Semua tulisan dari Rainy Senja

Dwi Aulia Anggraini (Rainy Senja) lahir di Kab. Kep. Selayar 22 Juli 1995, mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Bahasa Sastra Inggris dan menjadi salah satu penggiat di Rumah Belajar Tanadoang. Karyanya pernah dibukukan pada beberapa antologi puisi. Antologi puisi “Bukan Kita” (2016), “101 Bait Kata Himpunan Doa” (2016), “Bayangan” (2016), “Religi” (2017), “Si Fulan” diikutsertakan pada ajang Literasi Mataram Islamic Book Writers dan Festival Sajak Islami (Mataram Islamic Lombok Writers) dengan judul buku “Merindukan Surgamu” (2017) “Fatamorgana” (2017) yang juga pernah dimuat di SKH Go Cakrawala Gowa.

Lelaki Pukul Dua dan Puisi-Puisi Lainnya

 

LELAKI PUKUL DUA

 

Sesekali ia berbincang lewat sebatang rokok saja

Pada seperempat malam di penghujung upaya

Pada diksi sebuah metafora

Pada segala resah diringkas sang rupa

 

Ada apa dengan dirinya si lelaki pukul dua

Yang menelan malam lewat bening kosong gelas kaca

Yang katanya kopi telah murka pada dirinya

Membiarkan aroma pahit itu dicumbui orang berada

 

Lalu melalui sebait kata dipekik raya

Hitam menjelma terasing tak bermakna

Memulangkan segala rasa

Di trotoar jalan terbaring buta

 

PADAMU SANG MALAM

 

Jemariku tak berkesudahan mengirimkan lagu lama pada maut cakrawala.

Menahan waktu yang terburu oleh berangkat.

Menahan lelah yang tersingkap oleh beberapa kalimat.

 

Padamu sang malam.

Kuberi tahu bahwa jam tidak berkesudahan menekuni nafas usia.

Ia duduk melingkar menyerupa metamorfosa

Memungut peristiwa menafsir cuaca

Pada mata mata yang surga

 

Lalu aku adalah sosok yang menghitung rencana

memaki diriku sendiri dengan serbuan tanda tanya

binatang jalang yang lupa kembali akan kemana

Kemana akan kembali

Kemana akan pulang pergi

Pergi lalu pulang lagi.

 

Lalu bisakah kuhimpun nama berhaus?

pada segala hilang yang menghulu arus

pada segala tualang yang kupintal rakus

pada segala syair yang kurajut terbungkus

 

Padamu sang malam

Yang kutuang menimbun jalan lengang rumah rumah

aku hilang arah menekuni dunia

mencoba berbisik pada sudut sudut kota

bahwa lindung langit tak berjejak kini muram akan cahaya.

 

PADAM

 

Melaui segala warna yang sulit kumakna

Kini aku tak lagi merah

Kini telah padam tak lagi menyala

Mebiarkan segalanya hitam dan buta

 

Biarkan semua menjadi hitam putih saja

berteman pendar cahaya sepia

Meski kata kata saling menafsir beku

Meski jejak jejak mimpi digubah hari dan waktu

 

Lalu di sepasang mata yang ramu

Telah kuhitung angka-angka rindu

Menjelma seolah sesak di balik pintu-pintu

Yang kadang di sebut waktu

 

Kini aku padam tak berdaya

 

SURAT TANPA JUDUL

 

Kepada Lelaki yang pernah pergi

Mari kita berbicara tentang waktu kali ini

Yang sempat menelusup pada kilas cahaya sunyi

Lalu memperpanjang ruang rindu yang berderet rapi

 

Kita pernah ada sedekat jengkal jemari

Memandangi dinding malam serta rasi bintang di galaksi

Atau sekedar memperbanyak teka teki

Mengenai apapun yang semakin sulit dimengerti

 

Lalu haruskah kita kembali berjalan sendiri-sendiri

Membiarkan semua berjarak lalu kian menepi

Saling menghilang bak ditelan bumi

Hingga akhirnya semakin sulit untuk saling mengenali

 

Belajarlah hanya untuk saling menemui

Melihat lalu mengerti

dan aku hanya bisa memberi ucapan kali ini

“Selamat Wisuda setelah empat tahun berjuang sendiri”

 

ELEGI

 

Pada matamu rindu-rindu mengakar sendiri

Serupa basa dedaunan pagi yang dulu kau beri

Abadi percakapan kita seolah meminang sepi

Membaca gerak lama yang bertasbih sunyi

 

Bayang-bayang asmaradana hilang ditelan bumi

Sedangkan kita pernah asyik ngopi pada sebuah kenduri

Menerbangkan debu cemburu pada mimpi

Lalu nasib yang seolah terasing pergi

 

Bayang-bayangmu hilang wahai kasih

Melumatkan nyawaku yang tinggal sekutip perih

Membakar takwil segala sakit dirajami rintih

Menyelimutkan musim pada seteguk jejak ilustrasi

 

