Semua tulisan dari Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), Anak Tentara Melawan Orba (2015), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit).

Bahasa Alam (2)

Tubuh alam kadang menjadi hal yang terabaikan begitu saja. Suatu yang ironis, karena kita tiap hari didekap erat. Denyut nadi hidup kita ada di dalam dekapan alam. Alam berkasih sayang dengan ikhlas.

Saat ia tergores akan muncul reaksinya. Walau begitu ia tidak bergegas menumpahkan amarahnya. Kalau hutannya digunduli, tanah di sekitarnya akan diam-diam mengagetkan pembalak atau pemukim di sekitarnya. Sebaliknya, keluarga kita ini sangat bersahabat jika diperlakukan dengan baik. Ia akan memberikan semua tanda-tanda tentang hal-hal yang akan terjadi padanya.

Dahulu banyak cerita di tengah masyarakat tentang air laut berdiri. Ia adalah pemandangan yang indah ditonton oleh warga dari atas bukit. Ombak yang tingginya sampai belasan meter itu seakan berdiri lalu menyapu dataran rendah mulai dari estituaria hingga tepian kaki kars. Mengamuk namun enak ditonton karena di sana ia dihadapi oleh tebalnya hutan bakau. Bakau hancur, perumahan yang sudah ditinggalkan lebih dahulu penghuninya itu hanya bergeser sedikit. Air laut berdiri itu tak lain adalah tsunami.

Dihantam tsunami, hewan dan ikan tidak satu pun terlihat di tepi pantai. Sepertinya mereka amat paham apa yang sesungguhnya akan terjadi. Mereka mengikuti irama alam ini sambil tetap hidup di habitatnya dengan tenang. Manusia sajalah yang justru mengalami korban jiwa walaupun pun masih sangat sedikit. Kasus Palu dapat diambil sebagai contoh. Tercatat ada 12 orang meninggal dalam bencana air laut berdiri di Palu pada tahun 1927 dan 200 orang pada tahun 1968.

Tatkala lanskap pemukiman berubah cepat, sepertinya reaksi alam mulai berubah. Banjir, longsor, dan abrasi serta macam-macam bencana mucul menjadi ancaman. Perilaku alami bumi tetap berlangsung. Mungkin saja bukan reaksi alam namun dilihat sebagai bencana karena sudah menelan korban jiwa. Banyak bahasa alam yang mulai dilupakan manusia.

Penduduk menggenjot pertumbuhan ekonominya dengan mengubah banyak sekali kenampakan alam. Hutan bakau dibabat habis. Di sana didirikan pemukiman. Sebagiannya digunakan untuk pertanian demi keperluan industri. Pemukiman berjejer menghadap laut yang menganga tanpa masker. Tatkala gempa mengguncang warga menghadapi reruntuhan batu. Batu yang jadikan dinding tak diikat dengan sistem –dinding- yang baik. Semua itu karena perhitungan ekonomi yang berbeda dengan bahasa alam.

Kala pemukiman didirikan di daerah rentan kejadian alami seperti gempa, maka sebenarnya sudah ada konsekuensi yang harus ditanggung tanpa tawar-menawar. Sayangnya, kemampuan kita itu mamahami bahasa alam ini sangat kurang.

Palu pada tahun 1927 mulai menuai akibat buruk itu. Gempa mengguncangnya pada 6 SR. Ribuan orang menjadi korban, belasan meninggal dunia karena air laut berdiri itu. Gempa yang lebih kuat terjadi lagi pada tahun 1938 pada magnitudo 7,6. Kali ini kian meluas ke wilayah sekitarnya.

Kali ini dengan magnitudo yang hampir sama, Kota Palu berantarakan lagi. Ia menjadi kota mati dalam hitungan beberap menit saja.

Ada yang mencoba menghubungkan kejadian yang amat dahsyat ini dengan perikaku kemusyikan. Upacara Palu Nomoni dituding menjadi biang kehancuran Palu 28 Oktober lalu. Ditengarai ada praktik kemusyrikan dalam perhelatan budaya itu.

Apakah memang demikian? Apakah ini bukan karena ketidakmampuan kita membaca bahasa alam? Tentu menarik untuk ditelusuri dalam perspektif budaya. Apakah dosa besar harus selalu dijawab dengan kejadian yang sering disebut bencana?

Sebelum kenabian ditutup, Tuhan sangat sering mengirim kejadian luar biasa kepada sekelompok orang. Kejadian mana membuat manusia mengakui Keagungan Tuhan. Tuhan sering juga menghukum sekelompok manusia karena pembangkangannya terhadap seruan mengesakan-Nya.

Ajakan untuk menggunakan akal tidak mumpuni mengantar manusia ke pintu iman. Peradaban manusia pada periode tersebut belum tiba pada tingkatan yang kompatibel dengan sistem pandangan dunia berbasis akal. Ia harus dibantu dengan peristiwa ajaib yang melampaui hukum-hukum alami, misal kausalitas.

Itulah yang dikenal dengan mukjizat. Ia adalah suatu pengecualian. Mukjizat menyela hukum-hukum alamiah. Hukum alamiah yang bergerak di alam semesta tetap berjalan sebelum dan setelah munculnya mukjizat tersebut. Mukjizat hanya terjadi satu kali untuk selamanya dan tidak dapat diulangi oleh siapapun pada saat yang lain.

Kalau tiap saat peluang keajaiban mukjizat itu bisa terjadi, maka tentu kita akan sulit membedakan peristiwa alamiah biasa dengan teguran atau ujian dari Tuhan. Akan muncul peluang untuk saling menipu mengatasnamakan hukuman Tuhan.

Selain itu, mukjizat selalu harus dicatat di dalam kitab suci. Ia menjadi arsip penting untuk sejarah bahwa pernah terjadi pada masa tertentu, Nabi diingkari lalu umatnya disadarkan dengan kajaiban. Mukjizat yang sudah pernah terjadi tidak akan terjadi lagi setelahnya. Orang saleh yang tidak dibakar api hanya terjadi satu kali yakni pada Nabi Ibrahim as. Sesudah itu, Nabi Ibrahim pun tak bisa mengulanginya lagi, atau Allah tak mengulangi lagi pada siapapun termasuk pada Nabi Ibrahim as itu sendiri.

Kalau seluruh masa hingga kiamat manusia hanya bisa disadarkan hanya dengan keajaiban maka tentu akan banyak sekali kemungkinan munculnya kejadian luar biasa yang melampaui hukum-hukum alamiah. Padahal hukum alamiah itu adalah bukti keseimbangan semesta berdasar Keadilan Tuhan.

Demi menjaga keseimbangan tersebut maka manusia setelah era kenabian dibekali dengan satu mukjizat agung bernama Alqur’an. Ia adalah kitab ilmu pengetahuan. Manusia pasca kenabian hingga akhir zaman adalah manusia yang berada di etape kesempurnaan pemikiran dan peradaban. Saat mana, nalar menjadi perangkat utama untuk mencapai keyakinan. Bukan mengandalkan keajaiban lagi.

Dengan demikian, manusia diajarkan untuk meyakini Kemahabesaran Tuhan benar-benar melalui kesadarannya dengan mengoptimalkan perangkat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ajakan Alquran untuk menajamkan akal sangat tegas dalam misi ini.

Konsep ketuhanan versi Alquran untuk masa selanjutnya tidak lagi berbasis keajaiban peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya. Justru pada keteraturan hukum-hukum alamiah itulah terdapat Kemahabesaran Tuhan. Keajaiban diubah maknanya menjadi pengakuan akan Kemahabesaran Tuhan karena tertib semesta ini memang sangat menakjubkan. Baik pada kosmos luar diri maupun kosmos diri manusia sendiri terdapat keteraturan hukum Tuhan yang dapat mencegah dan menundukkan kesombongan bagi orang-orang yang berpikir.

Demikianlah, usai kenabian hukum-hukum semesta dan bahasa alam ini berjalan secara alamiah. Manusia diajarkan untuk menyadari adanya dosa dan akibat-akibatnya dengan cara menajamkan akal untuk mengimani Tuhan. Tidak lagi diperlihatkan suatu hukuman kontan dan dahsyat di luar kausalitas alamiah sebagai akibat kedurhakaan.

Hal demikian ini bermanfaat pada pengembangan peradaban manusia secara rasional. Tidak ada peluang untuk mengajak manusia mencapai kemajuan peradabannya hanya dengan upacara peribadatan semata tanpa ikhtiar keilmuan.

Tuhan akan memberi hukuman setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri.  Perbuatan musyrik misalnya tidak lagi dijawab dengan peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya, melainkan mengalir dalam sebab akibat alami hingga ia sampai pada kejadian yang menjadi konsekuensi logis perbuatan tersebut.

Dengan perspektif ini maka peluang untuk mengatasnamakan peristiwa menakutkan sebagai hukuman atas dosa manusia dapat diurai secara rasional. Jika itu berkenaan dengan kekeliruan manusia ketika memperlakukan alam ini maka alam akan bereaksi menuju keseimbangannya yang mungkin saja berbahaya bagi manusia. Longsor bebukitan adalah akibat penebangan hutan yang melampaui ambang batas dan carring capacity alam. Begitu juga bencana yang menimpa pemukim karena belum mengetahui gejala peristiwa alamiah seperti gempa bumi dan tsunami.

