Semua tulisan dari Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Apa dan di mana Lailatul Qadr itu Terjadi?

Sejak kecil, di hati kecil saya sering muncul pertanyaan, “sebenarnya apa yang dimaksud dengan Lailatul Qadr, suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan? Mengapa malam-malam yang saya temui di bulan ramadhan nampaknya sama saja? Bulan pun tak berubah, bentuknya tetap bulat, warnanya pun tak berubah, hampir tak ada yang istimewa sebagai penanda datangnya Lailatul Qadr? Jadi malam Lailatul Qadr itu seperti apa?”

Apalagi jika ditambah dengan kisah-kisah yang mencengangkan tentang Lailatul Qadr, semakin membuat kita penasaran tentang Lailatul Qadr. Bahkan jika ada orang yang mengalami perubahan ke arah kebaikan secara drastis di bulan ramadhan, sebagian orang akan menganggap bahwa, orang tersebut telah menerima berkah Lailatul Qadr.

Dan setelah dewasa akhirnya kita memahami, Lailatul Qadr bukan fenomena yang terjadi di realitas eksternal. Jika Lailatul Qadr benar-benar terjadi di realitas eksternal, maka setiap orang akan merasakan perbedaan yang terjadi antara malam itu dengan malam-malam lainnya. Sebab itu Lailatul Qadr bukan fenomena realitas eksternal, namun fenomena yang terjadi di dalam diri kita, di batin kita.

Jika ada orang yang mendapatkan anugerah Lailatul Qadr, berarti ia telah mendapatkan kadar eksistensi dirinya  melalui ibadah-ibadah yang ia lakukan di bulan ramadhan. Usaha dan tekad yang begitu kuat dalam melakukan amal ibadah di bulan penuh rahmat ini sehingga ia memperoleh perubahan di dalam dirinya.

Berdasarkan penjelasan ini, kita bisa memperkirakan, siapa orang-orang yang berkesempatan memperoleh Lailatul Qadr. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar melatih dirinya dengan amal-amal ibadah yang ia lakukan di bulan ramadhan. Mereka tidak mencukupkan dirinya dengan menahan lapar dan dahaga, namun menjaga aspek batinnya dari hal-hal yang tidak diridhai oleh Ilahi.

Demikian halnya dengan berdoa, berdoa adalah ungkapan jiwa seorang hamba dari batin dirinya kepada Tuhan. Apa yang ada di dalam batin, kita berusaha mengungkapkan sepenuhnya ke Hadirat Ilahi. Ketika ada persoalan di dalam diri, kita berusaha mencari jalan keluarnya. Mencari jalan keluar pada hakikatnya adalah bentuk doa, meskipun tanpa kita pernah menyadarinya sebagai suatu bentuk doa.

Waktu bisa dibagi menjadi dua bagian, ada waktu eksternal dan waktu internal. Waktu yang terjadi di dalam diri kita adalah waktu internal dan waktu yang terjadi di luar diri kita adalah waktu eksternal. Waktu eksternal adalah waktu dimana seluruh detik-detiknya adalah bilangan yang telah ditakar. Artinya waktu itu independen dan terpisah dari kondisi yang terjai di dalam diri kita. Namun waktu internal, detik demi detiknya tidak sama. Satu detik internal terkadang berlangsung selama berjam-jam tanpa kita sadari. Bisa juga sebaliknya, berjam-jam telah terlewati namun terasa oleh jiwa hanya sesaat saja terjadi di dalam diri kita.

Dalam surah Fusshilat ayat 53, “Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri . . . “. Dalam ayat ini Allah swt menunjukkan realitas sebagai tanda-tandaNya yaitu di luar diri dan di dalam diri. Dan baik di dalam diri maupun di lluar diri masing-masing ada kadarnya.

Waktu di dalam diri juga punya ukuran namun tidak seperti pembagian detik demi detik di realitas eksternal. Ukuran malam Lailatul Qadr adalah ukuran malam di dalam diri kita, bukan malam realitas eksternal sebab jika ukurannya adalah malam eksternal maka semua orang tahu dan bisa menyaksikannya.

Penyaksian para Nabi terjadi di dalam diri mereka, bukan di luar diri. Jadi meskipun pada saat itu kita berada di samping Nabi, namun kita tidak akan tahu wahyu apa yang sedang turun pada diri Nabi, sebab wahyu turun di dalam diri Nabi, bukan di luar diri Nabi.

Oleh sebab itu, kita mesti mencari Lailatul Qadr di dalam diri kita, bukan di luar diri. Kita mesti mencarinya di alam malakut diri kita sendiri. Sebab setiap saat Tuhan menurunkannya ke dalam diri kita. Selebihnya berada di tangan kita, apakah kita benar-benar ingin meraih Lailatul Qadr di dalam diri kita atau tidak.

Apa Ada Relasi antara Puasa dengan Keheningan?

Menurut Ibn Arabi, salah satu makna dari hakikat puasa adalah ‘meninggalkan’ atau ‘tidak melakukan’. Tidak melakukan makan dan tidak melakukan minum serta tidak melakukan hal-hal yang tidak diridhai oleh Ilahi saat seseorang sedang menjalani ibadah puasa. Berdasarkan hal ini, Ibn Arabi menyimpulkan, sebenarnya puasa itu bukan ‘melakukan’ (amal) namun meninggalkan atau ‘tidak melakukan’ (bukan amal).

Jadi tak heran jika Ibn Arabi menyimpulkan bahwa perbuatan ‘tidak makan’ dan ‘tidak minum’ adalah perbuatan Ilahi, bukan perbuatan hamba. Dan dari sini kita bisa memahami maksud hadits, “puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan menebusnya”.

Seseorang yang sedang berpuasa sebenarnya sedang menutup mulutnya dari makan dan minum. Namun apa sebenarnya maksud dari menutup mulut? Apakah Tuhan sedang mengajarkan pada hambanya suatu maqam keheningan? Jika demikian berarti ada hubungan antara puasa dengan keheningan.

Lalu apa makna keheningan dan bagaimana menggambarkan keheningan?

Keheningan adalah warisan kuno manusia  dan kemanusiaan kita. Amat disayangkan karena manusia moderen sudah mulai meninggalkan warisan tersebut. Manusia kini memberikan keriuhan tanpa makna. Dan hanya menawarkan keributan yang brutal tanpa akhir. Sementara pada saat yang sama, keheningan mampu memberikan faedah yang luar biasa dalam perkembangan ruhaniah seseorang.

