Semua tulisan dari Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Tengkiyu  Profesor, Tarimakasi Profesor.

 

“Bukan saja fisik yang berubah, tapi mindset ikut berubah.” (Nurdin Abdullah)

“Penting untuk menang, tapi jauh lebih penting, bangkit dari kekalahan.” (Arsene Wenger)

Selaku anak negeri, tanah tumpah darah saya di Kabupaten Bantaeng, dan penikmat permainan sepak bola. Saya membajak nafkah di kota Makassar, waima akhir pekan saya, nyaris selalu  tunai di tanah kelahiran. Saya  telah jatuh pikir dan taut hati pada dua orang profesor.  Setidaknya, sepuluh tahun terakhir ini.  Bahkan, bisa lebih jauh ke belakang.

Satu professor berlatar belakang akademik, Nurdin Abdullah, satunya lagi berlapik sepak bola, Arsene Wenger.  Jika Nurdin Abdullah mendapatkan lewat jalur formal, maka Arsene Wenger meraihnya melalui non-formal.  Dua profesor ini, punya kesamaan, yakni sudah meninggalkan posisi lamanya, menuju posisi baru.

Nurdin Abdullah, kelahiran Kota Pare-Pare, 7 Februari 1963. Masih merupakan keturunan keluarga raja Kerajaan Bantaeng.  Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Jepang. Dosen di Universitas Hasanuddin. Tahun 2008, mencalonkan diri menjadi Bupati Bantaeng. Masyarakat Bantaeng memilihnya.  Karena dianggap berhasil, maka terpilih kembali pada periode berikutnya. Memimpin Bantaeng dua perode.

Arsene Wenger, lelaki berkebangsaan Perancis, lahir di Strasbourg, 22 Oktober 1949. Pernah menjadi pesepakbola, meski lebih cemerlang ketika menjadi pelatih. Pernah menukangi beberapa klub, sebelum Arsenal. Nagoya Grampus Eight, salah satunya. Jadi, Nurdin Abdullah dan Arsene Wenger, kesamaannya, berkiprah di Jepang. Nurdin sekolah, Wenger melatih.

Nurdin Abdullah, baru saja dilantik menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, setelah ia menjadi Bupati Bantaeng sejumlah dua periode, 2008-2013 dan 2013-2018. Sementara Arsene Wnger, sehabis menukangi klub sepak bola Arsenal, selama  22 tahun, 1996-2018 kini, di tempat barunya , sementara masih “semedi”. Belum menerima tawaran klub maupun negara. Walaupun, tidak sedikit lamaran yang ditujukan padanya.  Pengganti Nurdin Abdullah, terpilihlah Ilham Azikin.  Pun di Arsenal, Arsene Wenger diganti oleh Unai Emery

Keterpilihan Nurdin Abdullah menjadi gubernur, tidak lepas dari torehan prestasi, selama menjabat bupati di Bantaeng. Sederet prestasi, berupa penghargaan yang ia terima. Jumlahnya puluhan tanda prestasi. Tahun 2009, 5. Tahun 2010, 14. Tahun 2011, 14. Tahun 2012, 6. Tahun 2013, 8. Tahun 2014, 19. Tahun 2015, 13. Tahun 2016, 12. Dan, tahun 2017, 17.  Sekotah penghargaan itu, menemukan bentuk mutakhirnya , tersimpai pada tagline kampanyenya, Profesor Andalan, di ajang pemilihan gubernur.

Begitupun Arsene Wenger. Selama menukangi Arsenal, sejumlah trofi dipersembahkan.  Piala Liga Primer (3), 1997-1998, 2001-2001, dan 2003-2004. Piala FA (7), 1997-1998, 2001-2002, 2004-2005, 2013-2014, 2014-2015,dan 2016-2017. Piala Community FA (7), 1998, 1999, 2002,2003,2004,2014, dan 2015. Karena kepanditannya meracik pemain Arsenal, dengan tampilan permainan atraktif, sepak bola indah dan menyerang, maka julukan teranyar yang didapukkan padanya, Le Profesor. Maklum, ia berkebangsaan Perancis.

Profesor Andalan, Nurdin Abdullah  menabalkan diri  pada sebundel sertifikat penghargaan.  Buah dari Bantaeng bukan saja berubah secara fisik, tapi mindset warganya ikut berubah.  Le Profesor, Arsene Wenger mengukuhkan diri pada sederet piala liga.  Hasil dari tertanam kuatnya  slogan di Arsenal, pentingnya memenangkan permainan,  waima lebih penting lagi bangkit dari kekalahan.

Capaian yang ditunjukkan oleh Nurdin Abdullah, pastilah terpahat pada pikiran warga Bantaeng. Prestasi yang ditorehkan Arsene Wenger, tentulah terukir di ingatan klub Arsenal. Jujur saya nyatakan, kedua profesor ini, sangat identik dengan tempat yang ditinggalkannya.  Memikirkan Bantaeng, tertujulah pikiran pada Nurdin Abdullah. Pun, demikian dengan  Arsenal. Mengingat Arsenal, ingatan terpatri pada Arsene Wenger.

Karenanya, dengan kondisi kejiwaan warga Bantaeng dan fans Arsenal, bisa saja menyulitkan para penggantinya. Padahal, tidak mestilah begitu. Bupati baru, Ilham Azikin,  tentulah punya kapasitas yang bisa diandalkan untuk menjayakan Bantaeng. Seperti janjinya sebelum terpilih, “Meneruskan Kejayaan Bantaeng.”  Demikian pula, juru taktik baru Arsenal, Unai Emery, memiliki kemampuan buat menukangi Arsenal. Setiap pelatih, punya racikan sendiri dalam menghadapi setiap pertandingan.

Sebagai warga yang baik, berilah kesempatan pada bupati baru, guna merumuskan kebijakannya. Menyusun barisan timnya, buat menyukseskan janji programnya. Satu keniscayaan, merombak tim yang ditinggalkan oleh bupati lama. Mutasi atau pergeseran kedudukan dari sumber daya manusia, selakon pelaksana amanah . Perpindahan jabatan di jajaran pemda, bukanlah suatu kesalahan.  Sebab, antara program yang dijanjikan kepada warga, dengan kemampuan sumber daya manusia yang akan mengelolanya, mestilah pas. Ibarat mur dan baut.

Serupa pula dengan fans fanatik Arsenal.  Pelatih baru dengan keputusannya, patut dihargai. Ada pemain lama yang dipertahankan. Ada pemain yang memilih pindah, atau dijual ke klub lain. Ada pemain baru yang didatangkan. Sekotahnya, bertujuan agar tercipta satu tim kesebelasan, yang bisa mewujudkan kemenangan pada setiap perlagaan.

Jadi, dalam pemerintahan dan kesebelesan yang baru, otoritas bupati dan pelatih menjadi kebijakan terdepan.  Dengan asumsi  teranyar, demi kebajikan bersama. Kejayaan Kabupaten Bantaeng  dan kemenangan klub Arsenal.

Bagi saya, sebagai warga dan selaku penikmat sepak bola, sepatutnya berterimakasih pada dua profesor itu. Ber-tengkiyu dan ber-tarimakasi padanya.  Tengkiyu Profesor Andalan, Nurdin Abdullah, namamu terpahat pada pikiran  warga Bantaeng. Tarimakasi Le Profesor, Arsene Wenger, sosokmu terukir di ingatan fans klub Arsenal. Dan, welkam bupati  Bantaeng, Ilham Azikin, pahatan harapan warga menantimu.  Maeki, pelatih  Atsenal, Unai Emery, ukiran asa fans menunggumu.

 

Ilustrasi:  tafaqquhstreaming.com

Ketika Partai Politik Menjadi Klub Sepak Bola

 

“Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, aku mendapatkannya dari sepak bola.”  [Albert Camus]

Lagi dan lagi, tentang politik berselaras sepak bola. Tapi bukan politik sepak bola, melainkan sepak bola politik. Persisnya, kesamaan antara partai politik dan klub sepak bola. Saya amat suka menggunakan analogi sepak bola, buat memahami dinamika politik. Kenapa? Karena keduanya adalah sebentuk permainan. Dan, permainan itu sendiri, tiada lain adalah aktivitas paling purba bagi manusia.

Waima saya bukanlah pengamat politik dan komentator sepak bola profesional, melainkan seorang yang suka bermain, maka soal politik dan sepak bola, saya simpaikan saja dalam tali permainan.

Peristiwa politik paling kiwari, tersimpul pada sibuknya partai politik mendaftarkan bakal calon anggota legislatifnya, di berbagai ajang tingkatan. Dari Kabupaten-Kota, provinsi, hingga pusat. Pun, telah tiba pula pada lahirnya perikatan koalisi partai, guna menentukan calon presiden dan wakilnya.

Di belahan permainan lain, perlagaan sepak bola, tepatnya, perguliran liga di berbagai negara, khususnya daratan Eropa, juga sudah ditiup pluitnya. Khususnya Liga Primer Inggris. Jendela transfer pemain, memasuki injuri time. Sekotah klub memaksimalkan timnya. Ada pemain yang bertahan, tidak sedikit yang dijual, dan banyak pula pemain yang dibeli oleh klub. Intinya, bagi sebuah klub sepak bola, tatkala memasuki musim kompetisi, bagaimana mendapatkan pelatih, manejer, ofisial, pemain, dan kesetiaan supporter.

Sejak partai politik mendaftarkan calegnya, ditambah lagi dengan koalisi partai politik mengusung calon presiden dan wakilnya, jagat perpolitikan tanah air benar-benar dinamis. Beberapa nama caleg pindah partai, dan nama-nama caleg yang masih setia pada partainya. Ada yang pergi, ada yang datang, ada pula yang tinggal. Persis sama dengan klub-klub sepak bola di daratan Eropa, yang sibuk menjual, membeli dan mempertahankan pemain.

Pertanyaannya, mengapa sedemikian persamaannya? Sebab, partai politik di kekinian dan kedisinian tak jelas lagi ideologi politiknya. Lebih mengarah kepada kepentingan pragmatis, agar partai lolos ambang batas parlemtary threshold. Sewajahlah dengan klub sepak bola profesional, yang ingin tetap bermain di liga primer masing-masing. Jangan sampai terdegradasi.

