pesimisme yang menjangkiti seorang individu, turut digambarkan melalui tokoh kappa penyair bernama Tock, yang kemudian mengidap schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri. Tentu, hal tersebut hanyalah dua permasalahan, dari sekian banyak persoalan kehidupan yang diangkat dalam “Kappa” yang, sebegitu menyedihkannya, tokoh utama bahkan berusaha keluar dari carut-marut dunia yang dijalaninya, dan akhirnya menjadi gila.

Dan soal orang-orang yang terhina oleh relasi identitas dan kelas sosial adalah perihal yang turut diangkat, setidaknya dalam dua cerita: ”Bubur Ubi” dan “Hidung”. Dalam problem identitas hari ini, selalu saja ada yang merasa terpinggirkan, merasa sebagai the other ditelikung mayoritas. Beberapa di antaranya akan berupaya meniru citra mayoritas karena dianggap sebagai identitas yang lebih ideal. Namun, apakah mereka menemui kebahagiaan setelah itu? Kisah dalam “Hidung”, saya pikir menyinggung soal demikian. Diceritakan, seorang pendeta memiliki hidung panjang, dan menjadi terkucilkan karenanya. Dengan berbagai cara, ia akhirnya berhasil memendekkan hidungnya, seperti milik kebanyakan orang. Namun, justru orang-orang semakin menertawainya, karena bagi mereka, si hidung panjang menjadi semakin aneh karena tidak berhidung panjang. Pada akhirnya ia tak bahagia.

Syahdan, kisah-kisah dalam Rashomon akhirnya hadir tidak dalam rangka berkhotbah mengenai heroisme, dan penggambaran dunia ideal seharusnya seperti apa. Justru, ihwal yang retak, tak utuh, dan paradoks tentang kehidupan yang dijalani manusia. Sebagai seorang yang sempat gila, Akutagawa memang lihai membicarakan kegilaan.

Literasi yang bagus, Membahagiakan Jiwa*

Literasi yang bagus, Membahagiakan Jiwa*

Sulhan Yusuf, Pebisnis buku, Aktivis Literasi.

Pebisnis buku memang banyak. Tapi, hanya sedikit di antaranya yang memiliki jiwa literasi, yang bersetia untuk mengajak orang-orang mencintai buku. Pun, tak banyak pula pebisnis buku yang bersetia memantik gelora membaca orang-orang, dan menyeru untuk menekuni dunia tulis menulis, seperti yang dilakoni oleh aktivis literasi yang satu ini: Sulhan Yusuf. Tulisan ini adalah hasil wawancara saya mengenai ihwal lelaki berkepala plontos itu dan aktivitas literasinya.

Apakah setiap pebisnis buku mesti menggalang gerakan literasi seperti yang anda lakukan:                                                                                                        

Pebisnis buku memang tidak memiliki keharusan untuk terjun ke dunia literasi. Bisnis adalah bisnis, dunia literasi adalah dunia literasi. Tapi, sebaiknya, pebisnis buku harus mendukung gerakan literasi, dengan cara menjual buku dengan harga yang cukup murah, dan berpartisipasi di event-event literasi.

Lantas, mengapa anda memilih terjun ke dunia literasi:

Saya memilih terjun ke dunia literasi atas dasar cintan terhadap buku dan keinginan yang besar untuk merawat idealisme saya, khususnya memperjuangkan literasi di Masyarakat. Kedua pilar itu pula yang membawa terjun ke dunia bisnis buku. Setelah selesai pada jenjang pendidikan tinggi di jurusan Pendidikan Dunia Usaha (sekarang Ekonomi) di IKIP (Sekarang Universitas Negeri Makassar) tahun 1993, saya langsung terjun berwirausaha, dengan membuat Paradigma Group sebagai nama kelompok untuk segenap toko buku saya. Harapnya, melalui bisnis buku, menjadi sumber nafkah saya sehari-hari. Juga, dengan berbisnis buku, saya juga bisa bisa merawat idealisme itu dan hobi saya akan buku.

