Semua tulisan dari Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Ruang Bernapas, Jiwa Langgas

Puluhan orang berkerumun. Jumlah persisnya saya tidak tahu. Beberapa orang telah saya kenal. Bahkan, amat akrab. Sekotahnya berkumpul di depan sebuah kantor sederhana, di jantung Kota Bantaeng. Depan GOR Bantaeng, hanya sepelemparan batu dari Kantor Pos Bantaeng, dan beberapa langkah saja dari Lapangan Bawakaraeng Bantaeng. Nama kantor itu, Satuan Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT), Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng.

Sebagai orang yang diajak berkumpul pagi itu, saya masih meraba-raba dalam tanya, apa yang hendak dilakukan? Dan, sebenarnya mau kemana? Memang, sedari mula saya diberitahu, segenap persona SLRT akan melakukan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda), dikemas dalam acara family gathering. Saya tabung saja tanya itu. Saya biarkan diri ikut mengalur pada tahapan cerita, memamah di tapak rencana penghelat acara. read more

Literasi Desa dan Desa Literasi

Kehadiran bulan November tahun 2019, masih belia sekali. Persisnya di pekan pertama, tanggal 2-3, jatuh pada Sabtu-Ahad. Pemerintah Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, lewat kepala desanya, Amiluddin Aziz, saya didapuk untuk terlibat dalam dua mata acara. Workshop dan bedah buku. Bertempat di Aula Kantor Desa Bonto Jai.

Hajatan workshop, 2 November 2019, menegdepankan tajuk,  “Workshop Literasi Desa”, dibuka oleh Poni Gassing, mewakili Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Bantaeng. Para penghadir yang terlibat, sengaja dipilih dari unsur perwakilan kelembagaan desa dan komunitas. Semisal, BPD, LPM, majelis taklim, PKK, para pendidik, tokoh masyarakat dan agama, serta kaum muda. Selain saya selaku narasumber, juga melibatkan seorang pegiat literasi, sekaligus sosok petualang, Andhika Mappasomba. read more

Berselancar pada Permukaan, Menyelam di Kedalaman

Tatkala malam Minggu tiba, para penghadir menyemuti lokasi perkemahan. Sejak dibuka secara resmi pada Sabtu pagi, peserta perkemahan sudah mulai berdatangan.  Sore hari, gelombang  penghadir makin padat. Dan, hingga larut malam, masih saja ada yang datang.  Bolehlah saya taksir, ada sekira 500 orang, menyemuti areal Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III, 24-28 Oktober  2019, bertempat di Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Puncak bermukim di malam Minggu itu, seolah menjadi miniatur, orang-orang yang sedang “wukuf di Padang Arafah”. read more

Di Lembah itu, Kami Kembali Bersumpah

Udara dingin masih menghidu perhelatan. Sisa-sisa bara api unggun, tak mampu menghangatkan suasana. Namun, percakapan tetap intim, dimediasi kopi sekhusyuk-khusyuknya. Tetiba saja, saya dan dua orang kawan, Rahman Lintas Batas, dan Ato Rachmat Saleh, teralihkan perhatian pada bendera merah putih, mulai dibentangkan. Bendera sepanjang 74 meter itu, membelah tanah lapang, di lokasi Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III, Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatab Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.

Segera saja kami beranjak dari peraduan. Menyongsong puncak cara perkemahan. Di tengah lapangan, saya sudah melihat Jamal Mapia dan Aby Pasker, dua orang pembina KBK, mengkoordinasi acara. Pun, Nurung Karaeng Lannying, selaku ketua panitia, sibuk wara-wiri, mempersiapkan keberlangsungan upacara. Sesarinya, pagi itu, tepat 28 Oktober 2019, segenap penghadir di KBK , melaksanakan upacara Sumpah Pemuda, sebagai penanda pucuk perhelatan, sekaligus penutup perkemahan. read more

Persetubuhan Literasi Politik dan Politik Literasi

Orang-orang mulai menyemut di dalam gedung. Beraneka model busananya. Bermacam warna pakaiannya. Beragam tingkatan usianya. Tawa riang menerungkunya. Gembira ria meluapinya. Bahagia menghidunya. Hajatan ini, bak gula dikerumuni semut.

Sembari menanti acara dimulai, sekelompok pegiat seni-budaya, Komunitas Pakampong Tulen (Komplen), menembangkan lagu-lagu daerah, langgam Makassar, orkes turiolo (otri). Sederet lagu didendangkan. Rupa-rupa alat musik dimainkan. Celo, gitar kontra bas, gitar, cak-cuk, dan biola, menyatu dalam harmoni. Segenap penghadir khusyuk dalam pusaran tembang etnik. read more

Duta Lilin Pinus

Masih ingat esai saya hampir setahun silam? Judulnya, “Yang Tersisa dari Hutan Pinus Bonto Lojong”. Esai tersebut pertama kali dimuat pada Kalaliterasi.com, kemudian menjadi bagian dari kumpulan esai saya di buku Pesona Sari Diri. Pada esai saya itu membabarkan beberapa poin penting, tentang hajatan Kemah Buku Kebangsaan (KBK)  Jilid II, 25-28 Oktober 2018, berlokasi di Hutan Pinus Rombeng, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Bantaeng.