Karenanya, sebagai suatu permainan politik dan sepak bola, tidak perlulah terlalu serius dalam menyikapi perlagaan ini. Sebab, partai politik dan klub sepak bola, punya satu tujuan, bagaimana tetap bisa bermain. Partai-partai besar, semirip klub-klub kaya, dengan  segala kekayaan yang dimilikinya, tentulah lebih leluasa menjual, membeli, dan mempertahankan calegnya. Intinya, ada proses transaksi di dalamnya. Laku transaksional, berlaku di permainan politik, seperti halnya di perlagaan sepak bola.

Jadi, tak usahlah heran. Apatah lagi baper.Kaget boleh. Politik kita adalah politik permainan, yang tertuang dalam permainan politik. Dalam konteks ini, perpindahan pemain, atau bergersernya kekuatan koalisi partai bukanlah soal yang harus ditangisi berlebihan. Sebagai partasipan dari permainan, kita boleh terharu, sedih, dan bahagia menyaksikan drama permainan politik dan sepak bola. Karena, kesemuanya adalah sari diri selaku manusia yang kebutuhan dasarnya perlu bermain.

Coba bayamgkan saja, betapa eloknya sebuah drama permainan. Musim kompetisi politik dan sepak bola pada periode ini, seorang pemain harus bermain berhadapan dengan mantan partai atau klubnya. Musim berikutnya, boleh jadi pindah partai atau klub lagi. Demikian juga dengan peta koalisi, musim politik kali ini bersama dalam satu barisan, musim berikutnya bercerai. Lalu mengapa harus begitu serius memandang perlagaan raga itu, sehingga merusak ketenangan jiwa?

Bolehlah dicatat seadanya saja. Semisal dalam satu partai atau klub, beragam latar belakang pemainnya. Agama, suku, ras, dan budayanya. Tak elok mengelu-elukan para pemain itu berdasarkan keragaman itu. Sebab, pada setiap partai atau klub, pastilah ada kesamaan agamanya, rasnya, sukunya, dan budayanya di partai atau klub lain. Mungkin akan lebih elok kita memandang partai dan klub itu, memainkan timnya sehingga bisa jadi juara.

Sebagai anak bangsa yang menekuni gerakan literasi, pegiat literasi, saya terkadang agak risau melihat respon terhadap permainan politik yang sama dengan perlagaan sepak bola. Ketika partai politik menjadi klub sepak bola. Manakala umpatan, cacian, fitnah dijadikan lapik dalam pemenangan permainan.Terjadi perkelahian antar pemain, pelatih yang mengumpat pelatih lain, supporter tawuran. Wasit dicaci, pemain dimaki.  Apa yang terjadi? Permaian sepak bola itu dikenang sebagai permainan yang memalukan. Perhelatan politik dicatat sebagai perseteruan keburukan.

Para caleg dan capres-wapres sudah didaftarkan. Itu maksudnya, sama saja jendela transfer pemain di sepak bola telah ditutup. Segenap partai politik atawa klub sepak bola sisa bertanding. Pada setiap kompetisi, selalu ada drama. Permainan politik dan perlagaan sepak bola punya aturan mainnya. Nikmatilah pertandingan ini dalam koridor aturan main itu. Sebab, bila tidak, akan ada sangsi pertandingan. Lebih dari itu, sangsi yang lebih berat adalah, jika pertandingan ini ditabalkan sebagai pertandingan yang tidak sportif. Meskipun ada pemenangnya.

Benarlah nubuat Albert Camus, seorang penulis-filsuf Perancis kelahiran Aljazair, telah saya nukilkan di awal tulisan ini. Saya mengutipnya, sebab untuk memudahkan mengalami permainan, sebagai tindakan paling purba sebagai manusia. Dalam sepak bola, yang esensinya adalah permainan untuk menang, perkara moralitas dan potret sebagai manusia, lebih mudah dipahami. Sekali lagi dan lagi, manakala partai politik atau klub sepak bola, terlibat kompetisi, pasti bermain. Keduanya adalah permainan, yang mewadahi aktivitas paling purba dari manusia dan kemanusiaannya.

Daeng Jokowi, Selamat Datang di Kota Koko

 

Daeng Jokowi, izinkan saya menyapamu dengan panggilan Daeng. Sebab, salah satu julukan Kota Makassar adalah Kota Daeng.

Sejak beberapa hari ini, jelang pucuk Juli 2018, berbagai elemen warga Kota Makassar, menyambutmu dengan ucapan selamat datang. Sebagai missal saja, sepanjang Jalan Andi Pangerang Pettarani, elemen dari Sahabat Rakyat Indonesia, menjejerkan banner Selamat Datang Bapak Presiden RI. Pun, ada elemen masyarakat yang memasang spanduk dan baliho ajakan untuk gerak jalan sehat. Semoga saja masyarakat yang ikut jalan sehat, jiwa dan raganya makin kamil.

Soal sapaan Daeng, saya perlu dudukkan dulu porsinya. Biar  esai-surat saya ini, tidak dianggap gegabah dan nyeleneh. Bahwasanya, bagi masyarakat Makassar, kata Daeng ini, bisa berdimensi panggilan dan gelar. Panggilan Daeng, berkonotasi panggilan seorang yang lebih muda pada yang lebih tua. Sementara gelar Daeng, merujuk pada status sosial yang disematkan pada seseorang. Tepatnya, gelar semacam Paddaengang, Biasanya, paddaengang ini diletakkan pada sesudah nama asli. Dan, paddaengang ini menggambarkan harapan, penyerupaan, dan impian.

Jadi, saya menyapa Daeng Jokowi, itu semata sapaan akrab, dari yang lebih muda usianya, pada yang lebih tua. Memang saya dan Daeng Jokowi, sama-sama sudah berumur lebih setentgah abad, cuma, saya baru 51, sementara Daeng sudah 57 tahun. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada elemen masyarakat yang ingin memberikan gelar paddaengang pada Daeng.

***

Daeng Jokowi, perkenankan saya menyambutmu dengan kerinduan yang tertitip pada anging mammiri. Selamat datang di Kota Anging Mammiri. Karena, Kota Makassar dikenal pula dengan gelaran itu.

Bila Kota Daeng mengalamatkan pada sebentuk pola kemasyarakatan masyarakat Kota Makassar, maka Kota Anging Mammiri, mengarahkan pada suasana kebudayaan Makassar. Khususnya dalam berkesenian. Bukankah  “Anging Mammiri” adalah salah satu lagu daerah yang amat populer? Lagu karangan Bora Daeng Irate ini, menggambarkan kerinduan yang amat khusyuk.

Lewat kelembutan anging mammiri, elemen-elemen masyarakat Makassar yang merindukan Daeng, telah mereka nubuatkan, yang patrinya tertulis pada ucapan selamat dating di berbagai banner, spanduk, dan baliho. Saya berharap, hembusan angin cukup bersahabat, agar jangan sampai merobek, menerbangkan, atau menumbangkan, aneka pernyataan sambutan hangat itu. Pun, ada harapan yang mengada, moga Daeng, pun, merindukan Kota Anging Mammiri.

***

Daeng Jokowi, permaklumkan saya mengenalkan satu julukan lagi bagi Kota Makassar. Selamat datang di Kota Koko. Maksudnya, Kota Kolom Kosong, yang lebih populer dengan sebutan kotak kosong.

Kota Koko, persisnya, Kota Kolom Kosong, merupakan capaian baru bagi Kota Makassar dalam perhelatan politik. Berdemokrasi. Perkaranya, tatkala Pilkada Serentak 2018, di mana Kota Makassar ikut pemilu untuk memilih wali kota dan wakilnya, ternyata warga Makassar lebih banyak memilih kolom kosong. Saya menganggap ini semacam referendum yang lunak, buat menyatakan pilihan, apa anda setuju atau tidak setuju pada pasangan calon wali kota dan wakilnya, Appi-Cicu?

Berlapikkan pada kemenangan Koko, atau lebih banyak masyarakat tidak setuju pada pasangan Appi-Cicu, bagi saya, ini semacam interupsi yang serius bagi perpolitikan kita. Pasalnya, keunggulan Koko ini, hingga pada tahapan penetapan oleh KPU, masih menjadi perbincangan yang hangat. Mungkin memang bukan yang pertamaka kali kemenangan Koko di Kota Makassar, tetapi dari segi dampak politiknya, menyebabkan pamor Koko melangit. Bayangkan saja, pasangan Appi-Cicu, didukung oleh koalisi sekotah partai politik. Pun, dihidu oleh jejaring konglomerasi.

Warga Makassar yang membariskan dirinya pada pilihan Koko, telah memahat history, sekaligus melukis story. History atau sejarah, maupun story atawa cerita, dua-duanya merupakan alat pewaris ingatan pada peristiwa, guna melawan lupa. Pada sejarah dan cerita, masyarakat itu akan setia pada peristiwa. Jika sejarah merumuskannya dalam bingkai ilmu pengetahuan, maka cerita mengawetkannya lewat karya sastra. Satu bekerja di bidang non-fiksi, satunya lagi bergerak di bagian fiksi.

Pahatan sejarah dan lukisan cerita Koko, akan selalu menguar ke permukaan. Manakala anak bangsa ini melakukan perlagaan politik, mulai dari pemilihan kepala desa, bupati-wali kota, gubernur, dan presiden, yang memungkinkan hadirnya Koko sebagai kontestan pemilu, maka ingatan akan sejarah dan cerita pada Koko yang menang di Kota Makassar, bakal hangat lagi. Pastilah menjadi rujukan perbalahan politik. Jadinya, pasangan yang dikalahkan oleh Koko di Kota Makassar itu, penderitaannya tiada berakhir. Dari generasi ke generasi akan didaur ulang sejarah dan ceritanya. Kecuali, sistem politik berubah. Tapi itu pun akan selalu menjadi pelajaran di sekolah, dan cerita legendaris di masyarakat.

***

Daeng Jokowi, sesarinya, saya sudah menyapamu dengan ucapan selamat datang dalam bentuk three in one, maujud dalam satu paket. Sosial, budaya, dan politik. Kota Daeng, Kota Anging Mammiri, dan Kota Koko.