Sudah sejauh mana perkembangan bisnis buku anda:

Sampai saat ini, Paradigma Group yang kugawangi sudah memiliki beberapa cabang baik di Makassar maupun di luar Makassar. Di Makassar sendiri, saya sudah membuka dua cabang di antaranya Paradigma Toko Buku dan Papirus Toko Buku. Ke dua toko bukunya itulah menjadi laboratorium tempat saya menjalankan aktivitas literasi di Makassar, dengan membuka kelas menulis, dengan tujuan melahirkan para penulis baru, dan membuka kagiatan-kegiatan semacam diskusi, yang diperuntukkan untuk memancing setiap kalangan untuk berhasrat membaca buku.

Sebenarnya, apa yang mendasari anda sangat getol menebar semangat literasi:

Saya menyadari, menggeluti aktivitas literasi seperti bagian kesadaran saya akan tanggungjawab mencerdaskan anak bangsa. Ada sebuah panggilan yang mendorong saya untuk menata masyarakat menjadi lebih cerdas. Selain itu, saya menggalang gerakan literasi, semata-mata untuk membahagiakan orang. Ini pengalaman pribadi saya sendiri. Bila tradisi literasi seseorang bagus, kehidupan orang lebih akan lebih bahagia. Beberapa peserta kelas menulis saya sewaktu tulisannya dimuat di media, itu bahagianya bukan main. Nah, saya ingin membagi kebahagian seperti itu. Saya merasa tingginya literasi berkorelasi dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Yang saya maksud di sini adalah berhagaiaan jiwa.

 

Anda juga turut menggenjot semangat literasi di daerah anda, di bantaeng. Bisa anda ceritakan tentang hal tersebut:

Di Kampung saya sendiri, Di Bantaeng, saya juga giat menebar semangat literasi, melalui Boetta Ilmoe sebagai pusat gerakannya. Artinya, selain Boetta Ilmoe didirikan sebagai toko buku, tempat itu juga diperuntukkan sebagai laboratotium literasi untuk Bantaeng, dengan membuka kegiatan-kegiatan pelatihan literasi seperti yang kulakukan di Makassar. Saya sendiri memang punya visi, bahwa harapan saya, Bantaeng bergerak menuju masyarakat literasi. Masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi, dan menggeluti dunia tulis menulis.

Alhasil, melalui penerbitan yang saya lakukan di Boetta Ilmoe, saya sudah melakukan penerbitan 15 buku hasil karya penulis Bantaeng dengan berbagai genre, baik itu kumpulan esai sampai buku-buku puisi. Tapi tidak mungkin saya sendiri dalam menggalang gerakan literasi di Bantaeng. Makanya saya menjalin sinergi dengan beberapa pihak di antaranya Teras baca Lembang-Lembang, Sudut Baca Al-Syifa, Kolom Baca Lantebung, dan Pustaka Kopi Boda.

Post Script

Melalui ketekunannya dalam dunia literasi, akhirnya Sulhan diterima oleh publik sebagai seorang aktivis literasi, setidaknya di Sulawesi Selatan. Hal itu dibuktikan dari sering kalinya ia dipanggil sebagai pembicara dalam seminar-seminar dengan tema literasi, kepustakaan, perbukuan ataupun pelatihan-pelatihan menulis. Ia juga sudah menjadi langganan bagi penulis lokal Makassar dalam memberi tulisan pengantar untuk buku mereka yang terbit.

*Catatan: Hasil wawancara ini sudah pernah diterbitkan di Harian Ujungpandang Ekspres dengan format feature dan muatan yang sedikit berbeda

Teror Hantu

Lucas baru saja datang dari wangsa yang jauh: Belanda. Ia mengunjungi Kelurahan Samalewa, Pangkep, untuk meneliti sejarah Kerajaan Siang. “Ruangannya sudah dibersihkan Pak, silakan masuk. Biar saya yang mengangkat barang-barangnya,” kata pemilik indekos. Tapi Lucas hanya mengajukan telapak tangannya ke arah pemilik indekos, sebagai tanda penolakan. “Biar aku saja,” katanya, dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Sehingga dibawalah sendiri barangnya memasuki kamar.