Ini semua menantang akal untuk mengenali bahasa alam.  Persepektif ini mengajak manusia untuk menggali tanda-tanda (ayat) Tuhan dan Kekuasaan-Nya di alam semesta agar dapat digunakan untuk kemaslahatan, mengantisipasi dampak buruk, dan sebagainya.

Manusia pasca kenabian dibekali dengan kemampuan membedakan hukuman Tuhannya yang merupakan akibat kelalaiannya dengan peristiwa alamiah semesta. Konsep ketuhanan tidak lagi berada di luar jangkauan kesadaran manusia. Oleh sebab itu manusia bisa lebih arif dalam berhadapan dengan semesta tempat hidupnya.

Saat ini kita berada di alam pasca kenabian. Kesadaran untuk hidup saleh dan menjauhi maksiat tidak lagi karena ditakut-takuti oleh bencana alam, sebab bencana alam semula adalah kejadian normal dalam semesta.

Kesadaran kita harus sampai pada tingkat tertinggi yakni keyakinan akan datangnya hari pembalasan. Akal kita harus tiba pada kesadaran bahwa Tuhan tidak lagi akan menegur manusia sekonyong-konyong lewat jeweran alam kecuali sebagai suatu konsekuensi logis dari kekeliruan dalam pengelolaan alam.[]

 

Ilustrasi: http://www.mysultra.com/masih-banyak-yang-salah-alamat-ke-bpbd/ilustrasi-bencana-alam-internet/

 

Bahasa Alam (1)

Gempa bumi dengan derajat guncangan tinggi Agustus 2018 di Mataram, Nusa Tenggara Barat disusul pada bulan ini gempa disertai tsunami di Palu dan Donggala pun memperpanjang deretan kejadian menakutkan itu. Tidak ada pilihan lain untuk menempatkan kejadian alam ini sebagai sesuatu yang patut mendapat perhatian.

Gempa ini disebut sebagai bencana dalam ungkapan publik kita. Gempa adalah kejadian geologis namun secara sosiologi ia adalah bencana.

Gempa sebagai peristiwa geologis sebenarnya biasa saja. Peristiwa alami yang tak dapat dicegah. Justru gempa bumi diperlukan oleh bumi itu sendiri.

Naskah-naskah ekologis menyebut adanya suatu sifat alami bumi ini yang disebut sebagai homeostatis. Ia adalah kemampuan bumi dan komunitas yang terdapat di atasnya untuk memulihkan dirinya sendiri. Perubahan alam yang terjadi secara alami  bisa saja terlihat seperti kehancuran namun pemulihan bentuk dan fungsinya akan dilakukan sendiri. Kemampuan itu hanya akan berlangsung jika ambang batasnya tak terlampaui.

Homeostatis adalah bahasa alam. Ia menyapa manusia sekelilingnya dengan kesahajaan tanpa basa-basi. Makhluk hidup dan benda alam lainnya juga memiliki keharmonisan berbahasa engan gerak alaminya masing-masing.

Laksana drama semesta, sahut-sahutan komponen alam ini sebenarnya sedang berlangsung. Hanya manusia yang merupakan komponen alam yang perlu memahami lebih mendalam. Ini lantaran manusia memiliki potensi ekspresif yang amat berbeda dengan benda semesta lainnya.

Ekspresi manusia di alam sangat berbeda dengan komponen alam lainnya. Semula ia menjadi bagian organik dari alam. Lambat laun manusia mengerti ekonomi dan membentuk kelas sosial. Lalu tercipta perlombaan gaya hidup.

Lewat itu semua, manusia mulai melepaskan diri dari tubuh alam. Ia membuat panggung alam kini dihuni oleh dua komponen yang saling terpisah. Keduanya adalah manusia dan benda-benda di luar manusia. Benda-benda itu dianggap sebagai pemuas kepentingan dan gaya hidupnya.

Konsepsi diri manusia yang seperti inilah yang menyebabkan munculnya pengertian bencana secara sosiologis. Doa-doa dipanjatkan agar kejadian alami itu tak perlu terjadi. Suatu hal yang sesungguhnya bertentangan dengan bahasa alam.

Manusia tiba-tiba ingin memaksa alam mengubah bahasanya. Padahal seharusnya manusia bekerja keras mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai untuk menyesuaikan diri dengan bahasa alam ini. Teknologi deteksi dini, desain kota, dan bangunan, seharusnya menjadi seni “berbahasa” manusia yang dikembangkan di masa depan.

Doa dalam bahasa manusia seharusnya memohon agar cahaya Allah yakni ilmu pengetahuan dan hikmah selalu dilimpahkan kepada para periset agar mampu menemukan perangkat ilmu untuk menjamin keamanan di masa depan.

Ikhtiar keilmuan amat diperlukan. Mengenal berbagai karakteristik geologis dan ekologis adalah cara terbaik untuk menyahuti bahasa alam. Rekayasa manusia secara tepat akan menjadi jawaban terbaik. Tidak sekadar menjadi usaha penyelamatan jiwa melainkan penyelamatan nalar agar tetap sehat. Melihat bencana tidak sebagai kutukan melainkan ujian. Bukan untuk menyadari nasib yang dianggap telah ditentukan Tuhan, melainkan menyadari ujian dari Tuhan untuk meningkatkan kreasi manusia. Bahasa manusia harus tetap menjadi bagian organik dari bahasa alam, karena begitulah Bahasa Tuhan Semesta Alam.

Bincang saya dengan teman yang menekuni kuliah filsafat menjelaskan bahwa gerak di alam ini selalu terjadi. Geraknya bukan saja berupa perubahan pada aksidennya melainkan substansinya. Lupakan dulu istilah-istilah filsafat ini sebab kita tidak ingin menghapalkannya untuk menghadapi ujian komprehensif!

Prinsipnya, semua anggota keluarga ekologi kita ini sedang bergerak. Mereka sedang berubah untuk menyempurnakan atau mencapai posisinya yang stabil. Menurut naskah yang ditulis beberapa pemikir bahwa gerak adalah keluarnya sesuatu dari potensi menuju aktus. Anggota alam semesta kita ini tidak akan tinggal diam.

Ketika gerak salah satu anggota keluarga ekologis kita itu sedang berlangsung, maka rekan-rekannya yang lain akan menyesuaikan diri. Sungguh pun terlihat akan menimbulkan gangguan, namun kekompakan mereka memperlihatkan harmoni. Tidak saling meniadakan.

Respon mereka bak simfoni musik yang saling melengkapi. Toh, jika terjadi kerusakan maka mereka akan memperbaiki dirinya sendiri secara alami. Itu demi memberi kesempatan buat anggota keluarga ekologisnya mencapai proses perubahan lebih stabil.

Proses ini dinamakan dengan adaptasi. Mereka akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan perubahan apapun yang terjadi di sekitarnya. Adaptasi dapat dilakukan dengan beruaya, bahkan jika terpaksa mereka mengubah sel-sel secara evolutif.

Ruaya adalah perpindahan kelompok hewan tertentu secara besar-besaran ke tempat lain. Ruaya adalah bahasa alam. Ia menggambarkan terjadinya suatu peristiwa alami yang sebenarnya biasa saja. Andai saja kita mengerti bahasa ini maka proses penyesuaian diri terhadap perubahan alam dapat dilakukan.

Sehari setelah gempa di Palu dan Donggala, seorang penjual nasi kuning di Pantai Manakarra, Mamuju, bercerita. Dirinya tak ikut menyingkir ke bukit-bukit. Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda alam belum terlihat. Ia meyakini bahwa burung-burung tertentu akan berpindah secar besar-besaran jika akan terjadi perubahan di laut.

Saya tidak tertarik ikut pro-kontra usai penjelasannya itu. Saya hanya meyakini juga bahwa ilmu pengetahuan kita belum maksimal mengungkap rahasia bahasa alam ini. Celakanya lagi, kearifan lokal kita sudah kian tergerus. Budaya kita dulu banyak menyimpan pengetahuan tentang perilaku semesta ini. Ia dihentikan oleh kekejaman paradigma ilmu modern.

 

Berdialog dengan Alam

Jumat sore usai silaturrahim ke rumah sepupu sambil menjalankan terapi yang disarankan dokter, kampung kami guncang. Suasana berubah menjadi kepanikan. Penduduk berlarian keluar rumah.

Televisi dan berbagai media sosial menyiarkan telah terjadinya gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Daerah kami, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang berdempet dengan Sulawesi Tengah pun kena guncangan magnitudo 7,4 itu. Sebagian penduduk mengungsi sebagai antisipasi jika ada tsunami. Maklum jarak kampung kami dengan tepi laut hanya beberapa meter saja. Ada rumah yang bahkan tepat di bibir pantai.

Publikasi terakhir, hingga tulisan ini saya bikin, berdasar pada koran Kompas, Sabtu, 29 September 2018, bahwasanya gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah ini, berkekuatan M 7,4, lokasi 0,20 LS dan 119,89 BT. Kedalaman 11 km, berpusat di 26 km utara Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa terjadi pada pukul 17.02 WIB.

Gempa ini menimbulkan tsunami dengan ketinggian 1,5 meter hingga 3 meter, yang diperkirakan tiba pukul 17.22 WIB. Tsunami tersebut berakhir pukul 17.36 WIB. Penyebab gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Palu-Koro. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (slike-slip).