Dari paket itu, saya ingin menebalkan cetak hurufnya pada julukan Kota Koko. Mengapa? Tahun ini, dan tahun depan nanti, adalah tahun politik. Kunjungan Daeng Jokowi ke Kota Makassar kali ini, pun tidak bisa dilepaskan dari terungku aura dan aroma politik. Di era kiwari ini, jalan sehat pun merupakan bagian dari mobilisasi politik. Itu sah saja. Boleh setuju, boleh tidak. Dan, bagi saya, bukan itu poinnya. Tapi, masalahnya adalah, tatkala Daeng Jokowi harus berhadapan dengan Koko di Pilpres 2019. Waima, kekhawatiran saya berlebihan. Sebab, alamat kearah itu nihil.  Gerakan #Gantipresiden, karena #Diasibukkerja, masih berkontestasi.

Daeng Jokowi, tak elok melawan Koko. Ibarat petinju, ia hanya melawan angin. Mau dibilang ada, tak nampak. Mau dikata tiada, jejaknya tampak. Bertinju melawan angin, bak memukul diri sendiri. Kecuali, anginnya, serupa anging mammiri, yang hembusannya mengantar pada kerinduan. Yah, kerinduan pada seorang presiden berkarakter Daeng.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra.

Anak, Gawai, dan Literasi

 

Akhir pekan yang gundah. Apa pasalnya? Tatkala saya melakukan perjalanan ke kampung halaman, Kabupaten Bantaeng, guna berakhir pekan, tetiba saja , ada rasa yang kurang nyaman. Waima, segera saja, saya sanggup mengatasinya, sebelum menjalari sekujur jiwa.  Tempat duduk saya diambil alih oleh penumpang lain. Biasanya, di oto angkutan umum langganan saya, sudah menjadi konvensi, tempat duduk saya di depan, samping sopir.  Tapi kali ini, seorang ibu paru baya  dengan anaknya, sekira dua tahunan umurnya, ngotot untuk di depan.

Mengalahlah saya. Toleransi tingkat tinggi penting untuk dikedepankan. Apatah lagi, karena adanya anak kecil itu.  Masalahnya, saya yang duduk di kursi deretan kedua, kurang nyaman, akibat ulah si anak. Ia amat rewel. Menangis sejadinya, kadang meronta-ronta. Ada permintaannya yang belum dipenuhi oleh  sang ibu. Anak itu merengek, dengan kata-kata kurang jelas, cadel, meminta , “Ape…ape..ape..”. Saya menduga , anak itu minta  buah apel. Sebab, di perjalanan, ada penjual buah di pinggir jalan. Ternyata, yang dia inginkan adalah hape. Satu perangkat alat komunikasi cerdasPonsel cerdas, smart phone, gadget, atau gawai.

Anak itu sempat tertdur sejenak. Mungkin capek karena menangis plus meronta. Begitu melek matanya, ia berulah lagi. Mirip dengan lagu yang diputar, lalu di-pause, dan nyambung lagi lagunya. Tembang kenangan dari flashdisc saya, yang diputar oleh sopir, tak dapat saya resapi. Lagu Koes Plus, nyaris seperti kaset yang tergulung pitanya, atau disc yang tergores permukaannya. Tangisan dan rengekan anak itu, menenggelamkan suara duet maut, Yon dan Yok,  ketika menembangkan lagu “Tangis Peri”. Ketika ibunya memberikan hape yang diminta, ademlah suasana. Anak itu sibuk meungutak-atik gawai. Saya pun tenggelam dalam khusuknya, tembang kenangan.

Pada kedalaman penghayatan perjalanan, alunan lagu lawas mengantarkan ingatan pada anak bungsu saya. Tahun ini lulus SD. Kini, barulah dua pekan bersekolah di SMP.  Walau, tidak separah dengan anak kecil yang saya ceritakan di atas, nampaknya, kecanduan pada gawai juga sudah mulai melilitinya. Mirip ular piton yang meliliti seekor kambing. Saya memisalkannya demikian, sebab, ia juga masih bisa bergerak, berusaha terlepas dari lilitan. Pun, kami kedua orangtaunya, ditambah tiga orang kakaknya, berjuang secara bersama-sama membebaskannya.

Jalan juang seisi mukim, rupanya selaras dengan apa yang ditabalkan oleh seorang psikolog dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, bahwa, “Ketidaktegasan orangtua dalam membatasi waktu  anak-anak bermain gawai, terutama gim daring, merupakan salah satu faktor anak kecanduan gawai. Faktor lain, kurangnya literasi orangtua pada teknologi, serta orangtua kurang percaya diri memberikan aturan karena takut anak akan mengamuk ketika gawainya diambil.”

Terungku gawai ini pada anak-anak, tidak main-main jerujinya. Jajak pendapat harian Kompas,  18-19 Juli 2018,tentang permisifnya gawai terhadap anak,  menunjukkan hasil, mayoritas responden, 83,1% berpendapat anak berusia 13 tahun ke atas sudah bisa diizinkan menggunakan gawai yang tersambung internet.  15,8 % responden mengizinkan anak di bawah usia 13 tahun. Sikap  permisif ini sejalan dengan  Kementrian Komunikasi dan Informatika pada awal 2018, bahwa penggunaan internet oleh individu sebanyak 65,34 % berusia 9-19 tahun. Umumnya anak-anak menggunakan internet untuk mengakses media social, juga Youtube dan gim daring.”

Lebih jauh, jajak pendapat itu menggambarkan, meski mengizinkan anak-anak tersambung dengan internet, 49 % responden menyadari anak-anak perlu didampingi ketika mengakses konten internet. Menurut responden, konten internet yang paling berdampak buruk terhadap anak, pornografi (62,3 %). Disusul dengan konten aksi kekerasan (14,2%), dan gaya hidup konsumtif (8,5 %), Kompas, 24 Juli 2018.

Berlapik pada jajak pendapat di atas, maka gerakan pembebasan dari terungku gawai pada anak-anak, mestilah menjadi keprihatinan bersama. Tekad yang kuat dari para orang tua, dan lingkungan rumah yang harus disiplin dalam mengatur penggunaan gawai. Pun, pihak sekolah  tidak kalah pentingnya untuk ikut mendukung gerakan bebas gawai di wilayah sekolah. Pengurus sekolah, harus menegakkan aturan pemakaian gawai, hanya digunakan untuk mendukumg proses belajar dan pembelajaran.

Sebagai tips sederhana yang kami lakukan di mukim, terhadap si bungsu, tetap boleh bermain gawai. Dengan catatan ada kesepakatan waktu yang dipatuhi. Konsesi dari pembolehan itu, ia harus membayarnya dengan kebiasaan membaca.Menumbuhkan tradisi literasi pada anak. Sebab, ada keyakinan saya, hingga kini masih saya anut, bahwa kecanduan pada sesuatu, hanya bisa dilawan dengan kecanduan yang lain.Jika gawai seperti candu, maka literasi haruslah menjadi morphin.

Dan, syukurnya lagi, sebab sekolahnya, tidak membolehkan membawa gawai. Soal kepulangan dari sekolah, atau ada urusan antara sekolah dan orangtua, pihak sekolah menyediakan sarana komunikasinya. Bahkan, yang menggembirakan, karena pihak sekolah, membagikan gambar-gambar  dan informasi kegiatannya di sekolah, kepada seluruh orangtua siswa yang tergabung dalam sebuah group medsos.

Tali simpul sebagai simpai simpulan, saya ingin menegaskan, idealnya, perangkat gawai digunakan untuk penguat literasi. Atau sebaliknya, tradisi literasi mengantar setiap orang, agar menggunakan gawai secara tepat. Rumah, sekolah, dan masyarakat, perlu bersinergi dalam gerakan penggunaan gawai secara sehat. Dan, dukungan pada gerakan literasi, jangan sampai telat.  Sebab, gerakan literasi, masih merupakan garda depan dalam membijaki pemakaian gawai pada anak-anak.

Sepulang dari kampung halaman, ada urita menarik, yang saya dapatkan dari media daring. Bahwasanya, Kabupaten Bantaeng meraih predikat Kabupaten Layak Anak (KLA). Juga, salah satu sekolahnya, SMK Negeri 1 Bantaeng, mendapat penghargaan Sekolah Layak Anak (SKL). Pialanya telah diberikan di Kota Surabaya, sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2018. Pun, ada satu perpustakaan desa, Desa Bonto Jai, masuk  lima besar  perpustakaan desa, sebagai Perpustakaan terbaik di Sul-Sel, oleh Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebagai anak negeri yang mukim di Kota Makassar, tapi punya kampung halaman bernama Kabupaten Bantaeng, yang senantiasa memilih berakhir pecan di sana, tentulah amat membanggakan predikat dan penghargaan  itu. Meski ada resah yang hadir.penguat gundah bin resah yang sudah mengada sebelumnya. Perkaranya, tanpa sengaja, saya bersua kembali dengan ibu paru baya itu, menggandeng anaknya, bersama suaminya, di areal pertokoan, tepatnya kawasan Pecinan Bantaeng. Rupanya, mereka warga Bantaeng. Sang anak riang gembira, bersama orangtuanya, dengan gawai di tangan si anak.

Les Bleus: Ayam Jantan itu, Tetap Indah Bulunya

 

“Harmoni adalah jiwa dari kesebelasan Perancis”  (Didier Deschamps}

Sekali waktu, seorang kisanak menyata di mukim saya. Hari masih pagi. Saat saya memberi makan pada beberapa ekor ayam peliharaan. Seekor jantan dan betinanya. Pun beberapa ekor anaknya. Bertanyalah kisanak, “Apakah saya penyuka ayam?”  “Pastilah”, jawab saya. Saya memang memelihara ayam kampung, karena dua hal. Bulunya dan dagingnya. Saya merasa memandang keindahan wajah Tuhan pada mozaik warna-warni bulu ayam.  Sementara, dagingnya, alamak, nikmat sekali. Jadi, bagi saya, ayam kampung, amat elok dipandang, sangat nikmat disantap.