Lupakan saja ingatan mengenai panorama abadi

Seolah menikamku dan memberi cundrik kesumat diserapahi

Bayangmu akan kukubur dalam lanskap imaji

Membuang satu persatu rindu yang dirajami

Cahaya Malam dan Puisi-puisi Lainnya

 Cahaya Malam

 

Seperti kunang-kunang di malam hari

perempuan itu berteman ajal kala anaknya tertidur sendiri

disibakkannya tirai labirin pembakar mimpi

Menjelma begitu abadi dalam sepi

 

Ia menggerutu akan pilu yang semakin menggebu

demi sekolah putrinya, ia menjadi mayat yang terasing bisu

Menguyupi jalanan,  menderakkan cumbu satu persatu

Mengutuki kaum berdasi yang sedang riuh

Sesak seolah tak mau menepi dari tubuh

 

Perempuan itu seringkali mengeluh

mengobarkan luka sendiri lalu pulang sehabis subuh

potret ketika yang halal seolah menjauh

meninggalkan ruh yang sebentar lagi kian runtuh

 

Bagaimana ia rela menjejal tubuh ?

dicibir tetangga yang seolah menyimpan isyarat prahara beku

Tak dipedulikannya satu persatu

toh inilah fakta perihal kelabu

 

Kiamat nafasnya seolah remuk pada segala arah

melontarkan tangis yang kian amarah

pada diri yang hina

Jejaknya ditumbuk pada sebuah gairah

Meski sesekali penyesalan datang menyapa

 

Berulang kali ia berdoa

agar putrinya hidup dalam aljabar atau logaritma saja

Tak peduli betapapun peluh atau nyeri yang ia rasa

meski pekik dan umpatan melingkar dimana-mana

 

 

Perempuan Senja

 

Percik gelisah pada sebuah semburat di jingga merah.

Berdiri ia pada jejak sebuah prasasti mengenai opera sang alam semesta.

Lalu membenamkan imaji pada nuansa langit bersahaja.

 

Seperti senja kali ini …

Ia tak sengaja membaluri tubuh masih dengan setapak arah masa lalu.

Melangitkan elegi, beraroma misteri pada kitab seorang hamba.

Melayang ia bersama burung yang kian bersorak.

Seolah menikmati pulang ke tempat rindang bagai singgasana sang Tuan.

 

Adakah ia kian remuk oleh asa yang memintal ?

Adakah ia memaksa tubuhnya berkawan langit binal ?

Adakah ia masih menyeru ego di sepia usia yang nakal ?

 

Rupanya ia terlupa,

Pedih telah menggerogoti jiwanya sedari tadi

Mengotori mimpi tanpa peduli akan sebuah teriakan rasa yang tersemai.

Pecah, berpendar menanti sebuah perjumpaan yang dinanti.

 

Pun pada akhirnya ia harus kembali jua , sebab senja telah hilang ditelan malam, seakan tak peduli akan kisah yang semakin ramai oleh renjana yang harusnya kian padam.

 

 

Mengenang lewat stasiun kereta

 

Ada yang terus menggaris pada sebuah stasiun.

Cuaca yang menghadirkan semesta yang terburu berembun

Disapanya aku lewat peron yang gelisah tertuju

Berganti rupa dari kesepian yang tak terkira

 

Pernahkah kau menjejak diruang tunggu stasiun kereta?

Yang menyimpan pekik bagaimana aku menggeram merindu rupa

Seolah rahasia dalam hati makin nyeri terasa

meremuk dipikat jarak nostalgia

 

Lalu dibalik rel-rel kereta yang melengkung

Mengguratkan kepedihan yang sebentar lagi di larung

Ada bekumu sudah bagaikan patung

yang sebentar lagi dinamakan berkabung

 

Bagaimana lagi aku menafsir matamu yang kaku?

Sedangkan sudut-sudut besi tua di stasiun yang penuh cerita tak mau tahu

Lampu kristal disudut pemberhentian seolah menjelma batu

Ruang-ruang liar tak lagi mengadu

Hanya menyisakan kata-kata rancu

 

Sebentar lagi ruhku akan pergi

dalam ruang kereta yang melaju dengan mimpi

redamkan amarahmu kasih

Matamu yang surga tak dapat kunikmati lagi.

 

 

Perihal Sore dan Mimpi

 

Disuatu sore yang teduh

Seorang perempuan merebah tubuh

Ingin membisikkan pada langit yang semakin syahdu

Mengenai lekukan mimpi pada altar yang membatu

 

Berceloteh ia sungguh parau pada semesta

Menyapa ngilu bagai kutukan yang sama

Mencoba memancarkan cahaya seribu warna

Pada sesat jalan gemerincing fana

 

Dan pengharapan pada gandrung yang kian rekah

Mengolok cerita pada karisma pucuk rasa

Menyusun kesuma sakral pada puncak suara basi akan nada

Bergegas mengelok, meletup imaji putra surya

Lalu haruskah ia berpekik mencium aroma mesiu ?

Yang menyimpan meta si Fulan di tanah haru biru

Haruskah ia memejam beku dipelukan sang ibu ?

Menjatuhkan tangis pada telapak tangan yang kaku.

 

Maka biarkan ia layu ,

Sebab hanya kelu yang kini menyeruak la