Keheningan senantiasa mengajak manusia agar senantiasa bisa bersama dengan dirinya sendiri. Karena di saat hening manusia bisa menengok kembali eksistensi dirinya dan mampu menemukan kesejatian dirinya. Kondisi tersebut mampu memberikan makrifat dan kesadaran bagi manusia agar tidak terjebak dalam kelalaian atas dirinya.

Jika kesadaran atas kesejatian diri tidak tercipta, maka dunia luar akan mengendalikan kesadaran eksistensi kita. Ditambah lagi dunia luar telah berhasil masuk ke rumah-rumah kita melalui dunia digital. Hampir tak ditemukan lagi ruang keheningan yang paling diam kecuali di dalam keheningan batin jiwa kita sendiri.

Syarat utama agar manusia mampu mendengarkan, berpikir, dan berkontemplasi secara jernih dan mendalam agar mampu melihat ke dalam diri adalah dengan memiliki ketenangan pikiran, keheningan, dan diam.

Namun sebagaimana yang kita pahami, ada tiga jenis keheningan: keheningan dengan menutup mulut, keheningan pikiran, dan keheningan berkeinginan. Keheningan mulut bukan hal yang mudah. Keheningan pikiran lebih sulit lagi. Dan paling sulit adalah keheningan dalam berkeinginan.

Keheningan mulut di era digital tentu lebih sulit sebab kita sudah terlanjur mengkloning mulut kita di media sosial. Postingan-postingan kita adalah bentuk perpanjangan dari mulut kita. Begitu pula dengan keheningan pikiran, tentu akan terasa lebih sulit mengontrol pikiran dan imajinasi kita. Dan keheningan berkeinginan berada di tingkat kerumitan yang lebih dalam dan paling sulit. Sebab hampir dipastikan kita tak pernah lepas dari beragam bentuk keinginan.

Berdasarkan atas uraian sebelumnya, kita dapat memahami hubungan puasa dengan keheningan. Makna hakikat dan batin puasa adalah untuk sampai kepada makna yang paling sejati akan keheningan yaitu keheningan dalam beragam keinginan.

Melalui puasa kita mencoba untuk menghindar dari berbagai keinginan. Lari dari berbagai keinginan yang membuat aspek ruhaniah kita menjadi lemah. Menjauhi keinginan yang membuat ego kita semakin besar dan menjadi-jadi. Dan pada akhirnya, keheningan berkeinginan akan mendekatkan kita pada satu makna kematian yaitu ‘mati sebelum mati’.

Kata Maulana Rumi:

Dengarkanlah!

Tutup mulutmu!

dan jadilah diam seperti cangkang keras,

karena lidahmu adalah musuh bagi jiwa, temanku!

Ketika bibir tak bersuara, Hati memiliki ratusan lidah.

 

Maulana Rumi ingin menegaskan bahwa Tuhan senantiasa dan terus menerus memberikan Ilham kepada manusia. Meski demikian namun betapa sedikit yang mampu mendengarkannya.

Mungkin karena kita begitu banyak mendengar suara keindahan yang ada di lur sana sehingga kita tidak bisa mendengarkan suara Ilahi yang ada di dalam diri kita sendiri. Padahal Tuhan senantiasa berbicara kepada jiwa kita.

Orang-orang yang benar-benar berpuasa selayaknya banyak diam dan memperhatikan makanannya agar ia mampu mendengarkan ilham-ilham Ilahi.

Karena jika seseorang ingin mendengar suara yang datang dari kejauhan, tak ada jalan lain kecuali ia mesti diam dan tidak berbicara.

Seseorang perlu mendiamkan luar agar suara kebisingan di dalam hati lebih jelas terdengar. Mendiamkan luar adalah tidak mengaktifkan fakultas indrawi agar terdengarkan suara dari dalam jiwa.

Apalagi fakultas internal manusia lebih banyak daripada fakultas eksternal. Akal, nafs, hati, ruh, sir, khafi, dan akhfa adalah fakultas internal manusia. Namun kita lebih asyik diluar sehingga tak memperhatikan fakultas atau potensi di dalam diri. Jadi, ketika bibir tak bersuara, Hati memiliki ratusan lidah.

Benar kata Meister Eckhart, “sesuatu yang paling menyerupai Tuhan adalah keheningan”.

 

 

Bagaimana Sebenarnya Hubungan Puasa dan Lawak?

Saya selalu bertanya setiap kali memasuki bulan puasa, mengapa acara lawak menghiasi layar televisi kita setiap kali memasuki bulan puasa? Sebenarnya apa hubungan puasa dengan lawak? Apakah puasa melahirkan stres yang tinggi sehingga butuh hiburan yang menghibur? Sebab salah satu tujuan utama lawak adalah agar kita bisa tertawa riang gembira, sedangkan tujuan puasa adalah untuk sampai kepada ketakwaan. Jika demikian, apa ada hubungan antara tingkat ketakwaan dengan lawak dan kelucuan?

Suguhan lawak di layar televisi kita biasanya disiarkan menjelang buka puasa dan menjelang sahur. Saat menjelang buka puasa, kondisi tubuh kita semakin lemah. Kondisi seperti ini membuat setiap orang memilih menghabiskan waktu dengan caranya masing-masing. Dan sepertinya menyaksikan lawak di televisi masih tetap pilihan favorit. Jika tidak, tak kan marak menu perlawakan di acara pertelevisian kita.

Demikian halnya menjelang sahur, kesadaran yang belum pulih karena baru terbangun atau dibangunkan dari tidur membutuhkan suasana yang lebih segar agar kesadaran segera kembali seperti sedia kala. Dan suguhan lawakan tetap menjadi menu favorit bagi para pemirsa dalam menemukan kegaran.

Jadi sebenarnya seperti apa hubungan puasa dan lawak? Apakah lawak hanya tempat menghabiskan waktu menanti azan maghrib di bulan puasa atau sarana menyegarkan jiwa yang sedang kelelahan dalam berpuasa? Kita tak pernah tahu secara pasti bagaimana hubungan lawak dan puasa, tapi yang pasti lawak menjadi bagian menu hidangan utama di bulan ramadhan.

Hubungan antara lawak dan puasa dapat terlihat dari aspek kebiasaan yakni kebiasaan yang berubah secara drastis. Bulan ramadhan mampu mengubah kita terutama soal waktu dan kebiasaan-kebiasaan yang terbiasa kita lakukan di luar bulan ramadhan.

Waktu makan kita berubah, lebih cepat dari waktu yang biasa kita lakukan dan lebih lambat dari waktu sebelumnya yang kita lakukan. Sebelumnya kita tidak terbiasa bangun di tengah malam dan sekarang harus bangun di tengah malam. Waktu tidur kita berubah secara total. Kebiasaan-kebiasaan yang diperbolehkan untuk dilakukan di pagi, siang dan sore hari, mesti dilakukan di malam hari.

