Semua tulisan dari Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Basirah dan Puisi-Puisi Lainnya

Basirah

untuk guruku: HB

aku bertekuk pikir di hadapan tuturnya

aku tertunduk zikir pada pusaran petuahnya

apa yang bakal kuajukan sebagai tanya, telah dijawabnya, sebelum lisanku menguarkannya

sederet gejolak batinku, sudah diredamnya, sedini asaku menabalkannya

sabdanya serupa hikmah dari langit, berjatuhan bagai biji-biji hujan

adakah ia titisan Ilahi sebagai titianku?

basirahnya menerungku jiwaku,  ragaku tertawan dalam takjub

Pulang

Engkau menawarkan dua jalan pulang

jalan senyap dan jalan hikmat read more

Mengeja Republik yang Sedang Oleng

Tidak banyak anak muda aktivis, begitu intens terlibat dalam menggalang demontrasi di jalanan, sekaligus punya kemampuan menulis. Biasanya, jago demontrasi, minim menulis. Sebaliknya, banyak juga rajin menulis, namun gagap dalam berdemonstrasi. Terkadang, kaum muda-mahasiswa pendemo itu, bacaannya hanya running text di televisi, plus dua-tiga ban bekas, dan toa di tangan, sudah mampu memacetkan jalan raya. Syukur kalau ada lembaran  pernyataan sikap, dengan kelogisan tuntutan.

Itulah pernyataan provokatif saya, sebagai pengantar, tatkala diminta menjadi pembincang  pada peluncuran dan sawala buku, Republik yang Sedang Oleng, anggitan Arman Syarif. Siapa Arman Syarif? Ia adalah seorang mantan mahasiswa, Jurusan PPKn, FIS-UNM. Lulus tahun 2007. Lelaki kelahiran Togo-Togo, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sederet aktivitas dibabarkan, lewat buku ini, sudah cukup memadai untuk didapuk, sebagai seorang aktivis mahasiswa dan kepemudaan. Kini, ia telah menjadi guru di SMK  Telkom Makassar. read more

Pendar Literasi di Pucuk dan Akar Tahun

“Semuanya ini menimpamu karena aku. Badai bulan Desember… Desember.” (Ucok Aka Harahap)

“Januari… Januari yang biru. Asmaramu asmaraku membisu.”  (Andi Meriam Mattalatta)

“Badai Bulan Desember”, tembang rock bernada lembut dari Ucok Harahap, personil  AKA, group band rock legendaris, senantiasa menghidu saya, manakala memasuki bulan Desember. Tak kecuali tahun 2018. Tapi, siapa tertimpa dan penimpanya? Saya hanya menyodorkan tembang ini sebagai metafor semata.

Selaku pegiat literasi, di pucuk tahun 2018, saat Desember menyata, saya diterungku badai literasi. Selama bulan itu memanjangkan masanya, sederet aktivitas literasi saya setubuhi. Jiwa dan raga saya, berkali-kali bersua orgasme literasi. Tak jelas lagi, siapa yang menimpa dan apa yang tertimpa badai literasi. Apakah saya pengusung badai literasi, ataukah saya tersapu badai literasinya bulan Desember. read more

Manakala Sekaum Anak-Remaja Sua Bupati

“Bersikap rendah hati, menyadari bahwa masih banyak kekurangan adalah satu syarat penting lainnya dalam belajar.”  (Gobind Vashdev, Happiness Inside, hal. 19)

Entah kenapa, saya terjebak dalam  salah perkiraan. Ini semata, karena rutinitas yang telah menerungku sekian lama, tetiba bergeser waktunya. Saya mengira bahwa para pegiat Forum Anak Butta Toa Bantaeng (FABT) akan bersua dengan Bupati Bantaeng, Ilham Azikin,  di hari Sabtu, 24 November 2018, tempatnya di arena Lapak Baca, Taman Bermain dan Sport Centre Seruni Bantaeng. Nantilah seorang  pegiat memberitahukan, sekaligus mengirimkan gambarnya, mengkonfirmasi acara jatuh pada esok harinya, Ahad, pukul 15.30. read more

Ali Syariati: Sang Raushan-fikr

Apa yang harus dilakukan ? Darimana kita mesti mulai ? Dua pertanyaan kunci ini, selalu saja menjadi alas pijak bagi saya, tatkala terlibat dalam setiap perbalahan. Perkakas pikir tersebut, saya dapatkan dari seorang intelektual tercerahkan, Ali Syariati.

