Semua tulisan dari Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Revolusi Sistem Pendidikan, Benarkah?

Tetiba bunyi ping mengintrupsi khayalanku di hari Jumat, sore jelang malam. Satu penanda, ada pesan yang masuk ke WA. Aku beranjak meraih ponselku. Segera kueja pesan itu.

Jadijaki ke Bantaeng, akhir pekan ini?” demikian Daeng Litere, seorang karibku mengingatkan satu agenda, yang hendak kuhadiri.

Maklum saja, Daeng Litere ini amat cekatan dalam soal ingat mengingatkan perhelatan. Mungkin karena ia seorang pegiat literasi. Jadinya, ia selalu mencatat apa yang menurutnya cukup penting.

Iye, insyallah. Kalau bukan malam ini, Sabtu pagi aku ke Bantaeng.” jawabku sebagai balasan atas tanyanya. read more

Dari Che Guevara ke Qasem Soleimani

Dahulu, mayapada pernah melahirkan sosok martir, Ernesto “Che” Guevara, lebih populer dengan sebutan Che. Lebih 50 tahun lalu, persisnya, 9 ktober 1967, tatkala Che dihukum mati oleh tentara Pemerintah Bolivia atas dukungan CIA, badan intelejen Amerika. Che merupakan seorang pejuang pembebas dari Amerika latin. Lahir di Rosario, Argentina, 14 Junia 1928. Usianya memakan masa, 39 tahun. Namun, dengan jatah umur itu, ia menorehkan semangat perlawanan, untuk pembebasan di kawasan Amerika Latin dari hegemoni Kapitalis Amerika Serikat. read more

Bersua Manusia dan Kemanusiaan

Mengeja satu buku bergizi tinggi, dari salah seorang cendekiawan muslim garda depan, Haidar Bagir, sungguh sangat gurih.  Di bagian awal bukunya, Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia, Haidar menabalkan mimpinya-mimpinya, tentang tatanan hidup dan kehidupan di planet ini, agar lebih manusiawi.

Salah satu mimpinya, saya coba nukilkan, “Suatu saat orang akan melihat kehidupan bukan sebagai gelanggang pertarungan memojokkan dan menyingkirkan orang lain demi menguasai semua sarana pemuas syahwat diri sendiri. Syahwat harta, syahwat kekuasaan, syahwat politik, dan syahwat lainnya.” read more

Tali-temali Literasi di Pucuk Tahun

Ada awal, ada akhir. Inilah maksim paling tepat menggambarkan suasana kiwari, di pekan terakhir  bulan Desember, tahun 2019. Di awali Januari, diakhiri  Desember. Itulah takdir siklus waktu tahunan yang terjalani, guna menghitung himpunan perkara kemelataan hidup dan kehidupan. Awal tahun menjanjikan banyak harapan, akhir tahun menegaskan capaian. Kehayatan, seolah hanya berayun di antara harapan dan capaian. Begitulah seterusnya, hingga akhir benar-benar berakhir.

Di pekan terakhir Desember 2019, saya sudah masuk perangkap lilitan waktu, baik yang bersifat personal maupun sosial. Menemani dua orang anak saya berlibur di kampung halaman, Bantaeng  dan menyata di hajatan keluarga, serupa terungku kegiatan personal. Selainnya, melibatkan diri di tiga acara bertajuk literasi, sebentuk tawanan aktivitas sosial. read more

Ruang Bernapas, Jiwa Langgas

Puluhan orang berkerumun. Jumlah persisnya saya tidak tahu. Beberapa orang telah saya kenal. Bahkan, amat akrab. Sekotahnya berkumpul di depan sebuah kantor sederhana, di jantung Kota Bantaeng. Depan GOR Bantaeng, hanya sepelemparan batu dari Kantor Pos Bantaeng, dan beberapa langkah saja dari Lapangan Bawakaraeng Bantaeng. Nama kantor itu, Satuan Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT), Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng.

Sebagai orang yang diajak berkumpul pagi itu, saya masih meraba-raba dalam tanya, apa yang hendak dilakukan? Dan, sebenarnya mau kemana? Memang, sedari mula saya diberitahu, segenap persona SLRT akan melakukan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda), dikemas dalam acara family gathering. Saya tabung saja tanya itu. Saya biarkan diri ikut mengalur pada tahapan cerita, memamah di tapak rencana penghelat acara. read more

Literasi Desa dan Desa Literasi

Kehadiran bulan November tahun 2019, masih belia sekali. Persisnya di pekan pertama, tanggal 2-3, jatuh pada Sabtu-Ahad. Pemerintah Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, lewat kepala desanya, Amiluddin Aziz, saya didapuk untuk terlibat dalam dua mata acara. Workshop dan bedah buku. Bertempat di Aula Kantor Desa Bonto Jai.