Perkara suka pada ayam kampung, terutama ayam jantan, sependek ingatan saya, sudah muncul sejak kanak-kanak. Pasalnya, di rumah saya, warga mukim memelihara beberapa ekor ayam kampung. Tapi kelihatannya, bukan itu saja. Belakangan, tatkala mulai menjadi anak sekolahan, oleh guru diperkenalkanlah nama seorang pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa, yang bergelar Ayam Jantan dari Timur. Dan,namanya kemudian diabadikan pada nama universitas terdepan di kawasan timur Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas)

Ketika mulai membaca karya sastra, bersualah saya dengan buku La Galaigo. Kisah yang diceritakan dalam buku itu, tokoh Sawerigading, merupakan sosok yang suka menyabung ayam. Tentulah ayam jantan sebagai ayam aduan. Sebagai orang yang lahir dalam budaya Bugis-Makassar, soal mengadu ayam pernah saya lakukan di masa silam. Kini, kebiasaan itu tidak lagi. Dulu, memelihara ayam Bangkok untuk disabung, sekarang beternak ayam mangkok buat lambung.

***

Perlagaan Piala Dunia, 14 Juni-15 Juli  2018 di Rusia, usai sudah.  Timnas Perancis  menjadi juara. Sejak lama, saya sudah mendukung Perancis. Apatah lagi, ketika memenangkan Piala Dunia 1998 di Perancis. Waima Perancis tidak juara, bahkan tersingkir lebih awal di babak penyisihan, seperti yang pernah dialaminya, saya tetap mendukungnya. Cukup fanatik. Terkadang, kalau Perancis ikut Piala Dunia dan Piala Eropa, lalu Perancis tersingkir, saya pun langsung menganggap perhelatan bola itu sudah berakhir.

Latar apa yang serius, sehingga kefanatikan itu hadir? Adakah karena julukan Timnas Perancis salah satunya adalah Ayam Jantan? Selain gelaran lain, Les Bleus, Si Biru? Soal kesamaan pada lema Ayam Jantan, mungkin jawabannya: Ya. Saya penyuka ayam jantan karena bulu dan dagingnya, sementara Perancis bergelar Ayam Jantan.  Akar sejarah julukan ayam jantan bagi Perancis, punya latar jauh di masa lalu.

Saya nukilkan saja penjelasannya yang bersumber dari berbagai situs di media daring. Bahwasanya, Secara historis, ayam jantan adalah sebutan bangsa Romawi, terhadap bangsa Gaulois (salah satu kaum nenek moyang bangsa Perancis), yang mendiami daerah Gaulle, pada masa penjajahan Romawi di wilayah tersebut. Mereka terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Les coqs (bentuk jamak untuk ayam jantan). Alasannya, karena Gaulle dalam bahasa latin (bahasa bangsa Romawi) adalah Galus. Nah, kata Galus jika ditambahkan satu konsonan « l » yaitu menjadi Gallus, dalam bahasa latin artinya ayam jantan.

***

Jadi, salah satu pasal utamanya, saya jatuh hati pada Timnas Perancis, karena julukan Ayam Jantan ini. Seriuskah? Bukankah saya sudah nyatakan, bahwa saya amat takjub pada keindahan bulu ayam? Bagi saya, warna-warni bulu ayam jantan, meruapakan representasi keindahan keragaman.Beragamnya warna pada bulu ayam, menyemburkan harmoni keindahan warna. Jika warna bulu ayam itu seragam, semisal putih saja pada ayam potong, atau warna coklat pada ayam petelur, betapa tidak indahnya. Gunanya ayam itu  cuma satu; dimakan.

Analogi keindahan bulu ayam ini, terpatri pada kesebelasan Timnas Perancis. Dari sekian timnas  Piala Dunia yang berlaga, Perancislah yang paling beragam latar pemainnya. Dari segi warna kulit, ras, agama, asal klub, dan usia, sungguh beragam.  Dari 23 pemain yang dipanggil, 15 diantaranya adalah warga keturunan (Guniea, Kamerun, Aljazair, Maroko, Senegal, Kongo, Mali, Mauritania, Togo, Zaire, dan Nigeria). Ada 7 orang pemain muslim. 17 klub, dan rentang usia pemain antara 19-33. Hebatnya lagi, semua pemain adalah pemain bintang yang lagi moncer bersama klubnya. Karenanya, CIES Football Observatory, mendapuk Timnas Perancis sebagai tim yang paling mahal nilai pemainnya. 1.410 Miliar Euro.  Ini adalah harmoni. Persis harmonisnya keindahan bulu ayam jantan.

Harmoni Timnas Perancis tercermin pula pada warna bendera kebangsaan. Sering disebut Tri Color. Biru, Merah, dan Putih. Sebutan warna bendera ini, Tri Color, kemudian diadaptasi dengan pemahaman baru, khususnya dalam tim sepak bola, menjadi : Black (Hitam), Blanc (Putih), dan Beur (Arab). Sebab, dalam timnas tersebut, unsur warna kulit berdasarkan keturunan, memperkuat Timnas Perancis. Harmoni timnas ini bukan berarti sepi dari kritikan.

Tersebutlah seorang politisi Perancis dari sayap Ultra Nasionalis, Le Pen, sangat tidak respek dengan tim ini. Bahkan, keragaman ini, dijadikan sebagai isu politik, akan kelemahan kebangsaan Perancis. Padahal, realitasnya, justru bergabungnya warga keturunan dalam  Timnas Perancis, kesebelasan ini menjadi lebih kuat, hingga menjadi juara dua kali Piala Dunia dan dua kalii Piala Eropa. Kini, mestinya skuad Perancis  dipahami bukan lagi sebagai tri color, melainkan multi color.

***

Beruntunglah kesebelan Perancis punya pelatih sekaliber Didier Deschamps. Ia berhasil meramu seluruh potensi disharmoni berdasar ras, agama,klub, dan usia, menjadi satu energi kolektif,mewujudlah harmoni. Inilah pula yang ditabalkan oleh Shindunata, seorang penulis, dalam tulisannya di harian Kompas, bahwa disharmoni adalah godaan skuad Perancis. Mereka kaya dengan pemain bintang.

Lebih tegas Shindunata bilang, oleh karena disharmoni mereka bisa kececeran, Deschamps menggunakan kriteria KO bagi pemain yang tak bisa menjaga harmoni. Ia membangun skuad Perancis  dengan tekad energie coolective et qualite individuelle, energi kolektif dan kualitas individual.  Dan, benar saja adanya, energi kolektif, yang ditopang oleh kualitas individual pemain, dalam sebuah harmoni, mengantarkan Perancis pada juara dunia yang kedua kalinya. Pelajaran terpenting, mengolah keragaman sebagai kekayaan, akan menghasilkan keindahan dan kejayaan. Sebaliknya, bila keragaman dipandang sebagai beban, maka kejelekan dan keterpurukan menanti.

Sebagai penyuka ayam jantan, baik untuk dipandangi elok bulunya dan dinikmati dagingnya, maupun sebentuk julukan kesebelasan Perancis, yang juara sepak bola piala dunia, di kekinian dan kedisinian, saya tetap jatuh hati pada ayam jantan. Saya amat terpesona pada para persona skuad Perancis, manakala mencetak bola, lalu seluruh pemain, dengan latar belakang yang berbeda, serupa keragaman, saling tumpuk menumpuk, berpelukan dalam keriangan. Persis indahnya warna-warni bulu ayam. Ah, Ayam Jantan itu tetap indah bulunya.

 

 

 

 

 

Ishak Ngeljaratan dan Gelora Percakapan

“Bung Sulhan yang baik, baca-bacalah tanpa beban.”  (Ishak Ngeljaratan)

Pagi baru saja  bergegas menapak jalan takdirnya. Terik  baskara masih lembut. Waima kilaunya mulai menyilaukan mata. Saya memacu motor, dari mukim di kawasan selatan kota Makassar, menuju bilangan utara. Saya akan melayat pada seorang guru utama, guru bagi banyak insan, milik berbagai kalangan, pak Ishak Ngeljaratan. Beliau wafat 16 Juli 2018, di Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sekira pukul 07.00 wita. Urita meninggalnya, saya peroleh dari berbagai jejaring media sosial. Saat berpulang pada keabadian , saya masih di luar kota. Jadi, esok harinya, baru melayat. Di depan peti jenazah, ada butiran kristal, sebentuk air mata, yang melompat dari kelopak mata, tak tertahan.

Segera saja pecahan-pecahan ingatan pada rumah pak Ishak ini, terpapar. Sekira tiga tahun lalu, saya bertandang ke rumahnya. Menemui beliau, guna satu hajatan, memohon untuk memberikan epilog atas buku saya yang mau diterbitkan, Tutur Jiwa.  Dan, waktu itu beliau, merespons , dan akan membaca dulu naskahnya. Tapi, saat itu juga, beliau sudah memberikan wejangan, pada percakapan yang intim tentang jiwa. Meski beliau tidak jadi memberi epilog pada buku saya, karena seabrek kesibukannya, bukan berarti tidak ada hikmah di baliknya. Saya makin intim berkomunikasi dengan beliau. Lewat fasilitas gadget, kami amat sering bercakap tentang buku itu. Saya kadang malu dan berat hati, sebab, berkali-kali mohon maaf atas belum selesainya epilog itu. Terakhir beliau menyarankan agar diterbitkan saja, tidak perlu lagi menanti epilognya. Apatah lagi, beliau bilang, “Sudah ada prolog dari  Alwy Rachman.”

Bertandang ke rumah beliau, saya tidak intens. Lebih banyak ketemu di luar rumahnya. Terutama di forum-forum percakapan, atawa pas bertemu di suatu tempat yang tidak direncanakan. Seingat saya, pertama kali mengunjungi rumah pak Ishak, saat saya dan beberapa orang sahabat, mengantar pulang beliau, setelah selesai orasi di gedung DPRD Sul-Sel, saat mahasiswa menduduki gedung wakil rakyat itu, pada Reformasi 1998. Beliau sebenarnya ingin pulang sendiri, sebagaimana kebiasaannya. Tapi kami harus menjaga beliau. Soalnya, perkembangan situasi sosial politik tak begitu baik. Kunjungan  saya kali ini, beliau sudah  tenang di keabadian. Wajah beliau amat cerah, secerah surya yang menyinari persada tanpa memilih objek.

