Semua tulisan dari Rajab Sabbarang

Pedagang merdeka yang hobinya membaca dan menulis

Barru, Kabupaten Tanpa Indomaret dan Alfamart

Tidak seperti kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan, Barru terbilang istimewa. Setidaknya di mata saya. Penilaian ini  boleh dibilang sangat parsial dan personal. Namun itulah yang saya tangkap setelah hampir setengah dasawarsa hilir mudik Makassar-Barru.

Seringnya menginjakkan kaki di Kabupaten Barru, bermula ketika menyekolahkan anak pertama saya di sebuah pesantren ternama di Sulsel bahkan di Indonesia Timur, Pesantren DDI Mangkoso.

Dengar-dengar pesantren ini cukup moderat dan masih mewarisi tradisi pendidikan tradisional yang masih bergelut dengan kitab kuning, cinta sholawatan, ziarah kubur, barzanji dan semacamnya. Singkatnya pesantren ini sangat mirip dengan pesantren ala NU.  Jenis pesantren ini sudah sangat langka ditemui di kota Makassar. Apalagi saat itu isu takfirisme dan terorisme senantiasa mengemuka  yang juga menjangkiti banyak pesantren dan pondok tahfidz. Ini alasan utama dan pertama saya memilih Barru, sebuah pesantren yang moderat. read more

Badik dan Literasi

Banyak yang merasa bangga. Apalagi penggagas dan pembuatnya. Dianggapnya sebagai suatu penghormatan pada sejarah. Dikiranya sebagai suatu persembahan yang heroik pada masa lalu, dan sebagai sajian yang bombastis pada generasi kini dan nanti. Tapi bagi mereka yang eling, itu merupakan suatu pembodohan, kedunguan dan kemunduran. Namun, semoga, itu hanya sebagai suatu ketidaktahuan atau kealpaan alam sadar semata. Pun bukan sebagai suatu kesengajaan yang terus dipelihara.

Adalah sebuah perbatasan kota: Makassar-Gowa, yang dahulunya satu, kini terpisah oleh sebuah garis demarkasi administratif. Di batas kota inilah—juga menjadi gerbang ke salah satu universitas terkemuka—ada simbolisasi yang sangat paradoks: badik raksasa di satu batas. Sebilah badik yang sudah terlepas dari warangkanya, menikam angkasa dengan gagahnya. Tingginya sekitar dua meter, barangkali juga terbuat dari besi tempaan. Dan semboyan Gowa-Bersejarah di batas lain. Dua perbatasan yang, sekali lagi, sangat paradoks. read more

Silariang: Kreasi  Cerdas Intelektual Masa Silam

Dalam adat istiadat bangsa Makassar, bahkan setelah Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan Gowa Tallo sekitar abad ke-16/17, dikenal ada dua bentuk perkawinan. Pertama, perkawinan dengan peminangan. Kedua, perkawinan dengan Silariang (Anynyala). Perkawinan jenis pertama terbilang sebagai suatu proses perkawinan normal yang lazim terjadi sebagaimana juga ditemukan pada perkawinan suku-suku lain di Indonesia, seperti melalui proses peminangan (Mange Assuro), pernikahan, dan pesta  perkawinan. read more