Mengubah kebiasaan bukan hal yang mudah sebab kebiasaan telah menjadi karakter di dalam diri kita. baik itu kebiasaan buruk atau pun juga kebiasaan baik. Bulan ramadhan hadir agar kebiasaan buruk kita berubah menjadi kebiasaan baik dan kebiasaan baik menjadi lebih baik lagi.

Di luar bulan puasa umumnya kita makan besar tiga kali sehari, di bulan ramadhan menjadi dua kali. Jika jarang baca Quran, di bulan ramadhan ini kita tergerak membaca Quran. Jika jarang solat tahajjud, di bulan ramadhan kita melaksanakan solat tahajjud.

Jika suka mengumpat di bulan ramadhan, kita berupaya untuk tidak mengumpat. Jika suka menghasud, di bulan ramadhan kita melatih menahan diri untuk tidak menghasud.

Jadi sangat mudah mengetahui apakah puasa yang kita jalankan di bulan ramadhan berhasil atau tidak? Cukup dengan melihat kebiasaan kita sebelum ramadhan. Jika kebiasaan-kebiasaan kita tidak berubah, berarti kita hanya memperoleh lapar dan dahaga.

Namun apakah lawak hadir di bulan puasa karena kita tidak terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang berubah secara total sehingga jiwa kita perlu dihibur dengan riang dan canda tawa setiap harinya? Apakah lawak hadir di bulan puasa karena ketidakmampuan kita mengattur kebiasaan yang baru? Intinya kehadiran lawak di bulan puasa tetap menjadi misteri sebab tidak ditemukan dengan pasti hubungan di antara keduanya.

Tapi yang paling menakutkan jika hubungan antara puasa dan lawak terjawab dengan relasi industrial bahwa, puasa-puasa yang kita jalani telah menjadi industri. Tentu akan sangat membahayakan jika puasa telah menjadi bagian dari industri karena segala hal yang terkait dengan puasa akan menjadi industri.

Tapi indikasi puasa menjadi industri nampak terlihat begitu gamblang saat ini, iklan makanan dan minuman menjelang buka puasa, datang lebih lebih dahulu daripada  ucapan Marhaban Ya Ramadhan. Acara lawak mendapat porsi lebih dibandingkan dengan di luar bulan puasa.

Kata Maulana Rumi:

Saat mulut ini kau tutup, ada mulut lain yang terbuka,

Suapannya adalah suapan-suapan rahasia.

 

Jika mulut tertutup untuk makan dan minum,

Akan datang cahaya dari langit, makanan ruhaniah kita.

 

Jika kau kosongkan kantong di dalam dirimu dari makan dan minum,

Akan kau temukan dirimu terisi dari mutiara-mutiara makrifat dan yakin.

 

Lihatlah jiwa anak-anak!

Jiwa mereka terbebas dari tipuan setan, sehingga mereka begitu dekat malaikat.

 

Sudah berapa banyak kau makan makanan manis dan berlemak?

Ujilah beberapa hari dengan puasa!

 

Sudah berapa lama kamu terpenjara dengan tidur pulas?

Bangunlah di malam-malam ini dan raihlah singgasana!

Tragedi, Pengenalan Diri, dan LifeStyle

Kata orang, ada dua jenis tragedi kehidupan. Saat kita bisa meraih apa yang kita inginkan dan saat kita tak mampu meraihnya. Tidak meraih dan meraih impian adalah tragedi kehidupan. Tentu lebih mudah memaknai, tidak mampu meraih apa yang kita inginkan adalah tragedi kehidupan. Tapi mengapa saat mampu meraih impian kita menjadi bagian dari tragedi kehidupan?

Tapi coba perhatikan, saat seseorang tidak memiliki kendaraan, orang itu sangat berhasrat untuk membeli kendaraan. Kemudian saat kendaraan tersebut mampu terbeli, beberapa bulan kemudian, kendaraan tersebut menjadi suatu hal yang biasa. Kita mulai terbiasa dengan kendaraan tersebut. Seolah-olah dunia ini diciptakan dengan kebahagiaan yang sedikit dan penderitaan yang banyak. Tragedi lebih langgeng daripada kebahagiaan. Betapa manusia begitu didominasi oleh derita dan tragedi.

Dasar persoalannya ada pada diri manusia dari aspek fisiologi. Indra fisik kita mengalami kekenyangan dan akhirnya biasa dan terbiasa. Dan tragedi kehidupan yang nyata akan bermula di saat entitas-entitas yang ada disekitar sebagai faktor penggerak, perlahan-lahan mulai menurun, sebab tidak lagi mempengaruhi indra fisik kita. Tepat pada saat itu, rasa untuk hidup semakin menurun.

Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan ‘menua’ atau menjadi semakin tua. Indra fisik kita semakin menurun terhadap realitas eksternal. Penglihatan, pendengaran, penciuman, dan indra lainya semakin lemah. Suatu perputaran pergantian secara alamiah dari kenikmatan menuju sakit. Apa ada jalan keluar dari persoalan ini?

Jalan keluar dari persoalan ini adalah melatih diri untuk tidak membandingkan, dan mencoba untuk merasakan suatu kenikmatan dari hal yang paling sederhana melalui latihan-latihan tertentu.

Jadi sebelum kita menua secara fisiologi, sebenarnya kita telah menua secara mental. Penuaan secara mental disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan. Sebab kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak memberikan respon ke dalam diri dan diri pun lemah dalam memberikan respon terhadap kebiasaan-kebiasaan. Penuaan secara mental tidak terjadi pada anak-anak sebab anak-anak setiap saat selalu memiliki hasrat.

Penyebab utama penuaan mental karena membiarkan kehidupan  beserta momen-momen waktu yang ada bersamanya tergadai pada kenikmatan di masa mendatang. Bahkan masa mendatang yang dimaksud boleh jadi dalam rentetan waktu sejam kemudian. Dalam kata lain, kita membiarkan kehilangan menikmati kenikmatan di masa sekarang yang sedang berjalan secara beruntun. Karena kenikmatan kita tergadai di masa mendatang.

Jadi meskipun kita memasak sesuatu, makan dan minum pada masa sekarang ini, namun kenikmatannya seolah sirna karena kenikmatan yang kita maksud senantiasa terkait dengan masa depan. Jika demikian, tepat di dalam kondisi seperti itu, ada suatu hal yang terlupakan bahwa, jika kita tak bisa menikmati masa sekarang ini yang sedang berlangsung maka di masa selanjutnya pun tak kan bisa kita nikmati.