Pertemuan pertama dengan pak Ishak, saya sudah lupa persisnya. Ingatan saya hanya tertumbuk pada momen ketika mulai menjajal kehidupan sebagai aktivis gerakan mahasiswa, akhir 80-an. Saya termasuk orang yang penasaran dengan beliau. Pasalnya, ada beberapa senior saya yang berdiskusi, saya hanya menguping, dan yang dibincangkan adalah seputar “berbahayanya” pikiran-pikiran pak  Ishak Ngeljaratan. Bahkan, ada juga senior yang menyarankan untuk tidak terpengaruh dengan pikiran-pikiran beliau. Sebagai anak muda yang tenggelam dalam pergumulan intelektual, tentulah anjuran ini merupakan petunjuk jalan, agar segera merambah di mana rambahan pikiran-pikiran pak Ishak sering diuarkan. Berbagai forum diskusi yang melibatkan pak Ishak selaku pembicara, sering saya sambangi. Pun, mendaras tulisan-tulisannya di media cetak.

Setibanya saya pada usia aktivis mahasiswa, yang memegang peranan penting di organisasi kemahasiswaan, maka salah satu narasumber utama yang sering saya buru, buat dijadikan pembicara. Tentulah tindakan saya ini tak sepi dari kritikan kawan sejawat yang menganggap seorang  pak Ishak dengan pikirannya yang berbahaya. Belakangan, lebih dari itu, kadang saya menjadi teman panelis beliau, di beberapa acara kaum muda mahasiswa sebagai narasumber. Kadang saya merasa tersanjung, karena beliau biasa mengucapkan, bahwa , “Kalau sudah ada Bung Sulhan, sudah cukup. Tidak perlu lagi saya datang.”

Sekali waktu, ada acara pelantikan pengurus organisasi kemahasiswaan ekstra universiter, yang mengundang pak Ishak, juga melibatkan saya sebagai panelis. Beliau lebih duluan tiba di lokasi acara, meski saya juga tidak terlambat. Acara itu bertempat di salah satu gedung Universitas Negeri Makassar. Begitu saya tiba, beliau langsung berkata, “Wah bagaimana ini anak muda, saya lebih duluan tiba. Padahal rumah saya di Tamalanrea, naik pete-pete lagi.” Saya yang disapa dengan ungkapan itu, agak malu juga. Perkaranya, rumah saya cukup dekat dengan tempat acara, pakai motor lagi. Sejak saat itu, setiap ada acara yang saya mau datangi, selalu ingat pak Ishak. Karenanya, seingat saya tidak pernah lagi telat datang.

Masih di acara itu. Sebelum acara dimulai, terjadilah percakapan ringan di selasar gedung. Saya bilang, “Mohon maaf pak Ishak, adik-adik ini mengundang di hari Minggu. Takutnya, mengganggu acara ibadahnya, Pak.” Umpan saya ini langsung disabet oleh beliau, “Bung Sulhan, orang Kristen itu masuk gereja, kalau saya, gereja yang masuk saya.”  Kawan-kawan muda mahasiswa tertawa dengan candaan pak Ishak. Entah apa yang dipahami 0leh candaan itu. Tapi bagi saya, ini sesungguhnya, ungkapan sari dirinya, sebagai seorang yang inklusif dalam memahami agama. Lalu kami lanjut di ruang diskusi. Kala acara seremonial berlangsung, ada percakapan yang menarik bagi saya. Saya berdampingan  dengan beliau sesama panelis. Setengah berbisik pak Ishak bertutur ke saya, mulutnya nyaris menyentuh telinga saya, katanya, “Bung Sulhan, bisakah saya menjadi Moslem, tanpa harus menyatakan diri secara formal sebagai Moslem?”

Bisikan pak Ishak ini, lebih merupakan  pertanyaan tinimbang pernyataan. Saya yang didadak seperti itu, terus terang kelimpungan. Tidak ada argumentasi yang saya ungkapkan. Saya pun meraba, pak Ishak sudah punya jawaban, namun yang dia sasar adalah pandangan keagamaan saya. Hingga tulisan ini saya torehkan, saya tidak pernah menjawab tanya itu secara verbal. Namun, interaksi yang intim dengannya, sudah merupakan laku jawab. Apatah lagi, di acara diskusi itu, dalam mempercakapkan soal yang dibincangkan, pak Ishak melontarkan pandangan keagamaan yang unik. Beliau bilang begini, “Sulhan seagama dengan Soeharto, tapi belum tentu seiman. Saya dan Sulhan tidak seagama, tapi seiman.”  Saya menduga-duga reaksi para peserta diskusi yang mengambil tema seputar reformasi kekuasaan politik. Tidak sedikit peserta yang terhenyak oleh sodokan ungkapan itu. Namun bagi saya, makin menemukan suatu rangkaian cara hidup beragama, secara inklusif.Percakapan yang intim, sejak di pelataran gedung, sampai pada perbalahan di forum, sekotahnya adalah bukti keinklusifan seorang Pak Ishak dalam beragama.

Lain waktu, seorang junior saya di lembaga kemahasiswaan ekstra universiter, meminta pandangan pada saya, tentang siapa pembicara untuk sebuah topik diskusi bertemakan penerapan syariat Islam. Saya langsung saja mengusulkan nama pak Ishak, ditambah oleh panelis lain. Rupanya, panitia itu setuju dengan usulan saya. Tibalah hajatan itu. Banyak yang protes akan acara itu. Bagaimana mungkin bicara soal syariat Islam, yang pembincangnya adalah seorang non-muslim? Saya hadir di acara itu selaku pendengar. Seorang peserta nyaris menginterupsi, sesaat setelah acara baru dimulai. Saya yang duduk di dekatnya, mencoba mencegahnya, membujuknya agar tenang. Menyarankan agar ikuti saja dulu diskusi, nanti pada babakan tanggapan baru beraksi. Setujulah junior saya itu. Acara pun dibuka.

Berpidatolah penyelenggara. Ucapan perdana yang dilantunkan adalah, “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan dan selamat pagi jelang siang.”  Tetiba saja pak Ishak berdiri, menginterupsi pidato. Bunyi interupsinya, “Cukup assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh saja, tidak usah ditambah selamat pagi atau siang. Itu sudah cukup. Apalagi kalau selamat pagi dan siang itu saudara tujukan pada saya. Islam itu adalah rahmatan lil alamin. Dan, salam itu, merupakan pernyataan keselamatan yang meliputi seluruh alam.” Penyelenggara yang berpidato itu, kelihatannya agak gugup, sambil tersipu. Dan, junior yang saya cegah tadi itu, heran bin ragu. Akibatnya, sampai persamuhan bubar, tidak pernah ia wujudkan interupsinya.

Tak sanggup saya menghitung, apalagi mengingat persuaan dan percakapan dengan pak Ishak. Penggalan ingatan di atas, hanyalah segelintir pecahan ingatan dari intimnya gelora percakapan intelektual; yang saya rasakan bersama beliau. Hebatnya lagi, pak Ishak tidak memilih tempat diskusi. Di pelataran toko buku saya, Papirus, pun pernah jadi pemantik diskusi, bersama komunitas anak muda.

Beberapa waktu lalu, saya melihat pak Ishak berdiri di pinggir jalan. Kayaknya lagi menunggu kendaraan umum. Saya ada di seberang jalan. Saya lalu memutar motor, ingin menyapa. Syukur kalau ada percakapan yang penuh gelora. Setiba di titik bahu jalan, di mana pak Ishak berdiri, beliau sudah tidak ada. Angkutan umum sudah membawanya pergi. Lalu, berlaksa waktu datang kemudian. Urita duka menyapa, Pak Ishak telah berpulang pada keabadian. Saya hanya bisa mematung di hadapan peti jenazah. Lelaki asal Kepulauan Tanimbar itu, memulai tidur panjangnya, dalam damai bersama Tuhan.

Sepulang dari melayat, saya raih kembali buku pemberiannya, sewaktu bertandang ke mukimnya, hasil buah pikirnya, Wajah dalam Cermin Retak. Saya ingin mendarasnya lebih khusyuk lagi.  Biar gelora percakapan tertaut  kembali, walau dalam alam yang berbeda. Saya membuka halaman sampul bukunya, termaktublah pesan bertuah, tulisan dan tanda tangan beliau, seperti yang saya nukilkan di mula tulisan ini.

Setelah Jerman Keok dan Kotak Kosong Berjaya

 

Ada dua “Pil” yang hingga esai ini saya tulis masih ramai diperbalahkan. Pertama, Pilkada Serentak 2018. Kedua, Pildun, Piala Dunia 2018. Satu perhelatan politik, lainnya perlagaan sepak bola. Satu olah jiwa, satunya lagi olah raga. Pilkada Gubernur, Bupati dan Wali Kota, usai sudah hajatannya, 27 Juni 2018, namun hasilnya belum final. Tidak sedikit komponen masyarakat yang berbalah akan hasil sementara ini. Khususnya Pilkada Kota Makassar, buntut masalahnya makin panjang. Pasalnya, hasil hitung cepat dari lembaga survey, menyatakan Kotak Kosong, tepatnya, Kolom Kosong selaku pemenang. Buntut kemenengan Kotak Kosong, berbuntut lagi, sebab kisruh selisih suara mulai terbalik hasil perhitungannya. Apa pun hasilnya, Kotak Kosong sudah bertengger di warga Kota Makassar.

Adapun Pildun, Piala Dunia, hingga tanggal 15 Juli 2018, setiap harinya mengasilkan kejutan-kejutan.  Di antaranya, para bintang sepak bola redup sinarnya. Nama-nama beken, semisal Ronaldo dan Messi, serta sederet nama papan atas pemain Jerman, tertunduk lunglai, meninggalkan lapangan hijau. Pemain debutan malah yang benderang cahayanya. Tim-tim unggulan pulang satu persatu. Portugal dan Argentina digadang-gadang bertemu di babak 8 besar, malah  bersua di bandara. Tim-tim madya tradisi sepak bolanya, justru makin moncer posisinya.

Tatkala hari pemunngutan suara tiba, pagi masih buta, saya sekeluarga berbincang tentang hajatan politik ini. Sembari sarapan, yang lebih mirip rapat penentuan pilihan politik. Perkara Kotak Kosong ini menjadi topik utama. Apatah lagi, salah seorang putri saya, menjadi pemilih pemula. Di mukim saya, ada lima orang yang punya hak pilih, saya dan pasangan, serta tiga orang putri.