Di Samalewa memang cukup banyak tersebar indekos. Sebab orang yang berasal dari kabupaten lain, khususnya kabupaten terdekat, memilih menyekolahkan anaknya di suatu sekolah menengah ternama di Pangkep yang didirikan di Samalewa. Sehingga, warga setempat memanfaatkan kesempatan itu. Beberapa warga mendirikan indekos untuk anak-anak dari luar yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Tapi Lucas datang sebagai sejarawan. Dan sebenarnya ia bisa menyewa tempat yang lebih mewah lagi. Cuma ia merasa indekos itu lebih dekat dari tempat penelitiannya, sehingga ia lebih memilih menetap di sana.

“Hai Sukri….,” pemilik indekos memanggil orang yang melintasinya setelah beberapa detik yang lalu Lucas memasuki kamarnya. Orang itu menghampirinya. Kemudian terjadilah percakapan antara keduanya.

“ Tadi malam anakku mengaku ditakut-takuti oleh hantu itu.”

“Dia melihat wajahnya?”

“Seperti anak-anak yang lainnya, dia tidak melihatnya. Hantu itu menakut-nakutinya dengan membuat gelas di hadapannya melayang-layang.”

“Terus?”

“Yah, anak saya ketakutan. Dia tak mau keluar rumah.”

“Meskipun itu siang-siang?”

Pemilik indekos hanya menganggukkan kepalanya.

Permbicaraan mereka didengar oleh Lucas. Sebab si empunya indekos bercengkrama dengan Sukri tidak jauh dari kamarnya. Sehingga pastilah Lucas mendengarnya. Tapi, sepertinya bule itu menganggap serius pembicaraan mereka. Sehingga belum juga puas beristirahat, ia pergi mengintip mereka dibalik jendela, kemudian menguping pembicaraan mereka. Sukri menyadari bahwa Lucas sedang mengintip mereka. Sehingga saat Sukri menatapnya, Lucas berhenti mengintip, dan langsung menutup jendela dengan gorden.

“Dia datang dari Belanda, katanya mau meneliti,” kata pemilik indekos untuk memberikan penjelasan terhadap Sukri mengenai bule itu.

“Dari mana kau tahu?”

“Dia sendiri yang kasih tahu.”

“Memangnya kamu pintar bahasa bule?’

“Dia pintar bahasa Indonesia.”

***

Masih pagi-pagi sekali Lucas sudah mulai menjelajah untuk memulai penelitian. Ia hendak mengunjungi setiap tokoh masyarakat dengan didampingi oleh Sukri. Tentu saja kemarin, sudah terjadi kesepakatan antara Lucas dan Sukri untuk bersama-sama ke rumah masing-masing tokoh masyarakat. Setelah bercengkrama dengan pemilik indekos, Sukri mendatangi Lucas di kamarnya dan bercerita banyak hal khususnya mengenai kondisi Samalewa dan beberapa hal mengenai Kerajaan Siang. Oleh karena Lucas memberitahu niatnya untuk bertemu para tokoh masyarakat kepada Sukri, sehingga Sukri menawarkan kesediaannya untuk menemani Lucas. Pastinya Lucas menerima ajakan itu.

Tokoh masyarakat petama yang mereka kunjungi untuk hari ini adalah Syarifuddin. Seorang yang menurut Sukri bisa memberikan banyak informasi mengenai sejarah Kerajaan Siang dan perihal lain mengenai kebudayaan Pangkep. Mereka hanya berjalan kaki. Dari arah belakang, terlihat rombongan bocah mengikuti mereka sedari tadi. Tentulah bagi para bocah itu, melihat bule adalah hal yang sangat langka, dan hanya bisa mereka temui pada tayangan televisi. Tapi di tengah-tengah perjalanan, Lucas bertanya mengenai hal yang sebenarnya dianggap ganjil oleh Sukri. Sebab menurut Sukri, yang juga seorang guru fisika, sekiranya seorang peneliti tidak peduli dengan hal yang dipertanyakan oleh Lucas.

