Semua tulisan dari Muhammad Alamsyah

Lahir di Maros, 17 September 1985. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai. Aktif dalam kegiatan seni- budaya baik skala lokal maupun nasional. Lelaki yang akrab di safa Alam, bergabung dalam beberapa sanggar seni dan bengkel teater serta sanggar lukis di Maros, Sulawesi Selatan. kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni lukis terlupakan. Giat cipta lukisan -lukisan eksperimental yang abstrak dan natural. WA : 085230739973 / semestaalan@gmail.com

Ketika Doa-doa Daun-daun Gersang Terkabulkan dan Puisi-puisi Lainnya

HUJAN MUHARAM

Langit muharam kelabu
Lengkapi musim yang suri
Bumi sunyi perlahan diludahi gerimis kamis
Santri- santri menari di bawah rindang ketapang
Bunga-bunga temukan hidup dipenjara kemarau
Tangisan awan semakin sedu
Deraslah hujan
Deraslah hujan
Deraslah hujan
Mengguyur dosa terhadap tuhan
Salam –salam syukur pada-Nya sedalam cinta bertasbih

Hujan muharam membawa cinta- Mu padaku
Di pelukan matahari melisan rinduku pada-Mu

 

Pangkep, 21 September/01 Muharam 2017

 

 

WAHAI ARBINU

Kutemukan syairmu di bawah gundukan pasir
Tentang suara sunyi yang disembunyi
Bagaimana amarah dikunci dalam getiir
Sedalam apa dendam dicuci sepi

Arbinu, kau sepucuk kertas memburam dilepuh hujan petang
Kau suara sajak merima di batas subuh
Melawan pagi mencari sepinya rembulan remang
Ketika dunia mencekik hidup dan ditendang-tendang kekuasaan gaduh

Kau hidup menghirup abu kelabu
Mati membawa sakit dirakit konglongmerat bergengsi
Kumimpikan kau menjolok bintang wahai Arbinu
Di Pencipta Hidup kau mengadu tentang keadilan diperjualbelikan orator penipu

Kau kawan yang baik
Pergi membawa air mata di bawah terik
Titipkan jimat ketika jumat tegak
Tentang sabar meski sesekali murka sungguh menyibak

Arbinu, kau kenangan yang haru
Maafkanlah aku
Terlupakan waktu bahwa sudah tahun ke tujuh
Almamater Tuhan menggagahi almamater kampus di pusara tubuhmu

 

Maros, 29 September 2017

 

 

KETIKA DOA-DOA DAUN-DAUN GERSANG TERKABULKAN

Ketika doa-doa daun-daun gersang terkabulkan
Terdengar lirih dari celah rintik melinggis
Mega-mega hitam histeris di batas-batas langit bengis
Terjalnya jalan kota senandung tamboring disusuri air kali
Tebing erosi bersaksi tentang hutan digunduli jadi pengintai menghantui
Sajak-sajak badai lahir menjemput amarah zaman di punggung bumi
Hiduplah kuncup-kuncup teratai di bawah mata kaki dirantai alergi
Tiram lautan diantarkan gelombang jadi jalan setapak penjarakan perjalanan sepi
Sementara burung-burung pun tak sudi lagi menikmati bangkai para famili
Kemana lagi mata menjumpai mimpi?
Bukankah langit dan bumi dalam prosesi perwujudan doa-doa daun-daun gersang dikebiri?

 

Pangkep, 15 Oktober 2017

 

 

LHO LUNG

I
Kau Jepang merayuku meniduri angan-anganku seperempat malam. Aku tak biasa menulis puisi Lho Lung, rangkaian kata tak bisa mewakili inginku tentang bagaimana aku hendak memperlakukanmu. Mungkin esok atau lusa aku bisa, beri aku waktu berguru pada musim yang romantis, antara hujan dan angin aku pinjam bahasa asmaranya tentang bumi yang merindukannya.

II
Bolehkah aku menjadi angin o…. johar yang merindangi jalan bersalju? Membawa pergi aroma rosa menyusupi dinding-dinding alam sembunyikan ayunya kekasih pada sakura dan halimun jingga berbias orange. Merampas warna pelangi, melukiskan lesung pipi kekasih di buih memutih, dan engkau wahai gelombang jangan hapus senyum itu, sebab senada detak jam menawar sepi, meluruh. Engkau sang badai, sembunyilah dalam kamar-kamar mega karena beliung kuncupmu aku tunggangi mengantar getar doa-doaku menembus ari terdalam jantung kasihku. Jadilah aku syahadat cinta setiap hela nafasnya mengalun rindu.