Hajatan workshop, 2 November 2019, menegdepankan tajuk,  “Workshop Literasi Desa”, dibuka oleh Poni Gassing, mewakili Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Bantaeng. Para penghadir yang terlibat, sengaja dipilih dari unsur perwakilan kelembagaan desa dan komunitas. Semisal, BPD, LPM, majelis taklim, PKK, para pendidik, tokoh masyarakat dan agama, serta kaum muda. Selain saya selaku narasumber, juga melibatkan seorang pegiat literasi, sekaligus sosok petualang, Andhika Mappasomba. read more

Berselancar pada Permukaan, Menyelam di Kedalaman

Tatkala malam Minggu tiba, para penghadir menyemuti lokasi perkemahan. Sejak dibuka secara resmi pada Sabtu pagi, peserta perkemahan sudah mulai berdatangan.  Sore hari, gelombang  penghadir makin padat. Dan, hingga larut malam, masih saja ada yang datang.  Bolehlah saya taksir, ada sekira 500 orang, menyemuti areal Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III, 24-28 Oktober  2019, bertempat di Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Puncak bermukim di malam Minggu itu, seolah menjadi miniatur, orang-orang yang sedang “wukuf di Padang Arafah”. read more

Di Lembah itu, Kami Kembali Bersumpah

Udara dingin masih menghidu perhelatan. Sisa-sisa bara api unggun, tak mampu menghangatkan suasana. Namun, percakapan tetap intim, dimediasi kopi sekhusyuk-khusyuknya. Tetiba saja, saya dan dua orang kawan, Rahman Lintas Batas, dan Ato Rachmat Saleh, teralihkan perhatian pada bendera merah putih, mulai dibentangkan. Bendera sepanjang 74 meter itu, membelah tanah lapang, di lokasi Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III, Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatab Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.

Segera saja kami beranjak dari peraduan. Menyongsong puncak cara perkemahan. Di tengah lapangan, saya sudah melihat Jamal Mapia dan Aby Pasker, dua orang pembina KBK, mengkoordinasi acara. Pun, Nurung Karaeng Lannying, selaku ketua panitia, sibuk wara-wiri, mempersiapkan keberlangsungan upacara. Sesarinya, pagi itu, tepat 28 Oktober 2019, segenap penghadir di KBK , melaksanakan upacara Sumpah Pemuda, sebagai penanda pucuk perhelatan, sekaligus penutup perkemahan. read more

Persetubuhan Literasi Politik dan Politik Literasi

Orang-orang mulai menyemut di dalam gedung. Beraneka model busananya. Bermacam warna pakaiannya. Beragam tingkatan usianya. Tawa riang menerungkunya. Gembira ria meluapinya. Bahagia menghidunya. Hajatan ini, bak gula dikerumuni semut.

Sembari menanti acara dimulai, sekelompok pegiat seni-budaya, Komunitas Pakampong Tulen (Komplen), menembangkan lagu-lagu daerah, langgam Makassar, orkes turiolo (otri). Sederet lagu didendangkan. Rupa-rupa alat musik dimainkan. Celo, gitar kontra bas, gitar, cak-cuk, dan biola, menyatu dalam harmoni. Segenap penghadir khusyuk dalam pusaran tembang etnik. read more

Duta Lilin Pinus

Masih ingat esai saya hampir setahun silam? Judulnya, “Yang Tersisa dari Hutan Pinus Bonto Lojong”. Esai tersebut pertama kali dimuat pada Kalaliterasi.com, kemudian menjadi bagian dari kumpulan esai saya di buku Pesona Sari Diri. Pada esai saya itu membabarkan beberapa poin penting, tentang hajatan Kemah Buku Kebangsaan (KBK)  Jilid II, 25-28 Oktober 2018, berlokasi di Hutan Pinus Rombeng, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Bantaeng.

Sebagai penerang ingatan, saya kutipkan, “Nah, lahan hutan yang habis terbakar ini, akan segera digarap oleh masyarakat, dan menjadikannya kebun. Berarti, hijau daun pepohonan akan berubah menjadi tanah kecokelatan. Dan, hutan yang ditempati berkemah ini, mungkin sisa inilah lokasi yang masih bisa dicegah agar masyarakat tidak menggarapnya, buat dijadikan lahan perkebunan.” read more