“Apakah benar di sini ada hantu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau juga percaya hantu?”

Lucas hanya diam, sembari ditatap penuh heran oleh Sukri.

“Kita sudah sampai”

***

Kediaman Syarifuddin adalah rumah panggung. Di dalam rumahnya berisi perabotan yang terbuat dari logam dan tembaga. Dinding rumahnya berhiaskan foto keluarga dan lukisan pantai di kala sore hari. Mereka kemudian duduk bersama di ruang tamu, dan ditemani oleh sang empunya rumah. Mereka berbincang-bincang sembari anak perempuan Syarifuddin menghidangkan teh dan pisang goreng di atas meja.

“Hmmm… kamu datang dari Belanda yah.” Syarifuddin memulai pembicaraan.

“Iya, Pak”

“Apa yang kamu mau ketahui tentang Kerajaan Siang?”

“Begini Pak….eeee….”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….” Anak perempuan Syarifuddin tetiba berteriak saat memasuki dapur. Mereka segera menuju ke sana.

“Kamu kenapa, Nak?” Syarifuddin menghampiri anaknya.

“Ada hantu!” Anak perempuannya terlihat gemetaran dan menutup matanya saking ketakutannya.

Tapi Lucas, Sukri, begitu pun Syarifuddin tidak melihat apapun kecuali perabotan dapur ,beberapa ikat sayur, tiga ekor ikan bandeng mentah yang disimpan di atas piring, dan rempah-rempah.

“Bagaimana wajahnya?” kata Sukri.

Anak Syarifuddin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Panci itu tadi melayang-layang. pasti hantu itu yang melakukannya,” sembari menunjuk panci yang berada di atas kompor.

Kemudian istri Syarifuddin datang, dan menemani anaknya masuk ke kamarnya. Dan segera Syarifuddin membaca ayat kursi dan beberapa mantra kuno yang bahkan Sukri tidak tahu maksudnya apalagi Lucas.

“Dia sedang apa?” Tanya Lucas

“Mengusir hantu.” Sukri memandangi Lucas dan berkata, “Kamu sakit yah?”

Lucas dengan tubuh yang gemetaran, wajah yang pucat, dan berkeringat hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah melakukan ritual pengusiran hantu, Syarifuddin langsung berkata penuh murka di hadapan Sukri dan Lucas. “Aku tidak terima kalau daerah ini diteror oleh hantu!” Kemudian ia menatap Sukri dan berkata, “Sampaikan pada pak lurah bahwa sebentar malam kumpul di rumahku. Biar saya yang kumpulkan semua tokoh adat. Kita akan lakukan ritual pengusiran hantu. Sudah banyak anak-anak yang diteror oleh hantu busuk itu. Ini tak bisa dibiarkan!”

Sukri hanya mengangguk.

***

Langit menghitam, dihiasi dengan pendar gemintang. Siang telah berganti malam. Di kamarnya, Lucas sedang sibuk membuat kalung yang talinya dilingkari susunan bawang putih. Setelah selesai, Lucas mengenakkannya di leher, sembari memegang salib. Raut wajahnya nampak cemas. Sedang tubuhnya disandarkan di pojok dinding. Dia terlihat sangat ketakutan.

Sebenarnya Lucas sangat takut dengan yang namanya hantu. Dia tidak pernah lupa akan trauma masa kecilnya. Suatu ketika, di usia 5 tahun, Lucas mengaku pernah ditakut-takuti oleh hantu. Saat Lucas sedang berak di kamar mandi, ia melihat sabun dan sikat gigi melayang-layang. Sehingga, belum juga ia selesai berak, ia langsung keluar dari kamar mandi menuju kasur, dan membungkus tubuhnya dengan selimut.