Dan pada akhirnya tak ada yang disebut dengan kebahagiaan di masa depan, hanya metafor dan tak mendasar. Menggadai kehidupan kita di masa yang akan datang, secara perlahan satu demi satu akan merenggut momen-momen kehidupan kita. Artinya yang ada hanya masa depan yang belum datang, sedangkan kita menjalani masa sekarang ini sebagai kebiasaan-kebiasaan saja.

Jadi cara melanggengkan tragedi adalah menggadaikan kebahagiaan di masa mendatang.

Semakin besar respon kita dengan cara yang indah dan menunjukkan kesungguhan terhadap realitas yang ada di sekitar, suatu tanda bahwa kita semakin hidup. Begitu pun sebaliknya, semakin acuh kita terhadapnya maka kebiasaan akan menjebak kita, hanya keberulangan-keberulangan dalam menjalani kehidupan, akhirnya menjemukan dan membosankan.

Padahal intinya bagaimana kita melihat, memandang, dan memaknai seluruh momen-momen kita sebagai momen keindahan dan kebahagiaan. Coba perhatikan seorang pelukis, sebelum melukis pepohonan, ia mencoba melihat sedalam mungkin pepohonan tersebut dan dari situ terciptalah lukisan pohon.

Hanya dengan cara ini kita bisa keluar dari lingkaran kebiasaan-kebiasaan yang menjemukan yaitu dengan menjalani hidup dengan baik. Maksudnya melihat dengan baik, mendengar dengan baik, bertutur dengan baik, dan melakukan segalanya dengan baik, agar mampu merasakan kebahagiaan di masa sekarang ini yang sedang berlangsung.

Kata Sa’di:

Aku mencintai seluruh alam karena seluruh alam berasal dariNya,

Apa ada beda sedih dan bahagia bagi seorang arif?

 


sumber gambar: akarpadinews.com

Fiksi: Salah Satu Bentuk Keindahan Kreasi Imajinasi Manusia

 

Tak mudah menciptakan kisah yang menarik. Kisah yang memberikan gelora. Melambungkan imajinasi kita untuk menemukan makna-makna yang ada dibaliknya. Melantunkan kisah dalam bahasa fiksi, bisa dianggap sebagai satu anugerah yang tak hadir di dalam setiap insan. Padahal salah satu fakultas yang dimiliki manusia disebut dengan ‘creative imagination’. Melalui fakultas ini manusia bisa merangkai suatu kisah yang tak pernah terjadi sama sekali di dunia ini.

Berkat fakultas ‘creative imagination’ ini, manusia bisa menciptakan suatu keindahan di dalam imajinasi. Dan hasil kreasinya bisa diekspresikan dalam bentuk roman, novel, cerpen, bahkan film. Alam imajinasi lebih luas dari alam yang kita huni sekarang ini.

Para filsuf dan sufi salah satu di antara mereka yang diberikan kekuatan mengaktualkan potensi ‘creative imagination’. Mitos Sisyphus salah satu karya Albert Camus yang cemerlang. Camus mengisahkan mitos yunani kuno, Sisyphus. Ia separuh manusia – separuh tuhan. Camus ingin menyampaikan pesan melalui mitos tersebut, manusia tak kan pernah puas dari keinginan-keinginannya. Manusia selalu berjalan melawan arah kodratinya.

Kisah Laila-Majnun salah satu kisah fiksi sufistik yang sangat indah. Kisah percintaan Laila dan Majnun yang tak ada wujudnya di dunia nyata. Nizam sengaja mengurai kisah tersebut untuk menjelaskan kepada kita gambaran cinta seorang hamba kepada TuhanNya. Laila adalah simbol Tuhan dan Majnun simbol dari seorang hamba.

Kisah-kisah fiksi sengaja diciptakan agar membawa dan menuntun imajinasi kita sampai kepada tujuan yang dimaksud. Jadi memang benar, fiksi berasal dari kisah-kisah rekaan atau khayalan yang tidak ditemukan di dunia nyata. Namun fiksi tersebut sengaja diciptakan agar mampu mengaktifkan imajinasi kita. fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi agar sampai pada makna yang dimaksud.

Jadi kita bisa mendefinisikan fiksi sebagai kisah rekaan atau khayalan. Dan tak salah juga jika didefiniskan sebagai potensi yang mampu mengaktifkan imajinasi kita. Dalam logika, bab definisi, kita diajarkan cara atau metode dalam mendefinisikan sesuatu. Terkadang kita mendefinisikan sesuatu melalui objek pembahasan, bisa juga mendefinisikan sesuatu melalui tujuan dari objek pembahasan tersebut, atau dengan cara yang lain. Ketika seseorang mendefinisikan fiksi sebagai potensi untuk mengaktifkan imajinasi agar sampai pada makna yang dimaksud, berarti orang tersebut sedang mendefinisikan fiksi melalui tujuannya. Sebab fiksi sengaja dibuat untuk menyampaikan pesan atau maksud tertentu pada pembaca.

Coba perhatikan definisi filsafat, terkadang filsafat didefinisikan dari objek pembahasannya yaitu suatu ilmu yang membahas tentang wujud qua wujud. Ada juga filosof yang mendefinisikan filsafat dari tujuannya yaitu untuk menyempurnakan jiwa manusia. Sokrates mendefinisikan filsafat untuk melatih diri menuju kematian. Tapi saya lebih suka definisi guru saya, filsafat adalah derita.

Salah satu kaidah dalam filsafat, ‘tak ada perdebatan dalam satu peristilahan’. Maksudnya setiap orang berhak membuat definisi tertentu selama orang tersebut menjelaskan definisinya. Dan setiap orang berhak memaknai suatu peristilahan, selama orang tersebut menjelaskannya.

Salah satu adab dalam berdiskusi atau berdebat, kita harus menggunakan istilah yang sama agar sampai pada tujuan yang dimaksud. Dan jika mengeritik seseorang dengan menggunakan istilah yang berbeda serta tidak menggunakan istilah yang digunakan oleh orang tersebut, tentu tak kan ada hasilnya kecuali berubah menjadi satu debat kusir. Kau di sana, aku di sini, tak pernah bertemu.

Tapi kalau mengatakan kitab suci sebagai fiksi, mungkin lain soal. Bahasa fiksi berbeda dengan bahasa Quran (kitab suci yang saya yakini). Bahasa Quran, bukan bahasa sastra, ilmiah, sains, filsafat, sufistik, dan fiksi. Bahasa Quran adalah bahasa wahyu. Bahasa yang berasal dari pengalaman batin kenabian di dalam diri Rasulullah saw. Bahasa berasal dari pengalaman atas suatu fenomena tertentu. Pengalaman itu bisa di alam materi, imajinasi, dan di dalam pengalaman batin ruhaniah seseorang.