Setelah saling mengeluarkan pendapat, saya lalu mengajukan pertimbangan yang agak nyeleneh. Bahwasanya, sudah banyak pemilu yang saya ikuti. Sikap politik pun sudah beraneka. Pernah jadi Golput, juga sudah merasakan memilih calon yang ditawarkan partai politik. Tapi, belum pernah memilih Kotak Kosong. Saya ingin merasakan sensasi memilih Kotak Kosong. Rupanya, pandangan nyeleneh saya, cukup menghidu para pemilih di mukim saya. Termasuk yang baru pertama kali memilih. Ia pun mengajukan pertimbangan, “mending saat ini saya pilih kotak kosong, toh Pilkada mendatang belum tentu ada Kotak Kosong.”

Rinai hujan merintik, mengiringi kami ke TPS dekat rumah. Lima suara dari kami akan menentukan Gubernur Sulawesi Selatan  dan Wali Kota Makassar.  Pilihan pada pasangan calon gubernur dan wakilnya, masing-masing sudah punya. Demikian pula dengan paket calon Wali Kota dan wakilnya.  Untuk calon gubernur, satu suara pada pasangan calon. Hanya kami  sengaja mensenyapkannya. Tapi untuk calon wali kota Makassar, pun sepakat memilih Kotak Kosong, demi sensasi yang terjanjikan. Dan, sensasi Kotak Kosong, pastilah berbeda rasanya di antara kami. Bergantung pada kadar kematangan jiwa politik kami. Pastilah beda, antara saya dan putri saya, serta pasangan saya.

Pulang dari TPS, sepanjang hari, kami masih merasakan sensasi memilih Kotak Kosong. Percakapan kami, senantiasa diinterupsi oleh Kotak Kosong ini. Nah, malamnya, di berbagai stasiun televise lokal dan nasional, perbalahan Pilkada Serentak ini menghegemoni siaran. Hanya jadwal pertandingan Pildun saja yang bisa menyainginya. Malam itu juga, dari tayangan televisi, dan urita di media social, merilis berita, bahwa Kotak Kosong menang atas pasangan Appi-Cicu di Pilkada Kota Makassar. Ada sensasi yang meluap-luap, khususnya kami seisi rumah. Muncul takjub yang tak terduga. Para analis politik pun memberikan perspektif akan kemenangan Kotak Kosong.

Sambil tetap mengikuti perkembangan urita Pilkada, saya pun jeda sejenak, sebab ada interupsi dari hajatan Pildun. Segera saja saya khusyuk menonton pertandingan antara Jerman VS Korea. Tidak sedikit yang menjagokan Jerman. Berharap Jerman mengalahkan Korea, agar Jerman bisa lolos 16 besar. Apa lacur, tersaji “Drama Korea”. Jerman keok oleh Korea. Panser Jerman hancur berantakan dibombardir oleh pasukan Korea. 2-0 untuk Korea, yang semua golnya menggetarkan gawang Jerman pada in juri time. Banyak yang tidak percaya akan kekalahan Jerman. Termasuk komentator yang terbata-bata mengulas hasil pertandingan. Ternyata, bola masih bundar. Sebelum pluit wasit ditiup panjang, sebagai tanda usai perlagaan, sekotahnya bisa saja terjadi.

Lalu, apa sebenarnya hubungan dua kejadian ini? Keoknya Jerman dan berjayanya Kotak Kosong? Bagi saya ini peristiwa besar. Sebab, melahirkan History (Sejarah) dan Story (Cerita). Izinkan saya menukil Pierre Nora, penulis berkebangsaan Perancis, lewat karyanya, “Di antara Ingatan dan Sejarah”, sebagaimana Alwy Rachman, seorang budayawan kelahiran Makassar, menabalkannya,  bahwa, “ingatan tak pernah dikenali melebihi dua bentuk legitimasinya: ingatan sebagai sejarah dan ingatan sebagai literasi.” Dan, sebagai penegasan, saya sepadankan literasi sebagai wujud terdepan dari cerita.

Peristiwa kekalahan tim Jerman dari Korea dan keunggulan Kotak Kosong atas pasangan Appi-Cicu  adalah sebentuk ingatan. Dari ingatan inilah lahir history, sekaligus story. Tim Korea dan sekaum pemilih Kotak Kosong adalah pembikin sejarah dan pencipta cerita. Dari catatan sejarah inilah, sejarah sepak bola Korea dan Kejayaan Kotak Kosong akan selalu dikenang. Pun, bertolak dari keoknya tim Jerman dan kekalahan Appi-Cicu bakal jadi warisan cerita.

Dari sejarah yang tercipta, akan melahirkan ilmu pengetahuan tentang sepak bola dan diskursus politik. Berlapik pada cerita, akan terwujud karya literasi, serupa karya-karya sastra yang berlatar sepak bola dan wacana politik. Saya membayangkan, betapa banyak asumsi teoritis persepakbolaan dan perpolitikan  yang bakal tersaji berkat peristiwa ini, sebagai ingatan sejarah. Begitu pula, saya berharap, akan lahir berlaksa cerita, bahkan mitos-mitos terntang dunia sepak bola dan jagat politik, sebentuk ingatan literasi, ingatan cerita. Setidaknya, Drama Korea dan  Kotak Kosong, telah menjadi hulu ledak, akan sejarah dan cerita sepak bola dan politik. Bukankah sepak bola dan politik, merupakan dua hajatan yang melibatkan orang banyak?

Berzakatlah, Berinfaklah, Bersedekahlah, dan berwakaflah di Jalan literasi

 

Dua hari sebelum pemerintah menetapkan, dimulainya bulan puasa Ramadan tahun ini, saya sengaja menjapri  seorang pengajar tafsir Alquran, dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Dr. Ahmad Mujahid. Saya ingin minta pandangannya tentang satu soal hukum-fiqh. Sebab, ada inisiasi hajatan yang ingin saya lakukan, tatkala memasuki bulan Ramadan, dengan maksud ingin memanfaatkan momentum bulan suci ini. Inisiasi hajatan itu berlabuh pada penggalangan dana gerakan literasi. Sesarinya, pada setiap soal keagamaan, salah satu tempat bertanya saya adalah pada beliau. Ia adalah guru saya.

Bunyi japrian saya begini, “Salam wa rahmah Ustaz. Mau nanya soal hukum. Bolehkah komunitas literasi menerima zakat harta, infak dan sedekah, lalu dana itu digunakan buat beli buku, untuk bahan bacaan di komunitas literasi Ustaz? Mumpung bulan Ramadan, saya berpikir akan menggalakkan potensi dana tersebut buat pengembangan literasi, khususnya kebutuhan akan buku yang makin mendesak buat memenuhi permintaan komunitas-komunitas literasi , khususnya yang ada di Bantaeng Ustaz. Terimakasih”.

Lalu dibalasnya tanya saya. “Untuk sedekah, infak, dan wakaf boleh. Tapi untuk zakat, menurutku tidak boleh karena untuk zakat ada peruntukan yang pasti, yakni delapan golongan. Meskipun kemungkinan ada ulama yang membolehkannya, tapi saya lebih memilih kehati-hatian dalam zakat, khusus untuk delapan golongan tersebut. Bahkan menurutku untuk pembangunan masjid sekalipun zakat itu tidak boleh. Begitu Daeng Sul pendapatku”.

“Maksud saya zakat harta Ustaz, bukan zakat fitrah”. Saya melanjutkan tanya pada beliau. Apa jawabnya? “Iye termasuk zakat harta, kecuali kalau delapan golongan itu udah tidak ada lagi, maka zakat harta boleh dialihkan pemanfaatannya kepada lainnya”. “Oh begitu Ustaz”, dijawabnya lagi, “Iye, itu pandangan ulama yang aku anggap sangat hati-hati. Meskipun boleh jadi ada pendapat lain yang membolehlan penggunaan zakat untuk selain delapan golongan yang telah ditetapkan Alquran”. Percakapan pun berakhir. Saya tak lupa mengirimkan emoji, tiga tanda jempol, dan tiga tanda maaf.

Berlapik pada percakapan itu, segera saya mencari delapan golongan dalam Alquran, sebagaimana yang dimaksud guru saya. Tibalah saya pada surah At-Tawbah (Pengampunan), ayat 60, berbunyi, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha  Bijaksana”.

Pastinya, delapan golongan itu, Fakir (orang yang tidak memiliki harta), Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), Riqab (hamba sahaya atau budak), Gharim (orang yang memiliki banyak utang), Mualaf (orang yang baru masuk Islam), Fisabilillah (pejuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan), dan Amil Zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat).

Saya lalu membatin. Mestikah inisiasi saya bakal terganjal dengan kriteria yang ditetapkan dalam Alquran? Dan soal apa yang sesungguhnya ingin saya ajukan?

Sebagai pegiat literasi, saya sesungguhnya membutuhkan penafsiran baru, yang lebih progresif, atas aktifitas gerakan literasi yang lagi moncer di negeri ini, sebagai jalan keluar dari keterbelakangan anak negeri. Pada konteks ini, saya ingin menjelaskan bahwa gerakan literasi yang dikawal  oleh para pegiat literasi, adalah jalan juang untuk pengentasan kefakiran dan kemiskinan pengetahuan. Kefakiran dan kemiskinan pengetahuan tidak lebih rendah bahayanya dari kemiskinan dan kefakiran material.

Bahkan lebih dari itu, kekayaan pengetahuan, akan mampu mengentaskan kefakiran dan kemiskinan material. Karenanya, pengetahuan harus diupayakan sebagai pengayaan spiritual, buat mengentaskan kefakiran dan kemiskinan material. Dan, orang yang berjuang di jalan ini, semisal para pegiat literasi, harus pula didefenisikan sebagai orang yang berjalan di jalan Allah, fisabilillah. Jadi, tafsir yang saya butuhkan adalah tafsir kontekstual. Sebab, bila tafsirnya tekstual, maka tidaklah memenuhi syarat untuk menerima zakat.