Sebagai penerang ingatan, saya kutipkan, “Nah, lahan hutan yang habis terbakar ini, akan segera digarap oleh masyarakat, dan menjadikannya kebun. Berarti, hijau daun pepohonan akan berubah menjadi tanah kecokelatan. Dan, hutan yang ditempati berkemah ini, mungkin sisa inilah lokasi yang masih bisa dicegah agar masyarakat tidak menggarapnya, buat dijadikan lahan perkebunan.” read more

Benalu Buku

Pembajak buku seperti benalu, hidup dari kerja dan keringat orang lain. Leher pengarang digerek, leher penerbit dicekik. (Soesilo Toer)

Salah satu cara menilai kemajuan suatu masyarakat, dapat dilihat melalui buku. Sebab buku merupakan produk peradaban, sekaligus buku dapat melahirkan peradaban. Buku dan peradaban, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Buku melahirkan peradaban, sekaligus peradaban menelurkan buku. Peradaban buku.

Dalam perkembangannya, buku sebagai penanda peradaban, mengalami dinamika dilema. Adakalanya buku dianggap sebagai ancaman, sehingga melahirkan tindakan pelarangan dan pembakaran. Buku dilarang. Buku dibakar. Ada pula musuh alami buku, berupa rayap. Seorang pakar perbukuan berkebangsaan Venezuela, cukup lantip merekam pelarangan, pembakaran, dan penghancuran buku. Sekotahnya, ia tuliskan dalam bukunya, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. read more

Di Sela Bait “Imagine” dan “Heal the World”

Berlaksa detik telah lewat, peringatan Hari Perdamaian Internasional, yang jatuh pada  tanggal 21 September setiap tahun. Namun, putra bungsu saya, masih sering memainkan lagu “ImagineJohn Lennon dan “Heal the World”, Michael Jackson. Lewat pianonya, mengantarkan saya pada momentum peringatan itu.

Sekaum warga Kota Makassar, menggabungkan diri dalam Aliansi dan Kolaborasi Hari Perdamaian Internasional. Aliansi mereka, merupakan gabungan lebih dari 50 organisasi dan komunitas yang cinta damai dan mengusung tema perdamaian. read more

Tali Welas Asih

Nitoboki Wiranto! Seru seorang kisanak di pesan pribadi media sosial saya. Ia menguritakan, Wiranto, Menko Polhumkam, ditikam, kala melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Persisnya, di pintu gerbang Alun-Alun Mebes, Purwaraja, pada Kamis, 10 Oktober 2019. Penikamnya Syahril Alamsyah, alias Abu Rara.

Nitoboki, sepenggal kata dalam bahasa Makassar, berarti ditikam. Maknanya, ada seseorang yang menikam Wiranto.

Sejak urita itu menyebar, media daring dan media sosial sangat ramai mengabarkannya. Campur aduk kontennya. Dugaan pun beraneka. Opini muncul beragam. Tafsiran liar hadir bermacam-macam maksudnya. Hoax (berita bohong), fake news (berita palsu), dan hate speech (ujar kebencian), bertubi-tubi berebut panggung di jagat maya. read more

Anak Itu, Telah Ikut Demonstrasi

Kiwari, ia sudah memangsa jatah waktu melatanya di bumi, sekira 20 tahun. Ia telah  menjadi mahasiswi tahun kedua, persisnya duduk di semester tiga, pada Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar (UNM). Selama tahun pertama, ia selalu mengenakan jaket orange, saat ke kampus. Memasuki tahun kedua, tidak lagi memakainya, kecuali ada acara penting di kampusnya. Tapi, beberapa hari terakhir ini, sejak demontrasi mahasiswa-mahasiswi berlangsung, jaket itu ia kenakan kembali.

Sejak semester awal, ia sudah mengikuti berbagai kegiatan yang ditawarkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa UNM. Perkaderan himpunan, latihan jurnalistik, pecinta alam, kelas literasi, dan beberapa item kegiatan lainnya, suah ia jajal. Kelihatannya, ia mencari aktivitas yang bakal menguatkan kapasistas kemahasiswaannya. Paling mutakhir, ia juga ikut demonstrasi mahasiswa, menuntut dikeluarkannya Perpu Revisi UU KPK dan membatalkan RUU KUHP yang tidak pro rakyat. read more