III
Ini bukan syair penggoda Lho Lung, tapi bisikan cinta memundaki jiwa, lahir dari manisnya tegukan tuak nipah Rammang-rammang memabukkan. Antara maya dan fatamorgana, cinta – kasih sayang diserupakan waktu yang saga menjaga. Datanglah di selasar ini, telah sekian lama arkaisnya irama kecapi di putih hastaku bersenandung namamu.

IV
Lho Lung, tapi akulah biduk itu, di tengah atlanta merantaukan sepi, diludahi langit ditertawakan belibis samudera, hendak menyerupakan mimpi mentakhtai karang berpamor garam. Apakah mungkin biduk yang karam, oleh mendung dan keajaiban angin membawanya pulang ke dermaga impian?

V
Lho Lung, biarlah aku jadi puisi, ditorehkan pada dinding-dinding ancala mempurba oleh cahaya pena gemintang, jadi hening pada air yang terjun dari muara cadas Bantimurung, bersama basahnya ranting-ranting jati Leang-leang, biarlah aku jadi air mata yang tertinggal di atas hitamnya bebatuan Tamangngura. Jadi rintih difahami luka-luka alam.

 

Maros, November 2017

Rimba dan Puisi-puisi Lainnya

RIMBA

 

Karts membentang  gagah tadah langit senja

Tegak menapak  kepak sayap tornado dari daratan para pendongeng

 

Gemulai nyiur padanya simpan pesan di gerimis senin pagi

“pergi tuan!” Desus  sanca, rupa tarantula, jari-jari benalu, murka

Membakarmu dari getah –  getah  pinus dan ranting – ranting cemara yang marah mendesau “

 

Rimba gelap berloreng tentara

Pun bersemayam arwah – arwah purba menggantung di pucuk -pucuk  dewadaru

Ia lah sukma belantara mayapada tafakkur di lebat jati

Berlafads doa, menamat dosa karma tuan pada hutan

 

Di tebing kapur berkali

Diterjal air terjun

Di jenggot beringin sajen

Di bilah tuak lontar

Biar raga dikoyak malam

Di mangsa waktu di balutan embun, pulas di sarang kunang- kunang, lelap di nyanyian alam

Ikutlah padaku kawan

Balas budi meski hanya lestari

 

Satulah aku

Tuan di hamparan  belantara

Anging lembah barat daya,merasuk jiwa

Ao …….masuk menusuk, dingin menggigil

Getar tubuh berujung di paru – paru abu

 

Terbanglah aku bersama dekapan sang  gagak

Mencumbui fajar di lereng  rimba

Mengalun kisah di saran anoa

Bercerita tentang monyet menimang anak

 

Jiwa merdeka,

Damai mengenang rindu di tengah perdu belantara

 

Pangkep, 28  Mei 2017

 

 

PEREMPUAN ITU

 

Merobek dada

Sepintas bayang mengharu

Air mata tumpah kering terbawa badai benua

 

Perempuan itu

Disimpannya harap di januari kemarin

Secerca cinta menggantung kerinduan

Miris sia-sia lenyapkan dunia dibias cahaya misteri

 

Terbuanglah sudah

Hina didustakan kepalsuan lelaki

Tak kembali menapaki jalan kasih ibu

Di batas kota dititipnya sesal dan air mata memprasasti luka

Bersketsa karma dari goresan tradisi belaka

 

Makassar, 20 Juni 2017

 

 

 

 

NEGERI BUDAK IBLIS

 

Alam kelabu

Hamparan gelap menelan jiwa

Berpijak pada ruang kepalsuan

 

Tiang pelayaran di anjungan kapal retak

Gemuruh petir dari barat

Melukis riwayat

Kebenaran sembunyi

Tak nampak pada jalan menuai bakti

 

Antara dirgantara

Para praja berjaga

Suara sepatu militer tua

Di jalan bergaris darah

Tak seirama dalam perang menantang

Suara bakti kemanusiaan didustakan

Lempar jauh dari kehidupan

 

Pelor bahkan teluh lempar  terlempar

Air mata dari mata yang buta

Adalah makna kebohongan belaka

 

Terlalu sempit bumi

Dihuni perempuan sundal

Lahir dari rahim ibu yang mandul

Di jalan, zina tak bisa dijinakkan

Apalagi ekstasi  perlahan bunuh generasi

 

Dalam birokrasi

Di payung demokrasi

Hukum jadi mayat

Dikafani aturan dari duit siapa yang berdaulat

 