Cobalah dibayangkan. Betapa dahsyatnya, jikalau bulan suci Ramadan tahun ini, ada penggalangan zakat, infak, sedekah, dan wakaf, yang pemanfaatannya untuk pengembangan gerakan literasi, sungguh tak terkira nilai advokasinya. Sebukit dana itu dibelikan buku, kemudian disalurkan pada sekotah komunitas literasi, maka akan didapatkan segunung buku, buat menyangga kebutuhan bacaan anak negeri.

Jika ada keberanian untuk melakukan penafsiran keagamaan yang revolusioner, seumpama ada beberapa keluarga muslim yang bertekad mengeluarkan kewajiban zakatnya, ditambah lagi keinginan berinfak, bersedekah, dan berwakaf di wahana gerakan literasi, dengan cara, sarwa dananya dibelikan buku pada bulan suci Ramadan ini, dengan niat telah menunaikan kewajiban dan keinginan, lalu buku-buku itu dikirimkan ke komunitas-komunitas literasi di seantero negeri, yang terdaftar di kantor pos, pada tanggal 17 bulan berikutnya. Amboi, banyak nian buku yang bakal diterima oleh anak-anak negeri.

Pembatinan saya ini, akan saya  sawalakan dengan guru saya, dan juga guru-guru lainnya. Siapa tau tafsiran revelusioner bisa saya dapatkan darinya. Sebab, saya amat percaya pada beliau. Sejak usia dini, beliau sudah nyantri di Pondok Pesantren IMMIM Putra Makassar, lalu memilih konsentrasi akademiknya hingga tingkat doctoral di bidang tafsir-hadis. Saya hanya membutuhkan fatwa, buat menabuh genderang perang kefakiran dan kemiskinan di bidang pengetahuan. Dan, keyakinan saya, masih mempercayai satu kredo, gerakan literasi merupakan salah satu garda depan pengentasan keterbelakangan dan ketertinggalan bangsa ini.

Galon Infak Literasi

 

Sarwanya berawal dari tindakan kecil. Meski dilapiki pikiran besar. Itulah yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu. Membikin sebentuk kotak amal, terbuat dari galon air yang sudah pecah pantatnya. Semestinya, nasib galon tersebut sudah harus berakhir di tempat sampah. Tapi, saya lalu teringat dengan beberapa kotak amal yang sering diletakkan di berbagai tempat, bertuliskan nama-nama pemilik kotak amal. Mulai dari yayasan panti asuhan, pengajian dasar, masjid, dan lainnya. Di tempat saya, yang juga sekaligus sebagai alamatnya Toko Buku Paradigma Ilmu Makassar, pun terdapat satu kotak amal dari Taman Pendidikan Alquran (TPA) milik masjid dekat mukim.

Walhasil, galon pecah tersebut saya permak seadanya, sekadar menuliskan kata-kata, “Galon Infak Literasi”, lalu saya letakkan di sudut meja kasir Toko Buku Papirus Tamalanrea Makassar, tempat saya bersemedi dan membajak nafkah. Mulanya, ada keraguan. Khususnya motif dihadirkannya galon infak tersebut. Ragu akan begitu banyak penafsiran nantinya. Waima, naluri saya selaku pegiat literasi, membungkam semua keraguan itu. Sebab, hanya satu tujuan dari hadirnya gallon infak itu, menampung sumbangan dari kisanak-kisanak yang berkenan memasukkan duitnya. Selanjutnya, duit yang terkumpul itu, saya belikan buku, buat menambah koleksi buku komunitas literasi yang saya gawangi, Bank Buku Boetta Ilmoe di Bantaeng.

Sekali waktu, ada seorang dokter muda dari Kota Kendari, berbelanja di Toko Buku Papirus. Setelah transaksi, ia tidak langsung pamit. Rupanya, ia tertarik dengan galon di sudut meja, yang isinya bukan air, melainkan aneka uang, pecahan lima ratus, seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dan dua puluh ribu. Warna-warni uang tersebut, mirip aquarium dengan ragam  jenis ikannya. Ia lirik-lirik. Saya hanya senyum-senyum. Tak tahan ia untuk tidak bertanya, “Apa maksudnya Galon Infak Literasi ini?” Belum saya jawab, ia lanjut berkata lagi, “Soalnya, baru kali ini saya temui beginian”.

Ibarat umpan yang ia lemparkan, saya langsung menyambarnya dengan sejumput penjelasan. Bahwasanya, tidak ada bedanya dengan kotak amal lainnya, yang bisa dokter jumpai di seantero kota ini. Mungkin yang unik, karena terbuat dari galon bekas. Dan, itu pun dibikin seadanya. Keunikan lainnya, terletak pada peruntukan kotak amal yang berbentuk galon infak ini, karena adanya unsur literasi. Saya pun membeberkan sari diri saya selaku pegiat literasi, selain menjadi penjaga toko buku. Penjelasan saya menerungku jiwanya, tatkala saya bilang, bahwa semua uang sumbangan ini, akan dibelikan buku, lalu buku tersebut saya kirim ke Bank Buku Boetta Ilmoe, selanjutnya didistribusikan peminjamannya ke berbagai komunitas literasi yang ada di Bantaeng.

Sekadar info, kini, di Bantaeng sudah ada lebih sepuluh komunitas literasi yang amat membutuhkan suplai buku. Lebih dari itu, akan lahir lagi komunitas-komunitas literasi berikutnya. Artinya, kebutuhan akan buku semakin vital. Buku bagi komunitas literasi, bagai nafas yang akan memperpanjang geliat literasi, dari komunitas yang menggerakkan literasi. Lalu saya kunci, komunitas-komunitas ini, tidak sedikit yang berlokasi di pelosok kampung. Kelihatannya ia tertegun dengan ujar-ujar saya. Naluri kedokterannya mungkin terusik, sebab ia sendiri bertugas di pelosok. Lembaran uang biru ia cabut dari dompetnya. Ia masukkan ke mulut galon infak. Tanpa komentar, selain ia berucap, “Terimakasih, saya akan dating lagi”.

Rasa percaya diri saya makin moncer. Keisengan saya ini berbuah manis. Sekadar memanfaatkan barang bekas. Namun, di situlah letak keunikannya. Akhirnya, saya cari lagi galon bekas di mukim. Ada galon yang nganggur. Saya bikin lagi satu galon infak, buat di taruh pada Toko Buku Paradigma Ilmu. Semulanya, pasangan saya keberatan dengan tindakan kecil ini. Apatah lagi, sudah ada kotak amal milik TPA yang mengangkangi meja kasir. Saya bisa memahami keberatannya, pasalnya, ia adalah salah seorang guru mengaji di TPA tersebut, bahkan mukim kami menjadi salah satu alternatif, tempat mengaji santri TPA selain di masjid. Atas otoritasnya, kotak amal itu nangkring di meja kasir.

Saya lalu meyakinkannya, bahwa di Toko Buku Papirus sudah saya bikin. Berceritalah saya akan keberadaan galon infak tersebut. Saya lalu menabalkan pendapat, kotak amal model TPA itu, dan sejenisnya di berbagai tempat, sudah amat konvensional. Tipe itu warisan zaman old, sementara galon infak literasi merupakan inisiasi zaman now. Tersipu-sipulah ia. Restu pun saya dapat. Akhirnya, Galon Infak Literasi, bertengger pula di sudut meja kasir, menemani kotak amal TPA pada sudut meja lainnya. Belakangan, sering saya menguping, tatkala ia mengajar para santri mengaji, sembari ia menjelaskan keberadaan galon tersebut.

Di hadapan para santrinya, pasangan saya bercerita, seolah mendongeng tentang orang-orang di pelosok kampung, yang amat tertinggal, karena kekurangan bahan bacaan. Apalagi, dalam kisahnya, sering ia bandingkan dengan kemudahan para santri membaca buku yang disediakan oleh Toko Buku Paradigma Ilmu. Dari jendela kamar sering saya intip rona wajah sekaum cilik itu. Beraneka air mukanya. Imajinasinya terbang ke pelosok-pelosok kampung. Meski yang diceritakan itu adalah anak-anak yang kurang beruntung, nasib para santri ini tidak lebih beruntung. Karenanya, solidaritas dan empatinya dibangun lewat cerita. Pada pucuk cerita, pasangan saya tak lupa menawarkan kepada para santri untuk berinfak. Seribu, dua ribu. Sesekali ada juga yang lima ribu. Dan, ketika tulisan ini saya torehkan, baru saja seorang santri memasukkan uang lima ribu ke galon infak tersebut.

Sekali lagi, ini hanya tindakan kecil, berlapikkan pikiran besar. Memanfaatkan barang bekas, menggalang uang kecil dari uang kembalian segenap konsumen yang berkenan, para cilik santri yang berempati dengan lembaran ribuannya. Pepatah pun layak diaumkan kembali, “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”. Tumpukan warna-warni pecahan duit di Galon Infak Literasi, sudah mulai membukit. Jika sudah menggunung, akan saya ledakkan gunung uang tersebut. Biar pecahan-pecahan rupiah itu menjadi lahar, menggulung beberapa eksamplar buku, yang akan saya hanyutkan hingga ke muaranya, pada komunitas literasi, Bank Buku Boetta Ilmoe Bantaeng.

 

 

 

 

 

Tiga Hari Dibuai Pendar Literasi

 

Semestinya, hari Sabtu , 5 Mei 2018, saya berada di Kabupaten Bulukumba, guna memenuhi permintaan sekaum perempuan, yang terhimpun dalam Korps HMI-Wati  (KOHATI}, yang menyelenggarakan Latihan Khusus Kohati {LKK) Tingkat Nasional. Tapi, ajakan penyelenggara itu saya tampik, sebab hingga Sabtu malam, saya masih ada acara di Makassar, yang tak kalah pentingnya untuk saya sambangi. Jadi, agar semuanya bisa teraalisir, saya meminta jalan keluar, supaya digeser ke hari Ahad saja, sebab hari Senin, pun saya sudah harus balik ke Makassar, memenuhi  panggilan lainnya. Beginilah resiko “lelaki panggilan”, sejak menabalkan diri selaku pegiat literasi.