Lebih jauh lagi, dikabarkan oleh Kompas, jalur telekonunikasi lumpuh hingga lewat tengah malam. Akibatnya, gempa bermahnitudo 7,4 yang berpusat di Kabupaten Donggala, yang disusul tsunami di pesisir Teluk Palu, sampai Jumat malam belum jelas benar dampaknya. Berapa korban jiwa meninggal dan luka-luka belum ada kepastian. Pun, taksiran jumlah kerugian material. Yang pasti, banyak warga Sulteng yang bersiaga di luar rumah, mengungsi ke daratan yang lebih tinggi, karena khawatir gempa susulan dan tsunami.

Anjuran agama, khususnya Islam, menganjurkan kepada umatnya, tatkala mengalami peristiwa menakutkan adalah Salat Ayat. Saya melmbaca media sosial dipenuhi dengan doa agar keluarga dan rekan di area kejadian selamat.

Sebagai orang yang mengimani hal itu doa pun terpanjat dari lisan saya. Namun selain itu, ada semacam refleksi atas kejadian ini. Ini adalah bahasa alam. Berdialog dengan alam tentu akan lebih baik mengiringi doa-doa.

Gempa adalah kejadian alami. Beda dengan banjir, longsor, erosi, abrasi, atau kebakaran dan yang semacamnya. Ada unsur tangan manusia pada deretan contoh kejadian yang disebut terakhir ini. Bagaimana dengan gempa bumi dan tsunami? Kejadian alami.

Baik gempa maupun longsor dan semacamnya adalah bahasa alam. Bedanya, longsor dan semacamnya adalah respon alam atas kelakuan tangan manusia. Dialog dengannya adalah dengan cara menghentikan kebiasaan buruk kepada semesta ini, seperti menebang vegetasi besar di lahan rawan bencana.

Program edukasi dan literasi lingkungan menjadi mendesak dilakukan. Pengetahuan manusia sudah seharusnya dapat menyapa alam sekitar dengan ramah. Program dan perencanaan perlindungan sudah perlu menjadi bahasa manusia sehari-hari.

Kejadian-kejadian alami memang tak dapat dihentikan. Gempa bumi tidak bisa dicegah. Akan tetapi, sebagai bahasa alam manusia perlu memiliki cara menyapanya.

Keperluan manusia adalah eliminasi terjadinya kerusakan dan korban yang akan berjatuhan. Ikhtiar manusia dapat mencipta optimisme untuk mengurangi dampak tersebut. Upaya mengungkap tanda-tanda kejadian semacam itu bukan mustahil ditemukan secara lebih dini.

Itu sebabnya, tiba-tiba selain berdoa, yang teringat setelah gempa mulai mengguncang itu adalah sepupu saya. Ia kini tengah berada di Chiba, Jepang, untuk menyelesaikan studi doktoralnya dalam soal-soal remote sensing. Suatu disiplin kajian yang berusaha menajamkan indera lewat bantuan peralatan guna mengenali gejala alami pada bumi dan semesta.

Mungkin dengan kemampuan teknologi suatu saat, mengenali gempa bumi dan tsunami sudah mirip dengan melihat mendung untuk mengantisipasi dampak hujan. Setelah kita tahu bahwa hujan akan segera turun jika sudah mendung, maka kita akan mengambil jas hujan. Dengan demikian perjalanan tetap bisa dilanjutkan sedang badan kita tidak basah kuyup.

Itu pulalah sebabnya saya mendoa dengan dua doa ketika gempa dan tsunami datang. Pertama saya panjatkan permohonan kepada Tuhan agar penduduk selamat, keluarga korban tabah, penderita mendapat bantuan dan santunan. Selain itu, saya mendoa agar para ilmuwan yang tengah memikirkan upaya deteksi dini segala kejadian alam terutama yang alami itu terus-menerus disempurnakan. Seharusnya begitulah kita berdialog dengan alam. Wallahu a’lam.

 

Apa itu Ilmu Agama?

Ingar-bingar politik membawa suatu gelombang baru dalam ujaran publik beberapa tahun terakhir ini. Banyak yang telah melalui momentum politik sebagai sirkulasi kekuasaan. Hasilnya? Hanya berupa sirkulasi hidup belaka. Berangkat dari ketiadaan menuju kembali kepada ketiadaan. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah ratusan pejabat tinggi yang pernah melalui hidup penuh prestise dan kehormatan, kini menjadi manusia tua yang sejajar dengan penduduk negeri lainnya.

Salah satu yang amat sering diperbincangkan di dalam berbagai saluran media sosial adalah pernyataan B.J. Habibie dalam salah satu pidatonya. Ringkasan pesan itu adalah pernyataan sadar beliau bahwa kesuksesannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah banyak berarti. Andai beliau diminta memilih ilmu pesawat terbang dengan ilmu agama, maka pilihan beliau adalah yang terakhir. Perbincangan itu menggoda untuk mendalami pengertian ilmu agama. Begitu juga efeknya kepada pencerahan publik, terutama untuk masa depan kemajuan umat manusia. Manusia diajak kepada keyakinan baru tentang tiadanya makna hidup.

Narasi Masa Depan

Dalam suasana kekosongan inilah manusia mencari narasi baru masa depannya. Ketiadaan makna hidup adalah penderitaan bagi manusia yang mulai dijawab dengan berbagai narasi. Satu di antaranya adalah ajakan jihad. Hasilnya adalah berkubangnya sejumlah aktivis dalam gerakan bersenjata sambil mengabaikan perasaan kemanusiaan yang terdalam. Orang menyebutnya terorisme. Walhasil, itu dianggap sebagai cara teringkas masuk surga demi meninggalkan dunia tak bermakna ini.

Benarkah jalan keluar semacam ini? Sudah banyak kritik. Satu lagi jawaban yang lebih lunak. Ilmu agama! Menjauhi ilmu umum adalah salah satu jalan keluar untuk meninggalkan kehampaan hidup. Menghabiskan waktu untuk memperoleh ilmu umum memang dapat menghasilkan kemapanan hidup material, namun bisa menimbulkan kekosongan makna di akhir usia. Ketakutan ini sedang disebarkan ke tengah masyarakat. Oleh sebab itu, amat menarik untuk mencoba mengurai apa ilmu agama itu sebagai bagian dari narasi masa depan.

Agama

Agama adalah konsep kehidupan yang di dalamnya terdapat landasan, aturan, arah dan tujuan hidup. Konsep inilah yang memandu manusia untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya.

Kelompok manusia yang meniadakan pilihan pun sebenarnya adalah suatu model pilihan dalam beragama. Deterministik, dalam istilah ilmu kalam disebut sebagai jabariyah menemukan waktunya yang tepat untuk dianut. Agama adalah kumpulan pengetahuan tentang tata cara memuji dan membesarkan Tuhan sambil berpasrah diri tentang nasib masa depan. Dunia mulai diombang-ambing oleh gelombang yang tak berarah.

Agama dalam perspektif hanya mengulang polemik pemikiran teologis. Ia tidak menyumbang optimisme. Adakah pilihan lain?

Tauhid

Satu hal yang diajarkan dalam khazanah agama-agama adalah cara beragama. Ada cara beragama dengan melihat semesta sebagai suatu kesatuan dan ada juga dengan memecah semesta dalam keterbilangan atau keragaman. Agama yang mengajarkan kesatuan datang dengan perspektif utuh ketika melihat semesta, termasuk asal-usul dan masa depannya. Komponen semesta tempat hidup manusia adalah sesuatu yang organik. Bagian-bagiannya adalah suatu keutuhan. Agama selainnya selalu melihat bahwa komponen semesta adalah bagian yang mekanistik.

Pada perspektif kesemestaan inilah ilmu-ilmu itu tumbuh. Pendapat yang meyakini ada pemilahan ilmu agama dan umum tumbuh dari cara beragama yang kedua. Cara beragama yang pertama menumbuhkan ilmu dalam perspektif kesatuan dan keutuhan, tanpa pembedaan. Perspektif Islam menyebut cara beragama ini dengan nama tauhid. Tauhid tidak semata pengesaan Tuhan namun juga pengakuan terhadap kesatuan semesta.

Kesatuan Semesta

Kesatuan semesta amat sulit diakui. Ini tergambar dari ilmu-ilmu yang berserak dalam kamar-kamar sosialnya masing-masing. Tiap-tiap ilmu memiliki otonomi dalam sebuah disiplin kajian yang terpisah-pisah.

Semesta yang dilihat sebagai komponen terpisah-pisah berefek buruk pada pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu tidak lagi mengantarkan manusia kepada kesejatian hidupnya. Ajaran agama pun ditempatkan sebagai disiplin kajian yang merupakan pecahan cara pandang terhadap semesta itu. Di sinilah pula ilmu agama itu dikenal sebagai sebuah disiplin terpisah.

Ilmu Agama

Lain Habibie, lain Nabi Adam. Tatkala Nabi Adam dibiarkan memilih agama dan ilmu, beliau pilih ilmu. Ilmu diyakininya akan mengantarkan kepada agama.

Semua ilmu adalah agama karena agama menganjurkan berilmu. Dengan demikian ilmu adalah bagian utuh dari kerja dalam agama. Aktivitas utama orang beragama adalah berilmu.