Inilah negeri budak-budak iblis

Bergulat melumat cacat

Jadi parket dipalsukan dalam persil sejarah bangsa

 

Maros, 2010-2017

 

 

SEBELAH JANTUNGKU KAU BAWAH PERGI

 

Malam terkutuk, siang kelabu

Rindu terapung,hanyut terambing di samudera galau

 

Tak ada cinta,hasrat memudar

Naluri padam,seketika bintang kehilangan sinar

 

Aku sang malam melepuh dalam gelapnya kehidupan, terpenjara dalam hening , merindukan cumbu bidadari dari syorga para pencinta

 

Debar jantung sekejap hilang ditelan duka perih,

Terbakar bara oleh palsunya gerhana  menodai hari

 

Kau adalah penghibur cinta, kurindukan menghapus jejak durjana dalam impian tak berbatas

Kau adalah cinta, mematung di taman kota membisu mensungging senyum semu

Kerinduanku adalah suara- suara penyair yang digilakan cinta yang tak pasti

 

May, sebelah jantungku kau bawah pergi

Nisanmu, pena cinta abadi yang melukis di keningku, bergaris penuh keriput

 

Maros, 23 Oktober 2015

 

 

SINAR PUASA

 

Pertarungan menemus syorga

Dalam gelap renta dijabah bayang – bayang neraka

Tatapan mata iblis nyala di topeng lelaki mati jiwa

Serak sumbang nada serakah dilukis-Nya di lidah gadis nyinyir

 

Cakra berselimut berkah ramadan

Ialah lentera menepi pada sinar yang kudus

Ialah sayap pada lemah api  abadi

Di sinilah malam mati diremuk tasbih

Siang dipeluk syahadat pada roh agung

Tantang adabiah islamiah ditikam dzikir dan solawat

Diputihkan bias sabar obralnya amalan puasa

 

Tadarus digema

Tembuslah arasy

Taburlah hikmah

Terbungkuslah hidayah

Tersemailah pahala

Gaib malaikat jelma dalam doa

Teruntuk para jiwa yang lailatulkadar

 

Oh .. sekuntum kembang adnan

Petiklah di hening simpuh tahajud

Aromanya pada musafir berserah diri

Tunduk dalam putaran senja sampai mati

Kepada Sang Maha yang menjanji

 

Sinar puasa,puasa bersinar

Lebur pada binara-binar dakwah dipuja

Urai makna Ilah dalam air mata dosa

 

Sinar puasa, sinarnya raga berpeluk puasa

Mukmin tadabur kaji hakikat jiwa semesta

Lupa dunia menjerumus ilusi belaka

 

Maros, 12 Juni 2017

 

 

BIDUAN KAMAR MANDI

 

Jelita

Merah delima kecupan bibir-bibir hitam

Bau kopi

Sebut saja  Si Sanja

Tegur malam lewat rayuan- rayuan cinta yang basah

 

Rindunya menggumpal

Jadi awan

Jadi hujan

Jadi  embun

Ikut gugur bersama daun tersungkur

Bertekuklutut di padang –padang asmara yang binal

 

Sembunyilah

Di sudut malam kita lebur

Dalam irama tak menjumpai dosa

Biar kita mati

Digigit siluman berkutu dari rambutmu berparas kleopatra di sana

 

Ah…..

Kau dangdut

Kau gitar yang melodi

Lembut kulit lembu tubuhmu

Siksalah sang kumbang berharap cemas antara bayang-bayang

 

Aku tamu

Jamu aku secangkir anggur putih

Bersulam rasa mengecup sukma

Indah

Alunan nafasmu kusimpan dalam kapas berjimat

 

Biduan dalam kamar mandi

Jangan bersiul

Karena itu bukanlah mukjizat bagimu

 

Maros , 07 Desember 2016

Kisah di Teluk Bone dan Puisi-puisi Lainnya

KISAH DI TELUK BONE

 

Bertahun berlari buang perih, merajam jiwa di September senja  berlalu

Kenangan telah dituliskan di jalan berdebu, angin menghempasnya jauh

Jadi koloid menumpang pada keringnya daun- daun tulip tanah Cenrana  menanti semi

Sisa- sisa kerinduan telah terbuang pada jurang yang dalam, di terjalnya lembah Bawakaraeng

 

Terhempas

Sisa darah dan udara mengisi  ruang jiwa, hampa diguyur hujan malam

Meski perih  bersisa di hantam percik gelombang Losari  yang asin

tak kuratapi segalanya, kecuali takdirlah  memahaminya

 

Pada cakrawala, pada pelangi kutuliskan kebencian, telah dihapus angin badai Selayar