Beberapa kali dia memberitahu ibunya, kakaknya dan ayahnya, tapi mereka tidak percaya, bahkan hanya dianggap lelucon. “Mana ada sabun dan sikat gigi melayang –layang.” kata kakaknya. Tapi teman Lucas percaya terhadap ceritanya. Suatu ketika, Lucas menceritakan pengalamannya saat diteror hantu pada seorang temannya. Temannya juga mengatakan bahwa ia pernah mengalaminya. Dia menunjukkan suatu gambar hantu kepada Lucas. Gambar itu adalah drakula. “Sebenarnya Hantu itu adalah ini,” kata temannya sambil menunjuk gambar tersebut. Seketika Lucas ketakutan saat melihatnya, bahkan sempat kencing celana.

Saat ini, dia merasa pergi ke tempat yang salah. Sebab, ternyata tempat yang ia kunjungi di teror oleh hantu. Sementara, kita ketahui bersama, Lucas sangat alergi dengan hantu. Dan aura kamar yang hening, ditambah suara jangkrik yang mengepung telinganya, membuat ia semakin ketakutan. Oleh karena merasa sudah tak tahan, akhirnya ia menelpon Sukri, dan mengundang ke indekos untuk sekadar menemaninya.

“Halo, ini dengan Sukri?”

***

Sukri tertawa terbahak-bahak setelah melihat penampilan Lucas yang menggunakan kalung bawang putih. “Kau tak mengerti, ini juga cara mengusir Hantu,” kata Lucas membela dirinya dari sindiran Sukri.

“Kok peneliti percaya hantu sih.”

“Peneliti juga manusia.”

“Iya, tapi kan, seorang peneliti itu selalu bersikap ilmiah. Hal-hal yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah tak mungkinlah dipercayainya.”

“Jadi kau mau bilang tak usah mempercayai hantu?”

“Kita kan belum membuktikannya secara ilmiah. Kamu ini akademisi atau bukan sih.”

“Persoalannya, sudah banyak yang diteror olehnya.”

“Tapi kan bisa saja mereka hanya terpenjara oleh fantasinya. Sehingga hantu yang sebenarnya ilusi, kemudian dianggap nyata.”

Lucas hanya diam.

“Begini saja,” Sukri melanjutkan pembicaraan, “Kita ke rumahnya Pak Syarifuddin saja. Di sana dilangsungkan ritual pengusiran hantu. Siapa tahu dengan menyaksikannya, kamu menjadi lega, dan akhirnya tercipta sugesti dalam pikiranmu bahwa hantu itu benar-benar telah minggat. Gimana?”

Lucas hanya mengangggukkan kepala.

***

Seperti tadi siang, mereka hanya berjalan kaki menuju rumah Syarifuddin, namun sudah tidak lagi diikuti oleh kawanan bocah yang keheranan dan takjub karena melihat bule. Jalanan yang dilaluinya sangat gelap, karena tak ditunjang oleh lampu jalan. Pun, terlihat sangat sunyi karena semua warga memilih nimbrung di rumahnya masing-masing, apalagi dengan adanya rumor mengenai teror hantu, pastilah di malam hari mereka tidak berani keluar, meskipun hantu ini sangat pandai menyesuaikan diri dengan situasi. Sebab di siang hari, ia juga bisa melakukan teror.

Di tengah-tengah perjalanan, mereka berdua tetiba berhenti. Ada sesosok orang yang sedang berdiri di tengah-tengah jalanan. Oleh karena gelap, mereka tidak bisa mengenali orang itu. Pun, mereka hanya dibekali pencahayaan yang tak cukup terang dari handpone-nya. Maka pastilah tidak bisa digunakan untuk menerangi perihal yang jaraknya cukup jauh.

Maka untuk memastikannya, mereka berdua melanjutkan perjalanan, sembari mendekati orang itu. Dan setibanya di sana, “Ha…ha… hantuuuuuuuuuuuuu…..” Sukri berteriak dan lari terbirit-birit pasca melihat orang itu. Parasnya sangat jelek, seperti wajahnya dipenuhi bisul. Rambutnya panjang menyentuh tanah. Sedang pakaiannya serupa gamis berwarna putih, sangat kotor dan kumuh. Dia sangat menakutkan. Dialah hantu itu. Tapi yang aneh adalah, Justru Lucas tidak lari. Padahal hantu itu sudah jelas ada dihadapannya.