Ilmuwan yang tak beragama akan memperlakukan ilmunya hanya dalam wilayah material. Itu sebabnya ilmunya selalu terasa hampa. Berujung dengan kebinasaan. Kematian adalah awalnya. Mulai dari liang kuburnyalah kebinasaan itu disaksikan. Memandang ilmu seharusnyalah menganut cara pandang yang menyeluruh atas konsep semesta. Semesta sebagai kesatuan periada yang tercipta. Semesta ini bergerak untuk kembali kepada Tuhannya Yang Maha Esa. Kosmologi tauhid ini mungkin dapat menuntun untuk mengubah cara pandang mengenai ilmu. Segala ilmu yang menggerakkan peradaban manusia kembali kepada keridhaan Tuhannya adalah ilmu agama. Ilmu kapal terbang B.J. Habibie seharusnya mulai sekarang tidak dianggap sebagai bukan ilmu agama.

In Memoriam Syamsuri Ismail

Lelaki itu telah menunggu di tempat acara satu jam lalu. Acara baru dimulai setelah para pengurus HMI Cabang Ujung Pandang yang menyelenggarakan diskusi telah berkumpul. Memang hari itu masih mendung. Baru saja hujan deras mengguyur kota Ujung Pandang (sekarang Makassar). Itu sudah cukup menjadi alasan pengurus untuk datang terlambat tapi tidak untuknya. Lelaki ini sudah bersama saya ketika gedung itu masih sepi. Saya senang saja sambil berbincang menimba ilmu dan pengalamannya.

Satu per-satu senior yang masuk ke arena kegiatan memberi penghormatan kepada sosok sederhana ini. Saya hanya tahu beliau aktif di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat ternama di kota Makassar. Selebihnya, masih remang bagi saya. Ia adalah pengurus KAHMI Wilayah Sulsel. Hanya itu.

Acara sudah mulai. Narasumber telah menyampaikan paparannya. Kini giliran penanya. Lelaki ini mengacungkan tangan lebih dahulu. Ia berdiri memperkenalkan diri. “Saya Syamsuri Ismail dari KAHMI Sulsel!” begitu ia memulai. Tiba-tiba ia terisak. Sejenak tak sanggup melanjutkan pembicaraannya. Setelah hening beberapa saat. Ia lanjut bercerita bahwa saat berdiri menyanyikan Hymne HMI, ia merinding dan bergetar. Ia menangis dalam nyanyian itu. Ingatannya terbang ke dua puluh lima tahun lalu. Saat ia menjadi aktivis di HMI Cabang Makassar (1970-an). “Dua puluh tahun baru saya dengar lagi lagu ini di tengah rekan-rekan akrivis cabang,” katanya dengan suara pelan dan tersedu.

Ia menyeka air matanya dengan sapu tangan. Lalu ia melanjutkan bahwa HMI amat dinanti tanggung jawabnya dalam kelanjutan perjalanan bangsa ini. Ia memberi motivasi hampir sepuluh menit.

***

Saya bertemu dengan beliau saat menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang Ujung Pandang (1995). Adalah Herman Pabau, Ketua HMI Cabang Ujung Pandang (1993-1994) yang memperkenalkan saya dengan beliau. Sang Mentor yang amat rajin silaturrahim ini mengajak saya ke kediaman Kak Suri (begitu aktivis HMI memanggil namanya). Ia amat berbinar ketika kami sudah tiba di depan pintu rumahnya. Walau sudah rapi siap berangkat, biasanya beliau duduk lagi melayani kami. Memberi inspirasi tentang pembelaan terhadap rakyat kecil. Meski tak jarang ia mengkritik para pemalas yang berasal dari kalangan proletar itu, namun ia tak lepas dari pembicaraan soal pengembangan komunitas yang isinya kaum terlemahkan. Kak Suri tidak segan-segan mengkritik rekan-rekannya yang telah memegang otoritas namun tidak berefek kepada masyarakat kecil.

Hidupnya mewujud dalam laku para kaum bawah. Mungkin ini karena di dalam mentalnya hanya diisi dengan kepedulian terhadap si lemah. Seakan membenarkan konsep “tajassumul a’mal”, Kak Suri kadang terlihat seperti orang papa. Konon, ketika Kak Suri menghadapi Sidang Ujian Skripsi, memakai sandal jepit sahaja. “Saya mewakili rakyat jelata!” begitu alasannya kepada tim penguji.

Perhatiannya kepada HMI amat besar. Tatkala HMI terbelah, ia masih tetap berkomunikasi dengan keduanya dalam posisi yang seimbang. Walau KAHMI lebih memihak HMI Dipo, ia tetap apresiatif terhadap HMI MPO. Maklum, ia adalah pelaku sejarah “terusirnya” cabang-cabang besar HMI dalam Simposium Tafsir Azas HMI di Mataram, 1985. Forum yang berakhir deadlock di bawah intervensi aparat Orde Baru itu menjadi salah satu awal pendorong munculnya Kongres Istimewa HMI di Yogyakarta, 1986, yang hasilnya sering dikenal dengan HMI MPO. Menolak Azas Tunggal Pancasila itulah biang keladinya. Ia turut dalam penolakan itu. Ia apresiatif kepada HMI yang tetap melawan Orde Baru. Meski begitu, apresisasinya terhadap HMI MPO tidak membuatnya mengabaikan HMI Dipo.

Saat aktif memimpin HMI Cabang Ujung Pandang, di antara puluhan senior yang saya kunjungi rumahnya secara rutin adalah Kanda Syamsuri Ismail, SH. Kini tubuh lelaki tegar itu sudah tak sanggup membawa ruhaninya sebab jasadnya yang lain sudah membalut ruh Tuhan itu untuk kembali ke “rumpunnya”, Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Selamat jalan, Kak Suri!

Kemerdekaan Ekologis

Dua tahun lalu penulis diminta seseorang untuk menulis tentang refleksi kemerdekaan Indonesia. Saat itu, mereka hendak menyusun buku 70 Tahun Indonesia Merdeka. Penulis melihatnya dalam perspektif lingkungan hidup.

Tesis yang dikemukakan adalah dokumen kemerdekaan Indonesia tidak memasukkan perspektif ekologis secara spesifik. Semua statemen tujuan negara hanya bersifat politik, ekonomi, dan sosial. Nanti setelah direnungkan dan dimaknai lebih mendalam baharulah dapat dijumpai bahwa dengan melaksanakan amanat kemerdekaan secara sungguh-sungguh, aspek lingkungan hidup dapat dipandang inhern pada tujuan negara itu.

Mungkin hal itu disebabkan oleh belum populernya isu ekologis dalam diskursus politik kenegaraan. Seperti diketahui bahwa kesadaran antar bangsa mengenai penting dan mendesaknya perhatian pada kelestarian lingkungan barulah tercetus pada 5 Juni 1972. Bermula dari Stockholm, Swedia, itulah sebagian besar negara di dunia sepakat untuk mempertimbangkan perkara ekologi sebagai faktor utama dalam pengambilan kebijakan publik dan perencanaan pembangunan resmi negara.

Momentum yang disebut di atas selanjutnya dikenal dengan nama Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Bergulirnya isu ekologis mendorong berbagai negara untuk menyepakati perlunya komitmen untuk memastikan sumber daya alam tidak sampai langka, apalagi punah, karena tuntutan pembangunan. Konsep ini kelak dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable development).

Kesadaran semacam ini belum menempati alam pikiran para perumus bangsa. Oleh sebab itu, seolah negara ini lupa memberi perhatian khusus kepada sektor ini sejak awal kemerdekaan. Dua puluh lima tahun kemudian, misi asing mulai terasa. Kemerdekaan politik mulai terusik. Misai politik seorang Soekarno mulai mendeteksi tentang adanya potensi kembalinya penjajahan. Ia rumuskan dalam slogan dan teriakan “anti nekolim” secara sangat fasih.

Sektor manakah yang sesungguhnya paling terjajah dan paling dapat disebut sebagai indikator keterjajahan baru di tanah Indonesia merdeka ini? Lingkungan hidup! Kegalauan utama kaum kolonial dan imperialis Barat usai lepasnya banyak negara dari pendudukan politik adalah penguasaan sektor Sumber Daya Alam (SDA).

Industrinya harus selalu hidup dan berproduksi. Urat nadi industrinya ada pada keterpenuhan bahan baku. Semua itu berada di wilayah bekas pendudukan. Cara paling masuk akal adalah mengambil alih otoritas pengelolaan. John Perkins membantu kita untuk menelisik cara penguasa industri dunia itu untuk dapat menguasai SDA di berbagai tempat. Melalui lobi ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Menjerat negara itu dengan pinjaman luar negeri. Kepala negara yang kepala batu, akan disingkirkan dengan berbagai cara. Soekarno diduga masuk dalam operasi ini. Apa sebabnya? Soekarno mengambil kebijakan pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mendidik ratusan calon tenaga ahli di berbagai sektor untuk keperluan pembangunan infrastruktur tadi. Begitu juga dengan pengelolaan SDA. Harapannya bahwa tidak lebih dari sepuluh tahun kemudian, negara ini benar-benar akan mandiri.