Tetiba saja, saya terkenang pada sosok ini. Apatah lagi, hingga kini, posternya masih bertengger gagah di dinding ruang baca saya. Dan, ketika tulisan ini saya bikin, jika saja Syariati masih hidup, maka usianya tepat 85 tahun.

Adalah Mazinan, sebuah desa di pinggiran Masyad, di timur laut Khurasan, Iran, yang menjadi saksi tanah tumpah darah pertama dari seorang Ali Syariati. Tepatnya, pada tanggal 24 november 1933, Ali Syariati di lahirkan, dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi’ Syariati dan Zahra. Syariati adalah putra sulung dari kedua pasangan keluarga tersebut. read more

Yang Tersisa dari Hutan Pinus Bonto Lojong

Sekira empat puluh tahun yang lalu, kala usia masih di sekolah dasar, pikiran saya diselimuti beragam tanya. Membatinkan hal-hal yang penuh misteri terhadap gunung, yang hanya saya sanggup pandang dari kejauhan. Maklum, saya lahir dan tumbuh memangsa usia di kota, sementara yang saya pandangi amat jauh ke pelosok desa, pada ketinggian pegunungan. Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja, bahkan sampai separuh abad usia, di kota Bantaeng dan Makassar. Saya bukan seorang lelaki pemanjat gunung, melainkan lelaki yang diterungku oleh silapan kota. read more

Tengkiyu  Profesor, Tarimakasi Profesor.

“Bukan saja fisik yang berubah, tapi mindset ikut berubah.” (Nurdin Abdullah)

“Penting untuk menang, tapi jauh lebih penting, bangkit dari kekalahan.” (Arsene Wenger)

Selaku anak negeri, tanah tumpah darah saya di Kabupaten Bantaeng, dan penikmat permainan sepak bola. Saya membajak nafkah di kota Makassar, waima akhir pekan saya, nyaris selalu  tunai di tanah kelahiran. Saya  telah jatuh pikir dan taut hati pada dua orang profesor.  Setidaknya, sepuluh tahun terakhir ini.  Bahkan, bisa lebih jauh ke belakang. read more

Ketika Partai Politik Menjadi Klub Sepak Bola

“Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, aku mendapatkannya dari sepak bola.”  [Albert Camus]

Lagi dan lagi, tentang politik berselaras sepak bola. Tapi bukan politik sepak bola, melainkan sepak bola politik. Persisnya, kesamaan antara partai politik dan klub sepak bola. Saya amat suka menggunakan analogi sepak bola, buat memahami dinamika politik. Kenapa? Karena keduanya adalah sebentuk permainan. Dan, permainan itu sendiri, tiada lain adalah aktivitas paling purba bagi manusia. read more

Daeng Jokowi, Selamat Datang di Kota Koko

Daeng Jokowi, izinkan saya menyapamu dengan panggilan Daeng. Sebab, salah satu julukan Kota Makassar adalah Kota Daeng.

Sejak beberapa hari ini, jelang pucuk Juli 2018, berbagai elemen warga Kota Makassar, menyambutmu dengan ucapan selamat datang. Sebagai missal saja, sepanjang Jalan Andi Pangerang Pettarani, elemen dari Sahabat Rakyat Indonesia, menjejerkan banner Selamat Datang Bapak Presiden RI. Pun, ada elemen masyarakat yang memasang spanduk dan baliho ajakan untuk gerak jalan sehat. Semoga saja masyarakat yang ikut jalan sehat, jiwa dan raganya makin kamil. read more

Anak, Gawai, dan Literasi

Akhir pekan yang gundah. Apa pasalnya? Tatkala saya melakukan perjalanan ke kampung halaman, Kabupaten Bantaeng, guna berakhir pekan, tetiba saja , ada rasa yang kurang nyaman. Waima, segera saja, saya sanggup mengatasinya, sebelum menjalari sekujur jiwa.  Tempat duduk saya diambil alih oleh penumpang lain. Biasanya, di oto angkutan umum langganan saya, sudah menjadi konvensi, tempat duduk saya di depan, samping sopir.  Tapi kali ini, seorang ibu paru baya  dengan anaknya, sekira dua tahunan umurnya, ngotot untuk di depan. read more