“Kata Sukri ada hantu tapi kok aku tidak melihatnya.” Lucas mengarahkan penglihatannya di setiap penjuru. Tapi tidak melihat apa pun, seperti batu yang melayang, atau ranting pohon yang melayang. Kemudian dia berkata, “Maaf, anda siapa?”

“Akulah hantunya.”

Lucas hanya diam, sambil memandangi hantu itu.

“ Kamu tidak takut yah?” kata hantu itu.

“Hahahaha…jangan bercanda begitu. Nanti hantunya benar-benar datang”

“Akulah hantunya, Bego!”

“ hahahahaha… kau kira saya goblok. Hantu itu pakai jas hitam, wajahnya pucat pasih, dan memiliki dua taring. ”

Hantu itu kebingungan. Dia akhirnya berlalu, meninggalkan Lucas seorang diri.

Muasal

Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula. Kau akan ke kampung halaman, ke pohon mangga dekat rumahmu, atau mungkin ke rumah perempuan yang pernah kau perkosa. Sebab di sana ada sehimpun masa silam, suatu ruang-waktu di mana takdir menulis sejarahmu, menciptakanmu. Dan kau akan ke mana-mana, tapi juga tak akan kemana- mana. Sebab, kau akan merindukan perihal permulaan. Juga, barangkali penyesalan, atau dendam, membawamu menemui tempat di mana suatu ihwal dimulai.

Aku hanya ke UNM. Tepatnya, di kantin Fakultas Ilmu Pendidikan. Ruang yang bagiku, tak hanya kupahami sebagai pelepas lapar dan dahaga, atau sekadar kongkow bersama masyarakat kampus. Tapi juga sebagai—seumpama studio film—ruang di mana sejadi-jadinya diriku saat ini terekam.

Memang telah banyak berubah dari tata ruangnya. Tapi meja-meja itu, suara orang-orang di dalamnya, pelayan kantin itu, seperti mengubah kembali kantin ini seperti sedia kala. Suatu ingatan seperti tergesah menginterupsi masa kini, dan hadirkan kesilaman: tentang aku dan beberapa teman saling berdebat membincang Tuhan, politik, dan kampus yang centang perenang, terkadang hampir baku pukul. Tentang aku yang bertemu dengan orang-orang cerdas, dan mengubah rute menuju pilihan hidup yang tak banyak digandrungi banyak orang: menggeliati diskursus, buku, dan menulis.

Kau akan membaca tulisan ini dan mengatakan, “Ini kisah hidupmu, hanya itu yang kau ceritakan?” Sebuah kisah, bagaimanapun itu, pasti akan merekam tokoh lain yang bukan siapa-siapa dalam hidupmu, tapi penting untuk diceritakan. Di kantin ini terekam jejak hidup nenek pemulung. Ia memang bukanlah persona yang menentukan kisah-kisah hidupku. Tapi, dia adalah tokoh bisa dibilang unik. Justru karena itu, dia adalah “yang lain”, yang terletak di pinggiran kisah, dan memaksaku mengangkatnya kepermukaan.

Terkadang, aku senang menuliskan sehimpun kisah orang-orang di pinggiran cerita, yang kerap diabaikan. Justru karena itu, aku selalu gagal menyelesaikan tulisan tentang diriku sendiri. Selalu ada persona yang, saat kusentil dalam sebuah cerita, selalu ingin kukisahkan panjang lebar. Seperti nenek pemulung itu. Maka cukuplah kau tahu, kantin ini punya sejarah dalam rentang masa hidupku.

***

Aku tak tahu namanya. Dan semua “penghuni” kantin waktu itu juga pasti tak menahu. Dia tak penting untuk diketahui bagi mereka dan, seperti itu juga aku. Kami hanyalah mahasiswa urban yang secara kebudayaan, sudah dikondisikan oleh individualisme modern, yang sukar bersalaman kepada orang asing dan sekadar bertanya, “Apa kabar?”, “Siapa namamu?” Kami juga lahir dari imaji gaya hidup orang kota yang penuh hura-hura, yang membuat kami semakin tak peduli pada apa yang dirasa tak penting untuk diketahui.