Ada penelitian yang menarik tentang Quran, Lesley Hazleton, seorang peniliti Yahudi. Dia mengakui, Quran tidak mungkin dipahami melalui terjemahan. Bahasa Quran harus dipahami dari bahasa Quran itu sendiri. Hasil penelitian ini direkam oleh TED di Youtube, Lesley Hazleton: A “tourist” reads the Koran.

Kalau kita baca literatur tentang perdebatan bahasa Quran, jauh sebelum ini sudah ada yang mengatakan kalau Quran adalah fiksi, bahkan ada yang mengatakan sebagai bahasa mitos. Jadi mengapa harus marah saat ini? Apa karena diangkat di layar televisi sehingga membuat kita marah dan jika tidak terekam di media tivi tidak akan membuat kita marah? Mengapa kita tidak marah sejak dahulu kala? Apakah karena kita tidak tahu atau karena kurang baca?

 

Ilustrasi: gofindalice.com

Bagaimana Jika Setiap Saat Krisis Melanda Kita?

Ada beberapa makna krisis dalam kamus bahasa Indonesia, selain menjelaskan keadaan yang berbahaya, kemelut, bisa juga dimaknai sebagai, saat yang menentukan di dalam cerita atau drama ketika situasi menjadi berbahaya dan keputusan harus diambil.

Tahun-tahun sebelumnya kita mengalami krisis, gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, kekeringan, dan pembunuhan massal. Hampir tak ada hari yang tenang untuk bercengkrama dengan keindahan kecuali sesekali kita mengarungi jalan-jalan di pedesaan, menghirup udara segar, dan bercengkrama dengan keindahan kepolosan wajah-wajah yang tulus.

Namun krisis masih tetap berlanjut hingga sekarang ini dan sampai detik ini. Tak ada kata usai dalam menghadapi krisis kehidupan sebab peristiwa krisis yang baru datang menyapa hampir di setiap kesendirian kita. Seolah keseharian yang kita lalui dengan kebahagiaan sebanding dengan krisis yang menerpa kita. Namun ada satu hal yang luput, justru inti persoalannya karena krisis datang setiap saat, datang begitu cepat silih berganti, akhirnya menjadi terbiasa, dan sirna dari pikiran kita.

Artinya krisis sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita. Saking biasanya sehingga krisis tak lagi menjadi sebuah krisis. Krisis hanya datang sesaat untuk menyapa dan bersamaan dengan itu pergi dan sirna. Apa masih ada krisis jika sudah menjadi kebiasaan?

Coba lanjutkan krisis-krisis berikut ini, demontrasi, makanan kadaluarsa berisi cacing, korupsi, perbedaan aliran, hoax, terorisme, kebebasan berbicara, politik, perang sipil, tabrakan, travel umrah, dan krisis-krisis lainnya. Bukankah krisis-krisis tersebut sudah menjadi kebiasaan? Dan kalau sudah menjadi ‘biasa’, tak kan disebut lagi sebagai krisis.

Di antara krisis-krisis tersebut, ada krisis yang beruntung sebab ada orang yang meriyawatkannya dan memberitakannya. Tapi tidak semua krisis mendapatkan keberuntungan. Bahkan boleh jadi, cara mengemas suatu peristiwa akan sangat menentukan apakah peristiwa tersebut bisa dianggap sebagai suatu krisis atau bukan. Bahkan sebuah fiksi sekalipun bisa menciptakan krisis sosial hingga mengancam Indonesia bubar.

Jadi manusia kini tidak hanya berhadapan oleh suatu peristiwa krisis tapi juga dihadapkan pada ‘kemasan peristiwa’ yang akan menentukan apakah peristiwa itu dianggap sebagai suatu krisis atau bukan. Bukan hanya itu, dimana ‘kemasan peristiwa’ tersebut akan diproduksi, juga akan sangat menentukan. Jika ‘kemasan peristiwa’ diproduksi di ruang-ruang debat raksasa yang ditonton jutaan pemirsa, peristiwa itu akan benar-benar terlihat sebagai krisis.

Ada dua istilah waktu di alam pemikiran Yunani kuno, waktu kronologi (chronos) dan waktu kairos. Waktu kronologi adalah waktu yang dibagi menjadi jam, menit, dan detik. Kita merencanakan kegiatan keseharian dan rencana-rencana esok hari dengan waktu kronologi. Namun waktu kairos adalah waktu yang datang secara tiba-tiba, tak diperhitungkan, dan tidak dinantikan.

Waktu kairos adalah waktu yang menghentakkan benak kita secara tiba-tiba, menghentikan kebiasaan kita dengan terpaksa, dan memberikan pertanyaan besar yang akan mengubah kebiasaan-kebiasaan kita sebelumnya. Waktu kairos identik dengan saat peristiwa krisis pertama kali menghampiri kehidupan kita.

Jaman ‘internet is everything’ lebih memudahkan setiap orang menciptakan krisis karena ‘kemasan peristiwa’ tidak hanya terkait dengan masa kini tapi sangat memungkinkan peristiwa masa lalu diubah menjadi krisis masa kini. Seolah waktu kairos yang telah dipaparkan ribuan tahun lalu, baru saja dipaparkan belakangan ini.

Puisi ‘Ibu Indonesia’ telah terbit tahun 2006, tapi menjadi peristiwa krisis tahun 2018. Tak ada satu orang pun yang memperkarakan saat itu. Mungkin tak ada yang mengemasnya menjadi suatu peristiwa krisis. Bahkan kesalahan parkir Ratna Surampaet telah berubah menjadi krisis sosial meskipun dalam kemasan yang sederhana namun mendapatkan momentum yang tidak sederhana.

Berbagai fenomena krisis telah mengepung kehidupan keseharian kita. Setiap saat kita dipertemukan dengan krisis-krisis yang baru. Hal yang paling menakutkan karena kemanusiaan kita akan terbiasa dengan krisis sehingga krisis menjadi kebiasaan kita. Dan pada akhirnya kita mulai tak peduli dan acuh atas berbagai krisis.

Kesimpulannya, kemanusiaan kita tak lagi memiliki empati dan tak berempati kepada kemanusiaan kita. Artinya riwayat kemanusiaan kita telah berakhir dan menjadi pemangsa setiap nilai-nilai kemanusiaan. Suatu bentuk kemanusiaan yang hanya mampu melahirkan kebuasan dan keganasan.

Benar kata Leon Trotsky, “bagi mereka yang memilih hidup tenang, seharusnya tidak dilahirkan di abad 20”.

Mengapa Mesti Ada Polisi Tidur?