Acara yang saya maksud tiada lain, persamuhan Makassar International Writers Festival (MIWF), berlangsung 2-5 Mei 2018, berpusat di Benteng Rotterdam. Festival tahunan ini, sudah memasuki tahun ke-8. Suatu festival literasi berskala international. Dari sekian menu acara yang disodorkan selama festival berlangsung, tidak semua saya bisa hadiri. Maklum saja, saya pun masih harus membajak nafkah, menjaga toko buku, bersemedi di Toko Buku Papirus. Saya  hanya membidik satu mata acara, book launch, peluncuran buku , Semesta Manusia, anggitan Nirwan Arsuka  Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia.

Sekira pukul 14.00, saya sudah beredar di Benteng Rotterdam. Berputar-putar mengunjungi berbagai stand pameran, baik yang digawangi oleh beberapa komunitas literasi, maupun beberapa penerbit. Sekadar melihat-lihat perkembangan buku yang lagi best seller. Jadwal  peluncuran dan bincang bukunya Nirwan, akan berlangsung pukul 16.00-17.30. Pun, yang menarik bagi saya, sebab kali ini, seorang budayawan, Alwy Rachman akan ikut mempercakapkan buku ini. Dalam benak saya, pastilah sawala ini akan menukik pada kedalaman pengetahuan.

Benar saja adanya. Alwy Rachman mengantar percakapan dengan seikat impresi. Mempertanyakan dan sekaligus menelisik motif, serta memetakan maksud dari hadirnya buku ini. Umpan pengantar tersebut, langsung disambar oleh Nirwan selaku penulis buku. Didedahkannya sekotah latar belakang hadirnya buku ini, senarai isinya, juga obsesi-obsesi pengetahuan yang diimajinasikannya. Ada satu poin yang amat terang kilatannya pada bilik intelektual saya, tatkala Nirwan bicara tentang perkembangan sains dan sastra sebagai medan ilmu pengetahuan.

Sains dan sastra, punya kesamaan. Keduanya bekerja berlapikkan akal budi, waima berbeda dari segi penamaan dan aktivitas. Pengetahuan puncak adalah sastra. Karenanya, sains seharusnya berenang di dalam karya-karya sastra. Sesarinya, karya sastra harus menjadi corong perkembangan sains. Dunia sains, punya batasan-batasan kaidah yang mesti dipatuhi. Sementara, dalam karya sastra imajinasi mendapat ruang jelajah yang tak berujung. Penjelajahan sastra, kredebilitasnya terletak pada koherensi internal sastra itu sendiri.

Ada hal yang menarik dari penabalan Nirwan. Bahwasanya, Perbedaan sains –sastra lama dengan sains-sastra baru. Pada sains-sastra lama, dunia dijelaskan dan digambarkan sebagai sesuatu yang di luar kita. Sementara , perkembangan sains-sastra baru, karya yang mesti lahir, haruslah mengubah dunia.  Singkatnya, karya sastra, mengubah dunia lewat bahasa. Karenanya, mengubah bahasa, berarti mengubah dunia. Karya sastra lama, harus diinterogasi, agar menemukan signifikansinya di era kiwari.

Percakapan atas buku setebal 800-an halaman ini, tak terasa sudah memangsa waktu, sehampir satu setengah jam. Pucuk percakapan pun menyata. Tentulah antara durasi waktu dan ketebalan buku tidak sepadan, buat menuntaskannya. Ada simpulan-simpulan personal dari setiap peserta, yang dibiarkan oleh Alwy Rachman sebagai tanda pikir dari setiap penghadir. Alwy tak ingin menyimpulkan percakapan. Sebab, percakapan adalah sesuatu yang melingkar. Begitu pendakuannya, sembari menutup persamuhan intelektual ini.

Ternyata, perbalahan berlanjut  ke sudut lain, masih dalam kawasan Benteng Rotterdam. Pun masih melibatkan beberapa penghadir yang ikut percakapan di ruang diskusi buku tadi. Bintangnya masih Alwy Rachman dan Nirwan Arsuka. Ditambah bintang-bintang lainnya. Sudut ruang persamuhan ini memang agak gelap, tapi pendar-pendar pikiran yang saling melintas di antara para pencakap, menerangkan banyak hal, seputaran semesta manusia. Yah, memang manusia tak habis dipercakapkan oleh manusia itu sendiri. Percakapan pun berakhir, benar-benar berakhir pada pukul 23.00. Saya pun langsung pulang, sebab esoknya, akan ke Bulukumba.

Ahad pagi, baskara baru semenjana teriknya. Tetiba saja, seorang kisanak, Muhary Wahyu Nurba,  menelpon saya. Semalam ia mencari saya di lokasi MIWF. Saya ceritakanlah kronologis semalam, seperti yang saya tuliskan. Di pucuk pertelponan, saya bilang mau ke Bulukumba, saya harus segera bersiap, sebab mobil langganan saya di terminal sedang menanti. Sisa saya selaku penumpang yang ditunggu. Setiba diterminal, saya buka pesan  masuk di WA saya, ada kalimat begini dari Muhary, “salamaki ri lampata, sudah terisi nutrisi semalam, jadi silakan bertarung lagi”.

Pesan Muhary ini, bagi seorang pegiat literasi, semisal saya, sungguh merupakan suplemen penyemangat. Dan, suplemen kata-kata inilah yang menghiduku hingga tiba di Bantaeng, jelang siang. Istirahat kurang lebih enam puluh menit, saya langsung saja mengontak seorang kawan, Dion Syaif Saen, buat pinjam motor, guna saya pakai ke Bulukumba. Jarak tempuhnya sekira tiga puluh kilometer. Jadwal manggung saya di pelatihan LKK Tingkat Nasional itu, pukul 15.00-17.00. Begitu menyata di lokasi, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba, beberapa menit kemudian, saya langsung tancap perbincangan, bertopik, “Membumikan Budaya Literasi: Peluang atau Tantangan Bagi Perempuan?”

Usai mengisi materi perbincangan, saya lagsung balik lagi ke Bantaeng. Jeda sejenak, lalu sekira pukul 20.00, saya ke Teras Baca Lembang-Lembang, markasnya Dion dan kawan-kawan. Mengembalikan motor, plus bercakap-cakap seputaran gerakan literasi, khususnya even literasi yang baru saja usai, perhelatan MIWF. Khusyuk dalam perbincangan, tetiba seorang kisanak menelpon ke Dion. Ternyata, yang menelpon itu adalah seorang kawan pegiat literasi, Denassa, pendiri Rumah Hijau Denassa. Rupanya, malam mini, Denassa akan ke Bulukumba untuk kegiatan yang ada juga kaitannya dengan item literasi. Tapi, setiba di Bantaeng, mobilnya ngadat. Tak bisa melanjutkan perjalanan.

Nginaplah Denassa dan seorang kawannya. Saya dan Dion mengantar ke sebuah wisma, yang tak jauh dari lokasi mobilnya. Di lobi wisma, saya terlibat percakapan intim dengan Denassa. Ada banyak program yang akan disinergikan, yang kesemuanya dalam bingkai gerakan literasi.Mulai dari beberapa even literasi yangakan digelar oleh Rumah Hijau Denassa, program residensi untuk penulis, dan festival komunitas literasi bergandengan dengan program literasi sekolah, kampung literasi, dan aneka topik lainnya, yang saling menguatkan gerakan literasi antar komunitas. Pukul 23.30, saya pamit, lalu menyilakan Denassa istirahat, sekaligus saya mohon maaf tidak bisa temani esok pagi, sebab subuhnya, saya harus balik ke Makassar. Apa pasal? Siangnya, pada hari Senin, pukul 13.00-15.00, saya menjadi pembicara pada suatu pelatihan, dan salah satu materi sajiannya terkait gerakan literasi.

Mendekati waktu yang ditetapkan, saya sudah berada di lokasi pelatihan yang digagas oleh sekelompok anak muda, tergabung dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrengpulu (HPMM) Kabupaten Enrekang. Saya didapuk untuk mengantarkan satu topik pembicaraan, “Membangun Gerakan Literasi”. Bertempat di Aula Balai Diklat PUPR Wilayah Makassar, saya merasa menari, dengan tarian gerakan literasi. Memprovokasi sekaum anak muda ini, agar membangun tradisi literasinya secara personal, agar bisa ikut bergumul membangun gerakan literasi. Pendar-pendar literasi saya berondongkan dari arsenal pikiran dan pengalaman saya dalam bergulat di gerakan litarasi. Hingga batas waktu yang dipatutkan pada saya, persuaan pun berakhir, dengan satu janji, bahwa kita akan bersua lagi dalam momen perjumpaan literasi lainnya.

Usai acara di HPMM ini, saya langsung balik ke mukim. Sesampai di mukim, saya langsung diberitahu, bahwa ada seorang karib yang ingin bertemu. Mau berdiskusi, sekaligus ingin menyerahkan bukunya, buat wakaf buku di Bank Buku Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Saya pun, meminta agar mengontaknya, bikin janjian sesudah waktu Isya, biar lebih nyaman. Janji waktu pun tiba, muncullah sang kawan, seorang mantan aktivis mahasiswa, Muhammad Farid, kini melanjutkan studinya di Taiwan, program S3, program doktor bidang teknik otomotif. Hampir sejam saya bercakap, tentang banyak hal, termasuk perkembangan gerakan literasi, yang ia coba kawal di kalangan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Taiwan. Sederet geliat didedahkan, pendar literasi berkilau di sana. Pun, perjumpaan mesti diusaikan, dengan sebuah penanda, mewakafkan dua eksamplar buku karangannya, berjudul, Ruang Kontemplasi.

Saya tidak langsung tidur usai perbincanagn dengan Farid, tapi mencoba merekap aktivitas saya selama tiga hari belakangan ini, Sabtu, Ahad, dan Senin. Rasa-rasanya, saya terlempar pada seruang terungku tarian literasi. Saya melata dari peristiwa literasi ke hajatan literasi lainnya. Saya seperti dibui oleh gerakan literasi ini, waima sesungguhnya saya lebih banyak terbuai oleh pendar-pendar literasi ini. Setidaknya, tiga hari dibuai oleh pendar literasi. Dan, barulah paginya, saya sadar, bahwa buaian pendar literasi ini, harus saya tulis. Begitulah, semestinya.