Toh, jika nenek pemulung itu ditempatkan dalam sekat-sekat kenangan kami, ia hanya digantung di pojok dinding ingatan; sejumput kisah pinggiran. Orang-orang hanya mengetahui, ada nenek tua yang kerjanya memulung sampah. Itu saja. Selebihnya, teka-teki.

Aku mungkin satu dari sedikit orang yang memiliki ingatan lebih tentang nenek pemulung itu. Meski pemulung banyak memasuki area kantin ini, tapi dia lain. Dan itu yang mendorongku untuk merekam fragmen tantangnya, meski hal demikian tak kunjung membuatku mengetahui namanya. Aku kenang betul, dia senang meminum Teh Gelas untuk membanjur tenggorokannya yang kering. Dan dia hanya pemulung, bukan peminta-minta.

Sejauh yang aku ingat, dia tidak pernah menjulurkan telapak tangannya kehadapan orang lain, dan minta dikasihani dengan sejumlah uang, meskipun recehan. Dia hanya punya kepentingan dengan limbah plastik yang tumpah ruah di kolong meja, juga di atas meja—jika pemilik sampah masih memakai meja itu, dia meminta izin dulu sebelum dimasukkan ke kantong plastik.

Mengingat gelagatnya, aku tetiba menyadari, kaum miskin kota tak sepenuhnya menyerah pada nasib yang dirancang oleh sistem sosial yang obscene. Ketika banyak dari kaum miskin kota harus rela menjadi pencuri, dan peminta-minta, nenek pemulung itu berbeda. Ia hidup tanpa melewati jalan pintas. Meskipun barangkali ia menyadari, tubuhnya yang ringkih tak akan selamanya mampu memunguti sampah plastik satu per satu.

Tapi kau pasti menyadarinya juga. Seberat apapun pekerjaan yang nenek pemulung itu jalani, kantin ini seperti surga di dalam pandangan mata sipitnya itu. Sampah plastik yang tumpah ruah akibat laku konsumtif yang berlebihan dari masyarakat kampus harus ia pungut, mulai dari pagi sampai sore hari, demi penghasilan yang sebenarnya tak seberapa—setidaknya dalam “kepala” masyarakat kelas menengah seperti kita.

Dia akan berjalan menyusuri kantin dengan langkah gontai dan lemah. Dan tak ada upaya menginterupsi rutinitas dan perbincangan orang-orang di mejanya masing-masing dengan menjulurkan telapak tangannya, selain dengan terpaksa dan malu-malu harus meminta sampah plastik di hadapan pemiliknya. Dia selalu soliter di hadapan kepungan orang-orang ramai. Dia selalu sunyi di gegap gempita suasana kantin. Dia sendirian.

Oh, iya. Aku lupa. Sebenarnya aku pernah sekali berinteraksi dengan nenek pemulung itu. Suatu ketika, aku beranjak meninggalkan kantin. Belum jauh dari kantin, kudengar suara parau dari arah belakangku. Itu suaranya. Aku berhenti karena dia berjalan menghampiriku. Setibanya di hadapanku, dia memberikan dompetku yang terjatuh dan tergeletak di kolong meja. Aku meraihnya. Dia kemudian tersenyum, dan berlalu, saat kusadari aku belum juga mengetahui namanya.

Bahkan kopiku hampir habis dan sekalipun tak kulihat nenek pemulung itu. Ini sudah sangat lama saat aku mengunjungi kantin ini terakhir kali. Pastilah aku tak tahu kapan ia tak lagi beraktivitas di tempat ini. Juga, mengapa ia mesti meninggalkan kantin yang seperti surga para pemulung itu, aku tak tahu. Aku menduga-duga saja. Barangkali dia ke tempat-tempat di mana karirnya sebagai pemulung dimulai; di jalanan, atau tempat pembuangan sampah. Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula.