Semua tulisan dari Ferdhiyadi N

Bercita-cita menjadi Power Ranger Merah. Saat ini aktif sebagai Pustakawan di "Ruang Abstrak Literasi". Fans PSM Makassar dan Inter Milan. Senang membaca, berdikusi dan jalan-jalan.

Ibu Mega: Sosok Perempuan Pesisir yang Peduli Pendidikan

Kami mendapat suntikan energi baru.  Setelah menyelenggarakan agenda pembahasan kurikulum Kelas Anak Pesisir, esoknya kami langsung mengajak Teman Belajar baru untuk meninjau lokasi-lokasi yang dijadikan sebagai ruang kelas terbuka Kelas Anak Pesisir Komunitas Ruang Abstrak Literasi.

Letaknya di kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Pantai Marbo Tallo dan di salah satu beranda rumah masyarakat Kampung Karabba. Lokasi yang terakhir di Kampung Karabba adalah lokasi baru Kelas Anak Pesisir yang baru. Tidak jauh dari Pantai Marbo Tallo sekitar kurang lebih satu kilometer kita sudah tiba di lokasi yang masih termasuk bagian dari Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. read more

Merayakan Makna Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Penggusuran

“Apakah kamu masih percaya negara?” seorang teman bertanya dengan serius.

“Apakah kita masih bisa mengatakan merdeka jika kemiskinan dan ketidakadilan masih nyata dilihat di depan mata?” lanjut bertanya kembali”

“Ah, sudah mi, pertanyaannmu tidak penting,” jawabku dengan santai

Seriuska ini bertanya cika’,” menatapku dengan tatapan tajam.

“Oke begini, bersama dengan warga Tallo, kami berencana akan mendirikan negara; Republik Rakyat Tallo (RRT) dan menjalin kerjasama serius dengan Negara Cina,” balasku dengan canda. read more

Manusia Murahan dan Tuhan yang Maha Pemurah

Syukur. Manusia seperti saya masih diberikan kesempatan untuk menjumpai kembali bulan Ramadan tahun ini. Bulan dengan segala keberkahan dan kemuliaannya. Bulan terbaik untuk sejenak menyepi, mengakui kekuasaan dan kebesaranNya. Bulan bertabur emas pahala. Bulan yang melatih kesabaran dan wujud rasa syukur sebagai manusia. Percayalah bahwa tulisan ini tidak akan bermanfaat bagi mereka yang tidak percaya dan meragu akan keberadaan tunggal pemilik semesta dan teruntuk mereka yang mengaku paling beragama. Ketahuilah para pembaca, bisa jadi mungkin kalian sama seperti saya yang merasakan bulan Ramadan ini seperti motor yang sudah lama tidak diservis dan kemudian masuk bengkel lalu setelah itu kembali sedikit menjadi baik dan akhirnya melupa lagi setelahnya. Tapi setidaknya itu sedikit lebih baik dari mereka yang bersembunyi di balik topeng-topeng agama tetapi hasrat busuknya hanya untuk merebut panggung kuasa di negara sirkus ini. read more

Gerakan Literasi untuk Apa dan Siapa?

Beberapa tahun terakhir virus literasi menjamur di kota senja Mecazzar dan merebak mulai dari ujung selatan hingga utara Provinsi Celebes. Adalah anak muda, yang kebanyakan menjadi inisiator atau penggagas dari gerakan literasi tersebut  suatu penanda yang baik, mengingat masa lampau bahwa Tanah Bugis-Makassar kaya akan dunia ke-literasian, seperti contoh sastra epik La Galigo dan pustaka lontara yang tidak hanya berisi tentang aktivitas raja, tetapi juga banyak memuat pengetahuan tentang ilmu pertanian, kemaritiman, sampai  pada cara menyembuhkan penyakit. Gerakan literasi pun juga mendapat apresiasi dari Presiden Jokowi dengan mengundang beberapa orang di berbagai wilayah Indonesia yang dianggap berkontribusi dalam meningkatkan minat baca tulis masyarakat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017 yang lalu, dan juga Presiden Jokowi membuat kebijakan dengan menggratiskan biaya pengiriman buku pada tanggal 17 dalam setiap bulannya. Pertanyaan kritisnya kemudian adalah gerakan literasi  yang berkembang hari ini adalah untuk apa dan untuk siapa? read more

Bajingan, Paloma, dan Tari

”Weee Bajingan!”