Apa lacur? Di ujung kekuasaannya, umbul-umbul dan spanduk selamat datang buat modal asing dipasang di jantung kekuasaan Orde Baru oleh Soeharto. Belum lagi Soekarno mangkat, kekayaan alam di tanah Papua pun menjadi SDA pertama yang siap diangkut ke luar negeri. Jangka waktunya pun puluhan tahun. Apa artinya? Selama puluhan tahun pemerintah tak memiliki otoritas eksploitasi hulu atas tambang di Tembaga Pura. Tak hanya itu, bahkan secara politis pun namanya lalu diubah menjadi Freeport. Mendengar namanya saja, penguasa kontraknya sudah bebas mengangkut dan memindahkan isi perut bumi di lahan perawan itu.

Usai kejatuhan Tembaga Pura, satu persatu lingkungan alami kita diubah menjadi lingkungan binaan secara serempangan. Dalihnya adalah pembangunan. Pelakunya adalah korporasi asuhan pemilik modal asing yang kurang mengerti bagaimana setting dasar negara ini.

Pemerintah wajib diam. Insentif sudah diberikan. Konsesi bisnis sudah cair. Perlahan-lahan efek ekologis pun muncul. Tak semaju pembangunan politik, derajat kesejahteraan rakyat mulai dikeluhkan. Separatisme mulai muncul. Aceh dan Papua mulai meradang. Bagi penguasa, ini adalah konspirasi politik murni. Isu SDA tidak terbaca di balik ini. Tempat berlindungnya juga kepada para pelaku eksploitasi itu sendiri. Ironis! Sebuah konsekuensi kelemahan intelektual para penyelenggara politik republik ini.

Ketika suasana bumi kian panas, politisi dunia mulai mengangkat isu pemanasan global. Melalui berbagai putaran perundingan mulai dari yang setingkat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) hingga pertemuan terbatas beberapa negara dihasilkan sejumlah kesepakatan, berbagai protokol, hingga komitmen dunia dalam bentuk kerjasama antar pihak.

Di manakah posisi kedaulatan ekologis dalam berbagai perjanjian itu? Ia berada dalam ketiak kapitalis asing yang berlindung pada tembok perjanjian kontrak industrial. Semua masih dianggap normal. Seakan-akan semesta Indonesia ini masih perawan seperti era Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC). Anggapan itu menguasai alam pikiran pemimpin bangsa serta pelaku ekonomi tatkala hutan Sumatera sudah cenderung menggurun, hutan Kalimantan sudah meninggalkan kubangan bekas tambang yang mengerikan, begitu juga di Papua dan Nusa Tenggara. Jangan tanya lagi suasana Jawa! Lautan mulai menjadi kental bahan pencemar. Berbagai biota perairan menuju pintu kelangkaan. Semua itu masih akibat wajar dari penjajahan jilid dua.

Kemerdekaan ekologis menjadi agenda besar bangsa ini. Aba-aba krisis energi sudah lama diperdengarkan. Sudah lama para pemegang otoritas politik negara ini juga tahu bahwa perlu antisipasi atas persoalan ini. Apa yang terjadi? Justru di gerbang reformasilah regulasi SDA vital diserahkan kepada drakula ekologi. Regulasi itu bernama privatisasi. Suatu yang amat bertentangan dengan jiwa kemerdekaan bangsa ini; sosialisme.

Baca ulanglah secara cermat diksi preambule UUD 1945 bahkan batang tubuhnya! Pasal mana yang tidak sosialistik atau alinea mana yang membenarkan kepemilikan otoritas privat untuk menguasai hajat hidup orang banyak? Sektor ekologi semuanya dipasrahkan kepada penguasaan untuk sebesar-besar kemakmuran bersama, bukan separuh pemodal.

Walau Muhammadiyah dan elemen lain sudah berhasil menggugat beberapa regulasi itu, namun menurut penulis, bencana ekologi masih sangat besar. Bencana itu dikandung oleh cara pandang tentang energi.

Di alam ini tersedia energi. Berdasarkan prinsip pokok ilmu lingkungan, energi harus dikembalikan kepada asasnya semula. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak juga dapat dimusnahkan. Ia hanya dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya. Berarti energi itu sesungguhnya tidak patut langka. Apa sebabnya? Alam telah menyediakan bahan yang berlimpah untuk diolah dan diubah bentuknya sehingga menghasilkan energi baru. Peruntukan energi-energi tersebut akan menentukan skala eksplorasinya dari alam terbuka.

Sayangnya, alam pikiran pelaku politik dan pengelola negara masih menganggap bahwa energi yang dimaksud hanyalah yang bersumber dari fosil di perut bumi. Ketergantungan terhadap minyak dan gas bumi sangat terasa. Berangkat dari cetakan cara pandangnya sudah salah. Bagaimana mungkin ancaman krisis energi dapat diatasi? Di sinilah bencananya itu!

Para akademisi dan peneliti bukan tidak memberi jalan keluar. Dua puluh tahun lalu, biota tropis sudah bisa disulap menjadi energi baru. Begitu juga sinar surya yang tersedia sepanjang tahun, gelombang laut yang tiada taranya, bahkan angin di pulau-pulau kecil pun bisa menjadi pilihan sumber energi.

Bencana semacam ini muncul dari kegiatan penjajahan baru. Dominasi alam pikiran berwarna fosil bukan suati yang tanpa desain. Ia lahir dari setting penguasaan SDA dengan laku politik yang amat kental. Siapa yang berpikir mandiri dalam bidang energi harus bersiap tersingkir. Kengerian inilah yang membayang sehingga energi baru dan terbarukan sangat telat dipertimbangkan. Memang benar-benar harus menunggu isi perut alam Indonesia ini laksana kain kering yang tak dapat lagi diperas, baharulah semua pihak akan melirik energi lain. Itupun, harus dicatat bahwa ahli-ahli yang akan memainkan peran itu harus melibatkan pelaku industri global.

Pada ujung perjalanan cerita ini, marilah pakai kacamata atau teropong ekologi untuk melihat betapa kita tidak merdeka di sektor ini sejak puluhan tahun lalu. Mungkin juga dapat dikatakan bahwa di sektor ini kita belum pernah merdeka.

Geliat perlawanan sedikit muncul dua tahun terakhir. Namun demikian, sudah sangat kompleks persoalan yang harus diurai. Tidak gampang untuk meyakinkan bahwa justru di sektor ini para politisi yang sedang bertikai dapat mengambil titik tolak bersama agar pada perayaan hari kemerdekaan yang keseratus kita sudah dapat berbicara lain. Berbicara kemerdekaan ekologis secara lantang. Dan hanya Dialah Yang Mahatahu.

 

Sumber gambar: http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2013/03/bangka_gallery01.jpg

 

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-2, Habis)

Baca juga:

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)

***

Dalam kajian ideologi dikenal dua kutub ideologi besar dunia yakni individualisme dan sosialisme. Individualisme dan sosialisme sebenarnya sama-sama melayani keserakahan, masing-masing keserakahan diri dan keserakahan kelompok (spesies manusia). Oleh sebab itu, penulis merasa perlu mengenalkan bahwa selain makhluk individu dan sosial seperti yang lazim didoktrinkan di sekolah formal, manusia juga sebenarnya adalah makhluk ekologis. Konsekuensinya, dukungan prinsip antroposentrisme yang ada dalam definisi materialisme saat ini memang perlu diperbaharui sebab hanya mengunggulkan jenisnya (spesiesnya).

Pada dekade 1970-an buku Small is Beautiful yang ditulis E.F. Schumaker diterbitkan oleh LP3ES. Schumaker memperkenalkan sebuah konsep untuk menjauhi semangat kemewahan yang disebutnya sebagai “proyek besar”. Segala proyek besar selalu meminta bayaran dengan harga mahal; kerusakan ekologi (fisik dan non-fisik). Pemborosan! Akibat-akibat yang ditimbulkan itu semua hanya dapat ditepis dengan kembali kepada hal-hal sederhana. Sederhana itu indah!

Keren itu tidak harus gebyar. Gebyar tapi mengandung risiko disfungsi komponen-komponen ekologi hakikatnya justru buruk. Keren seharusnya tidak mengandung risiko terhadap keseimbangan fungsi-fungsi komponen ekologi walau nampak sangat sederhana. Sederhana mulai dari gaya hidup hingga produk-produk peradaban adalah konsep yang mungkin telanjur bertentangan dengan alam pikiran manusia modern. Padahal, justru di sanalah akan ditemukan cara meningkatkan produktivitas tanpa harus menggunakan teknologi yang rumit namun mengganggu fungsi dan keseimbangan lingkungan. Lewat pemikiran ini muncul gagasan teknologi tepat guna. Beberapa tahun kemudian isu teknologi tepat guna berhasil mendorong temuan yang mencengangkan.Fungsional, ekonomis, praktis, dan ramah lingkungan.

Sederhana yang indah itu dapat terjadi kalau paradigmanya diubah menjadi lebih luas. Muncul ekosentrisme. Berdasarkan berbagai sumber, Sonny Keraf (2002) mengelaborasi kritiknya terhadap konsep pengelolaan lingkungan dengan memodelkan pergeseran cara pandang ke ekosentrisme sebagai sebuah perubahan dari biosentrisme.

Sebelumnya, biosentrisme dipuji sebagai upaya etis untuk menjadikan semua makhluk hidup setara. Sebuah keluarga kehidupan! Ia meninggalkan konsep antroposentrisme yang merajakan jenis manusia atas hewan dan tumbuhan. Kini semua yang hidup dihargai persis seperti penghargaan dan keistimewaan yang pernah diberikan (hanya) kepada (jenis) manusia.