Tentu ada alasan dan tujuan yang jelas mengapa mesti ada polisi Tidur Pertanyaan-pertanyaan tentang polisi tidur dalam tulisan ini tidak diperuntukkan di mana posisi polisi tidur menjadi satu-satunya alasan terbaik dalam mengontrol laju kecepatan kendaraan, seperti di tempat-tempat lalu lalang anak-anak bermain, di sekolah-sekolah, dan tempat-tempat peribadatan.

Namun saya yakin, kita pernah berada di atas jalan di mana dalam beberapa radius meter ke depan selalu dipertemukan dengan polisi tidur. Setiap orang terpaksa dan dipaksa untuk melewatinya. Dan setiap orang mesti menurunkan kecepatan kendaraannya.

Jadi mungkin pertanyaan ini hadir di dalam benak setiap orang. Mengapa kita terpaksa melewati polisi tidur dan mengapa orang-orang terpaksa membuat polisi tidur? Bukankah lebih baik jika jalan-jalan itu dibangun tanpa dihiasi polisi tidur? Sebenarnya apa hubungan polisi tidur dengan kemanusiaan kita hari ini?

Mengapa kesadaran kita mesti terjaga dengan keterpaksaan? Apakah keterpaksaan menjadi pengendali kemanusiaan kita hari ini? Apakah mesti terpaksa sehingga menjadi orang baik? dan apakah kebaikan adalah sebuah keterpaksaan?

Saya menyangka kemanusiaan kita sedang dikutuk oleh polisi tidur sebab saya merasa selama ini saya mengendarai kendaraan dengan baik dan mengikuti nalar etika berkendara. Bunyi suara kendaraanku tidak keras sehingga tidak memekik telinga-telinga yang mendengarkannya. Apalagi saya mengendarai kendaraanku dalam laju kecepatan yang relatif normal. Lalu mengapa saya mesti dipaksa dan terpaksa melewati polisi tidur?

Namun di sisi lain kita tak mungkin mengingkari bahwa tidak semua orang peduli dengan nalar etika berkendara. Ada orang tertentu yang main klakson seenaknya. Sengaja membesarkan suara kendaraannya dan melaju kendaraannya secepat mungkin. Mereka tak peduli dengan polusi suara yang mengganggu orang-orang yang berpapasan dengannya.

Memang ironi jika logika pembuatan polisi tidur diperuntukkan bagi mereka yang acuh terhadap nalar etika berkendara sebab berdampak secara langsung terhadap orang-orang yang taat terhadap etika berkendaraan. Dalam kata lain, semua orang dipaksa untuk memperlambat laju kendaraannya karena ada sebagian orang yang tidak taat mengikuti nalar etika berkendaraan.

Tak salah jika saya mengatakan polisi tidur sebagai kutukan bagi kemanusiaan kita. Kehadirannya adalah suatu keterpaksaan yang memaksa kita menurunkan ego laju kecepatan kendaraan. Polisi tidur adalah simbol ketidaksadaran yang mampu memaksa kesadaran egoisme kita. Tapi apa penyebabnya?

Boleh jadi karena kendaraan kita sudah jauh melaju meninggalkan moralitas kemanusiaan yang kita miliki. Petuah-petuah dan nasehat-nasehat sudah kehilangan maknanya sebab mampu dikalahkan oleh keterpaksaan. Keterpaksaan telah menjadi tuan rumah kemanusiaan kita hari ini. Kita terpaksa menjadi apa yang orang-orang katakan terhadap diri kita. Kita terpaksa bermedia sosial. Kita terpaksa memiliki rutinitas. Terpaksa berpolitik dan terpaksa berbicara. Dan pada akhirnya keterpaksaan menjadi rutinitas keseharian kita.

Kesadaran telah lama sirna di dalam kehidupan keseharian kita. Sebab pilihan-pilihan kita adalah keterpaksaan. Kita terpaksa memilih sebab pilihan-pilihan kita sudah diatur sedemikian rupa sehingga kita benar-benar seolah-olah nampak memilih. Tak heran jika saat ini sangat mudah ditemukan orang-orang yang mendadak soleh sebab lingkungan telah memaksa dirinya agar benar-benar nampak soleh.

Memang terlihat mengkhawatirkan sebab ternyata keterpaksaan tidak hanya menyangkut polisi tidur tapi telah merambah ke dalam corak berpikir kita. Keterpaksaan menjadi suatu bangunan pengetahuan tapi tanpa kita sadari. Mungkin karena sudah sejak lama menggerogoti kesadaran pengetahuan kita.

Bukankah belakangan ini kita sering menyaksikan orang-orang yang terpaksa gila sehingga terpaksa melukai? orang-orang yang terpaksa sakit karena terjerat kasus korupsi, orang-orang yang terpaksa berjilbab karena harus menjalani persidangan. Dan orang-orang yang terpaksa hidup dan terpaksa menjalani kehidupan bagaimana pun adanya.

Tapi sampai kapan harus seperti ini? Sampai kapan kita terjerat oleh keterpaksaan? Saya pikir semua orang mesti menjawabnya karena pengendalinya adalah diri kita sendiri. Dan menurut saya jawabannya sangat sederhana yaitu kita mesti kembali ke dalam esensi kemanusiaan kita yang paling sejati sebab hanya di sana akan ditemukan kesadaran yang paling fitrawi.

Tafsir Sufi Alif Lām Mīm

‘Alif Lam Mim; kitab Qur’an itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa’.

Alif Lām Mīm, sebagian mufassir menyatakan bahwa huruf muqattha’ah ini hanya dipahami oleh Rasulullah saw karena huruf-huruf tersebut adalah simbol dan rahasia antara Allah swt dengan Rasulullah saw. Sebagian mufassir lainnya menafsirkan alif dengan Allah swt, lām dengan ila (kepada) Jibrail as, dan mīm dengan Muhammad saw. Artinya menjelaskan proses wahyu dari Allah swt kepada Rasulullah saw melalui Jibrail as.

Zālikalkitāb la rayba fīh. Zālik (itu) adalah isyarat dalam menunjuk sesuatu yang jauh. Jadi Kitab itu (zālik) adalah kitab yang meliputi seluruh tingkatan kitab, mulai dari kitab ‘ummul kitāb’ atau ‘kitābun mubīn’ yakni di singgasananya yang paling tingggi, sampai pada kitab Qur’anan Arabiyan (Qur’an yang ada ditangan kita saat ini dalam bahasa arab). Dalam semua tingkatan kitab tersebut tak kan ada keraguan sama sekali.