“Laki-laki Brensek!”

“Kau kurang ajar!”

Tiga kalimat dari pesan WhatsApp dua malam yang lalu seolah mempertegas dan memberi gelar: bahwa kau adalah satu dari banyak lelaki buruk di zaman yang masih merendahkan kedudukan perempuan, sebagai makhluk lemah dan tak berdaya oleh nafsu lelaki. Tiga kalimat itu sedikit mengganggu konsentrasiku untuk menyelesaikan bacaan cerpen berjudul “Paloma”.

Membaca adalah salah satu caraku untuk sedikit melepas beban, tetapi Paloma justru mengajakku bercengkrama imajiner untuk membahas tentang arti kesetiaan. Paloma tetap bersetia meski kekerasan dan pengkhianatan menjadi santapannya setiap hari terhadap lelaki yang telah memilihnya sebagai istri. Puncaknya adalah setelah kebenaran masa lalu terungkap sendiri oleh suaminya melalui foto-foto kemesraan Paloma bersama perempuan. Iya, Paloma adalah seorang lesbi di masa lalu dan mencoba menghapusnya di masa depan dengan kesetian tanpa syarat. Gugatan cerai suaminya mengakhiri kesetiaan tersebut, dan Paloma akhirnya tersenyum dan berkata, “Tuhan telah membebaskanku dari jerat lelaki yang tidak dewasa ini.” read more

Kampus Islam yang Anti Kritik dan Mahasiswa-mahasiswa yang Menemukan Arus Baru

Tahun 2016 telah berakhir dengan tetap meninggalkan banyak persoalan di dunia pendidikan Indonesia.Terutama institusi perguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta, berlomba-lomba atau berkompetisi menceburkan diri ke dalam skema pasar neoliberalisme menuju label world classuniversity. Kampus dengan biaya kuliah mahal, rawan korupsi, dan tidak memberikan hak-hak dasar mahasiwanya, seperti fasilitas kuliah yang tidak layak, serta ruang kebebasan berorganisasi yang terbatas dan jaminan masa depan yang suram, pastinya akan memicu protes dari mahasiswa sebagai kelompok mayoritas di kampus. Sekali lagi, satu teori yang tak pernah usang diberangus zaman dicetuskan oleh “mbah janggut” Karl Marx, bahwa keadaan sosial akan mempengaruhi kesadaran sosial, dan seperti itulah kampus yang menciptakan sebuah keadaan yang jauh dari kenyataan kongkret, sehinga melahirkan gerakan mahasiswa untuk merubah keadaan tersebut. read more

Manusia Itu Fidel! dan Puisi-puisi Lainnya

Manusia Itu Fidel!

Fidel.. Manusia yang sepantas-pantasnya untuk dihormati..

Seluruh hidup bekerja untuk kemanusiaan..

Tentang cita dan harapan akan dunia yang bebas dari penghisapan dan penindasan..

Negeri yang mengaku adidaya membencimu, memantau gerak-gerik dan berkali-kali menuduhmu teroris..

Karena membunuhmu adalah keharusan bagi mereka yang menghalangi hasrat kerakusan!

Tetap saja, sampai sekarang Kuba tetap tegak, dan berdaulat!

Menolak menjadi budak kapitalisme monopoli..

Fidel.. Puluhan tahun silam kawan sejatimu, Ernesto telah duluan pergi.. Mati bermartabat! read more