Namun konsep itu dipandang memiliki cacat. Bukankah ekologi adalah sebuah sistem interaksi antara benda mati dengan benda hidup dalam sebuah ruang tertentu? Kalau begitu, seharusnya penghargaan haruslah diberikan secara setara terhadap kedua komponen ini. Itu sebabnya, penghargaan bukan hanya kepada manusia dan makhluk hidup lainnya, namun juga benda-benda tak hidup di sekitarnya. Perhatian harus diarahkan kepada kesatuan ekologi. Perlakuan baik harus diberikan kepada semua komponen itu. Itu sebabnya, berdasarkan konsep ini, benda hidup selain manusia serta benda lain di sekelilingnya memiliki hak untuk diperlakukan secara wajar dan mulia. Memuliakan manusia, makhluk hidup lainnya, dan benda-benda di sekelilingnya adalah prinsip pokok konsep ini. Inilah ekosentrisme. Paradigma keplanetan!

Ketamakan (greedy), sebuah gejala di tingkat individu yang ditransformasi menjadi mental eksploitatif industri di ranah komunitas menempatkan manusia sebagai jenis makhluk yang amat superior. Namun tatkala ia menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem ekologi, maka ia adalah satu dari sekian sekrup planet bumi yang posisinya sama penting dengan komponen lain. Dengan penuh kesadaran ia tak memiliki pembenaran untuk merusak komponen lain. Merusak yang dimaksud di sini adalah melakukan disfungsi atas yang lain.

Bagaimana paradigma keplanetan bekerja? Asumsi pokok konsep ini adalah seluruh keluarga planet bumi itu merupakan satu tubuh. Merusak salah satu komponen sama dengan mengancam dan pada gilirannya akan merusak bahkan dapat memusnahkan seluruh tubuh planet ini. Kekhawatiran akan kejadian itu, yakni musnahnya kehidupan dan seluruh fungsi-fungsi benda pada planet ini sangat wajar menerungku alam pikiran manusia yang perilakunya merupakan poros kelestarian planet bumi ini di masa depan.

Alam pikiran, kesadaran dan tingkah laku manusia ditempatkan sebagai jangkar keseimbangan fungsi-fungsi keluarga planet bumi ini beserta segala kepentingan untuk melestarikan dan menjamin kelangsungannya di masa depan. Rasa was-was akan amuk ekologi sebenarnya dapat diakhiri sejak saat ini melalui kesadaran bahwa manusia dan buminya bukan dua pihak yang berbeda. Mimpi manusia seharusnya adalah mimpi bumi dan seisinya juga.

Mungkin itulah sebabnya Juni 2015 lalu, begitu laman United Nations Environment Programme (UNEP) terbuka,yang nampak paling menonjoladalahtulisan; “Seven Billion Dreams. One Planet. Consume with Care”, sebuah slogan yang mengandung himbauan dan harapan. Himbauan untuk mengendalikan gaya hidup konsumtif dengan kepedulian prima yang diharapkan akan menjadi dasar pencapaian harapan tujuh miliar umat manusia di punggung bumi. Itulah tema besar hari Lingkungan Hidup se-dunia, 5 Juni tahun 2015 tersebut. Organisasi lingkungan hidup se-dunia itu, memilih tema tersebut seakan menyampaikan pesan tentang tertatihnya konsep pembangunan berkelanjutan yang empat puluh lima tahun lalu mulai disebut-sebut. Tertatih karena seperti telah diuraikan di depan paradigma konsumerisme di tingkati ndividu dan industrialisme di tingkat sosial masih merajai cara hidup manusia.

Apa yang harus diubah? Paradigmanya! Perhatikan alam berpikir sekelas UNEP itu! Kental dengan paradigma keplanetan, UNEP sepertinya memang masih menempatkan bumi sebagai satu-satunya alam tempat hidup manusia. Kerusakan planet bumi sebuah dongeng yang diperdengarkan kepada penduduk bumi laksana memperdengarkan dongeng hantu kepada anak-anak yang susah tidur di malam hari. Bagi yang peduli masa depan, ancaman kerusakan bumi mungkin memiliki pengaruh terhadap sikapnya mengelola bumi. Bagi yang otaknya sudah didominasi laba industri, kemasadepanan bumi adalah urusan masa depan itu sendiri ibarat anak yang tahu bahwa esok ia tetap bisa bangun betapa pun mengerikannya dongeng horror yang diceritakan kepadanya menjelang tidur.

Paradigma keplanetan membawa konsekuensi yang tidak kurang berbahayanya dibandingkan dengan perilaku kejam kepada lingkungan hidup. Ancaman maksimal yang diberikan lembaga semacam UNEP dan aktivis institusi-institusi peduli lingkungan hidup terhadap pelaku destruktif adalah hilangnya daya dukung bumi, punahnya kehidupan di dunia atau tamatnya riwayat bumi. Persis seperti ancaman maksimal hukuman mati terhadap pelaku narkoba, pelaku-pelakunya tetap belum memedulikannya. Belum lama berselang nasib naas hukuman mati yang diganjarkan kepada narapidana narkoba, kasus penggerebekan pesta shabu di Pondok Indah, Jakarta, tetap dapat disaksikan orang banyak. Begitulah perumpamaannya. Belum lama longsor dan banjir bandang melanda berbagai tempat seperti Banjarnegara, Garut, Bandung, Bima, Manado, dan lain-lain penebangan hutan di tempat-tempat yang seharusnya dilindungi tetap saja berlangsung.

Paradigma keplanetan seperti saja tak kuasa membendung gaya hidup manusia. Arne Naess wajar berteriak, “Quality of life yes, standard of life tja!” Kualitas hidup seharusnya menjadi fokus cara bertindak manusia, bukan standar hidup yang dicerminkan oleh gaya hidup. Terbukti, praktik kekejaman terhadap bumi terus berlangsung justru beriringan dengan berbagai dampak lingkungan yang menyengsarakan.

Sepertinya penting diulangi bahwa paradigm keplanetan inilah yang ada di dalam konsep etika ekosentrisme. Konsep itu disebut-sebut sebagai penyempurnaan atas paradigm spesiesisme dan biotisme dalam tulisan-tulisan Sony Keraf. Spesiesisme (kejenisan) menjadi biotisme (kemakhlukhidupan), lalu ekologisme (keplanetan) mengandung diskriminasi, dominasi dan penjajahan.

Secara ringkas dapat dikembangkan sebagai berikut; Pertama, “kejenisan”, yang di tulisan ini disebut “kedirian”, mendominasi, mendiskriminasi dan menjajah jenis makhluk hidup lain. Seolah-olah yang hidup itu hanya manusia.Barangkali karena itulah maka hampir semua bahasa dalam budaya manusia di berbagai suku dan bangsa dalam konteks semantik mendudukkan hewan dan tumbuhan “sebangsa” dengan benda mati.

Efeknya adalah rendahnya penghargaan dan pemuliaan terhadap benda-benda hidup selain manusia.“Kedirian” manusia menampilkan spesiesnya sebagai paling dominan atas spesies makhluk hidup lainnya.Tulisan ini harus menyebut “kedirian” untuk melibatkan psikologi dalam kajian ekologi, bukan hanya fisik dan biologi dari spesies Homo sapiens.Psiko-ekologi, bukan eko-psikologi.

Kedua, kemakhlukhidupan, yang dalam tulisan ini disebut “kekelompokan”, mendominasi makhluk lain. Kelompok makhluk lain, yakni hewan dan tumbuhan seolah hanya pelengkap dalam suatu sistem ekologi. Para pemikir lingkungan memandang ada diskriminasi atas anggota keluarga planet bumi dalam sistem ekologi seperti telah disinggung di depan.Efeknya adalah rendahnya penghargaan dan pemuliaan terhadap benda-benda.

Memang pernah muncul di era tertentu kengerian menguasai manusia sehingga merasa perlu mencegahnya dengan penyembahan kepada benda-benda.Ada juga yang menyebutnya penyembahan kepada Tuhan melalui benda-benda.Mitos lalu dipahat di dinding budaya manusia untuk memuliakan benda-benda di sekitarnya.Benda-benda mendapat perlakuan baik.Berakhirnya era mitos dengan masuknya perkembangan sains berhasil menggusur tradisi itu.Manusia tampil lebih garang.

Ketiga, keplanetan sebagai suatu konsep mengenai kesatuan seluruh unsur penyusun ekologi hingga saat ini dipandang sebagai konsep paling sempurna. Dalam konsep etika lingkungan paradigm ini dinamakan ekoseparadigma Semua berpusat kepada ekologi, rumah tangga seluruh benda baik hidup maupun tak hidup. Konsep ini menggeser konsep yang menempatkan dominasi (jenis) manusia maupun kelompok makhluk hidup. Kini, segala makhluk memiliki kedudukan yang sama dalam konteks kelestarian dan keselamatan jenis dan kelompoknya.

Pertanyaan yang muncul adalah “setelah beberapa dekade konsep ekosentrisme menjiwai pengelolaan lingkungan, bagaimana kabar status lingkungan hidup?” Himbauan organisasi PBB untuk lingkungan hidup (UNEP) di lamannya pada 2015 lalu itu dapat menjawab tegas. Masa depan bumi, segala benda, dan kehidupan, termasuk manusia di dalamnya tetap dalam ancaman bahkan kian mengkhawatirkan.