Keraguan itu muncul jika berasal dari sesuatu yang diragukan atau bersumber dari realitas yang di dalamnya bercampur antara kebenaran dan kebatilan. Karena Qur’an berasal dari hakekat mutlak, hakekat kebenaran, dan hakekat kesempurnaan maka Qur’an juga mutlak benar. Apalagi Rasulullah saw dan Jibrail as keduanya adalah suci dan sampurna sehingga Qur’an sampai ke tangan kita pun juga suci. Dan oleh karena kesuciannya terjaga maka tidak ada lagi keraguan didalamnya.

Hudan lilmuttaqin; petunjuk (yakni Qur’an sebagai petunjuk) bagi orang-orang yang bertaqwa. Pada pembahasan surah alfatihah sedikit banyaknya telah kami singgung tentang persoalan hidayah. Ada pertanyaan berkenaan dengan hal ini bahwa jika Qur’an adalah hidayah bagi orang yg bertaqwa, kemudian disisi lain Qur’an menyuruh manusia agar bertaqwa, bukankah ini yang disebut dengan ‘daur’? Maksudnya Qur’an menyuruh manusia untuk bertaqwa namun di sisi lain yang bisa menerima Qur’an adalah orang bertaqwa?

Dalam tafsir surah al-fatihah telah dijelaskan, ada dua jenis hidayah yaitu hidayah internal (di dalam diri manusia yaitu perkara fitrawi; akal dan hati) dan hidayah eksternal (di luar diri manusia yaitu Qur’an dan Nabi). Berdasarkan hal ini kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan hudan lilmuttaqin (petunjuk bagi orang yang bertaqwa) yaitu menjelaskan syarat bahwa untuk mendapatkan cahaya Qur’an disyaratkan adanya kesiapan dalam diri manusia, dan kesiapan itu adalah hidupnya fitrah dalam diri manusia. Maksudnya taqwa didasari pada hidupnya fitrah dalam diri manusia. Jika fitrah ini terjaga, maka dirinya mampu menerima cahaya Qur’an, tentu pada batas keluasan fitrahnya (dalam hal ini hati dan akal).

Pada ayat yang lain dijelaskan bahwa Qur’an merupakan hidayah bagi semua manusia (hudan linnas). Disini seolah ada pertentangan antara hudan linnas dengan hudan lilmuttaqin. Namun tidak demikian, kedua teks tersebut tidak bertentangan. Adapun maksudnya adalah meskipun Qur’an hidayah bagi semua manusia tanpa terkecuali, namun yang mendapatkan banyak manfaat adalah yang memiliki ketaqwaan, dan ketaqwaan yang dimaksud disini paling minimal, masih ada nilai-nilai fitrawi di dalam dirinya. Contohnya, jika ada seseorang yang sakit hingga mengakibatkan matanya buta, maka pada saat matanya buta, tentu tidak bisa lagi bisa menikmati cahaya matahari. Meskipun cahaya matahari mendatanginya namun ia tak dapat lagi memanfaatkan cahaya tersebut. Begitu juga jika fitrah seseorang telah buta, orang itu tak punya wadah untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk dari luar dirinya. Meskipun setiap saat petunjuk tersebut datang menghampirinya.

Allazīna yu’minūna bilghayb; (yaitu mereka yang beriman terhadap yang gaib). Salah satu makna iman yaitu diikrarkan dengan lisan, ditashdiq dengan kalbu, dan mengamalkannya dengan tindakan. Maka iman meliputi ketiga unsur tersebut. Mereka yang mengikrarkan iman dengan lisannya tanpa adanya keyakinan pada kalbunya disebut dengan munafiq. Jika kalbunya meyakini namun tidak mau mengikrarkan dengan lisan maka dia menyangsikan (inkar), dan jika mengamalkan sesuatu yang tidak sejalan dengan keyakinan (keimanan) disebut dengan fasiq.

Dalam surah al-Hujurat ayat 14 menunjukkan bahwa kalbu (hati) adalah wadahnya iman. Maksudnya tempatnya iman itu pada hati. Pada ayat ini Rasulullah saw menegur sekelompok orang arab yang mengatakan bahwa diri mereka telah beriman, karena itu Rasulullah saw mengatakan kepada mereka bahwa cukup anda katakan ‘kami berislam’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.

Memeluk Hujan

Apa ada orang yang tak merindukan hujan? Apalagi pesan setiap hujan tak sama. Hampir setiap hujan menawarkan makna yang berbeda-beda, makna-makna yang menelusuri di setiap keindahan imajinasi setiap orang. Seolah di dalam setiap tetesan hujan terangkum seluruh makna-makna yang dikandungnya; kegalauan, kesepian, kecemasan, keindahan, kebahagiaan, kerinduan, dan bahkan luka derita penderitaan.

Benar! Hujan tak pernah menitipkan makna yang sama. Hujan tetap dinanti walau di musim penghujan sebab di musim kemarau tak lagi dinantikan, tapi dicari dan berusaha menemukannya. Dan memang seperti itulah cara hujan memainkan perasaan kita dan berdialog dengan kita. Kita harus pandai-pandai menjamu hujan saat ia datang menawarkan maknanya. Karena ia datang begitu saja. Hampir-hampir tak pernah tahu kapan ia benar-benar datang dan benar-benar pergi.

Amat disayangkan, berkali-kali kita hanya mampu mempermainkan hujan. Seolah hujan berafiliasi kepada kepentingan tertentu. Seolah hujan berpihak pada agama tertentu dan punya kepentingan. Bukan kali ini saja, tapi kemarin-kemarin juga begitu, hanya mampu mempermainkan makna-maknanya saja. Padahal hujan turun karena kerinduannya ingin memeluk seluruh penduduk bumi. Dan hujan pun tak ingin dijamu bak seorang Raja, yang akan menyibukkan setiap orang untuk menyambut kedatangannya.

Tugas kita hanya menerima hujan apa adanya. Membirkannya mengalir begitu saja atau mempersiapkan lorong atau kanal khusus agar tepat di kanal itulah air hujan menelusuri makna-makna yang diiginkannya. Sebab hujan sampai kapan pun akan tetap diam dan membisu. Manusialah yang harus aktif memaknainya. Tugas hujan hanya memberi dan tugas kita adalah menerimanya dan menangkap makna-maknanya.

Ada yang berbeda kali ini setiap kali hujan turun. Karena makna keindahan hujan hampir punah, sebab hujan hanya dimaknai sebagai ancaman, terutama saat hujan turun di kota-kota besar. Ibarat monster yang datang dengan giginya yang tajam dan raut wajah menakutkan, siap menerkam keangkuhan para pemilik kota. Dan memang benar, bukan musim penghujan kali ini, musim penghujan kemarin, hujan tetap saja menyisakan korban, tanah longsor, banjir, dan ketenggelaman.