Perapian cinta yang pernah nyala, telah di padamkan busa air terjun Malino

Pun kasih yang pernah tumbuh, telah terkubur mati di makam Londa

 

Usai sudah sepenggal kisah di Teluk Bone

Jangan kembali ! karena gairah  seribu tahun lagi akan bersemi

Pergilah, jangan lagi menoleh pada gerbang luka

Masa lalu itu adalah nestapa yang dicatat langit kelam

Biar aku di sini, mengurai kisah di sebait puisi

 

Pangkep,17 Mei 2017

 

 

PATUNG

 

Lemah pasrah patah rebah

Lihatlah

Jiwanya mati

Lengking jarinya menulis takdir pada tanah

Air langit menjilat debu keningnya

Netra pada pigura diam

Rintih memecah ingin

Berilah kehidupan

Meski hanya semalam pada pajangan

 

Patung

Tamat ditelan tamak

Belum termakna cerita Tuhan di lipatan selendangnya

Mematung

Mati rasa tuannya pada malam dalam pahatan

 

Maros, 05 juni 2017

 

 

MAWAR

 

Mawar dipetik

Duri padanya

Menancap di kulit

Darah menetes

Jeritan pilu

Perih

Langit tak sudi mendengar rintih

 

Makassar, 19  September 2016

 

 

BIAR

 

Ha… ha…ha…gh

Kulihat rindu di matamu mengemis senada denting –  denting kecapi

Lidahmu meludahkan neraka,

kidung- kidung munafik merobek jala –jala kupingku ditenun tabah

 

Kuharap cacing yang sembunyi  di hatimu,

perlahan mengunyah angkuh bersemedi  di batu – batu batinmu

 

Sayang

Tak  kau lesapi, sungguhnya bening cermin jiwaku,

padanya bukanlah bayang melainkan rupa keabadian  kasih,

tak berselendang  kafan dari tubuh- tubuh digauli benci

 

Biar

Sepanjang jalan kita jadi musafir kelana

Saling memaham lewat lekuk angin,

menuliskan makna di daun gugur remuk terpelanting

Pun waktu kan mengejar hidup,

menikamnya dalam ketiadaan harapan dari ilusi roh tentangmu

 

Makassar, 24 Juni 2017

 

 

MENTARI MENUNGGUMU TERSENYUM

 

Lahir dari tangisan

Bawa pesan dari Tuhan

Tak bisa terbaca

Tanpa kajian kesucian

 

Mungil di ayunan berangin

Air susu ibu mengalir dalam tubuhmu

Cahya nirmala malaikat

Melekat belai lelapmu

Itari mimpi dini hari

 

Jika pagi menghilang

Jangan sambut cerahnya hari

Hiasan air mata memecah sunyi

Jika ibu di kali tua

Mencuci popok kencingmu

 

Kutimang engkau di lembutnya hastaku

Iringilah langkah ayahmu

Senyum meski belum bisa termaknai

Yang di gerbang pelabuhan kota

Mengganti keringat dengan rupiah

Demi banjirnya air susu ibu

 

Anakku

Dalam ruang ini

Udara alam semesta

Hangatkan tubuhmu

Ketika selimutmu basah

Karena hujan di atap rumah ini

Jatuh menetes bekukan jemari ibumu

 

Anakku

Jika kelak kau dewasa

Wujudkan baktimu pada ayah bunda

Junjung amanah Tuhanmu

Tinggikan martabat bangsamu

 

Tidurlah nak dengan nyenyak

Sebab esok mentari menunggumu tersenyum  ***

 

Makassar,06 Maret 2017

 

 

LUSUH

 

Mata nyala pada wajah merah

Sekelopak mawar lusuh pada sanggulnya

Birulah wahai kau yang berdiri di balik jendela

Diamlah,

Tidurlah yang manis

Meski dipanmu gusar pada pundakmu

 

Pangkep,21 November 2016

 

 

KEMELUT DUNIA

 

Kepala melayang

Ganti berlari tembus udara

Separuh gelinding di jalan

Digunduli roda-baja diserbu asap

Dilibas waktu

Memburu hidup pada butanya pagi meninggalkan tidur

Di perbatasan terjungkal

Dimandikan keringat  tubuh sendiri

Berdiri meratapi jalan bertikung

 

Kemelut dunia ,mendaki lengkung pelangi berlumut

 

Petang usai

Cerita baru dimulai

Dimanalagi dunia ?

 

Makassar, 18 Juni 2017

 

Ilustrasi: https://www.redbubble.com/