Persoalannya ada pada persepsi manusia tentang alam dan kehidupan di dalamnya. Manusia adalah anggota keluarga semesta yang memiliki kehendak bebas dan kemampuan memilih. Poros dari seluruh rencana perbaikan dan pelestarian sesungguhnya adalah perilaku manusia. Jika manusia menerapkan persepsinya masih dalam konteks ketakutan maupun keperluan ekonomi dan material, maka perubahan paradima kedirian, kekelompokan, ke keplanetan sebenarnya tidak akan memberi perbaikan yang berarti. Manusia tetap saja mendominasi, menciptakan diskriminasi, dan membuat eksploitasi atas lingkungannya. Mengapa demikian? Sikap dan perilaku yang muncul tatkala alam dibatasi sebesar planet bumi ini saja, adalah rendahnya bobot keharusan manusia menjaga masa depan alamnya. Masa depan itu sendiri sebenarnya amat buram pengertiannya dalam konsep keplanetan itu.

Nampaknya paradigma dan etika lingkungan perlu dikembangkan hingga ke pandangan dunia (world view) yang lebih mendasar. Dunia dan kehidupan manusia seharusnya bukan hanya di planet bumi ini. Sama halnya, ancaman terberat bukan pada hilangnya daya dukung bumi ini saja. Hidup manusia adalah hidup abadi. Ganjaran atas perilakunya ada dua; kesenangan abadi atau derita abadi juga. Alam pikiran keplanetan tak dapat menjelaskan hal tersebut. Konsep “kesemestaan” perlu ditimbang sebagai paradigma baru pemikiran lingkungan hidup, atau sebuah konsep etika lingkungan baru, kosmosentrisme. Selama paradigma keplanetan masih mengurung kesadaran manusia mengenai kehidupan dan tempat hidupnya, keadaan akan selalu demikian ini. Inilah kurangnya paradigma keplanetan.

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/sierra0004/robert-weigand/

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)

Problem bumi dan masa depannya telah menjadi perhatian utama masyarakat dunia sejak Rachel Carlson mengeluarkan dokumen yang bercerita tentang bahaya residu pestisida. Bukan hanya itu. Menurutnya, industri yang sudah gegap gempita di seluruh dunia ternyata meninggalkan masalah masa depan bumi. Dokumen ilmiah yang ditulis pada tahun 1962 itu menandai sebuah kecemasan umat manusia soal fungsi satu-satunya planet yang dihuni makhluk hidup ini. Buku Silent Spring yang ditulis Carlson itu mau mengabarkan sebuah aba-aba bahwa manusia saat ini juga harus berpikir tentang kelestarian planet ini.

Sepuluh tahun kemudian program lingkungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi isu penting.Perkumpulan banyak bangsa itu menggelar konferensi dunia di Stockholm untuk pembangunan berkelanjutan. Saat itulah dicetuskan sebagai hari lingkungan hidup yang dirayakan pada tanggal 5 Juni setiap tahun.

Semua negara merasa perlu mengusung sebuah slogan yang berkembang kemudian, yakni pembangunan berkelanjutan(sustainable development).Pembangunan berkelanjutan menjadi topik baru dalam segala kebijakan tentang perencanaan pembangunan di berbagai negara. Ada kesadaran yang muncul terutama di tingkat elit negara mengenai perlunya melaksanakan pembangunan dengan memastikan tetap tersedianya Sumber Daya Alam (SDA) di masa depan. Namun, dalam dua puluh tahun kemudian hampir seluruh negara beramai-ramai menggerogoti bumi laksana rayap mengerat kayu empuk. Suara Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio De Jeneiro pada 1992 itu tetap hanya nyaring di forum namun sunyi di lapangan industri.

Industri tetap pada wataknya yang mengesampingkan pertimbangan keberlanjutan demi mendapatkan bahan baku. Industri telah menjalankan tugasnya sebagai perangkat keras ekonomi untuk menentukan denyut pembangunan. Pembangunan juga demikian, selalu berada dalam definisi pertumbuhan ekonomi semata. Itu sebabnya, di kemudian hari pegiat lingkungan hidup menyerang konsep pembangunan berkelanjutan justru karena falsafah developmentalismyang bertumpu pada konsep economic growth semata. Para ilmuwan dan aktivis itu berpendapat bahwa target pelestarian lingkungan hidup akan makin jauh karena konsep pembangunan berkelanjutan sesungguhnya sedang menentang dirinya sendiri. Usulannya adalah kehidupan berkelanjutan.

Apapun konsep yang diajukan, pembangunan dalam pengertian pengembangan karya peradaban manusia sulit dielakkan. Debat semantik soal pembangunan hanya mungkin dapat memperbaiki definisi teoretik, bukan menghentikan kerusakan yang mengancam kelangsungan fungsi bumi di lapangan praksis.

Sebenarnya, apa yang paling menjadi persoalan dalam urusan kelangsungan fungsi planet ini? Nampaknya pendapat Arne Naess dalam buku Ecology, Community, and Lifestyle perlu dipertimbangkan. Pemerhati lingkungan hidup banyak mengambil pendapat Naess sebagai rujukan. Gaya hidup (life style) ditempatkan menjadi titik tolak yang disorotnya sebagai persoalan paling pelik itu. Ia berpendapat bahwa mengendalikan gaya hidup masyarakat adalah suatu cara untuk mencegah kerusakan fungsi lingkungan.

Arne Naess dan Carlson sudah memberikan gambaran kepada seluruh bangsa tentang dua persoalan pertama yang menjadi akar kesalahan mengurus bumi dan kehidupan di atasnya. Naess menunjukan gaya hidup sebagai problem besar tiap-tiap individu sedangkan Carlson menyorot soal watak industri. Naess memberikan informasi tentang sebuah paradigma yang membentuk cara pandang seseorang tentang diri dan kepentingannya. Di atas kepentingan itulah ia bekarja. Saya ingin menyebutnya sebagai “paradigma kedirian”. Di atas kepentingan pribadilah semua gejala ini bekerja. Mirip dengan pernyataan Carles Darwin tentang konsep survival of the fittest yang diperluas ke segala ranah. Melalui “penyembahan” terhadap gaya hidup inilah manusia saling memakan. Tujuanya adalah melayani diri. Apapun dapat dikorbankan untuk keperluan tujuan ini.

Gaya hidup mengubah keperluan pemenuhan kualitas hidup menjadi standar hidup. Terjadi pergeseran dari ranah pribadi (diri) ke komunitas atau kelompok. Pada bagian inilah manusia memaksa dirinya untuk melengkapi diri dengan pernak-pernik simbolik walau harus mengorbankan kualitas hidup yang seharusnya dipenuhi. Kualitas untuk tujuan pemanusiaan harus diabaikan. Padahal, dalam konsep ilmu lingkungan, alam semesta telah menyiapkan secara gratis atau setidaknya secara murah segala urusan manusia untuk mencapai kualitas hidupnya. Sebuah keluarga yang semula memilih makan sayuran segar dari kebun sendiri atau dari pasar tradisional harus mengorbankan gaya hidup sehat hanya untuk memenuhi keperluan gaya hidup lux di restoran yang menyajikan junk food. Semua atas nama gaya hidup; kemewahan. Secara individual saja sudah mengalami degradasi. Paradigma kedirian jelas telah mengajak manusia perlahan-lahan “memisahkan diri” dari lingkungan tempat hidupnya.

Di ranah lain, Carlson menyorot industri yang sejak semula menjadi fokus keresahannya. Carlson melihat bahwa industri telah mencaplok nurani manusia dari lingkungannya. Nurani manusia diganti dengan nafsu industri. Akal manusia berubah menjadi mesin yang bekerja berdasarkan sebuah mekanisme laba-rugi. Mesin itulah yang menegaskan keterpisahan total manusia dengan alamnya. Maksudnya, bahwa manusia adalah bagian dari alam tak dapat dipungkiri namun memeras alam untuk kepentingan penggemukan dan penumpukan modal.

Doktrin survival kelompok kian menjadi raja dengan standar keunggulan kapital atau permodalan.Tatkala harus menuntut percepatan pengembangan modal maka kepentingan kepemilikan modal dapat melibas apapun termasuk tempat hidup manusia, lingkungan hidup. Melalui konsep industrial ini pulalah problem daya tampung dan daya dukung lingkungan hidup menjadi persoalan paling besar kini dan masa mendatang.

Di level individu, paradigma kedirian menggeser setiap manusia di sekitarnya. Melalui konsep industrial manusia terikat dalam kelompok-kelompok usaha yang saling mengeser. Dapat disebut bahwa perilaku industri mengikuti “paradigma kekelompokan”; paradigma komunitas. Seperti halnya paradigma kedirian, paradigma kekelompokan atau komunitas ini, mengunggulkan manusia atas makhluk lain. Ini mendapat pembenaran dari konsep antroposentrisme. Efek dari paham ini, segala yang bukan manusia akan tersingkir dari perlindungan.

Paradigma inilah yang menjadi akar dari segala praktik eksploitasi. Demi memenuhi kebutuhan kelompok industrial atau para pemodal maka pengelolaan tanah, hutan, dan perairan kini mencapai derajat eksploitasi yang amat hebat. Fungsi lahan juga tak kalah rawannya mengalami perubahan dan berujung kepada amuk ekologi yang dahsyat.