Tugas kita bukan menolak hujan. Tapi menyiapkan kolam raksasa agar air hujan bisa menari-nari di dalam kolam itu. Mungkin akan menghabiskan miliyaran, bahkan triliyunan dalam mewujudkan kolam raksasa itu. Biaya untuk merubuhkan gedung-gedung yang dibangun di atas tangan-tangan indah keangkuhan para pemilik kota. Biaya untuk memaksakan agar orang-orang terpaksa pindah. Dan biaya untuk membangun kolam raksasa yang megah, yang akan memanjakan mata dan hati para penduduk kota agar tidak berlarut-larut dalam tekanan hidup yang mencekam.

Bukankah ini lebih baik karena uang triluyanan itu membuat jutaan orang bahagia. Dan membuat kita semua bisa tidur pulas dalam menyambut air hujan dengan senyuman indah di setiap musim penghujan datang! Bukankah akan lebih indah jika di kota-kota besar orang-orang bisa menyaksikan kolam raksasa agar dengan leluasa mereka bisa membuang ego-ego keangkuhan ke dalam air kebijaksanaan itu! Bukankah kita bahagia, anak-anak kota bisa bermain-main dan berlari-lari di atas kolam raksasa! Bukankah akan nampak lebih indah jika orang-orang kota bisa mancing ikan persis di tengah-tengah kota!

Kali ini hujan benar-benar mengajak nurani kemanusiaan kita. Mencoba mengoyak-ngoyak keangkuhan yang tak berarti. Dan selalu bertanya, “sampai kapan kita akan membiarkan air hujan merenggut nyawa!” apakah kita masih belum bisa belajar dari setiap musim penghujan yang akan menjebak kita dalam kecemasan!

Kali ini kita butuh pembangunan yang berbasis lingkungan. Butuh sistem politik dan politisi yang berbasis lingkungan. Bahkan memaknai kembali kemanusiaan kita berbasis lingkungan. Sebab hanya dengan cara ini kita bisa memeluk semesta dan hujan. Terutama memeluk kemanusiaan kita yang semakin rapuh.

 


sumber gambar: www.apakabardunia.com

 

Tafakur Melahirkan Penderitaan?

Saya tak tahu, apakah penderitaan yang memaksa kita berpikir atau tafakur yang membuat kita begitu bersedih?,” begitu kata Charles Bukowsky. Benar! Tapi sebenarnya tafakkur seperti apa yang akan membuat kita bersedih dan penderitaan seperti apa yang memaksa kita bertafakur? Pertanyaan Charles Bukowsky adalah pertanyaan kunci untuk memahami lebih jauh antara tafakur dan kesedihan serta penderitaan.

Sepanjang hidup yang kita jalani, saya yakin, kita pernah mendapatkan masalah besar. Waktu itu, kita tak tahu, bagaimana seharusnya memutuskan solusi terbaik agar bisa terbebas dari masalah itu. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang tak memiliki masalah dan cobaan. Dunia adalah ruang kita untuk mengoyak-ngoyak masalah demi mencapai tujuan tertentu. Tafakur adalah jembatan dalam menemukan solusi terbaik. Apakah derita keseharian yang dimaksud yang akan memaksa kita melakukan tafakur? Tentu bukan derita ini yang dimaksud karena derita keseharian adalah suatu keniscayaan setiap orang dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Hanya derita kesejatian yang akan melahirkan tafakur atau memaksa seseorang melakukan proses tafakur, bukan derita lapar, pekerjaan, lalu lintas, atau derita-derita lainnya yang tidak terkait dengan hakikat manusia. Tafakur yang melahirkan derita adalah derita yang seolah tak akan pernah ada akhirnya seperti ketidakadilan, ketidaksetaraan, dan bentuk-bentuk kesedihan. Kesedihan yang dimaksud seperti kesedihan dalam kesepian, keterpisahan, dan mengalami akhir kehidupan, kesedihan karena tak menemukan kebebasan, kesedihan mengapa kita harus menjalani penderitaan di dunia ini, derita atas keinginan-keinginan dan ketidakmampuan, dan derita atas apa yang disaksikan atas apa yang tak bisa disaksikan.

Seolah di dalam kehidupan ini ada luka-luka yang tak pernah kita sadari. Luka-luka itu perlahan membuat ruh kita tak menemukan makna. Namun tak semua orang memiliki kasadaran atas luka-luka ini. Sebab hampir semua orang terbiasa dengan luka-luka itu. Mereka hidup bersama derita sehingga tak lagi nampak sebagai suatu penderitaan. Bahkan saat datang seseorang yang mencoba menyadarkan penderitaan itu, mereka justru menjawabnya dengan tawa dan menertawakan seolah tak pernah terjadi apa pun kepada mereka.

Memang benar, karena derita terbesar manusia seolah tak mampu lagi untuk diungkapkan apalagi mencoba untuk melukiskannya. Oleh karena derita-derita itu adalah derita kesejatian yang berakar di dalam diri manusia. Mungkin selama ini mereka selalu berfikir bahwa segalanya akan selesai dengan aspek material, sebab mereka hanya memahami bahagia dan derita yang bersifat temporal. Mereka lupa bahwa sebenarnya mereka sedang mengejar ketenangan yang abadi.

Kata Maulana Rumi;

Jadi, Ketahuilah Wahai Pencari Hakikat!

Pahamilah Kaidah ini!

Siapa saja yang menderita, ia beraroma tawanan!

Maksud kata ‘tawanan’ dalam bait syair Rumi adalah makrifat dan hakikat. Sebab konteks pembicaraannya terkait dengan makrifat dan hakikat. Maksudnya seseorang yang sedang mengalami derita pengetahuan adalah kunci untuk mengantarkannya ke dalam pintu hakikat. Derita batin bisa menjadi kekuatan yang cukup kuat dalam menyingkap hakikat. Man Thalaba Wa Jadda Wajada, siapa yang mencari dan berusaha dalam pencariannya, maka ia akan menemukan sesuatu yang hilang dari dalam dirinya. Misalnya seseorang yang memiliki derita cinta, kesadarannya terhadap kekasih tentu melebih dari yang lain.

Sebab itu kata Maulana Rumi;

Siapa yang lebih terjaga, ia lebih menderita,

Siapa yang lebih memiliki kesadaran, wajahnya semakin pucat.

Tentu saja, seseorang yang memiliki hakikat yang lebih dibandingkan yang lain maka penderitaannya pun semakin dalam karena ia mampu menyaksikan kekurangan dan kehampaan yang dimilliki seseorang.