Semua tulisan dari Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Manakala Sekaum Anak-Remaja Sua Bupati

“Bersikap rendah hati, menyadari bahwa masih banyak kekurangan adalah satu syarat penting lainnya dalam belajar.”  (Gobind Vashdev, Happiness Inside, hal. 19)

Entah kenapa, saya terjebak dalam  salah perkiraan. Ini semata, karena rutinitas yang telah menerungku sekian lama, tetiba bergeser waktunya. Saya mengira bahwa para pegiat Forum Anak Butta Toa Bantaeng (FABT) akan bersua dengan Bupati Bantaeng, Ilham Azikin,  di hari Sabtu, 24 November 2018, tempatnya di arena Lapak Baca, Taman Bermain dan Sport Centre Seruni Bantaeng. Nantilah seorang  pegiat memberitahukan, sekaligus mengirimkan gambarnya, mengkonfirmasi acara jatuh pada esok harinya, Ahad, pukul 15.30. read more

Ali Syariati: Sang Raushan-fikr

Apa yang harus dilakukan ? Darimana kita mesti mulai ? Dua pertanyaan kunci ini, selalu saja menjadi alas pijak bagi saya, tatkala terlibat dalam setiap perbalahan. Perkakas pikir tersebut, saya dapatkan dari seorang intelektual tercerahkan, Ali Syariati.

Tetiba saja, saya terkenang pada sosok ini. Apatah lagi, hingga kini, posternya masih bertengger gagah di dinding ruang baca saya. Dan, ketika tulisan ini saya bikin, jika saja Syariati masih hidup, maka usianya tepat 85 tahun.

Adalah Mazinan, sebuah desa di pinggiran Masyad, di timur laut Khurasan, Iran, yang menjadi saksi tanah tumpah darah pertama dari seorang Ali Syariati. Tepatnya, pada tanggal 24 november 1933, Ali Syariati di lahirkan, dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi’ Syariati dan Zahra. Syariati adalah putra sulung dari kedua pasangan keluarga tersebut. read more

Yang Tersisa dari Hutan Pinus Bonto Lojong

Sekira empat puluh tahun yang lalu, kala usia masih di sekolah dasar, pikiran saya diselimuti beragam tanya. Membatinkan hal-hal yang penuh misteri terhadap gunung, yang hanya saya sanggup pandang dari kejauhan. Maklum, saya lahir dan tumbuh memangsa usia di kota, sementara yang saya pandangi amat jauh ke pelosok desa, pada ketinggian pegunungan. Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja, bahkan sampai separuh abad usia, di kota Bantaeng dan Makassar. Saya bukan seorang lelaki pemanjat gunung, melainkan lelaki yang diterungku oleh silapan kota. read more

Tengkiyu  Profesor, Tarimakasi Profesor.

“Bukan saja fisik yang berubah, tapi mindset ikut berubah.” (Nurdin Abdullah)

“Penting untuk menang, tapi jauh lebih penting, bangkit dari kekalahan.” (Arsene Wenger)

Selaku anak negeri, tanah tumpah darah saya di Kabupaten Bantaeng, dan penikmat permainan sepak bola. Saya membajak nafkah di kota Makassar, waima akhir pekan saya, nyaris selalu  tunai di tanah kelahiran. Saya  telah jatuh pikir dan taut hati pada dua orang profesor.  Setidaknya, sepuluh tahun terakhir ini.  Bahkan, bisa lebih jauh ke belakang. read more

Ketika Partai Politik Menjadi Klub Sepak Bola

“Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, aku mendapatkannya dari sepak bola.”  [Albert Camus]

Lagi dan lagi, tentang politik berselaras sepak bola. Tapi bukan politik sepak bola, melainkan sepak bola politik. Persisnya, kesamaan antara partai politik dan klub sepak bola. Saya amat suka menggunakan analogi sepak bola, buat memahami dinamika politik. Kenapa? Karena keduanya adalah sebentuk permainan. Dan, permainan itu sendiri, tiada lain adalah aktivitas paling purba bagi manusia. read more

Daeng Jokowi, Selamat Datang di Kota Koko

Daeng Jokowi, izinkan saya menyapamu dengan panggilan Daeng. Sebab, salah satu julukan Kota Makassar adalah Kota Daeng.