Antara industri dan gaya hidup memiliki hubungan erat dalam proses perubahan lingkungan dan penurunan fungsi-fungsinya. Industri adalah kegiatan yang dapat mengumbar keinginan manusia untuk mengeruk bahan baku alami dari bumi. Kegiatan ini tak gampang dihentikan setelah dipersentuhkan dengan doktrin pembangunan. Semua pembangunan selalu diukur dengan pertumbuhan ekonomi yang salah satu soko gurunya adalah seberapa kencang roda industri berputar. Semua itu dapat dijawab dengan satu cara saja; eksploitasi SDA.

Industri tidak hanya menjadi perkakas nafsu pembangunan untuk membabat tetumbuhan, memeras tanah dan menggali sembarangan isinya, tetapi juga merusak cara hidup yang sewajarnya dalam kebudayaan di semua komunitas manusia. Rusaknya cara hidup dimulai dengan proses rusaknya cara berpikir dan berpengaruh pada perubahan gaya hidup.

Apa hubungannya dengan gaya hidup? Gaya hidup manusia merupakan salah satu hal penting yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup. Artinya, kerusakan maupun kelestarian lingkungan hidup amat dipengaruhi oleh gaya hidup manusia. Standar hidup (standard of life) mewah harus dibayar sangat mahal. Bukan oleh diri sendiri melainkan oleh bumi dan kehidupan di atasnya serta material alam di dalamnya. Gaya hidup sederhana yang berbasis pada konsep kualitas hidup (quality of life) adalah cara hidup yang amat murah dan menaati bahasa alam. Ia dapat dipenuhi tanpa harus memeras sumber daya yang diperlukan bagi masa depan kehidupan. Persoalannya, gaya hidup sederhana nampaknya tidak dapat melayani derasnya tuntutan industri untuk kemajuan pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana industri dapat dikelola dan pertumbuhan ekonomi dapat digerakkan dengan tetap menjamin fungsi bumi?Konsep etik lalu dilibatkan untuk menjadi bagian utuh dari komponen lingkungan.Ringkasnya, manusia harus menjadi bagian organik dari lingkungannya.Lingkungan harus dilihat sebagai kerja organik dari komponen yang menyatu dalam satu keutuhan, bukan keterpecahan yang bekerja secara mekanis.Tidak heran jika banyak pihak yang mencoba menggulirkan gagasan tentang etika global. Etika global dipandang sebagai  upaya menjawab gejala kerusakan masyarakat dan lingkungan. Guna memahami hal ini diperlukan uraian tentang struktur yang berpengaruh atas status lingkungan hidup.

Lingkungan hidup sudah dapat disebut rawan sesungguhnya bukan saja ketika gejala bencana sudah nampak melainkan ketika sebuah rencana untuk mencapai kemajuan dirancang di atas landasan paradigm kekelompokan tadi. Apa sebabnya? Karena rencana itu sudah mengancam fungsi-fungsi yang wajar dari sebuah sistem ekologi. Rencana pembangunan yang memisahkan manusia (kelompok manusia) dengan makhluk lain (kelompok makhluk lain). Berarti antara gaya hidup mewah dan individualistik berhubungan erat dengan watak industri dan sosialistik yang amat eksploitatif. Eksploitasi merupakan perluasan dari gaya hidup mewah itu. Paradigma kekelompokan merupakan perluasan dari paradigma kedirian.

Ilustrasi: http://wallpaperswide.com/earth_in_the_future_2-wallpapers.html

Kesalehan Ekologis

Maksiat ekologi kini tak terkendali dan secara pasti telah menusia rasakan dampaknya hingga sekarang. Ironisnya, kejadian itu ada di tengah maraknya manusia mencari kesalehan sosial yang dianggap menyempurnakan kesalehan pribadi. Gerakan filantrofi marak dikerjakan. Gerakan yang mengandung prinsip etis kesatuan umat manusia dalam suatu perasaan dan kepentingan yang sama. Setiap orang yang tampil dengan kepedualian prima atas manusia lainnya maka segera bercitra “saleh sosial”.

Paradigma kesalehan sosial mengasumsikan kepentingan spesies manusia lebih utama dibanding dengan spesies lain. Memang lebih maju daripada paradigma kesalehan pribadi mengasumsikan kepentingan diri sendiri lebih utama daripada kepentingan orang lain. Meski demikian, dalam wacana keberlanjutan kehidupan, kesalehan sosial saja tak memadai untuk menjawab ancaman besar punahnya kehidupan di bumi.

Kepedulian terhadap sesama manusia itu cerminan suatu cara pandang yang menempatkan manusia sebagai makhluk sosial, bukan hanya makhluk pribadi. Kepentingan bersama harus lebih utama daripada kepentingan diri sendiri. Cara pandang ini akan berimplikasi pada cara manusia menyikapi kehidupan dan tempat hidupnya. Unsur manusia masih tetap menempati urutan prioritas tertinggi dibandingkan makhluk hidup lain dan unsur abiotik dalam konsep ekologi. Akibatnya, eksploitasi tetap dilakukan tanpa berhasil membaca semacam “kontrak alam dengan manusia” berupa daya dukung dan daya tampungnya.

Paradigma industri belum tergoyahkan. Kepedulian kadang hanya sebagai “permen” penenang kritik massa atas sikap industrialisme yang eksploitatif. Data memperlihatkan bahwa tiap-tiap perusahaan sudah mengerahkan bantuan lewat program Corporate Social Responsibility (CSR). Kepedulian sosial diangkat ke permukaan, namun di endapannya ada berlipat-lipat kali kegiatan eksploitatif yang menakutkan.

Memperluas cara pandang tentang diri dan kehidupan, dengan demikian, sangat penting dan mendesak. Manusia tidak hanya hidup di tengah manusia lainnya, melainkan hidup di tengah makhluk hidup lainnya. Kesadaran yang dinamakan etika biosentrisme ini sudah lebih maju. Penghargaan terhadap makhluk hidup menjadi panduan moral. Sayangnya, amuk lingkungan masih menghantui manusia, bahkan ketika panduan itu dikembangkan menjadi etika ekosentrisme, yang melihat makhluk hidup termasuk manusia itu hidup di tengah makhluk tak hidup di sekelilingnya.

Kesatuan sosial sudah diarahkan untuk beranjak menjadi kesatuan ekologis. Bagaimana dengan amuk lingkungan? Tetap saja muncul. Itu lantaran paradigma industri tetap dominan dalam pengambilan keputusan tentang pemanfaatan sumber daya alam.

Konsep lingkungan yang lebih besar perlu diangkat sebagai diskursus pemikiran lingkungan hidup. Asumsinya, konsep kesatuan ekologis yang hanya bersandar pada paradigma keplanetan sebagai definisi tempat hidup sepertinya kurang sanggup mewadahi cakupan perilaku manusia dan akibat-akibat masa depannya. Planet bumi adalah tempat berprosesnya kehidupan manusia menuju kesempurnaannya. Perilaku manusia di bumi sangat menentukan kehidupannya pasca bumi. Ini berarti, prinsip etik tidak hanya memperhitungkan terpeliharanya daya dukung bumi semata-mata, melainkan nasib manusia pasca bumi.

Penjelasan ekosentrisme nampaknya kurang memadai untuk memberitahukan dan menumbuhkan kesadaran baru ini. Diperlukan perubahan paradigmatik berupa pandangan dunia yang melihat manusia dan bumi berada dalam semesta kehidupan yang maha luas dan abadi.

Perlu semacam pandangan dunia (world view) yang memberikan keyakinan bahwa nilai kemuliaan manusia bukan pada perilaku individual dan kemasyarakatnnya belaka, namun pada perilaku kesemestaannya. Mungkin dapat disebut sebagai etika kosmosentrisme, sebuah perspektif yang menempatkan manusia dalam kesadaran kosmos yang melampaui alam fisik sebab kesadaran yang berbasis ekosentrisme saja masih termanipulasi dalam sebentuk penipuan-penipuan berkedok sadar lingkungan.

Itu sebabnya, pesatnya pertumbuhan kegiatan sadar lingkungan tetap sama pesatnya dengan ancaman kerusakan bumi yang disebabkan eksploitasi tak terkendali. Tuhan tidak hanya menuntut tanggung jawab manusia atas manusia lain sebagai bagian dari keyakinan keagamaan, namun juga tanggung jawab ekologisnya.

Maka seharusnya, di tiap-tiap momentum hari Lingkungan Hidup se-dunia hendaknya menjadi titik tolak kesadaran tiap-tiap individu akan tanggung jawab ekologisnya. Manusia harus berhasil meninggalkan maksiat pribadi, seperti yang diajarkan dalam prinsip-prinsip paling purba yang difirmankan Tuhan melalui kitab suci-Nya. The ten commandment yang datang kepada umat Israel dan umat manusia setelahnya adalah etika pribadi yang perlu dipatuhi. Demikian juga, manusia harus mampu meninggalkan maksiat sosial semacam korupsi, pernganiayaan dan pelanggaran HAM, dan sebagainya.Tidak cukup demikian, manusia harus meninggalkan maksiat ekologisnya seperti eksploitasi tanpa kendali.

Gambar dicomot dari: http://endofpollution.weebly.com/peoples-amazing-drawings-of-pollution.html