Sejak beberapa hari ini, jelang pucuk Juli 2018, berbagai elemen warga Kota Makassar, menyambutmu dengan ucapan selamat datang. Sebagai missal saja, sepanjang Jalan Andi Pangerang Pettarani, elemen dari Sahabat Rakyat Indonesia, menjejerkan banner Selamat Datang Bapak Presiden RI. Pun, ada elemen masyarakat yang memasang spanduk dan baliho ajakan untuk gerak jalan sehat. Semoga saja masyarakat yang ikut jalan sehat, jiwa dan raganya makin kamil. read more

Anak, Gawai, dan Literasi

Akhir pekan yang gundah. Apa pasalnya? Tatkala saya melakukan perjalanan ke kampung halaman, Kabupaten Bantaeng, guna berakhir pekan, tetiba saja , ada rasa yang kurang nyaman. Waima, segera saja, saya sanggup mengatasinya, sebelum menjalari sekujur jiwa.  Tempat duduk saya diambil alih oleh penumpang lain. Biasanya, di oto angkutan umum langganan saya, sudah menjadi konvensi, tempat duduk saya di depan, samping sopir.  Tapi kali ini, seorang ibu paru baya  dengan anaknya, sekira dua tahunan umurnya, ngotot untuk di depan. read more

Les Bleus: Ayam Jantan itu, Tetap Indah Bulunya

“Harmoni adalah jiwa dari kesebelasan Perancis”  (Didier Deschamps}

Sekali waktu, seorang kisanak menyata di mukim saya. Hari masih pagi. Saat saya memberi makan pada beberapa ekor ayam peliharaan. Seekor jantan dan betinanya. Pun beberapa ekor anaknya. Bertanyalah kisanak, “Apakah saya penyuka ayam?”  “Pastilah”, jawab saya. Saya memang memelihara ayam kampung, karena dua hal. Bulunya dan dagingnya. Saya merasa memandang keindahan wajah Tuhan pada mozaik warna-warni bulu ayam.  Sementara, dagingnya, alamak, nikmat sekali. Jadi, bagi saya, ayam kampung, amat elok dipandang, sangat nikmat disantap. read more

Ishak Ngeljaratan dan Gelora Percakapan

“Bung Sulhan yang baik, baca-bacalah tanpa beban.”  (Ishak Ngeljaratan)

Pagi baru saja  bergegas menapak jalan takdirnya. Terik  baskara masih lembut. Waima kilaunya mulai menyilaukan mata. Saya memacu motor, dari mukim di kawasan selatan kota Makassar, menuju bilangan utara. Saya akan melayat pada seorang guru utama, guru bagi banyak insan, milik berbagai kalangan, pak Ishak Ngeljaratan. Beliau wafat 16 Juli 2018, di Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sekira pukul 07.00 wita. Urita meninggalnya, saya peroleh dari berbagai jejaring media sosial. Saat berpulang pada keabadian , saya masih di luar kota. Jadi, esok harinya, baru melayat. Di depan peti jenazah, ada butiran kristal, sebentuk air mata, yang melompat dari kelopak mata, tak tertahan. read more

Setelah Jerman Keok dan Kotak Kosong Berjaya

Ada dua “Pil” yang hingga esai ini saya tulis masih ramai diperbalahkan. Pertama, Pilkada Serentak 2018. Kedua, Pildun, Piala Dunia 2018. Satu perhelatan politik, lainnya perlagaan sepak bola. Satu olah jiwa, satunya lagi olah raga. Pilkada Gubernur, Bupati dan Wali Kota, usai sudah hajatannya, 27 Juni 2018, namun hasilnya belum final. Tidak sedikit komponen masyarakat yang berbalah akan hasil sementara ini. Khususnya Pilkada Kota Makassar, buntut masalahnya makin panjang. Pasalnya, hasil hitung cepat dari lembaga survey, menyatakan Kotak Kosong, tepatnya, Kolom Kosong selaku pemenang. Buntut kemenengan Kotak Kosong, berbuntut lagi, sebab kisruh selisih suara mulai terbalik hasil perhitungannya. Apa pun hasilnya, Kotak Kosong sudah bertengger di warga Kota Makassar. read more